Thursday, March 28, 2013

PERSPEKTIF ISLAM TENTANG TERORISME

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini seringkali telinga kita mendengar kata “teroris” yang mana di pikiran kita masing masing menyimpan seratus, seribu, bahkan berjuta juta makna teroris, adakalanya jahat, buruk, pembawa bencana, mirisnya lagi ada yang mengatakan kalau teroris itu orang Islam dan lebih lebih ada pula yang mengatakan kalau teroris itu dari kalangan kaum sarungan atau bisa dikatakan santri. Persepsi inilah yang sering membuat merah telinga kaum muslimin.
Di era modern ini banyak sekali para fanatisme agama yang menganggap agama mereka paling benar, selalu mengedepankan agamanya untuk menepis semua problematika kehidupan yang seringkali di terpanya. Parahnya, mereka saling tuduh menuduh teroris satu sama lainnya, agama satu dengan agama yang lainnya. Kalau kita pikir, apakah pantas sebagai umat Islam kita saling tuduh menuduh seperti itu?
Diawal abad XXI ini, terorisme telah menjadi salah satu fenomena dan tanda-tanda kehidupan terutama dalam bidang politik dan ekonomi, baik yang bermatra dunia maupun yang nasional. Dampak umum terorisme menjadi jauh lebih besar akibat peranan media komunikasi modern. Setiap peristiwa terorisme yang terjadi di salah satu penjuru dunia selalu menjadi pusat perhatian dan bahan liputan menarik bagi para wartawan, baik di media massa cetak, radio, maupun televisi.[1]
Dengan dukungan sarana komunikasi mutakhir, media massa berusaha dan bisa dengan cepat menyampaikan peristiwa terorisme itu tersebar diseluruh penjuru dunia, terkadang langsung dari tempat kejadian memasuki dari rumah ke rumah para pembaca (surat kabar), pendengar (radio) dan pemirsa (televisi) maka segeralah peristiwa tersebut menjadi tontonan global yang menarik perhatian, keingintahuan dan kesadaran massa yang kolosal.[2]
Ditinjau dari scope maupun ruang lingkup terorisme, secara sederhana dapat dibagi dalam dua bagian yaitu, terorisme yang bermatra dunia atau terorisme internasional. Sedangkan yang kedua yaitu terorisme yang bermatra nasional, misalnya di Indonesia; istilah terorisme kembali mencuat kepermukaan setidaknya setelah terjadi serangkaian teror bom dan kerusuhan di daerah yang sedang bergolak seperti di Jakarta, Ambon, Poso, Sampit, Irian Jaya dan lain-lain.
Kasus-kasus konflik yang berlatar belakang agama juga kerap kali terjadi di Indonesia, khususnya lima tahun terakhir. Selama ini bahkan telah muncul kesan bahwa terorisme selalu dilekatkan dan identik dengan Islam. Kelompok Islam garis keras atau Islam fundamentalis kerap kali diposisikan sebagai induk semang yang tegak dibalik serangkaian aksi teror. Anggapan ini tampak semakin memperlihatkan kebenarannya tatkala beberapa tokoh fundamentalis Islam papan atas Indonesia ditangkap satu persatu, mulai dari Djafar Umar Thalib yang kemudian dilepas kembali, Habib Riziq hingga Abu Bakar Ba’asyir. Mengapa kasus kekerasan dan teror kerap terjadi di Indonesia? Bukankah Indonesia masyarakatnya mengaku religius? Dan mereka cukup bangga menjadi warga negara Indonesia karena Indonesia adalah bangsa yang beragama. Tentu saja, di lain pihak, banyak juga orang beragama yang khusyuk, hening dan penuh kesejukan serta penuh dengan perasaan perdamaian.
Dari beberapa ayat Alquran dan Hadis Rasul dapat dilihat bagaimana Islam memandang teroris dan terorisme. Islam agama yang indah, penuh kasih cinta dan sayang. Seperti yang diajarkan rasulullah tuk menyayangi satu dengan yang lainnya. Maka salah jika mengklaim Islam sebagai agama teroris, dan salah besar juga jika menghancurkan umat beragama non muslim dengan mengedepankan Islam dan menancapkan kata kata “Jihad fi sabilillah” di hati para orang Islam, seperti kasus bom Bali Amrozi, Imam Samudera dan temannya.
Untuk itu, dalam makalah ini akan dideskripsikan lebih lanjut mengenai pandangan Islam tentang teroris dan terorisme serta perbedaannya dengan jihad serta solusinya dalam memberantas terorisme.

B. Rumusan Masalah
            Dari deskripsi pada latar belakang, dapat diformulasikan permasalahan sebagai berikut:
1.        Bagaimana pandangan Islam tentang terorisme?
2.        Bagaimana kedudukan antara jihad dalam Islam sebagai medium perlawanan dengan terorisme?
3.        Bagaimana upaya pemberantasan terorisme?

C. Tujuan Penulisan
Penulisan ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1.        Untuk mendapatkan pemahaman secara mendalam tentang aspek-aspek yang berhubungan dengan terorisme, perbedaan jihad dan terorisme dan upaya pemberantasan terorisme.
2.        Sebagai bahan referensi dan kajian awal terhadap permasalahan terorisme yang ada yang selalu diidentikkan dengan Islam dan relevansinya dengan kasus terorisme di Indonesia

II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Teroris dan Terorisme
Terorisme, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata teror berarti usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik sedangkan terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha untuk mencapai suatu tujuan (terutama tujuan politik); praktek praktek tindakan teror.[3] Sedangkan menurut Jhon L.Esposito, terorisme adalah “Terorism is the liberate, unjustifiable and random use of violence for political ands against protected person.”[4]
Jadi, secara bahasa teror disamakan dengan kesewenang-wenangan, kekejaman, kebengisan dan serupa dengan itu. Sedang perbuatan teror dan penggunaan kekerasan dengan maksud menimbulkan ketakutan guna mencapai suatu tujuan (seringkali tujuan politik) disebut terorisme. Teroris adalah orang yang melakukan perbuatan teror sebagaimana yang terkandung dalam pengertian (bahasa) terorisme.
