Saturday, December 19, 2015

ASY’ARIYAH (Perkembangan dan Pengaruhnya)



I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sebelum munculnya aliran teologi al-Asy’ariyyah, aliran Mu’tazilah menjadi pusat pemikiran kalam pada saat itu yang memperkenalkan pemikiran teologi dengan pendekatan-pendekatan logika rasional di kalangan umat Islam. Aliran ini memberikan seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya kepada akal dalam memilah dan memilih baik dan buruk. Jika terdapat Hadis yang bertentangan dengan nalar mereka, maka akal yang dijadikan sebagai tolok ukur, sehingga ia dikenal sebagai kaum yang rasional.[1] Akan tetapi, pemikiran-pemikiran rasional Mu’tazilah,[2] sepertinya hanya bisa dicerna oleh kalangan masyarakat terdidik saja. Sementara kalangan masyarakat awam yang lebih luas, ajaran Mu’tazilah sulit dipahami karena keterbatasan kemampuan berpikir ilmiah filosofis dan pola kehidupan yang terkait dengan tradisi lama.[3]
       Setelah Khalifah al-Mutawakkil membatalkan aliran Mu’tazilah yang tentu saja merugikan aliran tersebut, tampillah Abu al-Hasan ibn Ismail al-Asy’ari - yang semula adalah pengikut Mu’tazilah - memperkenalkan teologi baru beserta ajarannya dengan menempuh jalan tengah yakni mengambil sikap tengah-tengah antara dua kutub akal dan naql, antara kaum salaf dan Mu’tazilah, dengan acuan yang bertumpu pada al-Qur’an dan al-Sunnah.[4] Sebagai mantan pengikut Mu’tazilah, maka pemikiran-pemikiran logis/rasional sebagaimana yang dikembangkan oleh Mu’tazilah juga turut mewarnai teologi Asy’ari dalam satu hal, tetapi pada sisi lain iapun banyak membantah doktrin-doktrin dari Mu’tazilah.[5] Karena berada pada posisi jalan tengah antara dogmatis dan liberalisme, maka aliran al-Asy’ariyyah menjadi cepat populer di kalangan umat.[6] Utamanya setelah disebarkan oleh para tokoh-tokohnya yang termasyhur seperti al-Baqillani, al-Juwaeni, al-Bagdadi, al-Ghazali serta murid-murid al-Asy’ari yang lainnya.
         Paham teologi Asy’ari termasuk paham teologi tradisional yang mengambil posisi antara ekstrim rasionalis yang menggunakan metafor dan golongan ekstrim tekstualis yang leterlek. Ia mengambil posisi di antara aliran mu’tazilah dan salafiyah.[7]
Di samping itu, penalaran al-Asy’ari disebut ortodoks karena lebih setia pada sumber-sumber Islam sendiri, seperti kitab Allah dan Sunnah Nabi dari pada penalaran kaum mu’tazilah dan para filosof, meskipun mereka ini semuanya dalam analisa terakhir, harus dipandang secara sebenarnya, tetap dalam lingkaran islam.[8] Ajaran-ajaran al-Asy’ari inilah yang nantinya akan berkembang menjadi aliran ahl al-Sunnah wal Jama’ah dan mempunyai pengaruh dalam dunia islam sampai sekarang.

B. Permasalahan
        Dari uraian pada latar belakang di atas, permasalahan yang dapat diformulasikan  adalah:
1.      Bagaimana perkembangan teologi al-Asy’ariyah?
2.      Bagaimana pengaruh al-Asy’ariyah dalam dunia Islam?

