Saturday, December 19, 2015

TINJAUAN KRITIS DAN MENYELURUH TERHADAP FUNDAMENTALISME DAN RADIKALISME ISLAM MASA KINI

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anarkisme dan tindakan radikalisme berkaitan erat dengan fundamentalisme. Istilah ini dipakai untuk menamai tindakan-tindakan keras yang dilakukan oleh kalangan-kalangan di dalam Islam yang berfaham ideologi fundamentalis. Fundamentalis disinyalir banyak mendasari paham-paham berbagai kelompok di Indonesia.
Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Keberagaman organisasi dan kelompok-kelompok dalam Islam muncul dan berkembang menurut pemahaman penganutnya. Memasuki era Reformasi maka kebebasan berekspresi terbuka lebar dan ini mememunculkan berbagai gerakan dan kelompok-kelompok yang ingin mengekspresikan idealisme dan ideologi mereka termasuk gerakan Islam yang radikal. Hingga pada saat ini wacana yang berkembang adalah bahwa fundamentalisme dan radikalisme sering diidentikkan kepada kelompok Islam berkonotasi negatif. [1]

Klaim kebenaran pada agama dan keyakinan sendiri menjadi bagian dari perjalanan sejarah umat-umat dari agama-agama yang berbeda. Sejarah pemikiran Islam yang meliputi teologi, filsafat, dan mistisisme (tasawwuf) telah mencatat kelompok-kelompok teologi tertentu mengkafirkan kelompok teologi Islam lainnya yang berbeda. Tentunya pengkafiran itu menjadi amat serius kalau yang dituduh sampai dihukum mati. Aksi-aksi seperti ini merupakan indikasi klaim keagamaan yang berbau fundamental yang mengarah pada aksi radikal.[2]
Munculnya gerakan keagamaan yang bersifat radikal merupakan fenomena penting yang turut mewarnai citra Islam kontemporer di Indonesia. Hal ini memperkuat diskursus identifikasi label Islam fundamentalis dan Islam radikalis berkonotasi negatif di atas. Front Pembela Islam (FPI) misalnya setiap tahun terutama pada bulan Ramadhan di beberapa tahun terakhir ini bergerak untuk menutup tempat-tempat yang mereka anggap sebagai sarang maksiat. Tidak hanya dengan berdemonstrasi besar-besaran di tempat-tempat itu tapi juga dalam beberapa kesempatan melakukan cara-cara yang keras seperti menghancurkan tempat-tempat itu untuk menunjukkan sikap penolakan terhadar mereka. Contoh lain misalnya munculnya gerakan kelompok Laskar Jihad Ahlussunnah wal Jama’ah di Yogyakarta yang dengan cepat bisa mengumpulkan ribuan jamaah untuk siap berperang dalam konflik horisontal bernuansa agama di Ambon. Juga pengiriman mujahidin-mujahidin ke negara berpenduduk muslim yang sedang dilanda konflik dengan non-muslim.[3] Masalahnya adalah pengkonotasian fundamentalisme dan radikalisme menurut wacana umum kebanyakan mengarah pada umat Islam.
Makalah ini ingin menampilkan kritik terhadap aksi-aksi radikalisme dengan dasar fundamentalisme di Indonesia. Betulkah cap tersebut identik dengan kelompok Islam saja atau terjadi juga pada elemen lainnya. Untuk itu makalah ini menggagas tema : “Fundamentalisme Dan Radikalisme Islam; Sebuah Tinjauan Kritis Konflik-Konflik Sosial di Indonesia Masa Kini”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka kajian atas tema pokok yang telah disebutkan akan difokuskan pada beberapa sub masalah sebagai berikut:
1.    Apa pengertian fundamentalisme dan radikalisme Islam ?
2.    Bagaimana sejarah munculnya istilah fundamentalisme dan radikalisme dalam Islam ?
3.  Bagaimana kajian kritis terhadap fenomena fundamentalisme dan radikalisme Islam di Indonesia masa kini?

II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Fundamentalisme dan Radikalisme Islam
Secara etimologi, fundamentalisme berasal dari kata dasar fundamen. fun-da-ment : 1) Bokong/anus, 2) Ciri-ciri alami permukaan tanah yang tidak dapat diubah oleh manusia, 3) Azas/pondasi, dan 4) Dasar teori atau prinsip dasar. Berasal dari bahasa latin Fundamentum dari funder yang berarti meletakkan dasar.[4] Fun-da-men-tal : 1) Having to do with the fundation elemental, basic. 2) Having to do with the origin, generative primary. 3) Physics.[5] Fun-da-men-tal-ism adalah 1) Kepercayaan didalam Injil tentang sebuah catatan fakta sejarah dan ramalan kontropersial termasuk doktrin genesis (kejadian), kelahiran maria perawan suci, detik armagedon. 2) Sebuah Pergerakan penganut protestan di abab ke-19 untuk kembali kepada dasar kepercayaan ini dan kesetiaan terhadap agama. Bentuk kata bendanya adalah fundamentalist, sementara bentuk kata sifatnya adalah fundamentalistic.[6]
Fundamentalisme juga bermakna : madzhab atau kelompok yang menyatakan terikat pada Injil dan semua isinya.[7] Fundamentalisme dalam bahasa arab diartikan : Usuliyyah, mazhab al-Usuliyyah[8], juga diartikan pada term : mutazammit, mutasyaddid (orang yang keras dan ketat)[9], juga diartikan dengan : Israfiy (orang yang berlebihan)[10].
