Friday, January 8, 2016

TRIPUSAT PENDIDIKAN SEBAGAI LEMBAGA PENGEMBANGAN TEORI PEMBELAJARAN BAGI ANAK

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan, merupakan salah satu unsur dari aspek sosial budaya yang berperan sangat strategis dalam pembinaan suatu keluarga, masyarakat atau bangsa. Kestrategisan peranan ini pada intinya merupakan suatu ikhtiar yang dilaksanakan secara sadar, sistematis, terarah dan terpadu untuk memanusiakan peserta didik, menjadikan mereka sebagai khalifah di muka bumi.[1] Pendidikan telah berlangsung sejak adanya manusia selaku khalifah di muka bumi ini. Pemindahan, pengembangan dan pelestarian nilai kebudayaan telah berlangsung sejak dari keluarga Adam sebagai unit terkecil dari masyarakat manusia,[2] karena secara universal pendidikan berarti proses mengubah dan memindahkan nilai-nilai budaya kepada setiap individu dalam suatu masyarakat.
Dalam pelaksanaan pendidikan Islam, di samping unsur-unsur yang telah disebutkan, faktor lingkungan merupakan salah satu faktor/unsur pendidikan yang ikut serta menentukan corak pendidikan Islam yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap perkembangan anak didik. Lingkungan yang dimaksudkan adalah lingkungan yang berupa keadaan sekitar yang mempengaruhi pendidikan anak. Lingkungan dapat memberikan pengaruh yang positif maupun negatif terhadap perkembangan anak didik. Pengaruh positif yang dimaksudkan adalah pengaruh lingkungan yang memberi dorongan atau motivasi serta rangsangan kepada anak didik untuk berbuat atau melakukan segala sesuatu yang baik. Sedangkan pengaruh negatif ialah sebaliknya, tidak memberi dorongan terhadap anak didik untuk menuju ke arah yang baik, bahkan bisa menghambat perkembangan anak didik.[3]
        Sebagai salah satu lingkungan pendidikan Islam, keluarga memegang peranan penting sekali dalam pendidikan untuk anak-anak sebagai institusi yang mula-mula sekali berinteraksi dengannya, oleh sebab mereka mendapat pengaruh daripadanya atas segala tingkah lakunya. Oleh karena itu, keluarga haruslah mengambil peranan dalam pendidikan ini, mengajar anak-anak mereka dengan akhlak yang mulia yang diajarkan oleh Islam seperti kebenaran, kejujuran, keikhlasan, kesabaran, kasih sayang, cinta kebaikan, pemurah dan lain-lain sebagainya. Keluarga juga harus mengajarkan nilai dan faedahnya yang berpegang teguh pada akhlak di dalam hidup, membiasakan mereka berpegang kepada akhlak semenjak kecil.[4]
Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu, orang tua menyerahkan tanggung jawab sebahagian kepada sekolah. Dengan demikian, sebenarnya pendidikan di sekolah adalah bahagian dari pendidikan dalam keluarga.
Di sekolah, para guru bisa memberikan contoh-contoh yang baik dalam proses pendidikan dan pengajaran pada murid, agar mereka menjadi generasi yang handal dan utuh, beriman, berpegang teguh pada agama, membela dan bertanggung jawab kepada tanah airnya, berwawasan luas, mempunyai kepribadian yang kuat kemauan yang keras, kejujuran yang obyektif, sehat fisik dan mental, senang belajar, berpegang teguh pada kemampuan diri sendiri, menilai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri dan mampu bekerja secara obyektif.[5]
Semua usaha yang dilakukan oleh pihak sekolah membutuhkan dukungan dari berbagai lingkungan pendidikan yang lain. Bila pengaruh sekolah sebagai salah satu lingkungan pendidikan hanya berjalan sendiri, sangat sulit untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.         Dalam lingkungan masyarakat terdapat beberapa lembaga organisasi sosial yang dapat menunjang keberhasilan pendidikan Islam. Dalam lingkungan keluarga, pendidikan agama dilaksanakan secara informal, yaitu melalui pengalaman hidup sehari-hari. Di lingkungan sekolah, pendidikan dilaksanakan secara formal, yakni dengan sengaja merencanakan dengan matang tujuan-tujuan yang akan dicapai. Sementara di lingkungan masyarakat, dilakukan secara non formal, yakni melaksanakan dengan sengaja akan tetapi tidak begitu terikat dengan peraturan dan syarat-syarat tertentu.         
Kajian dalam makalah ini akan diaksentuasikan ke dalam permasalahan tentang konsep dasar, urgensi dan implikasi tripusat pendidikan sebagai lembaga pengembangan teori pembelajaran. Kajian ini urgen dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan deskripsi komprehensif tentang pentingnya integrasi lingkungan pendidikan untuk secara sinergis diarahkan dalam pencapaian tujuan lembaga pengembangan teori pembelajaran yang aplikatif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

B. Rumusan Masalah
Dari deskripsi pada latar belakang, dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan tripusat pendidikan?
2. Bagaimana urgensi tripusat pendidikan sebagai lembaga pengembangan teori pembelajaran?
3. Bagaimana implikasi tripusat pendidikan sebagai lembaga pengembangan teori pembelajaran?

II. PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Tripusat Pendidikan
Islam telah menggariskan kepada para orang tua, pendidik dan orang-orang yang bertanggung jawab melaksanakan suatu metode yang konsisten mengarahkan dan mendidik anak-anak untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan hak-hak mereka. Dasar metode ini adalah untuk menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak, supaya dapat melaksanakan tugas dan amanat selaku khalifah di muka bumi secara sempurna.
Sebagai makhluk hidup, anak mempunyai kebutuhan, keinginan dan perasaan. Ia ingin mendapat perhatian, kasih sayang dari orang tuanya dan orang disekitarnya, yang tidak kalah pentingnya adalah kebutuhan akan pendidikan. Maka proses pendidikan bermula dari pelatihan akhlak mulia dengan memberi uswah al-hasanah, kemudian dilanjutkan dengan pengembangan daya nalar serta keterampilan yang dapat mendukung masa depan anak.[6] Anak merupakan jaminan atau modal bagi kebahagiaan dan kesejahteraan masa depan bangsa. Oleh karena itu, sejak dini kepentingan anak perlu mendapat perhatian, terutama dalam bidang pendidikan moral.[7] Berkaitan dengan pendidikan anak, maka lembaga yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seorang anak dikenal istilah Tripusat pendidikan, yang terdiri dari: [8]
    1. Lingkungan Keluarga.
Secara Etimologi, menurut Ki Hajar Dewantara, keluarga adalah rangkaian perkataan “kawula” dan “warga”. Kawula tidak lain artinya dari pada ‘Abdi’ yakni ‘hamba’ sedangkan warga berarti ‘anggota’. Sebagai abdi di dalam keluarga wajiblah seseorang menyerahkan segala kepentingannya kepada keluarganya. Sebaliknya, sebagai warga atau anggota ia berhak sepenuhnya pula untuk ikut mengurus segala kepentingan di dalam keluarganya.[9]
Sedangkan secara operasional, keluarga adalah suatu struktur yang bersifat khusus, antara satu sama lain dalam keluarga itu mempunyai ikatan apakah melalui nasab atau perkawinan. Inti keluarga adalah ayah, ibu, dan anak. Sedangkan menurut M. Quraish Sihab bahwa keluarga adalah unit terkecil yang menjadi pendukung dan pembangkit lahirnya bangsa dan negara. Keluarga adalah jiwa masyarakat dan tulang punggungnya. Kesejahteraan lahir dan batin yang dinikmati oleh suatu bangsa adalah cerminan dari keadaan keluarga yang hidup pada masyarakat tersebut. Begitupun sebaliknya, kebodohan dan keterbelakangan suatu bangsa juga merupakan cerminan keluarga yang ada di dalamnya.[10]
Karena pendidikan dalam lingkungan keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama,[11] maka di dalam pendidikan keluarga diharapkan dapat mencetak anak yang mempunyai kepribadian baik yang kemudian dapat dikembangkan dalam lembaga-lembaga pendidikan berikutnya. Oleh karena lingkungan keluarga merupakan institusi dalam proses perkembangan manusia seutuhnya, maka setiap anggota keluarga dalam rumah tangga muslim berkewajiban untuk membangun rumah tangganya sehingga menjadi rumah tangga atau keluarga yang sejahtera bahagia lahir dan batin, di mana suasana dan ketentraman hidup tercipta di dalamnya.[12] Pendidikan dalam lingkungan keluarga merupakan fundamen atau dasar dari pendidikan anak selanjutnya.
    2. Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah adalah lingkungan kedua setelah lingkungan keluarga. Eferett Reimer berpendapat, sebagaimana yang dikutip oleh M. Sodomo, sekolah merupakan lembaga yang menghendaki kehadiran penuh kelompok-kelompok umur tertentu dalam ruang-ruang kelas yang dipimpin oleh guru-guru untuk mempelajari kurikulum yang bertingkat.[13] Hadari Nawawi berpendapat bahwa sekolah merupakan organisasi kerja atau sebagai wadah kerjasama sekolompok orang untuk mencapai suatu tujuan.[14] Dalam Ensiklopedi Indonesia dijelaskan bahwa sekolah adalah tempat anak didik mendapatkan pelajaran yang diberikan oleh para guru. Pelajaran yang diberikan secara paedagogik dan didaktif, tujuannya untuk mempersiapkan anak didik menurut bakat dan kecakapan masing-masing agar mampu berdiri sendiri dalam masyarakat.[15] Berdasarkan pengertian yang telah dikemukakan di atas jelas bahwa sekolah adalah suatu lembaga atau organisasi yang melakukan kegiatan pendidikan berdasarkan kurikulum tertentu yang melibatkan sejumlah orang (siswa dan guru) yang harus bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan.
Keberadaan sekolah sebagai lembaga pendidikan formal karena keterbatasan keluarga terhadap tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Namun demikian, harus diingat bahwa tidak semua anak sedari kecilnya sudah menjadi tanggungan sekolah. Jangan disalahtafsirkan bahwa anak-anak yang sudah diserahkan kepada sekolah untuk dididiknya adalah seluruhnya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi sekolah hanyalah membantu keluarga dalam mendidik anak-anak.
    3. Lingkungan Masyarakat
Secara etimologi kata masyarakat berasal dari kata Arab “Syarikat” Kata ini terpakai dalam bahasa Indonesia/Malaysia, dalam bahasa Malaysia tetatap dalam bahasa aslinya : Syarikat sedangkan dalam bahasa Indonesia, serikat. Dalam kata ini tersimpul unsur-unsur pengertian berhubungan dan pembentukan suatu kelompok atau golongan atau kumpulan. Kata masyarakat hanya terpakai dalam kedua bahasa tersebut untuk menanamkan pergaulan hidup. Pergaulan hidup itu dalam bahasa Belanda dan Inggris disebut sociaal, social. Sedangkan bahasa Arab menyebutkan “al-Mujtama’”. Ia mengandung arti mempertahankan hubungan-hubungan teratur antara seorang dengan orang lain. Salah satu cabang ilmu tentang masyarakat disebut sosiologi,[16] yang dapat diterjemahkan dengan ilmu masyarakat. Dalam bahasa Arab diistilahkan dengan ‘ilm al-ijtima’.
Secara terminologi, defenisi tentang masyarakat banyak sekali dikemukakan oleh para ahli. Koentjaraningrat memberikan defenisi masyarakat dengan kelompok terbesar dari mahluk-mahluk manusia di mana pada manusia tersebut terjaring suatu kebudayaan yang oleh manusia dirasakan sebagai suatu kebudayaan.[17] Koentjaraningrat menitikberatkan kebudayaan dalam wujud masyarakat. Kehidupan warga-warga masyarakat terjalin dalam kebudayaan yang dirasakan oleh mereka.
Dilihat dari konsep pendidikan, masyarakat adalah sekumpulan banyak orang dengan berbagai ragam kualitas mulai dari yang tidak berpendidikan sampai kepada yang berpendidikan tinggi.[18] Masyarakat merupakan tempat para anggotanya mengamalkan semua ketrampilan yang dimilikinya. Disamping itu masyarakat juga termasuk pemakai atau the user dari para anggotanya. Baiknya kualitas suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas pendidikan dan ilmu yang diperoleh anggotanya.[19]
Sedangkan dilihat dari lingkungan pendidikan, masyarakat disebut lingkungan pendidikan non formal[20] yang memberikan pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seluruh anggotanya tetapi tidak sistematis. secara fungsional masyarakat menerima semua anggotanya. yang pluralistik itu dan mengarahkan menjadi anggota masyarakat yang baik untuk tercapainya kesejahteraan sosial anggotanya yaitu kesejahteraan lahir dan batin yang biasa disebut masyarakat adil dan makmur dibawah lindungan Allah swt.

