Saturday, December 19, 2015

PARADIGMA ALIRAN PENDIDIKAN BARAT DAN ISLAM DALAM PENDIDIKAN ANAK

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam sebagai agama universal mempunyai ajaran yang sangat fleksibel sehingga dikatakan Salih li kulli zaman wa makan yang mencakup berbagai aspek diantaranya adalah aspek pendidikan, hukum, politik, sejarah dan lain-lain. Pendidikan - dalam arti yang luas - telah ditempatkan sebagai bagian dari missi pokok Nabi saw. dalam mengajarkan dan menyebarkan risalah yang dipikulkan Allah swt. padanya. Hal ini terlihat dengan wahyu yang pertama diturunkan kepada Beliau yang dimulai dengan Iqra’ (perintah membaca).[1] Di samping itu, Islam juga menyampaikan bahwa proses pendidikan sudah terjadi sejak awal adanya manusia, meskipun bukan dalam bentuk yang seperti kita lihat dan alami sekarang.
Islam telah mengajarkan kepada kita bahwa manusia adalah mahluk paedagogik, dalam artian bahwa manusia adalah mahluk yang bisa dididik dan memerlukan pendidikan.[2] Pendidikanlah yang mampu mengangkat derajat manusia bahkan membedakannya dengan makhluk lain. Bahkan, sosial di tengah masyarakat mempunyai efek yang sangat besar jika memiliki pendidikan yang tinggi. Dengan potensi-potensi yang dimiliki, manusia bisa dengan mudah menerima pendidikan dan pengajaran yang selanjutnya mengubah dan mengembangkan apa-apa yang pernah diperolehnya dari proses pendidikan itu. Selain itu, manusia mempunyai sifat alami (kodrati) yakni perasaan ingin tahu. Dari rasa ingin tahu manusia itu menjadikan hidupnya dinamis yang selalu berusaha menemukan jawaban-jawaban dari berbagai macam pertanyaan yang muncul dari benaknya dengan melakukan renungan-renungan, pemikiran-pemikiran yang mendalam ataupun melalui eksperimen.          
         Pendidikan merupakan salah satu unsur dari aspek sosial budaya yang berperan sangat strategis dalam pembinaan suatu keluarga, masyarakat atau bangsa. Hal tersebut karena peranan pendidikan pada intinya merupakan suatu ikhtiar yang dilaksanakan secara sadar, sistematis, terarah dan terpadu untuk memanusiakan peserta didik dan menjadikan mereka sebagai khalifah di muka bumi.
Pendidikan sebagai suatu proses, baik berorientasi pada pendidikan Islam maupun pendidikan pada umumnya, sekurang-kurangnya memiliki enam unsur yaitu dasar, tujuan, pendidik, peserta didik, alat pendidikan dan lembaga pendidikan.[3]
Pendidikan merupakan kewajiban setiap manusia yang dalam pelaksanaannya menjadi tanggungjawab tiga lingkungan, antara satu dengan lainnya saling mendukung. Lingkungan yang dimaksudkan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat, yang selanjutnya dikenal dengan Tripusat Pendidikan.
Keluarga memegang peranan penting sekali dalam pendidikan anak sebagai institusi yang mula-mula sekali berinteraksi dengannya. Tugas utama keluarga bagi pendidikan anak ialah membentuk kepribadian dan meletakkan dasar-dasar bagi pendidikan anak. Dasar-dasar bagi pendidikan anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan anggota keluarga yang lainnya.[4]
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang penting setelah keluarga yang berfungsi membantu tugas pendidikan yang dijalankan oleh keluarga. Anak mendapatkan pendidikan di lembaga sekolah apa yang tidak didapatkan dalam keluarga. Tugas yang dilakukan guru di sekolah merupakan pelimpahan dan lanjutan dari tanggungjawab orang tua.[5]
Dalam lingkungan masyarakat terdapat beberapa lembaga organisasi sosial yang dapat menunjang keberhasilan pendidikan. Jika dalam lingkungan keluarga, pendidikan dilaksanakan secara informal, yaitu melalui pengalaman hidup sehari-hari, maka di lingkungan sekolah dilaksanakan secara formal, yakni sengaja merencanakan dengan matang tujuan-tujuan yang akan dicapai. Adapun di lingkungan masyarakat, pendidikan dilaksanakan secara non formal, yakni dilaksanakan dengan sengaja, akan tetapi tidak terlalu terikat dengan peraturan dan syarat-syarat tertentu.           
Atas dasar ini, para filosof dan psikolog pendidikan mengemukakan pemikiran-pemikirannya tentang kemungkinan manusia itu dididik yang didasarkan pada proses perkembangan dan proses belajar dari manusia. Sebelum para pemikir Barat mengemukakan tentang ide-ide pendidikan, ilmuan- ilmuan Muslim seperti Ibn Sina (980 M) telah merintis ide tentang pemberian perhatian khusus kepada anak kecil individual differencies yang mana di Barat saat itu anak-anak dipandang sebagai orang dewasa dalam bentuk kecil. Begitu pula al-Gazali yang telah mengemukakan pemikirannya tentang psikologi perkembangan serta beberapa ilmuan Muslim lainnya yang muncul sebelum munculnya pemikir-pemikir Barat. [6] mengemukakan pandangannya tentang adanya sesuatu yang melekat pada diri manusia yang dibawa sejak lahir dengan berbagai kemungkinan untuk bisa dikembangkan atau ada hal-hal lain yang bisa mempengaruhinya.

