Sunday, December 6, 2015

PENDIDIKAN TERPADU ANTARA SEKOLAH DAN PESANTREN (Sebuah Upaya Pendidikan Akhlak Peserta Didik)



I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
      Pendidikan merupakan salah satu unsur dari aspek sosial budaya yang berperan sangat srategis dalam pembinaan suatu keluarga, masyarakat atau bangsa. Kestrategisan peranan ini pada intinya merupakan suatu ikhtiar yang dilaksanakan secara sadar, sistematis, terarah dan terpadu untuk memanusiakan peserta didik menjadikan mereka sebagai khalifah di muka bumi.[1]
        Pendidikan telah berlangsung sejak adanya manusia selaku khalifah di muka bumi ini. Pemindahan, pengembangan dan pelestarian nilai kebudayaan telah berlangsung sejak dari keluarga Adam sebagai unit terkecil dari masyarakat manusia.[2] Karena secara universal pendidikan berarti proses, mengubah dan memindahkan nilai-nilai budaya kepada setiap individu dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu, sudah menjadi pendapat umum bahwa pendidikan sangat berperan di dalam menentukan maju tidaknya suatu peradaban manusia. Karena pendidikan adalah rancangan kegiatan yang paling banyak berpengaruh terhadap perubahan perilaku seseorang dan suatu masyarakat.[3] 

       Dalam melaksanakan pendidikan Islam, di samping unsur-unsur yang telah disebutkan, faktor lingkungan merupakan salah satu faktor/unsur pendidikan yang ikut serta menentukan corak pendidikan Islam yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap perkembangan peserta didik. Lingkungan yang dimaksudkan adalah lingkungan yang berupa keadaan sekitar yang mempengaruhi pendidikan anak.
     Lingkungan dapat memberikan pengaruh yang positif dan negatif terhadap perkembangan peserta didik. Pengaruh positif yang dimaksudkan adalah pengaruh lingkungan yang memberi dorongan atau motivasi serta rangsangan kepada peserta didik untuk berbuat atau melakukan segala sesuatu yang baik. Sedangkan pengaruh negatif ialah sebaliknya, tidak memberi dorongan terhadap peserta didik untuk menuju ke arah yang baik, bahkan bisa menghambat perkembangan peserta didik.[4]
       Sebagai salah satu lingkungan pendidikan Islam, lingkungan sekolah di samping lingkungan keluarga dan masyarakat memiliki peranan yang sangat penting karena menerima mandat dari orang tua untuk melaksanakan sebagian pendidikan yang menjadi tanggung jawab orang tua. Di sekolah, para guru bisa memberikan contoh-contoh yang baik dalam proses pembelajaran, agar mereka menjadi generasi yang baik yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
       Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang penting setelah keluarga yang berfungsi juga membantu keluarga untuk mendidik anak-anak. Anak-anak mendapatkan pendidikan di lembaga ini, apa yang tidak didapatkan di dalam keluarga. Tugas yang dilakukan guru di sekolah adalah pelimpahan dan lanjutan dari tanggung jawab orang tua. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik merasa memiliki tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan baik dan menjadi contoh teladan bagi anak-anak.[5]
Institusi pendidikan dasar dan menengah di Indonesia memiliki perbedaan bentuk dan karakteristiknya, seperti sekolah umum, kejuruan, madrasah, dan pendidikan keagamaan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya yang kesemuanya bertujuan dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional seperti yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal adalah contoh lembaga pendidikan yang berfokus pada faktor kecerdasan akademik meskipun tidak lantas mengabaikan hal-hal yang bersifat spiritual atau keagamaan. Hanya saja, sistem pendidikan di sekolah formal memang menekankan pencapaian prestasi peserta didik dalam hal kecerdasan intelektual yang pada akhirnya bermuara pada berbagai ukuran akademik. Sekolah sebagai lembaga pendidikan umum tentunya memiliki kekurangan, misalnya masih sedikitnya porsi mata pelajaran agama, meskipun pemerintah melalui Kurikulum 2013 telah berupaya mengintegrasikan unsur religiusitas dan akhlakul karimah di samping aspek pengetahuan dan ketrampilan ke dalam semua mata pelajaran,[6] namun hal ini tidak bisa menutupi realitas di lapangan bahwa banyak peserta didik yang masih melakukan tindak menyimpang bahkan sudah menjurus ke arah tindak kriminal. Meskipun dalam hal ini sekolah tentunya tidak bisa disalahkan sendiri, karena sebagai salah satu lembaga pendidikan formal, sekolah tidak bisa dilepaskan dari lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Di samping lembaga pendidikan umum seperti sekolah, terdapat juga lembaga pendidikan pesantren. Eksistensi pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan keagamaan (Islam) di Indonesia telah diakui oleh pemerintah seperti yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 30 ayat 4 berbunyi : “Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis”. Dengan dimasukkannya pesantren dalam sistem pendidikan nasional itu, secara legal formal pesantren memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan lembaga pendidikan lainnya dalam rangka operasionalisasi program pencerdasan kehidupan bangsa dan peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) melalui proses pembelajaran.
