Saturday, December 19, 2015

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

I. PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
        Umumnya bangsa-bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam tinggal di negeri-negeri yang sedang berkembang. Negeri-negeri tersebut menghadapi persoalan-persoalan yang umumnya sama, yaitu persoalan-persoalan yang disebabkan antara lain oleh ledakan penduduk dan meningkatnya tuntutan-tuntutan keperluan dari penduduk. Bangsa di negeri-negeri berkembang menyadari ketertinggalan mereka dari negeri-negeri yang telah maju terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.[1]
       Bangsa Indonesia, sebagaimana umumnya bangsa-bangsa di Timur mengalami penjajahan oleh Barat (Belanda) cukup lama, yakni kurang lebih 350 tahun. Penjajahan suatu bangsa oleh bangsa lain meliputi semua aspek kehidupan, aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan, bahkan misionaris agama ikut serta memanfatkan kekuasaan, kewibawaan, fasilitas dengan kekuatan kolonial untuk mengembangkan ajaran agama tertentu. Hal ini pula yang dialami dan dirasakan oleh bangsa Indonesia atas penjajahan kolonial Belanda yang mengakibatkan keterbelakangan, kebodohan, kemiskinanm kehilangan harga diri dan jati diri sebagai suatu komunitas dan bangsa. 

       Di samping itu, menempatkan kedudukan agama yang jelas di dalam masyarakat merupakan masalah yang harus dihadapi pula oleh negeri-negeri Islam tersebut. Islam berdiri meliputi dua aspek, yaitu agama dan masyarakat atau politik. Islam tidak memisahkan persoalan-persoalan rohani dan persoalan-persoalan dunia, tetapi mencakup kedua segi ini. Hukum Islam (Syariat) mengatur kedua segi itu, hubungan manusia dengan Tuhan serta hubungan manusia dengan sesamanya. Diwaktu yang lalu berbagai jalan untuk mendudukkan masalah ini telah dicoba, tetapi kalangan Islam sendiri merasakan bahwa hasil yang dicapai masih sangat terbatas dan karena itu perlu lebih disempurnakan lagi.[2]
Indonesia sendiri belumlah berhasil memecahkan masalah ini. Semenjak merdeka, Islam memang terus berkembang dengan memperoleh jumlah pengikut yang banyak di kalangan suku-suku bangsa yang masih animistis. Masjid telah tumbuh di mana-mana di seluruh Indonesia. Jumlah mahasiswa yang berasal dari kalangan muslim yang sadar akan agamanya senantiasa bertambah dari tahun ke tahun. Shalat berjamaah pada hari Jumat dilakukan oleh demikian banyak orang, sehingga melimpah keluar masjid-masjid. Tetapi masalah kedudukan Islam di tengah masyarakat masih belum terselesaikan. Islam masih harus menentukan tempat serta peranannya yang nyata di dalam perkembangan negeri ini.[3]
Ummat Islam merupakan bagian yang terbesar penduduk Indonesia. Karena itu, peranan masyarakat muslim Indonesia sangat menentukan bagi kemajuan dan daya saing bangsa, Umat Islam Indonesia wajib memainkan peranannya itu untuk kepentingan seluruh bangsanya.
Berdasarkan kesadaran itu, mendorong setiap muslim sebagai warga negara sebagai anggota bangsa yang bertanggung jawab, menjadi pelopor dan penegak utama bagi bangsa Indonesia untuk berilmu, berteknologi, berbudaya dan produktivitas tinggi. Di bumi Indonesia, di dalam kawasan nusantara dari Sabang hingga ke Merauke, ummat Islam merupakan bahagian terbesar penduduk Indonesia merupakan golongan yang mempunyai kepentingan utama di dalam berlangsungnya siklus-siklus pengembangan ilmu dan teknologi serta peningkatan taraf hidup masyarakat.
Untuk itu ummat Islam perlu pula menjadi pelopor dalam mengembangkan pusat-pusat keunggulan di dalam bidang-bidang yang menentukan taraf hidup masyarakat Indonesia. Karakter masyarakat muslim di Indonesia sangatlah dipengaruhi oleh model dakwah pertama Islam yang datang ke Indonesia yang dilakukan melalui proses dagang yang cenderung “lebih damai” daripada penyebaran Islam di daaerah Timur Tengah dan Asia Selatan yang cenderung “lebih keras”. Untuk itu, penting untuk mengetahui perkembangan Islam di Indonesia sebagai bahan refleksi untuk mengevaluasi sejauhmana peran umat Islam dalam perkembangan bangsa ini.

