Saturday, October 4, 2014

APLIKASI PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL (VIDEO) SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dunia pendidikan sekarang ini secara nyata telah berkembang pesat. Hal ini salah satunya terlihat dari adanya pembelajaran Bahasa Inggris di pendidikan tingkat dasar. Dengan didukung oleh teknologi, dunia pendidikan dimungkinkan dapat mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di dalam era globalisasi. Pendidikan dasar dapat meningkat di masa depan dengan keberadaan awal yang telah mengenal dan memberikan kurikulum muatan lokal mata pelajaran Bahasa Inggris. Di mana Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang sangat berpengaruh dalam dunia internasional.

Berpedoman pada landasan dan pengembangan kurikulum 2013, Bahasa Inggris adalah bahasa asing yang dianggap penting yang diajarkan untuk penyerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya dan pengembangan hubungan antar bangsa.

         Keberadaan kurikulum muatan lokal Bahasa Inggris di Sekolah Dasar dirasa sangat perlu, karena untuk meningkatkan kualitas produk pendidikan formal dasar di Indonesia yang masih dalam upaya peningkatan. Apabila untuk menghadapi dunia Internasional yang semakin menuntut kemajuan dalam bidang pendidikan, itu sebabnya ilmu pengetahuan dan teknologi dimutlakkan sebagai nilai utama untuk mencapai kemajuan dalam bidang pendidikan.
Perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan menurut peserta didik sekolah dasar tidak hanya mampu menguasai bahasa Indonesia melainkan juga dituntut untuk belajar mengembangkan kemampuan berbahasa asing dalam hal ini adalah Bahasa Inggris yang sudah mulai diajarkan melalui kurikulum 2013. Dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia yang paling dominan adalah melalui proses belajar mengajar .

Menurut Sadiman (1993:6) proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi. Proses komunikasi yaitu proses menyampaikan pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu kepada penerima pesan, pesan-pesan tersebut berupa isi ajaran dan didikan yang ada di kurikulum dituangkan oleh pendidik atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi visual maupun verbal. Pada hakikatnya pada proses belajar mengajar merupakan sebuah sistem, yang didalamnya memiliki berbagai komponen yang saling bekerja sama dan terpadu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Komponen-komponen tersebut adalah tujuan pengajaran, pendidik dan peserta didik, bahan pelajaran, metode dan strategi belajar mengajar, alat atau media, sumber pelajaran dan evaluasi.

Media pembelajaran merupakan wahana dan penyampaian informasi atau pesan pembelajaran pada peserta didik. Dengan adanya media pada proses belajar mengajar, diharapkan dapat membantu pendidik dalam meningkatkan prestasi belajar pada peserta didik. Oleh karena itu, pendidik hendaknya menghadirkan media dalam setiap proses pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran. Menurut Hamalik (1984:12) menjelaskan bahwa media pendidikan adalah alat, metode dan teknik yang digunakan untuk lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.

Secara umum, media pendidikan mempunyai kegunaan untuk mengatasi berbagai hambatan, antara lain: hambatan komunikasi, keterbatasan ruang kelas, sikap peserta didik yang pasif, pengamatan peserta didik yang kurang seragam, sifat objek belajar yang kurang khusus sehingga tidak memungkinkan dipelajari tanpa media, tempat belajar yang terpencil dan sebagainya. Media pembelajaran setiap tahun selalu mengalami perkembangan, karena masing-masing media itu mempunyai kelemahan, berdasarkan penggunaannya perlu diadakan penemuan media baru dan pemanfaatan media yang telah diperbaharui. Karena peserta didik cepat merasakan kebosanan, saat menerima pelajaran, sebab dengan media yang kurang menarik akan bersifat verbalistik, maka diadakannya perbaikan media guna menunjang proses belajar mengajar .

Untuk mencapai tujuan kurikulum pembelajaran pada proses belajar mengajar maka perlu didukung media dan bahan ajar yang baik yaitu bahan ajar yang mampu menarik minat peserta didik, sesuai dengan zaman dan tidak menyimpang dari kurikulum. Penyajian materi pelajaran pada pokok bahasan dengan menggunakan VCD Pendidikan diharapkan menarik minat peserta didik, membangkitkan gairah peserta didik untuk mempelajari kembali materi yang disajikan melalui multi media (teks, citra, audio, video) materi yang disajikan dengan berbagai warna dan gambar yang sangat menarik dan sebagainya.

Selama ini proses pembelajaran pengenalan kosakata pada pokok bahasan animal untuk peserta didik MIN Bawu Batealit Jepara dengan menggunakan VCD The Adventure of Mouse Dear dilaksanakan kurang menarik peserta didik karena terlalu sulit kosakata yang disajikan, terlalu cepat dan tidak ada terjemahan kosakata tersebut, akibatnya peserta didik kurang bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik. Hal ini terbukti banyak peserta didik yang mengalami kesulitan atau mendapat hambatan dalam meningkatkan kemampuan pemahaman kosakata bahasa Inggris, Sehingga banyak di antara mereka yang belum mampu menangkap cerita yang disampaikan dalam VCD tersebut.

