Tuesday, May 19, 2015

PENDIDIKAN ALTERNATIF BAGI UMAT ISLAM (Telaah Terhadap Model Pendidikan Pesantren)

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
          Melacak dinamika pendidikan di Indonesia kelihatan bahwa dalam kurun waktu yang cukup panjang para pakar pendidikan senantiasa berusaha mencari dan merumuskan model pendidikan yang ideal. Meskipun saat ini pendidikan di Indonesia sudah berjalan secara formal dan dikukuhkan dengan undang-undang, namun masalah penemuan pola pendidikan ideal belumlah final dan masih terus menjadi wacana dan perdebatan oleh berbagai kalangan.
     Munculnya perdebatan-perdebatan dalam masalah pendidikan pada dasarnya diakibatkan oleh adanya pandangan dikotomis antara pendidikan Islam dan pendidikan umum. Yang lebih spesifik lagi adalah adanya asumsi tentang pemilahan antara pendidikan Islam dengan pendidikan Nasional.

Lahirnya Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan nuansa dan harapan baru bagi pendidikan Islam di Indonesia.[1] Namun demikian, meskipun secara yuridis formal dikotomi pendidikan Islam dengan pendidikan Nasional telah lebur menjadi satu, namun dalam prakteknya, dikotomi tersebut masih sangat tampak menyolok, baik dalam kurikulum maupun orientasi. Pada sekolah yang berlabel SMU misalnya, pelajaran yang bernuansa agama 23% berbanding  77%.[2] Akibatnya, mata pelajaran agama yang dituangkan dalam bentuk kurikulum tersebut tidak mampu mentransfer nilai-nilai agama dan moral kepada peserta didik. Akibatnya, arah pembangunan cenderung diukur dari fisik material dan mengabaikan aspek spritual dan moralitas.
Dalam menghadapi abad ke-21 yang dikenal dengan globalisasi dan pasar bebas serta dunia modern yang diprediksikan oleh para pakar sebagai abad yang serba kompleks, membutuhkan pemikiran ulang terhadap model pendidikan yang selama ini dipraktekkan. Hal tersebut karena pembangunan fisik yang selama ini digalakkan ternyata tidak berjalan dengan sinergis dengan kenyataan moral para pelaku pembangunan.[3] Di samping itu, "kebebasan" dalam hal ini sering disalahartikan oleh generasi muda, sehingga cenderung adanya infiltrasi terhadap berbagai kebudayaan yang pada dasarnya tidak cocok dengan budaya Asia, khususnya Indonesia.
Mencermati kenyataan tersebut, ada kecenderungan dari berbagai kalangan untuk kembali melirik pesantren sebagai salah satu model pendidikan alternatif menghadapi rumit dan kompleksnya abad-abad mendatang. Meskipun pesantren dalam berbagai aspek masih dikategorikan tertinggal, namun terdapat sejumlah nilai-nilai pendidikan dalam pesantren yang tidak ditemukan dalam sistem pendidikan non-pesantren. Nilai-nilai tersebut dapat dijadikan sebagai pola pengembangan pendidikan masa depan masyarakat Indonesia.

B. Permasalahan
            Berdasarkan gambaran singkat yang dikemukakan di atas, maka dikemukakan permasalahan sebagai berikut :
1.    Bagaimana tantangan pendidikan Islam dalam dunia modern ?
2.    Sejauhmana pesantren dapat menjadi model pendidikan alternatif ?

II. PEMBAHASAN
A. Tantangan Pendidikan Islam pada Zaman Modern
Pendidikan Islam membawa misi menciptakan iklim dinamis dalam hidup. Berkaitan dengan itu, Hasan Langgulung memberi formulasi pendidikan Islam yaitu proses penyiapan generasi muda yang mengisi peranan, memudahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.[4]
Pendidikan Islam, merupakan proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan oleh Allah swt. kepada Muhammad. Melalui proses pendidikan seperti itu, individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi supaya ia mampu menunaikan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dan berhasil mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk mencapai hal itu, diperlukan pemberdayaan kualitas umat agar mencapai derajat taqwa, karena hanya orang yang taqwalah yang mendapat tempat yang paling mulia di dunia dan di akhirat.
