Saturday, December 19, 2015

MANAJEMEN STRATEJIK DAN MANAJEMEN OPERASIONAL SERTA IMPLEMENTASINYA PADA LEMBAGA PENDIDIKAN



I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Wacana terhadap mutu pendidikan merupakan salah satu tema sentral yang menyedot perhatian dalam berbagai diskusi kependidikan di Indonesia akhir-akhir ini. Tema ini semakin menarik manakala dihubungkan dengan lunturnya nilai-nilai moralitas dan persaingan global memasuki milenium ketiga ini.
Paradigma globalisasi sebagai produk kemajuan sain dan teknologi – khususnya teknologi informasi – sebagai bentuk kelanjutan modernisasi.[1] Akbar S. Ahmed dan Hastings Donnan juga menggambarkan globalisasi sebagai era yang secara substansial mengacu kepada perkembangan yang sangat cepat dalam bidang teknologi, komunikasi, transformasi dan informasi yang mampu mengantarkan bagian-bagian dunia yang jauh menjadi sesuatu hal bisa dijangkau dengan mudah (dan cepat).[2] Fenomena globalisasi, dalam pandangan A. Qodri Azizy berpendapat bahwa globalisasi secara simultan terus menimbulkan dua dimensi kehidupan yaitu berbentuk tantangan dan ancaman. Dimensi yang berbentuk tantangan adalah segala dampak positif dari fenomena globalisasi, sehingga mampu menciptakan berbagai fasilitas dan kemudahan dalam berbagai aktivitas manusia, termasuk untuk kepentingan pendidikan Islam. Dimensi yang berwujud ancaman adalah seluruh dampak negatif yang ditimbulkan dari fenomena globalisasi bagi perkembangan dan peradaban manusia dan masyarakat luas, misalnya makin kuatnya pola hidup yang materialistik, hedonistik bahkan sekuleristik. [3] Dalam kondisi yang demikian, fungsi dan peran pendidikan Islam harus dimaksimalkan dalam rangka upaya melestarikan, mengembangkan dan mewariskan cita-cita masyarakat madani.[4] Dari fenomena inilah, maka seluruh upaya yang diperkirakan dapat meminimalisir dampak negatif - minimal mampu menfilter – berbagai dampak negatif tersebut terus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan.
      Pendidikan merupakan suatu investasi terbesar (the best of investation) dalam merancang pola kehidupan manusia ke depan. Sebab dengan modal pendidikan, manusia memiliki tiga keuntungan. Pertama, pendidikan sebagai upaya yang berorientasi pada pembentukan sosok manusia yang potensial secara intelektual melalui proses pembelajaran (intellectual oriented by transfer of knowledge); Kedua, pendidikan merupakan upaya pembentukan masyarakat yang berwatak, beretika dan berestetika melalui transfer of values process yang terkandung di dalamnya; Ketiga, pendidikan merupakan salah satu jaminan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik sekaligus kemartabatan yang tinggi, [5] baik secara material maupun transcendental. Melalui pemahaman inilah, pendidikan secara otomatis menempati posisi yang sangat sentral dan strategis dalam membangun kehidupan manusia ke depan yang berkualitas dan seimbang.
Namun demikian, ada beberapa faktor yang dapat diterapkan oleh lembaga pendidikan sehingga kualitas output pendidikan dapat memenuhi harapan masyarakat, yaitu manusia yang berilmu pengetahuan dan teknologi serta memiliki iman yang tinggi. Untuk mencapai harapan masyarakat dan menunjang tujuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh pemerintah diperlukan implementasi manajemen strategik dan manajemen operasional dalam pengelolaan lembaga pendidikan.
Untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan, pengelolaan pendidikan harus dikelola dan disentuh secara professional dan fungsional sesuai tuntutan dunia kemanajemenan, artinya berbagai sumber daya yang mempengaruhi terjadinya seluruh proses pendidikan perlu ditangani secara terencana, terorganisir, terarah dan terkendali. Dari konteks inilah maka lembaga pendidikan dituntut memiliki kompetensi manajerial yakni kemampuan membangun pola kerja yang sistematis, logis, realistis dan strategis.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, peneliti merumuskan beberapa masalah pokok dalam kajian ini, yaitu :