II. PEMBAHASAN
A.      Perkembangan Teologi al-Asy’ariyyah
Teologi Asy’ariyah yang kemudian menjadi bibit dalam aliran Ahl al-Sunnah wal Jama’ah ini, kelihatannya timbul sebagai reaksi terhadap faham golongan mu’tazilah dalam menyebarkan ajaran-ajarannya, setelah al-Asy’ariy[9] menjadi pengikut setiap dari golongan tersebut selama kurang lebih 40 tahun, sebuah catatan waktu yang cukup panjang.
Abu Hasan Ibn Ismail al-Asy’ari menyatakan diri membelot dari golongan mu’tazilah dan memproklamirkan sebuah ajaran teologi baru yang dinisbahkan dirinya sendiri (al-Asy’ariyah).[10] Ia tampil dan mengokohkan dirinya sebagai pemikir teologi dengan penalaran ortodoks di bidang aqidah, penalaran ini lebih mengutamakan kepada sumber-sumber Islam sendiri seperti al-Qur’an dan sunnah Nabi.[11]
Aliran teologi al-Asy’ari yang tak lepas dari refleksi sosial dalam menyikapi kultur masyarakat saat itu dengan menggambarkan bahwa daya beserta kekuatan yang dimiliki oleh manusia di saat berhadapan dengan kekuatan yang absolut tidak akan berdaya sama sekali, di samping menjadikan senjata dan kekuatan anggapan bahwa akal menusia itu mempunyai keterbatasan.[12] Kedatangan teologi ini, banyak diterima oleh masyarakat umum setelah menyatakan bahwa ia merupakan golongan yang mengutamakan kepada sunnah dan sepaham dengan Ahmad Ibn Hanbal.
Pada dasarnya al-Asy’ari mencoba menempuh jalan tengah antara dua ekstremitas, yaitu para rasionalis mu’tazilah yang membuat wahyu di bawah penalaran, dan para eksternalis yang berbeda pendekatannya yang menolak peranan nalar dan kembali bersandar pada makna ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis.[13]
Sementara itu, gologan mu’tazilah tidak begitu setia berpegang pada al-Sunnah dikarenakan oleh keraguannya terhadap keorisinilan al-Sunnah tersebut sehingga dianggap sebagai golongan yang tidak berpihak pada al-Sunnah.[14] Sementara al-Asy’ari dalam menguatkan pendapatnya terlebih dahulu merujuk kepada al-Sunnah (hadis). Dasar inilah yang menjadi titik tolak bagi para pengikut al-Asy’ari sehingga aliran tersebut dinamakan ahl al-Sunnah.
Pada saat masyarakat luas memberi respon yang sangat positif terhadap aliran al-Asy’ariyah bahkan menyatakan sebagai pengikutnya, maka semenjak itulah ia menjadi golongan yang mayoritas dan mu’tazilah menjadi golongan minoritas, apalagi setelah khalifah al-Mutawakkil melihat bahwa posisinya sebagai khalifah perlu dukungan mayoritas dari masyarakat, sehingga dibatalkanlah aliran mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara, dan aliran ini semakin lama semakin berkurang yang kemudian hampir hilang oleh dominasi al-Asy’ariyah. Dari sinilah muncul term jama’ah al-muslimin.[15]
Bertolak dari kedua hal tersebut di atas yaitu teologi al-Asy’ariyyah yang berpegang teguh kepada al-sunnah, lalu dikatakanlah ahl al-Sunnah dan sisi lain sebagai golongan mayoritas (al-Jama’ah) yang dianut oleh umat Islam. Penggabungan dari kedua hal tersebut menjadi ahl al-Sunnah wa al-jama’ah.
Istilah ahl al-Sunnah wal Jamaah tidak dikenal, baik pada zaman Nabi saw. maupun pada masa pemerintahan khulafa al-Rasyidin, bahkan tidak dikenal pada zaman pemerintahan Bani Umaiyyah (41-133 H/611-750 M). Istilah ini untuk pertama kalinya dipakai pada masa pemerintahan khalifah Abu Ja’far al-Mansur (137-159 H/754-775M) dan khalifah Harun al-Rasyid (170-194H/785-809M), keduanya dari dinasti Abbasiyah ( 750-1258 M). Istilah ahl al-Sunnah wal Jamaah semakin tampak ke permukaan pada zaman pemerintahan khalifah al-Ma’mun (198-218 H/813-833M.)[16]
Penggunaan istilah ahl al-Sunnah wal Jamaah semakin populer setelah munculnya Abu Hasan al-Asy’ari pada (260-324 H./873-935 M.) dan Abu Mansur al-Maturidi yang melahirkah aliran Asy'ariah dan Maturidiyah di bidang teologi. Dengan demikian, bila dikatakan ahl al-Sunnah wal-Jamaah maka yang dimaksudkan adalah penganut paham Asy’ariah atau Maturidiyah di bidang teologi.[17]
Istilah ahl al-Sunnah wal Jamaah atau Sunni tidak terbatas hanya bidang teologi saja, tetapi meliputi semua aspek ajaran agama Islam, baik fiqh, tauhid, maupun tasauf.[18]