B.    Rumusan Masalah
Dari paparan pada latar belakang di atas, dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah masuknya Islam di Indonesia?
2. Bagaimana situasi dan kondisi sosial budaya pada masa kedatangan Islam serta proses islamisasinya?
3. Bagaimana perkembangan Islam di Indonesia?

II. PEMBAHASAN
A. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia
Peristiwa sejarah datangnya Islam di Indonesia pada dasarnya merupakan salah satu kajian dalam sejarah studi Islam. Dalam uraian ini, peristiwa ini menarik untuk dibicarakan, sebab ia merupakan awal pertumbuhan keberadaan Islam dan sekaligus sebagai permulaan timbulnya potensi kehidupan keagamaan masyarakat Islam di daerah ini.
Rasyidi menyatakan bahwa Islam adalah hukum-hukum yang dalam pelaksanaannya tidak luput dari perubahan zaman, interpretasi dan situasi. Meskipun agama Islam sendiri sifatnya absolut, tetapi dapat dijadikan sebagai karakteristik Islam di Indonesia dibandingkan dengan Islam di daerah lain. Guna melihat perkembangan Islam yang ada sekarang, maka mau tidak mau harus meniti latar belakang masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, karena dari sejarah ini dapat dilihat bagaimana Islam dapat berinteraksi dengan nilai-nilai yang dominan pada masa sebelumnya dan mengalami perkembangan yang terus menerus setelah mendapatkan pengaruh yang beraneka dari luar.[4]
Berbicara tentang sejarah kedatangan Islam yang pertama di Indonesia, sekurang-kurangnya ada tiga faktor yang perlu dijelaskan, yaitu tentang waktunya, orang yang membawa dan tempat pertama yang didatangi. Dari penelitian sejarah, Islam telah ada di nusantara sejak bermukimnya orang-orang Islam di Nusantara. Jadi masuk dan berkembangnya hukum Islam di Indonesia adalah bersamaan dengan masuk dan berkembangnya agama Islam itu sendiri. Meskipun ada yang berpendapat bahwa masuknya Islam di Indonesia berasal dari Arab, namun kebanyakan pendapat menyatakan bahwa masuknya Islam ke Indonesia bukan dari pusatnya di Arab, melainkan melalui India.[5]
Berkaitan dengan waktu kedatangan Islam yang pertama di Indonesia terdapat dua pendapat yang berbeda. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa Islam masuk di Nusantara sekitar abad ke-7 M, sedangkan selebihnya berpendapat bahwa Islam masuk di tanah air pada abad ke-13 M. Akan tetapi pendapat yang paling banyak adalah bahwa Islam pertama kali masuk di Indonesia abad ke 7 melalui para pedagang dari Persia dan Gujarat tepatnya di Aceh, Barus (pesisir pantai Sumatera bagian barat) dan pesisir utara Padang.[6]
Boleh jadi seorang ahli sejarah menganggap agama Islam telah masuk di Indonesia setelah adanya orang Islam yang datang ke daerah ini. Sementara di lain pihak, Islam mungkin baru dianggap masuk di suatu daerah setelah adanya penduduk daerah itu yang menyatakan diri masuk Islam, bahkan mungkin sekali nanti agama Islam telah melembaga di daerah tersebut, baru dianggap agama Islam masuk di daerah itu.[7]
Kalau berpijak pada penafsiran yang memandang bahwa agama Islam telah masuk di suatu daerah yang ditandai dengan adanya orang Islam yang datang ke daerah itu, maka kedatangan Islam yang pertama di Nusantara adalah abad ke 7 M. oleh para pedagang dari India yang beragama Islam.[8] Akan tetapi jika berpijak pada penafsiran, bahwa agama Islam masuk di suatu daerah setelah adanya penduduk setempat yang menganut Islam, maka agama Islam masuk pertama kali di Nusantara adalah abad ke 13 M, yakni sejak para pedagang dari Gujarat berhasil mengislamkan beberapa penduduk asli Aceh di semenanjung Pasai.[9]
Terlepas dari perbedaan pendapat tentang Islam masuk pertama kali di Indonesia, aliran Islam yang pertama kali masuk di Indonesia bukan aliran Ahlussunnah wal Jamaah melainkan aliran sufi yang mengutamakan tasawuf ketimbang syariat. Karena aliran sufi inilah sehingga paham mistik yang berasal dari Gujarat dan Persia besar sekali pengaruhnya terhadap Islam yang datang ini. Berdasarkan campuran mistis yang ternyata sudah masuk bersamaan dengan datangnya Islam itu sendiri, maka nampak bahwa Islam di Indonesia lebih banyak menonjolkan aspek mistis daripada aspek hukum sebagai corak aslinya. Hal ini juga dapat dimaklumi mengingat peranan mistis asli masa Hindu-Budha sangat besar pengaruhnya sebelum datangnya Islam. Justru dengan warna Islam yang bercampur mistis inilah yang lebih sesuai dengan kondisi Indonesia waktu itu, sehingga agama Islam dapat tersebar dengan cepat.

