Sunday, June 7, 2015

KONFLIK-KONFLIK SOSIAL MASA KINI DALAM HUBUNGANNYA ANTAR UMAT BERAGAMA (Kajian Sosial dan Teologis)



I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah negara dengan penduduk yang multietnis, multireligius dan multibudaya. Indonesia terdiri atas 300 suku dengan berbagai macam adat, budaya, bahasa dan agama yang tersebar di sekitar 17.508 pulau.[1] Keanerakaragaman penduduk Indonesia ini tidak hanya bisa menjadi potensi positif yang makin membuat Indonesia menjadi lebih dinamis, tetapi juga bisa menjadi bencana kalau tidak dikelola dengan baik.
Tidak dapat dipungkiri bahwa keanekaragaman masyarakat Indonesia dapat menimbulkan potensi konflik horisontal yang memecah belah persatuan dan kesatuan NKRI. Kondisi ini dapat dilihat dari berbagai konflik horisontal seperti kasus kerusuhan di Ambon, Pontianak, Poso, Mamasa, dan Sampit yang menelan korban meninggal ratusan bahkan ribuan penduduk akibat pertikaian yang dilatarbelakangi oleh masalah SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan). Peristiwa yang tak kalah memiriskan adalah peristiwa Bom Bali I dan II, Bom di Hotel W. Marriot, Bom di Malam Natal dan lain-lain makin menambah kompleksitas permasalahan konflik horisontal yang berlatar belakang agama.[2]
       Konflik horisontal yang terjadi di Indonesia di samping disebabkan oleh kondisi kesenjangan ekonomi dan persoalan elit politik juga diperparah oleh gerakan radikalisme yang mengatasnamakan agama sebagai legitimasi untuk membunuh dan merusak kehidupan orang lain, dengan dalih bahwa mereka yang dibunuh dan dianiaya adalah orang-orang yang “kafir” yang “merongrong” kehidupan agamanya. Sikap inilah yang kemudian menimbulkan adanya stigma negatif dengan istilah “terorisme” yang kemudian oleh Barat hanya diperuntukkan kepada setiap gerakan Islam fundamental atau radikal. Meskipun pada esensinya bahwa dalam gerakan radikal, baik yang dilakukan oleh umat Islam maupun Nasrani dengan dalih “melindungi kesucian doktrin agama” yang sering menimbulkan gerakan dan perbuatan merusak dan membunuh adalah dilarang oleh ajaran agama mereka sendiri.
Peristiwa-peristiwa yang disebutkan di atas, di samping disebabkan karena persoalan ekonomi dan politik, tema kekerasan antar pemeluk agama memang tidak dapat dipungkiri dalam realitas setiap kejadian kerusuhan di Indonesia. Dari paparan tersebut, pertanyaannya adalah benarkah kekerasan dan terorisme tidak ada kaitan dengan agama? Sulit untuk mengatakan dengan pasti. Dikatakan "ya" seolah menarik agama dalam dunia kotor yang bertentangan dengan makna agama itu sendiri. Namun dikatakan "tidak" juga seolah menutup kenyataan bahwa para pelakunya seringkali menggunakan simbol dan spirit agama. Realitas bahwa agama seringkali terlibat (atau dilibatkan) dalam tindakan kekerasan dan terorisme, tidak perlu ditutupi. Ini memang kenyataan pahit yang harus diterima. Keberanian untuk mengakui, tidak selalu berarti menjadikan agama “berwajah hitam” karena di luar itu ada komunitas lain yang memaknai doktrin agamanya secara berbeda. Jika demikian, masalahnya tidak melulu terletak pada doktrin agama, tapi lebih pada interpretasi atas doktrin itu.[3]
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ketika dipersepsi, dipahami, dan dimanifestasikan dengan cara yang salah, agama memiliki potensi untuk menjelma menjadi iblis yang menebarkan angkara murka. Agama bukan lagi sesuatu yang diyakini manusia sebagai garda depan penjaga ketertiban di muka bumi. Sebaliknya agama justru memunculkan polemik, kericuhan, dan pertikaian di antara umat manusia.
Apa dan bagaimana pun ajaran tiap agama, ketika perilaku para pemeluk agama cenderung ke arah kekerasan dan pengrusakan dalam interaksinya dengan sesama; ketika orang-orang di sekitarnya merana dan meradang oleh sikap para pemeluk agama; dan ketika sikap apatis lebih ditonjolkan di atas penderitaan orang lain, maka pada saat itulah penyimpangan atas ajaran agama terjadi.
Kajian ini akan mendeskripsikan tentang beberapa aspek menyangkut masalah eksistensi agama dalam konteks konflik sosial antar umat beragama, sebab konflik sosial dalam beragama dan peranan agama dalam penyelesaian konflik sosial.