Agar peserta didik terhindar dari persoalan tersebut diatas maka penulis terdesak untuk memperbaharui media VCD The Adventure of Mouse Dear untuk bisa mengatasi masalah yang telah di hadapi peserta didik. Penggunaan metode dan strategi secara optimal didukung oleh media yang telah dikembangkan untuk membangkitkan motivasi peserta didik dalam belajar Bahasa Inggris. Dalam proses belajar mengajar menggunakan VCD The Adventure of Mouse Dear perlu dikembangkan untuk menjadikan efektif dalam pembelajaran.

Melalui media yang telah dikembangkan peserta didik dapat menggunakan secara optimal alat indera yang dimilikinya. Semakin banyak alat indera yang digunakan oleh peserta didik maka sesuatu yang dipelajari akan makin mudah diterima dan diingat, akhirnya media dapat memotivasi peserta didik untuk belajar lebih baik.



B. Permasalahan

Dari uraian di atas timbul suatu permasalahan yaitu:

1.   Bagaimana pembelajaran Bahasa Inggris pada tingkat dasar?

2.  Bagaimana pengembangan media audio visual dalam pembelajaran kosakata Bahasa Inggris?

3. Bagaimana aplikasi penggunaan media audio visual sebagai media pembelajaran bahasa Inggris?



C. Tujuan Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut :

1.   Untuk mengetahui pembelajaran Bahasa Inggris pada tingkat dasar.

2. Untuk mendapatkan gambaran tentang pengembangan media audio visual dalam pembelajaran kosakata Bahasa Inggris.

3. Untuk mengidentifikasi aplikasi penggunaan media audio visual sebagai media pembelajaran bahasa Inggris.



D. Manfaat Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Berdasarkan karya tulis ilmiah diatas, dapat diperoleh manfaat atau pentingnya pengembangan dan penelitian. Diantaranya adalah:

1.  Manfaat Teoritis; Hasil pengembangan dan penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, terutama yang berhubungan dengan Bahasa Inggris. Selain itu juga dapat memberi pemahaman psikologis terhadap para guru dan peserta didik khususnya pendidik-pendidik dalam upaya pemanfaatan media pembelajaran, khususnya media audio visual (video) dalam proses belajar mengajar Bahasa Inggris.

2. Manfaat Praktis; Untuk pengembang menambah pengetahuan dan berbagai sarana untuk menerapkan pengetahuan di bangku kuliah terhadap masalah yang nyata dan dihadapi oleh dunia pendidikan. Dan bagi lembaga pendidikan; Hasil pengembangan ini diharapkan dapat memberikan masukan pada pihak institusi pendidikan sebagai bahan pertimbangan dalam memacu belajar peserta didik. Serta dapat digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan pengetahuan serta bahan perbandingan bagi pembaca yang akan melakukan pengembangan, khususnya tentang pengembangan media pendidikan dalam kegiatan pembelajaran



II. PEMBAHASAN

A. Pembelajaran Bahasa Inggris di Tingkat Dasar

Bahasa Inggris adalah Bahasa asing yang dianggap penting diajarkan untuk tujuan penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya, serta pengembangan hubungan antar bangsa (Depdikbud, 1995:1).

Mata pelajaran Bahasa Inggris dapat diajarkan sejak Sekolah Dasar sampai pendidikan tinggi bilamana dianggap perlu oleh masyarakat di daerah yang bersangkutan dan didukung dengan adanya pendidik yang berkemampuan untuk mengajarkan mata pelajaran tersebut. Oleh karena itu, Bahasa Inggris tidak diwajibkan dilaksanakan oleh Sekolah Dasar melainkan diselenggarakan untuk muatan lokal.

Adapun pelaksanaan pelajaran Bahasa Inggris sebagai muatan lokal mulai diajarkan dari peserta didik kelas II. Muatan lokal berfungsi memberikan peluang untuk mengembangkan kemampuan peserta didik yang dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan. Dasar di maksudkan untuk memberikan kemampuan memahami keterangan lisan dan tertulis serta ungkapan sederhana.

   1. Pengertian

Bahasa Inggris adalah Bahasa Internasional yang perlu diajarkan untuk tujuan penyerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya serta pengembangan hubungan antar bangsa. Mata pelajaran Bahasa Inggris dapat diajarkan di Sekolah Dasar bilamana potensi wisata, penghasilan industri ekspor. Adapun pelaksanaan pengajarannya harus di dukung oleh pendidik yang berkemampuan untuk mengajarkan mata pelajaran tersebut. Oleh karena itu, Bahasa Inggris tidak wajib di laksanakan di sekolah Dasar melainkan diselenggarakan sebagai muatan lokal (Depdikbud, 1995:1).