Pendidikan Islam berkisar antara dua dimensi hidup yaitu penanaman rasa taqwa kepada Allah dan pengembangan rasa kemanusiaan kepada sesama.[5] Mencermati muatan nilai al-Qur’an, mengenai  penanaman rasa taqwa kepada Allah sebagai dimensi pertama  hidup ini, dinilai dengan pelaksanaan kewajiban-kewajiban formal agama berupa ibadah-ibadah. Dalam  pelaksanaan itu, harus disertai dengan penghayatan yang sedalam-dalamnya terhadap makna ibadah-ibadah tersebut, sehingga ibadah itu tidak dikerjakan semata-mata sebagai ritus formal belaka, melainkan dengan keinsafan mendalam akan fungsi edukatifnya bagi manusia.
Hal itu, memberi inspirasi bahwa umat manusia yang tidak memiliki rasa kemanusiaan seperti sikap tidak peduli kepada nasib anak yatim dan tidak pernah melibatkan diri dalam perjuangan mengangkat derajat orang miskin adalah palsu dalam beragama. Orang itu, boleh jadi rajin melakukan shalat namun selanjutnya tidak berpengaruh pada pendidikan budi pekertinya dengan indikasi ia suka pamrih dan bergaya hidup mementingkan diri, sehingga ia dikutuk oleh Allah (QS. al-Ma'un [107]: 1-7).
Dengan demikian, kegiatan pendidikan bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai melalui instrumen pendidikan guna  membentuk pribadi taqwa. Di antara nilai yang sangat mendasar antara lain : Islam (sikap pasrah kepada-Nya), iman (sikap bathin penuh keyakinan), hisan (kesadaran yang mendalam), taqwa (merasakan kehadiran Allah dalam dirinya), ikhlas, (berbuat baik tanpa pamrih), tawakkal (komitmen penuh kepada Allah), syukur (sikap penuh rasa terima kasih dan penghargaan), sabar (tabah dalam meraih cobaan hidup dan berusaha meraih kebahagiaan hidup dan ketenangan batin).[6] Tentu masih banyak nilai-nilai keagamaan pribadi yang diajarkan dalam pendidikan Islam guna membentuk manusia yang berkualitas.
Nilai-nilai ketuhanan dan nilai kemanusiaan yang telah dipahami dan dipaparkan di atas merupakan misi utama bagi pendidikan Islam guna untuk membentuk umat yang semakin berkualitas baik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Atas dasar itulah, umat akan menyeru kepada Allah dan beramal saleh dan memproklamirkan kepada dirinya sebagai seorang (umat) yang berserah diri sebagai salah seorang anggota komunitas muslim.
Modernisasi merupakan gejala yang sering diasumsikan sebagai tantangan pendidikan Islam. Proses modernisasi tidak hanya di alami oleh negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika, melainkan juga kita temukan di negara-negara berkembang baik di Afrika maupun di Asia, termasuk di Indonesia.[7] Aspek yang paling spektakuler dalam modernisasi suatu masyarakat adalah pergantian teknik produksi dari nilai-nilai  tradisional ke nilai-nilai modern yang bertumpu pada makna revolusi industri.[8]
Berkaitan dengan itu, Arief Rahman mengemukakan pergeseran nilai yang dibawah oleh modernisasi adalah:
1.        Ditinggalkannya cara berfikir mistik menuju cara berfikir analitis logis dengan peralatan modern dan canggih.
2.        Pendidikan dianggap lebih penting dari pengalaman, dan prestasi sangat dihormati.
3.        Kompetisi merupakan ciri khas sehingga manusia akan cenderung individualistis.
4.        Etos kerja tidak asal selesai mengerjakan tugas, tetapi diikuti perhitungan  yang matang dan standar tertentu.
5.        Agama tidak dijadikan pegangan hidup yang sifatnya rutin dogmatis, agama tidak hanya diterima melalui keyakinan dan masyarakat perlu penjelasan yang bersifat multidimensional.[9]     
Pergeseran nilai tersebut bisa mengakibatkan munculnya ekses yang tidak dikehendaki, misalnya masyarakat cenderung rasional dan menjadi budak teknologi, materialistis dan individualistis yang bisa kehilangan iman dan taqwa. Kemajuan dianggap lebih penting dari pada stabilitas, sehingga dengan muda manusia siap menerkam yang lainnya demi tercapainya kepentingan pribadinya.