B. Rumusan Masalah
        Bertolak dari hal-hal yang dikemukakan di atas, maka dapat diformulasikan rumusan masalah sebagai berikut:
1.   Bagaimana paradigma aliran Pendidikan Barat terhadap pendidikan anak?
2.   Bagaimana paradigma aliran Pendidikan dalam Islam terhadap pendidikan anak?

C. Tujuan Penulisan
          Penulisan karya tulis ilmiah ini bertujuan sebagai berikut:
1.  Untuk mengetahui paradigma aliran Pendidikan Barat terhadap pendidikan anak.
2.  Untuk mengetahui paradigma aliran Pendidikan dalam Islam terhadap pendidikan anak.

C. Manfaat Penulisan
         Penulisan karya tulis ilmiah ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut:
1.  Manfaat ilmiah, yaitu menambah khasanah pengetahuan penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya, meningkatkan pengetahuan terutama sekitar pengetahuan tentang pandangan Barat dan Islam tentang pendidikan anak.
2.  Manfaat Praktis, dengan selesainya penelitian ini, selanjutnya akan dituangkan ke dalam satu bentuk karya ilmiah yang diharapkan dapat menjadi sumbangsih moril kepada masyarakat, terutama kepada rekan mahasiswa yang pada akhirnya akan menjadi pemimpin di dalam rumah tangganya, memelihara dan mendidik anak-anaknya sebagai pertanggungjawaban yang diamanatkan oleh Allah swt.

II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Aliran Pendidikan Islam

         Secara etimologi, kata “aliran” adalah bentuk nomina dari kata alir kemudian mendapat tambahan akhiran “an” yang berarti haluan, pendapat dan paham,[7] sedang dalam bahasa Arab disebut dengan al-Mazhab.[8] Kata aliran (mazhab) secara terminologi adalah pendapat atau pemikiran seseorang dalam memahami sesuatu baik filsafat, hukum, teologi, politik dan lain-lain yang kemudian diikuti oleh beberapa kelompok orang.[9]
       Pendidikan Islam, menurut Achmadi adalah segala usaha yang dilakukan untuk membina dan mengembangkan sumber daya manusia yang dimilikinya baik jasmani maupun rohani menuju terbentuknya manusia seutuhnya sesuai dengan norma Islam.[10] Abd al-Rahman al-Nahlawi berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah upaya mengembangkan pikiran manusia, menata tingkah lakunya, emosinya pada seluruh aspek kehidupan agar tujuan yang dikehendaki bisa terealisasi.[11]
Dengan demikian, aliran pendidikan Islam adalah paham atau pemikiran pendidikan sebagai titik tolak dalam membina dan mengembangkan potensi-potensi manusia serta ha-hal yang mempengaruhinya sesuai dengan pandangan Islam.

