Tuesday, February 9, 2016

PERANG SALIB (Sebab-sebab Timbulnya, Periodisasi, Hasil, dan Kesudahannya)

I. PENDAHULUAN

A. latar Belakang Masalah

          Sejarah Islam telah berjalan hampir 14 abad lamanya dibagi ke dalam periode klasik, periode pertengahan dan periode modern. Periode klasik merupakan masa ekspansi, sebelum Nabi Muhammad saw. Wafat, seluruh semenanjung Arabia telah tunduk ke bawah kekuasaan Islam. Ekspansi di luar Arabia dimulai pada zaman Abu Bakar al-Shiddiq.[1]  Dalam sejarah Islam dikenal dua kerajaan Islam yang besar yakni Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.[2] Masa Bani Umayyah merupakan masa ekspansi daerah kekuasaan Islam, masa bani Abbasiyah adalah masa pembentukan dan perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam.
            Di lapangan kebudayaan, kebudayaan yang ada mulai dari Spanyol di Barat sampai ke India di Timur dan mulai dari Sudan di Selatan sampai ke Kaukasus di Utara adalah kebudayaan Islam dengan bahasa Arab sebagai alat komunikasi. Tegasnya kebudayaan Yunani di Mesir, Suria dan Persia. Kontak dengan Barat itu membawa masa yang gilang-gemilang bagi Islam.[3] Perluasan wilayah Islam tidak hanya memberikan keuntungan di bidang politik saja, tetapi juga keuntungan di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Cendekiawan-cendekiawan Islam bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan dan falsafat yang mereka pelajari dari buku-buku Yunani itu, tetapi menambahkan ke dalamnya hasil-hasil penyelidikan yang mereka lakukan sendiri dalam lapangan ilmu pengetahuan dan hasil pemikiran mereka dalam lapangan falsafat. Dengan demikian lahirlah ahli ilmu pengetahuan dan filosof-filosof Islam.
        Periode ini merupakan periode peradaban Islam yang tinggi dan mempunyai pengaruh yang besar. Bersamaan itu Eropa masih berada pada abad kegelapan, kebudayaan Kristen di Eropa belum maju. Nanti Eropa mulai sadar akan adanya peradaban Islam yang tinggi di Timur melalui Spanyol, Sicilia dan perang salib. Peradaban itu sedikit demi sedikit di bawah ke Eropa. Eropa diselubungi oleh suasana pikiran sempit.[4]
          Kemajuan Islam ditandai dengan banyaknya wilayah yang dikuasai termasuk wilayah Bizantium jatuh pada kekuasaan tentara Islam hal inilah yang menyebabkan kebencian kaum Kristen Eropa terhadap Islam, yang kelak menjadi pemicu terjadinya perang salib.
  
B. Rumusan Masalah
       Dari pemaparan latar belakang tersebut dapat dipahami bahwa Perang salib mempunyai arti yang penting bagi Eropa, dalam makalah ini akan dikemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1.      Apa sebab-sebab timbulnya perang salib?
2.      Bagaimana periodisasi terjadinya perang salib ?
3.      Bagaimana hasil dan kesudahannya ?

II. PEMBAHASAN

A.     Sebab-sebab timbulnya perang salib
            Sejak terjadinya kontak antara dunia Timur dan dunia Barat, terus menerus ada usaha saling mempengaruhi. Dalam usaha saling mempengaruhi ini maka perang salib mempunyai arti penting dalam sejarah Islam. Ahmad Idris mengemukakan bahwa : perang salib ini merupakan suatu peperangan besar yang terkenal dalam sejarah. Dilancarkan pihak Barat melawan kaum Muslimin atas restu Paus Urban II (1088-1099 M.) dari Vatikan. Ia mengobarkan semangat perang suci (Holy War) untuk merebut tanah suci Yerussalam dari kekuasaan kaum Muslimin.[5]
            Dinasti Saljuk memperluas daerah kekuasaannya di Timur kemudian mengalihkan perhatiannya ke Barat, dengan tujuan menaklukkan kerajaan Fatimiyah. Namun dia memaksa negara kecil Georgia untuk menyerah kepadanya. Gerakan-gerakannya di daerah ini tahun 1064 dan 1068 berhasil mengamankan perbatasannya di Azerbaijan, pada waktu yang sama membuka jalan bagi suku-suku Turkoman, yang terikat persekutuan longgar dengannya, untuk melakukan serangan-serangan ke wilayah Armenia dan Bizantium. Orang-orang Bizantium yang jengkel karena serangan itu, kemudian menyerang orang-orang Islam, namun akhirnya perjanjian damai dicapai.[6]
            Philip K. Hitti mengemukakan bahwa terjadinya perang salib itu adalah lebih tepat kalau dikatakan, perang salib itu adalah reaksi dunia Kristen di Eropa terhadap dunia Islam di Asia, yang sejak tahun 632 merupakan pihak penyerang, bukan saja di Syiria dan Asia kecil, tetapi juga di Spanyol dan Sicilia.[7]
W. Montgomery Watt mengemukakan bahwa : arti penting perang salib bagi dunia Islam, berbeda bagi Eropa Barat. Bagi ummat Islam pada umumnya perang salib tidak lebih dari suatu insiden perbatasan suatu kelanjutan dari pertempuran-pertempuran yang telah berlangsung di Suria dan Plestina selama setengah abad belakangan ; bilamana tidak ada penguasa tertinggi yang cukup kuat untuk menjaga ketentraman. Sebaliknya bagi orang-orang Eropa, perang salib dikaitkan dengan kebangkitan kembali agama, dan bahkan dikaitkan dengan suatu gerakan kerohanian besar dalam mana dunia Kristen Barat mengalami kesadaran identitas yang baru.[8]
K. Ali mengemukakan bahwa pada abad XI Yerussalem berada di bawah kekuasaan Turki Saljuk, sementara saat itu jemaah Kristen dari Eropa bertambah banyak. Di antara mereka ada yang kelompoknya mendapat perlakuan yang tidak wajar.