B.Urgensi Tripusat Pendidikan sebagai Lembaga Pengembangan Teori Pembelajaran

      1. Urgensi Pendidikan Keluarga

Mendidik anak adalah kewajiban orang tua, dan memang dalam diri manusia ada naluri untuk mendidik dan mengasuh anak-anaknya dengan tulus dan penuh rasa kasih sayang. Karena itulah, maka setiap orang tua mengharapkan dan akan berusaha agar anaknya dapat tumbuh dan menjadi generasi penerus yang berhasil dalam menjalani kehidupannya serta dapat berbakti kepada agama, nusa dan bangsa. Adapun urgensi pendidikan keluarga sebagai lembaga pengembangan teori pembelajaran, yaitu:
a. Keluarga Sebagai Peletak Dasar Pendidikan
Perhatian Islam terhadap anak tidak hanya setelah anak lahir, melainkan harus telah diberikan sejak kedua orang tuanya akan menikah. Oleh karena itu, jelas bahwa perhatian Islam terhadap anak sudah dimulai sejak jauh sebelum mereka dilahirkan, karena Islam memperhatikan pengembangan intelektualitas yang sehat serta rencana masa depan anak.
Kehidupan keluarga, apabila diibaratkan sebagai suatu bangunan, demi terpeliharanya bangunan itu dari hantaman badai dan goncangan gempa, maka ia harus didirikan di atas satu pondasi yang kuat dengan bahan bangunan yang kokoh serta perekat yang lengket. Pondasi kehidupan kekeluargaan adalah ajaran agama, disertai dengan kesiapan fisik dan mental calon-calon ayah dan ibu, terutama ibu. Anak dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga, orang tua tanpa ada yang memerintah, langsung memikul tugas sebagai pendidik, baik bersifat sebagai pemelihara, sebagai pengasuh, sebagai pembimbing, sebagai pembina maupun sebagai guru dan pemimpin terhadap anak-anaknya. Ini adalah tanggung jawab bagi tiap-tiap manusia.[21]
b. Keluarga dan Pembentukan Kepribadian
Dalam pembentukan kepribadian anak, peran orang tua sangat mutlak adanya, karena orang tua dalam keluarga merupakan ajang pertama di mana sifat kepribadian anak bertumbuh dan berbentuk.[22] Orang tua merupakan panutan bagi setiap anak. Orang tualah yang pertama-tama dilihat dan ditiru oleh anak.           
Anak yang masih dalam keadaan fitrah masih menerima segala pengaruh dan cenderung kepada setiap hal yang tertuju kepadanya. Anak yang lahir dalam keluarga yang selalu membiasakan berbuat baik, biasanya menghasilkan pribadi anak yang baik pula. Dan sebaliknya anak yang lahir dalam keluarga yang selalu membiasakan perbuatan yang tercela biasanya menghasilkan anak yang tercela pula. Oleh karena itu, metode yang paling tepat dalam mendidik anak di tengah keluarga adalah dengan pembiasaan[23] dalam kehidupan sehari-hari, di samping metode teladan khususnya tentang keteladanan Rasulullah saw.
Segala sesuatu yang dilakukan keluarga atau orang tua kepada anak, maka akan merupakan pembinaan kebiasaan pada anak yang akan tumbuh menjadi tindakan moral di kemudian hari (moral behavior). Dengan kata lain setiap pengalaman anak baik yang diterimanya melalui penglihatan, pendengaran atau perlakuan anak waktu kecil, akan merupakan pembinaan kebiasaan yang kemudian bertumbuh menjadi tindakan moral di kemudian hari . Oleh karena itu, peranan orang tua dalam lingkungan terhadap pembentukan kepribadian anak sangat penting.
    2. Urgensi Pendidikan Sekolah
Sekolah merupakan pelengkap dari pendidikan dalam keluarga. Sekolah adalah sebagai pembantu bagi pendidikan anak, yang dalam hal melebihi pendidikan dalam keluarga, terutama dari segi cakupan ilmu pengetahuan yang diajarkannya. Karena dalam pendidikan keluarga dan sekolah mempunyai tujuan yang sama, maka hubungan antara keduanya harus selaras dan serasi.
a. Sekolah sebagai Peletak Dasar Pengetahuam Ilmiah.
Pendidikan di sekolah biasanya disebut pendidikan formal karena ia adalah pendidikan yang mempunyai dasar, tujuan, isi, metode dan alat-alat yang disusun secara eksplisit, sistematis dan distandarisasikan.[24] Oleh karena itu, sekolah diharapkan dapat menyempurnakan pendidikan anak. Demikian pula, pendidikan keluarga tidak diorganisai secara struktural dan tidak mengenal sama sekali penjenjangan kronologis menurut tingkatan umum maupun tingkatan keterampilan dan pengetahuan. Tanggung jawab pendidikan keluarga hanya karena kodrat yaitu karena orang tua ditakdirkan menjadi orangtua anaknya, karena itu ia ditakdirkan pula bertanggung jawab mendidiknya.
Sekolah sebagai peletak dasar pendidikan ilmiah tidak terlepas dari fungsi sekolah sebagai pusat pendidikan formal. Sekolah merupakan lembaga sosial formal dan biasa juga disebut sebagai satu organisasi yang terikat kepada tata aturan formal, berprogram dan bertarget atau memiliki sasaran yang jelas serta memiliki struktur kepemimpinan penyelenggaraan atau pengelolaan yang resmi. Tugas sekolah bukanlah semata-mata mengajar anak-anak membaca, menulis dan berhitung. Tetapi tugasnya adalah mempersiapkan anak-anak untuk mengisi kebutuhan masyarakat tempat tinggalnya dan untuk menempuh kehidupan yang sempurna, sehingga mereka mendapat kebahagiaan bersama masyarakatnya.
b. Sekolah sebagai Latar Pendidikan Moral
Sekolah mempunyai fungsi yang sangat penting dan sangat khusus untuk menciptakan makhluk baru yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Bila mereka sadar akan keterlibatannya dalam suatu masyarakat di mana ia diikat oleh kewajiban dan keinginan, maka ia akan menjadi seorang makhluk yang bermoral. Tetapi jika anak didik secara sistematis menyadari tentang warisan kebudayaan negerinya maka ia dapat memiliki rasa identitas dan kepuasan pribadi. Hanya saja, individualisme yang berlebihan dalam pendidikan dapat mengakibatkan kegagalan pribadi dan kekacauan sosial. Oleh karena itu, maka pendidikan moral merupakan penangkal terhadap penyakit-penyakit seperti itu.
Dalam kaitannya dengan pendidikan moral di sekolah, guru tidak boleh mendidik anak dengan kekerasan dan kekasaran, sebab kekerasan itu menguasai jiwa dan mencegah perkembangan pribadi. Kekerasan membuka jalan kepada kemalasan, kecurangan, penipuan, kelicikan karena takut akan kekerasan badan. Oleh karena itu, maka menjadi keharusan bagi guru-guru untuk tidak memperlakukan murid-muridnya dengan kasar atau dengan paksaan, agar tidak menjadi suatu kebiasaan.
   3. Urgensi Pendidikan Masyarakat
Masyarakat sebagai salah satu lingkungan terjadinya kegiatan pendidikan, mempunyai pengaruh yang besar terhadap berlangsungnya segala kegaiatan yang menyangkut masalah pendidikan. Dilihat dari materi yang digarap, jelas kegiatan pendidikan baik yang bersifat formal maupun non formal berisikan generasi muda yang akan meneruskan kehidupan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, materi apa yang akan diberikan kepada anak sebagai generasi penerus harus disesuaikan dengan keadaan dan tuntutan masyarakat di mana kegiatan pendidikan itu berlangsung.
Masyarakat adalah wadah dan wahana pendidikan, media kehidupan manusia, yang beragam menyangkut suku, agama, kegiatan kerja, tingkat pendidikan, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Dengan demikian, manusia sejak kanak-kanak hingga dewasa terlibat sebagai warga masyarakat bangsanya. Sejak lahir, dibesarkan dan dididik dalam masyarakat. Maka pertumbuhannyapun secara langsung dipengaruhi oleh lingkungan sosial di mana anak itu hidup bermasyarakat.
Peranan masyarakat sangat besar dalam membantu pelaksanaan pendidikan nasional. Ada dua kebutuhan pokok yang sangat diharapkan oleh pendidikan dari masyarakat. Pertama, situasi sosiokultural yang mendukung proses internalisasi nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakat yang bersangkutan. Dalam hal ini peran individu sebagai anggota masyarakat sangat penting karena bermula dari sikap mental dan prilaku perindividu itulah situasi sosiokultural yang diharapkan dapat dibentuk. Pendidikan dalam arti proses internalisasi nilai dalam masyarakat ini bersifat informal, tetapi cukup intens karena terjadi melalui interaksi sosial yang cukup panjang, terus menerus dan bersifat alami. Kedua, wahana perluasan wawasan hidup, penguasaan ilmu pengetahuan dan berbagai keterampilan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

