Sunday, January 11, 2015

PENGARUH ETOS KERJA GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA DI MAN BULUKUMBA

Abstrak:
Etos kerja guru MAN Bulukumba menunjukkan bahwa dari 60 siswa yang dijadikan responden menyatakan bahwa 57 siswa atau 95 persen menyatakan etos kerja guru berada pada kategori sedang, dan hanya 3 orang siswa atau 5 persen yang menyatakan etos kerja guru berada pada kategori tinggi. Dari respon responden tersebut dapat disimpulkan bahwa etos kerja guru MAN Bulukumba berada pada klasifikasi Sedang. Nilai rata-rata siswa MAN Bulukumba adalah 77,18 yang berada pada kategori Cukup Baik. Sementara itu, dalam klasifikasnya, tingkat prestasi belajar siswa MAN Bulukumba menunjukkan bahwa 31,67 persen berada pada klasifikasi Tinggi, 51,67 persen berada pada klasifikasi Sedang dan 16,66 persen berada pada klasifikasi Rendah. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki prestasi belajar yang Sedang. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa rxy atau ro yaitu 0,991 nilainya lebih besar dari r tabel, baik pada taraf signifikansi 5% maupun 1% Dengan demikian hipotesa nol (Ho) ditolak, sedangkan hipotesa alternatif (Ha) diterima. Ini berarti bahwa terdapat pengaruh/korelasi yang positif dan signifikan antara etos kerja guru dengan prestasi belajar siswa di MAN Bulukumba.

Kata Kunci: Etos Kerja Guru, Prestasi Belajar Siswa

I. PENDAHULUAN
         A. Latar Belakang Masalah
Islam sebagai dienul haq merupakan minhajul hayat yang syamil  bagi manusia. Konsepsi yang demikian itu mengandung pengertian bahwa Islam sebagai dien yang sempurna  tidak memisahkan atau memilahkan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Keduanya merupakan persoalan yang esensial yang harus  dipahami oleh setiap manusia, yang apabila ia memisahkan urusan tersebut, maka yang akan terjadi adalah penyesalan. Untuk itu, Islam adalah ladang untuk memasuki akhirat.(QS. Ali Imran/3: 83)
Ini membuktikan bahwa Islam bukan hanya di masjid beribadah melulu yang akhirnya mengabaikan urusan dunia, tetapi juga bukan hanya mengejar dunia hingga akhirat terlupakan begitu saja. Tetapi Islam mengaitkan keduanya dalam ikatan  yang kuat. Barangsiapa yang memisahkan, berarti ia telah memutuskan tali hubungan antara hamba dengan khaliknya.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa Islam mewajibkan kepada umatnya untuk mengolah sumber daya, bagi sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang telah dikaruniakan Allah kepada manusia untuk diolah demi kesejahteraan umat manusia itu sendiri. Hal itu dapat terwujud dengan  kerja keras dan etos kerja yang tinggi dari setiap mukmin  untuk menggali potensi, baik potensi diri maupun alam tersebut dan untuk memakmurkannya. Oleh karena itu, Islam menyeru kepada umatnya supaya bekerja keras dan melarang (membenci) kepadanya yang senantiasa bermalas-malasan dan berpangku tangan. (Muslim, 1995: 1224) 

Pendidikan selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia. Keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada unsur manusianya. Paling menentukan keberhasilan pendidikan adalah pelaksanaannya yaitu para pendidik khususnya guru. Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Sebagai pendidik secara langsung berupaya mempengaruhi, membina dan mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi. (Sudjana, 1996: 2).
Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban:
   1. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta   menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
  2. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
   3.  Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras dan kondisi fisik tertentu. Atau latar belakang keluarga, status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran
   4. Menjunjung tinggi perundang-undangan, hukum dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika dan
   5. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. (UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen).
Muchtar Buchari (2004: 73) mengatakan bahwa upaya-upaya untuk meningkatkan mutu akademik suatu lembaga ilmiah akan selalu terjalin dengan usaha-usaha untuk meningkatkan semangat profesionalisme, sedangkan upaya untuk meningkatkan semangat profesionalisme sangat dipengaruhi upaya peningkatan etos kerja.
Prestasi belajar merupakan sasaran dan tujuan yang selalu diharapkan baik siswa maupun guru. Sebab tolak ukur keberhasilan guru bukan penyelesaian dari suatu materi akan tetapi kemampuan untuk memahami materi tersebut, di samping hasil akhir dari proses belajar yaitu hasil belajar dengan baik maka suatu pertanda keberhasilan guru dalam menjalankan tugasnya. Bila hal tersebut dapat disadari semua guru, maka pencapaian prestasi belajar dapat diperoleh dengan maksimal. Sebab profesional guru yang didasari oleh etos kerja merupakan salah satu jalan untuk dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk dapat berubah dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.
Pada MAN Bulukumba etos kerja guru dalam pengelolaan proses pembelajaran perlu ditingkatkan. Hal ini diindikasikan karena masih adanya guru yang tidak mempersiapkan alat-alat perencanaan pengajaran seperti program tahunan dan semester, analisis mata pelajaran, program satuan pengajaran dan program rencana pengajaran, dan proses pengajaran yang terencana, rendahnya etos kerja guru dalam pengelolaan proses pembelajaran ini menyebabkan prestasi belajar siswa juga tergolong rendah, hal ini dapat dilihat melalui prestasi siswa pada setiap semesternya.
      Peneliti menganggap bahwa etos kerja guru sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pendidik, sebab tanpa etos kerja yang tinggi, mustahil tujuan pendidikan yang telah dikemukakan sebelumnya akan tercapai. Karena itu, dalam kaitannya dengan masalah prestasi belajar siswa maka diperlukan adanya etos kerja guru agar dapat tercapai output pendidikan yang maksimal. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti meneliti bagaimana etos kerja guru dan pengaruhnya terhadap prestasi siswa di MAN Bulukumba.

