Thursday, December 12, 2013

PENDIDIKAN ISLAM DENGAN NILAI-NILAI DAN BUDAYA; PEWARISAN NILAI-NILAI DAN BUDAYA



I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan dalam Islam merupakan bagian dari kegiatan dakwah, dan kata terakhir ini yang diungkap al-Qur’an. Ia memberikan suatu model pembentukan kepribadian seseorang, keluarga dan masyarakat. Sasaran yang hendak dicapai ialah terbentuknya akhlak yang mulia, serta mempunyai ilmu yang tinggi dan taat beribadah. Akhlak yang mulia di sini dimaksudkan menyangkut aspek pribadi, keluarga dan masyarakat, baik dalam hubungan sesama manusia dan alam lingkungan maupun hubungan dengan Allah pencipta alam semesta (aspek horisontal dan aspek vertikal), dari sini diharapkan terwujud muslim intelektual. (Yusuf, 1988: 223)
Pendidikan merupakan institusi pembentukan dan pewarisan serta pengembangan budaya umat manusia. Tujuan pendidikan Islam bukan sekedar masalah-masalah dunia semata, akan tetapi menyangkut perpaduan rohani dan jasmani. Dengan istilah lain, Pendidikan Agama Islam mempersiapkan seseorang berprilaku ihsan (tepat guna) dalam menghadapi kehidupan dunia dan akhirat.

Sehubungan dengan itu, Pendidikan Agama Islam tidak hanya menyiapkan seseorang anak didik memainkan peranannya sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat saja, tetapi yang lebih utama adalah sebagai khalifah Allah swt.
Oleh karena itu, antara manusia dengan tuntutan hidupnya saling berpacu berkat dorongan dari ketiga daya tersebut, maka pendidikan merupakan sarana utama yang dibutuhkan untuk pengembangan kehidupan manusia, dalam dimensi yang setara dengan tingkat daya cipta, daya rasa, dan daya karsa masyarakat beserta anggota-anggotanya.(Yusuf, 1988: 3)
Manusia adalah subyek pendidikan, sekaligus juga obyek pendidikan, karena manusia dewasa yang berkebudayaan adalah subyek pendidikan dalam arti yang bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan. Mereka berkewajiban secara moral atas perkembangan pribadi anak-anak mereka serta generasi penerus mereka. Manusia dewasa yang berkebudayaan, terutama yang berprofesi keguruan (pendidikan) bertanggung jawab formal untuk melaksanakan misi pendidikan sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai yang dikehendaki masyarakat suatu bangsa.
Selanjutnya Abd. Rahman Getteng mengatakan, bahwa manusia yang belum dewasa dalam proses perkembangan kepribadiannya, baik menuju pembudayaan maupun proses kematangan dan integritas adalah obyek pendidikan. Artinya, mereka adalah sasaran yang dibina. Meskipun kita sadari bahwa perkembangan kepribadian adalah self-development melalui self-activities, jadi manusia sebagai subyek yang sadar mengembangkan dirinya sendiri.
Proses pendidikan yang berlangsung di dalam interaksi yang pluralitas (antara obyek dengan lingkungan alamiah, sosial dan kultural) amat ditentukan oleh aspek manusianya. Sebab, kedudukan manusia adalah sebagai subyek dan obyek di dalam masyarakat, hal ini memberikan konsekuensi tanggung jawab yang besar bagi manusia, memelihara alam lingkungan bersama. Bahkan manusia bertanggung jawab atas martabat kemanusiannya (human dignity).
Pendidikan Islam sangat memperhatikan penataan individual dan sosial yang membawa penganutnya pada pengaplikasian Islam dan ajaran ajarannya kedalam tingkah laku sehari-hari. Karena itu, keberadaan sumber dan landasan pendidikan Islam harus sama dengan sumber Islam itu sendiri, yaitu al-Qur’an dan As Sunah.
Pandangan hidup yang mendasari seluruh kegiatan pendidikan Islam ialah pandangan hidup muslim yang merupakan nilai-nilai luhur yang bersifat universal yakni al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih juga pendapat para sahabat dan ulama sebagai tambahan. Hal ini senada dengan pendapat Ahmad D. Marimba (1990: 172) yang menjelaskan bahwa yang menjadi landasan atau dasar pendidikan diibaratkan sebagai sebuah bangunan sehingga isi al-Qur’an dan al-Hadis menjadi fundamen, karena menjadi sumber kekuatan dan keteguhan tetap berdirinya pendidikan.