Menurut pengamatan Ahmad al-Gazali, kesulitan-kesulitan yang besar di dunia Modern sebagian besar disebabkan ulah manusia. Manusia tidak lagi melakukan usaha untuk mencari petunjuk Allah, sehingga tidak lagi mengindahkan rambu-rambu jalan kehidupan.[10]
Dalam peradaban Barat yang melahirkan berbagai teknologi yang berkembang dengan pesatnya, maka apresiasi manusia terhadap agama juga mengalami pergeseran. Dengan makin berkembangnya analisis sosial antropologis, maka fungsi agama lebih ditekankan pada kohesi sosial.  Kinsley Davis mengemukakan gejala modern sebagai berikut:
1.        Tuhan- tuhan cenderung menggambarkan pandangan lokal
2.        Antropomorpisme cenderung dihilangkan .
3.        Agama cenderung terpisah dari kehidupan sehari-hari.
4.        Homogenitas keagamaan cenderung dihilangkan
5.        Sistem keagamaan cenderung dipregmentasikan.[11]
Ahli lainnya seperti Wreight, berpendapat bahwa modernisasi harus dibayar dengan harga yang mahal. Harga sosial menurutnya timbulnya ketegangan (tension), sakit mental, kekerasan, perceraian, kenakalan remaja, konflik rasial, agama dan kelas dan juga timbulnya kriminalitas, penyalahgunaan obat, serangan jantung.[12]  Dapat juga ditambahkan, seperti adanya stress dan AIDS yang banyak muncul dalam masyarakat industri modern, tetapi begitu susah menemukan obatnya.
Briyan Willson, dalam  kritik tajamnya mengatakan bahwa,  budaya kehidupan sehari-hari pada umumnya bangsa-bangsa maju dalam era moderen ini baik, di Timur maupun di Barat jelas tak beragama.[13]
Modernisasi merupakan suatu proses yang mengandung banyak segi mencakup perubahan-perubahan dalam semua kawasan pemikiran dan kegiatan manusia. Perubahan-perubahan yang dibawah melalui modernisasi yang bersumber dari Barat itu, membuat manusia tidak berdaya.
Kenyataan seperti yang dikemukakan di atas, perlu mendapat tanggapan serius untuk mengantisipasinya. Pola pendidikan yang selama ini diterapkan dalam lembaga-lembaga pendidikan formal, tampak tidak dipersiapkan untuk mengantisipasi kebutuhan profesionalitas di dunia modern di satu sisi dan kebutuhan moralitas pengendali pembangunan di sisi lain. Tampaknya dunia modern menekankan hanya pada aspek fisik dan mengabaikan aspek psikis atau moral pembangunan.



C. Pendidikan Pesantren Sebagai Model Pendidikan Alternatif
Mencermati fenomena-fenomena sebagaimana disebutkan di atas, maka pola pendidikan pesantren dapat dijadikan model pendidikan alternatif untuk mengantisipasi tantangan dunia yang semakin maju. Meskipun pesantren sering diidentikkan dengan "pendidikan klasik", dan tertinggal, namun di sisi lain, ditemukan sejumlah nilai-nilai dan pola pendidikan yang dapat diterapkan dalam mengantisipasi berbagai tantangan.   