Keberadaan pesantren diharapkan mampu menyiapkan generasi yang bukan hanya memiliki kemampuan dalam perspektif pemahaman keagamaan saja, melainkan memiliki multi kompetensi, baik dalam aspek tafaqquh fi al-din, performance moralitas dan religiusitas, maupun kompetensi life skill yang professional.
Dari deskripsi tersebut, cukup penting untuk dikaji permasalahan pendidikan terpadu antara sekolah dan pesantren sebagai upaya mengoptimalkan peran lembaga pendidikan sebagai agent of change yang menitikberatkan pada pendidikan akhlak peserta didiknya.

B. Rumusan Masalah
Dari deskripsi yang dipaparkan pada latar belakang, dapat diformulasikan permasalahan pokok sebagai berikut:
1. Bagaimana urgensi pendidikan akhlak?
2. Bagaimana karakteristik dan model pendidikan pesantren?
3. Bagaimana pendidikan terpadu antara sekolah dan pesantren dalam upaya pendidikan akhlak peserta didik?

II. PEMBAHASAN
A. Pentingnya Pendidikan Akhlak
Dalam upaya pembinaan individu dan pendidikan masyarakat, Islam sangat memprioritaskan segi akhlak dalam pengertiannya yang luas, yaitu melaksanakan ajaran Islam secara totalitas. Akhlak dalam Islam dibina atas dasar prinsip mengambil yang utama dan mencampakkan yang buruk sesuai dengan konsepsi rabbani. Maka seseorang muslim dituntut agar menjauhi hal-hal yang buruk menurut syariat Islam. Ia juga harus konsekuen menurut prinsip-prinsip akhlak yang telah dicanangkan oleh al-Qur’an dan dianjurkan oleh Rasulullah saw. Akhlak yang diwujudkan dalam bentuk panutan yang baik, akan sangat membekas dalam jiwa seseorang. Di samping itu, akhlak juga merupakan sarana yang paling efektif dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam ke seluruh pelosok bumi dan untuk menuntun umat manusia ke jalan keimanan dan kebaikan.[7]
Akhlak merupakan ajaran dasar dalam Islam di samping tauhid (aqidah). Tauhid mengakui eksistensi Tuhan Yang Maha Esa, sumber dari segala-galanya, akhlak dan ajaran-ajaran moral dalam Islam bersumber dari Tuhan dan oleh karena itu mempunyai dasar yang kuat. Pendidikan akhlak berkaitan dengan pendidikan agama. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pendidikan akhlak dalam pengertian Islam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama, yang baik menurut akhlak adalah apa yang baik menurut ajaran agama Islam, dan yang buruk adalah apa dianggap buruk oleh ajaran agama Islam.
Pendidikan akhlak sangat penting ditanamkan sejak dini, sebelum anak dapat berpikir logis dan memahami hal-hal yang abstrak serta belum sanggup menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, maka contoh-contoh, latihan-latihan dan pembiasaan-pembiasaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembinaan pribadi anak-anak, karena masa kanak-kanak adalah masa yang paling baik untuk menanamkan dasar-dasar pendidikan anak. Al-Gazali menganjurkan agar dalam mendidik anak dan membina akhlaknya dengan cara latihan-latihan dan pembiasaan-pembiasaan yang sesuai dengan perkembangan jiwanya. Oleh karena pembiasaan dan latihan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak, yang lambat laun sikap itu akan bertambah jelas dan kuat, akhirnya tidak tergoyahkan lagi karena telah termasuk menjadi bagian dari kepribadiannya. Tujuan dari pembinaan itu dimaksudkan agar dimensi-dimensi jasmaniah dari kepribadian anak dapat terbentuk dengan memberikan kecakapan berbuat dan berbicara.[8]
Setiap orang tua ingin membina anak agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat dan akhlak yang terpuji. Semua itu dapat diusahakan melalui pendidikan, baik yang formal maupun yang informal. Setiap pengalaman yang dialami oleh anak, baik melalui penglihatan, pendengaran, maupun perlakuan yang diterimanya akan ikut menentukan pembinaan pribadinya. Orang tua adalah pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak. Kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung, yang dengan sendirinya akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang bertumbuh itu.[9]
Seseorang anak memiliki peluang yang cukup besar untuk dibina perasaannya yang selanjutnya akan berpengaruh dalam pembentukan jiwa dan kepribadiannya. Maka apabila orang tua selaku pendidikan pertama mampu membinanya dengan seimbang, maka anak akan terbentuk menjadi manusia yang memiliki keseimbangan dalam bertindak dan dalam kehidupannya sehari-hari. Namun apabila orang tua tidak mampu, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam perkembangan rasa dalam jiwanya, dan pada akhirnya sifat buruklah yang akan didapatkan dalam diri anak. Betapa penting sekali peranan orang tua dan pengaruhnya bagi anak. Mereka merupakan sumber pertama dalam pembentukan perasaan anak.