Dalam bahasa Arab istilah terorisme biasa disamakan dengan kata al-irhab ( الارهاب ) yang berasal dari pecahan huruf ra-ha dan ba yang mengandung dua arti dasar; pertama menunjuk pada ketakutan, kengerian (yadullu alã khiffatin).[5] yang kedua mengandung arti tipis dan ringan (yadullu alã diqqatin wa khiffatin). Terkait dengan judul ini tampaknya arti pertama yang relevan dengan pembahasan. Makanya dalam bahasa Arab dikatakan (رهبت الشىء رهبا ورهبا ) saya menakut-nakuti dengan suatu ketakutan.[6] Dari pengertian dasar inilah selanjutnya dipakai untuk menunjuk kata al-irhabiyyuun (الارهابيون), teroris yang dinisbatkan kepada orang-orang/kelompok yang menempuh jalan kebengisan, kekejaman dan menimbulkan ketakutan kepada lawan-lawannya untuk mencapai target-target yang diinginkan (biasanya target politik).[7]
Jadi, secara singkat bisa dikatakan bahwa terorisme merupakan sebuah bentuk kekerasan langsung atau tidak langsung, yang dikenakan pada sasaran yang tidak sewajarnya mendapat perlakuan kekerasan itu, dan dengan aksi tersebut dimaksudkan agar terjadi rasa takut yang luas di tengah-tengah masyarakat. Bila seseorang meledakkan sebuah bom di masjid, gereja, pasar, hotel, pertokoan atau dikerumunan orang maka teroris yang meledakkan bom itu mengharapkan segera terjadi suasana ketakutan di tengah-tengah masyarakat. Semakin takut perasaan masyarakat maka semakin berhasil gerakan terorisme.
Namun kapan sebenarnya istilah teror, teroris dan terorisme muncul dalam kehidupan umat manusia. Sejauh yang dapat direkam oleh sejarah, wacana tentang aksi teror sudah berlangsung sejak era Yunani kuno. Sejarawan Yunani, Xenophon (430-349 SM), pernah mengulas tentang manfaat dan efektivitas perang urat syaraf untuk menakut-nakuti musuh. Tetapi sulit diketahui kapan aksi teror mulai dilakukan. Ada yang berpendapat, aksi teror seusia sejarah peradaban manusia itu sendiri.[8] Dengan demikian, aksi-aksi teror dapat dilacak dan ditelusuri dalam setiap kurun sejarah peradaban manusia. Tidak terkecuali pada zaman lahirnya agama Islam di tanah Arabia yang kurang lebih empat belas abad yang lalu.
Tidak jarang pula, tindakan terorisme dilakukan kaum fanatik/militan yang bersifat religius. Sikap militansi ini bisa timbul dalam setiap agama tanpa terkecuali. Kelompok militan, fanatik dan radikal bisa timbul di kalangan agama Hindu, Budha, Sikh, Yahudi, Kristen, Islam dan sebagainya. Golongan fanatik ini cendrung menegasikan yang lain. Kalangan ini sebagai salah satu ladang subur lahirnya dan timbulnya pelaku-pelaku terorisme, munculnya orang-orang yang terpaksa meyakini tindak kekerasan adalah satu-satunya jalan pembebasan bagi mereka.[9]
Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa terorisme pada mulanya berarti tindakan kekerasan –disertai dengan sadisme- yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti lawan. Akan tetapi dalam perkembangannya lebih lanjut terjadi transformasi makna, misalnya dalam kamus adikuasa, terorisme adalah tindakan protes yang dilakukan oleh negara-negara atau kelompok-kelompok kecil terhadap kepentingan-kepentingan negara-negara kuat.[10]
Dalam konteks Islam, pengertian terorisme menjadi netral –bahkan positif dalam hal-hal tertentu- ketika term terorisme disepadankan dengan term al-Irhab (الارهاب ) yang merupakan musytaq (pecahan kata) dari kata kerja ra-ha-ba, yang berarti menakutkan, mengancam dan mengerikan.[11] Yang mengidentikkan terorisme dengan al-irhãb merujuk kepada QS al-Anfal (8): 60.
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُم ...

Terjemahnya:
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu), kamu menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian… [12]
Dalam ayat ini digunakan kata turhibuna. Menurut Muhammad Ismail Ibrahim dalam Mu’jam al-Alfaz wa al-I’lam al-Quraniyah, memberikan penjelasan tentang kata al-irhab, dengan akhafahu wa afza’ahu (menakut-nakuti dan mengejutkannya).[13] Jika kata al-irhãb dalam bahasa Arab modern digunakan sebagai pengganti kata “teror”, maka dapat disimpulkan, bahwa Allah memerintahkan agar kaum muslimin menjadi “teroris”, yakni menimbulkan rasa takut dan gentar pada musuh-musuh Allah dan kaum muslimin.