B. Permasalahan
Dari uraian yang dipaparkan pada latar belakang, dapat diformulasikan permasalahan pokok sebagai berikut:
1.      Bagaimana eksistensi agama dalam konteks konflik sosial?
2.      Apa sebab konflik sosial antar umat beragama?
3.      Bagaimana peranan agama dalam penyelesaian konflik sosial antar umat beragama?

II. PEMBAHASAN
A. Eksistensi Agama dan Konflik Sosial
  Masih relevankah agama bagi kehidupan umat manusia saat ini ? Pertanyaan tersebut diajukan oleh seorang pengusaha muda di daerah, kepada salah seorang cendekiawan muslim H.M. Qasim Mathar. Menurut Qasim, jawaban atas pertanyaan tersebut, bisa iya dan bisa tidak. Kalau berpijak pada kondisi dinamika sosial masyarakat di berbagai wilayah di negara kita yang dilanda kerusuhan dan agama dijadikan alasan pembenaran, maka agama yang senantiasa mengajarkan kedamaian dan ketenteraman sudah tidak relevan lagi. Akan tetapi, jika ajaran agama itu dilaksanakan sebagaimana mestinya dan dipahami secara tepat dan tidak dipinggirkan, maka agama untuk saat ini masih relevan. Masih menurut Qasim, ia memulai jawabannya dengan menyatakan: Pertanyaan Anda tidak relevan untuk saya. Pertanyaan seperti itu hanya cocok bagi umat beragama yang lagi bermusuhan dengan menjadikan ajaran agama sebagai alat pembenaran.[4]
Ada lima tanda penyimpangan yang menunjukkan kapan sebuah agama menjelma bencana.[5] Penyimpangan itu selalu ada ketika agama bermetamorfosis menjadi semacam makhluk buas pengganggu kedamaian. Sebenarnya, jika agama masih tetap di atas jalur semula dan sejalan dengan sumber autentiknya, niscaya ia akan secara aktif membongkar penyimpangan ini.
Tanda pertama, absolute truth claims. Klaim kebenaran mutlak merupakan efek utama dari elemen fundamental pada setiap agama. Ghalibnya, agama mengajarkan doktrin keabsolutan kebenaran kepada para pengikutnya. Tapi yang amat disayangkan adalah bahwa agama menerapkan standar-ganda (double-standard) dalam memahami kehidupan keberagamaan. Standar yang dipakai untuk memahami agama sendiri adalah standar ideal, yang menurut J. D’Adamo diyakini bersifat konsisten dan berisi kebenaran-kebenaran yang tanpa kesalahan sama sekali, bersifat lengkap dan final, satu-satunya jalan kebenaran, dan seluruh kebenaran tersebut diklaim benar-benar asli dari Tuhan. Sedangkan standar yang dipakai dalam menilai agama lain sepenuhnya terbalik. Agama lain dianggap salah, sesat, bahkan kafir. Hal ini tidak akan menimbulkan permasalahan pelik apabila tidak berimplikasi pada hubungan interaktif umat beragama. Merupakan paradoks jika para pemeluk agama selalu bicara tentang kerukunan dan keharmonisan antar umat beragama, tetapi di balik itu memperlihatkan wajah sinis dalam penilaiannya terhadap agama lain. Ideologi klaim kebenaran mutlak yang berimbas pada sikap standar-ganda terbukti telah menciptakan suasana chaos yang tiada henti dalam sejarah kehidupan manusia.
Kedua, blind obedience. Yaitu sikap taqlid al-a’ma atau immitation dalam istilah Ziauddin Sardar, ketaatan buta mengesampingkan akal sehat dan sikap kritis dalam memahami ajaran agama.[6] Menurut Abdul Karim Soroush, sikap ketaatan buta mencampuradukkan antara “agama” dengan “pemahaman agama”. Sikap ketaatan buta menjebak pemeluk agama dalam rongga doktrinasi yang tidak benar dan membuat mereka lupa akan fitrahnya sebagai makhluk sosial. Pada titik puncak, sifat ketaatan buta melahirkan individu-individu yang lebih menghambakan diri pada ajaran agama dan bukan kepada Tuhan. Mereka juga akhirnya bersikap asosial, menarik diri dari kemungkinan dialog dengan masyarakat, dan lebih parah lagi, sentimen kepada pemeluk keyakinan lain.[7]
Ketiga, establishing the “ideal” time, membangun masa ideal. Aplikasinya bisa beragam. Pemeluk agama Yahudi ingin menjadikan tafsir kitab suci sebagai ketegasan Tuhan dengan mendirikan negara Israel dan menguasai Jerussalem. Gerakan Kristen di Amerika, the Moral Majority and Christian Coalition, berniat memberlakukan ajaran Tuhan sebagai hukum positif yang menjamin keteraturan hidup manusia. Sementara itu, orang Islam memiliki fantasi utopis untuk mewujudkan kembali masa keemasan berupa negara Islam. Menurut Kimball, agama akan rentan manipulasi dan menjadi sangat berbahaya apabila pemeluknya merasa menjadi wakil Tuhan di muka bumi, lalu berusaha merumuskan gagasan struktur ideal tentang negara atas nama titah langit, padahal secara de facto pelaksanaannya tergantung pada ijtihad manusia.[8]
Keempat, the end justifies the means. Tujuan akhir membenarkan cara apa pun. Dalam usaha menggapai cita-cita mewujudkan masa ideal, pemeluk agama acapkali menghalalkan segala metode bahkan yang destruktif sekalipun. Tidak peduli dengan hak masyarakat sekitar atau persoalan lingkungan. Bagi Kimball, seharusnya ada keseimbangan antara sarana dan tujuan. Pengamalan ajaran secara utuh tentu tidak akan menjustifikasi cara yang berseberangan dengan petunjuk agama.[9]