B. Pengaruh al-Asy’ariyah dalam Dunia Islam
         Sebagaimana aliran-aliran yang lain, teologi Asy’ariyah (Ahl al-Sunnah wa al‑Jama’ah) juga mengalami perkembangan pasang surut mulai dari peletakan dasar-dasarnya, kemundurannya, hingga kebangkitannya kembali dan memberi pengaruh yang besar terhadap dunia Islam.
          Pada masa al-Asy’ary, teologi al-Asy’ariyah berada dalam fase peletakan dasar-dasar dan pembinaan awal. Aliran ini segera memasyarakat akibat adanya beberapa faktor pendukung :
1. Ajaran-ajarannya sederhana dan mudah dimengerti, sementara Mu’tazilah sulit diselami oleh kalangan rakyat biasa karena terlalu rasional dan filosofis.[19]
2. Ajaran-ajaran Asy’ariyah merupakan ajaran yang berupaya memadukan antara dua aliran dan mengambil jalan tengah antara dogmatisme dan liberalisme, dua kutub ekstrim yang pada saat itu tidak dapat diterima oleh mayoritas kaum muslimin.[20]
3. Kemahiran al-Asy’ary dalam menggunakan logika untuk berhujjah demi mempertahankan pendapatnya.[21]
            Kemudian perkembangan selanjutnya terjadi perselisihan paham teologi dalam tubuh Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, sehingga mengakibatkan pengaruh Asy’ariyah menjadi berkurang atau mengalami kemunduran.[22] Perselisihan itu bermula pada penyimpangan al-Baqillani dan al-Juwaini dari gagasan asli al-Asy’ary. Al-Baqillani memandang bahwa apa yang disebut sifat Allah menurut al-Asy’ary, bagi ia bukanlah sifat tetapi hal (sesuai pendapat Abu Hasyim dari Mu’tazilah).[23] Sedang al-Juwaini lebih condong kepada konsep Causality yang dikemukakan oleh Mu’tazilah, di mana manusia mempunyai efek yang terdapat antara sebab dan musabab, dan sebab dari segala sebab adalah Allah.[24] Pada intinya kedua tokoh al-Asy’ary ini dinilai terlalu mengagungkan akal dan menyepelekan naql. Karena sikap tersebut Ahl al-Sunnah menolak al-Asy’ariyah bahkan memusuhinya.[25]
          Bersamaan dengan itu, Baghdad dikuasai oleh Dinasti Saljuk, salah satu perdana mentrinya yaitu al-Kunduri (416-454 H.) adalah penganut aliran Mu’tazilah, sementara antara al-Asy’ary dan Mu’tazilah telah terjadi permusuhan, maka atas pengaruh al-Kunduri, Sultan Tughril mengeluarkan perintah untuk menangkap pemuka-pemuka aliran al-Asy’ariyah seperti Abu al-Qasim al-Qusyairi.[26] Dengan demikian terjadi pergolakan pemikiran teologis dalam tubuh al-Asy’ary di satu pihak dan ancaman dari penguasa di lain pihak, sehingga hal ini nasib al-Asy’ariyah bertambah suram pada saat itu.
           Situasi seperti di atas mendadak berubah setelah tampilnya sosok al‑Gazali dengan penampilan memikat serta menggunakan metode lawan-lawannya seperti Neoplatonisme dan Aristoteles, maka ia berhasil mengangkat kembali pamor Sunnisme dan membangunnya menjadi lebih kokoh serta membuat aliran Sunni sebagai aliran yang kuat dan tak terpatahkan.[27] Keberhasilan al-Gazali ini disebabkan oleh adanya Nizam al-Muluk, yakni seorang Perdana Menteri Dinasti Saljuk yang menganut paham al-Asy’ariyah.[28]
          Karena keberhasilan al-Gazali, maka Perdana Menteri tersebut membangun sekolah-sekolah Nizamiyah yang kepemimpinannya diserahkan kepada al-Gazali. Kesempatan ini lalu dipergunakan al-Gazali untuk mengajarkan paham al-Asy’ariyah secara intensif, sehingga tokoh-tokoh pembesar negara mengikuti paham Asy’ariyah ini. Oleh karenanya, aliran ini kemudian tersebar bukan saja di wilayah Dinasti Saljuk, melainkan membias ke berbagai dunia Islam lainnya.
           Penyebaran pengaruh al-Asy’ariyah ke berbagai kawasan dunia Islam pada mulanya melalui Mesir (Salahuddin al-Ayyubi) kemudian ke Maroko dan Andalusia (Ibn Tumart), selanjutnya ke dunia Islam bagian Timur melalui Afghanistan oleh Mahmud al-Gaznawi. Pengaruh dinasti ini akhirnya terus ke Punjab dan India serta sampai ke Irak melalui Persia.[29]
          Sebagai aliran Sunni yang berkembang hingga abad ke-21 ini, al‑Asy’ariyah masih harus diakui eksistensinya serta memiliki prospek yang cerah di hati dan pemikiran umat Islam, meskipun manusia di abad ini cenderung lebih rasional yang sudah tentu dapat memberi peluang kepada berkembangnya aliran Mu’tazilah.
            Peluang tetap berkembangnya al-Asy’ariyah sebagai aliran Ahl al‑Sunnah di masa yang akan datang dapat dilihat pada beberapa faktor:
1.   Ajarannya yang sederhana dan tidak memerlukan pola pikir yang tinggi membuat umat Islam yang awam semakin tertarik untuk mengikutinya.
2.  Meskipun orang telah maju dalam pemikirannya tetapi naluri kemanusiaannya yang senantiasa memiliki ketergantungan kepada Tuhan, dengan kata lain bahwa Tuhan masih mempunyai intervensi pada perbuatan manusia, dapat memberi peluang kepada paham kemutlakan Tuhan yang dikembangkan oleh Asy’ariyah.
3.   Masih banyak tokoh-tokoh Asy’ariyah yang hidup di abad ini dan banyak pula buku-buku Ahl al-Sunnah yang masih menjadi pegangan di berbagai madrasah dan pesantren, memungkinkan Asy’ariyah tetap eksis sebagai aliran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah di masa akan datang.

