Monday, December 16, 2013

TINJAUAN SINTAKSIS DALAM PERKEMBANGAN BAHASA INGGRIS PADA ANAK

A. Latar Belakang
Apabila kita mengamati proses perkembangan bahasa anak, proses seorang anak di dalam mempelajari bahasa ibunya –dari saat-saat setelah lahir ke saat mengeluarkan kata-kata pertamanya (sekitar satu tahun), ke saat mengeluarkan kalimat pertamanya, ke saat memasuki bangku sekolah dasar- akan kita saksikan kisah petualangan, kisah pergumulan anak yang penuh dengan “jatuh bangun” berkali-kali. Anak tidak sekadar, secara pasif, merekam atau menerima atau meniru bahasa yang diutarakan oleh orang dewasa di sekitarnya. Anak memegang peranan yang aktif, mreka bersimbah peluh, berjatuh bangun di dalam proses penguasaan bahasa. Mereka bergumul dengan bahasa terasyikkan dengan kegiatan mengolah dan memecahkan soal kebahasaan dengan liku-liku kerumitannya. Mereka adalah penjelajah yang kreatif, penelusur seluk-beluk yang serba baru, dan penggali temuan-temuan baru. Hampir seluruh waktunya pada masa-masa prasekolah mereka habiskan semata-mata untuk bergelut dengan bahasa.
       Mereka bertindak dengan cara mereka sendiri, seiring dengan tahap perkembangan kemampuan mereka, dari waktu ke waktu. Mereka tidak sekedar meniru, meskipun anggapan bahwa anak belajar bahasa dengan menirukan bahasa orang dewasa di sekitarnya. Kalaupun mereka menirukan bahasa orang dewasa, hal itu mereka lakukan hanya apabila isinya memang dapat masuk akal mereka, sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Namun tidak jarang, orang tua –dengan niat baik membantu mendidik anak- memaksakan diri kepada anak dengan cara “orang tua”, tanpa mempedulikan cara “anak” dan tingkat perkembangannya.
       Lewat contoh dialog antara orang tua dan ank perempuannya (usia 2,5 tahun) berikut ini dapat tersingkapkan bagaimana gigihnya usaha orang tua memaksakan “niat mendidiknya”, dan betapa sia-sianya hasil yang diraih (Bernstein dan Tiegerman, 1985:76).
[Context: breakfast table]
Child    : Want other one spoon, Daddy.
Father  : You mean, you want THE OTHER SPOON.
Child    : Yes, I want other one spoon, please, Deddy.
Father  : Can you say “ the other spoon”?
Child    : Other … one … spoon.
Father  : Say … “other”.
Child    : Other.
Father  : Spoon
Child    : Spoon
Father  : Other … spoon.
Child    : Other … spoon. Now give me the other one spoon.

            Berikut ini contoh dialog lain lagi, yang juga menyingkapkan bahwa kalau belum sampai pada waktunya yang tepat, tidak mungkin kesalahan bahasa anak itu dibetulkan. Apabila sudah tiba waktunya, anak akan memakai caranya sendiri untuk sampai pada tahap “sama dengan bahasa orang dewasa”.

            Child                : Nobody don’t like me
            Mother             : No, say “Nobody likes me”.
Child                : Nobody don’t like me.
Mother             : No, say “Nobody likes me”
Child                : Nobody don’t like me.
[Sesudah mengulangi dialog ini tujuh kali, sang ibu akhirnya berkata:]
Mother             : No! Now listen carefully! Say “Nobody … likes … me!”
Child                : Oh! Nobody don’t likes me!