Pada saat itu, di Eropa terjadi persaingan pengaruh antara para petinggi-petingginya. Mereka saling berambisi untuk merekrut tentara sebanyak-banyaknya. Hal ini dimanfaatkan oleh kalangan Kristen/Paus dengan meniupkan roh keagamaan kepada para tentara dan petingi-petingginya, sehingga bertekat menyatakan diri melawan orang-orang Islam.[9]
Sebab langsung terjadinya perang salib adalah adanya permintaan kaisar Alexius Comnenus pada tahun 1095 kepada Paus Urbanus II, Kaisar dari Bizantium itu meminta bantuan dari Romawi, karena daerah-daerahnya yang terseret sampai ke pesisir laut Maranora di tindas dan dibinasakan oleh Dinasti Saljuk.[10]
Permintaan kaisar Alexius tersebut dikabulkan oleh Paus Urbanus II. Paus berseruh kepada ummat Kristen Eropa supaya bangkit mengadakan perang suci terhadap ummat Islam, maka raja Kristen Eropa menyiapkan diri bersama pasukannya untuk turut serta dalam peperangan tersebut.
Pidato Paus Urban II pada tanggal 26 November 1095 di Clermont (Perancis Selatan)[11] mempunyai pengaruh yang besar, di mana orang-orang Kristen mendapat suntikan untuk mengunjungi kuburan suci dan merebutnya dari tangan orang-orang yang bukan Kristen. Seruan bersama “Tuhan menghendaki yang demikian” menggelora di seluruh negeri, baik pada lapisan bawah maupun lapisan atas masyarakat.[12]
Seruan Paus tersebut membentuk panatisme keagamaan bagi ummat Kristen sehingga terbentuklah sebuah angkatan perang yang sangat tangguh yang diberi nama angkatan perang salib.[13]
Jika diteliti secara seksama, maka penyebab terjadinya perang salib dapat dilihat pada beberapa faktor berikut ini :
1. Faktor agama
            Masyarakat Eropa adalah masyarakat Kristen yang terikat kepada dogma Gereja, sangat fanatik terhadap pemimpin agama atau Paus sehingga seruan Paus sangat dipercaya dan diikuti. Baital Maqdis sebagai sebuah kota suci bukan hanya bagi ummat Yahudi dan Islam tapi juga bagi ummat Kristen, maka bersiarah ke kota tersebut bagi ummat Kristen merupakan perbuatan yang baik. Sementara pada waktu itu kota ini dikuasai oleh orang Islam, sehingga mereka bermaksud untuk merebut kota suci tersebut dari kekuasaan Islam.
            Orang-orang Kristen datang ke tanah suci tersebut dengan anggapan bahwa derajat mereka jauh lebih tinggi dari rakyat di tempat itu dan memandang mereka sebagai penyembah berhala yang memuja Nabi Muhammad sebagai suatu Tuhan.[14]
2. Faktor Politik
            Dinasti Saljuk yang telah menguasai daerah Bizantium[15] di akhir abad XI M. Paus tergerak karena adanya permintaan bantuan dari kaisar Bizantium yang sedang megalami tekanan dari orang-orang Islam sejak pertempuran Manzikert[16] tahun 1071. Tentara salib berada di Istambul
dan menaklukkan Antioch dan Yerussalem bulan Juni 1098.[17]
            Sebahagian pemimpin perang salib ikut dalam peperangan karena didorong oleh kepentingan pribadi yaitu ingin mendirikan kerajaan di daerah yang ditaklukkannya. Raimond dari Toulose (bangsawan yang berkuasa di Perancis), Bodewyn, Godfried dan Tancred, tentara salib itu kemudian mendirikan tiga negara Latin yang kecil di Syria dan Palestina sedang negara-negara lain menyusul.[18]
            Bangsawan Eropa melihat bahwa perang salib ini memungkinkan membuka kesempatan untuk mendirikan kerajaan Latin di daerah Timur, dengan demikian para kesatria (tentara salib) akan mendapatkan lapangan kerja yang layak.