III. PENUTUP
            Deskripsi yang diuraikan di atas membawa pada kesimpulan sebagai berikut:
1. Paham Al-Asy’ariyah yang dibawa oleh Abu al-Hasan ibn Ismail al-Asy’ari dalam perkembangan selanjutnya dinamakan dengan Aliran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah karena keberpihakannya untuk menegakkan sunnah Nabi Saw. serta ajarannya yang mudah diselami oleh umat Islam pada umumnya sehingga mereka menjadi golongan yang mayoritas (jama’ah). Meskipun pada perkembangan selanjutnya istilah Ahl al-Sunnah tidak hanya dipakai oleh Asy’ariyah akan tetapi pengikut Wahabiah mengklaim ajaran mereka sebagai Ahl al-Sunnah.  
2.  Teologi Asy’ariyah yang kemudian dikenal menjadi aliran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah memiliki eksistensi yang kuat di tengah umat Islam, karena ajaran-ajarannya yang sederhana dan mudah dicerna oleh sebagian besar umat Islam, keseimbangan antara penggunaan dalil aqli dan naqli dalam agama, eksistensi tokoh-tokoh Asy’ariyah yang sampai sekarang masih banyak serta naluri kemanusiaan pada manusia yang senantiasa memiliki ketergantungan kepada Tuhan yang menjadi paham kemutlakan Tuhan dalam Asy’ariyah.

DAFTAR PUSTAKA

Hanafi, Ahmad, Theology Islam (Ilmu Kalam). Jakarta: Bulan Bintang, 1983.
Kamal, Zainul. Kekuatan dan Kelemahan Paham Asy’ari Sebagai Doktrin Akidah dalam Budhi Munawar Rachman (ed.), Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah. Cet. II; Jakarta: Yayasan Paramadina, 1995.
Lee, Robert D. Over Coming Tradition and Modernity the Search for Islamic Authenticity. United States of Amerika: West View Press. 1997.
Madjid, Nurchlish. Islam Doktrin dan Peradaban. Cet. III; Jakarta; Yayasan Wakaf Paramadina, 1995.
____________.  Khazanah Intelektual Islam. Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
Madkour, Ibrahim. fi al-Falsafah al-Islamiyyah Manhaj wa Tatbiquh. Diterjemahkan oleh Yudian Wahyudi Asmin dengan judul Aliran dan Teori Filsafat Islam. Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
Al-Mahdaliy, Muhammad Aqiil bin Ali. Muqaddimah fi al-Aqidah al-Isalmiyah wal Ilmi al-Kalam. Cet. II; Kairo: Dar al-Hadis, 1989.
Martin, Richard C. Mark R. Woodward dan Dewi S. Atmaja, Defenders of Reason in Islam Mu’tazilism from Medieval School to Medern Symbol. England: Oneworld Oxford, 1997.
Nasser, Hussein. Intelektual Islam, Teologi, Filsafat dan Ghassis. Cet. I; Yogyakarta: Centre For Internasional Islamic Studies Press, 1995.
Nasution, Harun. Teologi Islam Sejarah Aliran-aliran Analisa Perbandingan I. Cet. V; Jakarta: UI, Prees 1986.
Tim Penyusun. Ensiklopedi Islam Jilid I. Cet. II; Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1992.
Watt, W. Montgomery. Islamic Theology and Philosophy. Diterjemahkan oleh Umar Basalim dengan judul Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam. Cet. I; Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat-P3M, 1987.
____________. the Influece of Islam on Medieval Europe. Diterjemahkan oleh Hendro Prasetyo dengan judul Islam dan Peradaban Dunia Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan. Cet. I; Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995.
Wensinck, A.J. the Muslim Creed its Genesis and Historical Development. Cet. II; New Delhi: Oriental Books Reprint Corporation, 1979.