1.   Apa yang dimaksud dengan manajemen stratejik dan manajemen operasional?
2.    Bagaimana implementasi manajemen stratejik dan manajemen operasional pada lembaga pendidikan?

II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Manajemen Stratejik dan Manajemen Operasional
Manajemen secara etimologi berasal dari bahasa Inggris to manage yang berarti memerintah, mengatur, mengurus, mengemudikan.[6] Kemudian dalam perkembangannya, kata to manage mengalami perubahan menjadi manajement yang berarti pimpinan, pengurusan dan pengelolaan.[7] Dalam bahasa Arab, kata manajemen identik dengan tadbir (تدبير), idarah (إدارة) yang berarti mengelola, pengelolaan.[8] Term manajemen dalam aplikasinya sering diartikan sama dengan administrasi, termasuk dalam dunia pendidikan. Alasan mereka menyamakan keduanya dengan dasar bahwa secara fungsional dan operasional. Memang harus diakui bahwa para ahli hingga kini belum ada kesepakatan dalam dua hal itu, namun demikian ada juga yang berpendapat bahwa manajemen dan administrasi merupakan dua hal yang berbeda sebab manajemen merupakan inti dari administrasi.[9]
Apabila ditelusuri dalam berbagai literatur manajemen, maka pengertian manajemen secara terminologis akan ditemukan bahwa manajemen mengandung empat pengertian, yaitu: (a) manajemen sebagai suatu ilmu, (b) manajemen sebagai suatu proses, (c) manajemen sebagai suatu seni (art) atau kiat, (d) manajemen sebagai suatu profesi atau kemampuan. Namun demikian, secara sederhana manajemen dapat didefinisikan sebagai upaya untuk mendapatkan sesuatu yang dikerjakan melalui orang lain (get things done through other people)
Stratejik menurut etimologi berasal dari kata strategic (Inggris) yang berarti kiat, cara, taktik utama.[10] Secara historis kata stratejik berawal dari dunia militer dan secara populer diartikan sebagai kiat yang digunakan oleh para komandan militer (jenderal) untuk memenangkan peperangan. Ralph Taylor dalam Websters’s World University Dictionary mengemukakan ”strategic mean of great or vital importance within an integrated whole.” [11] Namun kata stratejik, kemudian dipergunakan juga oleh hampir seluruh organisasi untuk menentukan pilihan dalam memenangkan ”peperangan” tertentu guna mencapai tujuan.[12]
Dari pengertian di atas, maka yang dimaksud manajemen stratejik adalah serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat untuk manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran suatu organisasi dalam rangka pencapaian suatu tujuan organisasi tersebut.[13] Definisi lain tentang manajemen stratejik adalah usaha manajerial menumbuhkembangkan kekuatan organisasi untuk mengeksploitasi peluang yang muncul guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai misi yang telah ditetapkan.[14] Kemudian R. Edward Freeman mendefinisikan manajemen stratejik adalah suatu proses terus menerus dan walaupun pada waktunya harus dipilih titik-titik yang berlainan dengan maksud untuk mengambil keputusan dalam rangka mencapai tujuan.[15]
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka peneliti dapat mengemukakan bahwa yang dimaksud manajemen stratejik adalah serangkaian usaha, kiat, keputusan dan tindakan yang mendasar yang digariskan oleh pimpinan organisasi dan diimplementasikan oleh seluruh jajarannya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi itu.
Sementara itu, yang dimaksud dengan manajemen operasional meliputi pengelolaan dalam aspek pengadaan tenaga kerja  (procurement), pengembangan (development), kompensasi, integrasi, (integration), pemeliharaan (maintenance) dan pemutusan hubungan kerja (separation).[16] Manajemen operasional pada lembaga pendidikan merupakan kegiatan pelaksana yaitu kegiatan yang dilakukan oleh para personil pendidikan sesuai dengan tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepadanya, yang meliputi bidang-bidang kegiatan seperti bidang kurikulum, ketenagaan, keuangan, sarana dan prasarana, tata usaha dan humas.

B. Implementasi Manajemen Stratejik dan Manajemen Operasional pada Lembaga Pendidikan
Pertanyaan mendasar yang perlu mendapat jawaban adalah mengapa manajemen strategik dan manajemen operasional dibutuhkan dalam semua proses dan aktivitas organisasi, termasuk dalam lembaga pendidikan?
Setiap organisasi pasti diperhadapkan pada dua jenis lingkungan yaitu lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Semakin besar suatu organisasi, maka makin kompleks pula bentuk, jenis dan sifat jangkauan interaksinya. Salah satu implikasi dari kompleksitas itu adalah semakin sulitnya pemimpin organisasi dalam mengambil kebijakan, apalagi setiap pemimpin memiliki tipe yang berbeda-beda. Oleh karena itu manajemen strategik dan manajemen operasional dibutuhkan untuk menemukan solusi yang cepat dan tepat.