B. Situasi dan Kondisi Sosial Budaya pada Masa Kedatangan Islam serta Proses Islamisasinya
            Berbeda dengan agama-agama lain, Islam masuk ke Indonesia dengan cara yang elastis. Masjid-masjid pertama di Indonesia bentuknya menyerupai arsitektur lokal, warisan Hindu. Ini berbeda dengan Kristen misalnya yang membikin gereja di sini dengan arsitektur asing, arsitektur Barat. Kasus ini memperlihatkan bahwa Islam lebih toleran terhadap budaya lokal. Budha masuk ke Indonesia dengan membawa stupa, demikian juga Hindu. Islam sementara itu tidak memindahkan simbol-simbol budaya Islam yang di Timur Tengah itu ke sini. Hanya akhir-akhir ini saja bentuk kubah di-adopt. Dengan fakta ini terbukti bahwa Islam tidak anti budaya. Semua unsur budaya Budha di-adopt di dalam Islam. Pengaruh arsitektur India misalnya sangat jelas terlihat pada bangunan-bangunan mesjidnya, demikian juga pengaruh arsitektur mediterania. Budaya Islam memiliki begitu banyak varian.[10]
            Di Indonesia pada masa kedatangan dan penyebaran Islam terdapat aneka ragam suku bangsa, organisasi pemerintahan, struktur ekonomi dan sosial budaya. Suku bangsa Indonesia yang bertempat tinggal di daerah-daerah pedalaman dilihat dari sudut antropologi budaya belum banyak mengalami percampuran jenis-jenis bangsa dan budaya dari luar seperti India, Persia, Arab dan Eropa. Struktur sosial, ekonomi dan budayanya agak statis dibandingkan dengan suku bangsa yang mendiami daerah pesisir. Mereka yang berdiam di pesisir lebih-lebih di kota-kota pelabuhan, menunjukkan ciri-ciri fisik dan sosial budaya yang lebih berkembang yang disebabkan percampuran dengan bangsa dan budaya dari luar.[11]
            Untuk kepentingan pribadi atau untuk sebab-sebab lain, mereka mencari budak-budak dan budak-budak tersebut menjadi muslim. Dengan cara ini maka tiap keluarga muslim menjadi inti masyarakat muslim dan pusat kegiatan pengislaman. Dengan cara perkawinan pula maka Islam memasuki lapisan masyarakat bangsawan. Kemudian orang-orang dari daerah sekitar tertarik akan Islam, karena pedagang-pedagang muslim dapat menunjukkan sifat-sifat dan tingkah laku yang baik dan pengetahuan keagamaan yang tinggi. Pada kesempatan itu pula raja-raja dan bangsawan-bangsawan Indonesia mengumpulkan kekayaan melalui perdagangan dengan pedagang-pedagang asing. Rakyat umumnya memandang pemimpin-pemimpin dan bangsawan-bangsawannya sebagai contoh-contoh yang baik untuk diikuti dan dengan demikian apabila seorang pemimpin atau bangsawan memeluk agama Islam maka rakyat mengikutinya.[12]
            Jelaslah bahwa proses Islamisasi di Indonesia terjadi dan dipermudah karena adanya dua pihak, yakni orang-orang muslim yang datang dan mengajarkan agama Islam dan golongan masyarakat Indonesia sendiri yang menerimanya. Dalam masa-masa kegoncangan politik, ekonomi dan sosial budaya itu, Islam sebagai agama dan budaya dengan mudah memasuki dan mengisi masyarakat indonesia yang sudah mencari pegangan hidup, lebih-lebih cara-cara yang ditempuh oleh orang-orang muslim dalam menyebarkan Islam disesuaikan dengan kondisi sosial budaya yang telah ada, jadi pada taraf permulaan islamisasi dilakukan dengan saling pengertian akan kebutuhan dan kondisinya. Cara dan saluran-saluran islamisasi sehingga terbentuk masyarakat dan kerajaan yang bercorak Islam di Indonesia akan kita bicarakan pada bagian tersendiri.