Kesulitan pendefenisian ini semakin bertambah, karena istilah terorisme hampir sepenuhnya digunakan secara pejoratif untuk mengacu kepada tindakan-tindakan kekerasan yang dijalankan kelompok atau organisasi oposisi yang dipandang berada diluar mainstream tatanan dan norma politik mapan. Memang amat mudah menuding kegiatan kelompok-kelompok kecil yang aneh dan menyimpang sebagai teror dengan mengabaikan terorisme resmi yang dipraktekkan sejumlah regim dan pemerintah tertentu.[14]
Terlepas dari kesulitan-kesulitan pendefinisian itu, ada beberapa prinsip dasar yang perlu dipegang. Pertama, agaknya perlu dibedakan antara teror dan terorisme. Penggunaan kekerasan atau teror tidak langsung merupakan terorisme, karena teror bisa dilakukan untuk tujuan-tujuan kriminal dan personal. Sebaliknya, seperti dikemukakan T.P. Thornton (terror as a weapon of political agitation, 1964: 73-74), terorisme adalah penggunaan teror sebagai tindakan simbolis yang dirancang untuk mempengaruhi kebijaksanaan dan tingkah laku politik dengan cara-cara ekstranormal; khususnya penggunaan ancaman kekerasan. Dalam lingkup pengertian terorisme seperti itu, Thornton membedakan dua kategori penggunaan teror. Pertama adalah enforcement terror yang dijalankan penguasa untuk menindas pihak yang menentang kekuasaannya; kedua agitational terror, yakni kegiatan teror yang dilakukan oleh pihak yang ingin mengganggu tatanan yang mapan untuk kemudian menguasai tatanan politik.[15]
Perbedaan semacam ini juga diberikan W F. May (Terrorism as a Strategi and Ecstasy, 1974: 277-298) yang membagi terorisme ke dalam dua bagian; penguasa teror (regime terror) dan cengkeraman teror (siege of terror). Yang pertama mengacu pada terorisme untuk melayani kekuasaan mapan dan yang kedua mengacu kepada terorisme untuk kepentingan gerakan-gerakan revolusioner. May mengakui walau penguasa teror lebih penting, tetapi justru cengkeraman teror lebih menyita perhatian, karena ia menyibakkan persepsi tentang dunia pembunuhan manusia secara kekerasan dalam cara yang mencolok sehingga tampak lebih jelas daripada terorisme negara.[16]
Amien Rais, menyebutkan bahwa ada dua sebab berbeda yang telah melahirkan terorisme. Yang pertama, terorisme muncul karena ada sebuah kekuasaan durhaka dan durjana, yang ingin menundukkan masyarakat tidak berdosa agar menjadi lemah lunglai dan tidak punya nyali kembali untuk mengangkat kepala serta melakukan perlawanan terhadap kekuatan durjana itu. Sebaliknya ada terorisme yang disebabkan oleh keputusasaan dan rasa frustrasi yang meluas di pihak si lemah, kemudian si lemah tidak bisa memberikan perlawanan kepada penindasan yang dideritanya kecuali dengan melakukan teror, agar si penindas atau si durhaka bisa mulai melepaskan cengkeramannya. Dengan kata lain, supaya si penindas yang kejam itu juga kemudian mengalami rasa takut untuk melanjutkan penindasan dan kedurjanaannya.[17]
Dengan demikian, tindakan Israel yang menghancurkan Palestina dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa, tentu termasuk terorisme kategori pertama. Sementara orang-orang Palestina yang melakukan pembalasan seadanya dengan melemparkan bom ke sebuah bus di Tel Aviv, tentu masuk terorisme kategori kedua. Di sinilah letak interpretasi atau pemaknaan terorisme yang bisa berlawanan. Para pejuang Palestina yang sedang merebut kemerdekaannya dituduh sebagai kaum teroris oleh negara zionis Israel. Sementara para penindas Israel yang telah melanggar hak manusia yang paling azasi, oleh pihak Israel dianggap sebagai penjaga keamanan maupun ketenteraman, sedang bagi pihak Palestina itu bahkan lebih jahat dari kaum teroris.[18]
Yang jelas terorisme kemudian berkembang menjadi luas, karena motivasi masing-masing teroris berbeda satu sama lain. Dan, akhirnya orang memahami ada terorisme kecil-kecilan yang dilakukan segelintir orang-orang yang tertindas. Tetapi juga ada terorisme yang berskala raksasa yang sangat dahsyat, yang disponsori oleh negara dengan aparat militer maupun aparat kekerasannya. Dengan tinjauan seperti ini maka seluruh terorisme Israel jelas disponsori oleh negara zionis itu. Sementara terorisme yang dilakukan sejak lama oleh para pejuang PLO dan Hamas, pasti berbeda dalam skala maupun dampak yang ditimbulkan oleh terorisme kecil-kecilan ala Palestina itu.[19]
Selanjutnya makna terorisme terus berkembang ketika aksi-aksi terorisme tidak saja dengan cara-cara kekerasan yang bersifat telanjang, melainkan menggunakan tekanan psikologis dan tekanan mental yang dibuat lebih canggih, tetapi hasilnya tidak kalah dari terorisme yang mengambil model kekerasan. Terorisme secara potensial terdapat diberbagai masyarakat di dunia. hanya aktualisasinya sangat tergantung pada kerawanan kondisi sosial, ekonomi, politik dan psikologis. Sebaliknya, gerakan terorisme bisa juga muncul dilingkungan atheis dan komunis. Kaum atheis dan komunis melancarkan teror untuk menghancurkan agama yang dianggap sebagai kekuatan penghambat dalam mengejar cita-citanya.

B. Jihad sebagai Medium Perlawanan dan Stereotype Terorisme
Spektrum jihad dalam ajaran Islam sebetulnya sangat luas. Namun dalam kenyataan tidak jarang orang melakukan simplikasi makna jihad semata-mata untuk dijadikan alat pembenar bagi tindakannya yang justru melenceng dari makna jihad itu sendiri. Dalam bahasa Arab sendiri, kata jihad mempunyai akar kata ja-ha-da yang mengandung arti bersungguh-sungguh, berusaha keras dan berjuang melaksanakan atau mencapai sesuatu. Oleh karena itu, dalam masyarakat Arab lama, sumpah, janji atau akad penting/sakral disebut dengan jahda al-aiman yang berarti “harus ditegakkan dengan sungguh-sungguh.”[20]
Pada awal pewahyuan Alquran, istilah jihad mengisyaratkan makna pengorbanan dan perjuangan manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya yang tidak selalu berarti konfrontasi fisik dengan musuh yang jelas, walaupun alternatif ini lebih dominan dalam ayat-ayat tentang jihad dan qital selanjutnya.
