Sunday, February 24, 2013

APLIKASI METODE SUGESTOPEDIA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI PERGURUAN TINGGI AGAMA

 I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

 Keberhasilan dan kesuksesan seseorang untuk mendapatkan keistimewaan sosial, sejauh tertentu tergantung pada kemampuan berbahasa dalam menyampaikan buah pikirannya atau idenya. Dengan kata lain, bahwa orang yang mampu berkomunikasilah yang terlepas dari jeratan kemiskinan. Bahasa menunjukkan bangsa, bahasa menunjukkan kepada status sosial, miskin atau kaya, elit atau marjinal dan sebagainya.
Lebih jauh dapat penulis katakan, bahwa mereka yang miskin secara sosialnya kebanyakan memiliki kemampuan berbahasa yang terbatas. Mereka miskin dalam mengungkapkan maksud, tujuan, motivasi, interpretasi dan harapan yang dikehendakinya. Dalam keseharian, sering terlihat lowongan yang hanya menerima pekerja yang mampu berbahasa asing, artinya bagi mereka yang miskin bahasa asing itu, terbataslah kesempatan kerjanya. Sebaliknya dengan yang memiliki kemampuan berbahasa asing. Sehingga dari statemen di atas terlihat ada korelasi positif antara penguasaan bahasa asing dengan penguasaan fasilitas-fasilitas sosial.
        Kemampuan seorang mahasiswa dalam menguasai bahasa asing yang nantinya dapat dijadikan sebagai modal utama dalam mencapai maksud di atas, salah satunya sangat tergantung dari bagaimana pendekatan dan metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan ketika proses belajar mengajar berlangsung.
Pendekatan dan metode pembelajaran yang dilakukan guru akan berpengaruh terhadap penerimaan murid akan materi yang disampaikan. Kesesuaian kondisi, baik fasilitas, kondisi psikologis, (aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik) serta lingkungan murid yang bersangkutan dengan pendekatan dan metode pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru akan dapat membuat murid mampu menangkap materi pelajaran yang sesuai dengan harapan pembelajaran tersebut.
       Statemen di atas nampaknya sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Mulianto Sumardi bahwa dalam pembelajaran bahasa yang menjadi tolak ukur kesuksesannya adalah penilaiannya pada segi metode yang digunakan, sebab metodelah yang menentukan isi dan cara mengajarkan bahasa.[1]
        Begitu urgennya pendekatan dan metode pembelajaran dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Untuk itu, pada makalah ini penulis akan membahas salah satu metode pembelajaran bahasa yang ada, yaitu metode suggestopedia yang akan dikorelasikan dan dioperasionalkan pada pembelajaran bahasa Inggris di Perguruan tinggi .

B. Rumusan Masalah

Berpijak pada uraian sebelumnya serta untuk lebih mensistematiskan pembahasan, maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut :
1.  Apakah metode suggestopedia itu ?
2. Bagaimana penerapan metode suggestopedia dalam pembelajaran bahasa Inggris di Perguruan tinggi .