Kaum fundamentalis yang berbahasa Arab menggunakan beberapa istilah untuk menyebut diri mereka. Antara lain, “Usuliyyah al-Islamiyah” (dasar-dasar Islam), “Sahwah al-Islamiyah” (kebangkitan Islam). Tetapi, golongan-golongan yang kurang simpati, malah menyebutnya dengan istilah “muta’as}s}ibiy” (orang-orang fanatik) atau “mutaharrifin” (orang-orang radikal). Pemerintah secara khusus menggunakan istilah “ekstrim kanan” untuk menyebut kaum fundamentalis. Kelompok ini dituduh ingin mengganti “Negara Pancasila” dengan “Negara Islam”. Di Malasyia, istilah “puak pelampau” (orang-orang ekstrim) atau “puak pengganas” (orang-orang kejam) telah lazim digunakan oleh media massa untuk mengganti istilah kaum fundamentalis.[11]
Sementara kata radikalisme dalam bahasa arab diartikan dengan : mutaharrif (hal yang melebihi batas, ekstrimisme)[12]. Namun pada kamus lain dinyatakan bahwa radikalisme dalam bahasa Arab adalah kata jadian yaitu radikaliyyah.[13]
Fundamentalisme menurut istilah adalah penegasan aktivis agama tertentu yang mendefenisikan agama secara mutlak dan harfiah. Artinya usaha memurnikan atau mereformasi kepercayaan dan praktik para pemeluk menurut dasar-dasar agama yang didepenisikan sendiri. [14]
Penulis lebih sependapat bahwa fundamentalisme dan radikalisme merupakan kata jadian yang akar katanya tidak terdapat dalam bahasa kaum Muslim di berbagai negara yang berbahasa Arab. Fundamentalisme tidak selalu identik dengan Islam, tapi bisa didefenisikan pada setiap usaha memurnikan suatu keadaan kepada aturan yang semestinya dan membela dengan ketat aturan tersebut. Lebih lanjut pengertian fundamentalisme akan dibahas lebih jauh pada bahasan-bahasan berikutnya, dengan asumsi mendapatkan pengertian yang lebih mencakup.

B. Sejarah Fundamentalisme dan Radikalisme dalam Islam
Fundamentalisme bukanlah istilah yang berasal dari perbendaharaan kata dalam bahasa masyarakat-masyarakat muslim. Istilah ini dimunculkan oleh kalangan akademisi Barat dalam konteks sejarah keagamaan dalam masyarakat mereka sendiri. Kemunculannya sebenarnya merupakan reaksi terhadap modernisme[15]. Fundamentalisme diartikan sebagai aliran yang berpegang teguh pada “fundamen” agama Kristen melalui penafsiran kitab suci agama itu secara rigid dan literalis.[16]
Fundamentalisme sebagai reaksi terhadap modernisme muncul pada abad ke-XIX. Saat itu modernisme muncul sangat berapi-api di Amerika Serikat, walaupun banyak mendapat tantangan dari berbagai pihak. Antara 1909 dan 1915 sekelompok teolog Amerika menulis dan mempublikasikan seri buku kecil yang berjudul “The Fundamentals: A Testimony to The Truth”, yang didalamnya mereka mendefenisikan apa yang mereka yakini sebagai doktrin dasar Kristen. Inti doktrin ini adalah kebenaran harfiah Bibel dalam setiap pernyataan dan penegasannya. Selama perdebatan 1920-an, para pendukung sikap ini disebut kaum “fundamentalisme”.[17]
Pada 1970-an, tatkala sarjana dan publik umum menjadi semakin sadar akan kebangkitan agama di banyak masyarakat, istilah ini mulai diterapkan pada gerakan-gerakan kebangkitan agama dalam beragam konteks. Orang mulai berbicara tentang fundamentalisme Hindu, Yahudi dan Islam. Hingga pada 1990-an frase “Fundamentalisme Muslim” atau Fundamentalisme Islam sudah banyak digunakan dalam literatur ilmiah maupun jurnalistik.
Istilah “modernisme” dan “fundamentalisme” kemudian digunakan oleh sarjana-sarjana orientalis dan pakar ilmu sosial kemanusiaan barat untuk membedakan dua kecendrungan pemikiran yang hampir sama dengan apa yang dijumpai dalam agama Kristen itu, ke dalam masyarakat yang memeluk agama lain, termasuk dalam masyarakat-masyarakat muslim. Sungguhpun demikian, dalam perkembangan ilmu sosial dan kemanusiaan masa kini, baik ilmuan Barat maupun ilmuan Muslim telah menggunakan istilah-istilah lain dan beragam dalam mengkategorikan kedua aliran tersebut, seperti reformism, reawakening, renaissance, dan renewal untuk modernisme. Sedangkan untuk fundamentalisme sering diganti dengan istilah revivalism, militancy, reassertion, resurgensi, activism dan reconstructionism.[18]
Penerapan istilah “fundamentalisme” pada kaum Muslim, menimbulkan kontroversi. Perdebatan banyak dimulai dari implikasi istilah ini yang memburuk, bahkan tatkala digunakan untuk menggambarkan orang Kristen. Dikatakan oleh sebagian orang bahwa istilah ini mempunyai konotasi kebodohan dan keterbelakangan. Dengan demikian, ini menghina gerakan-gerakan kebangkitan Islam yang absah. Kontroversi lain berpendapat bahwa tidak ada istilah yang benar-benar serumpun dalam bahasa arab atau bahasa-bahasa utama kaum Muslim lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada fenomena serumpun dalam masyarakat muslim yang bisa dijadikan akar kata untuk term istilah ini. Kalaupun ada sebagaimana dijelaskan pada kajian bahasa di atas lebih kepada pemaksaan kata yang dianggap mewakili. Sebagaimana juga ditemukan bahwa tidak sepakat kamus-kamus rujukan dalam mengartikan fundamentalisme dan radikalisme ke dalam bahasa Arab.