Sebagai lembaga yang lahir dari setting “dakwah” dalam arti luas, maka dengan sendirinya pesantren mengendalikan berdirinya seperangkat nilai tertentu bagi upaya transformasi sosial. Kesadaran ini pula yang menyebabkan nilai-nilai yang dianut pesantren berbeda dengan nilai-nilai lain di luarnya. Maka tatkala fungsi transformasi ini hendak berjalan, pesantren secara langsung atau tidak langsung terdorong untuk membentuk dan hidup dalam sistem nilainya sendiri. Nilai-nilai yang tercipta dalam bentuk serangkaian perbuatan sehari-hari inilah yang kemudian dikenal dengan nama “cara kehidupan santri”, atau dalam istilah Abdurrahman Wahid sebagai subkultur.[14]
Sistem nilai yang digambarkan di kalangan pesantren adalah sistem nilai yang berakar dalam agama Islam. Tetapi menurut Nurcholish Madjid tidak semua yang berakar dalam agama dipakai oleh mereka bahkan terdapat unsur yang benar-benar berbau animisme (kejawaan) dalam sistem nilai kaum santri.[15]
Terlepas dari ada atau tidaknya unsur kejawaan dalam sistem nilai pesantren, bagi Abdurrahman Wahid, fungsi utama dari sistem nilai tersebut adalah selain untuk menciptakan kesatuan di kalangan sesama warga pesantren juga sebagai penyaring nilai-nilai yang datang dari luar. Karena itu, Abdurrahman Wahid mengingatkan bahwa apapun yang akan dilakukan terhadap pesantren haruslah tetap dipahami dan bertolak dari sistem nilai tersebut.[16]
Salah satu sistem nilai utama yang dilahirkan oleh sistem nilai tersebut adalah sikap hidup memandang segala aktivitas kehidupan sebagai kerja peribadatan.[17] Sikap hidup ini kemudian menjadi “sentral nilai” pesantren yang selanjutnya melahirkan nilai-nilai lain seperti dirumuskan oleh K.H. Imam Zarkasyi sebagai “panca jiwa” pesantren, yaitu keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwah Islamiyah, kemandirian dan kebebasan.[18]
Sikap hidup yang berorientasi pada kerja peribadatan atau orientasi ke arah kehidupan alam akhirat (dikenal dengan pandangan hidup ukhrawi) ini, dipandang oleh sebagian kalangan dengan watak hidup yang fatalistik dan pasif. Tetapi bagi kalangan pesantren, tata nilai tersebut mengandung spirit yang luar biasa yang sulit dipahami orang luar pesantren, sebagaimana dikemukakan Bakhtiar Effendy bahwa Nilai-nilai demikian ini mempunyai makna yang dinamis; tidak berhenti pada penyadaran diri kepada Allah swt. dan tidak menghiraukan kehidupan keduniawiaan. Sebaliknya kehidupan keduniawian disubordinasikan dalam rangkuman  nilai-nilai Ilahi yang telah mereka peluk sebagai sumber nilai tertinggi. Kehidupan yang submissif (taat) terhadap Allah mesti menghilangkan aktivitas formal yang secara langsung memberikan pengaruh-pengaruh materil, melainkan submission dalam artian mengorientasikan (alur aktivitas keduniawiaan ini) ke dalam suatu tatanan nilai ilahiyah.[19]
Asetisme yang digunakan pesantren ini menurut Abdurrahman Wahid merupakan pilihan ideal bagi  masyarakat sekitarnya, yang kadang tumbuh sebagai unit budaya yang terpisah dari kehidupan masyarakat pada umumnya dan pada waktu yang bersamaan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.[20] Peranan berganda inilah yang menjadi ciri utama pesantren sebagai sebuah subkultur. Dalam menjalankan peran ganda ini, pesantren terlibat dalam penciptaan tata nilai yang memiliki dua unsur utama, yaitu :  pertama  adalah peniruan, yaitu yang dilakukan terus-menerus secara sadar untuk memindahkan pola kehidupan para sahabat Nabi dan ulama (salaf) ke dalam praktek kehidupan di pesantren,  kedua adalah pengekangan, yaitu memiliki perwujudan utama dalam disiplin sosial yang ketat di pesantren.[21]
 Dalam pandangan pesantren, kehidupan di dunia adalah sebuah kehidupan yang fana (sementara) dan ia merupakan washilah menuju kehidupan abadi di akhirat, oleh karena itu diperlukan bekal hidup yang sebanyak-banyaknya untuk sampai ke situ, dan hal itu harus diwujudkan dalam bentuk ibadah. Sehingga seluruh aktivitas dan tujuan hidup harus selalu diorientasikan ke sana. 