Penelitian Nelson (1973) dalam Bernstein dan Tiegerman (1985:76) menyingkapkan bahwa tindakan orang tua yang suka mencela itu akan menghambat proses penguasaan bahasa anak.
Selama ini ada keluhan mengenai rendahnya kemampuan bahasa siswa dan mahasiswa di Indonesia; kalimatnya kacau, gagasannya tidak disusun secara runut. Apakah ini ada kaitannya dengan “gangguan” dari orang dewasa di dalam proses perkembangan bahasa anak? Apakah ini ada kaitannya dengan pengajaran bahasa di peringkat sekolah dasar yang lebih menekankan pada segi penguasaan kaidah dan “tata tertib” bahasa daripada pengembangan dan pemacuan daya kreatif anak? Terlalu keras atau mungkin terlalu gegabah kiranya pelontaran pertanyaan seperti ini karena tanpa didukung oleh kegiatan penelitian. Barangkali ada sejumlah faktor lain lagi yang menjadi penyebabnya. Akan tetapi, penelitian mengenai perkembangan bahasa anak (dari lahir sampai masa remaja) di Indonesia, yang hingga kini belum menarik perhatian para peneliti Indonesia, sudah barang tentu akan dapat menyingkapkan banyak hal, diantaranya akan dapat disumbangkan untuk penjelasan pertanyaan di atas.
Yang jelas, penelitian seperti itu sudah dirasakan mendesak keperluannya untuk membantu proses “penyembuhan” anak-anak yang mengalami kelambatan atau kesulitan di dalam perkembangan bahasa. Dengan mengetahui bagaimana tahap perkembangan bahasa pada anak yang normal, akan semakin jelaslah langkah-langkah yang harus ditempuh untuk membantu melicinkan jalan bagi proses penguasaan bahasa untuk anak yang tidak normal perkembangannya.

B. Permasalahan
Pembahasan mengenai penguasaan sintaksis ini dibagi atas dua hal: penguasaan pada anak usia prasekolah (0-4 tahun), dan pada anak usia sekolah (5 tahun ke atas).

C. Pembahasan
   1. Penguasaan Sintaksis pada Anak Usia 0-4 tahun
       Di dalam perkembangan anak (normal), konstruksi sintaksis paling awal dapat diamati pada usia sekitar 18 bulan. Namun, pada beberapa anak tertentu konstruksis sintaksis itu sudah dapat ditemui pada usia di sekitar satu tahun, sedangkan pada beberapa anak yang lain pada usia lebih dari dua tahun. Konstruksis sintaksis yang pertama yang dimaksudkan di sini ialah kalimat yang terdiri atas dua kat. ‘Kalimat dua kata’ yang dihasilkan oleh anak usia 18 bulan dapat dikatakan sebagai konstruksi yang betul-betul merupakan hasil rangkaian dua kata karena komponen katanya terjadi secara mandiri dan juga dapat ditemukan pada rangkaian-rangkaian yang lain.
        Ini berbeda dengan yang terjadi pada anak usia antara 9 dan 18 bulan, yang lazim disebut sebagai masa ‘holofrastis’. Pada masa ini, setiap ‘kalimat’ hanya terdiri atas satu kata. Namun, penyebutan kalimat pada masa ini kiranya kurang tepat karena penyeburtan itu mengandaikan adanya struktur sintaksis; padahal, kaidah sintaksis belum ada di situ. Penyebutan ‘kata’ juga kurang tepat karena ‘kata’ pada masa holofrastis ini tidak memiliki ciri penggabungan dengan kata lain untuk membentuk rangkaian frasa dan klausa. (periksa Griffiths, 1981).
       ‘Kalimat satu kata’ itu digunakan secara komunikatif, dan penafsirannya hanya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan konteks penggunaannya. Unsur lingual (atau ‘kata’) hanya merupakan salah satu diantara keseluruhan tindak komunikasi, yang di dalamnya termasuk gerak-gerik yang terarah pada orang atau benda yang hadir, arah tatapan mata, dan pola intonasi. Dengan mempertimbangkan arti kata semata-mata tidaklah mungkain dapat ditangkap maksud dari ‘kalimat satu kata’ itu. Apabila seorang anak mengatakan ‘daddy’ sembari menunjuk ke gambar ayahnya, maka fungsi kalimat satu kata itu ialah sebagai (tindakan komunikatif) penamaan atau penyebutan. Namun apabila ia mengatakan ‘daddy’ sembari memegang sandal ayahnya, maka ia mengkomunikasikan suatu hubungan tertentu (misalnya, posesif) antara ayah dan benda tersebut (periksa Slobin 1979:79). Tuturan ‘mama’ dapat berarti ‘ibu’ datang ke sini’, atau ‘ibu beri aku…’, atau ‘ibu, dudukkan aku di kursi’. Kalimat satu kata itu tidak semata-mata satu kata, tetapi mengandung gagasan penuh. Kalimat satu kat itu dapat digunakan untuk mengungkapkan beberapa gagasan, Dan tidak mengandung struktur gramatikal. Kalimat satu kata itu bukan semata-mata pengungkapan kalimat, melainkan merupakan kesatuan antara konsep dan kebutuhan internal si anak.
        Berikut ini contoh pentahapan dari kalimat satu kata (yang juga disebut holofrastis), ke kalimat dua kata (yang juga disebut telegrafis), ke kalimat lengkap.
(1)  Ball
(2)  a. Throw ball
b. Daddy throw
(3)  Daddy throw ball.

