Tuesday, February 9, 2016

SEJARAH TIMBULNYA PERSOALAN-PERSOALAN TEOLOGI DALAM ISLAM



I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah Islam telah mencatat, bahwa munculnya persoalan teologi berakar dari munculnya persoalan politik,[1] juga karena faktor pemahaman ayat-ayat al-Qur'an dan faktor masuknya filsafat Yunani ke dunia Islam. Islam adalah agama samawi yang diwahyukan kepada Rasulullah untuk disampaikan kepada manusia, yang pokok ajarannya berpedoman kepada al-Qur'an dan Sunnah. Ayat-ayat al-Qur'an membawa prinsip-prinsip dasar ajaran agama Islam, ada ajaran dasar menghendaki penjelasan pelaksanaan, sementara Nabi sudah wafat serta Islam mulai tersiar di luar jazirah Arab, sehingga akulturasi budaya tak dapat dihindarkan. Mulai dari khalifah rasyidah, sampai berdirinya dinasti dalam pemerintahan Islam. Semua itu meningkatkan polemik dan diskursus atas berbagai persoalan politik dan keislaman.
Teologi Islam sebagai suatu disiplin ilmu belumlah dikenal di zaman nabi. Perkataan teologi yang dalam bahasa Arab disebut dengan ilmu kalam belum muncul waktu itu, meskipun demikian, cikal bakal yang dapat mengarah kepada lahirnya teologi Islam di kemudian hari, telah terdapat dalam ajaran dasar Islam itu sendiri.[2]
        Persoalan teologi muncul menjadi suatu medan perdebatan di tengah-tengah kaum muslimin setelah terjadinya arbitrase antara 'Ali bin Abi Talib dan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Hal itu berawal dari perseteruan politik di antara kedua kelompok tersebut, dan berakhir dengan sebuah konsekuensi, yaitu terbentuknya kelompok-kelompok baru yang mencari bentuk pandangan dan pemahaman yang lain.
Isu-isu yang berkembang pada saat itu, tidak lagi terbatas pada isu-isu politik semata, tetapi justru berkembang menjadi teologis yang bertujuan untuk melegitimasi sikap-sikap politik kelompok mereka.
Berdasarkan uraian di atas, dalam makalah ini tidaklah bermaksud menguraikan aliran-aliran teologi yang ada, akan tetapi hanya berusaha mengemukakan latar belakang timbulnya persoalan-persoalan teologi dalam Islam.

B. Rumusan Masalah
        Dari deskripsi yang dipaparkan pada latar belakang, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Bagaimana latar belakang timbulnya persoalan-persoalan teologi dalam Islam?”

II. PEMBAHASAN
Al-Qur'an, kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dalam bahasa Arab yang dapat dipahami para sahabat Nabi. Walaupun begitu, tidaklah berarti bahwa setiap ayat al-Qur'an itu dapat dipahami maksudnya secara ijmal dan tafshil. Sebagai contoh, ada riwayat bahwa seseorang bertanya kepada ‘Umar bin al-Khattab tentang pengertian ungkapan وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (buah-buahan dan abba), dalam al-Qur'an (80) : 31, ‘Umar hanya menjawab, “kita dilarang untuk takalluf dan ta’ammuq”. Umumnya para sahabat Nabi merasa cukup dengan pengertian ijmali (garis besar) yang mereka miliki tentang ayat atau ungkapan dalam al-Qur'an dan hadis. Mereka tidak mau memestikan / memaksa diri mereka untuk menggali maksud / pengertian secara terperinci. Tentang ungkapan yang dinyatakan itu, mereka sudah cukup dengan mengambil pengertian bahwa فَاكِهَة dan أَبًّا itu adalah sebahagian dari nikmat yang diberikan Tuhan.[3]
Menyangkut masalah hukum (syariat), para sahabat banyak bertanya kepada Nabi untuk mendapatkan penjelasan, tidak demikian sikap mereka dalam bidang aqidah; setelah mereka mengetahui aqidah yang diajarkan oleh Nabi, maka mereka imani dengan sepenuh hati dan tidak lagi cenderung untuk bertanya, lebih lanjut di sekitar akidah yang telah diajarkan. Sikap begini tetap berlangsung hingga Nabi wafat. Para sahabat cukup terlibat dalam pembahasan-pembahasan bidang hukum; mereka mendapat tantangan mendesak untuk memikirkan masalah-masalah yang tumbuh dan berkembang, sehubungan dengan meluasnya daulah Islamiyah (dalam masa pemerintahan khulafa rasyidin, 11-40 H., daulah Islamiyah telah meliputi Arabia, Syam, Irak, Persia, Mesir, Afganistan, Libya). Sedangkan dalam bidang aqidah, mereka tidak merasa terpanggil untuk berdiskusi.[4]
