Saturday, December 19, 2015

ISLAM DI SPANYOL (Kekuasaan Bani Umaiyyah dan Mulku Thawaif)

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Spanyol – yang oleh orang Arab dikenal dengan Al-Andalus – adalah sebuah provinsi yang beribukota Cordova pada masa pemerintahann Bani Umaiyyah di Barat (756 – 1031 M.), luas wilayahnya 13.727 km2 dan jumlah penduduknya sekitar 782.000 jiwa.[1] Sumbangan umat Islam Spanyol dalam pengembangan intelektual dan berbagai penelitian ilmiah tidak hanya berguna bagi umat Islam di negeri Barat tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Cordova merupakan sentral intelektual di Eropa dengan hadirnya perguruan-perguruan tinggi Islam yang amat terkenal dalam berbagai bidang. Ketika itu orang-orang Eropa datang belajar di Cordova dan mereka bangga belajar di negeri tersebut sebagaimana kebanggaan umat Islam yang pada saat sekarang belajar di Eropa. Islam pada waktu itu menjadi guru bagi orang-orang Eropa Kristen.
Sejarah telah mencatat bahwa antara pertengahan abad ke-8 sampai permulaan abad ke-13 M. umat Islam pernah mencapai puncak kejayaannya, yang dikenal dengan istilah “The Golden Age in Islam”, Pada saat itu terdapat dua kekuasaan Islam, yaitu penguasa Islam di Timur (Abbasiyyah) dengan pusat di Baghdad, dan penguasa Islam di Barat (Umaiyyah) yang berpusat di Cordova - Spanyol. Kedua kekuasaan ini memperlihatkan berbagai kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Oleh karena itu, kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh Eropa sesungguhnya tidak terpisahkan dari kejayaan Islam di Spanyol, sebab dari Spanyol-lah, Eropa banyak menimba ilmu pengetahuan.

Philip K. Hitty menyatakan bahwa umat Islam pada masa 711-1490 M pernah mencatat satu-satunya lembaran tercemerlang di dalam sejarah pemikiran orang Eropa dan pada abad pertengahan, the golden age (masa keemasan).[2] Spanyol mencapai puncak keemasan dibawah pemerintahan keluarga Bani Umaiyyah terutama pada masa Abd Rahman I (756-788), Abd Rahman III (921-961), dan al-Hakam II (961-976 M), ketika itu ibukota Spanyol, Cordova bersinar bagai cahaya kilau kemilau, sementara bumi Eropa tenggelam dalam kegelapan.[3] Masa kemajuan dan keemasan tersebut diakui oleh dunia luar, baik dari orang-orang Kristen maupun dari dalam sendiri. Bahkan menurut Harun Nasution, Cordova pada saat itu merupakan pusat transformasi kebudayaan Islam di Barat, sebagai tandingan Baghdad di Timur.[4] Akan tetapi meskipun pemerintah tersebut pernah berjaya dan bergensi di Eropa, namun harus diakui pula bahwa pemerintahan tersebut juga mengalami kemunduran, bermula ketika meninggalnya al Hakam II dan akhirnya secara perlahan-lahan daulat tersebut menemui kehancurannya.
Dalam makalah ini akan dideskripsikan tentang kekuasaan Bani Umaiyyah dan Mulku Thawaif di Spanyol, mulai dari kemunculan, kemajuan dan kehancurannya di dunia Eropa untuk kemudian diketahui dan dijadikan bahan renungan serta evaluasi diri sehingga kehancuran Islam di Spanyol tidak terjadi di zaman sekarang.

B. Permasalahan
Dari uraian yang dikemukakan pada latar belakang, dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana asal-usul Islam di Spanyol?
2. Bagaimana kekuasaan Bani Umaiyyah di Spanyol?
3. Bagaimana kekuasaan Mulku Thawaif di Spanyol?
4. Bagaimana pengaruh Islam di Spanyol terhadap peradaban Eropa?