Untuk memahami asal-usul dan sifat-sifat gerakan modern dalam Islam, ada dua organisasi yang dominan dalam kancah politik dunia Islam abad ke-20. Aktivisme Islam kontemporer berhutang budi pada ideologi dan contoh organisatoris yang ditemukan dalam tubuh Ikhwan al-Muslimin dan Jamaah al-Islamiyah. Pendiri dan ideolog keduanya adalah H{asan al-Banna dan Sayyid Qut}ub, keduanya dari Ikhwan al-Muslimin, dan Mawlana Abu al-A’la al-Maududiy dari Jama’ah al-Islamiyah, telah memperlihatkan pengaruh mereka yang tak terhingga besarnya dalam perkembangan organisasi modern Islam di segenap penjuru dunia Islam. Jelas mereka ini adalah arsitek-arsitek revivalisme Islam yang gagasan serta metodenya dipelajari dan diterapkan mulai dari Sudan hingga Indonesia. [19]
H{asan al-Banna (1906-1949) adalah seorang guru dan mantan pengikut tokoh modernisme Islam, Rasyid Rid}a. Ia mendirikan Ikhwan al-Muslimin di Mesir pada 1928. Sementara Mawlana Abu al-A’la al-Maududiy (1903-1979), seorang jurnalis, mengorganisasi Jama’ah al-Islamiyah di India pada tahun 1941. Kedua gerakan ini muncul dan berkembang pada awal tahun 30-an dan 40-an yakni pada saat krisis imprialisme Barat melanda masyarakat saat itu. Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap imprealisme barat di mana mereka memandang tidak hanya sebagai ancaman politis dan ekonomis tapi juga ancaman terhadap budaya dan ideologi Islam. Kedua organisasi tersebut merekrut pengikutnya dari mesjid ke mesjid, sekolah dan universitas : mahasiswa, pekerja, pedagang dan kaum profesional muda. Umumnya mereka dari kelas urban, kelas menengah, dan menengah ke bawah. Kenapa kalangan ini karena di kalangan inilah mereka dianggap berhasil. Tujuan mereka adalah membentuk satu generasi baru terdidik secara modern tapi tetap berorientasi Islam, yang dipersiapkan untuk menempati setiap posisi dalam masyarakat.[20]
Dalam salah satu karyanya Sayyid Qutb mengatakan  bahwa ia melukiskan Amerika sebagai makhluk yang pembawaannya kejam dan hanya punya sedikit rasa hormat pada hidup manusia... Gereja-gereja Amerika bukanlah tempat untuk beribadat, paling tidak jika dibandingkan dengan pusat-pusat hiburan dan taman-taman rekreasi untuk tempat orang berhubungan seks. Amerika, menurut Quthb, sangat primitif dalam kehidupan seksual mereka, seperti dilukiskan dalam kata-kata seorang mahasiswi yang mengatakan kepadanya bahwa isu seks adalah semata-mata menyangkut soal biologis, bukan etis.[21]
Penyebaran Islam di Indonesia bisa diklasifikasi pada beberapa pendekatan yaitu lewat perdagangan, dengan cara radikal, dan melalui tarekat dan tasawwuf. Dalam sejarah Tutur[22] dijelaskan bahwa penyebaran Islam dengan pendekatan politik dan radikal-fundamentalis pernah dilakukan oleh seorang ulama China yang bernama syaikh Abdul Qadir al-Siniy yang memiliki nama asli Tan Eng Wat dengan melakukan penyerbuan secara fisik terhadap Majapahit dan menggunakan cara-cara kekerasan. Dia dibantu oleh seorang ulama Aljazair bernama Syaikh ‘Usman yang terkenal dengan nama Sunan Ngudung. Melalui pendekatan sufi juga disebutkan merupakan cara lain dari penyebaran Islam di Indonesia. Disebutkan bahwa gerakan tarekat muncul pada abad III H/IX M. dan abad IV H/X M.[23]
Pada awal abad ke-20 merupakan awal berkembangnya ideologi-fundamentalis di mana ditandai dengan adanya polarisasi Islam Negara (Islam Kraton) yang dipimpin oleh punggawa kerajaan (penghulu atau sultan) dan Islam Rakyat yang berkembang di luar kesultanan. Pola yang berbeda ini menimbulkan konflik antara kiai rakyat dengan kiai kraton. Hal ini dipengaruhi oleh seiring dengan terjadinya reformasi pemikiran Islam di Timur Tengah akhir abad ke XIX M. Benturan keduanya kemudian pupus dan melebur menjadi Islam kultural. Pengaruh ini menimbulkan lahirnya berbagai gerakan dan organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah (1912), Persis (1923) dan Nahdhatul Ulama.[24] Kemudian gerakan Islam radikal-fundamentalis merupakan reaksi terhadap permasalahan sosial dan penjajahan saat itu.
Secara periodik fundamentalis Islam bisa dibedakan menjadi 2 macam yakni :
1.  Fundamentalisme Tradisional, kelompok ini berpendapat bahwa al-Qur’an dan sunnah merupakan sumber ajaran Islam pokok dan mengikat untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari; bahwa produk pemikiran keagamaan klasik dan pertengahan tidak mengikat; bahwa dalam beberapa hal produk pemikiran ini mengakibatkan munculnya kemalasan berpikir dalam Islam; bahwa selama masa kekaisaran Islam, banyak penguasa muslim mengakomodasi terlalu banyak tradisi lokal yang non-Islami, bahwa beberapa tarekat sufi terlibat dalam praktek-praktek ajaran non-Islami; bahwa mengkultuskan diri seseorang dinilai sebagai politeisme; dan bahwa setiap muslim harus mempelajari dan mengamalkan al-Qur’an dan Sunnah serta menghilangkan taqlid buta. Gerakan ini berkembang pada gerakan Islam klasik dan pertengahan seperti gerakan ahlu al-Hadits yang dipelopori oleh Ah}mad ibn H{anbal yang menentang Mu’tazilah, praktek penyimpangan sufi dan Syi’ah. Lebih jauh ke belakang ada gerakan fundamentalisme Islam pra-modern (klasik) yaitu gerakan Khawarij. Gerakan ini banyak mempengaruhi gerakan-gerakan fundamentalisme sepanjang sejarah. Gerakan ini juga terkenal dengan prinsip-prinsip radikal dan ekstrim, bagi mereka tidak ada hukum kecuali hukum Allah.[25]
2.   Fundamentalisme Modern, merupakan sebuah jawaban terhadap tantangan modernisasi. Upaya penting yang dilakukan oleh gerakan ini adalah merumuskan sebuah alternatif Islam menghadapi ideologi sekular modern seperti liberalisme, marxisme, dan nasionalisme. Kebanyakan pemimpin gerakan ini, pada awal abad ke-20, bukanlah alumni lembaga pendidikan Islam yang terkenal. Ini terbukti bahwa al-Banna dan al-Maududiy yang kekayaan ilmunya diperoleh melalui otodidak. Namun pada akhir abad ke-20, banyak tokoh gerakan ini merupakan lulusan dari beberapa perguruan tinggi Islam terkenal seperti Nahbani dan Turabi. Di kalangan Syi’ah ditemukan juga tokoh yang memiliki latar belakang keilmuan dari lembaga pendidikan Islam tradisional terkenal seperti Imam Khomeini.[26]
Ciri-ciri utama fundamentalisme adalah : pertama, ketaatan mutlak kepada Tuhan, kedua, keyakinan bahwa Tuhan memang telah mewahyukan kehendak-Nya secara universal kepada manusia. Ketiga, literalis, keempat, cenderung bersikap keras dan enggan untuk berkompromi dengan kelompok-kelompok yang berbeda, kelima, menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam menerapkan doktrin secara kaffah. Keenam, mementingkan simbol-simbol. Ketujuh, bercita-cita menegakkan khilafah.[27]
Adapun kriteria dari radikalisme adalah:
1. Kelompok yang mempunyai keyakinan ideologis tinggi dan fanatik yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung.