Manajemen strajetejik dan manajemen operasional sangat dibutuhkan oleh semua organisasi dalam berproses dan beraktivitas, karena tanpa keduanya, semua usaha dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan akan mengalami kegagalan, minimal tujuan itu tak akan tercapai secara maksimal. Kalau Hani Handoko[17] memberikan tiga alasan utama mengapa manajemen itu dibutuhkan dalam setiap organisasi, yaitu :
1.  Untuk mencapai tujuan. Dengan penerapan manajemen yang baik, maka pencapaian tujuan organisasi dan perorangan akan lebih mudah tercapai, sebab dengan manajemen kegiatan organisasi diproses secara sistematis mulai tahapan perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengontrolan, hingga penilaian.
2.  Untuk menjaga keseimbangan di antara tujuan yang saling bertentangan. Manajemen dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan antara berbagai tujuan, sasaran, kegiatan pembagian tugas, pembiayaan dan lain-lain.
3.    Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas. Suatu pekerjaan dan aktivitas organisasi dapat diukur dengan berbagai pendekatan dan cara. Ukuran yang umum dipakai adalah standar efisiensi dan efektivitas.
Maka urgensitas manajemen strategik dan manajemen operasional dalam kerangka membangun suatu organisasi, perusahaan maupun lembaga menjadi solid, mapan dan kuat di tengah terpaan berbagai tantangan, terutama persaingan global. Dengan menggunakan Manajemen Strategik dan manajemen operasional, sebagai suatu kerangka kerja (framework) untuk mencapai tujuan yang strategis yang telah ditetapkan organisasi atau perusahaan, terutama berkaitan dengan persaingan, maka para pimpinan/manajer diajak untuk berfikir secara strategik.
Ada beberapa sifat yang selalu melekat pada Manajemen Strategik dan manajemen operasional dalam pencapaian tujuan lembaga pendidikan, yaitu:
1.   Unified, yaitu menyatukan seluruh unsur dalam organisasi, lembaga atau perusahaan.
2.  Comprehensive, yaitu menyeluruh, mencakup seluruh aspek dalam organisasi, lembaga atau perusahaan.
3.  Integrated, yakni seluruh strategi menyatu dan cocok dengan keseluruhan posisi dan tingkatan.[18]
Lalu sejauhmana urgensitas dan manfaat bagi lembaga pendidikan, jika dalam pencapaian suatu tujuan menerapkan manajemen strategik dan manajemen operasional, Agustinus Sri Wahyudi memaparkan manfaat itu adalah:
1.    Memberikan arah jangka panjang terhadap upaya pencapaian tujuan.
2.  Membantu suatu lembaga pendidikan beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi.
3.    Membuat suatu lembaga pendidikan menjadi lebih efektif.
4.   Aktivitas pembuatan strategi akan mempertinggi kemampuan lembaga pendidikan untuk mencegah munculnya masalah di masa datang.
5.   Keterlibatan para guru/staf/pegawai dalam menyusun strategi akan mendongkrak motivasi mereka dalam pelaksanaannya.
6.    Pembagian tugas yang tumpang tindih akan terminimalisir.
7.    Kengganan dan kebosanan para guru/staf/pegawai  dalam bekerja akan hilang.[19]
Sebenarnya, diakui atau tidak, ketujuh hal tersebut merupakan permasalahan kronis yang selalu dihadapi oleh lembaga pendidikan yang dalam operasional aktivitasnya masih menggunakan pendekatan konvensional yaitu pencapaian tujuan jangka panjang belum terarah, lembaga pendidikan kurang tanggap terhadap perubahan di sekitarnya, pelaksanaan program terkadang tidak efektif dan efisien, kepala sekolah kurang memberi prioritas pada gejala ketidakberesan yang muncul sehingga banyak masalah yang muncul di kemudian hari karena tidak terdeteksi, para guru dan staf tidak dilibatkan dalam penyusunan strategi, pembagian tugas sering tumpang tindih antara satu pegawai dengan lainnya, dan secara psikologis para pegawai terkadang cepat bosan dalam melakukan pekerjaan.