II. PEMBAHASAN
A. Asal-usul Islam di Spanyol
Kondisi sosial dan politik Spanyol sebelum kedatangan Islam merupakan pembuka jalan bagi penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam. Struktur sosialnya berada dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Bangsa ini telah terkotak-kotak yang secara garis besar dapat dibagi kepada dua kelas. Pertama, kelas bangsawan (borjuis) merupakan kelas yang diistimewakan dan dikecualikan dari pembayaran pajak. Kedua, kelas yang lebih rendah yaitu mayoritas penduduk yang jumlahnya sangat besar, dibiarkan hidup berantakan dan kesengsaraan. Keadaan negeri ini yang di bawah kekuasaan Raja Goth yakni kekaisaran Visigoth (419-711 M) membuat masyarakat diliputi kemiskinan, penderitaan dan ketidakadilan. Dalam keadaan seperti ini, mereka mencari sang pembebas dan akhirnya mereka menemukan Islam.[5]
Spanyol sebelum penaklukannya, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya salah satu provinsi dari dinasti Bani Umaiyyah. Hal ini telah terjadi pada masa Khalifah Abdul Malik [685-705 M]. Khalifah Abdul Malik mengangkat Hasan ibnu Nu’man al-Gassani menjadi gubernur di daerah itu. Penguasaan Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol.[6]
Dalam proses penaklukan Spanyol, dikenal 3 pahlawan besar yaitu Tharif Ibn Malik,[7] Thariq bin Ziyad, dan Musa Ibnu Nuzhair.[8] Yang disebut sebagai tokoh yang kedua lebih dikenal sebagai sang penakluk Spanyol. Pasukan Thariq terdiri dari suku Barbar dan sebagian orang Arab yang dikirim oleh khalifah al-Walid. Di bawah pimpinan Thariq sebuah gunung tempat pertama kali Thariq bersama pasukannya mendarat yang dikenal dengan Gibraltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah tersebut maka terbuka lebarlah pintu untuk memasuki Spanyol.[9]
Maka pada tahun 711 M, Islam secara resmi masuk Spanyol di mana Thariq dapat mengalahkan Raja Roderick dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah. Thariq kemudian menaklukkan kota-kota penting seperti Granada, Saville dan Toledo.[10] Mendengar keberhasilan Thariq, Musa ibnu Nuzhair berangkat ke Spanyol dengan sejumlah pasukan dengan niat membantu Thariq, maka melebarlah wilayah Islam di Spanyol.