B. Pengertian Pendidikan Islam
Pengertian pendidikan adalah orang yang bertanggung jawab tentang perhubungan dan pertumbuhan anak, di mana anak dapat dikembangkan atau diarahkan menurut kemampuannya masing-masing agar anak tersebut dapat mencapai kepuasan dan kecerdasannya, baik itu kecerdasan rohani maupun kecerdasan jasmani.
Drs. Ahmad D. Marimba mengemukakan pengertian pendidikan Islam adalah “bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan kepribadian yang utama”.[12]
Persoalan pendidikan adalah persoalan manusia, sedangkan makhluk lain dari pada manusia tidak memerlukan pendidikan, hewan sebagai makhluk yang dalam beberapa hal mempunyai titik persamaan dengan manusia, tidak membutuhkan apa yang disebut pendidikan, karena seluruh kehidupannya dikendalikan oleh naluri dan nafsu. Naluri adalah suatu perlengkapan hidup yang merupakan pengetahuan siap untuk dipakai, yang tidak memerlukan latihan maupun pendidikan sebelumnya. Itulah sebabnya, maka hewan seolah-olah dewasa sejak lahirnya atau hanya memerlukan waktu yang relatif singkat untuk dapat mewarisi seluruh pengetahuan dan keterampilan  jenisnya di mana pun ia berada. Hal ini berbeda dengan manusia yang sejak dilahirkan serba menggantungkan nasibnya pada alam sekitarnya, terutama alam sekitar manusia. Sifat ketergantungan itu berlangsung bertahun-tahun di mana anak itu sangat memerlukan lingkungan pemeliharaan dan  bimbingan untuk merealisir fungsi manusia dari padanya.
       Kita sudah mengetahui bahwa masalah pendidikan adalah universal olehnya itu sewajarnya setiap manusia berhak menerima pendidikan, baik dalam rumah tangga, sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat. 
        Menurut Drs. H. Abdurrahman tentang pendidikan adalah merupakan suatu usaha pertolongan atau proses pendewasaan yang dilakukan secara sistematis, pragmatis, bertahap dan terarah untuk mendewasakan manusia baik sebagai makhluk individual maupun sebagai makhluk sosial dan makhluk religius (beragama).[13]
Dengan demikian bahwa pendidikan adalah merupakan sub sistem keterkaitan antara subyek dan obyek, dengan terjadinya interaksi antar pendidik di dalam mentransfer nilai pendidikan terhadap peserta didik, dengan tujuan untuk meningkatkan kecerdasan dan ketelitian di dalam  mengaplikasikan nilai-nilai pendidikan secara religius.
Islam dikenal sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw penamaan al-Islam ini bukanlah hasil ijtihad atau hasil pemikiran  dari  seorang  rasul  melainkan  langsung  dari  Allah  swt.  di   dalam   Alquran  ditegaskan  dalam  QS. al-Maidah: 3 :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا
Terjemahnya :
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.[14]
      Selanjutnya menurut pendapat Syaikhul al-Azhar almarhum Mahmud Syaltout memberikan pengertian Islam adalah Agama Allah yang diperintahkan untuk mengajarkannya tentang pokok-pokok  serta aturan-aturannya kepada Nabi Muhammad saw dan menugaskan untuk menyampaikan tugas tersebut kepada seluruh manusia  mengajak mereka untuk memeluk Islam.[15]
Berdasarkan defenisi yang penulis kemukakan di atas, dapat diambil kesimpulan atau pengertian Islam adalah nama bagi agama yang diturunkan oleh Allah swt. buat mengatur kehidupan dan mencapai puncak kesempurnaannya kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengatur kehidupan manusia agar supaya manusia tidak mengalami  kegelisahan dunia dan akhirat.
Setelah penulis mengemukakan pengertian pendidikan dan Islam, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang paling umum dan paling lengkap dan mencakup segala pendidikan dan pengajaran baik yang bersifat keduniaan dan juga keakhiratan. Oleh karena itu, pendidikan Islam tidak hanya mempersoalkan di bidang mental spiritual, kesusilaan, bahkan menyusun segala kehidupan manusia dan dia melengkapi akhlak atau asuhan terhadap seseorang, agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan serta menjadikan  ajaran Islam sebagai pandangan hidupnya.
Begitu pula Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah usaha sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[16]
Bahwa kepribadian muslim adalah merupakan kepribadian yang memiliki nilai-nilai Agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, bahwa pendidikan Islam adalah merupakan pedoman yang asasi dan tidak dapat diragukan ajaran-ajarannya karena nilai ajarannya dapat menjamin keselamatan dunia dan akhirat.