B. Rumusan Masalah
Dari deskripsi yang dikemukakan pada latar belakang, dapat diformulasikan permasalahan sebagai berikut:
1.    Nilai-nilai dan budaya manakah yang harus diwariskan?
2.    Bagaimana peranan pendidikan Islam dalam pewarisan nilai-nilai dan budaya tersebut?

 C. Tujuan dan Kegunaan

      Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsi dan menganalisis secara komprehensif tentang nilai-nilai dan budaya yang sepatutnya bisa diwariskan dan peranan pendidikan Islam dalam pewarisan nilai-nilai dan budaya tersebut. Sedangkan kegunaannya adalah, agar dapat menjadi bahan bacaan dalam rangka menambah wawasan dan khazanah ilmu pengetahuan, khususnya bagi pencinta pendidikan Islam.

II. PEMBAHASAN
A. Nilai-Nilai Dan Budaya Yang Diwariskan
Nilai merupakan sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. (Daradjat, 2004: 29) Nilai budaya adalah konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai di kehidupan manusia. Nilai keagamaan adalah konsep mengenai penghargaan tinggi yang diberikan oleh warga masyarakat kepada beberapa masalah pokok dalam kehidupan keagamaan yang bersifat suci sehingga menjadi pedoman bagi tingkah laku keagamaan warga masyarakat bersangkutan. Sedangkan pewarisan adalah proses, perbuatan, cara mewarisi atau mewariskan. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988)
Berdasarkan pengertian tersebut, konsep nilai-nilai dan budaya yang dimaksud yaitu nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama mengenai masalah dasar yang sangat penting dalam kehidupan manusia sehingga menjadi pedoman bagi perilaku dalam kehidupan masyarakat, nilai-nilai dan budaya itu dapat digali dalam kitab suci seperti al-Qur’an yang merupakan kitab suci agama Islam, juga dalam hadis sebagai contoh pokok prilaku nabi Muhammad saw bagi kehidupan selanjutnya.
Jika ditelusuri secara jeli tentang aspek-aspek yang terkandung di dalam al-Qur’an, Mahmud Syaltut berpendapat bahwa al-Qur’an memiliki tiga aspek: “1) aqidah, 2) syariah dan 3) akhlak.” Selanjutnya beliau menjelaskan, pencapaian ketiga aspek ini diusahakan oleh al-Qur’an melalui empat cara:”1) perintah memperhatikan alam raya, 2) perintah mengamati pertumbuhan dan perkembangan manusia, 3) kisah-kisah, dan 4) janji serta ancaman duniawi atau ukhrawi. (Shihab, 2005: viii).
Aqidah adalah ungkapan yang sistematis tentang keyakinan.(Glasse, 2002: 32) Unsur-unsur aqidah yang pertama dan utama menurut Islam adalah Iman, yakni percaya kepada Allah, para malaikat, semua kitab yang diturunkan, hari pertemuan dengannya, para rasul dan percaya kepada hari kebangkitan. Kemudian Islam, yaitu mengabdikan diri kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan perkara lain, mendirikan sembahyang yang telah difardukan, mengeluarkan zakat yang diwajibkan dan berpuasa pada bulan ramadhan, selanjutnya ialah Ihsan, yakni hendaklah beribadat kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, sekiranya engkau tidak melihatnya, maka ketahuilah bahwa Dia senantiasa memperhatikanmu.
Unsur-unsur aqidah tersebut merupakan nilai-nilai Islam yang pertama dan utama, merupakan dasar dan landasan bagi setiap orang dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Pengingkaran terhadapnya berarti peniadaan atas nilai-nilai pertama dan utama ini, yang tentunya akan terjerumus kepada kesyirikan.
Syariah dari akar kata syara’a yang berarti memperkenalkan, mengedepankan, menetapkan. Selanjutnya syariah diartikan pula sistem hukum yang didasarkan wahyu, atau juga disebut syara’ atau syir’ah. Atau juga merupakan hukum agama Islam yang terkandung di dalam al-Qur’an dan hadis yang dikembangkan melalui prinsip-prinsip analisis mazhab fikih Islam.(Glasse, 2002: 382)
Ketetapan-ketetapan yang terkandung di dalam al-Qur’an dan hadis yang menyangkut berbagai macam persoalan merupakan nilai-nilai hukum untuk ditaati dalam kehidupan. Allah swt berfirman di dalam QS.  al-Anbiyaa’ (21):79.
Terjemahnya:
Maka kami Telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka Telah kami berikan hikmah dan ilmu dan Telah kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. dan kamilah yang melakukannya.
Ayat ini menjelaskan bahwa nilai-nilai hukum yang terkandung didalam al-Qur’an memang memiliki ketetapan sesuai dengan kadar kemanusiaan, juga kesalahan yang dilakukannya. Prosedurnya pun memperhatikan tingkat kesalahan yang dilakukan, dengan hukuman seimbang sesuai dampak yang ditimbulkannya yang menjadi beban pihak penderita.
Sedangkan akhlak yakni budi pekerti, merujuk pada akhlak Rasulullah saw, sebab akhlak rasul adalah al-akhlaq al-qarimah yakni sebaik-baik budi pekerti. Allah swt berfirman dalam QS  al Ahzab (33): 21:
Terjemahnya:
Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Hadis Aisyah r.a: diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a… bukankah aku ini merupakan contoh tauladan bagi kamu?... Qatadah berkata: sesungguhnya aku cedera semasa peperangan uhud, lalu aku berkata: wahai Ummul Mukminin! Ceritakanlah kepadaku mengenai akhlak rasulullah saw. Aisyah menjawab: bukankah kamu membaca al-Qur’an? Aku menjawab: benar! Aisyah berkata lagi: sesungguhnya akhlak Rasulullah saw ialah al-Qur’an…”(H.R muslim).
Berdasarkan uraian di atas, maka sesungguhnya nilai-nilai dan budaya yang hendak diwariskan kepada umat manusia adalah nilai-nilai yang bersumber dari ajaran Islam yang dilandasi oleh al-Qur’an dan hadis. Nilai-nilai dan budaya inilah yang dikategorikan nilai-nilai dan budaya Islam.