2.  Kegiatannya mereka sering menggunakan aksi-aksi kekerasan, bahkan tidak menutup kemugkinan kasar terhadap kegiatan kelompok yang dinilai bertentangan dengan keyakinan mereka.
3.  Secara sosio-kultural dan sosio-religius, kelompok radikal mempunyai ikatan kelompok yang kuat dan menampilkan ciri-ciri penampilan diri dan ritual yang khas.
4.  Kelompok “Islam Radikal”sering kali bergerak secara bergerilya, walaupun banyak juga yang bergerak secara terang-terangan.
Penamaan radikalisme Islam didasarkan pada dua alasan :
1.  Istilah ini merupakan sebuah fenomena ideologis yang pendekatannya harus dilakukan dengan memusatkan pada makna ideologis, dan mengesampingkan akibat serta konteks sosial.
2.    Istilah ini didefenisikan sebagai orientasi kelompok ekstrim dari kebangkitan Islam modern (revival, resurgence atau reassertion).[28]
Motivasi gerakan radikal adalah untuk mengusir penjajah, mengatasi kemerosotan moral dan pengaruh ide bangsa asing. Ciri-ciri gerakan ini adalah: 1) Fanatik, 2) Tidak toleran, 3) Klaim bahwa mereka kelompok paling benar di mata tuhan, dan 4) Memandang dirinya bukan sebagai bagian dari kelompok muslim kebanyakan tetapi sebagai penjaga kebenaran Islam.
Bagi kaum modernis, syari’ah harus diaplikasikan dalam semua aspek kehidupan secara fleksibel dan mereka ini cenderung mengiterpretasikan ajaran Islam tertentu dengan menggunakan berbagai pendekatan, termasuk pendekatan dari barat. Diantara mereka adalah sayyid ahmad khan, khairuddin Tunisi, Rifa’at al-Tahtawi, Muhammad Abduh, Fazlur Rahman dan Muhammad Arkoun.[29]
Pada era 1990-an, ada perubahan format dan strategi yang mendasar dalam gerakan Islam radikal di Indonesia. Jika pada tahun-tahun sebelumnya gerakan ini berjalan secara laten dan selalu dihadang oleh Negara sehingga menimbulkan politik ketakutan bagi umat Islam maka pada era 1990-an gerakan Islam radikal justru muncul secara terang-terangan, seperti terlihat dalam gerakan Laskar Jihad, Jamaah Islamiah Ahlussunnah wal Jamaah, Ikhwanul Muslimin, Jamaah Mujahidin, Nurul Fikr, Front Pembela Islam dan Hizbut Tahrir. Gerakan ini tidak hanya menampilkan simbol-simbol Islam, tetapi mereka juga telah berani menggunakan asa Islam sebagai dasar organisasi. Gerakan mereka juga tidak lagi sekedar bersifat retoris, tetapi konkrit, seperti latihan militer dan melakukan kongres untuk memperjuangkan syari’at Islam sebagai dasar Negara. Di beberapa tempat bahkan mereka berani melakukan kekerasan dan tekanan (pressure) atas warga masyarakat lain, seperti melakukan sweeping, menghancurkan tempat-tempat perjudian, serta melakukan pengrusakan dan penyerangan terhadap kelompok lain yang dianggap merusak citra Islam.[30]
Ada beberapa alasan yang menjadi penyebab kran ini terbuka : pertama, sudah matangnnya ideologi dan sitem pemerintahan dan stabilnya kondisi negara. Di akhir dekade 1980-an, seluruh tatanan yang dibuat oleh rezim Orde Baru berjalan dan berfungsi secara maksimal. Sekecil apapun gerakan masyarakat akan terdeteksi oleh aparat negara sehingga negara punya kepercayaan diri yang tinggi untuk menangani setiap gejolak yang akan timbul. Untuk itu negara membuka kran bagi masyarakat untuk berkembang dan ini dimulai dengan gerakan keagamaan. Hal ini juga didukung oleh banyaknya aktivis agama menengah ke atas yang bergerak dalam gerakan keagamaan ini sehingga negara merasa tidak khawatir karena dianggap tidak membahayakan justru memperkuat ideologi pemerintahan.
Kedua, secara politis, dukungan dari militer dan konglomerat terhadap soeharto sudah mulai berkurang sehingga pemerintah butuh dukungan dari elemen lain dalam menopang kekuasaan. Dalam posisi ini, pilihan yang paling rasional dan realistis adalah kekuatan umat Islam. Untuk itu soeharto menarik kembali para aktivis Islam politik yang dulu dia singkirkan untuk kembali ke pusat kekuasaan. Momentum ini terjadi pada 1989-1990 ditandai dengan berdirinya ICMI. Sejak saat itu terjadi gerakan islamisasi besar-besaran dalam tubuh birokrasi Indonesia.