Anak akan tumbuh dalam kebaikan, akan terdidik dalam keutamaan akhlak jika ia melihat kedua orang tuanya memberikan teladan yang baik. Demikian pula sebaliknya, anak akan tumbuh dalam kenakalan dan berjalan di jalan kufur, fasik, dan maksiat ia melihat orang tuanya memberikan teladan yang buruk. Namun demikian tidak cukup bagi kedua orang tua untuk sekedar memberikan teladan yang baik kepada sang anak, tetapi mereka harus juga mengajarkan teladan pertama yaitu Rasulullah saw. tentang akhlak yang mulia. Dengan demikian, si anak terbentuk dalam sifat-sifat mulia dan sempurna dengan akhlak, keberanian, keperkasaan, sehingga jika mereka dewasa tidak akan mengenal pemimpin dan tokoh, panutan dan contoh yang tinggi, selain Muhammad saw. Selain itu orang tua hendaknya memberi contoh teladan bagaimana para sahabat Rasulullah saw. dan orang-orang saleh terdahulu, termasuk orang-orang yang mengikuti jejaknya dengan baik dan mengamalkan perintah Allah swt.[10]
Dalam al-Qur’an surah Yusuf (12) dikisahkan tentang Nabi Ya’qub dengan putra-putranya sebenarnya merupakan didikan kepada umat manusia sepanjang masa, bagaimana keharusan orang tua melatih anak-anaknya ber-akhlaqul karimah. Pertama kali adalah praktek orang tua itu sendiri dalam menghadapi tingkah laku anaknya yang tidak berkenan di hatinya. Ibu bapak tidak cukup hanya memberikan nasehat kepada anak-anaknya tentang norma-norma akhlak terpuji. Mereka juga harus menerapkannya dalam mengahadapi tingkah laku anak-anaknya yang tidak baik dalam keluarga. Perlakuan akhlak terpuji dari orang tua terhadap anak-anak yang berbuat salah adalah tidak baik akan meresap ke dalam jiwa mereka sehingga akan terbentuk pribadi luhur pada mereka. Menjadi tugas orang tualah untuk memberikan didikan akhlakul karimah kepada putra-putrinya dalam pergaulan di lingkungan keluarga, tetangga dan dalam pergaulan sehari-hari, yaitu bagaimana mendidik anak-anak bersikap sesama saudaranya, teman-temannya, tetangganya, gurunya, dan kerabatnya. Agar lebih tertanam nilai akhlakul karimah pada diri mereka, maka orang tua harus menyadari perlunya contoh konkret pada tingkah laku orang tua sendiri. Bagaimana sikap orang tua kepada tamu, kepada tetangga, atau kepada pembantu rumah tangga. Karenanya berbahagialah orang tua yang mengerti betul tuntunan akhlak Islam dan berhasil menanamkan pada putra-putrinya.[11].
Menurut Ibn Miskawaih, bahwa akhlak dapat selalu berubah dengan kebiasaan dan latihan serta pelajaran yang baik, sebab kebanyakan anak-anak yang hidup dan dididik dengan suatu cara tertentu dalam masyarakat ternyata mereka berbeda secara mencolok dalam menerima nilai-nilai akhlak terpuji. Karena itu manusia dapat diperbaiki akhlaknya dengan mengosongkan dari dirinya segala sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji dan luhur. Ia juga adalah merupakan tujuan pokok ajaran agama yaitu mengajarkan sejumlah nilai akhlak mulia agar manusia mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya baik di dunia lebih-lebih di akhirat. [12]
Demikian pentingnya pendidikan akhlak, dengan latihan dan pembiasaan sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan akan lahir akhlak yang mulia sehingga manusia dari generasi ke generasi mempunyai akhlak yang baik. Dengan akhlak yang baik manusia akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

B. Karateristik dan Model Pendidikan Pesantren
    1. Karakteristik Pendidikan Pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik dan sulit didefinisikan secara sempurna, akan tetapi bisa diidentifikasi ciri-ciri pendidikan pesantren. Ciri-ciri tersebut antara lain:
a. Adanya hubungan yang akrab antara santri dengan kyainya. Kyai sangat memperhatikan santrinya.
b. Kepatuhan santri kepada kyai. Para santri menganggap bahwa menentang kyai , selain tidak sopan juga dilarang agama.
c.  Hidup hemat dan sederhana benar-benar diwujudkan dalam lingkungan pesantren.
d. Kemandirian amat terasa di pesantren. Para santri mencuci pakaian sendiri, membersihkan kamar tidurnya sendiri dan memasak sendiri
e. Jiwa tolong-menolong dan suasana persaudaraan sangat mewarnai pergaulan di pesantren.
f. Disiplin sangat dianjurkan untuk menjaga kedisiplinan ini pesantren biasanya memberikan sanksi-sanksi edukatif.
g. Kehidupan dangan tingkat religius yang tinggi, berani menderita untuk mencapai tujuan.[13]
Ciri-ciri di atas biasanya masih dipertahankan oleh pesantren-pesantren salaf, karena hal itu merupakan ciri khas dari sebuah pesantren yang sangat menjunjung tinggi kekeluargaan dan keihklasan akan tetapi tetap dalam koridor etika-etika pesantren. Sedangkan dalam pesantren modern ciri khas diatas mulai sudah terkikis sedikit demi sedikit.