3. Faktor sosial ekonomi
            Tidak semuanya dengan motivasi agama tetapi juga dengan motivasi ekonomi, diantara mereka ada yang ikut berperang karena nafsu dan untuk memperbaiki kedudukan dan memperkaya diri. Pedagang-pedagang dari Venesia dan Genoa mempunyai kepentingan komersial, melihat peluang untuk mengembangkan dan memperbaiki usaha dagang mereka.
Orang-orang kriminil menganggap salib ini, merupakan jalan penebusan dosa, demikian pula orang yang suka bertualang, melihat perang salib ini sebagai suatu kesempatan baru bagi petualang mereka. Demikianlah beberapa faktor yang memotivasi orang ikut dalam perang salib.
 B. Periodisasi Terjadinya Perang Salib
            Masa perang salib yang ditulis oleh sejarahwan terdapat berbagai macam pendapat. Ahmad Syalabi misalnya membagi kepada tujuh periode : I. Tahun 1079-1099. II. Tahun 1147-1149. III. Tahun 1189-1192. IV. Tahun 1202-12-4. V. Tahun 1218-1221. VI. Tahun 1228-1229. VII. Yahun 1248-1250.[19]
            Philip k. hitti mengemukakan bahwa yang lebih tepat adalah sebagai berikut : pertama, masa penaklukan, yang berjalan sampai tahun 1144. Kedua, masa tumbuhnya reaksi Islam terhadap penaklukan itu, puncaknya ditandai dengan kemenangan Salahuddin. Ketiga, masa perang saudara kecil-kecilan yang berakhir pada tahun 1291.[20]
            Perang salib yang berlangsung kurang lebih dua abd lamanya. Untuk jelasnya akan diuraikan sebagai berikut :
1. Periode salib pertama berlangsung dari tahun 1096-1144 M.
            Tidak lama sesudah seruan Paus Urbanus II, yang memberi suntikan kepada bangsa Eropa, maka bangkitlanh semangat dan kekuatan orang-orang Kristen untuk merebut kekuasaan orang-orang Islam.
            Paus Urbanus II menyeru mereka dengan jaminan pengampunan dosa bagi para pasukan yang ikut berperang dan surga bagi yang mati dalam perang.[21] Dengan jaminan tersebut sehingga cepat berkumpul pasukan yang akan ikut berperang.
            Dalam musim semi tahun berikutnya 150.000 orang, sebagian orang-orang Perancis dan Norman, memenuhi panggilan tersebut dan berkumpul di Konstantinopel. Inilah perang salib yang pertama, dan orang-orang yang turut berperang itu memakai tanda salib pada pakaiannya sebagai lambang.[22]
            Angkatan perang salib yang pertama ini, adalah mereka yang telah berkumpul di Konstantinopel pada tahun 1097. Pimpinannya teridiri dari raja-raja dan kaum bangsawan. Mereka tidak mempunyai kesepakatan siapa yang harus menjadi pemimpin untuk mengendalikan pasukan. Kaum bangsawan memimpin pasukannya masing-masing kemedan perang untuk menyerbu daerah kekusaan Islam.
            Pasukan yang berkumpul di Konstantinopel itulah berangkat melalui Asia kecil, yang mengadakan penyerbuan di bawah pimpinan Godfrey, Duke. Berhasil menguasai kota-kota Edessa, kemudian Tarsus, Antiokia dan Aleppo.
            Pada 7 juni 1099 kira-kira 40.000 jemaah salib berada di muka pintu gerbang kota Yerussalem, Garnesium mesir hanya berjumlah kira-kira 1000 orang saja. Jemaah salib berjalan mengelilingi kota tersebut tanpa sepatu sambil meniup nafiri dari tanduk. Yerussalem tentu tidak menyerah dengan begitu saja. Pada 15 Juli para jemaah salib menyerbu memasuki kota dan terjadilah pembunuhan besar-besaran secara membabi buta laki-laki dan perempuan, tua dan muda, semuanya menjadi korban. Tumpukan kepala dan kaki serta tangan nampak di jalan-jalan dan di tanahlapang.[23]
            Terjadinya pembunuhan besar-besaran dan membabi buta terhadap ummat Islam itu, akibat suntikan Paus yang menjanjikan pengampunan dosa dan surga bagi yang mati dalam peperangan. Sesudah peperangan itu terjadi banyak di antara jemaah salib kembali ke negerinya, karena dianggap janjinya telah selesai.