B. Kekuasaan Bani Umaiyyah di Spanyol
Ketika tahun 750 M, Marwan II Khalifah terakhir Bani Umaiyyah menerima kekalahan pemberontakan Bani Abbas yang dipimpin oleh Abu Abbas Ash-Shaffah dan akhirnya menobatkan diri sebagai khalifah pertama Bani Abbas. Disebabkan dendam yang begitu lama, Abu Abbas Ash-Shaffah memburu keluarga Bani Umaiyyah sampai ke akar-akarnya. Salah seorang di antara sedikit Bani Umaiyyah yang lolos dari pembalasan dendam itu adalah Abdul Rahman Adh-Dhakhil. Ia adalah cucu khalifah Umaiyyah ke 10 yaitu, Hisyam.[11]
Pengembaraan Abdul Rahman berakhir di Spanyol dengan memperoleh dukungan dan sambutan hangat. Untuk memproklamirkan dirinya sebagai penguasa Spanyol, maka Abdul Rahman bertempur melawan gubernur Abbasiyah di Spanyol, yang dimenangkan oleh pihak Abdul Rahman, maka secara langsung ia menempatkan dirinya sebagai penguasa yang merdeka dan bergelar Amir (756 M), yang tidak mempunyai hubungan politis dengan pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad. Jadi dalam masa enam tahun kejatuhan Umaiyyah yang digantikan oleh Abbasiyah maka lahirlah Neo-Umaiyyah di Spanyol.[12] Menurut W. Montgomery Watt, istilah amir pada jabatan pucuk pemerintahan di Spanyol lebih bermuatan golongan sejarah di mana sisi teoritisnya lebih besar dibandingkan sisi praktisnya. Menurutnya, istilah amir hanya bisa dipakai pada posisi gubernur di Propinsi yang ditunjuk oleh khalifah. Sementara Abdul Rahman tidak mempunyai hubungan dengan pemerintahan Khalifah Abbasiyah, bahkan ia memproklamirkan dirinya dengan Bani Umaiyyah yang telah runtuh sebelumnya. Lebih Lanjut Watt mengatakan bahwa untuk pertama kalinya sistem pemerintahan Islam tidak dilandasi dengan dogma agama akan tetapi murni independensi manusia.[13]
Problem utama yang dihadapi oleh Abdul Rahman adalah menghadapi para pemberontak dari kepala-kepala suku-suku seperti suku Yamaniah yang mengklaim dirinya sebagai indigenous resident dan berhak menguasai Spanyol tetapi semuanya bisa ditaklukkan oleh Abdul Rahman.[14]
Pada perkembangan selanjutnya setelah Abdul Rahman mengadakan konsolidasi ke dalam dengan menghancurkan para pimpinan-pimpinan oposisi kemudian ia memulai memantapkan tentara militernya dengan organisasi yang baik dan terlatih. Dia memperindah kota-kota kekuasaannya. Hal ini dapat dilihat dari Pembangunan fisik yang sangat masyhur antara lain pembangunan kota seperti al-Zahra, pembangunan Mesjid seperti Mesjid Cordova dan Sevilla, pembangunan istana seperti istana di Saragossa dan istana al-Hambrah di Granada. Selain itu pemukiman dan taman-taman yang indah serta tempat permandian yang menjadi ciri khas kota Islam di Cordova.[15]
Dalam bidang tata negara, ia membagi imperiumnya ke dalam enam provinsi yang dipimpin oleh gubernur. Ia juga membagi pemerintahannya dalam tiga badan, yaitu ; yudikatif, perpajakan dan sipil. Dua tahun sebelum wafatnya, Abdul Rahman mendirikan masjid Cordova yang kemudian diselesaikan oleh para penerusnya. Abdul Rahman wafat tahun 788 M.[16]
Langkah-langkah yang ditempuh oleh para penerus Abdul Rahman Al-Dakhil juga membawa kemajuan-kemajuan bagi Spanyol. Hisyam I sebagai amir kedua dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam. Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran dan Abdul Rahman II populer karena kecintaannya kepada ilmu pengetahuan. Pemikiran filsafat mulai mewarnai periode ini. Kegiatan ilmiah semarak dengan hadirnya ahli-ahli dari dunia Islam lainnya.[17]
Ketika Abdul Rahman II meninggal pada tahun 852 M, amir-amir yang datang selanjutnya yaitu Muhammad I (852-886 M), al-Mundhir (886-888 M) dan Abdullah (888-912 M) menghadapi banyak tantangan. Konflik politik yang paling dahsyat pada masa ini menurut Watt adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Ibnu Hafsun yang berpusat di pegunungan dekat Malaga.[18] Pendeknya tiga periode amir ini diwarnai dengan pemberontakan, baik dari dalam maupun dari luar. Sehingga hampir saja tidak ada pembangunan pada masa ini.
Pengembalian gelar khalifah dalam sistem politik umat Islam di Spanyol adalah langkah berani yang ditempuh oleh Abdul Rahman III (912 – 961 M.) yang bergelar al-Nashir Lidinillah (penegak agama Allah). Langkah ini dilakukan dengan satu alasan bahwa khalifah Bani Abbasiyah diambang kehancuran sehingga ia merasa pantas memakai gelar khalifah yang hilang sejak kekuasaan Bani Umaiyyah. Maka pada tahun 929 M, raja-raja yang berkuasa pada waktu tersebut sudah memakai khalifah.
Abdul Rahman III adalah khalifah yang paling hebat sepanjang kekuasaan umat Islam di Spanyol. Pada masanya, Spanyol mencapai puncak kejayaannya menyaingi kejayaan daulat Bani Abbasiyah. Ia juga menggabungkan antara kultur Abbasiyah Bagdad dengan kultur Spanyol. Abdul Rahman III juga mendirikan universitas Cordova yang perpustakaannya memiliki ratusan ribu buku. Masyarakat dapat menikmati hasil pembangunan dan pembangunan kota pun berlangsung cepat.[19]
Kemajuan dalam bidang ekonomi membuat Abdul Rahman III mudah dalam melancarkan kegiatan pembangunan. Pertanian, industri, perdagangan dan pendidikan mengalami kemajuan yang pesat. Di bawah panji pemerintahannya, Spanyol mengalami kemajuan peradaban yang menakjubkan, khususnya dalam bidang arsitektur. Kemasyhurannya sebagai penguasa dikenal sampai Konstantinopel, Jerman, dan Italia. Duta-duta negara lain datang kepada khalifah. Dia disejajarkan dengan Raja Akbar dari India, Umar bin Khattab dan Harun al-Rasyid. Dia termasuk penguasa terbaik dunia.[20]
Pada tahap perkembangan selanjutnya, ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Kekuasaan dipegang oleh para pejabat yang rakus. Hisyam layaknya boneka yang bergantung pada majikannya. Dalam beberapa tahun saja, negara yang tadinya makmur, dilanda kekacauan dan menyulut kehancuran. Akhirnya pada tahun 1013 M dewan menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu Spanyol terpecah menjadi dinasti-dinasti kecil yang berpusat pada beberapa kota.[21]