   2. Fungsi

Mata pelajaran Bahasa Inggris berfungsi sebagai wahana pengembangan diri peserta didik dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya, sehingga pertumbuhan mereka tetap berkepribadian Indonesia. Muatan lokal Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran pilihan Sekolah Dasar mulai kelas II, III, IV, V dan kelas VI. Mata pelajaran tersebut berfungsi untuk menunjang pengembangan pariwisata, daerah penghasilan

    3. Tujuan

Muatan lokal Bahasa Inggris di Sekolah Dasar bertujuan agar peserta didik memiliki ketrampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis sederhana dalam Bahasa Inggris dengan penekanan pada ketrampilan komunikasi melalui topik yang dipilih kebutuhan lingkungan, antara lain industri, pariwisata, dan perindustrian

Mata Pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar diajarkan kepada peserta didik di harapkan peserta didik memiliki kemampuan (language competence) yang mencakup unsur-unsur tata bunyi, kosakata, tata bahasa, tata tulis dan tata budaya dan memiliki ketrampilan menggunakan (language performance) unsure - unsur tersebut di atas dalam bentuk yang sederhana.

Alokasi waktu muatan lokal Bahasa Inggris disediakan waktu 2 jam pelajaran setiap minggu (disediakan dengan ketentuan sekolah setempat). Pola pembinaan mata pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar di kembangkan dengan menekankan keterpaduan dan keterkaitan (Link and match) antara keluarga, sekolah dan masyarakat dengan memperhatikan faktor bakat, minat dan kemampuan peserta didik. Penilaian, tujuan penilaian adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta didik tertentu, jenis penilaian hasil belajar, sedang fungsi dari penilaian adalah sebagai umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar ada tiga cara dalam penilaiannya yaitu test tertulis, test lisan, dan test perbuatan. Sedangkan jenis penilaian terbagi atas penilaian satuan Bahasan (gabungan beberapa pokok bahasan), penilaian tengah semester dan penilaian akhir semester.

   4. Ruang lingkup

Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar mencakup ketrampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis sederhana dalam Bahasa Inggris penekanan pembelajaran pada ketrampilan berbicara mengenai ungkapan-ungkapan yang ada hubungannya dengan peserta didik di rumah, di sekolah dan masyarakat dalam rangka menunjang pariwisata dan perindustrian.

Adapun lingkup pembelajaran muatan lokal Bahasa Inggris di Sekolah Dasar meliputi ungkapan-ungkapan dan kalimat-kalimat sederhana mengenai: (1) Benda di sekitar anak, (2) lingkungan keluarga, (3) lingkungan Sekolah, (4) Lingkungan geografis, dan (5) komunikasi anak dengan lingkungan. Dari ruang lingkup tersebut, penyajian materi muatan lokal Bahasa Inggris meliputi elemen: Phonology (tata bunyi), vocabulary (kosakata), struktur (tata bahasa), culture (kebudayaan), literature (sastra), dan tanda baca (Depdikbud,1995: 3-4).

    5. Rambu-Rambu

Dalam pelaksanaan mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai kurikulum muatan lokal di gunakan pendekatan komunikatif, yaitu memberikan pengalaman langsung bagi peserta didik untuk menggunakan Bahasa Inggris sebagai alat komunikasi, memberikan bekal kemampuan dan ketrampilan dasar kepada peserta didik agar dapat berkomunikasi praktis memberikan bekal pengetahuan pada peserta didik untuk mengenal lingkungan yang lebih luas serta menghubungkan antar bangsa (Depdikbud,1995:4).

Pendidik diharapkan dapat menjadi model bagi peserta didik khususnya dalam ucapan dan lafal Bahasa Inggris Peserta didik diberikan peserta didik kesempatan sebanyak mungkin untuk berlatih menggunakan Bahasa Inggris dengan ucapan dan lafal yang benar melalui tahapan. Sealin itu pendidik di harapkan dapat memilih sendiri wacana yang berhubungan dengan topik yang akan di sajikan. Panjang kalimat dalam tiap wacana berkisar antara 5 (lima) sampai dengan 10 (sepuluh) buah kalimat disesuaikan dalam tingkat kemampuan perkembangan belajar peserta didik.



B. Media video

    1. Pengertian Media Video

Video merupakan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam media video terdapat dua unsur yang saling bersatu yaitu audio dan visual. Adanya unsur audio memungkinkan peserta didik untuk dapat menerima pesan pembelajaran melalui pendengaran, sedangkan unsur visual memungkinkan penciptakan pesan belajar melalui bentuk visualisasi. Menurut Ronald Anderson (1994:99), media video adalah merupakan rangkaian gambar elektronis yang disertai oleh unsur suara audio juga mempunyai unsur gambar yang dituangkan melalui pita video (video tape).

Rangkaian gambar elektronis tersebut kemudian diputar dengan suatu alat yaitu video cassette recorder atau video player.