II. PEMBAHASAN

A. Metode Suggestopedia

1. Sejarah Pertumbuhannya
Metode suggestopedia mulai dirintis pada musim panas tahun 1975 di Bulgaria oleh sekelompok peminat bahasa di Institut Penelitian Pembelajaran mengenai pelajaran bahasa asing. Pada awal pertumbuhannya, suggestopedia hanya dicobakan di negara-negara Eropa Timur seperti Soviet, Rusia, Jerman Timur dan Hongaria.[2]
Metode ini pertama kali dikembangkan oleh George Lazanov, seorang psikiater dan pendidik asal Bulgaria, sehingga metode ini biasa juga disebut “The Lazanov Method”. Dinamakan suggestopedia karena dianggap sebagai aplikasi dari suggestology, yaitu suatu penerapan dari sugesti ke dalam ilmu mendidik.[3]  
Di Bulgaria dan di Uni Soviet telah terdapat institusi yang mengembangkan metode ini seperti pada Intitute of Suggestology, juga di Amerika yang didirikan The Society of Suggestive - Accelarative Learning and Teaching oleh sekelompok peminat pembelajaran bahasa asing yang dipimpin oleh Donald Scuhster, di Iowa State University.[4]
2. Pendekatan-pendekatan dalam Metode Suggestopedia
Menurut Azhar Arsyad, pada dasarnya metode suggestopedia dimaksudkan untuk membasmi sugesti atau pengaruh negatif yang tidak disadari bersemi pada diri anak didik dan untuk menghilangkan perasaan takut (fear) yang menurut para ahli sangat menghambat proses belajar seperti perasaan tidak mampu (feeling of incompotance), perasaan takut salah (ear of making mistakes) dan keprihatinan serta ketakutan akan sesuatu yang baru dan belum familiar (apprehension of that which is novel or unfamiliar).[5]
Seperti yang telah dikemukakan, bahwa The Lazanov Method atau suggestopedia yang menjadi landasan paling dasarnya adalah suggestology, yakni suatu konsep yang menggambarkan bahwa manusia bisa diarahkan untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki dengan cara memberi sugesti. Untuk itu, pikiran harus dibuat setenang mungkin, santai, terbuka dan rileks, sehingga bahan-bahan yang merangsang saraf penerima bisa dengan mudah diterima dan dipertahankan untuk jangka waktu yang lama.[6]
Untuk terciptanya kondisi tersebut maka dalam dibuat suatu atmosfir fisik yang mendukung proses kegiatan belajar mengajar, yaitu dengan memilih ruangan dengan dekorasi yang kondusif terhadap proses pembelajaran, pengaturan ruangan dan furniture yang baik, penggunaan musik dan sikap guru atau dosen yang familiar yang mendukung terciptanya kondisi psikologi bagi anak didik yang dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar.[7]
Menurut Lazanov, pembelajaran suggestopedia harus memenuhi kriteria yang diinginkan jika menginginkan hasil yang diharapkan, yaitu :1) prinsip penekanan yang kuat pada penikmatan dan penganggapan betapa mudahnya belajar itu, 2) prinsip perpaduan yang mutlak antara faktor-faktor sadar dan di bawah sadar murid, 3) prinsip interaksi yang familiar dan hidup (lively) antara murid yang mmberi kesan yang mendalam dalam hati mereka.[8]
Selain itu, sebagaimana yang diungkapkan oleh Bancropf dalam Azhar Arsyad menyatakan bahwa terdapat 6 unsur dasar dalam metode suggestopedia, yaitu :
1. Authority, yaitu adanya semacam guru yang dapat dipercaya kemampuannya sehingga membuat murid yakin dan percaya pada diri sendiri (self confidence). Stevick (1979:380), salah seorang pengagum metode ini menyatakan, kalau self confidence tercipta, maka rasa aman terpenuhi. Dan kalau rasa aman terpenuhi, maka murid akan terpancing untuk berani berkomunikasi dengan baik.
2. Infantilisasi, yaitu murid seakan-akan seperti anak kecil yang menerima authority dari guru. Bushman (1176:26) menjelaskan bahwa belajar seperti anak-anak melepaskan murid dari kungkungan belajar yang lebih intuitif. Suatu misal adalah adanya penggunaan role-play dan nyanyian dalam metode ini akan mengurangi rasa tertekan sehingga murid dapat belajar secara alamiah. Ilmu masuk tanpa disadari seperti apa yang dialami oleh seorang anak kecil.
3. Dual komunikasi, yaitu komunikasi verbal dan nonverbal yang berupa rangsangan semangat dari keadaan ruangan dan dari kepribadian seorang guru. Misalkan murid-murid duduk di kursi yang nyaman dengan tata ruang yang hidup dan memberi semangat. Guru menghindari mimik yang menunjukkan ketidaksabaran, cemberut, sinis, dan kritik-kritik yang negatif.
4. Intonasi, guru menyajikan materi pelajaran dengan tiga intonasi yang berlainan. Dari intonasi mirip orang berbisik dengan suara tenang dan lembut, intonasi yang normal biasa-biasa sampai kepada nada suara keras dramatis.
5. Rhythm, pelajaran membaca dilakukan dengan irama, berhenti sejenak di antara kata-kata dan rasa yang disesuaikan dengan napas irama dalam. Di sini murid diminta dan diajar untuk menarik napas selama dua detik, menahannya selama empat detik dan kemudian menghembuskannya selama dua detik.