Dalam periode Mekah, Nabi berjihad melalui tindakan persuasif dengan memperingatkan masyarakat Mekah tentang kekeliruan penyembahan berhala dan sebaliknya menyeru mereka menyembah Allah. Sebaliknya dalam ayat-ayat Madaniah jihad sering diekspresikan dalam pengertian “mengerahkan segenap upaya untuk berperang dimedan tempur.” Seperti dalam QS al-Taubah (9): 41 sebagai berikut:
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ...
Terjemahnya:
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah…[21]
Pengasosiasian jihad dengan perang juga terlihat dalam sekian hadis-hadis Nabi misalnya menyangkut keutamaan jihad:
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ وَتَوَكَّلَ اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِهِ بِأَنْ يَتَوَفَّاهُ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ يَرْجِعَهُ سَالِمًا مَعَ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ
Artinya:
Sesungguhnya Abu Huraerah mengatakan bahwa aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: perumpamaan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang berjihad dijalan-Nya. Bagaikan orang-orang yang berpuasa disiang hari dan shalat malam dimalam hari. Maka Allah berpasrah bagi para mujahid dijalan-Nya kalau Ia (Allah) mewafatkannya maka Allah akan memasukkannya ke Surga atau Allah akan mengembalikannya (dari peperangan) dalam keadaan selamat dengan menyandang upeti atau harta rampasan. [22]

Karena itu, jumhur ulama berpendapat, kewajiban jihad dapat ditunaikan dalam empat bentuk; dengan hati, lidah, tangan dan pedang. Jihad bentuk pertama berkenaan dengan perlawanan terhadap iblis dan rayuannya kepada manusia untuk melakukan kejahatan; jihad internal, jihad melawan hawa nafsu dipandang sangat penting, sehingga disebut al-jihad al-akbar. Jihad jenis kedua dan ketiga dijalankan terutama untuk menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Jihad jenis keempat sama artinya dengan perang dan berkenaan dengan pertempuran melawan orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam.[23]
Adapun hukum jihad - dalam arti perang- adalah fardu kifayah, yang berarti bahwa apabila sudah terdapat satu unsur dari (individu) kelompok kaum muslimin yang menanganinya secara optimum, maka unsur-unsur lainnya sudah bebas dari tuntutan. Akan tetapi jika ternyata belum ada yang menanganinya sedangkan unsur-unsur dari kelompok tersebut mampu dan menguasai tugas tersebut, maka semuanya berdosa.[24]
Meskipun perang itu fardu kifayah, namun dalam situasi tertentu berperang itu dapat meningkat menjadi fardu ain seperti: pertama, apabila kita berada dalam pertempuran, maka setiap individu diharamkan mengundurkan diri, kedua, apabila musuh menyerang dan mengepung wilayah kita, maka setiap orang wajib mempertahankannya, dan ketiga, apabila komandan pasukan telah mengumumkan seruan umum untuk berperang.[25]
Masalah jihad telah mendapat perhatian para fuqaha muslim sejak masa paling awal dalam perumusan fiqh. Kitab al-Muwattha oleh Imam Malik bin Anas dan kitab al-Kharaj oleh Abu Yusuf (Ya’kub bin Ibrahim al-Anshari) merupakan literatur pertama yang membahas ketentuan fiqhiyah jihad secara rinci. Dan sejak masa-masa pembentukan doktrin fiqh ini istilah jihad secara alamiah diartikan sebagai perang yang memperluas ranah kekuasaan dan pengaruh Islam.[26]
Sejarawan dan ahli tafsir Islam al-Tabari, mengemukakan bahwa terdapat ayat-ayat Alquran yang memberikan justifikasi untuk melakukan jihad dengan tujuan membuat dunia tahu tentang jalan ilahi, sehingga manusia dapat mengikuti kemauan Tuhan sebagaimana disampaikan melalui Islam. Di sini jihad dipandang hampir sama atau berkaitan dengan dakwah Islam.[27]
Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, jihad lebih berkaitan dengan politik ketimbang dakwah. Ibnu Taimiyah misalnya berpandangan bahwa kekuasaan politik merupakan kebutuhan tak terelakkan bagi kehidupan sosial. Tugas menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran hanya bisa ditunaikan sepenuhnya dengan kekuasaan politik. Bagi Ibnu Taimiyah jihad begitu penting sehingga ia sampai pada kesimpulan subtansi agama adalah shalat dan jihad.[28]
Lain lagi Ibnu Khaldun, beliau menyatakan bahwa merupakan tugas pokok raja untuk melancarkan jihad terhadap musuh-musuh Allah. Bahkan tugas ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk mewujudkan universalisme Islam.[29]
Salah satu ciri yang menonjol dari berbagai pemikiran tentang jihad pada abad pertengahan ini adalah bahwa, konsep-konsep yang ada bertujuan mengungkapkan ketentuan-ketentuan syariah tentang hal ini, khususnya dalam hubungannya dengan politik. Karena otoritas syariah tetap dominan, tidak ada kebutuhan untuk melakukan justifikasi dan rasionalisasi atas pemikiran jihad. Karenanya pemikiran jihad abad pertengahan lebih cenderung legalistik.
Sebaliknya dimasa modern, ketika kaum muslimin dihadapkan dengan tantangan militer, intelektual dan kultural Barat, pemikiran tentang jihad yang dikemukakan berbagai pemikir muslim modern cenderung kurang legalistik. Sebaliknya mereka memberikan banyak justifikasi dan rasionalisasi terhadap konsep-konsep jihad. Tegasnya, terdapat dua macam bentuk pembahasan modern tentang jihad. Yang pertama adalah revolusioner yang berusaha membuktikan bahwa jihad merupakan metode yang absah untuk mencapai cita-cita Islam. Yang kedua adalah apologetik, yang bertujuan membuktikan bahwa Islam bukanlah agama kekerasan dan perang.