Pada taraf permulaan, diantara saluran islamisasi yang pernah berkembang di Indonesia adalah perdagangan. Hal itu sejalan dengan kesibukan lalu-lintas perdagangan abad ke-7 hingga abad ke-16. Pada saat itu pedagang-pedagang Muslim (Arab, Persia, India) turut serta ambil bagian dalam perdagangan dengan pedagang-pedagang dari negeri-negeri bagian Barat, Tenggara, dan Timur Benua Asia. Penggunaan perdagangan sebagai saluran islamisasi sangat menguntungkan karena bagi kaum muslim tidak ada pemisahan antara kegiatan berdagang dan kewajiban menyampaikan ajaran Islam kepada pihak-pihak lain. Kecuali itu, pola perdagangan pada abad-abad sebelum dan ketika Islam datang sangat menguntungkan, karena golongan raja dan bangsawan umumnya turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham.[13]
            Di antara golongan pedagang tersebut tentu ada yang kaya dan pandai, bahkan seringkali adapula yang menjadi syahbandar pelabuhan dalam suatu kerajaan. Dari sudut ekonomi jelas mereka memiliki status sosial yang lumayan, sehingga orang-orang pribumi terutama anak-anak bangsawan, tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Bagi pedagang-pedagang asing yang datang ke negeri-negeri lain biasanya tidak membawa istri, karena itu mereka cenderung membentuk keluarga di tempat yang mereka datangi. Untuk memperoleh seorang wanita penduduk pribumi Di sekitar perkampungannya, mereka tidak mengalami kesukaran. Tetapi perkawinan dengan penganut berhala mereka anggap kurang sah, karena itu wanita-wanita yang mereka inginkan di islamkan terlebih dahulu dengan cara mengucapkan syahadat. Hal itu berjalan dengan mudah karena tanpa pentasbihan atau upacara-upacara panjang lebar dan mendalam, sehingga penganut yang bukan Islam yang melakukan cara tersebut merasa senang dan segera menyadari bahwa mereka termasuk dalam lingkungan penduduk asing, yang dianggap lebih dari pada mereka. Lingkungan mereka makin luas dan dengan cara demikian lambat laun timbul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan muslim.[14]
            Saluran islamisasi melalui perkawinan itu lebih menguntungkan lagi apabila terjadi antara saudagar, ulama atau golongan lain, dengan anak bangsawan atau anak raja dan adipati. Lebih menguntungkan karena status sosial ekonomi, terutama politik raja-raja, adipati-adipati dan bangsawan-bangsawan pada waktu itu turut mempercepat proses islamisasi. Dalam cerita-cerita babad, hikayat dan tradisi, sering kita dapati data mengenai perkawinan antara seorang pedagang atau golongan lainnya dengan anak bangsawan.
            Saluran islamisasi melalui tasawuf dapat juga terjadi yang walaupun pada mulanya agama Islam disajikan kepada bangsa Indonesia dalam bentuk yang menunjukkan persamaan dengan agama Ciwa dan Budha Mahayana, sehingga mudah dimengerti sebab-sebab orang Jawa mudah menerima agama baru itu.
            Selain melalui tasawuf, islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik dalam pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kyai-kyai atau ulama-ulama. Pesantren atau pondok merupakan lembaga yang penting dalam penyebaran agama Islam. Pembinaan calon guru-guru agama, kyai-kyai atau ulama-ulama justru dilakukan di pesantren-pesantren. Setelah keluar dari suatu pesantren, mereka kembali ke masing-masing kampung atau desanya. Di tempat-tempat asal, mereka akan jadi tokoh keagamaan, menjadi kyai yang menyelenggarakan pesantren lagi. Dengan demikian, pesantren-pesantren beserta kyai-kyai berperanan penting dalam proses pendidikan masyarakat. Semakin terkenal seorang kyai, semakin terkenal pula pesantrennya dan pengaruhnya akan mencapai radius lebih jauh lagi.[15]
            Saluran dan cara islamisasi lain dapat pula melalui cabang-cabang kesenian seperti seni bangunan, seni pahat atau ukir, seni tari, seni musik dan seni sastra. Hasil-hasil seni bangunan pada masa pertumbuhan Islam di Indonesia antara lain masjid-masjid kuno. Yang menunjukkan keistimewaan dalam denahnya yang berbentuk persegi empat atau bujur sangkar dengan bagian kaki yang tinggi serta pejal, atapnya bertumpang dua, tiga, lima atau lebih, dikelilingi serambi. Bagian-bagian lain seperti mikraf dengan lengkung pola kalamakara, mimbar yang mengingatkan ukiran-ukiran pola teratai, mustaka atau memolo, jelas menunjukkan pola-pola seni bangunan tradisional yang telah dikenal di Indonesia sebelum kedatangan Islam.
            Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa jelas islamisasi dilakukan pula melalui seni bangunan dan seni ukir. Berdasarkan berbagai peninggalan seni bangunan dan seni ukir dari masa-masa tersebut bahwa proses islamisasi dilakukan dengan damai. Kecuali itu, dilihat dari segi ilmu jiwa dan taktik, penerusan tradisi seni bangunan dan seni ukir pra Islam merupakan alat islamisasi yang sangat bijaksana yang mudah menarik orang-orang bukan Islam untuk dengan lambat laun memeluk Islam sebagai pedoman hidup barunya.
            Agama Islam juga membawa beberapa perubahan sosial dan budaya: memperhalus dan memperkembangkan budaya Indonesia. Penyesuaian antar adat dan syariah diberbagai daerah di Indonesia selalu terjadi, meskipun kadang-kadang dalam taraf permulaan mengalami proses pertentangan dalam masyarakat. Salah satunya adalah Adat Makuta Alam yang merupakan hasil percampuran adat Aceh dengan daerah syariat Islam. Beberapa kitab hukum di Jawa, seperti Undang-Undang di Mataram, Pepakem di Cirebon juga mengandung unsur-unsur pokok pra Islam dengan Islam.[16]

C. Perkembangan Islam di Indonesia
Tersebarnya agama Islam ke berbagai daerah Nusantara, tidak dalam waktu yang bersamaan dan dilakukan dengan cara damai.[17] Di sisi lain, masuknya agama Islam tidak hanya berpengaruh terhadap aspek-aspek agama, budaya, sosial dan ekonomi, tetapi juga dalam kehidupan politik yang berkembang cukup pesat. Jika di wilayah lain Islam berkembang dengan cara penguasaan wilayah, maka di Nusantara ini justru dilakukan dengan cara damai. Cara yang demikian membuat masyarakat menerima Islam dengan keyakinan utuh.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan agama Islam cepat meluas di Indonesia antara lain:
a.  Syarat-syarat masuk agama Islam mudah, di mana seseorang telah dianggap masuk Islam bilamana ia telah mengucapkan kalimat syahadat yang berisi pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya, begitu pula terhadap keturunannya langsung beragama Islam.
b.  Upacara-upacara dalam agama Islam sangat sederhana dibandingkan dengan agama Hindu.
c.   Agama Islam tidak mengenal sistem kasta dan menganggap bahwa setiap manusia sama, tidak seperti apa yang terdapat dalam masyarakat Hindu.
d.  Agama Islam menyebar di Indonesia telah disesuaikan dengan adat dan tradisi bangsa Indonesia.
e.  Faktor politik yang ikut memperlancar penyebaran agama Islam yaitu runtuhnya kerajaan Majapahit sebagai kerajaan Hindu di Indonesia (1478) atau 1526 dan penduduk Portugis di Malaka (1511).[18]
Sementara Endang Saifuddin Anshari mengatakan, sebab-sebab sangat pesat dan cepatnya berkembang Islam di Indonesia antara lain yang pertama dan terutama sekali ialah faktor agama Islam (aqidah, syari'ah, dan akhlak Islam) sendiri, yang lebih banyak "berbicara" kepada segenap lapisan masyarakat Indonesia (penguasa, pedagang, petani dan lain sebagainya). Yang kedua adalah faktor para mujtahid dakwah (yang banyak terdiri atas para saudagar yang taraf kebudayaannya sudah tinggi) yang telah berhasil membawakan al-Islam dengan segala kebijaksanaan, kemahiran dan keterampilan.[19]
Hal ini juga dikemukakan oleh Jalaluddin Rahman bahwa Islam tersebar di Indonesia berkat jasa para orang Gujarat yang datang dari India. Mereka berprofesi sebagai saudagar dan juga mengemban tugas dakwah Islamiyah. Mereka berhasil mengislamkan sebagian orang di Nusantara ini. Islam dengan mudah diterima masyarakat, karena dibawa oleh orang Gujarat yang memiliki keunggulan dan daya tarik. Mereka berhasil memikat hati para raja-raja yang menjadi penyebab utama percepatan Islamisasi di Nusantara.[20]
Hal inilah yang memberikan kepada kita catatan sejarah tentang peranan bangsa Arab, Persia dan Gujarat dalam melakukan pelayaran dan perdagangan di kawasan ini.[21]