C. Kekuasaan Mulku Thawaif di Spanyol
Kekuasaan Mulku Thawaif bermula ketika berakhirnya kekuasaan Bani Umaiyyah di bawah kekuasaan pemerintahan Abd Rahman III yang bergelar “An-Nasir”. Setelah kekuasaan Abd Rahman III selesai, kemudian muncullah raja-raja kelompok yang dikenal dengan sebutan Muluk al-Thawaif, penguasa Spanyol diperintah dengan gelar khalifah.
Spanyol kemudian terpecah menjadi tiga puluh negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan (al-Muluk Thawaif) yang berpusat di suatu Kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern, bila terjadi perang saudara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Di lain pihak kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini, baik para sarjana maupun sastrawan.[22]
         Meskipun sudah terpecah dalam beberapa negeri, tetapi masih terdapat kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan dinasti Murabithun dan dinasti Muwahidun (suatu gerakan agama) yang didirikan Yusuf bin Tasyfin dan Muhammad bin Tumart. Akan tetapi tidak lama setelah meninggalnya kedua pemimpin ini, dinasti Murabithun dan Muwahidun berantakan karena pewarisnya tidak seperti dengan pendahulunya. Keadaan Spanyol kembali runyam, dalam kondisi demikian umat Islam, tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang semakin besar. tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Sevilla jatuh tahun 1248 M.[23]
           Pada sekitar tahun  1248 M. sampai tahun 1492 M, Islam hanya berkuasa di Granada di bawah dinasti Bani Ahmar. Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abd Rahman An-Nashir, tetapi secara politik dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil.
Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang Islam yang memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah memberontak terhadap ayahnya dengan meminta bantuan kepada raja Ferdinand dan Isabella. Ternyata Ferdinand dan Isabella tidak menyia-nyiakan kesempatan ini yang tujuannya adalah melenyapkan Islam di Spanyol.
        Setelah Abu Abdullah menyerah kalah, ia kembali hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M, dan pada tahun 1609 M, telah dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini.

D. Pengaruh Islam di Spanyol terhadap Peradaban Eropa
      Kemajuan Eropa terus berkembang sampai saat ini, banyak berhutang budi pada khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di periode klasik. Banyak saluran bagaimana peradaban Islam mempengaruhi Eropa, seperti Sicilia dan perang Salib, adapun saluran yang terpenting adalah Spanyol Islam.
         Di ketahui Spanyol adalah tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik bentuk hubungan politik, sosial, perekonomian, dan peradaban antar negara. Yang terpenting adalah pemikiran Ibn Rusyd (1120-1198 M)[24].
         Adapun pengaruh peradaban Islam, termasuk pemikiran Ibn Rusyd ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa belajar di Universitas-universitas Islam di Spanyol. Pengaruh ilmunya atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan Gerakan Kebangkitan kembali (renaissance) Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Dari perkembangan pemikiran Yunani inilah kemudian dilakukan penerjemahan dan kajian kitab-kitab Arab kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.
       Islam di Spanyol telah membidangi gerakan-gerakan penting di Eropa yakni kebangkitan kembali kebudayaan Yunani Klasik (renaissance) pada abad ke-14 M yang bermula di Italia, gerakan reformasi pada abad ke-16 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (autklaerung)  pada abad ke-18 M.[25]