2. Periode salib kedua tahun 1144-1192 M.
            Keberhasilan Salahuddin membawa dirinya menjadi kenamaan di tengah-tengah bangsa Mesir serta mengembalikan semangat jihad ummat Islam sejak terjadinya perang salib. Pada periode ini Salahuddin menjadi penguasa Arab terpenting. Persatuan Mesir dan Syiria Mesopotamia dan Yaman., dengan demikian mencapai konsolidasi yang tersedia untuk perjuangan yang menentukan melawan orang salib.
            Salahuddin mendirikan benteng Cairo di atas gunung Muqattam, untuk menjaga bahaya serangan orang salib. Tempat ini menjadi pusat pemerintahan dan kubu militer sanggup untuk menangkis serangan-serangan dari luar.[24]
             Salahuddin dikenal dalam sejarah sebagai sultan yang banyak membela Islam dalam perang salib.[25] Salahuddin mengadakan perlawanan dan menguasai daerah yang telah direbut oleh pasukan salib.
            Pada 1 Juli 1187 ia menaklukkan Tiberias, setelah mengepung kota tersebut selama enam hari. Menyusul direbut kota Hittim (berdekatan dengan Tiberias). Salahuddin suka memulai suatu serangan pada hari Jumat, hari itu hari sial bagi orang-orang Perancis. Tentara mereka kira-kira 20.000 orang terancam karena haus dan lapar, sehingga jatuh ke tangan musuh. Tawanan perang kaum bangsawan, Guy de Lusignan, raja Yerussalem yang datang menyerahkan diri itu, Salahuddin menerimanya dengan baik.
            Reginold dr Chatillon salah seorang pemimpin Latin yang paling gemar bertualang dan paling jahat. Ia beberapa kali mendekat kotanya. Salahuddin telah bersumpah bahwa ia sendiri akan menghajarnya. Reginold mencoba menarik keuntungan dari tradisi keramah tamaan bangsa Arab menjamu orang, dan ia memohon air seteguk dari perkemahan Salahuddin, tetapi Salahuddin tidak mengabulkannya. Reginold harus menebus kejahatannya dengan nyawanya sendiri. Semua perwira-perwira kaum Tempel dan kaum Hospitol dibunuh di muka umum.[26]
            Tampaknya apa yang dialami Reginold dan perwira-perwiranya itu, mengingatkan peristiwa yang telah dilakukan orang-orang salib di mana terjadinya pembantaian dan pembunuhan besar-besaran terhadap umat Islam pada periode salib pertama.
            Jatuhnya kota Hittin, maka hancurlah kekuasaan orang-orang Perancis. Setelah dikepung satu minggu, maka Yerussalem yang kehilangan tentara pada pertempuran di Hittin, menyerah pada 2 oktober 1187. Lonceng Gereja diganti dengan azan dan salib emas yang terpancang di atas Gereja besar dalam kota itu di turunkan.[27]
3. Periode salib ketiga tahun 1193-1291 M.
            Kemenangan Salahuddin[28] dan menguasai daerah-daerah yang telah dikuasai pasukan salib, jatuhnya kota suci menimbulkan kegoncangan yang besar di Eropa. Frederik Barbarossa kaisar Jerman, Richard raja Inggris dan Philip Augustus raja perancis. Ketiganya adalah raja-raja yang paling berkuasa di Eropa Barat, pergi mengangkat salib, sebagai tanda dimulainya perang salib III (1189-1192).[29]
            Kemenangan Salahuddin menimbulkan kecemasan raja-raja dan pemimpin Eropa, dan masalah yang utama bagi mereka adalah masalah perang suci (salib ketiga). Frederik Barborossa dari Jerman memimpin 100.000 orang, berjalan menuju Palestina, menembus Asia Minor, tetapi tenggelam dalam perjalanannya. Pasukannya bubar kecuali sedikit yang sampai ke Syiria. Pasukan salib Arce di bantu oleh pasukan-pasukan Philip II, raja Perancia dan Richard dari Inggris yang merampas pulau Cyprus dalam perjalanannya.[30] Richard Hati Singa menaklukan Cyprus dalam perjalanannya ke tanah suci, yang kemudian merupakan tempat pelarian para jemaah salib yang didesak dari Darat.
            Dalam pada itu orang-orang Lati di tanah suci memutuskan supaya lota dipakai sebagai kunci untuk merebut kembali daerah-daerah mereka yang sudah hilang.
            Dengan cepat terkumpul tentara ditambah dengan sisa-sisa tentara Frederik dan Laskar Perancis, untuk mengepung kota itu. Kemudian Salahuddin datang membebaskan kota itu dan mendirikan perkemahannya berhadapan dengan kemah musuh. Pertempuran berkobar di darat dan di laut. Selama pertempuran berkobar, terjadilah ceritra yang dicatat oleh penulis-penulis Arab dan Latin di masa itu. Salahuddin dan Richard tukar menukar tanda mata, tetapi satu sama lain belum pernah berjumpa.