Tanda terakhir, declaring holy war. Mengobarkan semangat “perang suci” adalah salah satu cara yang salah tapi dibenarkan untuk mencapai tujuan. Preseden paling mencolok diperlihatkan oleh umat Kristiani dan Islam. Konfrontasi berdarah kedua pemeluk agama ini selama bertahun-tahun khususnya yang terabadikan dalam sejarah Perang Salib[10] memberikan pelajaran bagaimana ganasnya agama ketika berubah menjadi kekuatan jahat. Dalam Islam, doktrin declaring holy war terwujud berupa konsep tentang jihad yang ditafsirkan secara semena-mena sebagai agresi tanpa batas atas nama Tuhan melawan pemeluk agama lain. Sedangkan rujukan perang suci Kristen bersumber kepada doktrin Perang Adil pada mula kekuasaan Constantine dan Perang Salib yang diserukan oleh Paus Urban II.[11]
Karen Armstrong dalam Mu’adz D’Fahmi, menyatakan bahwa rusaknya agama yang ditandai dengan deklarasi perang suci merupakan akibat dari adanya kelompok fundamentalis dalam Islam, Kristen, dan Yahudi. Mereka memiliki satu karakter umum, yaitu sikap fanatisme berlebihan dalam beragama. Gagasan tentang perang suci selalu dapat ditemukan dalam kelompok pemeluk agama yang fundamentalis.[12]
Tak dapat dipungkiri, fenomena kehidupan beragama di dunia telah banyak menunjukkan tanda-tanda akan kerusakannya. Ini bukan berarti bahwa agama lebih potensial menimbulkan bencana. Agama tetap saja merupakan sesuatu yang bebas nilai dan netral. Ibarat sebuah koin, agama memiliki dua sisi muka: kebaikan dan keburukan sekaligus. Apakah agama akan menjadi kekuatan penjaga kedamaian atau penyebar hawa kegelapan, sepenuhnya tergantung pada siapa pemeluknya dan bagaimana ia memperlakukan agama tersebut. Jika pemeluk agama pada dasarnya memiliki sikap dan itikad baik, niscaya ia akan memahami ajaran dengan cara yang baik pula. Kebalikannya, jika pemeluk agama bersifat iri, dengki, pemarah, dan tidak toleran terhadap sesama, maka dapat dipastikan pada saat itulah agama sedikit demi sedikit menjelma bencana.
Masyarakat dunia dewasa ini sementara bergelut dengan sejumlah problema yang ditimbulkan dari pemikiran modernisasi, yaitu semakin menipisnya dan dangkalnya penghayatan dan pengamalan ajaran agama. Hal ini, memunculkan problema baru, yakni lahirnya berbagai krisis, diantaranya kemerosotan nilia-nilai moral, berkembangnya gaya hidup korup, menipisnya kekuatan hukum, tidak tegaknya kejujuran dan keadilan serta terkoyaknya perdamaian, kesatuan, dan integrasi sosial. Selain itu, timbul pula sebuah fenomena sosial kehidupan masyarakat yang cenderung memberi perhatian khusus hanya kepada hal-hal yang berorientasi untuk kepentingan material ketimbang pemekaran nyali sprititual. Hal ini berdampak pada rusaknya tatanan dan etos kerja.
Pada prinsipnya semua agama mengakui adanya perbedaan dan polarisasi sosial. Islam sendiri melihat fenomena pluralitas tersebut sebagai sebuah sunnatullah, sebagai hukum alam dan sebagai realitas empiris terhadap dunia manusia.[13] Kendati demikian, ini bukan berarti agama, dalam hal ini khususnya Islam, mentolerir social inequality (perbedaan sosial) yang menyebabkan terjadinya perpecahan. Sebaliknya agama memiliki cita-cita sosial untuk secara terus menerus menegakkan egalitarianisme dan keadilan dituntut kepada setiap pemeluknya. Ini dipandang sebagai ibadah yang sangat tinggi di mana manusia harus mewujudkan keadilan sosial di tengah masyarakat.
  Sebenarnya kesempatan berkompetensi secara sehat dalam mempertahankan kehidupan sangat dimungkinkan dalam agama dan terbuka bagi setiap individu. Perjuangan dan keterlibatan individu akan menentukan kualitas masing-masing sebagai khalifah. Namun demikian, dalam kompetisi tersebut agama juga menetapkan batas-batas dalam pemanfaatan sumber daya alam dan lapangan kerja. Pembatasan tersebut dimaksudkan agar dapat menghilangkan eksploitasi suatu kelompok atas kelompok lain dan menyelamatkan manusia dari kemerosotan[14] Salah satu wujud kemerosotan itu tercermin dalam fenomena konglomerasi sebagai eskpresi kecemburuan sosial.[15]
Dengan demikian jelas agama melarang terjadinya konsentrasi dan monopoli terhadap kekayaan yang juga termasuk kekuasaan, karena hal itu akan menyebabkan terjadinya ketidakadilan. Kekuasaan dapat berubah menjadi alat penindasan, menjadi taghout yang ujung-ujungnya melahirkan konflik sosial mengatasnamakan agama. Islam misalnya, merupakan agama yang sangat jelas menentang terjadinya konflik baik sesamanya maupun dengan orang yang berbeda agama. Kata Islam atau ucapan assalamu’alaiukum merupakan sebuah doa agar orang lain merasakan kedamaian.