Dalam perkembangan selanjutnya, Islam disebarkan lagi oleh para pedagang, seperti Ahmad Dahlan, berprofesi pedagang batik, Samanhudi, juga seorang pedagang dan tokoh-tokoh lainnya termasuk pedagang. Mereka berhasil menyebarkan syiar Islam, karena ditunjang oleh biaya dan fasilitas pribadi, sehingga penyebaran Islam dilakukan tidak perlu tergantung pada pendanaan lain.[22]
Pada abad ke-17 Masehi atau tahun 1601 kerajaan Hindia Belanda datang ke Nusantara untuk berdagang, namun pada perkembangan selanjutnya mereka menjajah daerah ini. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya, VOC, sejak itu hampir seluruh wilayah Nusantara dikuasainya kecuali Aceh. Saat itu antara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
Dengan kesempurnaan Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya. Ini telah diterapkan oleh para ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, para ulama mengubah pesantren menjadi markas perjuangan, para santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah, sedangkan ulamanya menjadi panglima perang. Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad ke-13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan Islam yang syair-syairnya berisi seruan perjuangan. Para ulama menggelorakan jihad melawan penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:
1.  Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan ulama dengan adat, contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.
2.  Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar, seorang Guru Besar ke-Indonesiaan di Universitas Hindia Belanda, yang juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah. Dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji, karena pada saat itulah terjadi pematangan perjuangan terhadap penjajahan.[23]
Di akhir abad ke-19, muncul ideologi pembaruan Islam yang diserukan oleh Jamal-al-Din Afghani dan Muhammad Abduh. Ulama-ulama Minangkabau yang belajar di Kairo, Mesir banyak berperan dalam menyebarkan ide-ide tersebut, di antara mereka ialah Muhammad Djamil Djambek dan Abdul Karim Amrullah. Pembaruan Islam yang tumbuh begitu pesat didukung dengan berdirinya sekolah-sekolah pembaruan seperti Adabiah (1909), Diniyah Putri (1911), dan Sumatera Thawalib (1915). Pada tahun 1906, Tahir bin Jalaluddin menerbitkan koran pembaruan al-Iman di Singapura dan lima tahun kemudian, di Padang terbit koran dwi-mingguan al-Munir.[24]
Khusus mengenai kebangkitan Islam di Indonesia pada awal abad ke-20 amat dipengaruhi oleh gerakan reformasi keagamaan (Islam) di Timur Tengah dan India. Berangkatlah Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Supanik ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji dan menuntut Ilmu di sana. Sepulangnya dari Mekah ke Minangkabau pada tahun 1803 mereka membawa faham Wahabi, suatu faham yang amat berpengaruh di Saudi Arabia. Untuk menaburkan faham Wahabi ini, mereka membentuk suatu barisan yang bernama “Paderi”, bergerak melawan adat, syirik, khurafat, dan Bid’ah. Untuk memenangkan fahamnya barisan “Paderi” ini bertindak dengan berani dan tegas, Sehingga terjadi peperangan antara barisan Paderi dan kaum Adat, yang akhirnya barisan Paderi berhadapan pula dengan pemerintah kolonial. Selanjutnya pembaharuan yang dipelopori Paderi ini dilanjutkan oleh kaum muda, termasuk Abdul Karim Amrullah, Abdullah Ahmad, Muhammad Thaib Umar dan kawan-kawannya. Mereka mengorganisir pesantren-pesantren yang sehaluan dan sefaham, kemudian diberi nama “Sumatera Thawalib”, yang pada kongresnya tahun 1930 menjadi Persatuan Muslim Indonesia (PERMI).
Pada tahun 1912, Kiai Haji Ahmad Dahlan tergerak hatinya untuk mendirikan Muhammadiyah. Organisasi ini bergerak melawan feodalisme, syirk, bid’ah dan khurafat seperti barisan Paderi di Minang kabau, namun tidak dengan jalan kekerasan. Muhammadiyah menyebarkan fahamnya melalui pendidikan, dakwah dan sosial, seraya organisasi ini memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang berasal dari bantuan pemerintah kolonial demi kepentingan dakwahnya.