B. Peranan Pendidikan Islam Dalam Pewarisan Nilai-Nilai Dan Budaya Islam
Pendidikan dalam bahasa arab ditemukan penyebutannya dalam tiga kata, yakni al- tarbiyah, al-ta’līm, dan al-ta’dīb yang secara etimologis kesemuanya bisa berarti bimbingan dan pengarahan. Namun demikian, para pakar pendidikan mempunyai kecenderungan yang berbeda dalam hal penggunaan ketiga kata tersebut. Kata al-tarbiyah dalam lisān al-arab, berakar dari tiga kata, yakni; raba-yarbu yang berarti bertambah dan bertumbuh; rabiya-yarba yang berarti menjadi besar, dan rabba-yarubbu yang berarti memperbaiki.(Manzur, 1997: 243) Arti pertama, menunjukkan bahwa hakikat pendidikan adalah proses pertumbuhan peserta didik, arti kedua, pendidikan mengandung misi untuk membesarkan jiwa dan memperluas wawasan seseorang, dan arti ketiga, pendidikan adalah memelihara, dan atau menjaga peserta didik.
Mengenai kata al-ta’līm menurut Abd.  al-Fattah, adalah lebih universal dibanding dengan al-tarbiyah dengan alasan bahwa al-ta’līm berhubungan dengan pemberian bekal pengetahuan. Pengetahuan ini dalam Islam dinilai sesuatu yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi. (Jalal, 1988: 17) Berbeda dengan ini, justru al-Attas menyatakan bahwa al-tarbiyah terlalu luas pengertianya, tidak hanya tertuju pada pendidikan manusia, tetapi juga mencakup pendidikan untuk hewan. Sehingga dia lebih memilih penggunaan kata al-ta’dīb karena kata ini menurutnya terbatas pada manusia.(al-Attas, 1999: 52)
Berkaitan dengan hal tersebut, dengan merujuk pada makna dasar term-term pendidikan, pemakalah merumuskan bahwa kata al-ta’dīb lebih mengacu kepada aspek pendidikan moralitas (adab), sementara kata al-ta’līm lebih mengacu kepada aspek intelektual (pengetahuan), sedangkan kata tarbiyah, lebih mengacu pada pengertian bimbingan, pemeliharaan, arahan, penjagaan, dan pembentukan kepribadian. Karena itu, term yang terakhir ini, kelihatannya menunjuk pada arti yang lebih luas, karena di samping mencakup ilmu pengetahuan dan adab, juga mencakup aspek-aspek lain yakni pewarisan peradaban sebagaimana yang dikatakan Ahmad Fuad al-Ahwaniy bahwa: pada dasarnya, term al-tarbiyah mengandung makna pewarisan peradaban dari generasi ke generasi.(Al-Ahwaniy, t.th: 19)
Lebih lanjut Muhammad al-Abrasy (t.th.: 14) menyatakan bahwa al-tarbiyah mengandung makna kemajuan yang terus menerus menjadikan seseorang dapat hidup dengan berilmu pengetahuan berakhlak mulia, dan akal cerdas. Dengan demikian, kata tarbiyah lebih cocok digunakan dalam mengkonotasikan pendidikan menurut ajaran Islam.
Berdasarkan uraian di atas maka pendidikan Islam (tarbiyah) juga dapat diartikan sebagai pewarisan nilai-nilai dan budaya Islam. Disinilah letak peranan pendidikan Islam dalam pewarisan nilai-nilai dan budaya Islam dalam rangka membangun manusia seutuhnya.
Dalam rangka memainkan peranannya, pendidikan Islam bertumpu pada tri pusat lingkungan pendidikan; yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Pewarisan nilai-nilai dan budaya dalam lingkungan keluarga menjadi perhatian utama dalam pendidikan Islam. Sedangkan menurut Zakiyah Daradjat (2004: 35) bahwa orang tua merupakan pendidik utama dan peranan yang besar bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak-anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