6. Keadaan Pseuda-passive. Pada unsur ini, keadaan murid betul-betul rileks, tapi tidak tidur sambil mendengar irama musik abad ke-18. Di sinilah terjadi apa yang disebut hyperemnesia. Yang menurut Lazanov dikenal dengan istilah The Principle of Joy and Easiness, prinsip senang dan menganggap sesuatu itu mudah.[9]
Sementara itu, Lazanov dalam Blair yang dikutip oleh Sri Utari Nababan menambahkan bahwa, 1) belajar itu melibatkan fungsi-fungsi dasar dan di bawah sadar manusia, 2) pelajar mampu belajar lebih cepat daripada dengan metode lainnya, 3) proses belajar mengajar dapat terhambat oleh beberapa faktor, seperti norma-norma umum atau kendala-kendala yang telah lazim berlaku di masyarakat, suasana yang kurang tepat, tidak adanya suasana rileks (meskipun tidak harus terus rileks – penulis), serta kurang dimanfaatkannya potensi-potensi dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh murid.[10]
        Dari asumsi-asumsi di atas, maka terdapat kesimpulan umum bahwa, pada metode suggestopedia terdapat tujuan untuk menghindarkan murid dari norma-norma umum (misalnya belajar itu sulit) dan kendala-kendala yang sudah lazim ada di masyarakat bahwa misalnya murid atau siswa dalam belajar bahasa asing harus selalu mempraktekkannya dan tidak boleh membuat kesalahan. Inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab adanya ketakutan atau ketegangan siswa yang akan menghambat potensi yang dimilikinya untuk belajar bahasa asing.
3. Prosedur Operasional
      Jack C. Ricards dan Theodore S. Rodgers menegaskan, bahwa: “Seperti halnya dengan metode pembelajaran bahasa asing yang lain yang telah kami teliti, maka terdapat beberapa variasi baik menurut sejarah maupun menurut individu dalam menerapkan prosedur atau sikap yang sebenarnya dalam kelas suggestopedia. Beberapa adaptasi seperti yang telah kami saksikan di Toronto oleh Jane Bancroft dan koleganya pada Scarborough College di Universitas Toronto menunjukkan, bahwa suggestopedia memiliki cakupan teknik yang luas dan bervariasi yang tidak merujuk pada tulisan Lazanov. Kami mencoba di sini mengkarakteristikkan sebuah kelas seperti yang digambarkan oleh literatur tentang suggestopedia sambil memberikan point out di mana kelas-kelas yang aktual telah kami observasi banyak variasi dari deskripsi yang ada”.[11]
       Sri Utari Subagyo Nababan mengemukakan bahwa operasional suggestopedia berjalan selama 24 hari untuk satu tahap dengan materi sebanyak 10 unit dengan 12 orang murid setiap kelasnya. Setiap unit disajikan dalam waktu 6 jam pelajaran (1 jam = 45 menit). Tatap muka setiap harinya berlangsung selama 4 jam. Tiap unitnya dilaksanakan selama 2 hari.[12]
Adapun operasionalnya sebagai berikut :
1. Lima hari pertama diberikan pelajaran lisan. Materi yang disajikan terdiri dari beberapa dialog dan ulasan, penceritaan cerita-cerita pendek dan sebagainya. Materi ini dibacakan guru sebanyak dua kali.
2. Pada hari keenam dan seterusnya peran dan aktivitas belajar lebih ditekankan kepada murid.
3. Siklus suggestopedia dimulai dengan :
a. Mengulas materi yang telah dipelajari sebelumnya.
b. Penyajian materi baru dengan keterangan-keterangan tata bahasa yang relevan dengan serta terjemahan-terjemahan
c. Penyajian materi selama satu jam dengan kondisi santai dan rileks.
        Sebelum proses belajar berlangsung, murid duduk dengan rileks, matanya dipejamkan (tapi tidak tidur) dengan menghembuskan nafas secara teratur, guru memberikan aba-aba “masuk…. Keluar…” (seperti latihan pernafasan yoga), dengan diiringi musik klasik dari Aliran Barock dengan pencahayaan remang-remang, ini dimaksudkan untuk membawa fantasi terbang, sehingga setelah itu diharapkan murid mampu menghilangkan hambatan yang menjadi kendala dalam belajar.
       Ketika proses belajar berlangsung, guru dalam mengajarkan materi tidak tinggal diam atau bersifat pasif dalam menyampaikan materi, tetapi dengan memperagakan dan mendramatisir dialog-dialog yang diiringi dengan iringan musik klasik atau musik dengan nada lembut yang diputar untuk menambah semaraknya suasana santai, dari suasana ini diharapkan murid dapat mencapai puncak konsentrasi dan tercapainya perolehan belajar sesuai dengan yang diharapkan.[13]
B. Aplikasi Suggestopedia dalam Pembelajaran Bahasa Inggris di Perguruan Tinggi Agama
Pembelajaran bahasa Inggris di Perguruan tinggi khususnya di jurusan Bahasa Inggris sampai sekarang masih menghadapi beberapa kendala, utamanya bersinggungan dengan materi-materi pelajaran agama. Karena sebagai institusi pendidikan di bawah Kementerian Agama yang berbasis pada pendidikan agama sebagai materi utamanya, UIN/IAIN/STAI masih menghadapi kendala dalam hal “kerancuan” persentase pembagian antara materi pelajaran keahlian (MKK) dengan materi pelajaran umum /dasar (MKU).