Dalam menghadapi ayat-ayat mutasyabihat, seperti dalam surah °aha ayat 5, الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas arsy.[5]
Sehubungan dengan itu, mereka mengatakan bahwa Tuhan itu seperti yang disebutkan oleh Tuhan sendiri dan rasul-Nya, tapi tidaklah serupa Tuhan dengan makhluk-Nya, karena Tuhan mengatakan dalam QS. asy-Syura: 11. لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ (Tak suatupun yang menyerupai-Nya).[6] Jadi, metode ulama salaf dan para Imam adalah menetapkan apa yang ditetapkan Allah tanpa menanyakan bagaimana, tanpa menyamakan, tanpa menyelewengkan dan tanpa mengosongkan maknanya.[7]
Dapat dipahami, bahwa dengan sikap seperti itu, kesatuan mereka dalam aqidah Islam terpelihara kuat; ikhtilaf dalam lapangan akidah tidak muncul sebagaimana munculnya ikhtilaf mereka dalam lapangan hukum.[8] Kendatipun demikian, masa Nabi dan masa khulafa rasyidin tidaklah bebas mutlak dari bibit-bibit perbedaan pemahaman dalam bidang akidah. Mengenai ini dapat dikemukakan beberapa fakta :
1. Diriwayatkan, bahwa Nabi Muhammad saw. menjumpai sahabatnya sedang bertengkar dalam masalah takdir Tuhan. Satu pihak berkata: “bukankah Tuhan berkata begini?" yang lain menjawab, “bukankah Tuhan berkata begini?”. Nabi Muhammad menjadi marah mendengar suatu ayat dipertentangkan  dengan ayat yang lain dan berkata, "Inikah yang diperintahkan kepadamu ? orang-orang sebelum kamu hancur karena perbuatan begini, mereka pertentangkan bagian dari kitabullah dengan bagian yang lain. Padahal bagian yang satu terhadap bagian yang lain dari kitabullah itu saling membenarkan, bukan saling mendustakan. Perhatikanlah apa yang diperintahkan kepadamu laksanakanlah ! dan jauhi apa yang dilarang".[9]
2. Diriwayatkan bahwa pada masa khilafah 'Umar ibn Khattab, ada seorang melakukan pencurian. Pencuri ini setelah tertangkap dan ditanya, “kenapa mencuri?”, dia berkata, “Tuhanlah yang mentakdirkan saya sehingga saya mencuri,” 'Umar menjadi marah dengan jawaban yang dianggapnya “berdusta atas Allah”. Dan karena itu, ia memberi dua jenis hukuman kepada pencuri, yaitu  potong tangan karena mencuri dan dera karena menggunakan dalih takdir Tuhan.[10] Sehubungan dengan ini, tersebut dalam sejarah bahwa Khalifah 'Ali ibn Abi Talib setelah perang shiffin ditanya oleh seorang tua tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan pahala dan siksa. Menurut hemat si penanya, bila perjalanan pergi perang Shiffin itu dengan qadha dan qadar Tuhan, maka tak ada pahala sebagai balasannya, tapi 'Ali menjelaskan bahwa qadha dan qadar itu bukanlah paksaan Tuhan, karena itu ada pahala dan siksa sebagai balasan amal perbuatan manusia. 'Ali selanjutnya menegaskan, bahwa sekiranya qadha qadar itu merupakan paksaan, maka batallah pahala dan siksa, gugurlah makna janji dan ancaman Tuhan, serta tidak ada celaan atas pelaku dosa dan pujian-Nya bagi orang-orang baik.[11]
Bibit-bibit perbedaan pemahaman tentang takdir Tuhan itu baru menampakkan bentuknya yang jelas pada masa-masa berikutnya. Selain dari itu, sejarah telah mencatat bahwa 'Abdullah bin Saba' (seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam) pada zaman khilafah 'Usman bin Affan dan Ali bin Abi °alib. Ia ikut memanfaatkan suasana ketidakpuasan di kalangan kaum muslimin yang timbul karena kelemahan politik Khalifah 'Usman (pada 6 tahun terakhir masa kekhilafahnya) dan ambisi karib kerabatnya. Abdullah bin Saba ini berusaha keras memperburuk situasi dengan mendorong mereka yang tidak puas untuk memberontak kepada 'Usman bin Affan. Sejalan dengan itu, ia juga berusaha memperkenalkan akidah-akidah sesat di sekitar 'Ali bin Abi °alib. Dikatakannya, bahwa pada diri 'Ali itu terdapat unsur Ilahi, dia adalah washy rasulullah dan khalifahnya berdasarkan nash, ia tidak mati terbunuh, ia tetap hidup dan akan datang kembali, ia berjalan di atas awan, petir itu adalah suaranya dan kilat itu adalah kilatan cambuk atau pedangnya, dan lain-lain. [12]
Kendatipun usaha jahat 'Abdullah bin Saba’ dalam bidang akidah tidak berhasil, karena jelas salahnya, namun dalam bentuk menghasut di sana sini telah ikut berperanan bagi terbunuhnya Khalifah ''Usman di tangan mereka yang tidak puas.