Demikianlah Hasan al-Banna (terbunuh tahun 1948) pendiri Ikhwan al-Muslimun misalnya, menyerang pandangan bahwa jihad lebih berarti sebagai perjuangan spiritual, bahwa perjuangan melawan hawa nafsu dalam diri sendiri atau al-jihad al-akbar lebih utama daripada al-jihad al-asghar atau perang melawan musuh-musuh Islam. Dalam buku Risalat al-Jihad, al-Banna berpandangan bahwa pengertian jihad seperti di atas sengaja disebarkan musuh-musuh Islam untuk melemahkan perjuangan bersenjata kaum muslimin melawan penjajahan.[30]
Sayyid Qutb, (dihukum mati tahun 1966), pelanjut al-Banna berpandangan bahwa jihad adalah kelanjutan dari politik Tuhan. Jihad adalah perjuangan politik revolusioner yang dirancang untuk melucuti musuh-musuh Islam, sehingga memungkinkan kaum muslimin menerapkan ketentuan-ketentuan syariah yang selama ini diabaikan atau bahkan ditindas oleh Barat dan regim-regim opresif di dunia muslim sendiri.[31]
Terakhir Abu al-A’la al-Maududi (wafat 1979) berpandangan bahwa jihad adalah perjuangan yang harus dilakukan oleh kaum muslim untuk mewujudkan cita-cita Islam sebagai sebuah gerakan revolusioner internasional. Jihad sebagai perjuangan politik dan bersenjata revolusioner dilakukan tidak hanya untuk kepentingan kelompok tertentu, tetapi terhadap semua penindas. Konsekwensinya, penumbangan dan perampasan kekuatan politik adalah tujuan dan sentral jihad.[32]
Menyimak pemikiran al-Banna, Sayyid Qutb dan al-Maududi tentang jihad, jelas bahwa diskursus kontemporer tentang jihad semakin kompleks. Sayyid Qutb dan al-Maududi tidak hanya bergerak pada tingkat konseptual, tetapi bahkan merumuskan program dan kerangka praksis untuk melancarkan jihad. Organisasi-organisasi yang mengikuti cara pandang ketiga tokoh ini bahkan membentuk kelompok paramiliter yang bertugas melancarkan aktivitas-aktivitas militer untuk menumbangkan musuh-musuh Islam, baik Barat maupun kalangan muslim sendiri.
Dalam konteks ini, kelompok-kelompok radikal semacam itu merupakan buah dari politik resmi yang dilancarkan Barat maupun regim-regim represif muslim yang merupakan perpanjangan tangan Barat belaka. Gerakan-gerakan radikal muslim yang melakukan terorisme atas nama jihad merupakan produk dari konspirasi neokolonialisme adikuasa. Karena itu, selama konspirasi yang bersumber dari hegemoni Barat dan sistem internasional masih dominan, bisa diharapkan bahwa gerakan-gerakan radikal akan terus melakukan teror. Konsep jihad yang semula berarti dakwah, ekspansi dar al-Islam, perluasan ranah kekuasaan Islam berubah menjadi senjata sebagai medium perlawanan terhadap hegemoni terutama Barat.

C. Strategi Penumpasan Terorisme
Berkaitan dengan strategi penumpasan terorisme dalam pandangan Islam, penulis mencoba menawarkan beberapa solusi. Setidaknya ada dua strategi/taktik yang berkaitan dengannya yakni pertama; secara internal dalam ajaran agama itu sendiri dan yang kedua; secara eksternal yang berkaitan dengan penciptaan iklim dan tatanan dunia yang lebih adil dan menghargai harkat kemanusiaan.
Mengenai yang pertama, bahwa di abad modern ini ketika masyarakat dunia semakin majemuk baik dalam keragaman etnis, budaya kehidupan berbangsa dan bernegara maupun dalam hal keyakinan keagamaan, maka sudah saatnya menampilkan wajah Islam yang ramah, beretika dan damai. Sebab pada dasarnya misi Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. adalah untuk menyempurnakan etika yang mulia atau membangun manusia yang bermoral.
 Agama Islam juga diarahkan sebagai rahmat bagi alam semesta.[33] Dari dua hal ini, Islam dapat dipahami sebagai sebuah ajaran yang bersifat universal, untuk seluruh umat manusia. Begitu pula manusia semenjak eksisnya di muka bumi hingga mati diidealkan untuk selalu menjaga harmonitas hidup. Hanya saja di sisi lain, manusia juga memiliki dua karakter negatif yang dapat membahayakan; yaitu ifsad fil-ardl (berkecenderungan membuat kerusakan di muka bumi) dan safk al-dima' (potensi konflik antar sesama manusia). Dua karakter negatif ini sebagaimana firman Allah ketika mendeskripsikan ungkapan protes para malaikat atas penciptaan manusia sebagai khalifah (mandataris Tuhan) di bumi. Kemudian Tuhan menjawab bahwa untuk meluluhkan dua karakter negatif manusia tersebut adalah dengan menurunkan ajaran agama. Maka kehadiran agama tidak lain untuk mengikis sikap arogansi manusia yang cenderung berbuat kerusakan dan memicu konflik antar sesama. [34]
Islam yang damai dapat dibuktikan dari peristiwa fath Makkah (pembebasan Kota Mekah) yang dilakukan oleh umat Islam pada bulan Ramadan. Mekah perlu dibebaskan setelah sekitar 21 tahun dijadikan markas orang-orang musyrik. Saat umat Islam mengalami euforia atas keberhasilannya, ada sekelompok kecil sahabat Nabi Muhammad Saw yang berpawai dengan meneriakkan slogan al-yaum yaumul malhamah, hari ini adalah hari penumpahan darah. Slogan ini dimaksudkan sebagai upaya balas dendam mereka atas kekejaman orang musyrik Mekah kepada umat Islam. Gejala tidak sehat ini dengan cepat diantisipasi oleh Nabi Muhammad dengan melarang beredarnya slogan tersebut dan menggantinya dengan, al-yaum yaumul marhamah, hari ini adalah hari kasih sayang. Akhirnya, peristiwa pembebasan Kota Mekah dapat terwujud tanpa insiden berdarah.[35]
Sejarah mencatat, ketika melaksanakan haji Wada' (perpisahan), Nabi Muhammad saw memberikan khotbah yang berbunyi,
فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
Artinya:
Sesungguhnya nyawa, harta, dan kehormatan kalian sangat dimuliakan, sebagaimana mulianya hari ini (Arafah), bulan ini (Zulhijah) dan negeri ini (Mekah). [36]
Khotbah Nabi Muhammad tersebut merupakan ajakan kepada umat manusia (termasuk Islam) untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia serta bersikap harmonis. Nabi Muhammad bahkan menekankan bahwa barang siapa yang melanggar hak asasi manusia berarti ia telah menginjak-injak kemuliaan hari Arafah, bulan Zulhijah, dan Kota Mekah. Maka tidak sangsi lagi bahwa Islam adalah rahmat bagi semua makhluk Tuhan.