            Pengempungan kota itu, dianggap sebagai salah satu operasi militer yang terpenting, memakan waktu dua tahun, dari 27 Agustus 1189 –12 Juli 1191. Orang Perancis beruntung karena mempunyai kapal-kapal perang dan artileri pengepung yang bermutu tinggi, orang-orang Muslim beruntung karena mempunyai komando yang dipegang oleh seorang raja. Tetapi akhirnya Garnisium itu menyerah juga.[31]
            Merupakan suatu kegagalan dalam perang salib ketiga ini adalah dengan adanya perselisihan paham yang timbul antara pemimpinnya. Philip II kembali ke Perancis, meninggalkan Richard untuk berperang melawan ummat Islam.
            Perang suci ini berakhir dengan perjanjian perdamaian pada tahun 1192, syarat-syarat penting perdamaian itu sebagai berikut :
1.      Yerussalen tetap berada di tangan ummat Islam, dan ummat Kristen di izinkan untuk menjalankan ibadahnya di tanah suci.
2.      Orang-orang salib akan mempertahankan partai Syiria dan Tyre sampai ke Jaffa.
3.      Ummat Islam akan mengembalikan relics Kristen kepada ummat Kristen.[32]
Hanya beberapa bulan kemudian sesudah perjanjian itum Salahuddin sakit dan meninggal dunia[33]
Setelah Salahuddin wafat, digantikan oleh saudaranya Adil. Orang-orang salib sudah menyadari bahwa Mesir merupakan bagian yang sangat penting dari negara besar Arab dan bahwa menundukkannya pasti memudahkan jatuhnya Palestina ketangan mereka. Pertempuran anatara Islam dan pasukan salib, silih berganti.
Adil berhasil mengkosolidasikan negara besar Salahuddin. Warisan Adil untuk anaknya Al-Kamil adalah tugas untuk mengusir orang-orang Salib.[34]
Al-Kamil kemudian digantikan oleh putranya Malik al-Shaleh Najamuddin al-Ayyubi. Setelah beliau wafat terjadi penggulingan kekuasaan pada tahun 1250 keluarga Ayyubiyah diruntuhkan oleh sebuah pemberontakan dari resimen budak (Mamluknya). Yang membunuh penguasa terakhir Ayyubiy.[35] Perlawanan terhadap ummat Kristen tetap dilancarkan sekalipun dinasti Mamluk berkuasa, seorang pahlawan wanita gagah berani yakni Syajar al-Dur, dari dinasti Mamluk berhasil menghancurkan pasukan raja Louis IX dari Perancis sekaligus menangkap raja tersebut bukan hanya itu, sejarah telah mencatat bahwa pahlawan wanita gagah perkasa ini telah mampu menujukkan sikap kebesaran Islam dengan membebasakan dan mengizinkan raja Louis IX kembali ke negerinya.[36]
Setelah pasukan salib Kristen berkali-kali berusaha membalas kekalahannya, namun selalu mengalami kegagalan dan satu persatu daerah berhasil ditaklukkan oleh Islam akhirnya pada pertengahan Agustus 1921, benteng Ats (Kastrum Pregrinorum) dihancurkan. Maka tahun itu juga resmi perang salib berakhir.
c. Hasil dan kesudahannya
            Sekalipun secara politis, tentara salib gagal dan tidak berhasil menguasai daerah Islam, tetapi mereka telah mendapat manfaat yang tidak ternilai harganya, baik dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi maupun bidang lainnya.
Ada beberapa hal yang perlu dikemukakan mengenai hasil perang salib oleh beberapa ahli W. Montgomery Watt mengemukakan bahwa dari pandangan sejarah Islam, perang salib adalah usaha yang bodoh. Orang-orang Kristen hanya bersandar pada daya tempur sejumlah ksatria yang bersenjata berat, tetapi mereka tidak mengetahui tentang iklim serta politis di tanah suci atau sumber daya Islam yang besar.[37] Padahal dalam strategi perang, pengenalan iklim dan kekuatan lawan sangat menentukan untuk memenangkan pertempuran.