Ada kaitan antara penguasaan perkembangan kosa kata (secara produktif) dan perkembangan penguasaan sintaksis. Pada awal masa holofrastis perkembangan jumlah kosa kata berjalan lambat, tetapi mulai usia sekitar 18 bulan terjadi pelonjakan jumlah kosa kata, dari 22 kata pada usia 16 bulan sampai 272 kata pada usia dua tahun (Smith 1962, dikutip dari Ingram1989:234). Jumlah kosa kata yang dimaksudkan di sini adalah jumlah kosa kkata yang dikuasai secara produktif. Kosa kata yang dikuasai secara reseptif jumlahnya lima kali lebih banyak.
Peralihan dari kalimat satu kata ke kalimat yang merupakan rangkaian kata terjadi secara bertahap. Berdasarkan pengamatan terhadap anaknya (Allisn), Bloom (dalam Ingram, 1989:238-239) mengemukakan adanya dua jenis perkembangan: yang ‘mata ranti’ (chained) dan yang holisits. Pertimbangkanlah dua contoh berikut.
Allison (16 bulan, 3 minggu)
Allison        : cow (tiga kali, seraya meraih-raih di bawah kursi, lalu
                  mengangkat sapi mainan) chair (dua kal, seraya mencoba
                  mendirikan kaki belakang sapi mainan itu di atas kursi)
Ibu             : What’s that?
Allison        : Mama (sambil menyerahkan sapi itu kepada ibunya supaya
                  membantu mendirikan sapi pada kaki belakangnya).

         Tiga buah kalimat satu kata pada dialog di atas diturunkan sebagai mata rantai, dan masing-masing mengacu pada kejadian atau kegiatan tersendiri; masing-masing memiliki konteksnya sendiri. Tuturan ‘cow’ digunakan untuk mengacu pada tindakan mengambil sapi maina; tutran itu seakan-akan berarti ‘ini sapiya’. ‘Chair’ diucapkan oleh Allison ketika menaruh sapi itu di atas kursi, dengan arti ‘saya akan menaruhnya di atas kursi’. Tuturan terkhir, ‘Mama’ merupakan panggilan untuk meminta bantuan ibu.
            Tidak seperti halnya kalimat satu kata yang berurutan secara ‘mata rantai’, kalimat satu kata yang berurutan secara holisitis mengacu pada kegiatan yang sama. Berikut ini contohnya.