    2. Model Pendidikan Pesantren
Menurut penemuan Soedjoko Prasodjo, dalam buku “Integrasi Sekolah ke Dalam Sistem Pendidikan Pesantren”, pondok pesantren mempunyai lima pola, dari yang sederhana sampai yang paling maju. Lima pola tersebut ialah:
a.  Pesantren yang terdiri atas masjid dan rumah kyai.
b.  Pesantren yang terdiri atas masjid, rumah kyai, pondok tempat tinggal santri.
c. Pesantren yang terdiri atas masjid, rumah kyai, pondok tempat tinggal santri dan madrasah
d. Pesantren yang terdiri atas masjid, rumah kyai, pondok tempat tinggal santri, madrasah dan tempat tinggal latihan keterampilan
e. Pesantren yang terdiri atas masjid, rumah kyai, pondok tempat tinggal santri, madrasah, tempat tinggal latihan keterampilan, sekolah agama atau umum, dan perguruan tinggi agama atau umum.[14]
Jadi semua pesantren secara umum memiliki bangunan fisik yang terdiri dari masjid, asrama santri, pengajian kitab klasik dan rumah kyai. Elemen-elemen ini menjadi ciri khas setiap pesantren sekaligus bisa dinilai seperti apakah pola pesantren yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan tersebut.
Penggolongan pesantren menjadi beberapa pola di atas hanya dilihat dari segi fisiknya, akan tetapi jika kita melihat secara keseluruhan atau secara garis besar, lembaga pesantren dapat dikatagorikan ke dalam dua bentuk besar, yaitu:
a. Pondok pesantren salafiyah
Salaf artinya “lama”, “dahulu”, atau “tradisional”. Pondok pesantren salafiyah adalah pondok pesantren yang menyelenggarakan pembelajaran dengan pendekatan tradisional, sebagaimana berlangsung sejak awal pertumbuhannya. Pembelajaran ilmu-ilmu agama Islam dilakkan secara individual atau keluompok dengan konsentrasi pada kita-kitab klasik, berbahasa Arab. Penjenjangan tidak didasarkan pada satuan waktu, tetapi berdasarkan tamatnya kitab yang dipelajari. Dengan selesainya satu kitab tertentu, santri dapat naik jenjang dengan mempelajari kitab yang kesukarannya lebih tinggi. Demikian seterusnya. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pendidikan modern yang dikenal sistem belajar tuntas. Dengan cara ini, santri dapat lebih intensif mempelajari suatu cabang ilmu.[15]
Pengertian pesantren Salafi yang lebih simpel adalah pesantren yang tetap mempertahankan sistem (materi pengajaran) yang sumbernya kitab-kitab klasik Islam atau kitab kuning dengan huruf Arab gundul (tanpa baris apapun). Sistem sorogan (individual) menjadi sendi utama yang diterapkan. Pengetahuan non agama tidak diajarkan.[16]
b. Pola pendidikan pesantren kholaf (‘Ashriyah)
Kholaf artinya “kemudian” atau “belakang”, sedangkan ashri artinya “sekarang” atau “modern”. Pondok pesantren khalafiyah adalah pondokpesantren yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan dengan pendekatan modern, melalui sutuan pendidikan formal, baik madrasah (SD,MTs, MA atau MAK), maupun sekolah (SD, SMP, SMU dan SMK), atau nama lainnya, tetapi dengan pendekatan klasikal. Pembelajaran pada pondok pesantren modern dilakukan secara berjenjang dan berkesinambungan, dengan satuan program didasarkan pada satuan waktu, seperti catur wulan, semester, tahun/kelas, dan seterusnya. Pada pondok pesantren khalafiyah, “pondok” lebih banyak berfungsi sebagai asrama yang memberikan lindkungan kondusif untuk pendidikan agama.[17]
Pesantren dalam arti sebagai lembaga pendidikan non formal yang hanya mempelajari ilmu-ilmu agama yang bersumber pada kitab-kitab  kuning atau kitab-kitab klasik, maka materi kurikulumnya mencakup ilmu tauhid, tafsir, ilmu tafsir, Hadits, ilmu haits, ilmu fiqh, ushul fiqh ilmu tasawuf, ilmu akhlak, bahasa arab yang mencakup nahwu, sharaf, balaghah, badi’, bayan mantiq, dan tajwid.[18]
Penggunaan besar kecilnya kitab kuning disesuaikan dengan tingkat kemampuan pemahaman santri. Biasanya bagi santri yang baru masuk pesantren masih tingkat awal, maka kitab yang dipergunakan adalah kitab kecil yang bahasa dan bahasannya lebih mudah dan selanjutnya diteruskan dengan kitab-kitab lebih besar dan lebih sukar.[19]
Sedangkan metode atau model dan bentuk pembelajaran yang digunakan secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, di mana ketiganya mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu:[20]
a. Sorogan. Kata sorogan berasal dari bahasa Jawa yang berarti “sodoran atau disodorkan”. Maksudnya suatu sistem belajar secara individual di mana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, terjadi interaksi saling mengenal di antara keduanya. Seorang kyai menghadapi santri satu persatu, secara begantian. Pelaksanaanya, santri yang banyak datang bersama, kemudian mereka antri menuggu giliran masing-masing.
b. Bandungan. Metoda ini sering disebut dengan halaqah, di mana dalam pengajian, kitab yang dibaca oleh kyai hanya satu, sedangkan para santrinya membawa kitab yang sama, lalu santri mendengarkan dan menyimak bacaan kyai.
c. Weton. Istilah weton berasal dari bahsa Jawa yang diartikan berkala atau berwaktu. Pengajian weton tidak merupakan pengajian rutin harian, misalnya pada setia selesai shalat Jum’at dan selainnya.