            Perang salib lebih besar manfaatnya bagi dunia Barat dari pada dunia Timur. Pengaruh peradabannya lebih banyak terletak dalam lapangan seni, industri dan perdagangan dan juga dalam lapangan ilmu pengetahuan dan kesusastraan. Sementara di pihak Islam khususnya di Syiria peperangan itu meninggalkan jejak penghancuran dan pemusnahan dan di seluruh Timur-Dekat di wariskannya suatu dendam antara orang-orang Muslim dan Kristen.[38]
Hasil-hasil yang lebih besar dalam lapangan pertanian, seperti cengkeh dan rempah-rempah lainya yang harum, seperti lada, dalam abad ke II mulai dipakai orang di Barat dan sejak itu sesuatu pesta belum terasa sempurna kalau tidak ada hidangan-hidangan yang berbumbu. Di Mesir jemaah salib belajar memakan jahe dan gula.[39]
 Dalam bidang perindustrian mereka banyak menemukan kain tenun sekaligus peralatan tenun di dunia Timur. Mereka juga menemukan berabagai jenis parfum, kemenyan dan getah Arab yang dapat mengharumkan ruangan. Di samping itu mereka juga mengenal penemuan sperti kompas alat kelautan dan kincir angin. Sistem pertanian yang sama sekali baru di dunia Barat mereka temukan di Timur Islam, model irigasi yang praktis.[40]
            Kirk berkata, sesungguhnya perang salib itu sesuatu yang penting, yang tidak ada dalam sejarah kebudayaan Eropa. Sebagai akibat besarnya pengaruh itu untuk membuka pikiran manusia dalam rangka meningkatkan kebudayaan di Timur Tengah. Pasukan salib membawa hal penting untuk kemajuan dan langkah-langkah perang.[41]
            Jemaah perang salib itu jugalah yang menimbulkan perhatian padri-padri Eropa kepada bahasa Arab. Sudah dapat diduga bahwa pengaruh-pengaruh yang didapati dalam lapangan siasat perang lebih besar artinya. Pemakaian busur salib, kuda dan sebukan kapas dalam perlengkapan senjata, semuanya itu dari jemaah perang salib. Ke Syiria orang-orang Perancis belajar dari pendidikan asli cara melatih merpati untuk kepentingan pewartaan militer.[42]
            Emerton mengemukakan sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Syalabiy : “Bahwa kebudayaan yang diperoleh tentara salib dari kaum Muslimin, dengan kehidupan yang baik berupa kemajuan dalam memahami kebudayaan itu, dan dikembalikanlah pembahasan itu kepada sejarah Eropa dikalangan kaum Muslimin. Pada masa itu mulailah kebudayaan Islam dan kebudyaan Yunani diambil alih oleh kaum Muslimin dan menuju Eropa, sehingga hubungan Eropa dengan kaum Muslimin tidak terputus dan lebih luas untuk menemui kaum Muslimin di Eropa.”[43]
            Dengan demikian, ummat Kristen lewat perang salib ini memperoleh manfaat yang sangat besar dan tak ternilai harganya karena berhasil menemukan berbagai pengalaman yang menyebabkan mereka bisa bangkit dari kebodohan ke arah kemajuan dengan adanya renaissance.

III. PENUTUP
Dari uraian terdahulu dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.   Perang salib lebih tepat kalau dikatakan adalah reaksi dunia Kristen di Eropa terhadap dunia Islam di Asia. Perang salib adalah merupakan suatu peperangan besar yang terkenal dalam sejarah. Dilancarkan pihak Barat melawan kaum Muslimin atas restu Paus Urbanus II dari Vatikan. Ia mengobarkan semangat perang suci (Holy Wor), untuk merebut tanah suci Yerussalem dari kekuasaan kaum Muslimin.
2. Masa perang salib terdapat berbagai macam pendapat sejarahwan, ada yang mengatakan yang tepat adalah masa penaklukan sampai tahun 1144, masa reaksi Islam puncaknya dengan kemenangan Salahuddin, masa perang saudara kecil-kecilan yang berakhir tahun 1291, berlangsung kurang lebih dua abad lamanya.
3.  Perang salib lebih besar pengaruhnya bagi dunia Barat dari pada bagi dunia Timur sekalipun ummat Kristen mengalami kekalahan secara politis. Di dunia Barat Pengaruh peradabannya lebih banyak terletak dalam lapangan seni, pertanian, industri dan perdagangan juga dalam lapangan kerohanian, ilmu pengetahuan dan kesusastraan. Sementara di pihak Islam Timur yang tersisa adalah puing-puing kekuasaan yang membutuhkan upaya keras untuk memperbaikinya kembali. 

DAFTAR PUSTAKA

Ali, K. A Studi of Islamic History New Delhi: Idara al-Adabiyah Delhi, t.th.
Ali, K. Sejarah Islam dari Awal Hingga Runtuhnya Dinsati Usmani : Tarikh Pra Modern Cet. II; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1997
Amed, Akbar S. Dicover Islam, Making Sence of Muslim History and Societi diterjemahkan oleh Nunding Ran dan Ramli.Yakub dengan judul Citra Muslim : Tinjauan Sejarah dan Sosiologi Cet. I; Jakarta: Erlangga, 1992.
Grunebaun, G.E. Von. Classical Islam : A History 600-1258 AD Chicago : Aldine Publishing Comapany, 1970.
Hassan, Hassan Ibrahim. Islamic History and Culture diterjemahkan oleh Djahdam Human dengan judul Sejarah dan Kebudayaan Islam Yogyakarta : Kota kembang, 1989.
Hitti, Phlip K. History of The Arabs diterjemahkan oleh Usuluddin Hutagalung dan O.D. P. Sihombing dengan judul Dunia Arab Sejarah Ringkas Bandung : Vorkink Van Hoeve, t.th.