B. Rumusan Masalah
      Permasalahan dalam penelitian ini adalah:
   1. Bagaimana etos kerja guru MAN Bulukumba ?
   2. Bagaimana prestasi belajar siswa MAN Bulukumba ?
   3. Apakah ada pengaruh etos kerja guru terhadap prestasi belajar siswa MAN Bulukumba ?

C. Hipotesis
Sebagai jawaban sementara untuk mengarahkan kepada tujuan pembahasan, maka peneliti mengemukakan hipotesis sebagai berikut:
             H1   : Terdapat pengaruh etos kerja guru terhadap prestasi belajar siswa MAN Bulukumba
             H0   : Tidak terdapat pengaruh etos kerja guru terhadap prestasi belajar siswa MAN 
                      Bulukumba

F. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
  1. Tujuan penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya, maka ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini antara lain, sebagai berikut:
    a. Untuk mengetahui etos kerja guru di MAN Bulukumba
    b. Untuk mendapatkan gambaran tentang prestasi belajar siswa di MAN Bulukumba.
    c. Untuk mengkaji tentang pengaruh etos kerja guru terhadap prestasi belajar siswa MAN Bulukumba.
  1. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan ilmiah
Sebagai sebuah karya ilmiah tulisan ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan khususnya mengenai etos kerja guru MAN Bulukumba dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa di sekolah. Referensi ini diharapkan dapat menjadi sumber bacaan bagi para pelaku pendidikan, stakeholder, dan pemerhati pendidikan, baik dari masyarakat maupun pemerintah tentang pentingnya upaya meningkatkan etos kerja guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
b. Kegunaan Praktis
Secara praktis tulisan ini diharapkan dapat memberi manfaat dan kontribusi dalam pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di sekolah pada umumnya dan pada khususnya MAN Bulukumba khususnya pada aspek peningkatan etos kerja guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum tentang Etos Kerja
    1. Pengertian Etos Kerja
       “etos” berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang maknanya “watak atau karakter”. “Etos kerja dapat diartikan sebagai sikap dan semangat yang ada pada individu atau kelompok. Etos kerja menyangkut masalah mentalitas orang, kelompok atau bangsa. (Hasan, 2005: 236) Dari kata etos ini, dikenal pula kata etika, etiket yang hampir mendekati pada pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk (moral) sehingga dalam etos tersebut terkandung gairah atau semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal, lebih baik dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin.(Tasmara, 2002: 15) Berarti sifat karakter seorang guru yang mencakup pandangan, sikap dan penilaian guru tersebut terhadap makna kerja.
        Istilah “kerja” dalam Kamus Bahasa Indonesia diartikan sebagai kegiatan melakukan sesuatu. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 428). Sedangkan menurut M. Quraish Shihab (2002: 222), kerja adalah sebuah aktivitas yang menggunakan daya yang dianugerahkan Allah swt., Menurutnya; manusia secara garis besar dianugerahi empat daya pokok. Pertama, daya fisik yang menghasilkan kegiatan fisik dan keterampilan. Kedua, daya fikir yang mendorong pemiliknya berfikir dan menghasilkan ilmu pengetahuan. Ketiga, daya kalbu yang menjadikan manusia mampu berkhayal, mengekspresikan keindahan, beriman dan merasa serta berhubungan dengan Allah sang pencipta. Keempat, daya hidup yang menghasilkan semangat juang, kemampuan menghadapi tantangan dan menanggulangi kesulitan. Penggunaan salah satu daya tersebut itulah disebut kerja.
       Berdasarkan uraian tersebut, masalah etos kerja dapat diartikan sebagai cara kerja, sifat atau kebiasaan terhadap kerja, pandangan terhadap kerja yang dimiliki oleh seseorang, suatu kelompok atau suatu bangsa.
     2. Aspek-Aspek Etos Kerja
a. Semangat Kerja
Etos kerja yang diilhami atau didasari pada kekuatan iman, akan tampak dari sikap yang konsisten dan secara terus menerus berjuang tak mengenal lelah untuk mewujudkan segala impiannya menjadi kenyataan. Impian akan terwujud jika disertai dengan kerja keras dan diselimuti rasa cinta terhadap sesama manusia dan dilandasi oleh keyakinan yang tangguh. Ciri yang paling esensial dalam etos kerja seseorang senangtiasa mengupayakan, memupuk dan mengembangkan kekuatan dalam segala aspek, etos kerja yang berorientasi pada usaha yang konsisten mandiri dan selalu mencari jalan agar tujuannya bisa tercapai, tanpa harus mengorbankan keyakinannya merupakan etos kerja pribadi. (Tasmara, 1995: 25).
Etos kerja yang dimaksud adalah etos kerja yang dilandasi oleh visi dan kemudian menjadi satu sikap hidup manusia yang akan tampil sebagai manusia-manusia teladan dalam kehidupan yang diperlukan kerja, kerja diperlukan semangat yang tak pernah mengenal menyerah, pantang patah dan kalah sebelum bertanding, semangat kerja adalah kemauan, gairah untuk bekerja. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 805).
Semangat kerja merupakan variabel yang mengembangkan adanya perasaan-perasaan positif atau negatif terhadap seseorang atau terhadap situasi tertentu.
b. Motivasi (dorongan) Kerja
Motivasi sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru karena seseorang melakukan suatu kegiatan sebenarnya sudah ada motivasi dalam dirinya. Namun demikian keberadaan motivasi tersebut tidak disadari seringkali kita beranggapan bahwa seseorang yang sibuk adalah orang yang memiliki motivasi yang tinggi, padahal mungkin saja orang tersebut hanya melarikan diri dari kurangtenangan psikologinya. Sebaliknya sekelompok orang yang sedang berbincang-bincang seringkali kita anggap sebagai orang yang kurang atau tidak memiliki motivasi. Hal ini membuktikan bahwa kita sering menghubungkan motivasi hanya dengan tindakan nyata, olehnya itu untuk menyamakan persepsi, berikut ini akan diuraikan tentang pengertian motivasi.
Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan sesuatu tindakan dengan tujuan tertentu. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 593). Wahyudi (2003: 37) mengemukakan bahwa motivasi adalah proses pembentukan motif atau dorongan, baik yang timbul dari diri seseorang maupun berasal dari luar. Apabila seseorang mempunyai motivasi maka ia akan memperlihatkan minat mempunyai perhatian dan ingin ikut serta bekerja keras, serta memberikan waktu kepada usaha tersebut, dan terus bekerja sampai tugas terselesaikan.
Hasibuan (2005: 141) mendefenisikan bahwa motivasi adalah pemberdaya dan penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja afektif dan terintegrasi dengan segala daya upaya untuk mencapai tujuan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja (dorongan kerja) adalah suatu perubahan energi pada seseorang baik yang bersumber dari dalam atau alamiah maupun dari luar yang mampu mengarahkan, menopang, menggerakkan tingkah laku manusia dalam usaha mencapai tujuan tertentu.
c. Kesadaran Kerja
Kesadaran adalah keinsafan; keadaan mengerti, akan harga diri dan hal yang dirasakan atau dialami seseorang dan kerja adalah kegiatan melakukan sesuatu, kesadaran kerja adalah keinsafan seseorang melakukan sesuatu kegiatan untuk mempertahankan harga diri. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 765).
Setiap pekerjaan atau tugas yang dilakukan dengan penuh dengan perencanaan dan dinyatakan secara berkesinambungan dengan penuh antusiasme walaupun sedikit akan memberikan arti banyak. Etos kerja sangat menyadari bahwa perwujudan pribadi, harga diri dan wibawa sangat terletak pada kualitas sumber daya manusia. Dengan penuh kesadaran, ia menjadikan dirinya penuh arti. Dan sebagai gambaran atau refleksi dari rencananya akan tampaklah kesungguhannya dalam bekerja dan selalu berontak terhadap kebatilan karena dirinya ingin tampil sebagai bagian dari suatu pekerjaan
d. Moral Kerja
Moral adalah kondisi mental yang membuat orang berani, bersemangat, bergairah berdisiplin. Selanjutnya moral adalah baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 592).
Ciri-ciri yang mempunyai dan menghayati etos kerja akan tampak dalam sikap dan tingkah laku yang dilandaskan pada suatu keyakinan yang amat mendalam bahwa bekerja itu merupakan bentuk ibadah, suatu perintah dan panggilan Allah yang akan memuliakan dirinya, memanusiakan dirinya, sebagai bagian dari manusia pilihan.
e. Waktu Kerja
Waktu merupakan 1) Seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung 2) Saat yang tertentu melakukan sesuatu ; waktu kerja adalah kemampuan melakukan sesuatu dalam rangkaian saat tertentu. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 1006).
Dalam menjalankan tugas seorang selalu bergerak dengan taktis dan waspada karena mereka sadar bahwa hidup adalah menanggung resiko, salah satu menjadi tolak ukur dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab adalah waktu, karena pribadi seseorang yang memiliki tipikal sangat sadar akan waktu. Terasa dirinya didera dan diburu oleh sang waktu karena hanya dengan memanfaatkan dan menjadikan sebagai tolak ukur, maka hidupnya akan terarah. Betapa kegagalan manusia yang tidak menyadari betapa besarnya peranan waktu, sebagai aset Ilahiyah yang harus didayagunakan secara optimal. Bahkan, hanya dengan membuat target waktu perjalanan sukses atau kegagalan seseorang dapat diukur.
f. Keinginan Kerja
Manusia adalah makhluk yang paling mulia di muka bumi ini, status demikian hanya terlihat dalam nalarnya, kemampuan kognitifnya, serta berbagai ciri mental dalam intelektual lainnya yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya, tetapi yang lebih penting manusia mempunyai harkat dan martabat yang diharapkan diakui dan dihargai oleh orang lain salah satu perbedaan yang paling esensial antara manusia dengan binatang adalah tidak adanya cita-cita atau idealisme cita-cita melahirkan suatu keinginan dan kemudian diwujudkan dalam bentuk kerja nyata.
Cita-cita merupakan kerangka acuan bagi seseorang untuk melakukan tindakan yang terarah. Bahkan tingkah laku seseorang sangat ditentukan sejauh mana menghayati nilai cita-citanya. Dengan cita-cita maka langkah yang diayunkan lebih mantap karena ada arah ke mana harus pergi. Tanpa cita-cita seseorang tidak akan melaksanakan pekerjaannya dengan baik, yang pada akhirnya kurang memiliki etos kerja.
g. Kewajiban Kerja
Kewajiban kerja adalah tugas yang harus dilaksanakan dengan seksama. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 782). Guru dalam mendidik anak didik berkewajiban :
    1. Menyerahkan kepandaian, kecakapan dan pengalaman
    2. Kepribadian yang harmoni
    3. Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik
    4. Sebagai perantara dalam belajar
    5. Membawah anak didik kearah kedewasaan
    6. Sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat
    7. Memberi teladan (Djamarah, 2000: 43)
Dari pengertian tersebut nampak bahwa seorang guru memiliki tugas dan tanggungjawab yang cukup berat yang menjadi kewajiban untuk menyelesaikannya. Tugas dan tanggung jawab ini akan dapat terselesaikan apabila ditunjang oleh etos kerja yang tinggi.
h. Kerajinan Kerja
Kompleksitas manusia sebagai makhluk sering menampakkan dari pada kebutuhannya yang multifaset artinya tidak hanya terbatas pada kebutuhan yang bersifat materi, akan tetapi juga bersifat sosial, peningkatan harga diri, psikologis mental, intelektual, dan bahkan juga spiritual.
Sekelompok suku atau bangsa adalah pemalas sedangkan yang lain adalah rajin, pada dasarnya adalah mitos. Sebagaimana yang diutarakan bahwa etos kerja bukan suatu fenomena kebudayaan, melainkan suatu sosiologi yang eksistensinya terbentuk oleh produksi yang timbul sebagai akibat dari struktur ekonomi yang ada dalam masyarakat. (Salamun, 1995: 51)    