Salah satu solusi alternatif dari “minimnya” materi keahlian (baca mata kuliah bahasa Inggris) pada jurusan Pendidikan Bahasa Inggris adalah dengan mengoptimalkan pembelajaran mata kuliah bahasa Inggris yang ada, sehingga dapat diharapkan output yang mempunyai kapabilitas berbahasa Inggris yang mencukupi.
Untuk tujuan di atas, adalah perlu adanya pengoptimalan beberapa aspek dari pembelajaran , di antaranya faktor dosen itu sendiri dan pemanfaatan fasilitas belajar yang ada, serta penggunaan metode dan pendekatan pembelajaran yang tepat dan efektif.
Metode suggestopedia sebagai salah satu metode pembelajaran bahasa asing merupakan salah satu metode yang dapat dipakai di perguruan tinggi agama untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran bahasa Inggris / Arab sesuai dengan yang diharapkan oleh tujuan pembelajaran . Berpijak pada uraian sebelumnya tentang metode suggestopedia, maka terdapat beberapa unsur-unsur pembelajaran yang harus memenuhi kriteria metode suggestopedia kalau menginginkan metode ini hendak diterapkan, yaitu :
  1. Dosen
Dalam metode suggestopedia, guru atau dosen diharuskan mempunyai kapabilitas yang cukup, di samping pada penguasaan materi pembelajaran itu sendiri, adalah pada penguasaan terhadap pengetahuan psikologi anak didik. Hal ini dikarenakan dalam metode ini, dosen berperan menciptakan situasi di mana siswa harus disugesti atau didorong dan kemudian mampu mempresentasekan materinya dengan cara atau metode yang dapat mendorong siswa untuk dapat meningkatkan daya tangkap dan daya ingatnya.
Lazanov mensyaratkan beberapa sikap yang harus dimiliki oleh dosen untuk pembelajaran melalui metode ini, yaitu :
1.  Menunjukkan sikap percaya diri yang tinggi dalam metode ini.
2.  Menunjukkan sikap kritis yang berhubungan dengan tingkah laku dan pakaian.
3. Mengorganisir dan mengamati secara tepat dan disiplin pada tingkatan awal dari proses pembelajaran (ini termasuk dalam pemilihan dan penentuan jenis musik serta ketetapan waktunya).
4. Mempertahankan sikap yang serius selama pembelajaran berlangsung.
5. Memberikan tes dan respon secara tepat pada naskah yang kurang baik (kalau perlu).
6. Memberikan penekanan secara global daripada sikap analitis pada materi yang ada.
7. Memperbaiki sikap antusiasme dan rendah hati.[14]
Bancroft menambahkan, bahwa sedikitnya dosen harus ditraining selama 3 sampai 6 bulan untuk mempunyai keterampilan dalam hal teknik akting, menyanyi, dan psikoterapi.[15]
Agaknya diperlukan “biaya” yang besar untuk dapat memiliki dosen yang memiliki kapabilitas yang sesuai dengan persyaratan yang dikemukakan oleh metode ini. Ini kurang tepat untuk diterapkan di perguruan tinggi kalau penerapannya harus textbook seperti yang disyaratkan oleh metode ini.
Syarat-syarat di atas menurut penulis bisa disiasati dengan tindakan selektif dalam pemilihan dosen bahasa Inggris, hendaknya dipilih dosen-dosen berjiwa idealis dan berdedikasi yang tinggi, mempunyai skill yang baik serta sesuai dengan bidang keahlihan bahasa yang dipunyai (the right man in the righ job), dan mempunyai pengetahuan tambahan (seperti psikologi, drama, akting dan sejenisnya) yang dapat menunjang proses pembelajaran. Peran ketua jurusan atau dekan dalam hal ini sangat diperlukan untuk memilih dosen yang tepat.
  2. Fasilitas
Fasilitas yang menjadi syarat bagi terlaksananya metode suggestopedia adalah adanya ruangan dengan furniture yang mendukung terciptanya suatu atmosfir atau iklim yang menyejukkan bagi siswa yang belajar seperti AC, lantai berkarpet, bentuk kursi slide yang bisa diputar dan diatur sesuai dengan posisi tubuh serta sejumlah peralatan audio untuk memperdengarkan musik dan lain-lain.
Fasilitas yang demikian “sangat lux” untuk ukuran fasilitas belajar di perguruan tinggi agama tentunya tidak cocok untuk diterapkan. Karena hal itu memerlukan biaya yang sangat tinggi, sedangkan kondisi nyata menunjukkan bahwa perguruang tinggi agama adalah institusi pendidikan di Kementerian Agama yang tidak sebanyak anggaran pendidikan untuk perguruang tinggi umum kalau dikomparasikan dengan institusi pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan Nasional, apalagi perguruan tinggi agama swasta di daerah yang kebanyakan masih pas-pasan.
Merangkum kendala yang harus dihadapi perguruan tinggi agama dalam mengaplikasikan metode suggestopedia dalam pembelajaran bahasa Inggris di atas, kiranya penulis dapat membuat kesimpulan umum, bahwa metode ini secara global “belum bisa’ diterapkan di perguruan tinggi agama, hanya yang patut diberikan stressing dalam hal ini adalah bahwa prinsip-prinsip metode ini memberikan landasan di mana aspek psikologis atau pemberian sugesti pada anak didik memberikan porsi besar dalam perolehan hasil belajar.

