Sunday, December 6, 2015

TEORI KEBUDAYAAN DAN IMPLIKASINYA PADA PENDIDIKAN



I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk hidup yang diberikan berbagai potensi oleh Tuhan, setidaknya manusia diberikan panca indera dalam hidupnya. Namun tentu saja potensi yang dimilikinya harus digunakan semaksimal mungkin sebagai bekal dalam menjalani hidupnya. Untuk memaksimalkan semua potensi yang dimiliki oleh manusia, tentunya harus ada sesuatu yang mengarahkan dan membimbingnya, supaya berjalan dan terarah sesuai dengan apa yang diharapkan. Mengingat begitu besar dan berharganya potensi yang dimiliki manusia, maka manusia harus dibekali dengan pendidikan yang cukup sejak dini.
Sebagai bagian dari hidup manusia, kebudayaan dapat diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan itu digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagainya. Manusia sebagai makhluk sosial menjadi penghasil sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan; akan tetapi juga dalam interaksi dengan sesama manusia dan alam kehidupan, manusia diatur oleh sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan yang telah dihasilkannya. Ketika kehidupan manusia terus berkembang, maka yang berkembang sesungguhnya adalah sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, ilmu, teknologi, serta seni. Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang.[1]
          Di lain pihak manusia juga memiliki kemampuan dan diberikan akal pikiran yang berbeda dengan makhluk yang lain. Sedangkan pendidikan itu adalah usaha yang disengaja dan terencana untuk membantu perkembangan potensi dan kemampuan manusia. Secara sosiologi pendidikan adalah sebuah warisan budaya dari generasi kegenerasi, agar kehidupan masyarakat berkelanjutan, dan identitas masyarakat itu tetap terpelihara. Kebudayaan merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan hampir setiap kegiatan manusia tidak terlepas dari unsur budaya. Memasuki abad ke-21 dan menyongsong milenium ketiga tentu akan terjadi banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat dari era globalisasi.[2]
Pada kenyataannya, masyarakat mengalami perubahan sosial yang begitu cepat, maju dan memperlihatkan gejala desintegratif yang meliputi berbagai sendi kehidupan dan menjadi masalah, salah satunya dirasakan oleh dunia pendidikan. Tidak hanya perubahan sosial, budaya pun berpengaruh besar dalam dunia pendidikan akibat dari pergeseran paradigma pendidikan yaitu mengubah cara hidup, berkomunikasi, berpikir, dan cara bagaimana mencapai kesejahteraan. Dengan mengetahui begitu pesatnya arus perkembangan dunia diharapkan dunia pendidikan dapat merespon hal-hal tersebut secara baik dan bijak.
Untuk itu, Sebagai salah satu sektor dalam jaringan besar kebudayaan, pendidikan beraksi terhadap peristiwa-peristiwa di bagian-bagian lain kebudayaan dan pada kesempatannya mempengaruhi peristiwa-peristiwa itu sendiri. Kebudyaan yang maju memicu pendidikan untuk menghasilkan spesialisasi pengetahuan dan kebudayaan yang tinggi. Akibatnya siswa mesti belajar lebih banyak, baik untuk menguasai keahliannya dan untuk memahami kebudayaan sebagai suatu keseluruhan
 Untuk menjamin bahwa pendidikan akan mencapai tujuan-tujan yang diakui, diperlukan antropolog untuk mengatakan di mana pertentangan yang telah diinternalisasikan dari kebudayaan yang berlawanan dengan usaha-usaha guru. Karena tugas utama pendidik adalah untuk mengekalkan hasil-hasil prestasi kebudayaan, pendidikan pada dasarnya bersifat konservatif. Namun sejauh pendidikan bertugas menyiapkan pemuda-pemuda untuk menyesuaikan diri kepada kejadian-kejadian yang dapat diantisipasikan di dalam dan di luar kebudayaan, pendidikan telah merintis jalan untuk perubahan kebudayaan.