C.  Aliran-aliran dalam Pendidikan Barat

1. Nativisme dan Naturalisme
a. Nativisme
        Aliran ini mempunyai doktrin filosofis yang berpengaruh terhadap pemikiran pendidikan. Bahkan, aliran ini pernah mewarnai dunia pemikiran pendidikan.[17] Tokohnya adalah Arthur Schopenhauer (1788-1860) yang berpandangan bahwa anak yang lahir sudah mempunyai potensi/pembawaan yang mempengaruhi hasil dari perkembangan selanjutnya.[18] Pendidikan sama sekali tidak mempunyai daya atau kekuatan. Ia hanya berfungsi memberi polesan kulit luar dari tingkah laku sosial anak, sedang bagian dalam dari kepribadian anak didik tidak perlu ditentukan. Aliran ini disebut pula dengan aliran pesimisme karena tidak adanya kepercayaan akan nilai-nilai dari pendidikan sehingga anak itu diterima apa adanya.[19] Dicontohkan bahwa semua keistimewaan-keistimewaan atau kekurangan orang tua dimiliki pula oleh anak. Jika seorang ayah ahli musik maka kemungkinan besar anaknya akan menjadi pemusik dan kalau ayahnya pelukis maka anaknya akan menjadi pelukis atau seniman.
        Sukses tidaknya suatu pendidikan – menurut aliran nativisme – ditentukan oleh tinggi rendahnya kualitas hereditas yang dipunyai oleh anak. Pembawaan yang sifatnya kodrati tidak bisa diubah-ubah, menjadi penentu masa depan seorang anak. Meskipun telah diberikan pendidikan sedemikian rupa jika mutu hereditasnya rendah maka hasilnya tetap rendah pula.
b.    Naturalisme
        Jean Jacques Rousseau (1712-1778) lahir di Geneva Swiss. Karena ketidakpuasan di negerinya serta kehidupan yang tidak menentu, maka pada tahun 1728 ia melarikan diri ke Perancis setelah bekerja pada tukang ukir yang suka menghukumnya.[20] Hidup di tengah masyarakat yang dianggap sudah moderen tetapi moral mereka bobrok dan kadaannya sebagai seorang pelarian sangat mempengaruhi alur pemikirannya.
Rousseau kemudian menulis buku yang berjudul Emile yang mengantarkannya menjadi seorang filosof abad pencerahan. Ia berpendapat bahwa pada dasarnya segala sesuatu yang datang dari alam itu baik, tetapi setelah tiba pada manusia bisa saja ia menjadi buruk. Maka untuk membimbing seorang anak cukuplah berdasar pada keinginan dan pembawaannya.[21] Rousseau menganggap lingkungan atau masyarakat adalah sumber dari segala kerusakan dan keburukan. Seorang anak harus dihindarkan dari hal-hal tersebut sehingga ia tumbuh dan berkembang secara alamiah.[22] Aliran ini juga disebut dengan aliran negativisme karena menganggap bahwa proses pendidikan itu dilakukan dengan memberi kebebasan yang sebebas-bebasnya kepada anak didik untuk tumbuh dengan sendirinya kemudian memberikan sepenuhnya kepada alam sebagai pelaksana pendidikan agar pembawaan anak bisa tetap terjaga dan tidak dirusak oleh tangan-tangan manusia karena kesalahan dalam mendidik.
            Rousseau sangat optimis terhadap pembawaan baik dan positif dari manusia yang baik. Pembawaan sifatnya natural (berasal dari alam) maka manusia harus dididik oleh alam pula. Rousseau memberi contoh pendidikan yang dilakukan oleh alam, seorang anak di saat bermain-main dengan pisau lalu tangannya teriris olehnya maka anak tersebut minimal akan berhati-hati pada waktu menggunakan pisau kedua kalinya, mengingat bahaya yang ditimbulkan di saat ceroboh menggunakannya. Begitu juga, seorang anak tidak mau lengah pada waktu menutup pintu rumahnya karena pernah merasakan bagaimana sakitnya dijepit pintu. Di sini, alamlah yang mengajari anak tersebut dan menjadikannya ia sadar dan mengerti akan hal-hal yang diperbuatnya.
      Pandangan-pandangan naturalis yang dikemukakan oleh Rousseau berhasil mengokohkan dirinya sebagai seorang tokoh naturalisme yang mana karya monumentalnya -Emile- masih dibaca hingga sekarang dalam lingkungan pendidikan . Aliran ini hampir sama dengan aliran nativisme yang berbeda hanya pada aspek penekanan baik buruknya pembawaan itu.
2. Aliran Empirisme
         Tokoh utamanya adalah John Lock (1632-1704), dilahirkan di Inggris dari keluarga terdidik.[23] Ia dianggap sebagai pemberi titik terang dalam perkembangan psikologi dikarenakan teorinya seakan memberi perspektif baru dalam pemikiran pendidikan.[24] Teorinya yang terkenal adalah teori tabula rasa yang mengibaratkan anak yang baru lahir bagaikan kertas putih bersih (kosong) atau meja yang berlapis lilin. Di atas kertas atau lilin itu dapat ditulisi apa saja sesuai dengan keinginan.
        Teori tabula rasa yang dimajukan oleh John Lock menekankan arti penting dari pengalaman dan lingkungan dalam mendidik anak. Adapun pembawaan, dianggap tidak ada sehingga tidak mungkin sesuatu yang tidak ada bisa mempengaruhi anak didik. Karena penekanan pendidikan terletak pada aspek lingkungan dan pengalaman dikatakanlah alirannya bercorak empiris.[25] Lock berusaha untuk mendekatkan pendidikan itu dengan situasi.[26] Aliran ini menjadi sangat terkenal karena keoptimisannya dalam mendidik yang tidak mengenal putus asa. Aliran ini menganggap bahwa ia bisa saja menjadikan si anak itu sebagai seorang ahli kimia meskipun ia tidak terlahir dari keluarga ahli kimia atau menjadikan anak itu seniman walaupun tidak berasal dari lingkungan keluarga seniman. Hanya saja, seorang anak diusahakan dipola sedemikian rupa bagaikan sebuah robot yang harus mengikuti keinginan dari pendidiknya atau penuntunnya untuk memperoleh hasil yang dikehendaki. Aliran ini sangat bertolak belakang dengan aliran Nativisme dan Naturalisme.
 3. Aliran Konvergensi
         Aliran ini diperkenalkan oleh seorang ahli jiwa berkebangsaan Jerman bernama William Stern. Lahir di Jerman pada tanggal 28 April 1871. Stern berpandangan bahwa antara heredity dan meliau ada saling keterkaitan memberi pengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia.[27] Secara kodrati manusia, telah dibekali dengan bakat atau potensi. Akan tetapi, untuk berkembang lebih baik perlu adanya pengaruh dari luar berupa tuntunan dan bimbingan melalui pendidikan.[28]
     Stern berusaha menyatukan dua aliran yang bertolak belakang yaitu nativisme/naturalisme dan empirisme dalam memandang manusia sebagai peserta didik. Bagaimanapun, jika yang diambil hanya salah satunya saja - antara nativisme/naturalisme dan empirisme - berarti pendidikan itu akan berjalan pincang, karena dua hal yang semestinya berjalan beriringan namun dipisahkan. Pemisahan salah satu dari keduanya berarti mengabaikan teori keseimbangan antara bawaan (hereditas) yang muncul sejak manusia itu lahir dan lingkungan (meliau) sebagai bentuk interaksi anak terhadap lingkungannya. Seorang anak yang lahir di tengah-tengah keluarga agamawan bisa saja menjadi ahli agama jika ia diberi pendidikan sejak kecil dalam lingkungan keagamaan.
         Kemampuan Stern menggabungkan dua hal yang tampaknya bertolak belakang (konvergensi) menjadikannya sebagai tokoh psikolog yang mempunyai pengaruh yang sangat luas sampai sekarang di kalangan para pendidik. Aliran konvergensi ini dianggap dekat dengan aliran pendidikan Islam antara al-fitrah dan al-bi’ah masing-masing mempunyai peran yang aktif dalam memberikan pengaruh dalam pendidikan. Sebenarnya, para tokoh pendukung Konvergensi berpendapat bahwa kedua aspek tersebut saling memberi mempengaruhi dalam kehidupan anak, namun ada yang paling dominan. Lingkungan merupakan faktor yang paling besar asksesenya dalam memberikan pengaruh terhadap anak didik, karena dalam perkembangan anak, ia banyak bergelut dengan hal-hal yang ada di sekitarnya dan berusaha merespon sekaligus mengaplikasikan apa yang telah dilihat dirasa atau didengarnya.