  Agama menuntun manusia ke jalan kedamaian. Allah, Tuhan Yang Maha Esa menciptakan sesuatu berdasarkan kehendakNya. Semua ciptaanNya adalah baik dan serai sehingga tidak mungkin kebaikan dan keserasian itu mengantar kepada kekacauan dan pertentangan.      Makhluk Tuhan yang diciptakan ini sebenarnya bersumber dari satu sumber (Q.S.al-Anbiya : 22). Demikian pula halnya manusia, dia tercipta dari tanah melalui seorang ayah dan ibu. Oleh karenanya manusia hidup bukan saja harus berdampingan harmonis dengan sesama manusia tetapi juga dengan lingkungan. Bukankah ketika manusia mati, dia kembali lagi ke tanah ?.

B. Sebab-Sebab Konflik Sosial Antar Umat Beragama
Konflik sosial dalam beragama yang terjadi selama ini tidak ada yang dilatarbelakangi oleh doktrin agama, akan tetapi lebih banyak disebabkan oleh kriminal-kriminal murni yang kemudian mengatasnamakan agama. Oleh karena itu, Menurut Ridwan Lubis, konflik yang terjadi antara umat beragama selama ini tidak dapat disebut sebagai konflik – dalam pengertian tindakan permusuhan (behavioral hostility) berupa konfrontasi – yang secara nyata dapat diklasifikasikan sebagai konflik antar umat beragama. Kerusuhan tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai konflik sosial yang tidak mengatasnamakan agama tertentu, meski dua kelompok yang bertikai adalah dua penganut agama yang berbeda.[16]
Jika dicermati sedemikian rupa, konflik-konflik yang terjadi di negara kita selama ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan konflik antar umat beragama. Jika dilihat dari karakteristik pelaku, ternyata mereka adalah oknum penganut agama (warga negara) yang sesungguhnya tidak banyak mengetahui doktrin-doktrin agama bahkan hampir tidak memiliki perhatian terhadap agamanya. Demikian pula latar belakang kelompok yang terlibat bukanlah dari kelompok organisasi keagamaan. Lebih dari itu ternyata target yang ingin dicapai dari konflik tersebut juga bukan ditujukan untuk agama tertentu, tetapi lebih banyak menyangkut masalah kepentingan ekonomi dan politik.
Adapun beberapa hal yang dapat menimbulkan konflik sosial yaitu ;
1. Pemahaman ajaran agama yang sempit
  Agama pada dataran pemahaman dan praktik, bukan pada dataran kewahyuan, memang dapat menimbulkan konflik sosial baik bersifat latent maupun manifest. Pada dasarnya agama yang ada di dunia ini menawarkan konsep-konsep bernilai luhur seperti keselamatan, kedamaian dan cinta kasih. Akan tetapi sudah merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal bahwa sintemen agama dan simbolnya sangat kental mewarnai kekerasan, penidasan dan kerusuhan yang terjadi.
Dalam agama (Islam) misalnya, telah diajarkan tiga konsep status manusia dan peranannya. Pertama, jika ia berhadapan dengan Allah, maka statusnya adalah sebagai hamba Allah dan peranannya adalah menjalankan perintah agama. Kedua, jika ia berhadapan dengan sesama manusia, maka statusnya adalah saudara. Peranannya adalah menyambung, meningkatkan dan memperkuat persaudaraannya, baik saudara sebagai anak – cucu Adam, saudara sebangsa dan setanah air meski berbeda warna ; kulit, bahasa dan agama. Ketiga, jika ia berhadapan dengan lingkungan, statusnya adalah sebagai khalifah dan peranannya adalah memakmurkan bumi dan segala isinya. Dengan demikian, sebenarnya jika dipahami ajaran agama secara baik dan benar, maka manusia hidup dalam kerukunan dan ketentraman
2. Kesenjangan sosial-ekonomi
Perbedaan yang terjadi secara individual dalam dataran kehidupan manusia merupakan realitas yang tidak dapat dihindari. Sebagian orang lebih baik dari orang lain dalam hal jasmani, akal, kekayaan, jabatan dan lain-lain merupakan kenyataan yang dimaksud.
Akibat perbedaan tersebut, muncullah stratifikasi masyarakat yang terkelompok ke dalam golongannya masing-masing. Ada individu yang mampu menghasilkan lebih atau cukup, ada pula kurang, bahkan ada yang sama sekali tidak mampu menghasilkan apa-apa.[17]
Kesenjangan sosial yang terjadi saat ini tidak lepas dari adanya strata masyarakat seperti tersebut di atas. Ketimpangan sosial pada mulanya berawal di bidang ekonomi yaitu di bidang pemenuhan materi, akan tetapi lama kelamaan tidak dapat dipungkiri hal ini meluas ke sektor lain yaitu sosial, politik, budaya dan agama.[18]
Dalam masyarakat modern seperti sekarang ini kesenjangan sosial tampak sangat kompak, karena tidak lagi dapat dipisahkan antara faktor-faktor yang ada. Faktor tersebut sangat terkait satu sama lain. Kesenjangan ekonomi hampir sulit dipisahkan dengan politik atau lainnya.