Kebangkitan Islam radikal ini semakin leluasa eksistensinya seiring dengan jatuhnya rezim Soeharto pada 21 Mei 1998 yang disusul dengan hadirnya era reformasi. Keadaan yang sangat kacau diakibatkan dengan krisis moneter saat itu semakin memicu terbentuknya aksi-aksi radikalisme termasuk fundamentalis Islam didalamnya. Berbagai elemen masyarakat menawarkan ideologi masing-masing sebagai solusi terhadap krisis saat itu, apalagi kontrol negara sudah sangat lemah saat itu.
Berbicara tentang radikalisme di Indonesia maka perlu ditinjau konflik-konflik yang didalamnya ikut berperan kelompok-kelompok Islam fundamental radikal :
1. Darul Islam Atau Negara Islam Indonesia (NII)
Di Indonesia, gerakan Islam garis keras dapat ditemukan jauh sebelum peristiwa-peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini. Salah satu gerakan Islam garis keras yang muncul pada masa Indonesia modern adalah gerakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Gerakan ini besar di 3 wilayah yaitu Jawa Barat, Aceh dan Makassar. Awalnya hanya di Jawa Barat, baru kemudian bergabung gerilyawan Aceh dan Makassar walaupun dengan alasan yang berbeda-beda. Gerakan mereka disatukan oleh keinginan untuk menjadikan syariah sebagai dasar Negara Indonesia. Gerakan ini muncul di Jawa Tengah ketika gerilyawan di bawah pimpinan Kartoswiryo menolak perjanjian Renville dengan pemerintah Belanda. Kemudian mereka mengembangkan pengaruh ke Jawa Barat sampai menguasai Ciamis, Garut dan Tasikmalaya yang kemudian dijadikan sebagai basis perlawanan. Kartoswiryo dan kelompoknya menjadikan syariah sebagai dasar hokum bagi kelompoknya dan menamakan dirinya sebagai Negara Islam Indonesia (NII). Gerakan ini berhenti ketika semua pimpinan tertangkap atau terbunuh pada awal 1960-an.[31]
Dewasa ini, NII masih menyisakan pengikut-pengikuat yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Gerakan mereka masih aktif untuk kalangan intern dan lebih didominasi dengan warna dakwah. Mereka menganggap kafir terhadap orang-orang yang bukan anggota mereka. Kafir adalah najis dan itu pulalah yang menjadi motivasi terbesar mereka mengepel lantai mesjid yang dipakai shalat oleh non-NII.
Ada beberapa pemahaman yang berbeda dari kelompok ini dari umat Islam pada umumnya, seperti : 1. Hukum lima dalam Islam (wajib, sunat, mubah, makruh dan haram) menjadi tiga yaitu wajib, haram dan sunat. 2. Shalat tidak wajib karenanya belum perlu dilaksanakan sebelum syariat tegak dan sekarang ini dianggap masih periode mekah. 3. Syahadat digambarkan seperti pohon di mana akar adalah negara, batang adalah hukum Allah, dan buah adalah umat sebagai refleksi bahwa negara Islam harus tegak. 4. Puasa adalah manahan diri untuk membelanjakan uang dan diserahkan langsung kepada organisasi. 5. Zakat wajib bagi setiap anggota dan harus dibayar bahkan tanpa memperhatikan cara mendapatkannya. 6. Haji adalah menjalankan program organisasi bukan perjalanan ke Mekah. 7. Iman kepada malaikat diartikan jangan takut mencari dana walaupun keadaan tidak aman. 8. Iman kepada rasul diartikan menyampaikan dakwah misi NII.[32]
Semua pemahaman di atas mengarah pada orientasi perjuangan organisasi. Nampak jelas dalam hal ini ideologi fundamentalisme yang sangat kental mewarnai pemahaman ini.
2. Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)
Dideklarasikan pada bulan Agustus 2000 di Yogyakarta dihadiri oleh puluhan ribu umat Islam dalam dan luar negeri dan terpilih sebagai Amir saat itu Abu Bakar Ba’asyir. Ada kaitan antara Abu Bakar Ba’asyir dengan gerakan Komando Jihad yang muncul pada awal 70-an atau 80-an. Ia bersama Abdullah Sungkar mendirikan pesantren Ngruki sebagai central perjuangan Komando Jihad saat itu.
Agenda utama MMI adalah menegakkan syariat Islam untuk kemudian mendirikan negara Islam. MMI menganggap dirinya sebagai kelanjutan dari DI/TII. Tidak seperti FPI dan Laskar Jihad yang berjuang secara keras, MMI memilih jalur sistem perjuangan yang lebih politis. Mereka melakukan advokasi penerapan syariat Islam melalui tulisan-tulisan, lobi-lobi politik kepada partai-partai Islam, seminar-seminar di kampus maupun mesjid-mesjid. MMI menggagas 3 formulasi dalam rancangan mendirikan negara Islam di Indonesia, 1. Kebersamaan dalam misi (tansiq al-fardiy), 2. Kebersamaan dalam program penegakan syariat (tansiq al-‘amaliy), 3. Kebersamaan dalam satu institusi penegakan syariat Islam (tansiq al-niz}amiy).[33]
Belakangan MMI ramai dibicarakan ketika tokohnya Abu bakar Ba’asyir ditangkap oleh pihak keamanan karena dituduh bersekongkol akan membunuh presiden Megawati maupun pengeboman di sejumlah tempat umum seperti tempat ibadah, pusat perbelanjaan, maupun hotel. MMI juga dianggap sebagai perpanjangan dari Jama’ah Islamiyah Asia Tenggara yang ingin menghancurkan fasilitas-fasilitas milik Barat dan Amerika di Asia Tenggara.