Allison (20 bulan, 3 minggu)
Allison        : up (dua kali, sambil mengenakan mantelnya dan menunjuk ke
                  leher)
Mother       : What?
Allison        : neck up
Mother       : Neck? What do you want? What?
Allison        : Neck
Mother       : What’s on your neck?
Allison        : zip (tiga kali sambil menunjuk ke resliting dan mengangkat
                  dagunya).
            Allison pada contoh ini menyatakan satu hal, yaitu menyatakan keinginannya untuk meminta ibunya mengancingkan ritsliting mantelnya. Tuturan ‘up’, ‘neck’, dan ‘zip’ digunakan untuk mengungkapkan kegiatan yang sama. Pengurutan secara holistis ini memperlihatkan kemajuan di dalam diri anak, karena tuturannya tidak lagi terkait pada gerak-gerik tertentu, dan lebih terikat pada konteks. Menurut Bloom, pengurutan secara holistis ini baru terjadi menjelang akhir masa ‘kalimat satu kata’, yaitu beberapa minggu sebelum tahap ‘kalimat dengan rangkaian kata’.
            Pada waktu kalimat pertama terbentuk, yaitu penggabungan dua kata menjadi kalimat, rangkaian kata itu berada dalam satu jalinan intonasi (berbeda halnya dengan rangkaian kalimat satu kata, yang memiliki nada datar yang sama). Kalimat dua kata, yang mulai dapat disusun oleh anak pada usia sekitar 18 bulan itu, mengandung elemen yang memiliki hubungan semantis yang terpapar pada tabel berikut ini.

Semantic Relations
Examples
Agent + action
Action + object
Agent + object
Action + location
Entity + location
Possessor +possession
Entity + atribut
Demonstrative +entity
Mommy come; daddy sit
Drive car; eat grape
Mommy sock; babby book
Go park; sit chair
Cup table; toy floor
My teddy; mommy dress
Box shiny; crayon big
Dat money; dis telephone
            Jika terjadi bahwa kalimat dua kata itu membawakan makna yang lebih dari satu, maka anak dapat membedakan keambiguan itu dengan menggunakan pola intonasi yang berbeda. Pembedaan makna tidak lagi menggantungkan diri pada gerak-gerik atau tunjukan tangan. Tuturan ‘doggie bed’, misalnya, yang dimaksudkan untuk menunjuk pada tempat berbarting si anjing (konstruksi posesif) diucapkan pada tekanan pada kata doggie.Tuturan yang sama, yang dimaksudkan untuk mengomentari bahwa anjingnya tidur di tempat tidur ibunya (pengertian lokatif), diucapkan dengan tekanan pada kata bed.
            Tahap perkembangan sintaksis pada anak secara ringkas dapat dirangkumkan sebagai berikut (Ingram 1989:2); ini pentahapan yang dikenal secara tradisional.
1.    masa “pra-lingual” -lahir sampai akhir usia 1 tahun.
2.    kalimat satu kata -sekitar 1 tahun sampai 1,5 tahun.
3.    kalimat dengan rangkaian kata -sekitar 1,5 sampai 2 tahun.
4.    konstruksi sederhana dan kompleks -3 tahun.
Pada usia 2 tahun anak mulai menguasai kaidah infleksi, dan pada usia 2,6 tahun ke atas terjadi pemunculan klausa subordinatif. Sebelum usia 3 tahun anak hanya dapat bertanya mengenai-benda-benda konkret, dengan kata tanya “apa” dan “di mana”, tetapi sesudah tiga tahun anak mulai menanyakan hal-hal yang abstrak, dengan kata tanya seperti “mengapa”, “kapan”.
Mengenai pertanyaan pada usia berapa anak mulai menggunakan kalimat kompleks, terdapat perbedaan di antara para peneliti. Nice dalam Ingram, 1989:46, misalnya, melaporkan bahwa anak usia 3 tahun baru dapat menguasai kalimat pendek, atau kalimat tidak sempurna. Adapun kalimat lengkap dan kalimat kompleks baru dikuasai oleh anak pada usia 4 tahun. Perbedaan ini, menurut Bowens (1981), antara lain karena perbedaan mengenai jenis-jenis kalimat yang didefinisikan sebagai kalimat kompleks dan perbedaan mengenai pengetahuan yang dimaksudkan sudah dimiliki anak sehingga dapat menghasilkan kalimat kompleks itu. Akan tetapi kebanyakan penelitian berkesimpulan bahwa sebagian besar dari jenis-jenis kalimat kompleks sudah muncul pada anak antara usia 2 dan 4 tahun.
  2. Penguasaan Sintaksis pada Anak Usia 5 Tahun ke atas.
            Konstruksi apakah yang merupakan persoalan bagi anak usia 5 tahun ke atas? Salah satunya, seperti yang dikemukakan oleh Chomsky (1969) adalah penafsiran subjek pada klausa komplemen karena konstituen subjek tidak muncul secara formatif. Pertimbangkanlah contoh-contoh berikut.