III. PENUTUP
Metode suggestopedia merupakan terobosan baru dalam metode pembelajaran bahasa asing, tetapi dengan beberapa persyaratan yang “agak rumit dan njlimet” membuat metode ini tidak cukup kompatibel untuk beberapa kondisi, apabila untuk kondisi pendidikan di Indonesia yang masih sebagian besar “cukup terbelakang” dibandingkan dengan Barat.
Namun demikian, hal tersebut tidaklah membuat kita serta-merta menolak metode ini dan mengklaim bahwa ini tidak sesuai diterapkan di perguruan tinggi agama. Setidaknya metode ini telah membuktikan kepada dunia pendidikan bahwa aspek psikologis yaitu dengan memberikan sugesti pada anak didik mempunyai peranan yang cukup besar dalam pencapaian hasil belajar yang sesuai dengan yang diharapkan oleh tujuan pembelajaran .
Nampaknya keberhasilan metode ini dalam pembelajaran bahasa asing telah cukup untuk dijadikan bahan pertimbangan oleh para “Decision Maker” di Perguruan tinggi untuk diterapkan dalam pembelajaran bahasa Inggris yang tentunya dengan beberapa adaptasi.
Wallahu ‘A’lam bi Shawab
 
PRINSIP-PRINSIP METODE SUGGESTOPEDIA
 Tujuan
Untuk mempelajari bahasa asing secara cepat untuk komunikasi sehari-hari dengan menggunakan kekuatan mental dan dengan mengatasi kendala-kendala psikologis.
Peran Pengajar
Pengajar memiliki kewenangan, mempercayai dan menghargai pembelajar. Pengajar menghilangkan perasaan negatif pembelajar dan kendala belajar, apabila pengajar berhasil, pembelajar dapat bertindak spontan dan bebas.
Proses Belajar Mengajar
Pembelajar belajar dalam situasi santai. Mereka memakai identitas dalam bahasa dan budaya yang dipelajari, menggunakan teks dialog yang disertai terjemahan dan catatan dalam bahasa pertama. Setiap penyajian dialog disertai musik. Pada malam hari pembelajar mengulangi pelajaran. Belajar dapat ditingkatkan dengan penyajian materi baru melalui drama, permainan, nyanyian dan tanya jawab.
     - Interaksi : Pembelajar dan Pengajar Serta Antar Pembelajar
Pengajar memulai interaksi dan pembelajar menanggapi secara non-lisan atau dengan beberapa kata bahasa yang mereka pelajari. Kemudian pembelajar memulai interaksi dengan pembelajar lain di bawah pengarahan pengajar.
     - Hubungan dengan Perasaan
Mementingkan perasaan, kepercayaan diri pembelajar, dan mengurangi kendala psikologis yang dihadapinya.
     - Pandangan tentang Bahasa dan Budaya
Bahasa lisan berbeda dengan bahasa non-lisan dan kebudayaan mencakup kehidupan sehari-hari dan kesenian.
     - Aspek Bahasa yang Ditekankan
Kosa kata dan gramatika eksplisit ditekankan dengan memusatkan pada penggunaannya secara komunikatif, bukan bentuk. Membaca dan menulis juga mendapat perhatian.
     - Peranan Bahasa Pertama Pembelajar
Penerjemahan memperjelas makna dialog pengajar dapat menggunakan bahasa pertama pada tahap-tahap awal pembelajaran .
     - Sarana untuk Evaluasi
Perfomansi pembelajar di kelas dievaluasi. Tidak ada tes, sebab tes dianggap merusakkan situasi santai.
     - Tanggapan terhadap kesalahan Pembelajar
Kesalahan tidak segera dibetulkan, model pengajar untuk membetulkan kesalahan diberikan pada akhir pelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
 Alwasilah, A. Chaedar. Politik bahasa dan Pendidikan. Cet. I; Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1997.
Arsyad, Azhar. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya; Beberapa Pokok Pikiran. Ujung Pandang : Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin, 1997.
Nababan, Sri Utari Subyakto. Metodologi Pembelajaran bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1993.
Richards, Jack C. and Theodore S. Rodgers. Approaches and Methods in Language Teaching. Cet. XI; Cambridge : University of Cambridge, 1995.
Stevick, Earl W. Memory Meaning and Method; Some Psychological Perspectives on Language Learning (Rowley : Newbury House, 1976.
Sumardi, Mulianto. Pembelajaran bahasa Asing. Jakarta : Bulan Bintang, 1975.
Widjodjo, Soendjono Dardjo. Linguistik, Teori dan Terapan. Jakarta : Lembaga Bahasa Universitas Katolik Atma Jaya, 1987.