Setelah 'Usman wafat, 'Ali sebagai calon terkuat, menjadi khalifah yang keempat. Segera mendapatkan tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin pula menjadi khalifah. Tantangan pertama datang dari Zubayr dan °alhah di Mekah, yang memperoleh dukungan dari Aisyah isteri Rasulullah. Tantangan dari tiga pemuka ini dapat dipatahkan oleh 'Ali dalam pertempuran di Idlak pada tahun 656 M. °alhah dan Zubayr mati terbunuh, sedangkan Aisyah diantar kembali ke Mekah.[13]
Tantangan lain yang lebih dahsyat lagi datang dari pihak Mu’awiyah, Gubernur Damaskus, yang mendapat dukungan dari keluarga 'Usman. Mereka menuntut 'Ali  supaya menghukum pembunuh-pembunuh 'Usman, bahkan ia menuduh ‘'Ali turut campur dalam soal pembunuhan 'Ali.[14] Salah seorang pemuka pemberontak-pemberontak Mesir, yang datang ke Medinah dan membunuh 'Usman adalah Muhammad ibn Abi Bakar, anak angkat dari 'Ali ibn Abi Talib.[15] Ternyata pula, 'Ali tidak menghukum anak angkatnya tersebut, bahkan kemudian mengangkatnya menjadi Gubernur di Mesir. [16]
Dalam pertempuran yang terjadi antara kedua golongan ini di Shiffin, tentara 'Ali dapat mendesak tentara Mu’awiyah yang tersebut bersedia untuk lari, tetapi tangan kanan Mu’awiyah, 'Amr ibn al-'Ash yang terkenal licik dan merupakan tangan kanan Mu’awiyah, minta berdamai dengan pihak 'Ali dengan mengangkat al-Qur'an ke atas. Dalam perundingan perdamaian yang disebut tahkim (arbitrase) itu, pihak ‘'Ali diwakili oleh Abu Musa al-Asy’ari, seorang moralis, berhadapan dengan ‘Amr ibn al-'Ash yang mewakili pihak Mu’awiyah. Dengan kelicikan ‘Amr ibn al-'Ash, maka Abu Musa al-Asy’ari menyetujui pencopotan 'Ali dari jabatan Khalifah. Sesudah itu, barulah ‘Amr ibn al-'Ash mengumumkan pengangkatan Mu’awiyah menjadi khalifah.[17]
Sebagian pengikut ‘Ali, yang sejak semula tidak menyetujui diadakan tahkim, apa lagi terbukti tahkim itu tidak menguntungkan mereka, memandang 'Ali telah melakukan penyimpangan dari hukum Allah. Mereka menganggap perselisihan itu tidak dapat diputuskan lewat tahkim buatan manusia. Putusan hendaknya dari Allah, dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam al-Qur'an. Karena itu, mereka keluar dari barisan 'Ali, bahkan kemudian menjadi musuh 'Ali. Dari sikap mereka yang demikian itulah, mereka disebut kaum al-Khawarij, yakni golongan yang memisahkan diri dari kesatuannya.[18]
Dari latar belakang itu, timbullah konsep dosa besar yang diadakan oleh kaum khawarij. Mereka memandang bahwa tahkim itu sebagai suatu dosa besar. Karena itu, 'Ali bersama segenap orang yang terlibat dalam tahkim, yaitu Mu’awiyah, ‘Amr ibn al-'Ash dan Abu Musa al-Asy’ari adalah pelaku dosa besar, menurut mereka. Lebih dari itu, bagi kaum Khawarij, orang-orang tersebut telah menjadi kafir murtad karena melakukan tahkim di luar ketentuan hukum Allah.