            Manajemen sering dipandang sebagai suatu cara untuk mengendalikan organisasi secara efektif dan efisien, sampai kepada tahap implementasi dan evaluasinyanya sedemikian rupa, sehingga tujuan dan sasarannya tercapai. Sedangkan konsep-konsep manajemen stratejik dan manajemen operasional sendiri selalu memberi perhatian serius terhadap perumusan tujuan dan sasaran organisasi, faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahannya, serta peluang-peluang dan tantangan yang senantiasa dihadapi oleh setiap organisasi, faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahannya, serta peluang-peluang dan tantangan yang senantiasa dihadapi oleh setiap organisasi. Analisis mengenai faktor-faktor ini sangat berguna dalam merumuskan alternatif-alternatif yang akan memudahkan para pengambil keputusan terutama kepala sekolah dalam setiap memilih alternatif terbaik. Setelah memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi yang akan timbal apabila statu alternatif dipilih dan dilakasanakan.
Oleh sebab itu, tidak dapat dihindari bahwa dimensi-dimensi utama dalam konsep manajemen stratejik dan manajemen operasional saling berkaitan satu dengan yang lain, saling menjalin, sehingga apabila seseorang hendak berbicara tentang keputusan stratejik, ia tidak dapat menghindari pembahasan tentang prinsip-prinsip utama dalam manajemen operasional. Sebab strategi didesain untuk menghasilkan perilaku kepemimpinan dan menghasilkan pemimpin yang dapat memberikan inspirasi melalui visi dan misinya.
     Apabila pengambilan keputusan dalam manajemen stratejik merupakan fungsi manajemen, begitu pula peranan manajemen operasional lebih bersifat pada bagaimana implementasi keputusan tersebut di lapangan atau pelaksanaan teknisnya. Sementara itu, manajemen stratejik  memantau dan menggerakan aktivitas operasional dari semua pihak yang bertanggung jawab dan yang terlibat dalam mencapi tujuan dan sasaran organisasi.
Salah satu contoh yang dapat dilakukan dalam implementasi manajemen strategik dan manajemen operasional di lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren adalah mencanangkan empat program strategis, yaitu (1) Peningkatan mutu manajemen pendidikan, (2) Peningkatan kualitas pendidikan kepesantrenan dan tahfidz Alquran , (3) Peningkatan kompetensi tenaga kependidikan, (4) Program Perkampungan Bahasa (Arab dan Inggris), (5) Program ketrampilan hidup (life skill). Menurut Drs. K.H. Thahir Syarkawi bahwa sasaran yang ingin dicapai dari strategi itu antara lain (a) terwujudnya pendidikan yang efektif yang ditopang tenaga kependidikan yang memenuhi standar kompetensi; (b) santri menguasai pengetahuan keislaman dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, (c) santri dapat berbahasa dan berkomunikasi bahasa Arab dan Inggris secara aktif, (d) santri memiliki pengetahuan dan ketrampilan dasar teknologi pertanian, peternakan dan konveksi (menjahit) dan lain-lain.
Untuk itu, ada lima hal yang perlu ditekankan dalam mengimplementasikan manajemen stratejik dan manajemen operasional dalam meningkatkan mutu pendidikan di sebuah lembaga pendidikan, dalam menghadapi tantangan global yaitu:
a.      Peningkatan kualitas manajemen pendidikan
b.      Peningkatan kualitas poses pembelajaran
c.      Peningkatan kualitas SDM tenaga kependidikan
d.      Membangun jaringan kerja (networking). [20]
Manajemen stratejik dan manajemen operasional harus dipandang sebagai proses untuk mendorong kemauan belajar dan bertindak, tidak semata-mata sebagai satu sistem formal untuk melakukan pengendalian. Oleh karena itu, penggunaan dan pemanfaatan manjemen stratejik dan manajemen operasional yang tepat dapat memberikan petunjuk bagaimana mengatasi masalah-masalah dan peluang di masa yang akan datang. Di samping itu akan dapat mempercepat pengambilan keputusan dan pelaksanaan teknisnya dengan lebih baik dan bermutu.

III. PENUTUP
Dari deskripsi di atas, dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:
1.  Manajemen stratejik adalah serangkaian usaha, kiat, keputusan dan tindakan yang mendasar yang digariskan oleh pimpinan organisasi dan diimplementasikan oleh seluruh jajarannya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi itu. Sedangkan manajemen operasional meliputi pengelolaan dalam aspek pengadaan tenaga kerja  (procurement), pengembangan (development), kompensasi, integrasi, (integration), pemeliharaan (maintenance) dan pemutusan hubungan kerja (separation).