    2. Karakteristik media video

Menurut Ronald Anderson (1994:103-105) bahwa dalam media video terdapat kelebihan dan kekurangan, antara lain:

Kelebihan media video:

1.  Dapat digunakan untuk klasikal atau individual

2.  Dapat digunakan seketika.

3.  Digunakan secara berulang.

4.  Dapat menyajikan materi secara fisik tidak dapat bicara kedalam kelas.

5.  Dapat menyajikan objek yang bersifat bahaya

6.  Dapat menyajikan obyek secara detail

7.  Tidak memerlukan ruang gelap

8.  Dapat diperlambat dan dipercepat

9.  Menyajikan gambar dan suara

Kelemahan media video

1.  Sukar untuk dapat direvisi

2.  Relatif mahal

3.  Memerlukan keahlian khusus

3. Tujuan media video dalam pembelajaran

Ronald Anderson (1994:102) mengemukakan tentang beberapa tujuan dari pembelajaran menggunakan media video, antara lain:

a.  Untuk tujuan kognitif

1) Dapat mengembangkan mitra kognitif yang menyangkut kemampuan mengenal kembali dan kemampuan memberikan rangsangan gerak dan serasi.

2)  Dapat menunjukkan serangkaian gambar diam tanpa suara sebagai media foto dan film bingkai meskipun kurang ekonomis.

3)  Melalui video dapat pula diajarkan pengetahuan tentang hukum-hukum dan prinsip-prinsip tertentu.

4) Video dapat digunakan untuk menunjukan contoh dan cara bersikap atau berbuat dalam suatu penampilan, khususnya yang menyangkut interaksi peserta didik.

b. Untuk tujuan afektif

    1)  Video merupakan media yang baik sekali untuk menyampaikan informasi dalam aspek afektif.

   2) Dapat menggunakan efek dan teknik, video dapat menjadi media yang sangat baik dalam mempengaruhi sikap dan emosi.

c. Untuk tujuan psikomotorik

1)  Video merupakan media yang tepat untuk memperlihatkan contoh ketrampilan yang menyangkut gerak. Dengan alat ini dijelaskan, baik dengan cara memperlambat maupun mempercepat gerakan yang ditampilkan.

2) Melalui video peserta didik dapat langsung mendapat umpan balik secara visual terhadap kemampuan mereka sehingga mampu mencoba ketrampilan yang menyangkut gerakan tadi.

    4. Evaluasi media video

Menurut Sujana (2000:111), evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Sedangkan menurut Joesmani (1998:19) mengemukakan evaluasi adalah suatu proses menentukan sampai seberapa jauh kemampuan yang dapat dicapai oleh peserta didik dalam proses pembelajaran.

Evaluasi media pendidikan merupakan kegiatan yang patut dilakukan, baik sebelum maupun sesudah digunakan media pendidikan. Evaluasi ini dapat dilakukan oleh pendidik kelas atau yang dilakukan oleh lembaga media pendidikan. Kalau kita mempelajari oleh media pendidikan kita akan berhadapan dengan masalah tujuan penggunaan media, nilai-nilainya, cara memilih, dan menggunakannya di dalam proses belajar. Menurut Hamalik (1994:229) Bentuk evaluasi media meliputi :

1. Evaluasi Bahan bacaan

2. Evaluasi Papan tulis

3. Evaluasi Papan bulletin (bulletin board)

4. Evaluasi Gambar

5. Evaluasi Film strip

6. Evaluasi Film/video

7. Evaluasi Tape recorder

8. Evaluasi Alat audio

9. Evaluasi Community study

Berikut ini disajikan contoh format evaluasi media video:

I. Judul Film/video …………………. preview oleh ………………….......

1.  Harga……………………………………………………………...

2.  Harga Pembelian…………………………………………………

3.  Diproduksi oleh …………………… subject ……………………

4.  Collaboration…………………………………………………..…

II. Menggunakan Data.

1.  Apakah Film itu autentik?................... Komentar………………

1.  Digunakan pada tempat………………………………………

2. Apakah pengalaman yang diberikan oleh film itu tidak dapat diperoleh melalui alat–alat tradisional yang telah ada?..................

4.  Jelaskan sumbangan-sumbangan yang mungkin diberikan

5.  Kurikulum atau unit belajar yang menggunakan saran-saran

6. Warna yang tidak digunakan ………… digunakan ……..untuk memberi makna terhadap hal seperti………….

III. Format

1.  Fotografi : sempurna, baik, komentar ………….

2.  Suara: sempurna, baik, kurang, komentar ………..

3.  Kesatuan bahan-bahan yang dipelajari meliputi ……..

4. Warna: Superflous, sesuai dengan keinginan yang diperlukan guna menghadapi makna. Komentar ………………..

IV. Deskriptif film /video………..

V. General Film rating; Sempurna, baik, kurang

VI. Recommended for future use: ya……Tidak……… Alasan…………



C. Pengembangan Media Audio Visual (Video) dalam Pembelajaran Kosakata Bahasa Inggris

     1. Kawasan pengembangan

Menurut Barbara dan Rita C (1994: 39) pengembangan adalah proses penerjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik. Kawasan pengembangan mencakup banyak variasi teknologi yang digunakan dalam pembelajaran.

