Friday, June 12, 2015

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDIA



I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
          Sejarah mencatat bahwa dunia Islam mengalami masa kemunduran setelah bangsa Mongol mengadakan serangan ke wilayah Barat. Satu demi satu wilayah-wilayah Islam jatuh ke tangan mereka. Transoxiana dan khawarizm dikalahkannya pada 1219 M, Gasna pada 1221 M, Azerbaijan pada 1224 M dan Saljuk di Asia kecil pada 1243 M. Setiap daerah yang dilaluinya juga hancur, bangunan- bangunan yang bernilai sejarah, Sekolah-sekolah, gedung-gedung dan mesjid-mesjid musnah dibakar. Demikian pula pembantaian terjadi secara besar-besaran. Serangan yang dilakukan oleh bangsa Mongol tidak hanya sampai di sana, tetapi juga Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khasanah ilmu pengetahuan juga hancur dibumi hanguskan pada 1258 M.[1] Kehancuran kota Baghdad ini merupakan pukulan telak yang menentukan bagi peradaban Islam selanjutnya.
            Ekspansi terakhir yang dilakukan bangsa Mongol terjadi pada permulaan abad XV dipimpin oleh Timur Lenk yang terkenal bengisnya. Pada waktu itu bangsa Mongol yang ada di wilayah barat telah memeluk Islam. Akan tetapi, hal itu tidak membawa perubahan pada tingkah laku mereka termasuk Timur Lenk. Kebiadaban tampak dalam usahanya menumpuk tengkorak manusia sebanyak 70.000 setelah serbuan ke kota Isfahan di Persia. Kerajaan Timurlah yang dibangun Timur Lenk terpecah belah pada akhir abad XV, hingga akhirnya runtuh. Wilayah kerajaan tersebut kemudian diperebutkan oleh dua suku Turki, yaitu Kara Koyunlu dan Ak Koyunlu.
         Pada kurun waktu 1500-1800 M, pasca keruntuhan dinasti bangsa Mongol, muncul tiga kerajaan besar. Tiga kerajaan tersebut adalah kerajaan Turki Usmani di Turki, kerajaan Safawi di Persia dan kerajaan Mughal di India. Ketiga kerajaan ini kemudian mencapai kemajuannya dan kejayaanya masing-masing. Meskipun umat Islam pada masa ini meraih kemajuan diberbagai bidang, tapi belum dapat menyaingi kemajuan yang dicapai pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya pada bidang Ilmu pengetahuan. Namun menarik untuk dikaji, karena kemajuan pada masa ini terwujud setelah dunia Islam mengalami kemunduran beberapa abad lamanya.[2]
            Kajian dalam makalah ini akan difokuskan pada pembahasan mengenai sejarah masuknya Islam di India dan perkembangannya. Kajian ini menjadi cukup penting karena India sebagai negara dengan penduduk mayoritas memeluk agama Hindu dan menjadi negara kedua di dunia dengan populasi terbesar, diprediksi pada tahun 2050 akan memiliki populasi muslim terbesar di dunia yang akan mengalahkan Indonesia.

B. Permasalahan
            Dari latar belakang, dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana sejarah masuknya Islam ke India?