Untuk memperkuat alasan mereka, kaum Khawarij mengemukakan ayat al-Qur'an.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ  [19]
Dengan berdasar pada ayat ini, mereka menolak tahkim dalam bentuk apapun yang dilakukan manusia, dan mengeluarkan suatu semboyan, “Tiada hukum kecuali bagi Allah” ( لاحكم الا الله )[20]
Adanya pernyataan pertama yang muncul dalam Islam, yaitu akankah tetap seorang muslim sebagai muslim setelah melakukan dosa-dosa besar dalam kaitannya dengan tahkim?, atau cukupkah iman itu sendiri atau haruskah dinyatakan dalam perbuatan-perbuatan sedemikian rupa?. Golongan Khawarij menegaskan, bahwa seorang pelaku dalam dosa-dosa besar tidak lagi tetap sebagai seorang muslim. Paham ini menentang aturan/normatif yang dibentuk oleh masyarakat pada umumnya atas nama idealisme yang trasenden dan ekstrim yang mereka gabungkan dengan fanatisme yang tak kenal kompromi.[21]
Sebenarnya kelompok Khawarij ini pada mulanya mempertahankan kepentingan agama karena sejauh pemahaman mereka, ‘Ali mundur dari mempertahankan kebenaran, sedangkan golongan Mu’awiyah pengagum kebatilan. Jadi secara otomatis memisahkan diri dari kelompok tersebut dan berhak menentang pemerintahan apa saja yang tidak mengedepankan kejujuran, apa lagi persoalan tahkim dapat dipastikan telah menjadi kafir.[22]
Penentuan seorang kafir atau muslim bukan lagi persoalan politik, akan tetapi ruang lingkupnya adalah menyangkut teologi. Menurut Harun Nasution, term kafir (kufr) inilah yang mendasari munculnya berbagai aliran-aliran teologi dalam Islam dan dapat dipastikan sumber dari aliran-aliran yang ada hingga kini.[23]
Kehadiran Khawarij dengan pahamnya seperti itu menyebabkan ulama-ulama terpanggil untuk memikirkan masalah iman, kufur, atau merumuskan jawaban tentang siapa yang berhak disebut mukmin dan siapa yang pantas disebut kafir. Dengan demikian, persoalan iman dan kufur menjadi persoalan teologis pertama yang menjadi perbincangan ulama Islam. Persoalan ini ternyata dapat melahirkan paham dan kaum Mur'jiah, yang bibit-bibit mereka sudah ada pada waktu terjadi perpecahan di akhir pemerintahan 'Usman (23-25 H.) dan melahirkan kaum Mu’tazilah pada awal abad kedua hijriyah.[24]
Persoalan teologis kedua yang muncul, adalah persoalan takdir Tuhan dalam kaitannya dengan kehendak dan perbuatan manusia. Seperti yang telah disinggung pada uraian sebelumnya, bibit perbedaan paham tentang takdir sudah tampak pada masa Nabi dan khulafa rasyidin, tapi belum menimbulkan perbincangan yang serius, karena antara lain Nabi pernah memarahi dan menyetop perbincangan tentang takdir itu, dan perbedaan paham tersebut belum menjelma dalam formulasi yang jelas dan tegas. Tidak demikian halnya pada zaman khilafah Bani Umayyah. Pada tahun 70-an  hijriyah, muncullah Ma’bad al-Juhani yang berbicara tentang hurriyah al-iradah (kemerdekaan kehendak/kemauan) dan qudrah (kekuasaan/ kemampuan) yang dimiliki manusia, sebagai anugrah dari Tuhan untuk melakukan perbuatannya. Bagi Ma’bad, perbuatan manusia adalah sungguh-sungguh perbuatan manusia, bukan ciptaan atau perbuatan Tuhan seru sekalian alam.[25] Paham ini disebut paham Qadariyah.