Fundamentalisme MMI telah melahirkan kader di luar kendali. Karena pemahamannya kebablasan dan disalahartikan oleh beberapa pengikutnya sehingga di luar kontrol mereka menjadi teroris.
  3. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)
Didirikan oleh sheikh Taqiyuddin al-Nabhaniy (1909-1979) di Quds, Palestina. Organisasi ini bergerak sebagai partai politik dan bergerak secara internasional. Sejak tahun 2003, Hizbut Tahrir (HT) dipimpin oleh sheikh A. Abu Rostah dan beliaulah orang nomor satu di HT sekarang ini.[34]
HT resmi melakukan aktivitasnya di Indonesia sejak diselenggarakannya konferensi internasional di Istora Senayan. Para tokoh HTI banyak bertempat tinggal di Bogor dan banyak mendapat sambutan dari civitas akademika IPB, hingga salah satu pemimpinnya Muhammad al-Khattath adalah alumni IPB. Kelompok ini menganut paham integrasi antara agama dan Negara. Oleh karena itu, HTI mengusung ide perlunya mendirikan kembali khilafah islamiyyah. Mereka berpendapat bahwa dengan sistem kekhalifahan maka dapat dihindari yang namanya hegemoni dan dominasi satu negara terhadap negara lain baik dalam bentuk kolonialisme fisik maupun non-fisik. Aspirasi ini begitu kuat karena faktor kontekstual di mana sering satu negara begitu otoriter mengatur negara lain dengan segala justifikasinya. Kemudian kehidupan umat Islam saat ini yang sangat tidak Islami sebagai akibat sekulerisasi.
HTI memiliki misi untuk menjaga kontinuitas ajaran Islam, yaitu: 1) Melanjutkan kehidupan islamiy, 2) Membangun jaringan yang luas, dan 3) Pendidikan luas kepada masyarakat supaya dapat berfikir dan bertindak islami. Kelompok ini tidak mengklaim dirinya yang paling benar, namun mereka memiliki prinsip dalam menghadapi kelompok yang berbeda yaitu dengan sikap saling nasihat-menasihati (taushiyah), mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Mereka juga berpendapat kalau perbedaan yang ada tidak perlu membawa perpecahan. HTI banyak beraksi dalam perang pemikiran sebagaimana sikap yang mereka usung yaitu tausiah. Seperti dengan Jaringan Islam Liberal (JIL), mereka tidak mengkafirkan kelompok ini, namun dianggap sudah tercemar oleh gaya pemikiran sekular dan liberal dan tidak membawa suara Islam. Jadi dalam anggapan HTI, JIL ini tidak murtad atau keluar dari Islam, status hukum mereka tetap Islam hanya pemikirannya menyimpang.
   4. Front Pembela Islam (FPI)
FPI didirikan tepat pada perayaan kemerdekaan RI ke-53, 17-8-1998. Bertempat di Pesantren al-Umm Ciputat Jakarta Selatan pimpinan KH. Misbahul Anam. Lahir bersamaan dengan naiknya Habibie menjadi presiden pasca pengunduran Soeharto. Karena Habibie dianggap bagian dari Orde Baru, maka mahasiswa berdemonstrasi menuntut penggantian kepeminpinan yang baru, terutama saat Sidang Istimewa MPR RI pertanggung jawaban laporan presiden. FPI lahir di Jakarta sebagai gerakan penekanan yang bertujuan memberantas kemaksiatan seperti, pelacuran, rumah hiburan, pornoaksi dan pornigrapi. Dipimpin oleh Habib Rizieq Syihab, FPI menjadi perhatian publik karena tak segan-segan melakukan kekerasan dalam aksi-aksinya. Meskipun FPI menolak Megawati atas alasan gender, namun FPI tidak larut dalam isu-isu politik seperti itu. Setelah Megawati terpilih 2001, FPI justru sibuk dengan penggalangan aksi-aksi penertiban kafe-kafe dan lokalisasi maksiat. Pada wilayah penerapan syariat Islam, FPI turut serta didalamnya, namun memilih isu dan penetapan skala prioritas tersendiri yang berbeda dengan konsern kelompok lainnya seperti Laskar Jihad, MMI dan lain-lain.[35]
Tujuan perjuangan FPI sebagai organisasi Islam yang berasaskan akidah ahlus sunnah wal jamaah (berorientasi manhaj salafi) adalah untuk amar ma’ruf nahi munkar. Penyebutan “pembela Islam” disini dimaksudkan bahwa yang dibela bukanlah umat Islamnya saja, tapi lebih kepada nilai-nilai keislaman. Motto perjuangan FPI adalah “hidup Mulia atau Mati Syahid”. Bagi FPI, NKRI sudah final, yang dipersoalkan adalah hukum positif bagi umat Islam harus disesuaikan dengan syariat islam berdasarkan al-Qur’an dan Hadis.
Pada dekade terakhir ini yang paling dominan turun ke jalan dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah FPI. Gesekan-gesekan dengan ahmadiah, pornograpi dan porno aksi, pemaham menyimpang (Lia Eden, Mushaddiq), artis-artis yang dianggap melecehkan agama selalu mendapat reaksi keras dari kelompok ini. Setelah aparat keamanan Indonesia bertindak tegas atas aktivitas FPI yang merusak bar, diskotik terutama di bulan ramadhan, para elit pimpinan FPI membekukan sementara FPI, terutama setelah beberapa pimpinannya ditangkap termasuk Habib Rizieq karena tuduhan pengrusakan.