Sedangkan gerakan Islam yang tampil bergerak dalam lapangan sosial ekonomi dan social politik ialah Syarikat Dagang Islam (SDI) yang lahir pada tahun 1905 di Solo di bawah pimpinan Haji Samanhudi, lalu menjadi Syarikat Islam (SI) di bawah pimpinan Haji Umar Said (HOS) Cokroaminoto dan para cendikiawan muslim lainnya. Mereka memperluas lingkup gerakan SI ke lapangan politik dan pembaharuan pemikiran tentang ajaran-ajaran Islam. Jasa yang paling besar SI terhadap bangsa dan negera ialah meratakan kesadaran nasional terhadap seluruh lapisan masyarakat, atas, tengah dan rakyat biasa di seluruh persada tanah airnya.
Di celah-celah gerakan Islam yang berdimensi pembaharuan ini juga masih ada organisasi-organisasi Islam yang mempertahankan identitasnya yang tradisionil, seperti Nahdhatul Ulama’ (NU) yang didirikan pada tahun 1926, sebagai reaksi terhadap praktek-praktek pembaharuan yang dilakukan oleh kaum Wahabi di Saudi Arabia, yang pada saat itu Wahabi merupakan faham yang berkuasa di sana. NU ini memperoleh dukungan dari mayoritas umat Islam dan organisasi Islam di Indonesia yang pada umumnya bermadzhab Syafi’i.[25]
Pada prinsipnya antara gerakan Islam yang menerima dan menolak pembaharuan tidaklah memiliki perbedaan yang prinsipil. Sebab mereka sama-sama mengakui bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pegangan pertama dan utama; dan mereka sama-sama bergerak melawan Kolonialisme. Perbedaan yang ada pada mereka ialah perbedaan yang diperbolehkan, karena masih termasuk dalam lingkup ijtihad. Organisasi-organisasi Islam ini telah melakukan pesan perjuangan para syuhada kusuma bangsa yang mempertaruhkan harta dan nyawanya demi kecintaan mereka kepada agama dan tanah airnya. Mudah-mudahan generasi masa kini diberi kemampuan melanjutkan pesan perjuangan mereka

III. PENUTUP
Dari beberapa uraian di atas maka dapatlah disimpulkan sebagai berikut:
1.  Mengkaji kedatangan Islam yang pertama di Indonesia, terdapat tiga faktor yang perlu dijelaskan, yaitu tentang waktunya, orang yang membawa dan tempat pertama yang didatangi. Islam telah ada di nusantara sejak bermukimnya orang-orang Islam di Nusantara. Jadi, masuk dan berkembangnya hukum Islam di Indonesia adalah bersamaan dengan masuk dan berkembangnya agama Islam itu sendiri. Meskipun ada yang berpendapat bahwa masuknya Islam di Indonesia berasal dari Arab, namun kebanyakan pendapat menyatakan bahwa masuknya Islam ke Indonesia bukan dari pusatnya di Arab, melainkan melalui India.
2.  Proses masuknya Islam ke Indonesia melalui jalur perdagangan, perkawinan, pendidikan, dan kesenian. Proses islamisasi damai di Indonesia ini merupakan alat islamisasi yang sangat bijaksana yang mudah menarik orang-orang bukan Islam untuk dengan lambat laun memeluk Islam sebagai pedoman hidup barunya.
3.  Perkembangan Islam di Indonesia berlangsung sangat dinamis. Islam menjadi katalisator dan motivator dalam membangun bangsa ini sejak zaman prakemerdekaan sampai masa sekarang. Sebagai agama yang mayoritas di Indonesia, masyarakat Muslim masih memerlukan peningkatan dalam perannya dalam pembangunan bangsa ini, baik secara kualitas maupun kuantitas dalam menghadapi tantangan global yang semakin berat.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad Daud. Kedudukan Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Indonesia. Jakarta : Risalah, 1984. 
Ambary, Hasan Muarif. Menemukan Peradaban; Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Cet. I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998.   
Anshari, H. Endang Syaifuddin. Wawasan Islam, Pokok-pokok Pikiran tentang Islam dan Umatnya. Cet. IV; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1993.
Badrika, I Wayan. dkk., Sejarah Nasional dan Dunia. Cet. III; Jakarta: Aksara Pratama, 1993.
Chandrasasmita, Uka. ed.) Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1984. 