B. Tinjauan Umum tentang Prestasi Belajar Siswa
Istilah prestasi berasal bahasa Belanda, yaitu “pretitie” yang berarti sesuatu yang telah diciptakan atau hasil pekerjaan. Dalam ekonomi perhitungan yang dimaksudkan dengan prestasi adalah produk yang telah dicapai seseorang atau daya kerja seseorang dalam jangka waktu tertentu. (Slameto, 2000: 88) Dengan demikian, prestasi pada prinsipnya identik atau memiliki pengertian yang sama dengan kata hasil, maka prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar. Jadi prestasi belajar adalah perubahan baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik yang dialami seorang siswa setelah mengalami proses belajar.
Ada beberapa ahli memberikan batasan tentang prestasi. Halbeyb mengemukakan bahwa prestasi adalah hasil yang menyebabkan hati yang telah diperoleh dengan keuletan kerja. (Halbeyb, 1991: 113) Jadi pada dasarnya prestasi itu merupakan hasil yang telah diperbuat. Negoro mengunkapkan bahwa prestasi adalah segala pekerjaanyang berhasil karena adanya kemampuan, usaha dan kesempatan sehingga prestasi itu menunjukkan kecakapan manusia suatu bangsa. (Negoro, 1995: 120).
Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu ”prestatie”kemudian dalam bahasa Indonesia prestasi berarti hasil belajar.(Arifin, 1991: 2-3). Sedangkan belajar, salah satu pengertiannya ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam intraksi dengan lingkungannya. (Slameto, 2000: 2).
Hamalik (2002: 23) berpendapat bahwa belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as modification or strengthening of behavior through experiencing), menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan pengubahan kelakuan.
              Dengan demikian, prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil usaha belajar yang dicapai oleh seseorang, dalam hal ini siswa dalam keseluruhan aktifitas belajarnya. Sepanjang sejarah manusia selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuannya masing-masing, prestasi belajar terasa semakin penting untuk dipermasalahkan karena mempunyai beberapa fungsi utama, antara lain: 1) Prestasi belajar indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai oleh anak didik, dan 2) Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. (Arifin, 1991: 3)
Jika prestasi dikaitkan dengan belajar, maka dapat diartikan sebagai hasil belajar dicapai murid atau siswa dalam bidang studi tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai alat pengukur keberhasilan belajar seseorang murid. Dengan demikian, prestasi belajar dalam proses pendidikan adalah terjadinya perubahan atau peningkatan dalam belajar murid setelah mengikuti pengajaran yang dilakukan di sekolah atau madrasah. Perubahan dan peningkatan belajar murid diketahui setelah dilakukan tes menurut standar yang diakui, seperti halnya ujian semester.
Prestasi sebagai suatu hasil yang dapat dicapai oleh murid atau siswa dalam proses belajar merupakan aspek yang sangat penting dalam sistem pendidikan. Oleh karena itu, prestasi belajar murid dalam proses pengajaran harus senantiasa diperhatikan dan ditingkatkan. Hal ini penting karena prestasi belajar murid merupakan slah satu ukuran terhadap terwujudnya tujuan pengajaran atau pendidikan, yaitu terjadinya perubahan sikap, tingkah laku, pengetahuan dan keterampilan.

III. METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel
Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin hasil menghitung alat pengukur kuantitatif daripada karakteristik tertentu mengenai kumpulan obyek yang lengkap dan jelas ingin dipelajari sifat-sifatnya. Populasi juga dapat dikatakan keseluruhan obyek dalam sasaran penelitian. Dalam penelitian ini, populasinya adalah seluruh siswa MAN Bulukumba.
Dalam penelitian ini sampel diambil sebanyak 60 orang. Sampel ini diambil melalui teknik proporsional sampling yakni sebanyak 10%. Hal ini seperti yang dipersyaratkan oleh Suharsimi Arikunto (2003: 133) yang menyatakan bahwa apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, tetapi jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih. Sampel diambil secara acak dengan pertimbangan karakteristik responden cenderung homogen.

B. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:
   1. Observasi yaitu pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. (Arikunto, 2003: 133) Metode observasi ini merupakan salah satu bentuk pengumpulan data dengan cara pengamatan secara langsung di lapangan.
  2. Interview yaitu usaha mengumpulkan informasi dengan menggunakan sejumlah pertanyaan-pertanyaan secara lisan, untuk dijawab secara lisan pula. (Arikunto, 2003: 111) Dalam hal ini penulis melakukan tanya jawab untuk mengumpulkan data-data dari informasi mengenai pembahasan dalam penelitian ini.
    3. Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan jalan meneliti dan mencatat dokumen atau arsip-arsip yang ada di lokasi penelitian.
   4.  Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab secara tertulis pula.(Sugiyono, 2005: 102)

C. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan bagian yang cukup penting dalam menentukan valid tidaknya sebuah penelitian ini. Untuk itu, dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan meliputi kuesioner, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan catatan dokumentasi.

D. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengolahan dan analisis data, yaitu:
   1. Membuat tabel distribusi jawaban angket X (variabel etos kerja guru) dan Y ( variabel prestasi belajar siswa)
    2. Menentukan skor jawaban responden dengan ketentuan skor yang telah ditetapkan.
    3. Menjumlahkan skor jawaban yang diperoleh dari tiap-tiap responden.
   4. Langkah yang selanjutnya adalah menentukan skor tersebut ke dalam rumus sebagai berikut :









         Df = N – NR





Keterangan:
          DP       = Deskriptif persentase
n          = Nilai yang diperoleh
N         = Jumlah seluruh nilai yang diharapkan
      Selanjutnya menggunakan rumus korelasi product moment. Rumus tersebut digunakan untuk menghitung dan memberikan interpretasi terhadap angka korelasi. (Sudijono, 1995: 181)
Sementara itu, data yang diperoleh dari hasil wawancara, dokumentasi dan observasi dilakukan pemilihan secara selektif disesuaikan dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Setelah itu dilakukan pengelolahan dengan proses editing, yaitu dengan meneliti kembali data-data yang didapat, apakah data tersebut sudah cukup baik dan dapat segera dipersiapkan untuk proses berikutnya. Secara sistematis dan konsisten bahwa data yang diperoleh dituangkan dalam suatu rancangan konsep yang kemudian dijadikan dasar utama dalam memberikan analisis.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
     A. Etos Kerja Guru MAN Bulukumba
Etos kerja merupakan motivasi seseorang dalam melaksanakan aktifitasnya, karena etos kerja akan menggambarkan dedikasi seseorang. Seorang pimpinan dalam suatu organisasi harus mampu menciptakan semangat kerja yang positif sehingga personil dalam organisasi tersebut termotivasi dalam melaksanakan pekerjaan, yang terarah pada peningkatan prestasi kerja. Seorang guru diberi kesempatan untuk mewujudkan kepribadiannya dalam pekerjaan sehingga guru akan merasa bangga dan puas, usaha-usahanya dihargai dan bermanfaat. Guru yang memiliki etos kerja yang tinggi tentunya akan berimplikasi pada kualitas pekerjaannya, yaitu dalam pelaksanaan proses pembelajaran di kelas.
Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan peneliti tentang etos kerja guru di MAN Bulukumba, maka peneliti menggunakan instrumen yang telah dibuat sesuai dengan teori tentang etos kerja guru. Peneliti memberikan angket kepada 60 orang siswa (responden) yang terdiri dari 25 item. Dari hasil angket tersebut diperoleh hasil yang telah ditabulasikan.
Setelah jumlah skor dibagi oleh jumlah responden (3715 : 60) maka hasil yang diperoleh adalah 61,92. Dengan demikian, jumlah skor rata-rata tingkat etos kerja guru adalah cukup baik atau sedang.Dari tabel klasifikasi jumlah skor di atas dapat diketahui bahwa tingkat etos kerja guru pada MAN Bulukumba menurut pendapat siswa dianggap sedang, yakni antara 51-75, sebanyak 57 siswa.
  
B. Prestasi Belajar Siswa MAN Bulukumba
Prestasi belajar siswa diambil dari daftar nilai siswa pada buku daftar nilai (raport), prestasi belajar yang diambil oleh penulis adalah nilai raport siswa pada semester genap tahun ajaran 2013 - 2014.
Jumlah nilai rata-rata keseluruhan mata pelajaran responden yang diteliti adalah 4631. Setelah jumlah nilai 4631 dibagi dengan jumlah responden yang berjumlah 60 orang, maka nilai rata-rata siswa adalah adalah 77,18. Dengan demikian, nilai rata-rata prestasi belajar siswa MAN Bulukumba adalah cukup baik. Jadi, tingkat prestasi belajar siswa MAN Bulukumba pada tahun akademik 2013-2014 termasuk dalam kategori Sedang, yakni antara klasifikasi 70-79 sebanyak 31 siswa.