 

D. Aliran Pendidikan Islam

        Islam telah mengajarkan kepada kita melalui kitabnya (baca: al-Qur’an) dan memperkenalkan kata kunci dalam memahami manusia secara komprehensif, jauh sebelum para tokoh filosof dan psikolog kenamaan seperti Lock dan Stern memperkenalkan aliran psikologinya yang dijadikan sebagai landasan dalam pendidikan anak. Dalam al-Qur’an diperkenalkan kata al-Insan, al-Basyar dan begitu pula dalam hadis Rasulullah saw. dengan kata al-Fitrah. Kata al-Insan dari segi semantik berasal dari akar kata anasa atau anisa,[29] yang menunjuk kepada proses perkembangan manusia sangat tergantung kepada lingkungannya sehingga kematangan, penalaran, kesadaran dan sikap hidup yang terkait dengan pendidikan yang terjadi dalam masyarakat selalu dinamis.[30] Kata al-Basyar, dalam al-Qur’an dipergunakan untuk menyebut jenis laki-laki dan perempuan yang menunjukkan kepada anak cucu Adam yang biasa makan, berjalan di pasar-pasar, bergaul satu sama lain, yang kesemuanya mengarah kepada aspek lahiriah (biologis).[31] Adapun kata al-fitrah berarti membuka, pembawaan atau watak yang dibawa sejak lahir.[32] Kata al-fitrah mempunyai implikasi psikologis yang memiliki kecenderungan positif dan negatif. Jika emosi bisa ditekan dan mampu menepis pengaruh-pengaruh buruk di lingkungan maka fitrah sebagai sifat dasar sejati dapat diwujudkan.[33] Rasulullah saw. telah memberikan tuntunan -bagaimana cara pandang kita terhadap anak sebagai orang yang akan didik- dalam sabdanya :
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه (رواه البخارى)
Artinya:
"Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah maka bapaknyalah yang menjadikan sebagai Yahudi atau Nasrani atau majusi (HR. Buhariy)."[34]

            Dari hadis tersebut di atas, dapat diketahui bahwa manusia yang baru lahir sudah membawa potensi (fitrah) akan tetapi, potensi itu baru bisa berkembang dengan baik (secara positif) jika didukung oleh faktor lingkungan. Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan mental anak didik. Dua kemungkinan bisa masuk ke dalam diri seorang anak apakah pengaruh positif atau negatif.
            Tampaknya para pemikir Islam telah merumuskan aliran konvergensi walaupun tidak bernama konvergensi jauh sebelum zaman Stern. Ibn Miskawaih misalnya dalam bukunya Tahzib al-Akhlaq berpendapat bahwa tiap benda itu mempunyai form atau bentuknya masing-masing sehingga tidak bisa menerima bentuk lain. Perpaduan itu bisa saja terjadi, tetapi akan berobah menjadi bentuk lain. Pada manusia, meskipun mampunyai pembawaan yang lemah -baca tidak pandai- bisa saja dirubah cepat atau lambat melalui disiplin tertentu.[35]
            Ibn Sina – salah seorang tokoh filosof muslim – berpendapat bahwa seorang anak telah mempunyai kemampuan-kemampuan alamiah. Akan tetapi, mengandalkan kemampuan tersebut tidak cukup untuk mendidik seseorang, harus ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Seorang anak yang lahir dari keluarga dokter belum tentu mengikuti profesi keluarganya kalau tidak didasari dengan bakat atau kecenderungan anak itu serta hal-hal lain yang mempengaruhinya. Ibn Sina merupakan orang yang pertama merumuskan sistim tutorial sebaya dengan mengklasifikasikan siswa sesuai dengan tingkat kemampuannya (individual differencies).[36] Menurut Azyumardi Azra, pemikiran Ibn Sina jauh mendahului teori konvergensi ala William Stern.[37]
            Menurut al-Gazali, anak yang lahir telah membawa fitrahnya sendiri, kecenderungan-kecenderungan serta warisan dari orang tuanya. Kesemuanya itu perlu diberi pendidikan. Jika ia bengkok maka harus diluruskan, jika salah dibenarkan dan jika sudah benar maka diarahkan kepada pengembangannya.[38] Faktor internal dan eksternal keduanya sangat berperan dalam perkembangan anak didik. Oleh karena itu, M. Arifin – salah seorang pakar pendidikan Islam - berpendapat bahwa pandangan Islam tentang pendidikan lebih bercorak konvergensi.[39]      
Melihat pemikiran-pemikiran para ahli pendidikan muslim ternyata mereka mengakui adanya pengaruh pembawaan –nativis/naturalis – dan lingkungan – empiris - pada diri anak didik. Sehingga seorang pendidik dalam memandang anak didiknya dua hal tersebut tidak boleh terabaikan. Karena begitulah yang telah diajarkan Islam kepada kita.