2.     Implementasi manajemen stratejik dan manajemen operasional pada lembaga pendidikan dapat memberikan dampak positif pada pengembangan lembaga pendidikan dengan memberikan petunjuk tentang mengatasi masalah-masalah dan peluang pada saat sekarang dan di masa yang akan datang, serta akan mengakuratkan pengambilan keputusan dan pelaksanaan teknisnya secara lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, Akbar S. dan Hastings Donnan, Islam, Globalization and Posmodernity. London: Routledge, 1994.
Alkalali, As’ad M. Kamus Indonesia – Arab. Jakarta: Bulan Bintang, 1987.
Azizi, A. Qodri. Melawan Globalisasi Reinterpretasi Ajaran Islam. Jakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
Burhanuddin. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 1994.
Flippo, Edwin B. Personal Management, diterjemahkan oleh Moh. Masud dengan Judul : Manajemen Personalia. Jilid I; Jakarta: Erlangga, 1996.
Freeman, R. Edward. Strategic Management A Stakeholder Approach. Edisi Indonesia. Jakarta: Pustaka Binaman Presindo, 1996.
Handoko, T. Hani. Manajemen, Edisi 2, Yogjakarta: BPFE, 1998.
J. Salusu, Pengambilan Keputusan Stratejik Untuk Organisasi Publik  dan Non Provit. Jakarta : PT. Gramedia, 1996.
Nata, Abuddin. Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Prenada Media, 2003.
Nawawi, Hadari. Manajemen Strategik Organisasi Non-Profit Bidang Pemerintahan. Jogjakarta: Gajah Mada University Press, 2003.
Siagian, Sondang P. Manajemen Stratejik. Jakarta: Bumi Aksara, 2001.
Taylor, Ralph. Websters’s World University Dictionary. Washington: Publishers Company, 1965.
Wahyudi, Agustinus Sri. Manajemen Strategik. Jakarta: Binarupa Aksara, 1996
Willy, Markus dkk., Kamus Lengkap Plus Inggris – Indonesia, Indonesia Inggris. Surabaya: Arkola, 1997.



[1]A. Qodri Azizi, MA, Melawan Globalisasi Reinterpretasi Ajaran Islam (Jakarta: Pustaka Pelajar, 2003). h. Viii.
[2]Akbar S. Ahmed dan Hastings Donnan, Islam, Globalization and Posmodernity (London: Routledge, 1994), h. 1.
[3]A. Qodri Azizy, op. cit., h. 23 - 24
[4]Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 83.
[5]Kemartabatan yang tinggi bagi kaum yang beriman lagi terdidik (intelektual) merupakan janji Allah Swt kepada mereka sebagaimana yang diinformasikan dalam Alqur’an. Firman Allah : " يرفع الله الذين أمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجت" Terjemahnya : “ ... Allah senantiasa akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat ... “ (QS. Al-Mujadalah : 11)
[6]Markus Willy dkk., Kamus Lengkap Plus Inggris – Indonesia, Indonesia Inggris (Surabaya: Arkola, 1997), h. 319.
[7]Ibid.
[8]As’ad M. Alkalali, Kamus Indonesia – Arab (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), h. 247 – 248.
[9] Lihat Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), h. 30 – 31.
[10]Hadari Nawawi, Manajemen Strategik Organisasi Non-Profit Bidang Pemerintahan (Jogjakarta: Gajah Mada University Press, 2003), h. 147.
[11]Ralph Taylor Websters’s World University Dictionary (Washington: Publishers Company, 1965), h. 989.
[12]Sondang P. Siagian, Manajemen Stratejik (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 15.
[13]Ibid.
[14]Hadari Nawawi, op. cit., h. 148.
[15]R. Edward Freeman, Strategic Management A Stakeholder Approach. Edisi Indonesia, (Jakarta: Pustaka Binaman Presindo, 1996), h. 97.
[16] Edwin B. Flippo, Personal Management, diterjemahkan oleh Moh. Masud dengan Judul : Manajemen Personalia, (Jilid I; Jakarta: Erlangga, 1996), h. 5.
[17]Lihat T. Hani Handoko, Manajemen, Edisi 2, (Yogjakarta: BPFE, 1998), h. 6-7.
[18]Agustinus Sri Wahyudi, Manajemen Strategik (Jakarta: Binarupa Aksara, 1996), h. 16.
[19]Ibid, h. 19.
[20]Salusu, J. Pengambilan Keputusan Stratejik Untuk Organisasi Publik  dan Non Provit, (Jakarta : PT. Gramedia, 1996)., h. 498.
Post a Comment