a. John wanted to leave.
            b. John wanted Bill to come.
            c. John told Harry what to do.
           
Yang merupakan subjek atau pelaku untuk verba yang dicetak tebal itu ialah John pada a, Bill pada b, dan Harry pada c. Kaidah ini mengikuti apa yang disebut “prinsip jarak minimal” (minimal principle distance), atau disingkat MDP. Sebagian besar verba di dalam bahasa Inggris yang dapat menjadi verba matriks seperti pada a, b, c, dan d, itu mengikuti MDP, tetapi verba seperti promise secara konsisten tidak mengikuti MDP, dan verba seperti ask dan beg pada kalimat tertentu mengikuti MDP sedangkan pada kalimat lain tidak.            
       Chomsky melaporkan bahwa anak pada usia itu merupakan MDP pada semua konstruksi. Mereka secara konsisten dapat melakukan interpretasi yang benar dengan verba tell, tetapi salah interpretasi pada verba promise dan ask. Di dalam proses perkembangan selanjutnya, anak akan menguasai perangai verba ask, promise secara konsisten melanggar MDP, sedangkan ask tidak konsisten.
       Akan tetapi, anak pada usia 3-4 tahun justru tidak menerapkan MDP; ini kebalikan dari yang ditemukan oleh Chomsky pada anak usia 5-10 tahun. Anak pada usia yang lebih awal itu justru melakukan interpretasi yang benar pada konstruksi dengan verba promise dan ask, dan salah interpretasi pada konstruksi dengan verba tell. Menurtut Tavakolin, anak pada usia lebih awal itu memperlakukan kalimat berklausa komplement itu seperti kalimat yang klausanya dirangkaikan secara koordinatif, sebagaimana yang terdapat pada contoh berikut. NP yang menjadi subjek pada kalusa pertama juga akan menjadi subjek pada klausa berikutnya.    
a. The lion jumps over the pig and stands on the horse.
Kalimat kompleks lain yang diteliti oleh Chomsky ialah seperti yang terpapar pada contoh berikut.
b. John is eager to see
c. John is easy to see.
            Yang dipersoalkan di sini adalah siapa yang melakukan perbuatan pada verba see? Pada kalimat b john merupakan subjek da ri see, sedangkan pada kalimat c John merupakan objek dari see. Hampir semua anak usia lima tahun menjawab salah mengenai interpretasi kalimat c, anak usia 6-8 tahun ada yang menjawab salah ada yang menjawab benar, sedangkan anak usia 9 tahun dapat menjawab benar.
            Anak pada usia 5 tahunan ke atas itu, selain mengalami kesulitan menyangkut penafsiran subjek sebagaimana yang digambarkan di atas, juga mempunyai anggapan bahwa yang menjadi subjek selalu pelaku yang melakukan perbuatan. Sudah barang tentu ini akan menyulitkan mereka di dalam pemahaman terhadap konstruksi pasif.
            Sebelum menguasai konstruksi pasif, anak menganggap bahwa konstruksi pasif pada contoh b di bawah ini memiliki ciri struktural yang mirip dengan konstruksi yang mengandung frasa berpreposisi seperti pada  contoh a.
a.    The cat was sitting by the fence.
b.    The cat was bitten by the dog.
Di dalam perkembangan selanjutnya, pada waktu sudah menguasai konstruksi pasif seperti pada contoh b, anak akan mengalami kesulitan kesulitan menghadapi konstruksi seperti pada contoh c berikut ini.
c.    The boy is pushed by the girl.
Mengenai persoalan semantik leksikal verba pada konstreuksi pasif itu, berikut ini dipaparkan hasil penelitian kuantitatif Maratsos et al, (1979, seperti yang dikutip Ingram 1989:469-475), berkenaan dengan penguasaan anak pada usia 4-5 tahun terhadap perbedaan antara ‘verba tindakan’ (seperti wash, hold) dan ‘verba bukan tindakan’ ( seperti see, hear) di dalam konstruksi pasif. Hasilnya menunjukkan bahwa verba tindakan lebih mudah dikuasai dari pada konstruksi dengan verba bukan tindakan. Penelitian ini melaporkan pula bahwa penguasaan pasif terjadi secara bertahap dan akan memakan waktu beberapa tahun.