Bagi kalangan pesantren, khususnya santri, penghayatan akan nilai-nilai utama tersebut dimanifestasikan dalam bentuk, antara lain kecintaan dan kesungguhan mempelajari ilmu agama tanpa mengenal kata akhir. Mereka akan rela tinggal dan belajar bertahun-tahun pada sebuah pesantren atau kyai untuk memenuhi kebutuhan intelektualnya. Lebih lanjut Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa waktu bertahun-tahun yang dihabiskan di pesantren tidaklah dirasakan sebagai kerugian, karena penggunaan waktu di pesantren itu sendiri dinilai sebagai perbuatan beribadat. Begitu kuat cengkeraman pengertian ibadat atas dirinya, sehingga ia akan berani berkorban untuk mencapai cita-cita mendirikan pesantrennya sendiri sepulang dari belajar di pesantren nanti.[22]
Apa yang dikejar oleh mereka adalah kesediaan guru atau kyai untuk memberikan perkenaan kepada santri untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama yang telah dikuasainya, melalui sistem pemberian izin secara lisan, dikenal dengan nama ijazah. Pemberian ijazah dimaksudkan untuk memelihara kemurnian ajaran dengan transmisi oral dari generasi ke generasi. Namun, untuk sampai kepada tingkat ini tidak mudah, karena untuk pindah dari satu kitab (menguasai ilmu-ilmu yang diberikan guru atau kyai) bisa memakan waktu yang cukup lama.
Hal tersebut bisa disebabkan oleh dua hal, yaitu pertama, sistematika pembahasan (semacam kurikulum) atau metode. Kurikulum ini walaupun memiliki jenjangnya sendiri, bersifat sangat fleksibel, dalam arti pembuatan kurikulum itu sendiri bersifat individual, oleh karena itu masing-masing santri diberi kebebasan penuh untuk membuat kurikulum sendiri, dengan jalan menentukan sendiri pengajian mana yang akan diikutinya. Kedua tidak adanya kekuasaan santri untuk mengikuti secara reguler pengajaran yang diberikan guru atau kyai, dalam hal ini pesantren tidak mengenal sistem absensi, karena semuanya tergantung pada inisiatif dan kesadaran santri sendiri.
Pola pendidikan seperti ini tampak sulit ditemukan dalam lembaga-lembaga pendidikan formal di luar pesantren. Kurikulum sering menjadi alasan sehingga pemahaman siswa terhadap materi pelajaran menjadi terabaikan. Dengan demikian, proses pendidikan tampak bersifat formalitas dan hanya mementingkan pemenuhan otak dengan berbagai teori tanpa mengindahkan pendidikan moral.
Selain itu, terdapat faktor-faktor lain yang membentuk tata nilai di pesantren, seperti keikhlasan, baik dari santri maupun kyai. Jiwa keikhlasan ini termanifestasikan dalam segala rangkaian sikap dan tindakan yang selalu dilakukan secara ritual oleh komunitas pesantren. Oleh karena itu, keikhlasan dan kesiapan santri untuk belajar yang berpadu dengan keikhlasan kyai mengajarkan ilmunya, dianggap sebagai sesuatu yang esensial bagi berhasil tidaknya proses pembelajaran tersebut.
Keikhlasan untuk belajar kepada kyai harus ditunjukkan lewat ketertundukan kepadanya yang akhirnya melahirkan keberkahan. Di mata santrinya kyai adalah sosok yang sangat kharismatik di samping disegani juga merupakan sosok yang tak tertandingi. Karena itu jarang terdengar ada santri yang menentang atau melawan kyainya.
Di sisi lain, etos keikhlasan tersebut juga membuat kyai rela berkorban untuk santrinya, seperti kesediaan mengajar tanpa digaji atau meluangkan waktunya hanya untuk mengajar santri kendati hanya beberapa orang.
Dalam konteks ini Abdurrahman Wahid lebih jauh mengungkapkan bahwa seorang kyai yang harus membuka pintu rumahnya dua puluh empat jam sehari semalamnya, haruslah memiliki nilai keikhlasan untuk dapat bertahan. Hidup pribadi kyai dan santrinya dilihat dari satu segi, larut sepenuhnya dalam irama kehidupan pesantren yang dipimpinnya, tujuan dan pamrih lain menjadi soal sekunder dalam pandangannya.[23]
Kesederhanaan adalah nilai utama yang lain dalam pesantren. Sederhana bukan berarti pasif, melarat dan miskin, tetapi mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati, penguasaan diri dalam menghadapi segala kesulitan. 