Kedua; secara eksternal yang berkaitan dengan penciptaan iklim dan tatanan dunia yang lebih adil dan menghargai harkat kemanusiaan. Ketika tatanan dunia tidak seimbang akan memicu lahirnya ketidakadilan dan kekerasan struktural. Kekerasan struktural yang terdapat dalam dinamika dan dialektika kekuatan-kekuatan global ini pada akhirnya mengejawantahkan dirinya dalam proses-proses sosial, politik dan ekonomi negara-negara Islam. Ini muncul, misalnya dalam bentuk represi politik, perampasan hak-hak azasi manusia, pelenyapan hak untuk berbeda pendapat, yang kemudian secara konstan menimbulkan situasi yang tidak stabil (instabilitas) di negara-negara Islam yang bersangkutan. Kenyataan ini mendorong terjadinya radikalisasi di dalam gerakan-gerakan Islam semacam Ikhwan al-Muslimun, sehingga menimbulkan kelompok al-takfir wa al-hijrah yang membunuh presiden Anwar Sadat di Mesir, gerakan Fedayen Islam di Afrika Utara, berbagai organisasi rahasia di Turki dan gerakan Ayatullah Khomeini di Iran yang berhasil menumbangkan rezim tiran Syah Iran, dan semacam gerakan Mahdi pimpinan Juhaiman Muhammad Otteibi yang menyerbu Masjid al-Haram di Mekah akhir 1979.[37]
Contoh lebih konkrit betapa dinamika kekerasan struktural pada tingkat global sangat mempengaruhi situasi politik di kawasan-kawasan Islam. Penciptaan negara Zionis Israel –didukung oleh superpower Barat- di kawasan Palestina dan Arab yang secara sistematis berupaya melenyapkan hak-hak sah bangsa Palestina telah menimbulkan dinamika politik dan kekerasan yang bagaikan tak kunjung berakhir. Munculnya gerakan-gerakan radikal di kalangan Hamas yang tidak segan-segan menggunakan kekerasan, teror dan sebagainya, tak bisa lain kecuali dipahami dalam kerangka struktur global ini.[38]
Oleh karena itu, selama struktur global yang pincang itu terus bertahan, agak sulit diharapkan lenyapnya gerakan-gerakan radikal yang membawa-bawa semangat dan napas agama. Bahkan gerakan-gerakan radikal yang merupakan realitas dalam masyarakat manapun – dan dapat membawa agama manapun - akan terus menjadi sesuatu kekuatan di masa datang, selama struktur yang ada tetap merangsang terkristalisasinya gerakan-gerakan semacam itu.
Tak dapat dibantah kenyataan bahwa, di antara sebagian negara-negara muslim terdapat konflik, perlombaan senjata dan bahkan peperangan. Kenyataan ini menimbulkan kesan terdapatnya kontradiksi dengan esensi ajaran Islam yang cinta damai itu. Sebelum kita terlanjur menjatuhkan ‘vonis’ bahwa ajaran Islam tidak fungsional bagi sementara pemeluknya, ada baiknya melihat pertentangan dan konflik antar negara-negara Islam itu dalam kerangka global. Sebagaimana dikemukakan di atas, ketegangan dan konflik diantara negara-negara muslim tertentu tidak terlepas dari suatu struktur kekerasan di muka bumi. Gelombang ketegangan dan perlombaan persenjataan melibatkan dinamika sangat kompleks, menyangkut berbagai aspek yang muncul sebagai implikasi dari struktur kekerasan itu. Dari struktur itu muncul suatu dinamika berdasarkan hubungan center (pusat) dan periferi (pinggiran). Negara-negara muslim sebagai “pinggiran” sangat dipengaruhi oleh dinamika militerisasi dan persenjataan yang ditimbulkan negara-negara center.
Meskipun usaha-usaha perdamaian dan pelucutan persenjataan selalu diteriakkan, tetapi konflik dan perang terjadi diberbagai bagian bumi. Hasilnya, himbauan bagi penciptaan perdamaian, seolah-olah tak lebih daripada retorika politik yang hampa. Terdapat alasan-alasan cukup kuat bagi negara-negara maju untuk mempertahankan hegemoni kekuasaan mereka dalam berbagai lapangan kehidupan, khususnya ekonomi, politik dan militer. Upaya mempertahankan hegemoni itu berkaitan dengan pola konsumsi, gaya hidup dan kepentingan-kepentingan ekonomi mapan lainnya.