Meskipun demikian, tidak berarti baru teori dan praktek yang berhubungan dengan belajar dan desain. Tidak pula kawasan tersebut berfungsi bebas dengan dari penilaian, Pengelolaan atau pemanfaatan melainkan timbul karena dorongan fungsi dan desain dan harus tanggap terdapat tuntutan formatif dan praktek pemanfaatan serta kebutuhan pengelolaan yang tidak hanya terdiri dari perangkat keras pembelajaran, melainkan juga perangkat lunaknya, bahan-bahan visual dan audio, serta program atau paket yang merupakan paduan berbagai bagian.

Di dalam kawasan pengembangan terdapat keterkaitan yang kompleks antara teknologi dan teori yang mendorong baik desain pesan maupun strategi pembelajaran. Pada dasarnya kawasan pengembangan dapat dijelaskan dengan adanya:

a.  Pesan yang didorong oleh isi.

b.  Strategi pembelajaran yang di dorong oleh teori.

c. Manifestasi fisik dari teknologi perangkat keras, perangkat lunak dan bahan pembelajaran.

Kawasan pengembangan dapat diorganisasikan dalam empat kategori: teknologi cetak (yang menyediakan landasan untuk kategori yang lain), teknologi audio visual, teknologi berbasis komputer, dan teknologi terpadu.

    2. Prosedur Pengembangan

Prosedur pengembangan adalah langkah-langkah prosedural yang harus ditempuh oleh pengembang dalam membentuk produk, pengembang tinggal mengikuti langkah-langkah seperti yang terlihat dalam model pengembangan. Prosedur pengembangan berguna untuk lebih memperjelas tentang bagaimana langkah prosedural yang harus dilalui agar sampai ke produk yang dispesifikasikan.

Prosedur pengembangan media audio visual VCD, berdasarkan model pengembangan Haryono (1987 ; 5), sebagai berikut :

1. Tahap pembuatan rancangan

Dalam tahapan pembuatan rancangan ini, dilakukan perancangan terhadap isi atau garis besar isi program media yang terdiri dari tiga komponen, yaitu :

a. Penetapan Topik;

Topik disebut juga pokok bahasan. Pokok bahasan menjadi dasar pengajaran dan menggambarkan ruang lingkupnya. Topik ditentukan berdasarkan kurikulum yang digunakan pendidik dalam mengajar. Untuk media audio visual telah dibakukan dalam silabus Pembelajaran Bahasa Inggris dengan media audio visual VCD.

Adapun topik yang telah ditentukan dalam silabus media audio visual VCD sebagai berikut :

1)  Konsep, peranan dan lingkup media audio visual VCD

2)  Klasifikasi dan karakteristik media audio visual VCD

3)  Produksi media audio visual VCD

4)  Bentuk penyajian dan klasifikasi media audio visual VCD

Agar topik sesuai dengan kurikulum dan dibutuhkan peserta didik maka dilakukan analisis kebutuhan belajar peserta didik. Analisis kebutuhan belajar peserta didik dalam pengembangan media audio visual VCD dalam Proses belajar mengajar masih cenderung menerapkan cara-cara konvensional. Metode ceramah masih menjadi satu-satunya metode yang sering digunakan untuk menyampaikan pesan kepada peserta didik.

Fenomena pembelajaran klasikal yang terjadi pada Madrasah Ibtidaiyah tersebut membawa dampak ikutan dan kendala bagi pendidik, khususnya pendidik Bahasa Inggris. Salah satu kendala yang sering terjadi adalah distorse atau noise. Selain itu ada kendala lain seperti keterbatasan fisik dan tingkat interpretasi peserta didik terhadap pesan yang disampaikan pendidik yang tidak sama satu sama lain.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka seorang pendidik memerlukan kehadiran media untuk mengatasi berbagai hambatan yang dijumpai di kelas. Media-media tersebut banyak sekali macamnya. Salah satu media yang pengembang tawarkan adalah media audio visual VCD. Sedangkan mata pelajaran yang hendak diatasi kendalanya agar mudah dalam memahami pelajaran kosa kata Bahasa Inggris, sehingga peserta didik akan lebih tertarik dan mudah menerjemahkan arti kosakata tersebut. Selama ini sering kali pendidik mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang efektif untuk mata pelajaran Bahasa Inggris.

Alasan penerapan dan penggunaan media audio visual VCD ini untuk meminimalisasi distorsi karena media audio visual ini mudah penggunaannya: media audio visual VCD ini mampu menarik perhatian peserta didik dan mampu merangsang peserta didik untuk belajar serta menarik minat peserta didik terhadap mata pelajaran Bahasa Inggris, sehingga pesan yang disampaikan dapat ditangkap dengan baik.

b. Merumuskan Tujuan Instruksional

Tujuan instruksional dirumuskan setelah topik ditentukan. Dalam tujuan instruksional disebutkan kemampuan, pengetahuan dan sikap yang diharapkan dimiliki oleh sasaran didik setelah berperan serta dalam proses belajar dengan media. Tujuan instruksional ada dua yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus. Perumusan tujuan instruksional dalam pengembangan Media Audio Visual VCD untuk pembelajaran kosakata Bahasa Inggris ini dilakukan setelah topik ditentukan dengan menggunakan cerita yang operasional dan berorientasi pada sasaran didik. Selain itu menggambarkan kemampuan, ketrampilan atau sikap yang harus dipunyai peserta didik setelah mengikuti kegiatan instruksional. Tidak kalah penting sifat-sifat sasaran didik tetap menjadi bahan pertimbangan.