C. Kajian Kritis terhadap Fenomena Fundamentalisme dan Radikalisme Islam di Indonesia Masa Kini
Di Parung Bogor, sekelompok orang dengan pakaian serba putih, berlengan panjang, dan bersorban merusak dan membakar warung remang-remang yang dianggap sebagai tempat mesum dan miras. Usaha kelompok FPI ini sebagai bentuk komitmen kelompok ini untuk menegakkan Islam di Indonesia. Gerakan serupa juga terlihat di tempat-tempat terbuka seperti alun-alun, taman-taman yang sering dikunjungi oleh muda-mudi. Mereka mendatangi mereka dan mendakwahinya dengan nasihat-nasihat agama baru kemudian menyuruh mereka pulang ke rumah masing-masing apalagi mereka yang terbukti bukan suami istri. Pada sidang tahunan 2002 lalu, kelompok ini, dengan didukung oleh pendukung mereka yang militan melakukan demonstrasi di depan gedung DPR dan MPR menuntut supaya Piagam Jakarta yang memuat “kewajiban pelaksanaan syariat Islam bagi pemeluknya” untuk dimasukkan dalam Undang-Uandang Dasar.
Di Surakarta, kelompok yang menamakan dirinya Front Pembela Islam Surakarta (FPIS) melakukan sweeping terhadap warga asing, terutama warga Amerika sebagai reaksi terhadap keputusan Amerika Serikat untuk menyerang Afghanistan yang dianggap melindungi kelompok al-Qaeda. Al-Qaeda dianggap bertanggung jawab atas pengeboman WTC. Gerakan ini dimaksudkan untuk menarik dukungan dari kalangan umat Islam Indonesia secara umum.
Pengesahan Undang-undang pornoaksi dan pornografi juga memicu para seniman untuk turun ke jalan memperjuangkan dibatalkannya pengesahan UU tersebut. Beberapa minggu yang lalu para wartawan infotaiment melakukan presure terhadap Luna Maya atas tulisannya yang menghina para wartawan di situs blognya. Pada peringatan anti Korupsi di awal bulan Desember 2009 juga mencatat para mahasiswa yang melakukan demonstrasi yang berujung pada pengerusakan fasilitas pemerintah dan asing.
Semua aksi-aksi di atas berbau fundamentalisme dan radikalisme. Jika aksi itu dilakukan dengan menggunakan kekerasan maka dia dikategorikan radikalisme. Jika tidak menggunakan kekerasan maka disebut fundamentalisme. Jika aksi tersebut tidak bisa dimusyawarahkan dan dikompromikan dan terus memperjuangkannya maka disebut fundamentalisme radikal.
Opini umum yang berkembang bahwa fundamentalisme identik dengan Islam maka penulis tidak setuju dengan opini itu, sebab fundamentalisme tidak hanya terjadi dalam Islam juga agama lain bahkan sejarahnya juga berasal dari kristen. Karena fundamentalisme telah bergeser nilai seiring dengan propaganda dan beberapa kepentingan menuju pada konotasi fundamentalisme negatif. Namun jika fundamentalisme dikonotasikan secara positif yaitu menjalankan dasar-dasar agama atau aturan dengan ketat maka Islam memang menganut fundamentalisme terhadap agamanya sendiri.
Adapun munculnya kelompok-kelompok Islam yang dikonotasikan menjadi gerakan fundamentalis radikalis dengan doktrin terhadap anggota dengan dasar Islam baik itu mengutip ayat al-Qur’an atau Hadis, maka ini mengandung multi interpretasi yang beragam. Islam setuju dengan fundamentalisme dan menolak radikalisme. Radikalisme dalam artian menggunakan otoritas agama untuk kepentingan kelompok. Jika mengikuti dogma-dogma agama sebagai kekuatan dalam memaksa penganutnya sah-sah saja. Karena beberapa dogma agama juga memakai cara radikal dalam tanda petik.
Fundamentalisme juga dianut oleh kelompok gerakan-gerakan sosial, seperti mahasiswa yang memperjuangkan keadilan maka mereka ingin kembali pada nilai-nilai dasar hak asasi manusia. Lalu kemudian mereka memperjuangkannya dengan jalan kekerasan maka bisa diklaim bahwa didalamnya telah terjadi radikalisme. Seperti kekerasan di Poso, Ambon juga dinilai berbau radikalisme.

III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari beberapa keterangan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Fundamentalisme diartikan sebagai paham yang mengajak kembali kepada nilai-nilai dasar yang mereka yakini. Radikalisme adalah gerakan yang dijalankan untuk mencapai tujuan fundamentalisme atau non-fundamentalisme suatu faham.
2.   Fundamentalisme dan radikalisme bukanlah istilah yang berasal dari Islam tapi istilah dari agama kristen yang kemudian digunakan untuk Islam
3.  Fundamentalisme dan radikalisme bisa terjadi pada kelompok manapun, baik berbau agama, sosial, maupun politik dan terjadi pada agama apapun.

B. Implikasi
Fundamentalisme baik jika tidak diiringi dengan aksi radikalisme. Pemahaman terhadap keyakinan atau paham yang dianut secara mendalam bisa dijadikan solusi agar nilai toleransi muncul pada paham fundamentalisme.

DAFTAR PUSTAKA

Afadlal dkk., Islam dan Radikalisme di Indonesia. Jakarta: LIPI Press. 2005.
Azra, Azyumardi. Pergolakan Politik Islam dari Fundamentalisme, Modernism, hingga Postmodernisme. Jakarta: Paramadina, 1996.
Esposito, John L. The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic World. New York: Oxford University Press. 1995.
Husaini, Adian. Radikalisme dan Terorisme. Bacaan catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke-124. Senin 28 November 2005.
Jainuri, Achmad. Orientasi Ideologi Gerakan Islam. Surabaya: LPAM. 2004.
Jamhari, Jajang Jahroni. Gerakan Salafi Radikal Di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2004.
Mahendra, Yusril Ihza. Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam (Perbandingan Partai Masyumi Indonesia dan Partai Jama’at Islami Pakistan). Terj. Mun’im A Sirry. Jakarta: Paramadina, 1999.
Mansoor, M. English-Arabic Dictionary of Political, Diplomatic and Conference Terms. New York: Mc Graw Hill Book Company Inc. 1961.
Mathar, M. Qasim. Kimiawi Pemikiran Islam Arus Utama Islam di Masa Depan. Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Filsafat dan Pemikiran Modern Dalam Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar. disampaikan pada Rapat Senat Terbuka Luar Biasa, 12 Nopember 2007.