Realitas sosial objektif di Indonesia saat berupa kesenjangan kaya-miskin, ketidakadilan sosial bahkan ketidakadilan dalam arti distribusi kekuasaan masih begitu mencolok, bahkan ada fenomena kecenderungan kekuasaan berjalan seirama dengan kekayaan. Artinya jika ia menjabat, maka ia menjadi orang kaya. Sebaliknya jika ia orang kaya, tampaknya jabatan dapat dibelinya.
Kerusuhan yang terjadi di Makassar tahun 1997 (penyerangan terhadap kelompok Tionghoa), pengusiran warga Madura oleh suku Daya di Kalimantan Tengah, diusirnya kelompok BBM (Bugis, Buton, Makassar) dari Ambon, merupakan contoh-contoh konflik akibat kesenjangan sosial ekonomi.
Dalam masyarakat miskin seperti di Indonesia yang terus mengadakan perubahan (pembangunan) seirama dengan masyarakat dunia modern, tidak dapat dihindari adanya disparitas pendapatan dan sosial yang memungkinkan timbulnya kesenjangan yang berakibat konflik, karena ada beberapa kelompok yang lebih mampu memanfaatkan kesempatan baru yang diberikan oleh pembangunan tersebut. Dengan demikian ada yang merasa diuntungkan dan ada yang merasa dirugikan dan pada tahap inilah kerusuhan sosial seperti di atas dapat terjadi.
3. Provokasi pihak ketiga
Banyak pihak yang mensinyalir bahwa hampir setiap kerusuhan yang terjadi dipicu oleh adanya intervensi dan provokasi pihak ketiga atau dikenal dengan provokator. Kesimpulan ini diambil atas dasar adanya fenomena keseragaman pola dan waktu terjadinya kerusuhan, seperti peristiwa bom di malam natal, tragedi etnis Tionghoa di bulan Mei 1998. Hanya saja pihak ketiga ini sampai saat ini masih sulit diidentifikasi.
 4. Fanatisme terhadap partai politik
Fanatisme kepartaian ternyata juga dapat menyulut konflik antar umat beragama. Hal ini terjadi di Pekalongan pada tahun 1997. Di Pekalongan mayoritas masyarakat mengidolakan PPP sebegai partainya. Akan tetapi Golkar melalui pendekatannya terhadap kyai dan birokrasi sanggup mengimbangi arus suara PPP. Ternyata hal ini memicu terjadinya konflik yang tadinya hanya sebatas konflik antara pendukung partai, tetapi akhirnya merembet ke konflik agama.[19]

C. Peranan Agama dalam Penyelesaian Konflik Sosial Antar Umat Beragama
Secara substansial, sebenarnya agama tidak pernah mengalami konflik satu sama lain. Yang terjadi saat ini adalah konflik antara pemeluk/umat beragama yang disebabkan oleh faktor-faktor eskternal agama tetapi kadangkala mengatasnamakan agama.
Oleh karena yang bertikai adalah para pemeluk agama, maka yang aktif melakukan penyelesaian konflik adalah subjek yang bersangkutan. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh antara lain ;
1. Peningkatan pemahaman keberagamaan
Rendahnya kualitas pemahaman terhadap agama dapat memicu konflik akibat pemikiran inklusivisme yang menganggap hanya diri dan keyakinannya saja yang paling benar. Demikian pula sempitnya pemahaman masyarakat terhadap simbol dan term-term agama seperti istilah jihad, dimaknai sebagai sebuah peperangan suci menghantam orang yang berada di luar agamanya.
Menurut K. H. A. Khalik Yahya, selama ini pula pesantren yang juga merupakan basis pengembangan Islam hanya mengajarkan agama kepada para santri dengan pola berfikir linier, satu arah, berwawasan sempit, fanatisme dan kurang menerima perbedaan.[20] Oleh karena itu, dalam pemberian materi keagamaan hendaknya diberikan variasi dengan memberikan berbagai pendapat ulama yang akhirnya dapat membentuk sikap toleransi dalam beragama maupun dalam bermazhab.
M. Quraish Shihab menggambarkan bagaimana sesungguhnya Islam menggambarkan ide dasar kerukunan dan demokrasi. Menurut beliau, agama – dalam hal ini Islam – diturunkan tidak saja bertujuan mempertahankan eksistensinya sebagai agama tetapi juga mengakui eksistensi agama lainnya dan memberinya hak hidup berdampingan sambil menghormati pemeluk agama lain.