Kesederhanaan tersebut tampak misalnya, dari segi makanan, pakaian di lingkungan. Dari segi makanan dan lingkungan seringkali kehidupan di pesantren mengabaikan kesehatan. Tapi kesederhanaan ini tidak berarti membiarkan diri dalam kemelaratan terus-menerus, melainkan membiasakan diri untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang ada sambil berusaha meraih yang terbaik, begitu juga tampak kesederhanaan itu dalam hal pakaian di kalangan santri. Dengan terbiasa dengan pola hidup sederhana, pada gilirannya jika memegang kendali kekuasaan tidak tampak rakus dan menghalalkan segala cara.
Dengan pola hidup yang sama, dalam hal makan, pakaian dan perlakuan, menyebabkan lahirnya rasa persaudaraan (ukuwah islamiyah). Dengan corak kehidupan yang egalitarian, maka kehidupan di pesantren bagaikan sebuah keluarga besar yang dipenuhi kasih sayang di bawah pencahayaan suasana religius kental. Situasi dialogis dan akrab antar-komunitas pesantren yang dipraktekkan sehari-hari tersebut, disadari atau tidak, akan mewujudkan suasana damai, senasib dan sepenanggungan yang sangat membantu dalam pembentukan dan pembangunan idealisme santri. Perbedaan kultur, primordialisme, suku, ras, dan kekayaan sebagaimana asal santri sebelum masuk pesantren tidak menjadi penghalang dalam jalinan yang dilandasi oleh spiritualitas Islam  yang tinggi. Karena itu, maka belum pernah terdengar misalnya, ada peristiwa perkelahian atau tawuran antara satu pesantren dengan pesantren yang lain, sebagaimana peristiwa yang banyak terjadi di lembaga pendidikan umum.
Secara bersama, nilai-nilai tersebut membentuk sebuah sistem nilai yang berlalu secara universal di pesantren, dan nilai-nilai itu adalah merupakan orisinalitas perwatakan hidup pesantren itu sendiri. Sistem nilai itu merangsang berkembangnya fungsi kemasyarakatan pesantren, yaitu sebagai alat transformasi kultural masyarakat di luarnya secara total.[24] Transformasi yang dilakukan pesantren atas kehidupan masyarakat di luarnya itu dimulai dari perbaikan kehidupan moral di lingkungan sekelilingnya, akhirnya membawa pesantren untuk menyertakan masyarakat pada manifestasi penghayatan dan pengalaman ajaran agama secara penuh.
Keunggulan utama pendidikan pesantren adalah penanaman keimanan. Secara singkat, kondisi menyeluruh kehidupan budaya di pesantren itulah yang berdaya menanamkan keimanan tersebut. Pengaruh kyai, baik dalam peribadatan ritual maupun dalam perilaku sehari-hari memberikan motivasi lahir dan tertanamnya keimanan dalam hati.
Iman itu bertempat di hati dan bukan di kepala.[25] Oleh karena itu, penanaman iman bukan terutama penanaman konsep di kepala sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan guru agama sekarang. Iman harus ditanamkan langsung ke dalam hati. Penanaman ini di pesantren dilakukan lewat contoh terutama dari kehidupan kiai, pembiasaan, peraturan kedisiplinan, ibadah serta pepujian ritual dan kondisi umum kehidupan pesantren itu sendiri. Cara penanaman iman seperti ini memang sulit diterapkan di sekolah umum. Inilah sebabnya pendidikan agama di sekolah hanya sedikit hasilnya. Yang diajarkan di sekolah saat ini hanya pengetahuan tentang keimanan, tetapi bisa saja mereka tidak beriman.      
Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa pesantren dapat menyumbangkan penanaman iman yang merupakan tujuan pendidikan nasional. Budi luhur, kemandirian, kesehatan rohani adalah tujuan pendidikan nasional dan juga merupakan tujuan pendidikan pesantren. Tanggungjawab kemasyarakatan, bukan sekedar slogan di pesantren, akan tetapi merupakan motto dan motivasi yang senantiasa diperjuangkan. Oleh sebab itu, resitensi pesantren dalam globalisasi budaya dapat diandalkan.  