Dalam kerangka “kekerasan struktural” yang mendunia itu, kelihatan betapa lemahnya posisi Negara-negara Islam vis a vis negara-negara kuat pendukung struktur tersebut. Konflik dan ketegangan yang terjadi di antara sementara negara Islam. Dalam banyak hal merupakan imbas “hawa nafsu” yang dipancarkan negara-negara kuat. Agaknya tak ada alternatif lain bagi negara-negara Islam kecuali merapatkan barisan untuk sedapat mungkin membendung pengaruh kekuatan-kekuatan eksternal. Jika tidak, negara-negara Islam hanya akan menjadi korban kontinyu dari kekerasan struktural tersebut.

III. PENUTUP
            Dari uraian yang dikemukakan pada pembahasan, dapat diberikan beberapa kesimpulan penting sebagai berikut:
1.    Terorisme sebagai praktek kekerasan sepenuhnya bertentangan dengan etos kemanusiaan agama Islam. Islam mengajarkan etos kemanusiaan yang sangat menekankan kemanusiaan universal. Islam menganjurkan umatnya berjihad mewujudkan perdamaian, keadilan, dan kehormatan, akan tetapi jihad itu haruslah tidak dilakukan dengan cara-cara kekerasan atau terorisme. Setiap perjuangan jihad untuk keadilan haruslah dimulai dengan premis bahwa keadilan adalah konsep universal yang harus diperjuangkan dan dibela setiap manusia. Islam memang menganjurkan dan memberi justifikasi kepada muslim untuk berjuang, berperang (al-harb) dan menggunakan kekerasan (qital) terhadap para penindas, musuh-musuh Islam, dan pihak luar yang menunjukkan sikap bermusuhan dan tidak mau hidup berdampingan secara damai dengan Islam dan kaum muslim.
2.    Islam sebagai agama yang mengemban misi rahmat bagi seluruh alam jelas menolak dan melarang penggunaan kekerasan demi untuk mencapai tujuan-tujuan termasuk tujuan yang baik sekalipun. Islam menegaskan bahwa pembasmian suatu jenis kemungkaran tidak boleh dilakukan dengan kemungkaran pula. Tidak ada alasan etik dan moral sedikitpun yang bisa membenarkan suatu tindakan kekerasan, ataupun teror. Dengan demikian kalau ada tindakan-tindakan teror yang dilakukan oleh kelompok Islam tertentu, maka sudah pasti alasannya bukan karena ajaran moral Islam, melainkan agenda lain yang tersembunyi di balik tempurung tindakan tersebut.
3.    Masyarakat diharapkan supaya lebih giat mengembangkan cara-cara penyelesaian masalah penumpasan terorisme tanpa kekerasan. Terkait dengan masalah seperti itu perlulah kita menampilkan dan mengimplementasikan agama dengan baik agar agama mempunyai citra yang baik. Agama mesti dikembalikan pada posisinya sebagai spirit dan moralitas yang akan selalu membawa panji kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, dan keadaban. Bukan hanya itu, masyarakat Islam mesti merapatkan barisan guna mendorong terciptanya iklim kehidupan yang lebih aman, damai, demokratis dan egaliter.

 DAFTAR PUSTAKA


Abdallah, Ulil Absar. Amerika Punya Gejala Terorisme, “Berita Ilmu Pengetahuan” dalam http:www.KafeDago.com, 31 Oktober 2001.
Anas, Malik bin. Muwattha Malik. cet. I; Dar al-Fikr, 1989.
Anis, Ibrahim. al-Mu’jam al-Wasith, juz I. Dar al-Fikr: Beirut, t.th.
Al-Asfahaniy, Al-Raghib. Mu’jam Mufradat Alfadz al-Quran, td.
Al-Asqalani, Ahmad bin Ali bin Hajar. Fath al-Bari, juz VI. t.tp.: al-Maktabah al-Salafiyah, t.th.
Azra, Azyumardi. “Jihad dan Terorisme: Konsep dan Perkembangan Historis”, dalam jurnal Islamika, No. 4 edisi April-Juni 1994.
----------------. Pergolakan Politik Islam: Pemikiran dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Posmodernisme. cet. I; Jakarta: Paramadina, 1996.
Bagun, Ricard. “Terorisme, Gejala Global dalam “Harian Kompas”, Kamis, 20 September 2001.
Al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari, Juz I, Beirut: Dar al-Fikr, 1982.
Departemen Agama Republik Indonesia, Alquran dan Terjemahnya, Edisi Revisi. Toha Putra: Semarang, 1989.
Esposito, Jhon L. The Oxford Ensiclopedia of the Modern Islamic World. New York: Oxford University Press, 1995.
Hisyam, Ibnu. Sirah al-Nabawiyah, juz IV, t.d.
Ibrahim, Muhammad Ismail. Mu’jam al-Alfadz wa al-I’lam al-Qur’aniyah,. Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi.
Lane, E. W. Arabic~ English Lexicon, vol I,. The Islamic Texts Society: England, 1984.
Al-Nawawi, Muhyiddin. Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawi, juz XIII. cet. III; Dar al-Ma’rifah: Beirut, 1996.
Nurcholis, Ahmad. Terorisme, Perang dan Benturan Peradaban, Makalah dalam http;www.yahoo.poci.com/edisi No.29,Oktober 2001.
Rahmena, Ali. Para Perintis Zaman Baru Islam. Cet. III; Bandung: Mizan, 1998.
Rais, M. Amien. “Kebusukan Terorisme” dalam Http://www.Detikcom, tanggal 4 April 2002,
Rakhmat, Jalaluddin. “Pengantar” dalam Noam Chomsky, Maling Teriak Maling; Amerika Sang Teroris,. cet. II; Mizan: Bandung, 2001.
Rasdiyanah, Andi. Materi Hadis tentang Keutamaan Jihad. Diktat Program Sarjana, 1985.