Beliau memberikan contoh dengan mengutip beberapa ayat al-Qur’an antara lain :
1.        Q.S. al-An’am : 108. “Jangan mencerca orang yang tidak menyembah selain Allah.”
2.        Q.S. al-Baqarah : 256. “Tidak ada paksaan untuk menganut agama (Islam).”
3.        Q.S. al-Kafirun :6. “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.
4.        Q.S. al-Hajj : 40. “Seandainya Allah tidak menolak keganasan sebagian orang atas sebagian yang lain (tidak mendorong kerjasama antar manusia) bicara rubuhlah biara-biara, gereja-gereja, rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah”.
Ayat di atas dijadikan oleh sebagian para ulama sebagai argumen keharusan memelihara tempat ibadah non muslim.[21]  
Jika pemahaman keagamaan yang seperti ini dapat disosialisasikan kepada semua pemeluk agama, di mana intinya setiap agama senantiasa menjunjung tinggi keadilan, kedamaian dan keharmonisan, maka konflik sosial yang mengatasnamakan agama dapat dihindari.
 Dengan demikian, untuk mengembangkan kerukunan antar umat beragama, maka diperlukan pendekatan pemahaman keagamaan yang pluralis-dialogis. Pendekatan ini akan menghargai dan menempatkan orang lain dalam perspektif saya, dan menempatkan saya dalam kehadiran orang lain.
Untuk hal tersebut di atas, maka para tokoh agama dan juru penyeru agama lain perlu memiliki sikap luhur, yaitu : pertama, hilangkan sikap saling curiga dan jangan menanamkan benih-benih permusuhan dan kebencian; kedua, jangan melakukan generalisasi dalam melihat suatu fenomena keagamaan, yakni tindakan atau ucapan seseorang atau kelompok penganut agama tertentu lalu digeneralisasikan sebagai sikap menyeluruh dari penganut agama yang bersangkutan; ketiga, kembangkan suasana positive thinking (berfikir positif) dengan berusaha memahami dan menghargai keyakinan orang lain
2. Dialog-dialog pemuka agama
Saat ini diperlukan wacana atau dialog para pemimpin atau tokoh agama untuk meredam ketidakpahaman atau emosi arus bawah. Di Indonesia berlaku teori bayang-bayang. Jika substansi aslinya bergerak, maka bayangannya juga turut bergerak. Artinya apa yang terjadi selama ini lapisan bawah sesungguhnya mencerminkan apa yang terjadi di lapisan atas, hanya saja pola dan modelnya yang berbeda akibat perbedaan pendidikan.
Harus diakui, dalam komunitas tertentu, tokoh agama merupakan figur sentral dalam masyarakat. Pada umumnya seseorang dianggap sebagai tokoh agama karena kharismanya, memiliki dasar pengetahuan teologi, komitmen terhadap ajaran agamanya dan menjadi teladan bagi jemaahnya. Di dalam agama Kristen orang seperti ini antara lain ; pendeta, penginjil, penatua, dan deaken. Di dalam Islam dikenal ustaz, imam, kiyai, guru (ngaji), muballigh. Pola hubungan tokoh dengan umatnya adalah top down. Seorang tokoh bagi umatnya merupakan figur sentral yang dikeramatkan karena kelebihan yang dimilikinya.
Oleh karena itulah diperlukan hubungan dan dialog yang baik antar para tokoh tersebut untuk mencairkan kebekuan dan meredam konflik antar pemeluk agama. Di Desa Sitiarjo, menurut Imam Prayogo kebersamaan umat beragama tampak berjalan dengan baik. Hal ini disebabkan oleh ;
1.    Adanya kunjungan para tokoh agama ke tempat ibadah.
2.    Kerjasama sosial yang melibatkan semua unsur pemeluk agama, misalnya dalam pembangunan jalan dan jembatan.
3.    Jika ada seorang warga yang meninggal, maka seluruh masyarakat ikut membantu tanpa melihat dari agama mana ia berasal.
4.    Tidak adanya pemisahan lokasi pemakaman yang mencolok antara umat Islam dan Kristen.
Suasana dialogis menggambarkan adanya pergaulan antara pribadi-pribadi yang saling berusaha mengenal pihak lain sebagaimana adanya.[22]
Dalam Islam proses dialogis dan toleransi ini sangat jelas. Misalnya dalam sejarah tercatat bahwa masyarakat pendukung Piagam Madinah jelas memperlihatkan karakter masyarakat yang majemuk, baik ditinjau dari segi asal keturunan, maupun segi budaya dan agama. Di dalamnya terdapat Arab Muslim, Yahudi dan Arab Non Muslim. Dalam Piagam Madinah tersebut terlihat beberapa asas yang dianut:
1.      Asas kebebasan beragama, negara mengakui dan melindungi setiap kelompok untuk beribadah menurut agamanya masing-masing.
2.      Asas persamaan. Semua orang mempunyai kedudukan yang sama sebagai anggota masyarakat, wajib saling membantu dan tidak boleh seorangpun diperlakukan secara buruk Bahkan orang yang lemas harus dilindungi dan dibantu.
3.      Asas kebersamaan. Semua anggota masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap negara.
4.      Asas keadilan. Setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama dihadapan hukum. Hukum harus ditegakkan, siapapun yang melanggarnya harus terkena hukuman. Hak individu diakui.