2.      Bagaimana perkembangan Islam di India?

II. PEMBAHASAN
A. Masuknya Islam di India
            Islam diperkirakan masuk ke India pada abad ke-7 melalui jalur perdagangan. Dalam rangka perluasan wilayah Islam, Khalifah Umar bin Khattab dan Usman bin Affan pernah merencanakan untuk menaklukkan India. Namun rencana itu baru bisa dilaksanakan secara efektif pada masa pemerintahan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada masa itu awal dari kekuasaan Islam di India. Barulah gubernur Irak yang bernama Hajjaj bin Yusuf As-Saqifi pada masa khalifah Umayyah, al-Walid bin Abdul Malik yang mengirimkan eksepedisi untuk menangani perampokkan kapal yang dilakukan oleh suatu kelompok yang dilakukan Raja Dahir (salah seorang penguasa di Sind) pada tahun 706 di Dybut (dekat karachi sekarang). Kapal-kapal yang dirampok tersebut berisi hadiah tanda persahabatan Raja Sri Lanka kepada khalifah al-Walid bin Abdul Malik. Eksedisi yang dipimpin oleh seorang jendral perang yang berusia delapan belas tahun bernama Muhammad bin Qasim dan sejak, itu Muhammad bin Qasim berhasil menguasai Dibul dan membebaskan para sandera. Bahkan Raja Dhahir sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut. Kemudian pada 713, wilayah Multan dikuasai Muhammad Qasim dan sejak itu Muhammad Qasim menjadi seorang gubernur Sind untuk pemerintahan Umayyah. Kecakapannya memimpin Sind mendorong banyak orang India masuk Islam.
Setelah Muhammad bin Qasim, ada 10 gubernur dari pemerintahan Umayyah dan 30 dari gubernur dari pemrintahan Abbasiyah yang melanjutkan kekuasaan Islam di India sejak itu melalui kontak senjata antara penguasa Hindu India dan penguasa Islam di berbagai wilayah dekat India, secara bertahap bermunculan berapa wilayah kekuasaan Islam di daerah ini. Sebagai contoh ialah keberhasilan Dinasti Gasnawi menguasai wilayah India, antara lain Wahid Mulatan, Nardin, Thanisar, Barn, Mathura, setelah Gazanawi muncul sejumlah penguasa Islam lainnya seperti Dinasti Guri di India yang berlangsung dari 1173 hingga 1556. Kesultanan Delhi ini tercatat ada beberapa Dinasti yang berkuasa yaitu Dinasti Mamluk (1206-1290), Dinasti Khalji (1206-1320), Dinasti Tugluq (1320-1413), Dinasti Sayid (1414-1451), dan Dinasti Lody (1451-1526). Penguasa Dinasti Lody yang berakhir adalah Ibrahim Lody, tidak dapat memprtahankan kekuasaannya berbagai pemberontakan dan pertentangan Interen keluarga. Penguasa, Kabul, Bubur, saat itu berhasil menyelesaikan kericuhan dalam Dinasti Lody, sehingga pada 1526 ia berhasil menegakkan Dinasti Mughal di anak benua India.[3]

B. Perkembangan Islam di India
Peranan muslim India dalam pengembangan Islam dapat dilihat dalam empat tahapan: pertama, masa sebelum kerajaan Mughal (705-1526): kedua, masa kekuasaan Kerajaan Mughal (1526-1858); ketiga, masa kekuasaan Inggris (1858-1947); tahap keempat, Islam pada negara India sekular (1947 sampai sekarang).