Apa yang dibaca kyai tidak bisa dipastikan, terkadang dengan kitab biasanya atau dipastikan dan dibaca secara berurutan, tetapi kadang-kadang guru hanya memetik sana sini saja, peserta pengajian weton tidak harus membawa kitab. Selain yang tiga di atas ada lagi metode-metode yang diterapkan dalam pesantren seperti, musyawarah/bahtsul masa’il. Metode ini merupakan metode pembelajaran yang mirip dengan metode diskusi. Beberapa santri membentuk halaqah yang dipimpin langsung oleh kyai/ustadz untuk mengkaji suatu persoalan yang telah ditentukan sebelumnya. Juga ada metode hafalan (muhafazhah), demonstrasi/pratek ubudiyah, muhawarah, mudzakarah, majlis ta’lim.[21]
Bagi pesantren khalaf/modern kurikulum maupun metode di atas biasanya sudah banyak dimodifikasi, diinovasi dan penambahan metode-metode pengajaran yang lain. Pimpinan-pimpinan pesantren yang tergabung dalam Rabithat Ma’ahid telah mempraktekkan metode-metode yang sangat beragam, bahkan mereka sudah menetapkan dalam muktamar ke-1 pada 1959, yang meliputi metode tanya jawab, diskusi, imla’, muthala’ah, proyek, dialog, karya wisata, hafalan/verbalisme, sosiodrama, widyawisata (studi banding/tour), problem solving, pemberian situasi, pembiasaan, dramatisasi (percontohan tingkah laku), reinforcement (penguatan), stimulus respon dan sistem modul.[22]
Dari penjelasan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa model pendidikan pesantren secara global dibagi menjadi dua kategori yaitu pendidikan pesantren salaf dan modern dengan ciri-ciri yang disebutkan di atas, baik secara fisik/perangkat kasar maupun secara perangkat lunak.

C. Pendidikan Terpadu Antara Sekolah dan Pesantren dalam Upaya Pendidikan Akhlak Peserta Didik
Karakter bangsa yang kuat bisa diperoleh dari sistem pendidikan yang baik, dan tidak hanya mementingkan faktor kecerdasan intelektual semata, melainkan juga pendidikan yang dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan serta menghasilkan output yang tidak sekadar mampu bersaing di dunia kerja, namun juga mampu menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat, agama, bangsa dan negara. Untuk mewujudkan hal itu, maka diperlukan pendidikan yang mencakup dua unsur utama, yaitu keunggulan akademik dan keunggulan nonakademik (termasuk keunggulan spiritual).
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal saat ini terlalu berfokus pada faktor kecerdasan akademik meskipun tidak lantas mengabaikan hal-hal yang bersifat spiritual atau keagamaan tetapi sistemnya memang menekankan pencapaian prestasi peserta didik dalam hal kecerdasan intelektual yang pada akhirnya bermuara pada berbagai ukuran akademik. Sementara itu, pesantren menjadi salah satu pilihan lembaga pendidikan yang mengutamakan upaya pencerdasan spiritual atau keagamaan meskipun sekarang ini banyak pesantren di Indonesia yang juga memberikan pengetahuan umum secara terintegrasi. Dengan kata lain, sudah banyak pesantren modern yang mencerahkan sekaligus mencerdaskan.
Upaya pembentukan karakter bangsa kepada generasi muda, yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, dapat melalui lembaga pendidikan atau sekolah berbasis pesantren. Ini bertujuan untuk mencetak peserta didik yang paham keilmuan umum sekaligus keilmuan keagamaan atau peserta didik yang berpengetahuan umum serta mempunyai kepribadian religius, sederhana, dan mandiri.
Pilihan memadukan sistem pendidikan di sekolah formal dan di pesantren ini diambil setelah melihat dan mengamati secara seksama mutu pendidikan yang dilahirkan oleh masing-masing sistem. Secara umum, sekolah dan pesantren merupakan dua lembaga pendidikan yang masing-masing memiliki keunggulan yang berbeda satu sama lain. Apabila keunggulan dari kedua lembaga pendidikan itu dipadukan, maka akan tercipta sebuah kekuatan pendidikan yang kuat dan berpotensi mampu menghasilkan generasi muda Indonesia yang unggul, handal, dan berkarakter.
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, “Pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.” Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia. Secara psikologi, tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak yang terwujud dalam kesatuan esensial si subjek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya.
Rosada menjelaskan bahwa akhlak dapat dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), bertindak (acting), dan menuju kebiasaan (habit). Akhlak bukan hanya sebatas pada pengetahuan saja, tetapi perlu adanya perlakuan dan kebiasaan untuk berbuat.[23] Seseorang yang memiliki pengetahuan tentang kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai pengetahuannya itu jika dia tidak berlatih untuk melakukan kebaikan tersebut.[24] Untuk menjadi manusia yang memiliki akhlak yang mulia, seseorang tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang nilai-nilai moral tanpa disertai adanya akhlak yang mulia.