C.Implikasi Tripusat Pendidikan Sebagai Lembaga Pengembangan Teori Pembelajaran

      1. Implikasi Pendidikan Keluarga

Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan anggota keluarga lainnya. Dalam kaitannya dengan pendidikan pertama dan utama pendidikan keluarga dapat berimplikasi pada hal-hal :
a. Anak memiliki pengetahuan dasar-dasar keagamaan
Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama sangat berperan dalam proses internalisasi dan transfomasi nilai-nilai keagamaan ke dalam pribadi anak. Kenyataan membuktikan bahwa anak-anak yang semasa kecilnya terbiasa dengan kehidupan keagamaan dalam hal ini terjadi dalam keluarga akan memberikan pengaruh posistif terhadap perkembangan kepribadian anak selanjutnya. Oleh karena itu, sejak kanak-kanak anak seharusnya dibiasakan ikut serta ke mesjid bersama-sama untuk menjalankan ibadah, mendengarkan khutbah atau ceramah-ceramah keagamaan dan kegiatan religus lainnya.[25]
Keluarga memegang peranan penting dalam meletakkan pengetahuan dasar keagamaan kepada anak-anaknya. Untuk melaksanakan hal itu, terdapat cara-cara praktis yang harus digunakan untuk menemukan semangat keagamaan pada diri anak, yaitu :
a.      Memberikan teladan yang baik.
b.      Membiasakan mereka menunaikan syiar-syiar agama semenjak kecil
c.      Menyiapkan suasana agama dan spritual yang sesuai di rumah di mana mereka bearada.
d.      Membimbing mereka membaca bacaan-bacaan agama yang berguna dan memikirkan ciptaan-ciptaan Allah dan makhluk-makhluk-Nya untuk menjadi bukti kehalusan sistem ciptaan itu dan atas wujud dan keagungan-Nya.
e.   Menggalakkan mereka turut serta dalam aktivitas-aktivitas agama dan kegiatan-kegaiatan keagamaan lainnya dalam berbagai macam bentuk dan cara.[26]
Keluarga menjadi tempat berlangsungnya sosialisasi yang berfungsi dalam pembentukan kepribadian sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila dan makhluk keagamaan.[27] Pengalaman hidup bersama dalam keluarga yang dialami oleh anak-anak, akan memberikan andil yang besar untuk membentuk kepribadian dan corak keagamaan anak.
b. Anak memiliki pengetahuan dasar akhlak
Keluarga merupakan penanaman utama dasar-dasar akhlak bagi anak, yang biasanya tercermin dalam sikap dan prilaku orang tua sebagai teladan yang dapat dicontoh anak. Perlu disadari bahwa sebagai tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak ialah peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga lainnya. Pendidikan agama sangat terkait dengan pendidikan akhlak, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pendidikan akhlak dalam pengertian Islam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama. Sebab yang baik adalah yang dianggap baik oleh agama dan yang dianggap buruk adalah yang dianggap buruk oleh agama.[28] Dalam kaitannya dengan implikasi penerapan pendidikan keluarga terhadap anak, maka kewajiban keluarga dalam hal ini adalah:
a.   Memberi contoh yang baik bagi anak-anaknya dalam berpegang teguh kepada akhlak mulia.
b. Menyediakan bagi anak-anaknya peluang dan suasana praktis untuk dapat mempraktekkan akhlak yang diterima dari orang tuanya
c.    Memberi tanggung jawab yang sesuai dengan anak-anaknya supaya anak merasa bebas memilih dalam tindak tanduknya.
d.    Menunjukkan bahwa keluarga selalu mengawasi mereka dengan sadar dan bijaksana.
e.   Menjaga anak dari pengaruh lingkungan negatif dan tempat-tempat yang dapat merusak akhlak anak dan berbagai macam cara lain di mana keluarga dapat mendidik akhlak anak-anaknya.
Pengaruh tingkah laku keluarga tetap menentukan tingkah laku anak. Sikap emosional dari orang tua pada dasarnya mempunyai efek tertentu pada tingkah laku anak. Oleh karena itu dalam keluarga harus menampakkan budi pekerti yang baik bagi anak-anaknya. Hal tersebut dapat membentuk kepribadian dasar yang baik yang sangat mempengaruhi kehidupan anak selanjutnya.    
c. Anak memiliki pengetahuan dasar sosial
Anak adalah generasi penerus yang di masa depannya akan menjadi anggota masyarakat secara penuh dan mandiri. Oleh karena itu, seorang anak sejak kecil harus sudah mulai belajar bermasyarakat, agar nantinya dia dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang dapat menjalankan fungsi-fungsi sosialnya.
Keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama dikenalkan kepada anak, atau dapat dikatakan bahwa seorang anak itu mengenal kehidupan sosial pertama-tama di dalam lingkungan keluarga. Adanya interaksi anggota keluarga yang satu dengan keluarga yang lain menyebabkan seorang anak menyadari akan dirinya bahwa ia berfungsi sebagai individu dan juga sebagai makhluk sosial.[29] Kehidupan keluarga dibangun atas hubungan-hubungan sosial yang di atasnya terletak tanggung jawab penting terhadap orang perorang dan terhadap masyarakat umum. Pentingnya keluarga karena ia merupakan inti dan unsur pertama dalam masyarakat sehingga keluarga telah mempunyai nilai praktis dan efektif dalam kehidupan sehari-hari.[30]
Hal yang penting diketahui bahwa lingkungan keluarga itu akan membawa perkembangan perasaan sosial yang pertama. Misalnya, perasaan simpati yaitu suatu usaha untuk menyesuaikan diri dengan perasaan orang lain. Anak-anak itu merasa simpati kepada orang dewasa dan juga kepada orang yang mengurus mereka. Dari rasa simpati itu tumbuhlah kelak pada anak-anak itu rasa cinta terhadap orang tua dan kakak-kakaknya.