Selanjutnya Zakiah Daradjat (2004: 35)  mengemukakan bahwa pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh-mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.
Tanggung jawab meletakkan dasar utama nilai-nilai dan budaya Islam dalam keluarga sangat tergantung pada orang tua, oleh sebab itu perintah Allah swt di dalam QS. As-Syu’araa’ (26):214:
Terjemahnya:
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.
Demikian pula Islam memerintahkan agar para orang tua berlaku sebagai kepala dan pemimpin dalam keluarga serta berkewajiban untuk memelihara keluarganya dari api neraka, sebagaimana Allah swt berfirman di dalam QS. At-Tahriim (66):6
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Lingkungan selanjutnya yang berperan dalam pewarisan nilai-nilai dan budaya dalam pendidikan Islam adalah sekolah (madrasah) sebagai sebuah sistem dan struktur sosial pendidikan.(Fatah, 2004: 6) Dalam lingkungan ini akan terjadi proses sosial antara pendidik dan anak didik.
Menurut Muhammad Athiyah al-Abrasyi (t.th.: 146-149) nilai-nilai dan budaya yang harus ditonjolkan oleh pandidik dalam lingkungan sekolah (madrasah) antara lain: zuhud, bersih, ikhlas, pemaaf, berfungsi sebagai orang tua bagi peserta didik, memahami akhlak anak didik, menguasai bidang yang diajarkan, dan lain-lainnya.
Nilai-nilai dan budaya tersebut akan mengakar terhadap peserta didik jika pendidik mencontohkannya melalui pola dan tingkah laku dalam proses sosial di sekolah. Sebab pendidik adalah idola bagi anak didiknya, pemberi contoh yang sangat cepat dicerna oleh peserta didik, bahkan tidak jarang pendidik menjadi tumpuan bagi orang tua didik untuk membina dan mengembangkan mental dan moral anaknya.
Lingkungan masyarakat menjadi media pewarisan nilai-nilai dan budaya menurut pendidikan Islam karena setiap orang akan hidup di tengah masyarakat. Oleh sebab itu peranan para tokoh agama (ulama dan cendekiawan Islam) sangat diharapkan untuk dapat mengendalikan nilai-nilai dan budaya masyarakat menuju nilai-nilai dan budaya yang Islami.
Peranan pendidikan Islam dalam pewarisan nilai-nilai dan budaya Islam dalam masyarakat dapat dilihat melalui berbagai lembaga Islam, seperti lembaga-lembaga pendidikan (UIN, IAIN, STAIN, MA, MTs, MI, SDI, TPA/TKA dan lain-lain). Juga lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya seperti: majelis ta’lim, lembaga dakwah Islam, organisasi kemasyarakatan Islam (Muhammadiyah, NU) yang telah dari dulu mengembangkan nilai-nilai dan budaya Islam dalam konteks berbangsa dan bernegara.
Demikianlah pendidikan Islam berperan dalam pewarisan nilai-nilai dan budaya Islam melalui tiga lingkungan pendidikan, yakni keluarga sebagai ligkungan pertama dan utama, sekolah sebagai lingkungan yang menjadi harapan orang tua didik dalam pengembangan mental dan moral anak-anaknya, masyarkat yang menjadi lingkungan di mana setiap orang akan hidup dan berkembang dan saling mempengaruhi.