III. PENUTUP
A. Kesimpulan
       Dari uraian-uraian yang telah dikemukakan terdahulu dapat disimpulkan dalam beberapa hal berikut :
1. Ada beberapa aliran yang mewarnai dunia pendidikan terutama cara memandang manusia sebagai obyek pendidikan dalam proses perkembangannya dan hubungannya dengan proses belajar. Aliran nativisme dan naturalisme berbasis pada pandangannya akan potensi yang dibawa manusia sejak lahir. Empirisme berbasis pada lingkungan dan konvergensi berbasis pada penggabungan nativisme/naturalisme dan empirisme.
2. Islam telah memberi petunjuk tentang adanya konsep al-Insan dan al-basyar dalam al-Qur’an yang mana kedua hal tersebut mengarah kepada potensi manusia dan lingkungan manusia yang mempengaruhi pendidikannya. Nabi saw. telah memberi petunjuk kepada kita akan adanya penggabungan tersebut – milieu dan hereditas dengan konsep al-fitrah.
3. Tokoh-tokoh pemikir Islam dalam mengajukan tesisnya tentang pendidikan mengarah kepada aliran konvergensi yang mengakui adanya penyatuan kedua hal itu - milieu dan hereditas - berpengaruh dalam kehidupan manusia sebagai calon peserta didik.