Sementara itu, muncul pula pemahaman yang lain sama sekali, yaitu paham Jabariyah yang ditonjolkan oleh Ja’d bin Dirham dan disiarkan dengan gigih oleh Jaham bin Safwan pada awal kedua hijriyah. Menurut paham ini, Tuhan telah menakdirkan perbuatan manusia sejak azal. Pada hakikatnya, manusia itu tidak memiliki kehendak dan qudrah. Manusia seperti debu diterbangkan oleh angin, manusia dipaksa (majbur) oleh Tuhan.[26]
Kelahiran teologi Islam di awal abad kedua hijriyah itu, selain erat kaitannya dengan perihal ayat-ayat al-Qur'an yang berbicara tentang takdir dan sifat-sifat Tuhan, juga erat kaitannya dengan teologi agama lain, dengan jatuhnya Mesir, Syam, Irak, Persia dan lain-lain ke tangan Islam.
Dapat dipahami, bahwa melalui dialog/perdebatan antara agama itu, banyak pikiran teologi atau pikiran falsafi, yang digunakan untuk membela agama lain atau menyerang Islam, dapat dikenal oleh ulama-ulama Islam. Pikiran-pikiran falsafi teologis demikian sekaligus dapat berfungsi merangsang lahirnya pikiran teologi dalam Islam, seperti yang diperlihatkan oleh Ma’bad, Gailan, Ja’d, Jaham, dan tokoh-tokoh Mu’tazilah awal.[27]
Pada bagian kedua abad kedua hijriyah, teologi Islam semakin berkembang menuju puncak kesempurnaannya. Pikiran-pikiran falsafi yang buku-bukunya sudah mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, semakin mendesak untuk ditanggapi dan dipelajari, sejarah mencatat bahwa khalifah al-Mahdi (memerintah 158-167 H) terpaksa menyuruh teolog muslim untuk menyusun kitab, guna melawan teologi agama lain yang banyak menggunakan senjata logika (falsafat).[28] Teolog Islam dari kalangan Mu’tazilah merasa terpanggil untuk mempelajari logika filsafat untuk keperluan pertarungan fikiran dengan unsur-unsur di luar Islam. Abu al-Huzail (135-325 H) misalnya, berhasil mematangkan diri dengan falsafat sehingga dapat menyusun  dasar-dasar Mu’tazilah secara teratur, serta menjadi pendebat yang mahir dalam melawan golongan Majusi, Manicheist, Atheist, dan lain-lain.[29]
Abu al-Huzail di atas, karena cukup kuat dengan falsafah, selain membicarakan masalah-masalah teologis yang sudah ada sebelumnya dengan lebih mendalam, juga menimbulkan dan menjawab masalah yang baru, seperti masalah kemampuan akal untuk mengetahui adanya Tuhan, buruk dan baik, serta kewajiban akli untuk mensyukuri Tuhan dan berbuat baik sesama makhluk. Ia juga berbicara tentang al-shalah wal-ashlah (kebaikan yang terbaik) yang diperbuat Tuhan untuk umat manusia, dan masih banyak masalah teologis lainnya yang dibicarakannya.[30]
Dengan demikian aliran-aliran teologi penting yang timbul dalam sejarah Islam, ialah aliran Khawarij, Murji'ah, Mu’tazilah, 'Asy’ariah dan Maturidiah. Aliran-aliran Khawarij, Murji'ah dan Mu’tazilah tak mempunyai wujud lagi kecuali dalam sejarah.[31]

III. PENUTUP
           Berdasarkan uraian terdahulu, maka dapatlah ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.   Khawarij dan Murji'ah adalah dua aliran dalam Islam yang lahir dengan latar belakang politik, yang kemudian meningkat menjadi gerakan teologi yang amat berpengaruh bagi timbulnya aliran-aliran teologi selanjutnya.
2.    Ajaran pokok Khawarij adalah, bahwa khalifah tidak mesti dari kalangan Quraisy, tetapi siapa saja dari umat Islam yang mampu untuk itu. Khawarij melihat, bahwa 'Ali dan Mu’awiyah keduanya melakukan dosa besar dan menjadi kafir, sedangkan Murji'ah tetap mendukung kepemimpinan Mu’awiyah.
3.  Sepanjang sejarah perkembangannya, aliran Khawarij dengan sifatnya yang ekstrim menjadi penyebab timbulnya aliran Mu’tazilah, dan selanjutnya muncul pula aliran Qadariyah dan Jabariyah.

DAFTAR  PUSTAKA

Al-Qur'an al-Karim
Ali, K. Sejarah Islam. Cet. III; Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2000.
Amin, Ahmad. Fajr al-Islam. Cet. II; Kairo : Dar al Kutub, 1965.