III. PENUTUP
Dari uraian yang dikemukakan pada pembahasan sebelumnya, dapat dikemukakan beberapa poin penting sebagai kesimpulan, yaitu:
1.  Kelahiran Islam di Spanyol adalah wujud dari konsekuensi pertentangan yang terjadi di kalangan umat Islam pada masa klasik yang dilandasi dendam kesumat dan bukti kefanatikan umat Islam kepada keturunannya. Di sisi lain, hal tersebut membawa sumbangan positif yang tak terlupakan dalam sejarah umat manusia bahkan menjadi jembatan penyeberangan bagi kelanjutan perkembangan ilmu pengetahuan hingga ke dunia barat.
2.  Kekuasaan Bani Umaiyyah di Spanyol mampu memberikan kemajuan peradaban Islam di daerah tersebut. Testimoni sejarah menunjukkan bahwa pada masa kekuasaannnya, Spanyol terutama di Cordova dan Granada menjadi kiblat ilmu pengetahuan. Universitas dan perpustakaan menjadi warna tersendiri bagi Cordova dan Granada. Selain itu, bukti kemajuan peradaban Islam dapat dilihat pada bangunan-bangunan (mesjid dan istana) dengan gaya artistik yang bernilai seni tinggi dan lahirnya para pakar-pakar ilmu pengetahuan.
3.  Kekuasaan di Spanyol terpecah menjadi tiga puluh negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan (al-Muluk Thawaif) yang berpusat di suatu Kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Pada periode ini umat Islam Spanyol meskipun masih mengalami masa kejayaan namun pada akhirnya memasuki masa pertikaian intern, yang kemudian diperparah dengan masuknya Kristen yang pada akhirnya menyebabkan Islam terusir dari Spanyol.
4.   Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat sekarang ini banyak berutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di periode klasik. Hal ini dibuktikan banyaknya saluran yang dapat menghubungkan peradaban Islam dengan Eropa, seperti Sicilia, perang salib dan Islam di Spanyol. Pengaruh peradaban Islam di Spanyol termasuk di dalamnya pemikiran filsafat Ibn Rusyd ke Eropa, berawal dari banyaknya pemuda-pemudi Kristen Eropa yang belajar di Universitas-universitas Islam di Spanyol, seperti; Universitas Cordova, Sevilla, Malaga, Granada dan Salamanca, mereka aktif menerjemahkan buku karya ilmuwan-ilmuwan muslim termasuk karangan Ibn Rusyd.

KEPUSTAKAAN

Ali,  K. A. Study of Islamic History. Delli: Idarah Arabiyah, 1980.
Anbari, Hasan Muarif. et. al, Ensiklopedi Islam Jilid I. Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1994.
Brockelman, Carl. History of Islamic Peoples. London : Rotledge Kegan Paul,1980.
Dozy, Reinhart. Spanish Islam: A History of The Moslems In Spain. London: Frank Cass, 1972.
Hassan, Hassan Ibrahim. Islamic History and Culture diterjemahkan oleh Jahdan Human dengan judul Sejarah dan Kebudayaan Islam. Yogyakarta : Kota Kembang,1989.
Hitty, Philip K. History of The Arabs. London : Macmilla Prees, 1970.
Ismail, Faisal. Paradigma Kebudayaan Islam; Studi Kritis dan Refleksi Historis..Cet. II; Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1998.
Karya, Soekama. et. al. Ensiklopedi Mini: Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1996.
Lapidus, Ira M. A History of Islamic Societies diterjemahkan oleh Gufron A. Mas’adi dengan judul Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999.
Mahmudunnasir, Syed Islam, It`s Concept and History diterjemahkan oleh Adang Affandi dengan judul Islam; Konsepsi dan Sejarahnya. Bandung : PT Remaja Rosda Karya,1991.
Nasution, Harun. Islam  Ditinjau  Dari  Berbagai Aspeknya. Cet. V; Jakarta: UI-Press, 1985.
Syalabi, A. Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 2. Jakarta: Pustaka al-Husna, 1983.
Watt, Montgomery.  Pierre Chacia, A History of Islamic Spain. Edinburg: University Press, 1965.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,1997.