                                                            
III. PENUTUP
            Berdasarkan uraian terdahulu, dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut :
1.       Modernisasi merupakan gejala yang sering diasumsikan sebagai tantangan pendidikan Islam. Proses modernisasi tidak hanya dialami oleh negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika, melainkan juga kita temukan di negara-negara berkembang baik di Afrika maupun di Asia, termasuk di Indonesia. Aspek yang paling spektakuler dalam modernisasi suatu masyarakat adalah pergantian teknik produksi dari nilai-nilai  tradisional ke nilai-nilai modern yang bertumpu pada makna revolusi industri. Pergeseran nilai tersebut bisa mengakibatkan munculnya ekses yang tidak dikehendaki, misalnya masyarakat cenderung rasional dan menjadi budak teknologi, materialistis dan individualistis yang bisa kehilangan iman dan taqwa. Kemajuan dianggap lebih penting dari pada stabilitas, sehingga dengan muda manusia siap menerkam yang lainnya demi tercapainya kepentingan pribadinya.
2.       Pola pendidikan pesantren dapat dijadikan model pendidikan alternatif untuk mengantisipasi tantangan dunia yang semakin maju. Sebagai lembaga yang lahir dari setting “dakwah” dalam arti luas, maka dengan sendirinya pesantren mengendalikan berdirinya seperangkat nilai tertentu bagi upaya transformasi sosial. Keunggulan utama pendidikan pesantren adalah penanaman keimanan. Karena iman itu bertempat di hati dan bukan di kepala, maka  penanaman iman bukan terutama penanaman konsep di kepala sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan guru agama, tetapi  harus ditanamkan langsung ke dalam hati. Penanaman ini di pesantren dilakukan lewat contoh, terutama dari kehidupan kyai, pembiasaan, peraturan kedisiplinan, ibadah serta pepujian ritual dan kondisi umum kehidupan pesantren itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Chirzin, Habib. Agama dan Ilmu dalam Pesantren dalam Dawam Rahardjo,. ed. Pesantren dan Pembaharuan. Jakarta: LP3S, 1985.
Davis, Kinsley. Human Society.  New York: Macmillan Company, 1986.
Effendy, Bakhtiar. Nilai-nilai Kaum Santri,  dalam M.  Dawam Rahardjo. (ed.). Pergulatan Dunia Pesantren, Membangun dari Bawah. Jakarta: P3M, 1988.
Fadjar, A.  Malik .  Reorientasi Pendidikan Islam .  Jakarta: Fajar Dunia, 1999.
Al-Gazali, Muhammad. 44 Persoalan Penting Tentang Islam. Jakarta: Gema Insani Press. 1993.   
Langgulung, Hasan. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam.  Bandung:  al-Ma’arif, 1980.
Madjid, Nurcholish. Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina, 1997.
Mardimin, Johannes.  Jangan Tangisi Tradisi; Transportasi Budaya Menuju Masyarakat Indonesia Moderen.  Yogyakartaa: Kausius, 1995.
Rahim, Husni, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia.  Cet.  I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001.
Rahman, Arief.  Peran Pendidikan Dalam Iman dan Taqwa Menghadapi Era Teknologi dan Globalisasi dalam Fuaduddin dan Cik Hasan Bisri, Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi.  Jakarta: Logos, 1999.
Scoorl, J. W.  Sosiology And Modernising, dialih bahasa oleh K. K.  Soekadijo, Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-Negara Sedang Berkembang.  Cet.  IV; Gramedia, 1984.
Soemarwoto, Otto.  Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan.  Cet.  VI; Yogyakarta: Djambatan, 1994.
Suwandi, Rekonstruksi sistem Pendidikan Pesantren; Beberapa Catatan, dalam Marzuki Wahid. (Peny.). Pesantren Masa Depan; Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren. Bandung: Pustaka Hidayah, 1999.
Wahid, Abdurrahman. Bunga Rampai Pesantren. Jakarta: Dharma  Bachtiar, 1987.
Wahid, Abdurrahman. Menggerakkan Tradisi, Esei-esei Pesantren. Yogyakarta: LKIS, 200.
Wilson, Religion Sosiologi Perspektif, dirujuk oleh Rusli Karim, Agama, Modernisasi  dan Sekularisasi. Yogyakarta:Tiara Wacana, 1994.
Wreight, T. R.  Modernization and Social Change Among Muslim In India. New Delhi: Manohar, 1983.


[1]Lihat Husni Rahim, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia (Cet. I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001), h. 105.