Dengan demikian, pendidikan akhlak merupakan proses yang terintegrasi dengan pendidikan secara luas dan bertahap, dari pendidikan di dalam keluarga, lembaga pendidikan (misalnya sekolah, baik formal, informal, atau nonformal), hingga di kehidupan bermasyarakat. Pendidikan akhlak juga menjangkau proses penanaman nilai-nilai agama, budaya, adat istiadat, dan estetika. Dengan kata lain, pendidikan akhlak adalah upaya agar peserta didik mengenal, peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga mereka dapat berperilaku sebagai insan kamil.[25] Dalam konteks ini, lembaga pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai agama atau spiritual, seperti pesantren mutlak diperlukan. Jika sekolah formal (SD, SMP, SMA, SMK, dan sejenisnya) memfokuskan sistem pendidikannya pada sektor kecerdasan intelektual atau akademik, maka pesantren menjadi lembaga pendidikan yang mengutamakan pengajarannya pada sektor kecerdasan spiritual dan pendalaman ajaran agama Islam. Pandangan tentang pesantren sendiri cukup beragam. Pesantren dapat dipandang sebagai lembaga ritual, lembaga pembinaan moral, lembaga dakwah, atau lembaga pendidikan Islam. Sejak didirikan pertama kali, pesantren memang merupakan sebuah lembaga pendidikan yang memfokuskan pengajaran dalam bidang agama Islam.
Istilah pesantren sendiri berasal dari kata santri, yang mendapatkan imbuhan berupa awalan pe- dan akhiran -an. Oleh karena itu, pesantren dapat diartikan sebagai tempat tinggal para santri. Arti kata santri sendiri adalah orang yang mendalami agama Islam, atau orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh, atau orang yang saleh.[26] Pesantren kemudian lebih dikenal dengan sebutan yang lebih lengkap, yaitu pondok pesantren. Pesantren disebut dengan pondok karena sebelum tahun 1960-an, pusat-pusat pendidikan pesantren di Jawa dan Madura lebih dikenal dengan nama pondok. Istilah pondok barangkali berasal dari pengertian asrama-asrama para santri yang disebut pondok atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu, atau barangkali berasal dari bahasa Arab yang berarti hotel atau asrama.[27] Sama seperti sekolah formal, pesantren adalah suatu lembaga pendidikan yang didalamnya terdapat kegiatan pembelajaran. Unsur-unsur yang terdapat di lembaga pesantren pun serupa dengan yang terdapat di sekolah formal. Ada kiai sebagai guru, santri sebagai murid, kitab sebagai buku, pondok sebagai kelas dan asrama, pendalaman ajaran agama (termasuk pengajaran kitab) sebagai mata pelajaran, dan seterusnya. Oleh karena itu, dalam perkembangannya pada konteks pendidikan, makna pesantren pun menjadi meluas dan tidak sempit lagi. Pendidikan di pesantren seringkali dikategorikan ke dalam sistem pendidikan tradisional karena lembaga ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan telah menjadi bagian yang mendalam dari sistem kehidupan sebagian besar umat Islam di Indonesia.[28] Namun demikian, seiring perkembangan zaman, di Indonesia sekarang ini banyak pesantren yang memperbaharui konsepnya menjadi lebih modern.
Upaya memadukan pendidikan sekolah formal dengan pesantren akan menghasilkan sistem pendidikan yang lebih kuat dan lengkap. Pengembangan model pendidikan berbasis pesantren sebenarnya merupakan wujud upaya dalam memadukan keunggulan pelaksanaan sistem pendidikan di sekolah keunggulan pelaksanaan sistem pendidikan di pondok pesantren. Di lembaga pendidikan formal, termasuk di sekolah menengah pertama, pendidikan akhlak atau kemudian diistilahkan dengan pendidikan karakter telah menjadi bagian dalam struktur dan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan saat ini dilanjutkan dengan kurikulum 2013. Dengan demikian, masing-masing sekolah mempunyai kewajiban untuk menerapkan pola pendidikan akhlak kepada peserta didiknya. Pendidikan akhlak di sekolah formal bisa diberikan melalui mata pelajaran khusus, disisipkan ketika guru menyampaikan pelajaran di dalam kelas, atau bisa juga melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler.
Dengan diterapkannya prinsip-prinsip pendidikan akhlak di sekolah formal, diharapkan akan terbentuk akhlak peserta didik seperti yang dicita-citakan. Adapun ciri akhlak atau karakter peserta didik yang diharapkan dapat dicapai melalui pendidikan akhlak di sekolah formal antara lain: bertanggung-jawab, bergaya hidup sehat, kerja keras, percaya diri, berjiwa wirausaha, berpikir cakap (logis, kritis, kreatif, dan inovatif), mandiri, ingin tahu, cinta ilmu, sadar hak dan kewajiban, patuh pada aturan sosial, menghargai karya orang lain, sopan santun, demokratis, cinta lingkungan, nasionalis, menghargai keberagaman, dan lain-lain. Pendidikan akhlak yang diajarkan di pesantren lebih terfokus untuk menanamkan jiwa religius, akhlakul hasanah, disiplin, kesederhanaan, menghormati orang yang lebih tua, dan memberikan pemahaman tentang makna hidup.