Dahlan, Abdul Azis. Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam. Cet. I; Jakarta: PT. Beunebi Cipta, 1987.
Departemen Agama RI. Al-Qur'an dan Terjemahnya. Jakarta: PT. Intermasa, 1993.
WL, Mohammad S. On The Political System of Islamic State diterjemahkan oleh Anshori Thayib dengan judul Sistem Politik dalam Pemerintahan Islam. Cet. I; Surabaya : Bina Ilmu, 1983.
Al-Ghurabi, Tarih al-Firaq al-Islamiyyah. Kairo : Dar al Kutub, 1958.
Haq, Hamka. Dialog Pemikiran Islam. Cet. I; Ujung Pandang: Yayasan Ahkam, 1995.
Husain, Thaha, Dua Tokoh Besar dalam Sejarah Islam. Cet. I; Jakarta : Dunia Pustaka Jaya, 1986.
Muin, M. Taib Thahir Abd. Ilmu Kalam. Cet. IX; Jakarta: Widjaya, 1964.
An-Najjar, Abdul al-Wahhab, Khulafa al-rasyiddin. Cet. II; Dar al-Kitab al-Ilmiah, 1990.
Nasir, Syeh Mahmud. Islam Konsepsi dan Ajarannya. Cet. I; Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1988.
Nasution, Harun. Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Cet. V; Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1986.
Rahman, Fazlur. Islam. Cet. II; Jakarta : PT. Bumi Aksara, 1992.
Al-°abari. Tarih al-'Usman wa- al-Mulk, juz V. Beirut: Dar al-Fikr, 1979.
Taimiyyah, Ibn. Majmu’ Fatawa. Kairo : t.p., t.th.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Cet. IX; Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 1999.
Zahrah, Muhammad Abu. Tarih al-Mazahib al-Islamiyah, jilid II. Kairo : t.p : t.th.


[1]Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan (Cet. V; Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1986), h. 1.
[2]Hamka Haq, Dialog Pemikiran Islam (Cet. I; Ujung Pandang: Yayasan Ahkam, 1995), h. 1.
[3]Lihat Ahmad Amin, Fajr al-Islam  (Cet. II; Kairo : Dar al Kutub, 1965), h. 195.
[4]al-Ghurabi, Tarih al-Firaq al-Islamiyyah (Kairo : Dar al Kutub, 1958), h. 14.
[5]Departemen Agama RI., Al-Qur'an dan Terjemahnya (Jakarta: PT. Intermasa, 1993), h. 476.
[6]Ibid., h. 785.
[7]Ibn Taimiyyah, Majmu’ Fatawa (Kairo : t.p., t.th.), h. 4.
[8]Tentang ikhtilaf para sahabat nabi dalam bidang hukum, lihat Muhammad Abu Zahrah, Tarih al-Mazahib al-Islamiyah, jilid II (Kairo : t.p : t.th.), h. 23 – 28.
[9]Al-Ghurabi, op cit., h. 13.
[10]Ibid., h. 15.
[11]Ibid.
[12]Ibid., h. 17
[13]Lihat al-°abari, Tarih al-'Usman wa- al-Mulk, juz V (Beirut: Dar al-Fikr, 1979),         h. 219 – 224.

[14]Ibid., h. 235.
[15]Ibid., h. 102-106.
[16]Ibid., h. 231
[17]Ibid., juz VI, h. 32.
[18]Muhammad Abu Zahrah, op. cit., h. 65.
[19]QS. al-Maidah (5) : 44, yang artinya “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
[20]Muhammad Abu Zahrah, op. cit., h. 66.
[21]Fazlur Rahman, Islam (Cet. II; Jakarta : PT. Bumi Aksara, 1992), h. 134 – 135.
[22]M. Taib Thahir Abd. Muin, Ilmu Kalam (Cet. IX; Jakarta: Widjaya, 1964), h. 92.
[23]Harun Nasution, op. cit.,h. 6.
[24]Lihat al-Ghurabi, op. cit.,  h. 21.
[25]Ibid.,
[26]Lihat Muhammad Abu Zahrah, op. cit., h. 126.
[27]Abdul Azis Dahlan Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam (Cet. I; Jakarta: PT. Beunebi Cipta, 1987), h. 33.
[28]Lihat al-Ghurabi, op.cit., h. 123.
[29] Harun Nasution, op. cit., h. 43.
[30]Ibid..
[31]Ibid.
Post a Comment