    2. Implikasi Pendidikan Sekolah

Sekolah adalah lembaga yang sangat penting sasudah keluarga. Pada waktu anak-anak berusia enam atau tujuh tahun perkembangan intelek dan daya pikir telah meningkat sedemikian rupa sehingga pada masa itu disebut masa keserasian bersekolah.[31]Sekolah memegang peranan penting dalam pendidikan, karena pengaruhnya besar sekali terhadap jiwa anak. Maka di samping keluarga sebagai pusat pendidikan untuk melahirkan pengetahun ilmiah (sistematis) juga membekali anak dengan seperangkat skill yang bersifat teoritis. Adapun implikasi pendidikan sekolah terhadap anak.
a. Lahirnya Pengetahun Ilmiah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal merupakan tempat dan periode yang sangat strategis bagi pemerintah dan masyarakat untuk membina seseorang dalam menghadapi masa depannya. Sekolah merupakan lembaga investasi manusia yang sangat penting untuk kebutuhan dan kemajuan masyarakat. Investasi tenaga ini diharapkan mutunya baik dan jumlahnya mencukupi.
Jelasnya bisa dikatakan bahwa sebagian besar pembentukan kecerdasan, sikap dan minat sebagai bagian dari pembentukan kepribadian, dilaksanakan oleh sekolah. Kenyataan ini menunjukkan betapa penting dan besar pengaruh dari sekolah khususnya dalam kaitannya sebagai pendidikan ilmiah yang dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan. Dalam hal ini, sekolah sebagai lembaga formal mempunyai arah dan fungsi yang jelas. Suwarno berpendapat, fungsi sekolah adalah sebagai berikut :
a.      Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan.
b.      Melaksanakan pendidikan yang spesifikasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
c.      Melaksanakan pendidikan dan pengajaran yang lebih efesien.
d.  Sekolah berfungsi dalam proses sosial yaitu proses yang membantu anak menjadi makhluk sosial, yang dapat beradaptasi dengan baik di masyarakat.
e.     Sekolah berfungsi sebagai transmisi dari rumah ke masyarakat.[32]
            Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, sekolah telah menyusun suatu rencan pengajaran yang berfungsi sebagai jalan untuk melaksanakan tujuan sekolah dan meletakkan tiap-tiap mata pelajaran di tempat yang sewajarnya, sehingga dapat dididik tiap-tiap murid dengan pendidikan yang sesuai dengan bakat dan alam sekitarnya. Oleh sebab itu, rencana pengajaran itu penting sekali untuk mencapai tujuan pendidikan. Adapun tujuan pengajaran yang asasi yakni memungkinkan manusia untuk mengetahui dirinya dan alam sekitarnya dengan pengetahuan yang berdasarkan amal perbuatan.[33]
b. Lahirnya Seperangkat Pengetahun Skill Anak
Pendidikan selalu diarahkan untuk pengembangan nilai-nilai kehidupan manusia. Di dalam pengembangan nilai ini, tersirat pengertian manfaat yang ingin dicapai oleh manusia di dalam hidupnya. Sehingga apa yang ingin dikembangkan merupakan apa yang dapat dimanfaatkan dari arah pengembangan itu sendiri. Oleh karena itu, program pendidikan di sekolah harus diupayakan terjadinya transformasi pengetahuan, pemikiran dan adanya inovasi bagi perkembangan masyarakat luas. Sebab realitas hidup masyarakat meningkat bila sekolah selalu bersifat dinamis dengan mengadakan pembaharuan-pembaharuan dan menyebarluaskan hasil penemuan dan pembaharuan yang telah dilakukan.[34]
Dalam hal pengaruh sekolah terhadap masyarakat ini, pada dasarnya tergantung kepada luas tidaknya produk serta kualitas out put pendidikan sekolah itu sendiri. Semakin besar out put sekolah dengan disertai kualitas yang mantap, dalam artian mampu mencetak sumber daya manusia yang berkualitas maka tentu saja pengaruhnya sangat positif terhadap masyarakat.    
Dengan demikian, bila lembaga pendidikan sekolah mampu melahirkan produk-produknya (generasi) yang berkualitas, tentu hal ini merupakan investasi bagi penyediaan SDM. Investasi ini penting untuk pengembangan dan kemajuan masyarakat sebab manusia itu sendiri adalah subyek setiap perkembangan, perubahan dan kemajuan di dalam masyarakat.
c. Lahirnya sekolah sebagai alat kontrol, integrasi sosial dan transmisi sosial kebudayaan
Kelakuan manusia pada hakekatnya hampir seluruhnya bersifat sosial, yaitu dipelajari dalam interaksi dengan manusia lainnya. Hampir segala sesuatu yang dipelajari merupakan hasil hubungan manusia dengan orang lain di rumah, sekolah, tempat permainan, tempat pekerjaan dan sebagainya. Bahkan pelajaran di sekolah atau isi pendidikan ditentukan oleh kelompok atau masyarakat seseorang.
Dalam arti yang sempit, kontrol sosial dimaksudkan pengendalian eksternal atas kelakuan individu oleh orang lain yang memegang otoritas atau kekuasaan. Khusus di sekolah, dengan ancaman atau hukuman, kepala sekolah atau guru-guru dapat mengontrol kelakuan murid-muridnya. Kontrol sosial dapat dijalankan dengan menetapkan peraturan-peraturan yang telah disepakati sebelumnya, sedangkan kontrol sosial dalam arti luas dapat diartikan dengan setiap usaha atau tindakan dari seseorang atau suatu pihak untuk mengatur kelakuan orang lain. Oleh karena kelakuan manusia senantiasa berlangsung dalam interaksi dengan orang lain, maka sebenarnya semua kelakuan dipengaruhi atau di kontrol oleh interaksi itu.[35]
Dalam masyarakat yang bersifat heterogen dan pluralistik, menjamin integrasi sosial merupakan fungsi pendidikan sosial yang terpenting. Masyarakat Indonesi yang terdiri dari bermacam-macam suku bangsa dengan adat istiadatnya masing-masing, bermacam-macam bahasa daerah, agama, pandangan politik dan berbeda-beda taraf perkembangannya. Dalam keadaan demikan, bahaya disintegrasi sosial sangat besar. Oleh karena itu, tugas pendidikan sekolah yang terpenting adalah menjamin integrasi sosial. Adapun cara sekolah dalam menjamin integrasi sosial itu, pertama, sekolah mengajarkan bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia. Bahasa nasional ini memungkinkan komunikasi antar suku-suku dan golong-golongan yang berbeda-beda dalam masyarakat. Pengajaran bahasa nasional ini merupakan cara yang paling efektif untuk menjamin integrasi sosial. Kedua, sekolah mengajarkan kepada anak corak kepribadian nasional (national identity) melalui pelajaran sejarah, geografi, peringatan hari besar nasional, lagu-lagu nasional dan sebagainya. Dengan pengenalan kepribadian nasional itu akan menimbulkan perasaan nasionalisme, kemudian perasaan nasionitu akan semangat patriotisme.[36]
Pendidikan sekolah bertugas untuk mengembangkan pola kelakuan tertentu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat, sebab salah satu fungsi sekolah adalah menyampaikan kebudayaan kepada generasi baru dan karena itu harus selalu memperhatikan masyarakat dan kebudayaan umum.