Untuk itu, dalam makalah ini menjadi sangat penting untuk mengkaji tentang sejauhmana implikasi dari teori-teori kebudayaan dalam mempengaruhi pelaksanaan pendidikan sebagai salah satu sokoguru peradaban manusia.

B. Permasalahan
Dari deskripsi yang dikemukakan pada latar belakang, dapat dikemukakan permasalahan pokok sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan kebudayaan?
2.      Bagaimana teori-teori kebudayaan?
3.      Bagaimana implikasi teori-teori kebudayaan terhadap pendidikan?

II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Kebudayaan

         Dalam literatur antropologi terhadap tiga istilah yang boleh jadi semakna dengan budaya, yaitu cultur, civilization, dan kebudayaan. Term kultur berasal dari bahasa latin, yaitu dari kata cultura (kata kerjanya colo, colere).[3] Arti kultur adalah memelihara, mengerjakan, atau mengolah. Soerjono soekarto mengungkapkan hal yang sama. Namun, ia menjelaskan lebih jauh bahwa yang dimaksud dengan mengolah atau mengerjakan sebagai arti kultur adalah mengolah tanah atau bertani. Atas dasar arti yang dikandungnya, kebudayaan kemudian dimaknai sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.[4]
            Istilah kedua yang semakna atau hampir sama dengan kebudayaan adalah sivilisasi. Sivilisasi (civilization) bersal dari kata latin, yaitu civis. Arti kata civis adalah warga negara. Oleh karena itu S. takdir alisyahbana menjelaskan bahwa sivilisasi berhubungan dengan kehidupan kota yang lebih progresif dan lebih halus. Dalam bahasa indonesia, peradaban dianggap sepadan dengan kata civilization.[5]
            Berikut beberapa pengertian kebudayaan menurut S. Takdir Alisyahbana :
1.  Kebudayaan adalah suatu keseluruhan yang kompleks yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda-beda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala kecakapan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
2.  Kebudayaan adalah warisan sosial atau tradisi.
3.  Kebudayaan adalah cara, aturan, dan jalan hidup manusia.
4. Kebudayaan adalah penyesuaian manusia terhadap alam sekitarnya dan cara-cara menyelesaikan persoalan.
5.  Kebudayaan adalah hasil perbuatan atau kecerdasan manusia.
6.  Kebudayaan adalah hasil pergaulan atau perkumpulan manusia.[6]
Parsudi Suparlan menjelaskan bahwa kebudayaan adalah serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dimiliki manusia, dan yang digunakannya secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah laku dan tindakan-tindakannya.[7]
            Pengertian kebudayaan tersebut hampir sama dengan pengertian kebudayaan yang dijelaskan oleh Taylor yang banyak dikritik oleh peneliti lain karena kecenderungan integrasilistiknya dalam mendefinisikan budaya. Tampaknya, pengertian kebudayaan yang cenderung integralistik itu juga ditema oleh beberapa ahli di Indonesia. salah satu buktinya adalah definisi kebudayaan yang dikemukakan oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi. Mereka menjelaskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat. Dengan demikian, kebudayaan pada dasarnya adalah hasil karya, rasa, dan cita-cita manusia.
            Rasa yang meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti yang luas. Agama, ideologi, kebatinan, dan kesenian yang merupakan hasil ekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat termasuk di dalamnya. Cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berpikir orang-orang yang hidup bermasyarakat yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan. Cipta bisa berbentuk teori murni dan bisa juga telah disusun sehingga dapat langsung diamalkan olehmasyarakat. Rasa dan cinta dinamakan pula kebudayaan rohaniah. Semua karya, rasa, dan cipta, dikuasai oleh karsa orang-orang yang menentukan keguanaannya agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar atau seluruh masyarakat.