III. PENUTUP
Dari analisis pada pembahasan di atas, dapat dikemukakan beberapa poin penting sebagai kesimpulan, yaitu:
1.    Pendidikan sejatinya adalah pewarisan berbagai macam nilai dan budaya. Oleh sebab itu nilai-nilai dan budaya yang hendak diwariskan kepada umat manusia adalah nilai-nilai yang tetap berpegang teguh pada ajaran al-Qur’an dan sunnah rasul serta kearifan-kearifan lokal yang tetap berpegang pada norma-norma budi pekerti luhur. Nilai-nilai dan budaya inilah yang disebut dengan nilai-nilai dan budaya Islam.
2.    Pendidikan Islam berperanan dalam pewarisan nilai-nilai dan budaya Islam melalui tiga lingkungan pendidikan, yaitu keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama, sekolah sebagai lingkungan yang menjadi harapan orang tua didik dalam pengembangan mental dan moral anak-anaknya, masyarakat yang menjadi lingkungan di mana setiap orang akan hidup dan berkembang dan saling mempengaruhi.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Abrasyi, Muhammad Athiyah, Ruh al-Tarbiyah wa al-Ta’līm, t.t.; Isa al-Babi al-Halab, t. th.
Ahwaniy, Ahmad Fu’ad, al-Tarbiyah fil Islām, Mesir: Dar al-Ma’arif, t.th.
al-Attas, Muhammad Naquib, Aims and Objective of Islamic Education, Jeddah: King Abd.  al-Aziz, 1999.
Daradjat, Zakiah, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, cet.V, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.
Departemen Agama R.I, al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: PT Syaamil Cipta Media, 2005.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Perum Balai Pustaka, 1988.
Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, cet. VII, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004.
Getteng, Abd.Rahman, Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan; Tinjauan Historis dari Tradisional hingga Modern, cet. I, Yogyakarta; Graha Guru, 2005.
Glasse, Cyril, Ensiklopedia Islam Ringkasan, cet. III, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002.
Imam Abul Husein Muslim bil al Hajjaj bin Muslim al-Qusyairy an Naisabury, Shahih Muslīm, dalam CD al Bayān Bukhori Muslim-Holy Qur’an, Versi 7.0 hadis No. 5.
Jalal, Abd.  al-Fattah, Min Ujul al-Tarbawiy fi al-Islām, Kairo: Markaz al-Duwali li al- Ta’lim, 1988.
Ma’luf, Luwis, al-Munjīd fi al Lughah wa A’lām, Cet. XXVII: Dar al-Masyriq, 1997.
Manzur, Jamal al Din Ibn, Lisān al-arab, Jilid I, Mesir: Dar al-Mishriyyah, t.th.
Shihab, M. Quraish, Tafsir al Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an Volume 1 Surah  al Fatihah- Surah  al Baqarah, cet. III, Jakarta: Lentera Hati, 2005.

Post a Comment