Masuknya kaum muslimin ke anak benua India terjadi dalam tiga gelombang yang terpisah. Orang-orang Arab masuk pada abad ke-8, orang-orang Turki pada abad ke-12, dan orang-orang Afghan pada abad ke-16. Jauh sebelum kerajaan Mughal berdiri, sebenarnya sejak abad ke-1 Hijriah, Islam telah masuk ke India ketika Umar bin Khattab memerintahkan suatu ekspedisi. Pada tahun 643, setelah Umar wafat, orang-orang Arab menaklukkan Makran di Baluchistan. Pada masa pemerintahan Bani Umayah, Islam melanjutkan ekspedisi ke sana di bawah Panglima Muhammad bin Qasim yang berhasil menguasai Sind, dan mulai tahun 871 orang-orang Arab telah menjadi penghuni tetap di sana.[4] Meskipun masih dalam abad pertama Hijrah Nabi, tanah-tanah Sind telah menjadi wilayah Kerajaan Islam, namun bagian terbesar dari tanah India belum takluk di bawah pemerintahan Islam. Raja-raja masih memerintah dengan kuat dibeberapa negeri yang besar, dan alam Hindu masih kuat dengan kuil-kuil dan pagoda.[5]
Membicarakan kehadiran Islam di India serasa tidak lengkap kalau tidak menyebut peranan dinasti Ghasnawiyah. Meskipun bukan yang pertama kalinya ke India paling tidak pasukan Ghasnawiyah yang dipimpin oleh Sultan Mahmud makin meneguhkan posisi Islam di India. Dia berhasil mengembalikan posisi Islam di wilayah ini dengan menaklukkan raja-raja Hindu dan mengadakan pengislaman masyarakat India pada tahun 1020 M.[6] keberhasilan ini ditopang oleh konsep ajaran Islam yang dibawanya, yang lebih menekankan persamaan derajat menggantikan sistem kasta yang berkembang di tengah masyarakat Hindu. Sultan Mahmud Gaznawi pada tahun 1020 berhasil menaklukan raja-raja Hindu di wilayah India dan mengislamkannya. Setelah Dinasti Gaznawi runtuh, muncullah dinasti kecil seperti Mamluk, Khalji, Tugluq, dan yang terakhir Dinasti Lody yang didirikan oleh Bahlul Khan Lody (w. 1489). Sampai akhirnya datang era kejayaan dinasti Mughal. Dengan demikian, Mughal bukanlah kerajaan Islam yang pertama di India.[7]
Orang yang mendirikan kerajaan Mughal di India adalah Zahiruddin Babur (1482-1530M). Ia adalah salah seorang keturunan Timur Lenk[8] ayahnya Umar Mirza adalah seorang penguasa di Asia Tengah. Sementara ibunya merupakan keturunan Jengis Khan.[9] Sepeninggal ayahnya, Babur yang berusia 11 tahun mewarisi tahta kekuasaan wilayah Ferghana. Ia berambisi dan bertekad akan menaklukkan Samarkand yang merupakan kota terpenting di Asia Tengah pada saat itu. Pertama kali ia gagal mewujudkan cita-citanya. Berkat bantuan dari Ismail, raja Safawi, ia meraih keberhasilan menaklukkan kota Samarkand pada tahun 1494. Kemudian pada tahun 1504 ia berhasil menaklukkan Kabul, ibukota Afghanistan. Dari Kabul inilah mengadakan ekspansi ke India yang diperintah oleh Ibrahim Lodi. Dinasti Lodi ketika itu sedang mengalami krisis dan mulai melemah pertahanannya sehingga inilah kesempatan yang dimanfaatkan oleh Babur untuk menumbangkannya. Dalam upaya yang sungguh-sungguh untuk menguasai India, pada tahun 1525, Babur berhasil menaklukkan Punjab. Perjalanan Babur kemudian berhasil memperoleh kemenangan sehingga pasukannya memasuki kota Delhi. Pada tanggal 21 April 1526M, terjadilah pertempuran yang dahsyat di Panipat. Babur memasuki kota Delhi sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahannya di sana. Dengan demikian, berdirilah kerajaan Mughal di India.[10]
Zahiruddin yang terlahir dengan nama Zahiruddin Muhammad dilahirkan pada tanggal 24 Februari 1403 dan meninggal pada tanggal 26 Desember 1530 di Farghana (Khokan), suatu negeri kecil tapi indah di Asia Tengah yang juga merupakan daerah kekuasaan ayahnya, Umar Mirza. Dia mendapat julukan Babur yang berarti “Si Macan” untuk menggambarkan keberaniannya.[11]