Alhasil, para santri yang belajar di pondok pesantren diharapkan mempunyai karakter keagamaan yang kuat, mampu mengamalkan nilai-nilai ajaran agama dengan baik, patuh kepada orang yang patut dihormati, memiliki akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam, serta mampu memaknai tentang kehidupan berdasarkan Alquran dan hadis. Keunggulan yang terdapat pada masing-masing lembaga pendidikan itu akan semakin bermakna apabila keduanya diintegrasikan ke dalam satu model satuan pendidikan yang dikelola secara terpadu atau yang kemudian dikenal sebagai model sekolah berbasis pesantren (SBP). Integrasi ini akan menjadi instrumen yang berharga bagi peningkatan mutu SDM di Indonesia sehingga menjadi manusia yang kompetitif dan komparatif serta mampu bersaing di era globalisasi tanpa harus meninggalkan karakter bangsa.
Jika sekolah formal berbasis pesantren dikelola dengan baik, maka hasil yang akan diperoleh pun juga berkualitas baik. Lulusan Sekolah Berbasis Pesantren diharapkan bisa menjadi manusia Indonesia yang handal, memiliki integritas intelektual, spiritual, dan emosional, serta berwatak plural dan multikultural, menghargai hak dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang madani, berkarakter, serta mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

III. PENUTUP
Dari analisis pada pembahasan tersebut, dapat dikemukakan beberapa poin penting sebagai kesimpulan, yaitu:
1.   Pendidikan akhlak merupakan esensi dari pendidikan Islam. akhlak itu merupakan jiwa dari pendidikan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. kepada para sahabat-sahabatnya, keluarganya, dan kepada setiap muslim untuk merealisasikan nilai-nilai akhlak ini ke dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pendidikan akhlak memiliki peranan yang sangat strategis karena sebagai solusi terbaik dari dekadensi moral sebagai akibat dari dampak modernisasi.
2.    Karakteristik dari sebuah pesantren adalah sangat menjunjung tinggi kekeluargaan dan keihklasan antara penghuninya akan tetapi tetap dalam koridor etika-etika pesantren. Sementara itu, model pendidikan pesantren secara global dibagi menjadi dua kategori yaitu pendidikan pesantren salaf dan modern dengan ciri-ciri yang disebutkan di atas, baik secara fisik/perangkat kasar maupun secara perangkat lunak.
3.   Pendidikan terpadu antara sekolah dan pesantren merupakan solusi cerdas menyikapi kelemahan yang ada pada sekolah dan pesantren. Integrasi dari kedua kelebihan sistem pendidikan ini diharapkan akan mampu melahirkan manusia Indonesia yang handal, memiliki integritas intelektual, spiritual, dan emosional, serta berwatak plural dan multikultural, menghargai hak dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa serta mampu bersaing di era globalisasi tanpa harus meninggalkan karakter bangsa.
DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Syafaruddin. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: BPFE, 2012.
Arifin, H.M. Ilmu Pendidikan Islam. Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara,1991.
Daradjat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. Cet. XV; Jakarta: Bulan Bintang, 1996.
Departemen Agama RI. Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah; Pertumbuhan dan Perkembangannya. Jakarta: Dirjen Kelembagaan Agama Islam, 2003.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2008.
Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren; Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES, 1994.
Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Remaja Grafindo Persada, 1996.
Indar, M. Djumberansyah. Filsafat Pendidikan. Cet. I; Surabaya: Karya Abditama, 1994.
Kementerian Pendidikan Nasional RI. Pedoman Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: t.p., 2013.
Lickona, Thomas. Educating for Character; How Our School Can Teach Respect and Responbility. New York: Bantam Book, 1992.
Majid, Nurcholish. Masyarakat Religius. Cet. I; Jakarta: Paramadina, 1997.
Masjkur, Anhari. Integrasi Sekolah ke Dalam Sistem Pendidikan Pesantren. Cet. I; Surabaya: Diantama, 2007.
Mastuhu. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INS, 1994.
Miskawaih, Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub bin. Tahzib al-Akhlaq wa Tathhìr al-A’raq, diterjemahkan oleh Helmi Hidayat dengan judul Menuju Kesempurnaan Akhlaq. Cet. III; Bandung: Mizan, 1997.
Mulkhan, Abdul Munir. Paradigma Intelektual Muslim, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah. Cet. II; Yogyakarta: SIPRES, 1994.
Qomar, Mujamil. Pesantren Dari Transpormasi Metodologi Menuju Demokrarisasi Institusi. Jakarta: Erlangga, 2009.
Rosyada, Dede. Paradigma Pendidikan Demokratis, Sebuah Model Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Cet. II; Jakarta: Kencana, 2009.
Sulthon, M. dan Moh. Khusnuridlo, Manajemen Pondok Pesantren Dalam Perspektif Global. Cet. I; Yogyakarta: LB. Pressindo, 2006.