       C. Pengaruh Etos Kerja Guru terhadap Prestasi Belajar Siswa MAN Bulukumba
        Untuk menguji data antara skor angket etos kerja guru dengan prestasi belajar siswa, terlebih dahulu dikorelasikan kedua variabel tersebut. Dari perhitungan di atas ternyata angka korelasi antara Variabel X dan Variabel Y sebesar 0,991 itu berarti korelasi tersebut bertanda positif. Untuk melihat interpretasi terhadap angka indeks korelasi product moment secara kasar atau sederhana terletak pada angka 0,80 – 1,000 yang berarti korelasi antara Variabel X dan Variabel Y itu adalah terdapat korelasi yang Sangat Kuat.
Selanjutnya untuk mengetahui apakah hubungan Variabel X dan Variabel Y itu signifikan atau tidak, maka r hasil perhitungan dibandingkan dengan r tabel. Sebelum membandingkannya, maka terlebih dahulu dicari df (degree of freedom) atau db nya dengan rumus df = N - nr Berdasarkan tabel di atas, siswa yang di teliti atau yang menjadi sampel di sini adalah 60 orang. Dengan demikian N = 60. Variabel yang dicari korelasinya adalah Variabel X dan Variabel Y jadi nr = 2. Maka dengan mengacu kepada rumus di atas dapat diperoleh df-nya yaitu: df = 60 - 2 = 58. Dengan df sebesar 58, dikonsultasikan dengan tabel nilai r baik pada taraf signifikansi 5% maupun pada taraf signifikansi 1%.
Dengan melihat .rt. diperoleh hasil sebagai berikut:
Pada taraf signifikansi 5% = 0,254
Pada taraf signifikansi 1% = 0,330
Ternyata rxy atau ro yaitu 0,991 nilainya lebih besar dari r tabel, baik pada taraf signifikansi 5% maupun 1% Dengan demikian hipotesa nol (Ho) ditolak, sedangkan hipotesa alternatif (Ha) diterima. Ini berarti bahwa “Terdapat pengaruh/korelasi yang positif dan signifikan antara etos kerja guru dengan prestasi belajar siswa di MAN Bulukumba.”
Etos kerja guru yang tinggi pada hakikatnya memuat syarat mutlak seorang guru dalam memberikan pembelajaran pada mata pelajaran yang diampuhnya, di mana siswa akan menjadikan stimulan untuk senantiasa terobsesi untuk berbuat yang terbaik. Oleh karena itu, guru harus selalu meningkatkan etos kerjanya melalui belajar serta mengambil pelajaran dari pengalaman mengajarnya, sebab semakin banyak yang diketahui semakin banyak pula yang dapat diberikan kepada siswa.
Jika dalam proses belajar tidak membawa perubahan terhadap anak didik, maka seseorang tidak dapat dikategorikan sebagai orang yang mengajar. Karena mengajar tidak hanya menuntut keaktifan dari segi fisik tetapi juga dari segi kejiwaan, yakni pikiran dan mental yang merasakan adanya perubahan terhadap proses pembelajaran yang diberikan.
Guru yang memiliki etos kerja yang tinggi tentunya akan mempunyai kemauan yang kuat untuk mendidik, membimbing dan mengarahkan anak-anaknya dibanding dengan guru yang rendah etos kerjanya. Hal ini tentunya akan mendapatkan respon positif dari siswanya sehingga pada akhirnya akan berimplikasi pada prestasi belajar siswa.

V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari temuan dan analisis yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, dapat dikemukakan beberapa poin penting sebagai kesimpulan, yaitu:
    1.  Etos kerja guru MAN Bulukumba menunjukkan bahwa dari 60 siswa yang dijadikan responden menyatakan bahwa 57 siswa atau 95 persen menyatakan etos kerja guru berada pada kategori sedang, dan hanya 3 orang siswa atau 5 persen yang menyatakan etos kerja guru berada pada kategori tinggi. Dari respon responden tersebut dapat disimpulkan bahwa etos kerja guru MAN Bulukumba berada pada klasifikasi Sedang.
     2.  Nilai rata-rata siswa MAN Bulukumba adalah 77,18 yang berada pada kategori Cukup Baik. Sementara itu, dalam klasifikasnya, tingkat prestasi belajar siswa MAN Bulukumba menunjukkan bahwa 31,67 persen berada pada klasifikasi Tinggi, 51,67 persen berada pada klasifikasi Sedang dan 16,66 persen berada pada klasifikasi Rendah. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki prestasi belajar yang Sedang.
     3.   Hasil perhitungan menunjukkan bahwa rxy atau ro yaitu 0,991 nilainya lebih besar dari r tabel, baik pada taraf signifikansi 5% maupun 1% Dengan demikian hipotesa nol (Ho) ditolak, sedangkan hipotesa alternatif (Ha) diterima. Ini berarti bahwa “Terdapat pengaruh/korelasi yang positif dan signifikan antara etos kerja guru dengan prestasi belajar siswa di MAN Bulukumba”.