Ketika terjadi kekacauan di negerinya, ia mengundang Muhammad Babur dari Kabul yang kemudian berhasil mendirikan Kerajaan Mughal. Ketika Mughal dipimpin oleh Aurangzeb, semasa kekuasaannya kerajaan Mughal sebagai salah satu kerajaan adi kuasa. Sehingga mengalami kesuksesan yang amat besar diberbagai bidang. Pertama dalam bidang futuhat Mughal berhasil menguasai daerah yang meliputi Kabul, Lahore, Multan, Delhi, Agra, Oud, Allahabad, Ajmer, Gujarat, Melwa, Bihar, Bengal, Khandes, Berar, Ahmadnagar, Ousra, Kashmir, Bajipur, Galkanda, Tajore, dan Trichinopoli. Kedua dalam bidang ekonomi, bahwa umat Islam pada waktu itu telah mengekspor kain ke Eropa, menghasilkan rempah-rempah, gula, dan lain-lain yang ketika itu semua merupakan komoditas ekspor. Ketiga dalam bidang pendidikan Mughal sangat cemerlang, mereka membangun masjid, perpustakaan, dan madrasah. Pengajaran waktu itu meliputi filsafat, logika, geometri, sejarah, politik, matematika, dan ilmu agama. Selain itu juga dibangun sekolah - sekolah tinggi. Keempat bidang arsitektur, dapat dilihat dari bangunan – bangunan yang indah seperti Benteng Merah, Masjid Jami’, istana megah di Delhi dan Lahore, dan yang termasuk salah satu dari tujuh keajaiban dunia adalah Taj Mahal di Agra.[12]
Kemajuan Mughal di bidang politik dan militer memuncak pada masa pemerintahan Babur, Akbar dan Aurangsab.  Sementara bidang seni khususnya seni bangunan atau arsitektur mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Syah Johan, sebagaimana bidang agama khususnya hukum Islam pada masa Aurangzab. Adapun kemajuan di bidang ekonomi khususnya pertanian terjadi pada masa pemerintahan Akbar.
Ada beberapa faktor yang mendukung kemajuan tersebut, antara lain di bidang politik dan militer adalah faktor dan keuletan para sultannya; di bidang seni dan budaya karena terjadinya akulturasi budaya pendatang dengan suku-suku di India; dan  di bidang ekonomi adalah faktor kesuburan tanah dan strategis wilayahnya.
Sejak masuknya Inggris di India, rakyat India terutama umat Islam protes dan melawan melalui beberapa wadah, diantaranya gerakan pemberontakan Faqir yang terjadi selama 40 tahun.[13] Karena itu, penjajahan Inggris atas India bagi muslim berarti kehilangan pengaruh politik, ekonomi, budaya, dan agama Islamnya. Hal itu menyebabkan jatuhnya imperium Mughal, sejak itu Muslim India (termasuk Pakistan dan Bangladesh sekarang) merasa semakin dikesampingkan oleh kekuasaan penjajah Inggris. Penderitaan ini semakin bertambah setelah Inggris bekerjasama dengan orang-orang Hindu dan Sikh dalam memerangi kaum muslimin.[14]
Walaupun demikian, kebangkitan muslim modern bersamaan dengan semua pengaruh muslim. Namun hal ini tidak memperoleh cukup jaminan dari mayoritas Hindu untuk melindungi identitas, budaya, dan agama orang-orang muslim. Oleh sebab itu, hal ini menyebabkan terciptanya Pakistan yang akhirnya terpecah menjadi dua (Pakistan dan Bangladesh). Orang Islam merasa nasibnya jauh lebih membaik di dua negara merdeka itu, karena mendapatkan kemerdekaan serta kedaulatan untuk hidup selamanya. Namun sebaliknya, muslim yang hidup di daerah mayoritas Hindu yang membentuk republik India mengalami situasi yang memburuk.[15]
Umat Islam di India menyebar di negara-negara bagian: Uttar Pradesh, Bengali Barat, Bihar, Kerala, Assam, Andra Pradesh, Maharashtra, Kashmir, Tamil Nadu, Gujarat, Karnataka, dan Madya Pradesh. Kebanyakan muslim India adalah petani.[16]
Pada saat ini, kebudayaan Islam India, dengan keserbasamaannya yang menyeluruh dibanding dengan kebudayaan Hindu di anak benua ini, mempunyai dua praktik yang sedikit berbeda antara Muslim di daerah Utara dan Selatan India. Di Utara, Muslim kebanyakan menganut madzhab Hanafi, berbahasa Urdu atau Benggali. Di Selatan, Muslim mengikuti madzhab Syafi’i dan umumnya berbahasa Tamil.[17]
Sekitar 90% Muslim di India beraliran Sunni dan umumnya menganut madzhab Hanafi. Diantara aliran Sunni, ada sekitar empat juta muslim bermadzhab Syafi’i, kebanyakan di negara bagian selatan. Sisanya kebanyakan aliran Syi’ah madzhab Ja’fari di negara-negara bagian barat laut.[18]