Nafis, Muhammad Wahyuni. Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam. Jakarta: Paramadina. 1996.
Nuh, Abd Bin dan Oemar Bakry. Kamus Indonesia-Arab-Inggris. Jakarta: Mutiara Sumber Wijaya. 2002.
The Lottery, Qamus Faransa, ‘Arabiy, Inggiliziy. al-Maktabah al-Syamilah. t.t.: Qismu al-Lughah al-Ukhra, t.th.
---------------. The Heritage Illustrated Dictionary of The English Language. t.t.: Houghton Mifflin Company Publish. 1979.
Wehr, Hans. A Dictionary of Modern Written Arabic (Arabic-Inglish). London: MacDonald & Evans Ltd. Beirut. Maktabah Lubnan. 1974.
Al-Zastrouw Ng. Gerakan Islam Simbolik : Politik Kepentingan FPI. Yogyakarta: LKiS. 2006.





[1]Afadlal dkk., Islam dan Radikalisme di Indonesia (Cet. I; Jakarta: LIPI Press, 2005), h. v.
[2]M. Qasim Mathar, Kimiawi Pemikiran Islam Arus Utama Islam di Masa Depan, Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Filsafat Dan Pemikiran Modern Dalam Islam Fakultas Ushuluddin Dan Filsafat UIN Alauddin Makassar yang disampaikan pada Rapat Senat Terbuka Luar Biasa pada hari Senin 12 Nopember 2007, h. 3.
[3]Jajang Jahroni Jamhari, Gerakan Salafi Radikal Di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. v.
[4]The Lottery, The Heritage Illustrated Dictionary of The English Language, vol. I (t.t: Houghton Mifflin Company Publish, 1979), h. 533.
[5]The Lottery, The Heritage Illustrated Dictionary of The English Language, vol. I, h. 563.
[6]The Lottery, The Heritage Illustrated Dictionary of The English Language, vol. I, h. 567.
[7]The Lottery, Qamus Faransa, ‘Arabiy, Inggiliziy, jil. III (al-Maktabah al-Syamilah: Qismu al-Lughah al-Ukhra, t.th), h. 878.
[8]The Lottery, Qamus Faransa, ‘Arabiy, Inggiliziy, jil. I, h. 274.
[9]The Lottery, Qamus Faransa, ‘Arabiy, Inggiliziy, jil. II, h. 2474.
[10]The Lottery, Qamus Faransa, ‘Arabiy, Inggiliziy., jil. II, h. 1177.
[11]Yusril Ihza Mahendra, Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam (Perbandingan Partai Masyumi Indonesia dan Partai Jama’at-i-Islami Pakistan), terj. Mun’im A Sirriy (Cet. I; Jakarta: Paramadina, 1999), h. 8-9.
[12]Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic (Arabic-Inglish) (Cet. III; London: MacDonald & Evans Ltd., Beirut, Maktabah Lubnan, 1974), h. 776.
[13]M. Mansoor, English-Arabic Dictionary of Political, Diplomatic and confrence terms, (New York: Mc Graw Hill Book Company inc., 1961), h 242. Lihat juga Abd Bin Nuh dan Oemar Bakry, Kamus Indonesia-Arab-Inggris (Cet. XI; Jakarta: Mutiara Sumber Wijaya, 2002), h. 225.
[14]John L. Esposito, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic World (New York: Oxford University Press, 1995), h 32.
[15]Modernisme awalnya diartikan sebagai aliran keagamaan yang melakukan penafsiran terhadap doktrin agama Kristen untuk menyesuaikannya dengan perkembangan pemikiran modern.
[16]Yusril Ihza, Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam, h. 5-6.
[17]John L. Esposito, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic World, h. 32-33.
[18]Yusril Ihza Mahenda, Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam, h. 6.
[19]John L. Esposito, Ancaman Islam; Mitos Atau Realitas, terj. Alwiyah Abdurrahman  (Cet. I; Bandung: Mizan, 1994), h. 133.
[20]John L. Esposito, Ancaman Islam Mitos Atau Realitas, h. 134-137.
[21]John L. Esposito, Ancaman Islam Mitos Atau Realitas, h. 141.
[22]Tutur adalah sejarah tidak tertulis yang disampaikan secara turun temurun. Maka dari itu data ini tidak tertulis dalam sejarah.
[23]Al-Zastrouw Ng. Gerakan Islam Simbolik : Politik Kepentingan FPI (Cet. I; Yogyakarta: LKiS, 2006), h. 45-47.
[24]Al-Zastrouw Ng. Gerakan Islam Simbolik : Politik Kepentingan FPI, h. 49-52.
[25]Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam dari Fundamentalisme, Modernism Hingga Postmodernisme (Cet. I; Jakarta: Paramadina, 1996), h. 111.
[26]Achmad Jainuri, Orientasi Ideologi Gerakan Islam (Cet. I; Surabaya: LPAM, 2004), h. 73-75.
[27]Muhammad Wahyuni Nafis, Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam (Cet. I; Jakarta: Paramadina, 1996), h. 100-107.
[28]Adian Husaini, Radikalisme dan Terorisme, (Bacaan catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke-124), Senin 28 November 2005, h. 3.
[29]Achmad Jainuri, Orientasi Ideologi Gerakan Islam, h. 77-78.
[30]Al-Zastrouw Ng. Gerakan Islam Simbolik : Politik Kepentingan FPI, h. 78-80.
[31]Jajang Jahroni Jamhari, Gerakan Salafi Radikal Di Indonesia, h. 16-17.
[32]Afadlal dkk., Islam dan Radikalisme di Indonesia, h. 232-234.
[33]Jajang Jahroni Jamhari, Gerakan Salafi Radikal Di Indonesia, h. 20-22.
[34]Afadlal dkk., Islam dan Radikalisme di Indonesia, h. 265, 276, 279.
[35]Gerakan Salafi Radikal Di Indonesia, h. 22-23
Post a Comment