            Soerjono Soekarto menjelaskan bahwa pendapat di atas mengenai kebudayaan dapat dijadikan sebagai pegangan. Selanjutnya, ia menganalisis bahwa manusia sebenarnya mempunyai dua segi atau sisi kehidupan, sisi meterial dan sisi spritual. Sisi material mengandung karya, yaitu kemampuan manusia untuk menghasilkan benda-benda atau yang lainnya yang berwujud materi. Sis spritual manusia mengandung cipta yang menghasilkan keindahan, kesusialan, kesopanan, hukum, serta rasa yang menghasilkan keindahan. Manusia berusaha mendapatkan ilmu pengetahuan melalui logika, menyerasikan perilaku terhadap kaidah melalui etika, dan mendapatkan keindahan melalui estetika. Itu semua merupakan kebudayaan yang menurut soerjono soekarto dapat dijadikan sebagai patokan analisis.[8]

B. Teori-Teori Kebudayaan
Ada tiga pandangan tentang kebudayaan, yaitu pandangan superorganis, pandangan kaum konseptualis, dan pandangan realis. Menurut pandangan superorganis, kebudayaan adalah realitas super dan ada di atas dan diluar pendukung individualnya dan kebudayaan punya hukum-hukumnya sendiri. Dalam pandangan konseptualis, kebudayaan bukanlah suatu entitas sama sekali, tetapi sebuah konsep yang digunakan antropolog untuk menghimpun serangkaian fakta-fakta yang terpisah-pisah. Dalam pandangan para realis, kebudayaan adalah kedua-duanya, yaitu sebuah konsep dan sebuah entitas empiris. Kebudayaan adalah sebuah konsep, sebab ia bangunan dasar dari ilmu antropologi. Kebudayaan merupakan entitas empiris sebab konsep ini menunjukkan cara sebenarnya fenomena-fenomena tertentu diorganisasikan.[9]
  1. Pandangan Superorganis
Inti pandangan superorganis, kebudayaan merupakan realitas super dan ada di atas dan di luar pendukung individualnya dan kebudayaan punya hukum-hukumnya sendiri. Karena itu, mesti dijelaskan dengan hukum-hukumnya sendiri. Meskipun adalah benar bahwa faktor-faktor tertentu teknologi dan ekonomi. Kebudayaan tidak mungkin diterangkan dengan menggunakan sumbernya sebagaimana sebuah molekul dimengerti hanya dengan jumlah atom-atomnya. Sumber-sumber bisa menjelaskan bagaimana kebudayaan muncul, tetapi bukan kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan dengan ringkas lebih dari pada hasil kekuatan-kekuatan sosial atau ekonomi. Kebudayaan merupakan realitas yang menyebabkannya mungkin ada.[10]
Menurut Emile Durkheim, “kebudayaan terdiri dari fakta-fakta sosial dan representasi kolektif yaitu cara berpikir, bertindak, dan merasa yang bersifat independen dan berada di luar individu. Cara-cara berperilaku ini membebankan sebuah kekuatan memaksa terhadap individu, yaitu dia dihukum, baik secara legal maupun moral bila tidak mematuhinya. Faktor-faktor moral tidak dapat dijelaskan secara psikologis, tetapi hanya dengan menggunakan fakta-sosial yang lain. Demikianlah, sebuah gagasan atau sentimen mungkin semua disuarakan oleh seorang tertentu, tetapi ia akan menjadi fakta sosial hanya melalui percampuran dengan gagasan-gagasan dan perasaan-perasaan orang lain.[11]
Menurut Durkheim, kebudayaan yang dipahami sebagai totalitas fakta-fakta sosial bersifat immanen dan transenden. Pada satu pihak kebudayaan bekerja dalam diri individu, membimbingnya untuk berperilaku menurut cara tertentu, pada pihak lain, kebudayaan ada diluar mereka dalam bentuk representatif kolektif terhadap mana mereka harus menyesuaikan diri. Kebudayaan, katanya adalah sebuah “kesadaran kolektif.....sebuah kesatuan psikis yang memiliki cara berpikir, merasa, dan bertindak berbeda dari cara-cara khusus individu-individu yang membentuknya.” Sebagaimana Hegel, Durkheim percaya bahwa apa yang terbaik pada seseorang datang kepadanya dari kebudayaannya dan hal itu sebenarnya, adalah kebudayaannya yang bekerja dalam dirinya. Demikianlah seorang memuaskan dirinya sendiri sampai batas ia menjadi terlibat dalam kebudayaannya dan menjadikan aspirasi budaya tersebut menjadi miliknya. Sebaliknya, semakin memusatkan diri seseorang terhadap dirinya sendiri, semakin lebih terbatas kepribadiannya dan semakin cenderung dia untuk bunuh diri.[12]
Di antara antropolog di negara yang berbahasa Inggris, pandangan superorganis telah dipertahankan oleh B. Malinowski dan A.L.Kroeber, yang menemukan istilah “superorganis”, tetapi yang kemudian bergerak lebih dekat pada posisi konseptualis. Sekarang yang menjadi eksponen utamanya adalah L.A.White.