[1] Mulianto Sumardi, Pengajaran Bahasa Asing (Jakarta : Bulan Bintang, 1975), h. 7
[2] Soendjono Dardjo Widjodjo, Linguistik, Teori dan Terapan (Jakarta : Lembaga Bahasa Universitas Katolik Atma Jaya, 1987), h. 213.
[3] Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya; Beberapa Pokok Pikiran (Ujung Pandang : Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin, 1997), h. 6
[4] Lihat Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran Bahasa (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1993), h. 58
[5] Azhar Arsyad, op. cit., h. 22
[6] Lihat Earl W. Stevick, Memory Meaning and Method; Some Psychological Perspectives on Language Learning (Rowley : Newbury House, 1976), h. 42 dan 156. lihat juga Jack C. Richards and Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods in Language Teaching (Cet. XI; Cambridge : University of Cambridge, 1995), h. 142
[7] Lihat Ibid.
[8] Sri Utari Subyakto Nababan, op. cit., h. 59
[9] Lihat Azhar Arsyad, op. cit., h. 22 – 24.
[10] Sri Utari Subyakto Nababan, loc. cit.
[11] Jack C. Richards and Theodore S. Rodgers, op. cit., h. 150
[12] Sri Utari Subyakto Nababan, op. cit., h. 61
[13] Ibid., h. 61-63
[14] Jack C. Richards and Theodore S. Rodgers, op. cit., h. 149 - 150
[15] Ibid.
Post a Comment