5.      Asas perdamaian yang berkeadilan.
6.      Asas musyawarah.[23]
Dialog antar umat beragama berarti setiap penganut agama bersedia mengemukakan pengalaman-pengalaman keagamaan mereka yang berakar pada tradisi agama masing-masing. Pengertian-pengertian ini menunjukkan bahwa untuk melakukan dialog demi terwujudnya toleransi antar umat beragama diperlukan sikap dasar, seperti : keterbukaan (inklusif), kesediaan bertukar fikiran dengan orang atau kelompok yang jelas-jelas berbeda, saling mempercayai, dan keinginan untuk membangun kehidupan yang membawa rahmat. Kejujuran dalam mengemukakan ide atau fakta akan sangat membantu bagi semua pihak untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab bagi kepentingan bersama.
Sesungguhnya sikap toleransi dan inklusif yang digambarkan di atas, sudah sejak lama dipraktekkan dalam aplikasi dakwah. Dalam hal ini, ajaran Islam sebagai inti pesan-pesan dakwah menghargai kemerdekaan setiap orang untuk memeluk dan mengamalkan suatu agama. Islam mengajarkan bahwa setiap orang yang dilahirkan tidak untuk dirampas kemerdekaannya yang telah diberikan oleh Allah. Mandat yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw. hanyalah terbatas pada menyampaikan ajaran Islam dan bukan untuk memaksa orang lain untuk memeluk Islam, sebab mandat untuk memberikan hidayah hanya dimiliki oleh Allah semata-mata.

III. PENUTUP
Dari paparan yang dikemukakan pada pembahasan, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan penting, yaitu:
1.   Ada lima tanda penyimpangan yang menunjukkan kapan sebuah agama menjelma bencana, yaitu: 1) Absolute truth claims, 2) Blind obedience, 3) Establishing the “ideal” time, 4) The end justifies the means, dan 5) Declaring holy war.
2.   Terdapat beberapa hal yang dapat menimbulkan konflik sosial antar umat beragama, yaitu: 1) Pemahaman ajaran agama yang sempit, 2) Kesenjangan sosial-ekonomi, 3) Provokasi pihak ketiga, dan 4) Fanatisme terhadap partai politik.
3.      Beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam penyelesaian konflik sosial antar umat beragama, yaitu: 1) Peningkatan pemahaman keberagamaan, dan 2) Dialog-dialog antar pemuka agama.


DAFTAR PUSTAKA

Ali, K. A Study Of Islamic History, diterjemahkan oleh Gufron A. Mas’adi dengan judul “Sejarah Islam Tarikh Pramoderen”. Cet. III; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.
Basyir, Azhar. Refleksi atas Persoalan Keislaman. Bandung : Mizan, 1993.
D’Fahmi, Mu’adz. Ketika Agama Menjelma Bencana. Internet, tanggal dimuat 13 Juli 2003.
Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedia Islam. Cet. III; Jakarta: Van Houve,
Focus Group Discussion, Revitalisasi Kelompok Moderat: Memperkuat Integrasi Sosial pada Komunitas Lintas Agama.. Jakarta: UIN Jakarta, 2008.
Hendropuspito, D. Sosiologi Agama. Cet. II, Yogyakarta : Kanisius, 1994.
Hitti, Philip K. The Arab’s a Short History, diterjemahkan oleh Ushuluddin Hutagalung dan O.D.P. Sihombing dengan judul Dunia Arab Sejarah Singkat,. Cet.III; Bandung: Votkink Van Hoeve, t.th..
Idris, Ja’far Syah. Perspektif Muslim tentang Perubahan Sosial. Terjemahan. Bandung: Pustaka, 1998.
Katu, Samiang. Studi-Studi Agama di Perguruan Tinggi. Mencari Akar Masalah Konflik Antar Umat Beragama).. Makassar: UIN Alauddin Makassar, 2002.
Kimball, Charles. When Religion Becomes Evil. t.t.: t.p., 2003.
Kuntowijoyo. Paradigma Islam. Bandung: Mizan, 1991.
Lubis, M. Ridwan. Relevansi Pengembangan Ilmu-ilmu Agama dengan Dunia Kerja di Era Globalisasi, dalam Syahrin Harahap. ed.), Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi. Cet. I; Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001.
Mas’udi, Farid. Agama Keadilan Risalah Zakat dalam Islam. Jakarta : Pustaka Firdaus, 1991.
Pabotinggi, Mokhtar. Kontektualisasi Islam dalam Sejarah. Jakarta: Paramadina, 1994.
Rumadi, Perselingkuhan Agama dan Terorisme. Jakarta: UIN Jakarta, 2003. 73.
Sahul Sunda, Kronologi Kekerasan di Indonesia 1996 – 2001. cyber_warrior2001@hotmail.com. Minggu, 4 Maret 2001.
Shiddiq, Nourouzzaman. Jeram-jeram Peradaban Muslim. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996. 85-86.
Shihab, M. Quraish. Wawasan al-Qur'an. Cet. II; Bandung: Mizan, 1996.
Sianturi, Eddy M. Konflik Poso dan Resolusinya,. Jakarta: Balitbang Departemen Pertahanan, 2005
Simuh. Islam Tradisional dan Perubahan Sosial. Bandung: Mizan, 2001.