[2]Perbandingan tersebut berdasarkan kebijakan kurikulum Pendidikan tahun 1993/1994.  Lihat ibid., h. 113.
[3]Otto Soemarwoto, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan (Cet. VI; Yogyakarta: Djambatan, 1994), h. 57.
[4]Lihat Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam (Bandung:                al-Ma’arif, 1980), h. 94.               
[5]Lihat  A. Malik Fadjar,  Reorientasi Pendidikan Islam  (Jakarta: Fajar Dunia, 1999), h.7.
[6]Ibid., h. 10-12.
[7]Johannes Mardimin, Jangan Tangisi Tradisi; Transportasi Budaya Menuju Masyarakat Indonesia Moderen (Yogyakarta: Kausius, 1995), h. 56.  
[8]J.W. Scoorl, Sosiologie and Modernising, dialih bahasa oleh K.K. Soekadijo, Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-Negara Sedang Berkembang (Cet. IV; Jakarta: Gramedia, 1984), h. 1.
[9]Lihat Arief Rahman, Peran Pendidikan Dalam Iman dan Taqwa Menghadapi Era Teknologi Dan Globalisasi dalam Fuaduddin dan Cik Hasan Bisri, Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan Tinggi (Jakarta: Logos, 1999), h. 74.
[10]Muhammad al-Gazali, 44 Persoalan Penting Tentang Islam (Jakarta: Gema Insani, 1993), 223. 
[11]Lihat Kinsley Davis, Human Society ( New York: Macmillan Company, 1986), h. 542.
[12]Lihat T.r. Wreight, Modernization and Social Change Among Muslim In India (New Delhi: Manohar, 1983), h. 83.
[13]Lihat Wilson, Religion Sosiologi Perspektif, dirujuk oleh Rusli Karim, Agama, Modernisasi  dan Sekularisasi (Yogyakarta:Tiara Wacana, 1994), h. 26.
[14]Dalam kajian sosiologi, sebuah subkultur minimal harus memiliki keunikannya sendiri dalam aspek-aspek berikut, yaitu  cara hidup yang dianut, pandangan hidup dan tata nilai yang diikuti serta hirarki kekuasaan intern tersendiri yang ditaati sepenuhnya. Menurut Abdurrahman Wahid, ketiga persyaratan minimal ini terdapat dalam kehidupan pesantren, sehingga dirasa cukup untuk mengenakan predikat subkultur pada kehidupan pesantren. Kondisi demikian, Abdurrahman Wahid mengingatkan bahwa penggunaan istilah subkultur lebih banyak terdorong oleh ketiadaan isitlah lain yang lebih tepat, sehingga predikat subkultur berdasarkan kriteria yang relatif longgar. Lihat Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Menggerakkan Tradisi, Esei-esei Pesantren (Yogyakarta: LKIS, 200), h. 2, 7. Lihat juga Abdurrahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren (Jakarta: Dharma. Bachtiar, 1987), h. 10, 15.           
[15]Contoh mengenai hal tersebut, Lihat Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 1997), h. 35-36. 
[16]Lihat Abdurrahman Wahid, Menggerakkan, op. cit., h. 16-22.  
[17]Ibid., h. 111.
[18]Lihat Habib Chirzin, Agama dan Ilmu dalam Pesantren dalam H. Dawam Rahardjo, (ed), Pesanstren dan Pembaharuan (Jakarta: LP3S, 1985), h. 23. Lihat juga Suwandi, Rekonstruksi sistem Pendidikan Pesantren; Beberapa Catatan, dalam Marzuki Wahid (Peny), Pesantren Masa Depan; Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), h. 215-216.       
[19]Bakhtiar Effendy, Nilai-nilai Kaum Santri,  dalam M. Dawam Rahardjo (ed), Pergulatan Dunia Pesantren, Membangun dari Bawah (Jakarta: P3M, 1988), h.  49.   
[20] Abdurrahman Wahid, Menggerakkan, h. 10.
[21] Ibid.
[22]Abadurrahman Wahid, Menggerakkan, op. cit., h. 98.
[23]Ibid., h. 100.
[24]Abdurrahman Wahid, Menggerakkan, op. cit., h. 113.
[25]Lihat QS. al-Hujurat : 14 dan QS. al-Maidah: 41)
Post a Comment