Idris, Ahmad. Tarihut al-Injil wa al-Kantsiyah diterjemahkan oleh H. Salim Basyarahil, dengan judul Sejarah Injil dan Gereja Cet. I; Jakarta : Gema Insani Press, 1991.
Lapidus, Ira M. A History of Islamic Societies diterjemahkan oleh Gufron A. Masadi dengan judul Sejarah Sosial Ummat Islam Cet. II; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000.
Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Cet. I; Jakarta: UI-Press, 1985.
Syalabi, Ahmad. Mausu’at at-Tārikh al-Islamy Cet. V; Kairo : Maktabat al-Nahdhah, 1988.
Tim Penyusun Einsiklopedi, Ensiklopedi Islam Cet. III; Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994.
Al-Wakil, Muhammad Sayyid. Lamhatun Min Thariq al-Da’wat : Asbab al-Dha’Ummat al-Islamiyah diterjemahkan oleh Fadhli bahri dengan judul Wajah Dunia Islam dari Dinasti bani Umayyah hingga Imfrealisme Modern Cet. I; Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 1998.
Watt, W. Montgomery. The Majesty that Was Islam diterjemahkan oleh Hartono Hadikusuma dengan judul Kejayaan Islam : Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis Cet. I; Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1990


[1] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (Cet. I; Jakarta: UI-Press, 1985), h. 56-57.
[2] W. Montgomery Watt, The Majesty that Was Islam diterjemahkan oleh Hartono Hadikusuma dengan judul Kejayaan Islam : Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis (Cet. I; Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1990), h. 13 dan 198.
[3] Lihat Harun Nasution, op.cit., h. 70.
[4] Ibid., h. 74.
[5] Ahmad Idris, Tarihut al-Injil wa al-Kantsiyah diterjemahkan oleh H. Salim Bahraesyi, dengan judul Sejarah Injil dan Gereja (Cet. I; Jakarta : Gema Insani Press, 1991), h. 79.
[6] Lihat W. Montgomery Watt, op.cit., h. 247.
[7] Phlip K. Hitti, History of The Arabs diterjemahkan oleh Usuluddin Hutagalung dan O.D. P. Sihombing dengan judul Dunia Arab Sejarah Ringkas (Bandung : Vorkink Van Hoeve, t.th), h. 224.
[8] Lihat, W. Montgomery Watt. Op.cit., h. 254-255.
[9] K.Ali, A Studi of Islamic History (New Delhi: Idara al-Adabiyah Delhi, t.th), 274.
[10] Lihat Philip K. Hitty, op.cit., h. 224.
[11] Sri Paus secara terang-terangan mengumumkan permusuhannya kepada kaum Muslimin dengan menyerukan diselenggarakannya kongres tahunan yang dihadiri oleh seluruh sekte Kristen di Eropa Barat. Seruan ini disambut baik oleh ummat Kristiani. Kongres dihadiri sebanyak 225 uskup Gereja Eropa. Sri Paus berpidato di hadapan hadirin, ia menjelaskan kondisi Baitul Maqdis sebagai salah satu tempat suci mereka berada di tangan kaum Muslimin yang harus dibebaskan. Ia menjanjikan surga bagi tentara-tentara yang mati dalam pembebasan tanah suci. Peserta kongres menjawab : “Itulah sebenarnya yang dikehendaki Allah “. Setelah Sri Paus mendengar jawaban tersebut, ia kemudian memasang salib di atas lengan para sukarelawan sebagai tanda bahwa perang ini adalah perang suci. Seruan ini menembus jantung orang Kristen dan disambut oleh salah seorang pendeta Perancis yang sangat terkenal bernama Boutros. Ia kemudian berkeliling ke pelosok negeri meminta dukungan. Dengan gaya bahasanya yang memukau ia berhasil membangkitkan perasaan keagamaan orang-orang Kristen dan mengajak mereka berperang sambil pura-pura menangisi Baital Maqdis. Lihat Muhammad Sayyid al-Wakil, Lamhatun Min Tharikhid al-Da’wat : Asbab al-Dha’fil Ummat al-Islamiyah diterjemahkan oleh Fadhli bahri dengan judul Wajah Dunia Islam dari Dinasti bani Umayyah hingga Imprealisme Modern (Cet. I; Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 1998), h. 170-171.
[12] Lihat Philip K. Hitti op.cit., h. 267.
[13] Dinamai perang salib oleh karena orang-orang yang ikut berperang itu memakai tanda salib pada pakaiannya sebagai lambang perang suci.
[14] Lihat Philip K. Hitty, op.cit. h. 228.