B. Implikasi
Adapun saran-saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut:
1.   Pada prinsipnya mendidik merupakan pemberian tuntunan, bantuan dan pertolongan kepada peserta didik. Dalam pengertian memberi tuntunan telah tersimpul suatu dasar pengakuan bahwa anak   memiliki potensi untuk berkembang. Untuk menjamin berkembangnya potensi-potensi tersebut agar menjadi lancar dan terarah, diperlukan pertolongan dan tuntunan dari luar yang disebut dengan lingkungan. Dalam konteks pendidikan, lingkungan yang dengan sengaja diciptakan untuk mempengaruhi perkembangan anak ada tiga yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga lingkungan inilah yang menjadi pusat pendidikan. Oleh karena itu, para pendidik dalam tiga lingkungan tersebut, senantiasa melakukan kerja sama yang baik untuk mengarahkan dan mengembangkan anak didik dalam menjalani kehidupannya di era kemajuan yang semakin mengglobal.
2.   Diharapkan agar pembinaan moral dan mental agama harus dimulai sejak anak lahir oleh setiap orang tua. Hal ini karena setiap pengalaman yang dilalui oleh anak, baik melalui pendengaran, penglihatan, perlakuan, pembinaan, dan sebagainya akan menjadi bagian dari pribadinya yang akan tumbuh nanti. Untuk itu, apabila orang tuanya mengerti dan menjalankan agama, maka pengalaman anak yang akan menjadi bagian dari pribadinya itu. Itu mempunyai unsur-unsur keagamaan pula.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman. Ilmu Pendidikan Sebuah Pengantar Dengan Pendekatan Islami, Jakarta : PT. Al-Qushwa, 1988.
al-Abrasyi, Muhammad Atiyah. al-Tarbiyyah al-Islamiyyah wa Falasifatuha, t.t.: Isa al-Babiy al-Halbiy wa syurakahu, 1975.
al-Azis Salih Abd dan Abd al-Azis Abd al-Majid. al-Tarbiyyah wa al-Turuq al-Tadris, Juz I, al-Qahirah: Dar al-Ma’arif, 1979.
Anshari, H. Endang Syaifuddin. Kuliah al-Islam Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi. Jakarta : CV. Rajawali, 1986.
Arifin, M. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Akasara, 1994.
Atkinson, Rita L., Richard C. Atkinson dan Ernest R. Hilgard. Itroduction to Psychology. (terj) oleh Taufik dan Rukmini Barhana dengan judul Pengantar Psikologi, Edisi VIII, Cet. IV; Jakarta: Erlangga, 1996.
Azra, Azyumardi. Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Cet. I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.
Ba’albaki, Munir. al-Maurid a Modern English-Arabic Dictionary, Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1985
Barnadib, Imam. Filsafat Pendidikan Sistim dan Metode, Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP, 1987.
al-Bukhariy Abi Abdillah Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrahim Ibn al-Mugirah IbnBaradzabah al-Ju’fiy. Sahih al-Bukhariy, Juz I, Cet. I; Beirut : Dar al-Fikr al-Ilmiy, 1992.
Daradjat, Zakiah. Ilmu Pendidikan Islam, Cet. III; Jakarta: Bina Aksara, 1996.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jilid III, Cet. III; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994.
al-Gazali, Abu Hamid. al-Munqiz min al-Dalal. Diterjemahkan oleh Abu Ahmad Najieh dengan judul Penyelamat dari Kesesatan, Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 1997.
Getteng, Abd. Rahman. Pendidikan Islam dalam Pembangunan, Ujungpandang: Yayasan Al-Ahkam, 1997.
Indar, M. Djumberansyah. Filsafat Pendidikan, Cet. I; Surabaya: Karya Abditama, 1994.
Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, Cet. I; Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.
Jalaluddin dan Usman Said. Filsafat Pendidikan dan Perkembangan, Cet. II; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996.
Langgulung, Hasan. Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, Cet. III; Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995.
Marimba, Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung : PT. Al-Ma’arif, 1989.
Miskawaih, Ibn. Tahzib al-Akhlaq. Diterjemahkan oleh Helmi Hidayat dengan judul Menuju Kesempurnaan Akhlak, Cet. III, Bandung: Mizan, 1997.
Mohamed, Yasien. Fitra: the Islamic Concept of Human Nature. Diterjemahkan oleh Mansyhur Abadi dengan judul Insan yang Suci; Konsep Fitrah dalam Islam, Cet. I; Bandung: Mizan, 1997.
Munawwir, Ahmad Warsono. Al-Munawwir: Kamus Bahasa Arab Indonesia, Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir, 1984
Al-Nahlawi, Abd Raham. Ulul al-Tarbiyyah al-Islamiyyah wa Asalibuha fi al-Bait wa al-Madrasah wa al-Mujtma.’ (Dimasyq: Dar al-Fikr, t. th.
Al-Nahyiy, Muhammad Labib. Falsafah al-Tarbiyyah, al-Qahirah: al-Kailaniy, t.th.
Prasetya, Filasafat Pendidikan, Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1997.
Purwanto, M. Ngalim. Ilmu Pendidikan Teorirts dan Praktis, Edisi II, Cet. VIII; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995.
Saifullah, Ali. H.A. Antara Filsafat dan Pendidikan; Pengantar Filsafat Pendidkan, Surabaya: Usaha Nasional, t.th.
Sarhan, Munir al-Mursiy. Fi Ijtimaiyyat al-Tarbiyyah, Cet. II; Mi،ra: Maktabah al-Anjlu al-Mi،riyyah, 1987.
Sarwono, Sarlito Wirawan. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi ,Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
Shihab,M. Quraish. Membumikan al-Qur’an Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1997.
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II, Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 1995.
Titus, Smith dan Nolan, Living Issues in Philosophy. Diterjemahkan oleh M. Rasjidi dengan judul Persoslan-Persoalan Filsafat, Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
Zainuddin, et. al. Seluk Beluk Pendidikan dari al-Gazali. Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1991.