Soroush, Abdul Karim. Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama. Bandung: Mizan, 2002.
Suara Merdeka, Agama, Negara, Toleransi dan Pluralisme. “Tajuk Rencana” Edisi Sabtu 24 November 2001
Zardar, Ziauddin. Information and the Muslim World: Strategy for the Twenty First Century, diterjemahkan oleh A. E. Priyono dan Ilyas Hasan dengan judul Tantangan Dunia Islam Abad 21 Menjangkau Informasi.. Cet. IV; Bandung: Mizan, 1994.




















[1]Lihat Suara Merdeka, Agama, Negara, Toleransi dan Pluralisme. “Tajuk Rencana” Edisi Sabtu 24 November 2001
[2]Lihat Eddy M. Sianturi, Konflik Poso dan Resolusinya, (Jakarta: Balitbang Departemen Pertahanan, 2005). Lihat pula Focus Group Discussion, Revitalisasi Kelompok Moderat: Memperkuat Integrasi Sosial pada Komunitas Lintas Agama. (Jakarta: UIN Jakarta, 2008). Bandingkan dengan Sahul Sunda, Kronologi Kekerasan di Indonesia 1996 – 2001. cyber_warrior2001@hotmail.com. Minggu, 4 Maret 2001.
[3]Rumadi, Perselingkuhan Agama dan Terorisme (Jakarta: UIN Jakarta, 2003), h. 73.
[4]H. Samiang Katu, Studi-Studi Agama di Perguruan Tinggi (Mencari Akar Masalah Konflik Antar Umat Beragama). (Makassar: UIN Alauddin Makassar, 2002), h. 7.     
[5]Lihat Mu’adz D’Fahmi, Ketika Agama Menjelma Bencana. Internet. diakses tanggal 13 April 20015
[6]Ziauddin Zardar, Information and the Muslim World: Strategy for the Twenty First Century, diterjemahkan oleh A. E. Priyono dan Ilyas Hasan dengan judul Tantangan Dunia Islam Abad 21 Menjangkau Informasi. (Cet. IV; Bandung: Mizan, 1994), h. 62.
[7]Lihat Abdul Karim Soroush, Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama (Bandung: Mizan, 2002), h. 38.
[8]Charles Kimball, When Religion Becomes Evil (t.t.: t.p., 2003), h. 162.
[9]Charles Kimball, When Religion Becomes Evil, h. 162.
[10]Disebut Perang Salib karena ekspedisi militer Kristen mempergunakan salib sebagai simbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci dan bertujuan untuk membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari tangan orang-orang Islam. Di samping itu ada dugaan bahwa pihak Kristen dalam melancarkan serangan tersebut didorong oleh motivasi keagamaan. Perang Salib ini berlangsung sekitar tahun 1095 M sampai dengan 1291 M. terjadi selama hampir dua abad. Lihat Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedia Islam, (Cet. III; Jakarta: Van Houve, 1994), h. 240. Lihat juga K. Ali, A Study Of Islamic History, diterjemahkan oleh Gufron A. Mas’adi dengan judul Sejarah Islam Tarikh Pramoderen (Cet. III; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), h. 274.
[11]Faktor agama menjadi dominan sebagai penyebab terjadinya perang salib. Lihat selengkapnya pada Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedia Islam, h. 240. Bandingkan dengan Philip K. Hitti, The Arab’s a Short History, diterjemahkan oleh Ushuluddin Hutagalung dan O.D.P. Sihombing dengan judul Dunia Arab Sejarah Singkat, (Cet.III; Bandung: Votkink Van Hoeve, t.th.), h. 209.
[12]Mu’adz D’Fahmi, Ketika Agama Menjelma Bencana.
[13]Kuntowijoyo, Paradigma Islam (Bandung: Mizan, 1991), h. 296. 
[14]Ja’far Syah Idris, Perspektif Muslim tentang Perubahan Sosial. Terjemahan (Bandung: Pustaka, 1998), h. 94.
[15]Mokhtar Pabotinggi, Kontektualisasi Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1994), h. 619.
[16]M. Ridwan Lubis, Relevansi Pengembangan Ilmu-ilmu Agama dengan Dunia Kerja di Era Globalisasi, dalam Syahrin Harahap (ed.), Perguruan Tinggi Islam di Era Globalisasi (Cet. I; Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), h. 40.
[17]Azhar Basyir, Refleksi atas Persoalan Keislaman (Bandung : Mizan, 1993), h. 186.
[18]Masdar F. Mas’udi, Agama Keadilan Risalah Zakat dalam Islam (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1991), h. 185.
[19]Simuh, Islam Tradisional dan Perubahan Sosial (Bandung: Mizan, 2001), h. 16.
[20]Simuh, Islam Tradisional dan Perubahan Sosial, h. 18.
[21]M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur'an (Cet. II; Bandung: Mizan, 1996), h. 379 – 380.
[22]D. Hendropuspito, Sosiologi Agama (Cet. II, Yogyakarta : Kanisius, 1994) h. 172.
[23]Nourouzzaman Shiddiq, Jeram-jeram Peradaban Muslim (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 85-86.
Post a Comment