    3. Implikasi Pendidikan Masyarakat

Masyarakat yang merupakan lembaga ketiga sebagai lembaga pendidikan dalam konteks penyelenggaraan pendidikan itu sendiri besar sekali perannya. Bagaimanapun kemajuan dan keberadaan suatu lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh peran serta masyarakat yang ada. Tanpa dukungan dan partisifasi masyarakat, jangan diharapkan pendidikan dapat berkembang dan tumbuh sebagaimana yang diinginkan. Oleh karena itu, sebagai salah satu lingkungan terjadinya kegiatan pendidikan, masyarakat mempunyai pengaruh dan implikasi yang sangat besar terhadap anak.
a. Munculnya Kepekaan Sosial yang Tinggi
Manusia adalah makhluk sosial. Ia hidup dalam hubungannya dengan orang lain dan hidupnya bergantung pada orang lain. Karena itu, manusia tak mungkin hidup layak di luar masyarakat.. Hidup dalam masyarakat berarti adanya interaksi sosial dengan orang -orang di sekitarnya, dengan demikian mengalami pengaruh dan mempengaruhi orang lain. Interaksi sosial sangat utama dalam tiap masyarakat.[37]
Demikian pula, sosialisasi tercapai melalui komunikasi dengan anggota masyarakat lainnya. Pola kelakuan yang diharapkan dari anak terus menerus disampaikan dalam segala situasi di mana ia terlibat. Kelakuan yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dikesampingkan karena dapat menimbulkan konflik dengan lingkungan, sedangkan kelakuan yang sesuai dengan norma yang diharapkan terus dimantapkan.
Dalam proses sosialisasi anak dengan lingkungannya, ia lambat laun mendapat kesadaran akan dirinya sebagai pribadi sekaligus sebagai makhluk sosial. Ia belajar untuk memandang dirinya sebagai obyek seperti orang lain melihat dirinya. Ia dapat membayangkan kelakuan apa yang diharapkan orang lain. Ia dapat mengatur kelakuannya seperti yang diharapkan orang lain. Ia dapat merasakan perbuatannya yang salah dan keharusan untuk minta maaf. Dengan menyadari dirinya sebagai pribadi ia dapat mencari tempatnya dalam struktur sosial, dapat mengharapkan konsekuensi positif bila berkelakuan menurut norma-norma atau akibat negatif atas kelakuan yang melanggar aturan. Demikianlah akhirnya ia lebih mengenal dirinya dalam lingkungan sosialnya, dapat menyesuaikan kelakuannya dengan harapan masyarakat dan menjadi anggota masyarakat melalui proses sosialisasi yang dilaluinya.[38]
Implikasi pendidikan sosial membawa pengaruh yang besar terhadap generasi muda. Sangat penting untuk diamati bagaimana mereka sekarang ini berpikir. Penting karena ia mewakili apa yang dinamakan kesadaran kolektif, respon atau kesaksian zaman industri.[39] Ada keinginan besar dari mereka untuk melihat masa depan Islam sebagai kekuatan sosial, kekuatan budaya, kekuatan ekonomi dan sebagainya.
Apabila manusia sebagai makhluk sosial itu berkembang, maka berarti bahwa manusia itu adalah makhluk yang berkebudayaan, baik moral maupun material. Diantara insting manusia adalah adanya kecenderungan mempertahankan segala apa yang dimiliki termasuk kebudayaannya. Oleh karena itu, manusia harus selalu melakukan transformasi dan transmisi serta interaksi sosial dalam masyarakat.
b. Masyarakat sebagai Tempat Pengaktualisasian Diri
Kalau diteliti sekali lagi apa yang menjadi tujuan pendidikan dan pengajaran, ternyata bahwa dalam undang-undang yang mengatur hal tersebut, sudah tercantum tujuan mendidik yang lengkap. Tidak hanya mengenai segi intelektual saja, tetapi juga menyangkut masalah sosial dan kemasyarakatan. Sebab bagaimanapun juga anak-anak yang dididik di sekolah akan terjun ke masyarakat. Masyarakat membutuhkan syarat-syarat tertentu dari tiap-tiap anggotanya. Masyarakat membutuhkan orang-orang yang rajin dan giat melakukan tugas yang telah dipikulkan kepadanya, membutuhkan orang-orang yang dapat bertanggung jawab dan tahu akan kewajibannya, pandai menggunakan akal pikirannya atau berinisiatif dan melaksanakan tugasnya sehingga selalu mencari kebaikan dan kemajuan.
Program pendidikan masyarakat harus diarahkan dan dirancang serta dilaksanakan untuk memberdayakan masyarakat agar mampu melihat peluang yang ada di sekitarnya dan kemudian mengelolanya untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Hal ini berarti pendidikan masyarakat mewujudkan dan mengintegrasikan program pembelajarannya dengan pengalaman hidup.      
Sikap sosialisasi diri di dalam masyarakat adalah essensial, karena setiap individu tidak akan muda mempertahankan hidupnya apabila dia tidak belajar bagaimana caranya mengadaptasikan diri dalam masyarakat itu. Mereka mesti menyesuaikan diri dengan masyarakatnya di mana dia berada. Para pemuda dalam usia yang muda itu, mudah sekali buat belajar, akan tetapi mereka tidak akan dapat belajar baik, apabila mereka dibiarkan dengan sumber-sumber mereka yang terbatas itu saja. Semua masyarakat diperkirakan bahwa mereka tidak akan dapat berfungsi lebih efektif apabila anggota-anggota masyarakat itu tidak mempelajari materi dan teknik, cita-cita dan nilai-nilai yang esensial buat dididik guna memberikan pengalaman dan prinsip-prinsip yang member kemampuan kepada mereka untuk menyesuaikan diri dalam berbagai situasi.[40]
Masyarakat telah membentuk lembaga-lembaga pendidikan, seperti sekolah-sekolah sebagai sarana menjamin kelangsungan hidup dan kebudayaan mereka melalui para pemudanya. Apa yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya, tergantung kepada bentuk masyarakat itu dan tingkatan perkembangan kebudayaan yang terdapat dalam masyarakat tempat mengaktualisasikan diri.
c. Terbentuknya Kemandirian Anak
Program-program pendidikan kemasyarakatan bertujuan untuk mewujudkan warga belajar memiliki pengetahuan, kemampuan dan sikap lebih mandiri, kreatif dan dinamis dalam rangka meningkatkan kualitas hidup anak. Program pembelajaran selalu diarahkan untuk menyiapkan warga belajar yang mandiri dengan mengembangkan program yang sesuai dengan potensi lingkungan di mana mereka berada. Program pembelajaran dirancang bukan sekedar untuk mengetahui saja tetapi untuk bisa, dan hal itulah yang menyebabkan program pendidikan masyarakat harus fungsional. Programnya tidak mengutamakan tanda tamat belajar tetapi bertumpu pada usaha penyiapan warga masyarakat untuk hidup mandiri dan terus belajar sepanjang hidupnya.           
Pendidikan masyarakat cukup proaktif dalam menyiapkan warga masyarakat untuk tidak terus menggantungkan diri pada apa yang disajikan pemerintah. Mereka harus menciptakan lapangan kerja sendiri, berdasarkan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. Dalam kehidupam masyarakatlah dapat dibuktikan dan direalisasikan dari teori-teori pendidikan dan pengajaran yang telah didapatkan. Dalam masyarakat pula kemandirian anak akan teruji.
Dalam konteks pendidikan, lingkungan masyarakat merupakan lembaga pendidikan selain keluarga dan sekolah yang membentuk kebiasaan, minat, pengetahuan, sikap, kesusilaan, kemasyarakatan dan keagamaan anak.[41]Di masyarakatlah anak melakukan pergaulan yang berlangsung secara informal. Oleh karena itu, dalam pergaulan sehari-hari antara seorang dengan anggota masyarakat lainnya, menyadarkan anak akan pentingnya kemandirian, tidak lagi mengandalkan keadaan keluarga. Anak betul-betul harus mengandalkan kemampuan sendiri.