Kamal, Mustafa. Sejarah Islam di Indonesia. diakses di http://www.dakwatuna.com /2007/ sejarah-islam-di-indonesia / tanggal 12 Juni 2015.
Kuntowijoyo. Dinamika Internal Ummat Islam Indonesia. Cet I; Jakarta: Lembaga Studi Informasi Pembangunan, 1993.
Musa, Abd. Rahman. et.al., Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jilid 3. Ujungpandang : Ditbinperta,1983.   
Noer, Deliar. Gerakan Moderen Islam Indonesia, 1900-1942. Cet. VIII; Jakarta: PT. Pustaka LP3ES Indonesia 1996.
Poesponegoro, Marwati Djoened. Sejarah Nasional Indonesia. Jilid tiga. Cet. VIII. Jakarta: Balai Pustaka, 2006.
Rahman, Jalaluddin. Islam dalam Perspektif Pemikiran Kontemporer. Cet. I; Ujung Pandang: Umitoha, 1997.   
Wahidin, Syamsul. et.al Perkembangan Ringkap Hukum Islam di Indonesia. Cet.1; Jakarta : Akademika Pressindo, 1984.   
Wikipedia. Islam di Indonesia diakses di https://id.wikipedia.org/wiki/Islam _di_Indonesia, tanggal 15 Juni 2015.
Yatim, Badri. Sejarah dan Kebudayaan Islam di Indonesia. Jakarta : Rajawali Pers, 1992.   



[1]Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam Indonesia 1900-1942 (Cet. VIII; Jakarta: PT. Pustaka LP3ES Indonesia 1996), h. 1.
[2]Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam Indonesia 1900-1942, h. 2.
[3]Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam Indonesia 1900-1942, h. 4.
[4]Syamsul Wahidin, et.al Perkembangan Ringkap Hukum Islam di Indonesia (Cet.1; Jakarta : Akademika Pressindo, 1984), h. 15.
[5]Lihat Muhammad Daud Ali, Kedudukan Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Indonesia (Jakarta : Risalah, 1984), h. 7.
[6]Lihat Badri Yatim, Sejarah dan Kebudayaan Islam di Indonesia (Jakarta : Rajawali Pers, 1992), h. 17.
[7]Lihat Abd. Rahman Musa, et.al., Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid 3 (Ujungpandang : Ditbinperta,1983), h. 70.
[8]Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam Indonesia 1900-1942, h. 76.
[9]Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam Indonesia 1900-1942, h. 77.
[10]Kuntowijoyo, Dinamika Internal Ummat Islam Indonesia (Cet I; Jakarta: Lembaga Studi Informasi Pembangunan, 1993). h. 16.
[11]Marwati Djoened Poesponegoro. Sejarah Nasional Indonesia. Jilid tiga (Cet. VIII. Jakarta: Balai Pustaka, 2006), h. 172.
[12]Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam Indonesia 1900-1942, h. 179.
[13]Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam Indonesia 1900-1942, h. 188.
[14]Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam Indonesia 1900-1942, h. 190.
[15]Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam Indonesia 1900-1942, h. 192.
[16]Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam Indonesia 1900-1942, h. 195.
[17]Cara dan pola damai ini memerlukan kemampuan tersendiri dan kesadaran para muballigh . Tidak pernah tercatat dalam sejarah bahwa di Indonesia ini ada orang yang dipaksa menganut agama Islam. Lihat Uka Chandrasasmita (ed.) Sejarah Nasional Indonesia III (Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1984), h. 122.
[18]I Wayan Badrika, dkk., Sejarah Nasional dan Dunia (Cet. III; Jakarta: Aksara Pratama, 1993), h. 132.
[19]H. Endang Syaifuddin Anshari, Wawasan Islam, Pokok-pokok Pikiran tentang Islam dan Umatnya (Cet. IV; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1993), h. 242.
[20]Jalaluddin Rahman, Islam dalam Perspektif Pemikiran Kontemporer (Cet. I; Ujung Pandang: Umitoha, 1997), h. 112.
[21]Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban; Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia (Cet. I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998), h. 55.
[22]Jalaluddin Rahman, Islam dalam Perspektif Pemikiran Kontemporer, h. 113.
[23]Mustafa Kamal, Sejarah Islam di Indonesia. diakses di http://www.dakwatuna.com/2007/ sejarah-islam-di-indonesia / tanggal 12 Juni 2015.
[24]Wikipedia, Islam di Indonesia diakses di https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Indonesia, tanggal 15 Juni 2015.
[25]Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam Indonesia 1900-1942, h. 162.
Post a Comment