[15] Kota Bizantium dibangun bangsa Yunani kira-kira abad ke-7 SM. Pada tahun 330, kota ini dijadikan ibukota kekaisaran Romawi oleh kaisar Konstantine Agung dan namai Konstantinopel (kota Konstantin). Setelah pecahnya kekaisaran Romawi pada tahun 395 kota itu menjadi ibu kota kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), sedang ibu kota kekaisaran Romawi Barat adalah Roma. Kota Bizantium sekarang berubah menjadi Istanbul, penjelasan lebih lanjut lihat Tim Penyusun Einsiklopedi, Ensiklopedi Islam (Cet. III; Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), h. 273-275.
[16] Peristiwa ini terjadi di masa pemerintahan dinasti bani Saljuk di bawah pimpinan Alf Arselan yang mengadakan ekspansi ke Barat menembus pusat kebudayaan Romawi di Asia kecil yaitu Bizantium. Tentara Alf Arselan hanaya berkekuatan 15.000 tentara mampu mengalahkan tentara Romawi dengan jumlah yang besar sekitar 200.000 orang yang teridir dari tentara Romawi, Ghuz al-Akraj, al-Hajr, Perancis dan Armenia. Dengan dikuasainya Manzikart ini, maka terbukalah peluang ummat Islam untuk melaksanakan gerakan-gerakan di Asia kecil. Lihat G.E. Von Grunebaun, Classical Islam : A History 600-1258 AD (Chicago : Aldine Publishing Comapany, 1970), h. 154.
[17] Lihat W. Montgomery Watt, op.cit., h. 255
[18] Lihat Philip K. Hitty, op.cit., h. 228.
[19] Ahmad Syalabi, Mausu’at at-Tārikh al-Islamy (Cet. V; Kairo : Maktabat al-Nahdhah, 1988), h. 567.
[20] Lihat Phip K. Hitty op.cit. h. 227.
[21] Lihat K. Ali op.cit., h. 274-275.
[22] Lihat, Philip K. Hitty opcit., h. 226.
[23] Ibid., h. 227-228.
[24] Hassan Ibrahim Hassan, Islamic History and Culture diterjemahkan oleh Djahdam Human dengan judul Sejarah dan Kebudayaan Islam (Yogyakarta : Kota kembang, 1989), h.285.
[25] Lihat, Harun Nasution, op.cit., h. 81.
[26] Lihat, Philip K. Hitty, op.cit.,, h. 230-231.
[27] Ibid., h. 231.
[28] Salahuddin dikenal di Eropa Saladin dengan gelar The Chanpion of Islam beliau merupakan tokoh Muslim paling terkenal di dunia Barat di samping tokoh lainnya. Ia banyak digambarkan dalam novel populer (terutama pada sejumlah karya pengarang Walter Scoot dan Rider Haggars) dan dikisahkan dalam film karya Reks Harrison yang berjudul “Saladin”. Bagi Eropa beliau merupakan penantang yang ideal dan romantis. Tidaklah mengherankan jjika pada tahun 1920 seorang jenderal Perancis, yang dipengaruhi oleh semangat kemenangan Eropa atas terpecah belahnya wilayah Arab, mengetuk kubur Saladin di Damaskus sembari berkata :”Bangunlah Saladin kami telah datang kembali”. Dalam perkataan sang jenderal tersebut tersirat dendam perang salib yang mendalam lebih lanjut lihat Akbar S. Amed, Dicover Islam, Making Sence of Muslim History and Societi diterjemahkan oleh Nunding Ran dan Ramli Yakub dengan judul Citra Muslim : Tinjauan Sejarah dan Sosiologi (Cet. I; Jakarta: Erlangga, 1992), h. 56.
[29] Lihat Philip K. Hitty op.cit., h. 232.
[30] Lihat, Hassan Ibrahim Hassan op.cit., h. 287.
[31] Lihat Philip K. Hitty op.cit., h. 233-234.
[32] Lihat, Sejarah Kebidayaan h. 287.
[33]Salahuddin meninggal di Damaskus dalam usia 55 tahun. Salahudiin pemimpin bangsa Arab yang sopan, simpatik, sholeh dan rajin. Jasanya banyak, di antaranya monumen yang didirikannya yang masih ada serta dapat dibanggakan karena arsitekturnya benteng Kairo.
[34] Lihat, h. 289.
[35] Lihat Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies diterjemahkan oleh Gufron A. Masadi dengan judul Sejarah Sosial Ummat Islam (Cet. II; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h. 547.
[36] Lihat Philip K. Hitty op.cit., h. 640.
[37] Lihat, W. Mongomery Watt. op.cit., h. 255
[38] Lihat Philip K. Hitty op.cit.,h. 237.
[39] Lihat ibid., h. 240.
[40] Lihat K. Ali, Sejarah Islam dari Awal Hingga Runtuhnya Dinsati Usmani : Tarikh Pra Modern (Cet. II; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1997), h. 283.
[41] Lihat, Ahmad Syalaby op.cit., h. 627.
[42] Lihat Philip K. Hitty, op.cit., h. 239.
[43] Lihat Musu’at h. 627.
Post a Comment