Thalib, M. 50 Pedoman Mendidik Anak Menjadi Shaleh. Bandung: Iryad Baitus Salam, 1996.
Ulwan, Abdullah Nasih, Tarbiyat al-Awlad fi al-Islam diterjemahkan oleh Jamaluddin Miri dengan judul Pendidikan Anak dalam Islam. Cet. I; Jakarta: Pustaka Amani, 1995.
__________. Hatta Ya’lamu al-Syabab diterjemahkan oleh Jamaluddin Sais dengan judul Pesan untuk Pemuda Islam. Cet. VIII; Jakarta: Gema Insani Press, 1996.
Ya’cub, Muhammad. Pondok Pesantren dan Pembangunan Desa. Bandung: Angkasa, 1984.
Zainuddin. et. al., Seluk Beluk Pendidikan dari al-Ghazali. Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
Zuhairini. et.al., Filsafat Pendidikan Islam. Cet. II, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.




[1]Nurcholish Majid, Masyarakat Religius (Cet. I; Jakarta: Paramadina, 1997), h. 114-116.
[2]H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara,1991), h. 1.
[3]Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah (Cet. II; Yogyakarta: SIPRES, 1994), h. 5.
[4]Zuhairini, et.al., Filsafat Pendidikan Islam (Cet. II, Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 173.
[5]M. Djumberansyah Indar, Filsafat Pendidikan (Cet. I; Surabaya: Karya Abditama, 1994), h. 109.
[6]Hal ini dapat dilihat dari posisi Kompetensi Inti (KI) dalam Kurikulum 2013. KI merupakan tingkat kemampuan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan yang harus dimiliki seorang peserta didik pada setiap tingkat kelas atau program yang menjadi landasan pengembangan kompetensi dasar. KI mencakup: sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan yang berfungsi sebagai pengintegrasi muatan pembelajaran, mata pelajaran atau program dalam mencapai Standar Kompetensi Lulusan. Lihat selengkapnya pada Kementerian Pendidikan Nasional, Pedoman Implementasi Kurikulum 2013 (Jakarta: t.p., 2013).
[7]Abdullah Nasih ‘Ulwan, Hatta Ya’lamu al-Syabab diterjemahkan oleh Jamaluddin Sais dengan judul Pesan untuk Pemuda Islam (Cet. VIII; Jakarta: Gema Insani Press, 1996), h. 110.
[8]Zainuddin et. al., Seluk Beluk Pendidikan dari al-Ghazali (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 106-107.
[9]Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama (Cet. XV; Jakarta: Bulan Bintang, 1996), h. 56.
[10]Abdullah Nasih ‘Ulwan, Tarbiyat al-Awlad fi al-Islam diterjemahkan oleh Jamaluddin Miri dengan judul Pendidikan Anak dalam Islam (Cet. I; Jakarta: Pustaka Amani, 1995), h. 37-39.
[11]M. Thalib, 50 Pedoman Mendidik Anak Menjadi Shaleh (Bandung: Iryad Baitus Salam, 1996), h. 119-120.
[12]Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub bin Miskawaih, Tahzib al-Akhlaq wa Tathhìr al-A’raq, diterjemahkan oleh Helmi Hidayat dengan judul Menuju Kesempurnaan Akhlaq (Cet. III; Bandung: Mizan, 1997), h. 29-30.
[13]M. Sulthon dan Moh. Khusnuridlo, Manajemen Pondok Pesantren Dalam Perspektif Global (Cet. I; Yogyakarta: LB. Pressindo, 2006), h. 12-13
[14]Anhari Masjkur, Integrasi Sekolah ke Dalam Sistem Pendidikan Pesantren (Cet. I; Surabaya: Diantama, 2007), h. 22.
[15]Departemen Agama RI., Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah; Pertumbuhan dan Perkembangannya (Jakarta: Dirjen Kelembagaan Agama Islam, 2003), h. 29-30.
[16]Muhammad Ya’cub, Pondok Pesantren dan Pembangunan Desa (Bandung: Angkasa, 1984), h. 23.
[17]Departemen Agama RI., Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah; Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 30
[18]Anhari Masjkur, Integrasi Sekolah ke Dalam Sistem Pendidikan Pesantren, h. 24.
[19]Anhari Masjkur, Integrasi Sekolah ke Dalam Sistem Pendidikan Pesantren, h. 25.
[20]Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Remaja Grafindo Persada, 1996), h. 33.
[21]Anhari Masjkur, Integrasi Sekolah ke Dalam Sistem Pendidikan Pesantren, h. 27.
[22]Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transpormasi Metodologi Menuju Demokrarisasi Institusi (Jakarta: Erlangga, 2009), h. 153.
[23]Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis, Sebuah Model Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pendidikan (Cet. II; Jakarta: Kencana, 2009), h. 108.
[24]Thomas Lickona, Educating for Character; How Our School Can Teach Respect and Responbility (New York: Bantam Book, 1992), h. 53.
[25]Syafaruddin Alwi, Manajemen Sumber Daya Manusia (Yogyakarta: BPFE, 2012), h. 192.
[26]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2008), h. 1266.
[27]Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren; Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3ES, 1994), h. 18.
[28]Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: INS, 1994), h. 55
Post a Comment