[1]Lihat M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Cet. XV; Bandung: Mizan, 1997), h. 167-173. Bandingkan pula dengan Abd. Rahman Getteng, Pendidikan Islam dalam Pembangunan (Ujungpandang: Yayasan Al-Ahkam, 1997), h. 25.
[2]Lihat Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Cet. III; Jakarta: Bina Aksara, 1996), h. 16.
[3]Mappanganro, Pemikiran Rasyid Ridha tentang Pendidikan Formal Sebagai Terkandung dalam Al-Manar dan Buku-bukunya, ”Disertasi", Jakarta: Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah,1987, h. 88-163.
[4]Amir Daien Indra Kusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, t.th.), h. 109.
            [5]Lihat M. Djumberansyah Indar, Filsafat Pendidikan (Cet. I; Surabaya: Karya Abditama, 1994), h. 109.
[6]Lihat Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan dan Perkembangan (Cet. II; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), h. 136-138. Lihat pula Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan (Cet. III; Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995), h. 120-121.
[7]Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II, (Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 1995), h. 26.
[8]Lihat Munir Ba’albakiy, al-Maurid a Modern English-Arabic Dictionary (Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 1985), h. 447. Lihat pula Abu Hamid al-Gazali, al-Munqiz min al-Dalal. Diterjemahkan oleh Abu Ahmad Najieh dengan judul Penyelamat dari Kesesatan (Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 1997), h. 53.
[9]Lihat Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jilid III (Cet. III; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), h. 25.
[10]Lihat Achmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan (Cet. I; Yogyakarta: Aditya Media, 1992), h. 20. Bandingkan pula dengan Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam dalam Perspektif Islam (Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 1994), h. 24
[11]Masih banyak lagi defenisi pendidikan Islam yang dikemukakan para ahli sesuai dengan cara pandang mereka masing-masing. Lihat Abd Raham al-Nahlawi, Usul al-Tarbiyyah al-Islamiyyah wa Asalibuha fi al-Bait wa al-Madrasah wa al-Mujtma’ (Dimasyq: Dar al-Fikr, t. th.), h. 28.
[12]Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Bandung : PT. Al-Ma’arif, 1989), h. 19
[13]H. Abdurrahman, Ilmu Pendidikan Sebuah Pengantar Dengan Pendekatan Islami, (Jakarta : PT. Al-Qushwa, 1988), h. 9
[14]Departemen Agama R I, Al-Qur’an  dan Terjemahnya (Jakarta : Proyek Pengadaan Kitap Suci Al-Quran), 1984), h. 157
[15]H. Endang Syaifuddin Anshari, Kuliah al-Islam Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi (Jakarta : CV. Rajawali, 1986), h. 74
[16]Ahmad D. Marimba, op. cit., h. 19
[17]Lihat Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru (Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), h. 42-43.
[18]Lihat Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan (Cet. I; Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), h. 128.
[19]Lihat Prasetya, Filasafat Pendidikan (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 190.
[20]Titus, Smith dan Nolan, Living Issues in Philosophy. Diterjemahkan oleh M. Rasjidi dengan judul Persoalan-Persoalan Filsafat (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 47.
[21]Lihat Munir al-Mursi Sarhan, Fi Ijtimaiyyat al-Tarbiyyah (Cet. II; Mi¡ra: Maktabah al-Anjlu al-Mi¡riyyah, 1987), h. 50-51. Bandingkan pula dengan Salih Abd al-Azis dan Abd al-Azis Abd al-Majid, al-Tarbiyyah wa al-Turuq al-Tadris, Juz I (al-Qahirah: Dar al-Ma’arif, 1979), h. 38.
[22]Lihat Muhammad Labib al-Nahyiy, Falsafah al-Tarbiyyah (al-Qahirah: al-Kailaniy, t.th.), h. 143.
[23]Lihat Titus, Smith dan Nolan, op. cit., h. 174.
[24]Lihat Sarlito Wirawan Sarwono, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi (Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 31.
[25]Lihat Muhibbin Syah, op. cit., h. 43-44. Lihat pula Rita L. Atkinson, Richard C. Atkinson dan Ernest R. Hilgard, Itroduction to Psychology. Diterjemahakan oleh Taufik dan Rukmini Barhana dengan judul Pengantar Psikologi, Edisi VIII (Cet. IV; Jakarta: Erlangga, 1996), h. 233-234.
[26]Lihat Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan Sistim dan Metode (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP, 1987), h. 53.
[27]Lihat M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoriris dan Praktis, Edisi II (Cet. VIII; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), h. 60. Lihat pula Sarlito Wirawan Sartono, op. cit., h. 123.
[28]Lihat Jalaluddin dan Abdullah Idi, op. cit., h. 161.
[29]Lihat Ahmad Warsono Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Bahasa Arab Indonesia (Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir, 1984), h. 46-47.
[30]Untuk lebih jelasnya dapat dilihat diantaranya pada QS. al-Qasas (28): 23; QS. al-Hadid (57): 25; QS. al-Rahman (55): 33; QS. al-A’raf (7): 160.
[31]Lihat diantaranya QS. al-Mudda££ir (74): 27; QS. al-Anbiya (21): 344-345
[32] Lihat Ahmad Warsono Munawwir, op. cit., h. 1142-1143.
[33]Lihat Yasien Mohamed, Fitra: the Islamic Concept of Human Nature, diterjemahkan oleh Mansyhur Abadi dengan judul Insan yang Suci; Konsep Fitrah dalam Islam (Cet. I; Bandung: Mizan, 1997), h. 26 dan 110.
[34]Lihat Abi Abdillah Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrahim Ibn al-Mugirah Ibn Baradzabah al-Buhariy al-Ju’fiy, Sahih al-Buhariy, Juz I (Cet. I; Beirut : Dar al-Fikr al-Ilmiy, 1992), h. 421.
[35]Lihat Ibn Miskawaih, Tahzib al-Akhlaq. Diterjemahkan oleh Helmi Hidayat dengan judul Menuju Kesempurnaan Akhlak (Cet. III, Bandung: Mizan, 1997), h. 35 dan 56.
[36]Lihat Muhammad A¯iyah al-Abrasyi, al-Tarbiyyah al-Islamiyyah wa Falasifatuha (Cet. III, Isa al-Babiy al-Halbiy wa Syurakahu, 1975), h. 218 dan 228.
[37]Lihat Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam (Cet. I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 82.
[38]Lihat Muhammad A¯iyah al-Abrasyi, op. cit., h. 255. Lihat pula Zainuddin, et. al. Seluk Beluk Pendidikan dari al-Gazali (Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 67.
[39]Lihat M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Cet. IV; Jakarta: Bumi Akasara, 1994), h. 66.
Post a Comment