[1]Lihat Hasan Muarif Anbari, et. al, Ensiklopedi Islam Jil. I (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1994), h. 275. dan Soekama Karya, et. al. Ensiklopedi Mini: Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1996), h. 332.
2Philip K. Hitty, History of The Arabs (London : Macmilla Prees, 1970), h. 527.
3Faisal Ismail, Paradigma Kebudayaan Islam; Studi Kritis dan Refleksi Historis. (Cet. II; Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1998), h. 215.
4Harun Nasution, Islam  Ditinjau  Dari  Berbagai Aspeknya (Cet. V; Jakarta: UI-Press, 1985),h. 78.
[5]Lihat Syed Mahmudunnasir, Islam, It`s Concept and History diterjemahkan oleh Adang Affandi dengan judul Islam; Konsepsi dan Sejarahnya (Bandung : PT Remaja Rosda Karya,1991),h.284.
[6]Lihat Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,1997), h. 88.
[7]Peranan tokoh ini dapat disebut sebagai perintis, penyelidik karena dari awal dia sudah menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan Benua Eropa dengan satu pasukan perang kemudian mengadakan penyerbuan dan tidak dapat perlawanan berarti. Ia membawa kemenangan dan kembali ke Afrika Utara.
[8]Musa Ibnu Nuzhair adalah gubernur Afrika Utara yang menggantikan Hasan Ibnu Nu`man seiring dengan peralihan Khalifah Abdul Malik kepada Walid bin Abdul Malik.
[9]Carl Brockelman, History of Islamic Peoples (London : Rotledge Kegan Paul,1980),h.84.
[10]Lihat Badri Yatim, op. cit., h. 89.  dan Hassan Ibrahim Hassan, Islamic History and Culture diterjemahkan oleh Jahdan Human dengan judul Sejarah dan Kebudayaan Islam (Yogyakarta : Kota Kembang,1989), h. 91.
[11]Lihat Reinhart Dozy, Spanish Islam: A History of The Moslems In Spain (London: Frank Cass, 1972), h. 161. Cerita tentang lolosnya Abdul Rahman dari pengejaran Khalifah Abbasiyah dan pengembaraannya selama 5 tahun di Palestina, Mesir dan Afrika Utara dengan cara menyamar adalah merupakan episode yang paling dramatik dalam sejarah Arab. Uraian secara detail baca K. Ali A. Study of Islamic History (Delli: Idarah Arabiyah, 1980), h. 307.
[12]Syed Mahmudunnasir, op.cit., h. 284.
[13]Lihat: Montgomery Watt, Pierre Chacia, A History of Islamic Spain (Edinburg: University Press, 1965), h. 30.
[14]Ibid.
[15]Lihat Badri Yatim, op. cit., h. 103.  
[16]Lihat W. Montgomery Watt, op.cit., 36.
[17]Lihat Badri Yatim, op.cit, h. 59
[18]Lihat W. Montgomery Watt, op.cit., 37.
[19]Lihat Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies diterjemahkan oleh Gufron A. Mas’adi dengan judul Sejarah Sosial Umat Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), h. 584.
[20]K. Ali, op.cit., h. 309-310.
[21]Badri Yatim, op.cit, h. 97.
[22]Badri Yatim   op.  cit. h. 98
23Lihat A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid 2 (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1983), h. 76-77.
[24]Ibid., h. 108.
[25] Ibid., h. 108-109.
Post a Comment