Pemanfaatan media yang baik serta memadai, diharapkan dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minatnya, sehingga proses pembelajaran berjalan dengan baik dan menggairahkan. Media-media tersebut dari tahun ke tahun selalu mengalami perkembangan, karena masing-masing media itu mempunyai kelemahan. Oleh karena itu perlu diadakan penemuan media baru dan pemanfaatan media yang baru. Karena peserta didik cepat merasakan kebosanan, saat menerima kuliah. Sebab dengan media yang kurang menarik akan bersifat verbalistik. Maka diadakan perbaikan media guna menunjang proses belajar mengajar. Pengenalan media audio visual VCD dalam pembelajaran kosa kata Bahasa Inggris dapat menarik perhatian peserta didik serta lebih komunikatif dan diharapkan dapat mengatasi masalah kondisi belajar. Begitu juga penggunaan media audio visual VCD sebagai sumber belajar, maka kegiatan belajar mengajar akan lebih menarik serta mempermudah pemahaman dan akhirnya keberhasilan proses pembelajaran.

Dengan menggunakan media audio visual dalam pembelajaran kosa kata Bahasa Inggris diharapkan menarik perhatian audiens serta lebih komunikatif dan diharapkan dapat mengatasi kondisi belajar. Sinopsis dalam pengembangan media audio visual ini sebagai berikut :

Media audio visual VCD berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan dan pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam simbol-simbol komunikasi visual (Sadiman, dkk, 1993: 28).

Cerita yang ditampilkan dalam media audio visual VCD ini harus dengan benar artinya agar proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisien. Secara khusus media audio visual VCD berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan sebuah cerita yang dapat membantu dalam pembelajaran kosa kata Bahasa Inggris. Selain Menarik media audio visual yang menampilkan cerita berbahasa Inggris dengan terjemahan akan lebih mudah dipahami peserta didik. Ragam media audio visual, meliputi film VCD, kaset, dan lain sebagainya.

 2. Tahap Produksi Program

Memproduksi program adalah mengubah naskah menjadi program. Dalam pengembangan media audio visual VCD ini memproduksi program berarti mengubah naskah menjadi program dalam bentuk VCD. Pada pembuatan produksi media audio visual ini tidak lupa direview oleh para ahli baik itu ahli media/design dan ahli isi atau grafis. Setelah naskah diubah dalam media audio visual VCD pengembang minta pertimbangan dari para ahli media tentang produk yang dibuatnya, tentang saran dan kritiknya. Sehingga sebelum diujicobakan telah direview, karena tugas reviewer mengkaji kelemahan-kelemahan yang masih ada dan memberikan saran-sara perbaikan. Bila produk masih ada kelemahan, pengembang merevisi atau memperbaiki.

Metode yang dipakai untuk mereview adalah wawancara. Jadi wawancara disini hanya untuk mengkaji kelemahan-kelemahan yang masih ada dan saran-saran perbaikan dalam produk media audio visual VCD.

 3. Tahap Uji Coba

Tahap uji coba perlu dilakukan karena hasil produksi sesuatu program media yang oleh pembuatnya dianggap telah baik sekali, belum tentu mampu merangsang proses belajar sasaran didik, terkadang sulit dipahami sehingga program tersebut tidak dapat dikatakan baik. Maksud diadakan uji coba untuk melihat efektifitas program tersebut bila digunakan oleh sasaran didik yang dituju. Dalam uji coba media VCD ini melalui beberapa tahapan yaitu :

a.  Menentukan tujuan diadakan uji coba; Dalam pengembangan media audio visual ini tujuan uji coba adalah untuk melihat efektivitas program atau produk yang dibuat dilihat dari sudut menarik tidaknya program atau produk media audio visual tersebut.

b.  Membuat alat uji coba; Pembuatan alat uji coba perlu dilakukan supaya data-data yang berkaitan dengan efesiensi dan efektivitas program dapat dikumpulkan melalui alat uji coba. Alat uji coba dibuat sebelum pengembang melakukan uji coba.

Dalam pengembangan media audio visual ini alat uji coba berupa angket terbuka (check list). Keterangan tentang angket dan subjek coba dijelaskan pada bagian uji coba produk.

4. Tahap Revisi

Apabila dirasa perlu untuk revisi, bagian mana yang dianggap perlu kurang tepat ? apakah pada bagian uji cobanya, pembuatan rancangannya, penulisan naskahnya atau produksi programnya. Jika dirasa tidak perlu revisi, maka pengembangan produk dinyatakan selesai.