D. Penutup
        Pada dasarnya bahasa anak tidak serta merta menjadi sebuah bahasa sperti halnya bahasa orang dewasa. Bahasa anak mengalami suatu proses. Proses itu adalah proses perubahan dari bahasa yang kurang lengkap menjadi lebih lengkap, dari yang tidak sempurna menjadi bahasa yang lebih sempurna. Proses tersebut berjalan siring dengan perkembangan fisik, bilogis dan mental anak.
       Proses ini lebih jelasnya dapat dilihat pada penguasaa sintaksis. Penuasaan sintaksis rupanya berbeda pada diri anak yang mempunyai perbedaan usia yang signifikan. Sehingga dapat diketahui bahwa penguasaan sintaksis itu melalui suatu tahapan. Anak pada usia 0-4 tahun perkembangan konstruksi sintaksisnya cukup sederhana dan akan menjadi lebih berterima ketika anak tersebut mencapai usia 5 tahun ke atas.

DAFTAR PUSTAKA

Bernstein, Deena K. dan Ellen Morris Tiegerman. 1985. Language and Communication Disorders in Children. Columbus: Charles E. Merril Publishing Company.
Chomsky, Carol. 1969. The Acquisition of Syntax in Children from 5 to 10. Cambridge: MIT Press.
Clark, Herbert H. and Clark, Eve V. 1981. Psychology and Language. United States of Amerika: Harcourt Brace Jovannovich Publishers.
Fletcher, Paul dan Michaej Garman. 1981. Language Acquisition: Studies in First Language Development. Cambridge: Cambridge University Press.
Garman, Michael. 1981. Early Grammatical Development. New York: Academic Press.
Griffiths, Patrick. 1981. Speech Acts and Early Sentences.Cambridge: Cambridge University Press.
Hudson, R.A. 1987. Sociolinguistics. Cambridge: Cambridge University Press.
Ingram David. 1989. First Language Acquistion: Method, Description, and Explanation. Cambridge: Cambridge University Press.
Karmiloff-Smith, Annette. 1981.Language Acquisition after Five. Fletcher dan Garman 1981, 307-323.
Kaswanti Purwo, Bambang. 1988. “Konstruksi pasif: Frekuensi pemakaian dan kepekaan persona”, Atma nan Jaya 1.1 (Juni 1988), 31-49.
Krashen, stephen D. 1985. Principle and Practice in Second Language Acquisition. Great Britain: Pergamon Press.
Nababan, Sri Utari Subyakto. 1992. Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia Pustakan Utama.
Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-Aspek Psikolinguistik. Yogyakarta: Nusa Indah.
Post a Comment