III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari analisis di atas, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan, yaitu:
1. Tripusat pendidikan adalah tiga pusat pendidikan yang secara bertahap dan terpadu mengemban suatu tanggung jawab pendidikan bagi anak didik (generasi muda). Ketiga pusat pendidikan yang dimaksud meliputi pendidikan dalam lingkungan keluarga, pendidikan dalam lingkungan sekolah dan pendidikan dalam lingkungan masyarakat. Ketiga penanggung jawab pendidikan ini dituntut melakukan saling kerjasama, baik secara langsung maupun tidak langsung.
2.    Tripusat pendidikan mempunyai urgensi yang sangat penting bagi anak sebagai lembaga pengembangan teori pembelajaran. Lingkungan keluarga yang merupakan lingkungan pertama dan dianggap sebagi peletak dasar pendidikan anak yang sekaligus awal dari pendidikan yang akan ditempuh selanjutnya juga sangat berperan dalam pembentukan kepribadian. Lingkungan sekolah adalah lingkungan kedua yang dihadapi oleh anak. Pndidikan dalam lingkungan sekolah mempunyai dasar, tujuan, isi, metode dan syarat-syarat lain yang disusun secara sistematis dalam bentuk kurikulum. Oleh karen itu, sekolah dianggap sebagai peletak dasar pengetahuan ilmiah. Sementara itu, Lingkungan masyarakat mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan anak selanjutnya. Dalam masyarakatlah anak akan merealisasikan sejumlah teori pendidikan dan pengajaran yang pernah diajarkan dalam lembaga pendidikan sebelumnya. Sebab bagaimanapun juga, anak akan mengaktualisasikan dan melibatkan diri dalam lingkungan masyarakat.
3. Implikasi tripusat pendidikan sangat mempengaruhi anak sebagai lembaga pengembangan teori pembelajaran dalam segala segi, baik yang menyangkut pertumbuhan, perkembangan maupun masa depannya. Penerapan tripusat pendidikan yang terpadu dapat menjadikan anak didik memilki kepribadian yang utuh dan bertanggung jawab serta dapat menjadi generasi muda yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

B. Implikasi
Pada prinsipnya, mendidik merupakan pemberian tuntunan, bantuan dan pertolongan kepada peserta didik. Dalam pengertian memberi tuntunan telah tersimpul suatu dasar pengakuan bahwa anak memilki potensi untuk berkembang. Untuk menjamin berkembangnya potensi-potensi tersebut agar menjadi lancar dan terarah, diperlukan pertolongan dan tuntunan dari luar yang disebut dengan lingkungan. Dalam konteks pendidikan, lingkungan yang dengan sengaja diciptakan untuk mempengaruhi perkembangan anak ada tiga yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga lingkungan inilah yang menjadi pusat pendidikan. Oleh karena itu, para pendidik dalam tiga lingkungan tersebut, senantiasa melakukan kerja sama yang baik untuk mengarahkan dan mengembangkan anak didik dalam menjalani kehidupannnya di era kemajuan yang semakin mengglobal.
Harapan penulis, kajian mengenai konsep tripusat pendidikan sebagai lembaga pengembangan teori pembelajaran dapat bermanfaat bagi kita semua, dan menjadi salah satu dasar bagi kajian selanjutnya. Pada akhirnya, mengingat masih banyaknya kekurangan dalam kajian ini, baik dari segi isi maupun metodologinya, akibat keterbatasan pemikiran penulis. Olehnya itu, berbagai saran dan kritik untuk perbaikan kajian ini, sangat diharapkan penulis.
           
 
DAFTAR PUSTAKA


Abdullah, Syamsuddin. Agama dan Masyarakat: Pendekatan Sosiologi Agama. Cet. I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
Al-Abrasyi, Muhammad Atiyyah. al-Tarbiyyah al-Islamiyyah. Diterjemahkan oleh H. Bustami A. Gani dan Djohar Bahny dengan judul Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Cet. VII; Jakarta: Bulan Bintang, 1993.
Achmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan. Cet. I; Yogyakarta: Aditya Media bekerjasama dengan BP. IAIN Walisongo Press, 1992.
Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati¸ Ilmu Pendidikan. Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1991.
--------------. Sosiologi Pendidikan. Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1991.
Ali, H. B. Hamdani. Filsafat Pendidikan. Cet. III; Yogyakarta: Kota Kembang, 1993.
Al-Aliy, Muhammad ‘Abd. the Family Structure in Islam. Maryland: International Grafic Printing Service, t.th.
Arifin, H.M. Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. Cet. IV; Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Al-Azis, Shaleh Abd. al-Tarbiyah al-Hadisah Maddatuha, Mabadiuha, Tatbiqatuha al-Amaliyyah, Jilid III. Cet.VII; Misra: Dar al-Ma’arif, 1976.
Barmawi, Bakir Yusuf. Pembinaan Kehidupan Beragama Islam pada Anak. Cet. I; Semarang: Dmas, 1993.
Barnadib, Imam. Pemikiran Tentang Pendidikan Baru. Yogyakarta: Andi Offset, 1983.
Djuwaeli, M. Irsyad. Pembaruan Kembali Pendidikan Islam. Cet. I; Jakarta: Yayasan Karsa Utama Mandiri dan PB Matlaul Anwar, 1998.
Fahmi, Mustafa. Penyesuaian Diri: Lapangan Implementasi dari Penyesuaian Diri. Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1983.
Gazalba, Sidi. Masyarakat Islam: Pengantar Sosiologi dan Sosiografi. Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1996.
Getteng, Abd. Rahman. Pendidikan Islam Dalam Pembangunan. Ujung pandang: Yayasan al-Ahkam, 1997.
Hasbullah. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999.
Ihsan, Fuad. Dasar-dasar Kependidikan. Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1991.
Indar, M. Djumberansyah. Filsafat Pendidikan. Surabaya: Abditama, 1994.
Joesoef, Soelaiman dan Slamet Santoso, Pendidikan Luar Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional, 1979.
--------------.  Pengantar Pendidikan Sosial. Surabaya: Usaha Nasional, 1981.
Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi. Jakarta: Penerbit Universitas, 1999.
Kuntowijoyo. Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Cet. VII; Bandung: Mizan, 1996.
Langgulung, Hasan. Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan. Cet. III ; Jakarta : Al-Husna Zikra, 1995.
Majid, Nurcholish. Masyarakat Religius. Cet. I; Jakarta: Paramadina, 1997.
Muhaimin dan Abd. Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis Kerangka Dasar Operasionalnya. Cet. I; Bandung: Tirgenda Karya, 1993.
Nawawi, Hadari. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas sebagai Lembaga Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung, 1985.
Robinson, Philip. Prespectives on the Sosiology of Education: an Introduction, diterjemahkan oleh Hasan Basari dengan judul Beberapa Prespektif Sosiologi Pendidikan, Edisi I. Cet. I; Jakarta: Rajawali, 1986.
Santoso, Slamet Imam. Pembinaan Watak Tugas Utama Pendidikan. Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1981.
Shadily, Hasan. Ensiklopedi Indonesia, Jilid V. Jakarta: Ikhtisar Baru Van Hoeva, t.th..
Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an. Cet. XV; Bandung: Mizan, 1997.
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Cet. I; Jakata: Bina Aksara, 1988.
Soedomo, M. Sekitar Eksistensi Sekolah,. Yogyakarta: Henedita Offset, 1987.
Soejono,Ag. Aliran Baru dalam Pendidikan, Bagian ke-2. Cet. I; Bandung: CV. Ilmu, 1979.
Soekanto, Soerjono. Sosiologi: Suatu Pengantar. Cet. I; Jakarta: Rajawali, 1985.
Suwarno. Pengantar Umum Pendidikan. Jakarta: Aksara Baru, 1985.
Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Cet. I; Bandung : Remaja Rosdakarya, 1992.
Uhbiyati, Nur. Ilmu Pendidikan Islam. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1996.
Ulwan, Abdullah Nasih. Pendidikan Anak Menurut Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992.
Wahyoetomo. Perguruan Tinggi, Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan. Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1997.
Yunus, Mahmud. Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran. Cet. I; Jakarta: Hidakarya Agung, 1961.
Zuhairini. et.al., Filsafat Pendidikan Islam. Cet. II, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.