III. PENUTUP
Adapun kesimpulan dari kajian ini adalah:
1.      Masuknya Islam ke India diperkirakan pada abad ke-7 melalui jalur perdagangan. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus di mana gubernur Irak yang bernama Hajjaj bin Yusuf As-Saqifi pada masa khalifah Umayyah, al-Walid bin Abdul Malik yang mengirimkan eksepedisi untuk menangani perampokkan kapal yang dilakukan oleh suatu kelompok yang dilakukan Raja Dahir yang dipimpin oleh Muhammad bin Qasim. Keberhasilan Muhammad Qasim menangani masalah ini dan menjadi seorang gubernur Sind untuk pemerintahan Umayyah mendorong banyak orang India masuk Islam.
2.     Perkembangan Islam di India dapat dilihat dalam empat tahapan: pertama, masa sebelum kerajaan Mughal (705-1526): kedua, masa kekuasaan Kerajaan Mughal (1526-1858); ketiga, masa kekuasaan Inggris (1858-1947); tahap keempat, Islam pada negara India sekular (1947 sampai sekarang).

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufiq. dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Ajaran (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, t,th.  
Ahmad, Jamil. Seratus Muslim Terkemuka (Cet. IV; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996. 
Ali, K. Sejarah Islam (Tarikh Pramodern) (Cet. III; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000. 
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam (Cet. II; Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994.  
Karim, M. Abdul. Sejarah Islam di India (Yogyakarta: Bunga Grafies Production, 2003.
---------------. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher ,2007.
Kettani, M. Ali. Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2005.
Suyuti, Jalaluddin. Tarikh al-Khulafa’ (Cet. I; Kairo: Dar al-Fajr li al-Turas, 1999.  
Thohir, Ajid. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam (Cet.I; Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2004.  
Usairy, Ahmad. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX ( Jakarta: Akbarmedia, 2009.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006.  


[1]Jalaluddin al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’ (Cet. I; Kairo: Dar al-Fajr li al-Turas, 1999), h. 366-369.
[2]Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam (Cet.I; Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2004), h. 166.
[3]Taufiq Abdullah dkk, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Ajaran (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, t,th), h 181
[4]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam (Cet. X; Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002),  h. 211.
[5]M. Abdul Karim, Sejarah Islam di India (Yogyakarta: Bunga Grafies Production, 2003), h.12.
[6]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, h. 211.
[7]K. Ali, Sejarah Islam (Tarikh Pramodern) (Cet. III; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h. 331.
[8]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), h. 147.
[9]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, h. 351.
[10]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, h. 147.
[11]Jamil Ahmad, Seratus Muslim Terkemuka (Cet. IV; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), h. 330.
[12]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, h. 211.
[13]M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007) , h. 319.
[14]Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX ( Jakarta: Akbarmedia,2009), h. 447.
[15]M. Ali Kettani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini (Jakarta: PT.Raja Grafindoperkasa, 2005), h. 155-156.
[16]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, h. 214.
[17]M.Ali Kettani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2005), h. 157.
[18]M. Ali Kettani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini, h. 169-170.
Post a Comment