Menurut pandangan superorganis, perilaku manusia ditentukan secara budaya. Anggaplah bahwa individu memungkinkan adanya kebudayaan (karena supaya ada, kebudayaan harus punya pendukung) namun itu tidak berarti bahwa individu menjadi sebab perilakunya sendiri seperti halnya pelaku sebuah sandiwara memutuskan apa yang harus mereka pertontonkan. Kebudayaan mengontrol kehidupan anggotanya sebagaimana halnya sebuah sandiwara mengontrol kata-kata dan perbuatan aktor. Individu, kata White adalah pada hakekatnya sebuah organisasi kekuatan-kekuatan kebudayaan dalam elemen-elemen yang menekan dari luar dan yang menemukan expresi nyatanya melalui individu. Dilihat demikian, individu tidak lain dari expressi sebuah tradisi supra biologi dalam bentuk fisik. Orang dapat menguasai aspek-aspek tertentu alam fisik hanya karena dia ada di luarnya, setelah memunculkan semacam kesatuan, yaitu kebudayaan yang tidak lagi seluruhnya tunduk kepada hukum alam. Kebudayaan karena itu tidak bisa dikontrol manusia, karena dia sendiri merupakan bagian dari kebudayaan.[13]
    2. Pandangan Kaum Konseptualis Tentang Kebudayaan
Umumnya antropolog Amerika menganut apa yang dinamakan pandangan konseptualis tentang kebudayaan. Mereka mengatakan bahwa kebudayaan adalah konsep atau konstruk seorang antropolog. Apa yang diamati orang tidak pernah kebudayaan seperti itu saja, tetapi banyak bentuk-bentuk perilaku yang dipelajari dan dipakai bersama dengan benda-benda hasil produksi mereka. Dari sini pikiran tentang kebudayaan diabstraksikan.[14]
Menurut kaum konseptualis, pada akhirnya semua kebudayaan mesti diterangkan secara sosial psikologis. Dalam kata-kata R.Linton, “Kebudayaan .....ada hanya dalam fikiran individu-individu yang membentuk suatu masyarakat. Kebudayaan mendapatkan semua kualitasnya dari kepribadian-kepribadian mereka dan interaksi dari kepribadian-kepribadian itu.” Bukan kebudayaan yang menyebabkan proses budaya terjadi, tetapi orang-orang, dipengaruhi oleh apa yang dikerjakan orang-orang dimasa lalu.[15]
Jika kaum konseptualis membedakan kebudayaan dan pola-polanya, hal itu semata-mata untuk maksud kajian dan bukan karena dia mempercayai bahwa kebudayaan suatu entitas yang riel. Namun demikian, para pengikut konseptualis tidak setuju tentang sejauh mana individu dapat mempengaruhi proses budaya. Beberapa orang seperti Herkovits menerangkan bahwa semua pola budaya akhirnya dalam bentuk perilaku individu; yang lain seperti Kroeber, seseorang pengikut yang berkeberatan terhadap posisi konseptualis, mempertahankan bahwa jauh lebih muda untuk menerangkan pola budaya dengan menggunakan pola budaya lain. Peristiwa-peristiwa budaya, kata Kroeber, dipolakan, tapi tidak dengan cara yang dapat dijajagi kesebab-sebab psikologis atau sosial tertentu.