[1]Lihat Richard C. Martin, Mark R. Woodward dan Dewi S. Atmaja, Defenders of Reason in Islam Mu’tazilism from Medieval School to Medern Symbol (England: Oneworld Oxford, 1997), h. 27.
[2]Lihat W. Montgomery Watt, Islamic Theology and Philosophy. Diterjemahkan oleh Umar Basalim dengan judul Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam  (Cet. I; Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat-P3M, 1987), h. 73.
[3]Lihat A.J. Wensinck, the Muslim Creed its Genesis and Historical Development (Cet. II; New Delhi: Oriental Books Reprint Corporation, 1979), h. 83.
[4]Lihat Ibrahim Madkour, fi al-Falsafah al-Islamiyyah Manhaj wa Tatbiquh. Diterjemahkan oleh Yudian Wahyudi Asmin dengan judul Aliran dan Teori Filsafat Islam (Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 63-66.
[5]Lihat Robert D. Lee, Over Coming Tradition and Modernity the Search for Islamic Authenticity (United States of Amerika: West View Press. 1997), h. 155. Lihat pula W. Montgomery Watt, the Influece of Islam on Medieval Europe. Diterjemahkan oleh Hendro Prasetyo dengan judul Islam dan Peradaban Dunia Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan (Cet. I; Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995), h. 60.
[6]Lihat Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam (Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 29
[7]Lihat Zainul Kamal, Kekuatan dan Kelemahan Paham Asy’ari Sebagai Doktrin Akidah dalam Budhi Munawar Rachman (ed.), Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Cet. II; Jakarta: Yayasan Paramadina, 1995), h. 131.
[8]Nurchlish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban (Cet. III; Jakarta; Yayasan Wakaf Paramadina, 1995), h. 270-271.
[9]Menurut Ibn Asaakir bahwa al-Asy’ariy pernah menjadi murid dari Abu Ali al-Jubbai, seorang pemuka aliran mu’tazilah. Lihat Muhammad Aqiil bin Ali al-Mahdaliy, Muqaddimah fi al-Aqidah al-Isalmiyah wal Ilmi al-Kalam (Cet. II; Kairo: Dar al-Hadis, 1989), h. 87.
[10]Menurut Muhammad Aqil, ada beberapa hal yang menyebabkan aliran ini timbul, yaitu: 1) ketidakpuasan Asy’ariy terhadap diskusi yang berlangsung antara gurunya, 2) Asy’ariy pernah bermimpi bertemu Rasulullah dan berpesan untuk melaksanakan Sunnah Nabi, dan 3) Keinginannya untuk menyatukan akal dan wahyu. Lihat ibid., h. 88.
[11]Lihat Nurcholish Madjid, “Islam”, loc. cit.
[12]Lihat Zainul Kamal, op. cit., h. 141-142.
[13]Lihat Hussein Nasser, Intelektual Islam, Teologi, Filsafat dan Ghassis (Cet. I; Yogyakarta: Centre For Internasional Islamic Studies Press, 1995), h. 20.
[14]Lihat Harun Nasution, Teologi Islam Sejarah Aliran-aliran Analisa Perbandingan I (Cet. V; Jakarta: UI, Prees 1986), h. 64.
[15]Lihat ibid.
[16]Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam Jilid I (Cet. II; Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1992), h. 298.
[17]Ibid., h. 299.
[18]Di bidang Fiqhi, Sunni banyak mempunyai aliran yang besar, terkenal, dan bertahan kuat sampai sekarang dengan pengikut yang banyak seperti aliran Hanafiy, Malikiy, Sayfi’i dan Hanbaliy. Lihat ibid.
[19]Harun Nasution, op. cit., h. 63.
[20]Ahmad Hanafi, Theology Islam (Ilmu Kalam). (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), h. 59.
[21]Nurcholish Madjid, “Khazanah”, op. cit., h. 28.
[22]Ahmad Hanafi, op. cit, h. 62.
[23]Harun Nasution, op. cit, h. 71.
[24]Ibid., h. 72.
[25]Ahmad Hanafi, lot. cit.
[26]Harun Nasution, op. cit., h. 74.
[27]Nurcholish Madjid, “Khazanah”, op. cit., h. 34.
[28]Harun Nasution, op. cit., h. 75.
[29]Ibid., h,76
Post a Comment