5. Uji Coba Produk

Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat dipergunakan sebagai landasan untuk menetapkan tingkat keefektivitasan, efesiensi dan daya tarik dari produk yang dihasilkan.



D. Aplikasi Penggunaan Media Audio Visual (Video) sebagai Media Pembelajaran

Bagi seorang pendidik, mengajar bukanlah merupakan suatu permasalahan atau tantangan yang memberatkan, tetapi mengajar merupakan kegiatan yang menyenangkan. Akan tetapi dihadapkan dengan pertanyaan bagaimana mengajar yang baik sehingga berhasil, barulah akan merupakan suatu tantangan tersendiri. Memang mengajar itu nampaknya sederhana, namun apabila kita kaji lebih jauh lagi, banyak aspek yang harus di perhatikan.

Penguasaan materi, didaktik metodik, otak peserta didik, situasi lingkungan sekolah dan lain lain. Lebih lagi bila dikaitkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pemakaian berbagai peralatan canggih dalam proses pembelajaran menuntut perhatian khusus para pendidik. Akhir - akhir ini penggunaan peralatan elektronik seperti radio, radio kaset, OHP, Film, Video serta komputer sebagai akibat dari kemajuaan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi telah mulai masuk dalam dunia pendidikan. Hal ini menuntut adanya perubahan sikap dari seorang pendidik yang biasa mengajar dengan system konvensional atau tradisional kearah mengajar yang disesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Oleh karena itu, berikut ini akan diuraikan bagaimana seorang pendidik menggunakan program kaset video secara integral dalam proses pembelajaran sebagai media pendidikan.

    1. Persiapan

Kegiatan persiapan dari seorang pendidik yang akan mengajar dengan menggunakan program kaset video antara lain:

1.  Membuat satuan pelajaran sebagaimana biasa dengan mencantumkan media video

2. Mempelajari terlebih dahulu program yang akan disajikan pada peserta didik, agar lebih diketahui secara pasti materi apa yang akan disajikan sehingga apabila terdapat kekurangan dapat diketahui terlebih dahulu.

3. Mempelajari terlebih dahulu kata-kata atau istilah yang perlu disajikan kepada peserta didik sebelum menyaksikan program.

4. Akan lebih baik lagi dilakukaa priview bersama dua atau tiga orang peserta didik. Peserta didik yang ikut menyaksikan preview diberi kesempatan agar mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan program ini. Pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab pada saat itu juga akan tetapi merupakan bahan pertimbangan bagi pendidik.

5. Menyiapkan peralatan yang akan dipergunakan agar dalam pelaksanaannya nanti tidak terburu-buru dan tidak perlu mencari-cari lagi.

     2. Pelaksanaan

Beberapa hal yang perlu di ketahui dalam mengajar dengan media video antara lain:

a. Ruang penyaji

Ruangan yang di pergunakan untuk pelaksanaan proses pembelajaran dapat berupa ruang kelas, aula, lap atau ruang khusus untuk penyajian program-program media pendidikan. Ruangan ini harus memiliki aliran listrik dan dapat digelarkan atau setengah gelap.

b. Peralatan yang dipergunakan

Mengajar dengan menggunakan media video memerlukan peralatan:

1)  Video tape recorder (VTR).

2)  Televisi monitor atau TV monitor.

3)  Kabel-kabel listrik dan kabel monitor.

c. Tata letak peralatan

Meletakkan TV monitor di dalam ruang kelas harus di tempat yang strategis sehingga peserta didik yang ada di dalam ruang tersebut dapat melihat dan mendengarkan program dengan jelas. Untuk itu ada beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

1)  Letakkan TV monitor disebelah kiri atau kanan papan tulis. Usahakan agak tinggi agar pandangan peserta didik yang ada di bagian depan tidak terganggu. Kegunaan meletakkan TV monitor disebelah kiri atau kanan papan tulis ini, apabila akan menggunakan papan tulis tidak terganggu TV monitor.

2)  Meletakkan TV monitor dapat juga dibagian tengah di depan kelas. Cara ini mempunyai kelemahan yaitu bila kita hendak mendengarkan papan tulis tentunya akan terhalang oleh TV monitor tersebut.

d. Langkah-langkah Pelaksanaan.

Langkah pertama, yakinkan bahwa semua peralatan sudah lengkap dan siap untuk disiapkan. Jelaskan pada peserta didik bahwa kita akan menyaksikan program video. Jelaskan lebih dahulu tentang tujuan yang ingin dicapai. Jelaskan lebih dahulu kata - kata atau istilah yang dianggap sulit dan harus diketahui oleh peserta didik sebelum menyaksikan program video yang akan disajikan. Jelaskan pula apa yang harus dilakukan peserta didik selama menyaksikan program video. Apabila peralatan, program, pendidik dan peserta didik siap penyajian program video dapat segera dimulai. Apabila dipandang perlu untuk memberi penjelasan tambahan sewaktu program sedang disajikan, maka program tersebut dapat dihentikan untuk sementara. dalam menghentikan program harus dipilih saat yang paling tepat yaitu pada bagian apa pada program tersebut dapat dihentikan sehingga tidak mengganggu keseimbangan penyajian program.

e. Kegiatan lanjutan.