   3. Pandangan golongan realis tentang kebudayaan
Sejumlah kecil antropolog, seperti David Bidney dan sejarahwan Philip Bagby, mempertahankan bahawa kebudayaan adalah sebuah konsep dan sebuah realitas. Bagby membantah bahwa kebudayaan adalah sebuah abstraksi dalam arti, bahwa tidak kebudayaan itu sendiri dan tidak pula pola-pola yang membentukya dapat diamati secara keseluruhan. Betapa jarang, umpamanya, anggota keseluruhan suatu suku hadir bersama-sama sehingga seorang antropolog bisa melihat sekilas pola budaya dari kebudayaan mereka. Tetapi mereka juga menunjukan bahwa, sungguhpun kita tidak pernah mengamati secara serentak semua gerakan dari planitdi sekitar matahari. Namun kita menyetujui adnya system solar. Mengapa tidak mungkin suatu kebudayaan sebagai realita?, kebudayaan yang demikian merupakan sebuah konstruksi dalam arti dalam dirinya sendiri kebudayaan tersebut bukan sebagai entitas yang bisa diamati. Tetapi dalam arti lain, kebudayaan yang demikian adalah nyata, karena walaupun kita tidak dapat mengamatinya dengan penuh secara serentak, ia tidak berada dalam hal ini dari entitas-entitas lainya, seperti system solar di atas, yang realitanya tidak kita pertanyakan.[16]
Bidney juga mendalilkan sebuah kebudayaan sesungguhnya sumber dari konsep kebudayaan diabstraksikan. Dia juga mengemukakan bahwa ada sebuah “meta cultural reality” yang absolute yang semua kebudayaan mendekati bangunan tersebut, tetapi tidak secara sempurna identik dengannya. Yang belakangan ini merupakan kebudayaan yang jika dapat direalisasikan akan menjawab secara lengkap kebutuhan manusia. Karena itu tidak ada kebudayaan yang secara absolute valid, tetapi masing-masingnya mencerminkan sebuah idea type.[17]
Para realis dan konseptualis setuju untuk menolak determinsme budaya yang penuh. Meskipun peristiwa-peristiwa budaya di masa lalu dan sekarang membatasi apa yang dapat dilakukan oleh anggota satu budaya pada waktu-waktu tertentu, namun demikian kata Kluckhohn, kebudayaan tidak mengiuti logika yang kaku dari dirinya sendiri. Ada waktu-waktu di mana masyarakat menentukan nasibnya sendiri seperti yang terjadi di Jerman 1933, Inggris tahun 1940 adalah contoh-contoh konkrit.
Juga sebab-sebab langsung dari perubahan social adalah ketidak sesuaian individu dengan budaya yang ada. Pada waktu ketidak puasan meluas beberapa individu yang kreatif dapat menciptakan sebuah pola budaya yang baru, yang dengan cepat akan disetujui dengan orang yang lain. Dengan demikian asal dari perubahan social adalah ketegangan dan ketidak puasan yang dirasakan oleh individu-individu tertentu. Bilamana ketidakamanan cukup kuat dan cukup meluas, pola baru akan merambah pada individu yang kreatif yang secara perlahan-lahan ditiru oleh semua anggota masyarakat.