B. Implikasi Penelitian
Sebagai bagian akhir dari penelitian ini dikemukakan beberapa saran konstruktif sebagai implikasi penelitian terhadap pihak-pihak yang berwenang, yaitu:
    1.  Etos kerja merupakan modal awal bagi guru dalam menjalankan profesinya sebagai guru yang profesional. Profesionalisme guru merupakan sebuah kemutlakan sehingga kemudian pemerintah memberikan tunjangan sertifikasi guru sebagian bentuk penghargaan guru akan profesi dan kinerjanya. Untuk itu, diharapkan setiap guru memiliki etos kerja yang tinggi dalam upaya mencapai kualitas pembelajaran yang optimal.
  2. Kepada kepala sekolah semestinya perlu meningkatkan wawasannya tentang pengetahuan kepemimpinan yang dapat memperkaya wawasan dan pola berpikirnya sebagai pemimpin dalam menjalankan fungsi manajerial secara efektif dan efisien. Kepala sekolah juga hendaknya lebih meningkatkan mutu pendidikan terutama pendidikan agama Islam dengan menambah fasilitas atau saran-sarana untuk pembelajaran yang masih kurang dan belum ada, dan lebih memperhatikan etos kerja guru. Supervisi kepala sekolah sangat diperlukan sebagai bentuk perhatian pimpinan kepada stafnya sehingga guru merasa diperhatikan. Ini merupakan bentuk dukungan pimpinan dalam menciptakan etos kerja guru yang tinggi.
    3.  Proses pembelajaran tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah yang dalam hal ini adalah para guru. Peran serta orang tua merupakan sebuah kemutlakan bagi terciptanya proses pembelajaran yang maksimal. Perhatian orang tua terhadap pendidikan anaknya, dalam bentuk perhatian dan pemberian fasilitas belajar yang dibutuhkan merupakan bentuk kerjasama dalam mendukung tugas guru dalam pendidikan siswanya. Untuk itu, kerjasama dan komunikasi yang komprehensif dan intensif sangat diperlukan demi perbaikan mutu pendidikan bagi anak.
    4. Diharapkan kepada pemerintah Daerah Bulukumba dan Kementerian Agama Kabupaten Bulukumba dapat memberikan perhatian yang lebih baik kepada MAN Bulukumba, baik dalam bentuk pemberian bantuan sarana dan prasarana pembelajaran maupun bantuan dalam bentuk bimbingan teknis, pendidikan dan pelatihan serta workshop bagi guru dalam meningkatkan kompetensinya.

 DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Ambo Enre. Prinsip-Prinsip Layanan dan Bimbingan Belajar. Cet. I; Ujung Pandang: FIP IKIP, 1985. 

Ahmadi, Abu dan Widodo Suriyono, Psikologi Belajar. Cet. I; Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1991.

Arifin, Zaenal. Evaluasi Instruksional Perencanaan Pendidikan Prinsip-Prinsip Prosedur. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991.  

Arikunto, Suharsimi. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Cet. I; Jakarta:  PT. Rineka Cipta, 1990. 

____________. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta, 2003. 

Azra, Azyumardi. Paradigma Baru Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan Demokratisasi. Cet. I; Jakarta: PT. Buku Kompas, 2002. 

B., Halbeyb. Kamus Populer. Jakarta: Centra, 1991. 

Boggs, W Brady. TQM and Organizational Culture : A Case Study,  dalam The Quality Management Journal. Volume 11, No. 2/2004.

Bukhari, Muchtar. Spektrum Problematika Pendidikan di Indonesia. Cet. I; Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004. 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. IX; Jakarta: Balai Pustaka, 1997. 

Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran. Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1999. 

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2003. 

Hadi, Sutrisno. Statistik 2. Yogyakarta: YPEP UGM, 1986.

Hamalik, Oemar. Media Pendidikan. Cet. VII; Bandung: PT. Citra Adiyata, 1994.

Hasan, Muhammad Thalhah. Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia. Cet. IV; Jakarta: Lantabaro Press, 2005. 

Najamuddin. Hubungan Metode Mengajar Guru Agama yang Bervariasi dengan Daya Serap Siswa SMA Langnga Pinrang, “Tesis”. Ujung Padang: Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin, 1996.

Nawawi, Hadari. Kepemimpinan yang Efektif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2001. 

Rusyan, A. Tabrani. Atang Kusdinar dan Zainal Arifin Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Cet. II; Bandung: Rosdakarya, 1992. 

Shihab, M. Quraish. Secercah Cahaya Ilahi. Cet. III; Bandung: Mizan, 2002 . 

Sidi, Indra Djati. Menuju Masyarakat Belajar; Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Cet. I; Jakarta: Paramadina, 2004. 

Siswanto, Bejo. Manajemen Modern. Bandung: Sinar Baru, 2009.

Slameto. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta, 2000.  

SP., Malayu Hasibuan. Manajemen Sumber Daya Manusia. Cet. VII; Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2005. 

Sudijono, Anas. Pengantar Statistik Pendidikan,. Cet. VI; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995. 

Sudjana, Nana. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Cet. III; Jakarta: 1996. 

Sugiyono. Statistik untuk Penelitian.  Bandung: CV Alfabeta, 2005.

Tasmara, Toto. Etos Kerja Pribadi Islam. Jakarta: PT. Dana Wakaf, 1995. 

Tasmara, Toto. Membudayakan Etos Kerja Islami. Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 2002. 

Tjiptono, Findy dan Anantasia Dian. Total Quality Management. Yogyakarta: Andi Offset, 2002. 

Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Cet. I; Jakarta: Sinar Grafika, 2006. 

Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Sinar Grafika, 2004. 

Wahyudi. Teknologi Informasi dan Produksi Citra Bergerak. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003. 






Post a Comment