At-Tabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. Jami al-Bayan fi Tafsir al-Quran, juz XVII. Beirut: Dar al-Fikr, 1978.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua,. cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 1995.
Tim Penyusun, Ensiklopedi Indonesia. Cet VI; Jakarta PT Indar Baru Van Houve, 1992.
Zakariyah, Ahmad bin Faris bin. Mu’jam Maqayis al-Lughah. cet. I; Dar al-Fikr: Beirut, 1994.
 

[1]Lihat Tim Penyusun, Ensiklopedi Indonesia, (Cet VI; Jakarta PT Indar Baru Van Houve, 1992), h. 510.
[2]Ibid.
[3]Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua, (cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 1995), h. 1048.
[4]Jhon L. Esposito, The Oxford Ensiclopedia of the Modern Islamic World (New York: Oxford University Press, 1995), h. 205.
[5]Lihat Ahmad bin Faris bin Zakariya, Maqayis al-Lughah, (cet. I; Dar al-Fikr, 1994), h. 426.
[6]Ibid., lihat pula E. W Lane, Arabic~ English Lexicon, Vol. I (The Islamic Texts Society: England, 1984), h. 1168.
[7]Lihat Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasith, juz I (Dar al-Fikr: Beirut, t. th.), h. 376.
[8]Ahmad Nurcholis, Terorisme, Perang dan Benturan Peradaban, Makalah dalam http;www.yahoo.poci.com/edisi No.29,Oktober 2001, h. 1. Lihat pula Ricard Bagun, “Terorisme, Gejala Global dalam “Harian Kompas” , Kamis, 20 September 2001.
[9]Ulil Absar Abdallah, Amerika Punya Gejala Terorisme, “Berita Ilmu Pengetahuan” dalam http:www.KafeDago.com, 31 Oktober 2001, h. 1.
[10]Jalaluddin Rakhmat, “Pengantar” dalam Noam Chomsky, Maling Teriak Maling; Amerika Sang Teroris, (cet. II; Mizan: Bandung, 2001), h. xiii.
[11]Ahmad bin Faris bin Zakariyah, Mu’jam Maqayis al-Lughah (cet. I; Dar al-Fikr: Beirut, 1994), h. 426. Lihat E. W. Lane, Arabic~English Lexicon, vol I, (The Islamic Texts Society: England, 1984), h. 1168.
[12]Departemen Agama Republik Indonesia, Alquran dan Terjemahnya, Edisi Revisi (Toha Putra: Semarang, 1989), h. 271.
[13]Muhammad Ismail Ibrahim, Mu’jam al-Alfadz wa al-I’lam al-Qur’aniyah, (Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi), h. 212.
[14]Contoh yang paling jelas dan gamblang dalam hal ini seperti dikisahkan oleh Noam Chomsky dengan mengutip cerita St. Augustinus. Beliau pernah bercerita tentang seorang bajak laut yang tertangkap oleh Alexander Agung. Kemudian terjadilah dialog sebagai berikut; mengapa kamu berani mengacau lautan? Tanya Alexander Agung. Si bajak laut menjawab; mengapa kamu berani mengacau seluruh dunia karena aku melakukannya hanya dengan sebuah perahu kecil, aku disebut maling. Sedangkan kalian, karena melakukannya dengan kapal besar, disebut kaisar. Kisah tersebut menurut Chomsky, dengan cukup akurat menggambarkan hubungan antara Amerika dan berbagai aktor kecil dipanggung terorisme internasional, seperti Libya, Faksi-faksi Hamas, Fatah, Iran, Irak dan lain-lain.
[15]Lihat Azyumardi Azra, “Jihad dan Terorisme: Konsep dan Perkembangan Historis”, dalam jurnal Islamika, No. 4 edisi April-Juni 1994
[16]Ibid.
[17]Lihat M. Amien Rais, “Kebusukan Terorisme” dalam Http://www.Detikcom, tanggal 4 April 2002, h. 1.
[18]Ibid.
[19]Ibid.
[20]Lihat Al-Raghib al-Asfahaniy, Mu’jam Mufradat Alfadz al-Quran, td., h. 99.
[21]Departemen Agama Republik Indonesia, op. cit., h. 285.
[22]Muhyiddin al-Nawawi, Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawi, juz XIII (cet. III; Dar al-Ma’rifah: Beirut, 1996), h. 23.
[23]Pembagian semacam ini dapat dilihat misalnya dalam Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz VI (t.tp.: al-Maktabah al-Salafiyah, t.th.), h. 3.
[24]Lihat Muhyiddin al-Nawawi, op. cit., h. 11-12 lihat pula Andi Rasdiyanah, Materi Hadis tentang Keutamaan Jihad (Diktat Program Sarjana, 1985), h. 3.
[25]Ibid.
[26]Lihat Malik bin Anas, Muwattha Malik (cet. I; Dar al-Fikr, 1989), h. 276-292.
[27]Lihat Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Tabari, Jami al-Bayan fi Tafsir al-Quran, juz XVII (Beirut: Dar al-Fikr, 1978), h. 82-84.
[28]Lihat Azyumardi Azra, op. cit., h. 79.
[29]Ibid.
[30]Lihat Ali Rahmena, Para Perintis Zaman Baru Islam (cet. III; Bandung: Mizan, 1998), h. 126-151.
[31]Ibid., h. 154-170.
[32]Ibid., h. 101-124.
[33]Lihat QS. Al-Anbiya (21) : 107.
[34]Lihat QS. Al-Baqarah (2) : 30-32.
[35]Ibnu Hisyam, Sirah al-Nabawiyah, juz IV, op. cit, h. 26-30.
[36]Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz I, (Beirut: Dar al-Fikr, 1982), h. 43.
[37]Lihat Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam: Pemikiran dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Posmodernisme (cet. I; Jakarta: Paramadina, 1996), h. 188.
[38]Ibid.
Post a Comment