C. Implikasi Teori Kebudayaan terhadap Pendidikan
    1. Pandangan Superorganis
Pandangan superorganis mempunyai implikasi terhadap pendidikan, yaitu: pendidikan merupakan sebuah proses melalui mana kebudayaan mengotrol orang dan membentuknya sesuai dengan tujuan kebudayaan. Menurut L.White: Pendidikan merupakan alat yang digunakan masyarakat melaksanakan kegiatannya sendiri dalam mengejar tujuannya. Demikianlah, selama masa damai, masyarakat dididik untuk damai, tapi bila bangsa sedang berperang, masyarakat mendidik anggotanya untuk perang. Bukan masyarakat yang mengontrol kebudayaan melalui pendidikan. Malah sebaliknya, pendidikan baik informal maupun formal adalah proses membawa tiap-tiap generasi baru ke bawah pengontrolan sistem budaya.
Untuk jelasnya, kebijakan pendidikan ditentukan oleh individu-individu, tetapi individu-individu hanya alat melalui mana kekuatan-kekuatan budaya mencapai tujuannya. Bila para pendidik memilih, kebudayaan memilih melalui mereka. Pandangan superorganis juga berimplikasi pada pengawasan pendidikan yang ketat dari pemerintah untuk menjamin bahwa guru-guru menanamkan dalam diri generasi muda gagasan-gagasan, sikap-sikap, dan keterampilan-keterampilan yang perlu bagi kelanjutan kebudayaan.
Ada beberapa analisis kritis terhadap pandangan ini, antara lain:
1.  Menurut F. Boas (1940) mengatakan bahwa kebudayaan tidak bergerak sendiri tetapi merupakan ciptaan individu-individu yang hidup bersama. Kebudayaan bukan sebuah entitas yang mistis.
2.  Pandangan superorganik boleh dikritik karena memisahkan kebudayaan dari manusia yang membangunnya.
3.  Orang juga bisa berkeberatan bahwa individu pada satu pihak, dan kebudayaan dilihat sebagai superorganik pada pihak lain, tidak bisa dibandingkan, dan karena itu, kemudian tidak bisa berinteraksi. Karena dengan cara bagaimanakah secara empiris dapat ditentukan bahwa realitas superorganik masuk ke dalam kehidupan seseorang dan membentuk prilakunya.
4.  Keberatan utama adalah bahwa walaupun kebudayaan menentukan banyak dari bentuk dan isi dari prilaku individu, kebudayaan tidak menentukan prilaku secara keseluruhan.
5. Tidak dapat disangsikan, bahwa kebudayaan adalah superorganis dalam arti bahwa kebudayaan berumur panjang dan sebagian besar bertanggung jawab dalam membentuk prilaku manusia. Tetapi kebudayaan bukan sebuah satuan yang independen, punya sebab sendiri, dan punya arah sendiri.[18] 
2. Pandangan konseptualis
Karena mereka memandang kebudayaan sebagai kualitas perilaku manusia dan bukan entitas yang berdiri sendiri, para pengikut konseptualis setuju dengan pandangan bahwa anak-anak harus mempelajari warisan budaya sesuai dengan perhatiannya. Anak-anak harus membangun gambaran sendiri tentang kebudayaan berdasarkan pengalamannya sendiri asal dia mengetes pengalaman belajar dengan pengalaman belajar orang lain dan asal saja dia mencapai suatu gambaran yang objektif tentang kebudayaan.
Walaupun begitu para konseptualis tidak menyokong pandangan golongan subjektivis bahwa anak-anak harus belajar semata-mata hanya kalau semangatnya mendorongnya. Kebudayaan yang seperti itu mungkin bukan merupakan realitas yang absolut, tetapi kebudayaan tersebut terdiri dari banyak pola perilaku terhadap mana individu-individu menyesuaikan diri, sama seperti orang lain. Karena itu dia mesti mempelajari pola-pola ini, bukan apa yang disukainya saja.
Pendidikan dapat menjadi alat dalam pembaruan sosial. Tidak disangsikan, tidak ada kaum konseptualis yang mengharapkan sekolah sebagai alat untuk perubahan sosial. Namun demikian, banyak kaum konseptualis akan setuju, bahwa walaupun sekolah mungkin tidak sanggup merubah kebudayaan, tetapi sekolah yang paling kurang dapat berbuat banyak untuk menciptakan opini yang kondusif bagi perubahan, sebuah iklim yang perlu jika individu-individu yang inovatif harus mendapat pengikut-pengikut dan dengan demikian mengerakkan pola baru dan permanen.