[1]Nurcholish Majid, Masyarakat Religius (Cet. I; Jakarta: Paramadina, 1997), h. 114-116.
[2]H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner (Cet. IV; Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 1
[3]Zuhairini, et.al., Filsafat Pendidikan Islam (Cet. II, Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 173.
[4]Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan (Cet. III ; Jakarta : Al-Husna Zikra, 1995), h. 374.
[5]Muhammad Atiyyah Al-Abrasyi, al-Tarbiyyah al-Islamiyyah. Diterjemahkan oleh H. Bustami A. Gani dan Djohar Bahny dengan judul Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam (Cet. VII; Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 83.
[6]Muhaimin dan Abd. Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis Kerangka Dasar Operasionalnya (Cet. I; Bandung: Tirgenda Karya, 1993), h. 68.
[7]Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak Menurut Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), h. 75.
[8]Istilah Tripusat pendidikan ini adalah istilah pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, Tripusat pendidikan yang dimaksudkan yaitu pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan di lingkungan masyarakat. Ketiga lembaga pendidikan tersebut tidak dapat berjalan tanpa ada keterkaitan satu sama lain, sebab merupakan satu rangkaian dari tahap-tahap pendidikan yang harus berjalan seiring. Wahyoetomo, Perguruan Tinggi, Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan (Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1997), h. 21. dan Ag. Soejono, Aliran Baru dalam Pendidikan, Bagian ke-2 (Cet. I; Bandung: CV. Ilmu, 1979), h. 97.
[9]Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati¸ Ilmu Pendidikan (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h. 176.
[10]Muhammad ‘Abd al-’Aliy, the Family Structure in Islam (Maryland: International Grafic Printing Service, t.th), h. 9. M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an (Cet. XV; Bandung: Mizan, 1997), h. 255.
[11]Abd. Rahman Getteng, Pendidikan Islam Dalam Pembangunan (Ujung pandang: Yayasan al-Ahkam, 1997), h. 70-71. Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (Cet. I; Jakata: Bina Aksara, 1988), h. 62-63.
[12]Abd. Rahman Getteng, Pendidikan Islam Dalam Pembangunan, h. 72-73.
[13]M. Soedomo, Sekitar Eksisten Sekolah, (Yogyakarta: Henedita Offset, 1987), h. 25.
[14]Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas sebagai Lembaga Pendidikan (Jakarta: Gunung Agung, 1985), h. 25.
[15]Hasan Shadily, Ensiklopedi Indonesia, Jilid V (Jakarta: Ikhtisar Baru Van Hoeva, t.th.), h. 3051.
[16]Sidi Gazalba, Masyarakat Islam: Pengantar Sosiologi dan Sosiografi (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1996), h. 11-12. Syamsuddin Abdullah, Agama dan Masyarakat: Pendekatan Sosiologi Agama (Cet. I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 4.
[17]Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi (Jakarta: Penerbit Universitas, 1999), h. 100.
[18]Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h. 84.
[19]Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, h. 85.
[20]Shaleh Abd’ al-Azis, al-Tarbiyah al-Hadisah Maddatuha, Mabadiuha, Tatbiqatuha al-Amaliyyah, Jilid III (Cet.VII; Misra: Dar al-Ma’arif, 1976), h. 131.
[21]Soelaiman Joesoef dan Slamet Santoso, Pendidikan Luar Sekolah (Surabaya: Usaha Nasional, 1979), h. 3.
[22]Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati¸ Ilmu Pendidikan, h. 178.
[23]Slamet Imam Santoso, Pembinaan Watak Tugas Utama Pendidikan (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1981), h. 121.
[24]Soelaman Joesoef dan Slamet Santoso, Pengantar Pendidikan Sosial (Surabaya: Usaha Nasional, 1981), h. 61.
[25]Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999), h. 43.
[26]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Cet. I; Bandung : Remaja Rosdakarya, 1992), h. 135.
[27]Imam Barnadib, Pemikiran Tentang Pendidikan Baru (Yogyakarta: Andi Offset, 1983), h. 129.
[28]H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, h. 40.
[29]Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h. 90-91.
[30]Mustafa Fahmi, Penyesuaian Diri: Lapangan Implementasi dari Penyesuaian Diri (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1983), h. 7.
[31]Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1996), h. 213.
[32]Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan (Jakarta: Aksara Baru, 1985), h. 70.
[33]Mahmud Yunus, Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran (Cet. I; Jakarta: Hidakarya Agung, 1961), h. 34.
[34]M. Irsyad Djuwaeli, Pembaruan Kembali Pendidikan Islam (Cet. I; Jakarta: Yayasan Karsa Utama Mandiri dan PB Matlaul Anwar, 1998), h. 40.
[35]Philip Robinson, Prespectives on the Sosiology of Education: an Introduction, diterjemahkan oleh Hasan Basari dengan judul Beberapa Prespektif Sosiologi Pendidikan, Edisi I (Cet. I; Jakarta: Rajawali, 1986), h. 179.
[36]Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar (Cet. I; Jakarta: Rajawali, 1985), h. 317.
[37]Achmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan (Cet. I; Yogyakarta: Aditya Media bekerjasama dengan BP. IAIN Walisongo Press, 1992), h. 38.
[38]Bakir Yusuf Barmawi, Pembinaan Kehidupan Beragama Islam pada Anak (Cet. I; Semarang: Dmas, 1993), h. 31.
[39]Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (Cet. VII; Bandung: Mizan, 1996), h. 185.
[40]H. B. Hamdani Ali, Filsafat Pendidikan (Cet. III; Yogyakarta: Kota Kembang, 1993), h. 217.
[41]M. Djumberansyah Indar, Filsafat Pendidikan (Surabaya: Abditama, 1994), h. 66.
Post a Comment