Menurut Hamalik (1994:124), kegiatan lanjutan perlu dilakukan dalam bentuk diskusi kelas, dengan tujuan :

1)      Untuk menilai program

2)      Menjelaskan hal yang kurang atau belum dimengerti oleh peserta didik.

3)      Untuk membuat rangkuman

4)      Membantu mendiskriminasikan persoalan.



III. PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1.  Pengembangan dengan media VCD diketahui bahwa peserta didik lebih mudah untuk memahami materi atau informasi yang disampaikan oleh pendidik, apabila dibandingkan dengan penggunaan media VCD sebelumnya. Artinya tujuan pembelajaran dapat tercapai secara lebih efektif untuk materi bahasa Inggris.

2. Pengembangan media VCD pembelajaran Bahasa Inggris lebih efektif apabila dibandingkan sebelum adanya pengembangan. Dengan adanya media VCD hasil pengembangan pendidik lebih mudah untuk mencapai tujuan, lebih efektif dan efisien dalam penyampaian materi pembelajaran Bahasa Inggris karena dalam satu media pendidik dapat mengerjakan listening, writing dan reading secara bersamaan.



B. Implikasi

Dari uraian yang telah dikemukakan, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai bentuk implikasi, yaitu:

1.  Untuk institusi pendidikan khususnya balai diklat, penggunaan media VCD lebih efektif dan dapat membantu peserta didik dalam memahami materi atau informasi yang disampaikan. Untuk itu hendaknya institusi pendidikan dapat mengusahakan fasilitas media VCD meskipun dengan biaya yang sedikit lebih mahal, akan tetapi tujuan proses belajar mengajar akan tercapai secara efektif.

2. Untuk Peserta didik; Dengan hasil pengembangan media VCD untuk pembelajaran bahasa Inggris hendaknya peserta didik dapat lebih memahami tujuan dari pembelajaran dan bukan hanya sekedar memahami gambar yang ditayangkan.

3.  Untuk pembaca dan penulis; hendaknya dapat mengembangkan media pembelajaran dengan menggunakan metode lain yang dapat menambah variasi media pembelajaran dan menambah perbendaharaan bahan-bahan ajar dalam proses pembelajaran bahasa Inggris di tingkat dasar.



 

DAFTAR PUSTAKA



AECT. Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta : CV Rajawali, 1996.

Anderson, Ronald.H. Pemilihan dan Pengembangan media Video Pembelajaran. Jakarta : Grafindo Pers, 1994.

Borg. Walter R. and Meredith Damien Gall. Educational Research. New York : Longman, 1989.

Daryanto. Media visual untuk Pengajaran Teknik. Bandung : Tarsito, 1993.

Depdikbud. GBPP Muatan Lokal SD Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Semarang : Depdikbud, 1995.

Depdikbud. Wajib Belajar 9 Tahun. Jakarta : CV. Duta Nasindo, 1994.

Hamalik, Umar. Media Pendidikan. Bandung : Citra Aditya Bakti, 1994.

Haryono, Anung. Pengembangan Program Media Instruksional. Semarang : Depdikbud, Pustekom dan IKIP Semarang, 1997.

Haryono. Pengembangan Model Pembelajaran. Semarang : UNNES Press, t.th.

Huda, Nuril. Peningkatan Penguasaan Bahasa Inggris Untuk menghadapi. Globalisasi. Malang : IKIP Malang Publisher, 1999.

Joesmani. Pengukuran dan Evaluasi dalam Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud, 1988.

Moleong, Lexy J. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja

Nana Soejana, Ahmad Rifa’i. Media Pengajaran. Bandung : Cv. Sinar Baru, 1997.

Poerwadarminta. Kamus Lengkap Bahasa Inggris-Indonesia. Bandung: Hasta, 1980.

Sadiman, Arief. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, Dan Pemanfaatan. Jakarta : Grafindo Pers, 1993.

Seels, Barbara B dan Richey, Rita.C. Instrucional Tecnology. Wasington : AECT, 1994.

Slamet. Psikologi Pendidikan. Bandung : Rosdakarya, 1987.

Soeharto. Desain Instruksional : Sebuah Pendekatan Praktis untuk Pendidikan teknologi dan Kejuruan. Jakarta :Dekdikbud, 1988.

Soejito. Kosakata Bahasa Indonesia. Jakarta :Gramedia, 1992.

Sudjana, N.  Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sumber

TIM Pengembang MKDK IKIP Semarang. Administrasi Pendidikan. Semarang : IKIP Semarang Press, 1996.

TIM Pengembangan PGSD. Strategi Belajar Mengajar II. Jakarta : Depdikbud, 1998.

Wahyudin. Metode Penelitian Dengan Menggunakan SPSS For Windows 10.0 . Semarang : UNNES Press, 2002.


Post a Comment