    3. Pandangan golongan realis
Pandangan budaya realis terhadap pendidikan lebih dekat dengan pandangan aliran-aliran pemikiran pendidikan yang terpercaya kepada pemyesuaian anak-anak terhadap realita objektif, baik alamiah maupun budaya, dengan menanamkan pengetahuan, nilai-nilai, dan ketrampilan-ketrampilan tertentu yang telah dipilih oleh kebudayaan. Pandangan golongan ini lebih berempati dibandingkan dengan kaum konseptualis, kaum realis menginginkan sistem pendidikan yang akan melatih individu untuk menimbang dan merubah kebudayaan mereka berdasarkan nilai-nilai dasar mereka. Banyak pendidik tradisional untuk mencapai tujuan ini dengan mendidik generasi muda tentang apa yang dianggap kebenaran dan nilai yang permanen, dengan mengunakan nilai-nilai yang ini generasi muda dapat mengatakan perubahan social apa yang harus mereka bantu, hindari atau gerakkan. Golongan tradisional lain menganjurkan pendidikan ilmiah yang pokok, yang berguna bagi orang-orang muda jika mereka harus memilih tujuan-tujuan yang diizinkan oleh kebudayaan yang ada, dan jika mereka akan menggunakan hukum-hukum kebudayaan yang diketahui mereka untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. perubahan, dengan kata lain, mesti bersifat evolusi, bukan revolusi. Perubahan tersebut mesti dibimbing oleh asumsi-asumsi dasar kebudayaan itu.[19]

III. PENUTUP
Dari uraian yang dikemukakan pada pembahasan, dapat dikemukakan beberapa poin sebagai kesimpulan, yaitu:
1.  Kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat. Dengan demikian, kebudayaan pada dasarnya adalah hasil karya, rasa, dan cita-cita manusia.
2.  Menurut pandangan superorganis, kebudayaan adalah realitas super dan ada di atas dan di luar pendukung individunya dan kebudayaan punya hukum-hukumnya sendiri. Konseptualis mengemukakan kebudayaan bukanlah suatu entitas sama sekali, tetapi sebuah konsep yang digunakan antropolog untuk menghimpun/meunifikasikan serangkaian fakta-fakta yang terpisah-pisah. Sedangkan para realis berpendapat bahwa kebudayaan adalah kedua-duanya, yaitu sebuah konsep dan sebuah entitas empiris. Kebudayaan adalah sebuah konsep sebab ia bangunan dasar dari ilmu antropologi. Kebudayaan merupakan entitas empiris sebab konsep ini menunjukkan cara sebenarnya fenomena-fenomena tertentu diorganisasikan.
3.  Implikasi pandangan superorganis terhadap pendidikan adalah bahwa pendidikan adalah sebuah proses dimana kebudayaan mengontrol orang dan membentuknya sesuai dengan tujuan kebudayaan, sebagi alat yang digunakan masyrakat untuk melaksanakan kegiatanya dalam mencapai tujuan. Pandangan superorganis juga berimplikasi pada pengawasan pendidikan yang ketat dari pemerintah untuk menjamin guru-guru menanamkan diri generasi muda tentang gagasan-gagasan, sikap-sikap, dan ketarampilan-keterampilan yang perlu bagi kelanjuatan kebudayaan. Jika perilaku masyarakat ditentukan oleh kebudayaan, maka kurikulum sekolah yang merupakan salah satu insrtumen dalam pendidikan harus dikembangkan atas kajian langsung dan kebudayaan sekarang dan masa depan.
 
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Teori-Teori Kebudayaan. di http://tentangkomputerkita.blogspot.com /2010/01/bab-2.html . diakses pada tanggal 10 Oktober 2015
Ardhana, Wayan. Dasar-dasar Kependidikan. FIP –IKIP Malang, 1986
Arif. Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya. http://staff.blog.ui.ac.id/ arif51/2008 /11/11/teori-kebudayaan-dan-ilmu-pengetahuan-budaya. diakses tanggal 10 Oktober 2015  
Dewey, Jhon. Budaya dan Kebebasan (terjemah). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1998. 78.
Erzuhedi. Kebudayaan dan Pendidikan. http://erzuhedi.wordpress.com/ diakses pada tanggal 10 Oktober 2015.  
Kaplan, David. The Theory Of Culture (terjemah). Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1993. 128.
Kneller, George F. Anthropologi Pendidikan Suatu Pengantar. Diterjemahkan oleh Imran Manan). Jakarta: P2LPTK Dirjen Dikti, 1989.
Nurhamzah, A. Landasan Pendidikan. Bandung: CV. Insan Mandiri, 2008.
Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993.
Suparlan, Parsudi. Pengetahuan Budaya, Ilmu-Ilmu Sosial Dan Pengkajian Masalah-Masalah Agama. Jakarta : Pusat Penelitian Dan Pengembangan Lektur Agama Badan Litbang Agama, 1982.
Syahbana, S. Takdir Ali. Antropologi Baru. Jakarta : Dian Rakyat, 1986.








[1]Wayan Ardhana (Pent.), Dasar-dasar Kependidikan (FIP –IKIP Malang, 1986), h. 18-21.
[2]A. Nurhamzah, Landasan Pendidikan (Bandung: CV. Insan Mandiri, 2008), h. 62.
[3]Parsudi Suparlan, Pengetahuan Budaya, Ilmu-Ilmu Sosial Dan Pengkajian Masalah-Masalah Agama (Jakarta : Pusat Penelitian Dan Pengembangan Lektur Agama Badan Litbang Agama, 1982), h. 27.
[4]Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993), h. 79.
[5]S. Takdir Ali Syahbana, Antropologi Baru (Jakarta : Dian Rakyat, 1986), h. 38. 
[6]S. Takdir Ali Syahbana, Antropologi Baru, h. 42.
[7]Parsudi Suparlan, Pengetahuan Budaya, Ilmu-Ilmu Sosial Dan Pengkajian Masalah-Masalah Agama, h. 31.
[8]Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, h. 82.
[9]George F. Kneller Anthropologi Pendidikan Suatu Pengantar (Diterjemahkan oleh Imran Manan) (Jakarta: P2LPTK Dirjen Dikti, 1989), h. 182.
[10]Anonim, Teori-Teori Kebudayaan. di http://tentangkomputerkita.blogspot.com/2010/01/bab-2.html . diakses pada tanggal 10 Oktober 2015
[11]Jhon Dewey, Budaya dan Kebebasan (terjemah) (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1998), h. 78.
[12]David Kaplan, The Theory Of Culture (terjemah) (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1993), h. 128.
[13]Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, h. 89
[14]Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, h. 90
[15]Anonim, Teori-Teori Kebudayaan. di http://tentangkomputerkita.blogspot.com/2010/01/bab-2.html . diakses pada tanggal 10 Oktober 2015  
[16]Arif. Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya. http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008 /11/11/teori-kebudayaan-dan-ilmu-pengetahuan-budaya. diakses tanggal 10 Oktober 2015  
[17]Erzuhedi. Kebudayaan dan Pendidikan. http://erzuhedi.wordpress.com/ diakses pada tanggal 10 Oktober 2015.  
[18]Anonim, Teori-Teori Kebudayaan. di http://tentangkomputerkita.blogspot.com/2010/01/bab-2.html . diakses pada tanggal 10 Oktober 2015  
[19]Erzuhedi. 2008. Kebudayaan dan Pendidikan. http://erzuhedi.wordpress.com/ diakses pada tanggal 10 Oktober 2015.   
Post a Comment