Thursday, February 4, 2016

SYI'AH DAN SUNNI



I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
            Pada umumnya tokoh yang dianggap sebagai pendiri Syi’ah adalah Abdullah ibn Saba, seorang Yahudi yang masuk Islam pada zaman khalifah Usman bin Affan, dan membentuk gerakan yang menokohkan Ali ibn Abi Thalib sebagai orang yang berhak menjadi khalifah sesudah Rasulullah.[1] Ketika Ali wafat, pemikiran kesyi’ahan berkembang menjadi mazhab, sebahagian menyimpang dan sebagian lainnya lurus. Namun keduanya sama-sama fanatik terhadap keluarga Nabi.
         Syi’ah merupakan golongan umat Islam yang terlalu mengagungkan keturunan Nabi, mereka mendahulukan keturunan Nabi untuk menjadi khalifah. Syi’ah maknanya sahabat dan pengikut, dan salah satu pokok pemikiran mereka (Syi’ah) ialah bahwa yang dijadikan imam sesudah wafatnya Nabi ialah Ali bin Abi Thalib. Ali adalah guru yang ulung, Alilah yang mewarnai segala pengatahuan yang ada pada Nabi, Ali adalah manusia yang mempunyai cirri-ciri istimewa, dia adalah makshum dari kesalahan. Oleh karena itu, menurut mereka, mentaati dan mempercayai Ali termasuk rukun iman juga. Khalifah-khalifah yang terdahulu adalah khalifah-khalifah yang merampas hak Ali, sehingga kekhalifahan mereka tidak sah.[2]
         Di sisi lain, pada masa pemerintahan Umayyah merupakan masa yang kondusif bagi pengkultusan Ali, karena Muawiyah telah menciptakan tradisi buruk pada masanya dan berlanjut pada masa anaknya, Yazid dan para penggantinya sampai masa khalifah Umar bin Abd. Aziz. Tradisi buruk itu ialah mengutuk Iman al-Huda Ali ibn Abi Thalib pada setiap penutup Khutbah Jum'ah. Para sahabat telah berusaha melarang Muawiyah dan pejabat-pejabatnya melakukan hal itu.
            Sebagian sarjana Eropa seperti Professor Buwai berpendapat bahwa Mazhab Syi'ah sesungguhnya adalah berasal dari Persia, karena keberagamaan orang Arab bersifat merdeka, sedangkan keberagamaan orang Persia mengikuti Raja atau dengan cara pewarisan dari istana raja dan tidak mengenal pemilihan khalifah. Karena Nabi Muhammad wafat tanpa meninggalkan anak laki-laki, maka yang paling dekat dengannya adalah anak pamannya Ali bin Abi Thalib.
            Sarjana Eropa yang lain berpendapat bahwa paham Syi’ah lebih banyak dari bangsa Yahudi ketimbang Persia. Alasannya adalah Abdullah bin Saba orang pertama yang mengembangkan paham tantang kesucian Ali sedang dia adalah orang Yahudi, di samping mendapat pengaruh Yahudi juga menyerupai agama orang-orang Asia Kuno seperti agama Budha.[3] Sedangkan term Ahlussunnah dan Jama'ah kelihatannya timbul sebagai reaksi terhadap faham-faham golongan Mu'tazilah dan yang dimaksud dengan Ahlu Sunnah dan Jama'ah di dalam lapangan teologi Islam ialah kaum Asyariah dan kaum Maturidiyah.[4]
Secara umum, Islam terbagi dua kelompok besar yaitu Syi’ah dan Sunni atau biasa disebut Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Sehingga, Syi’ah bukan agama tersendiri dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah bukan agama melainkan kelompok di dalam agama Islam.
Oleh karena itu, kedua kelompok tersebut semestinya toleransi dan saling menghargai antara satu dengan lainnya selama berada dalam masalah furu’iyyah bukan ushuliyyah, dan selama memiliki dalil. Untuk itu, penelitian ini dilakukan.
 
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka pokok masalah yang menjadi perhatian untuk diteliti lebih lanjut dalam kajian makalah ini adalah bagaimana Syi’ah dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam perspektif pemikiran Islam?. Untuk sistematisnya pembahasan penelitian ini, maka pokok masalah yang telah ditetapkan, dibatasi pada sub masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana definisi Syi’ah dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah?
2.      Bagaimana Sekte-Sekte Syi’ah?
3.      Bagaimana perbandingan antara Syi’ah dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah?
 
II. PEMBAHASAN
A. Definisi Syi’ah dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah
1.      Syi’ah
Siapa yang dimaksud dengan Syi’ah? Sebelum berusaha menjelaskannya, terlebih dulu perlu digarisbawahi bahwa kelompok Syi’ah pun menamai diri mereka sebagai ahl al-sunnah wa al-jama’ah, dalam pengertian bahwa mereka juga mengikuti tuntunan Sunnah Nabi, dan memang semua kaum Muslim harus mengakui dan mengikuti Sunnah Nabi Muhammad saw., karena tanpa mengikutinya, seseorang tidak dapat menjalankan secara baik dan benar ajaran Islam. Muhammad al-Tija'ni al-Samiwi, seorang penganut firqah Syi’ah jebolan Universitas Sorbonne, Prancis, misalnya menulis buku dengan judul Al-Syi’ah Hum Ahl al-Sunnah (Kelompok Syiah [Imamiyah] Mereka itulah ahl al-sunnah wa al-jama’ah). Kendati demikian, istilah ahl al-sunnah yang digunakan menunjuk kelompok-kelompok umat Islam, tentulah berbeda dengan apa yang dimaksud dengan ahl al-sunnah wa al-jama’ah dalam kandungan ungkapan "Syi’ah adalah ahl al-sunnah".[5]
Hal serupa terjadi juga bagi masyarakat Indonesia yang menduga secara keliru bahwa ahl al-sunnah wa al-jama’ah hanyalah umat Islam penganut firqah al-Asy'ariyyah dalam akidah dan mazhab Syafi'i saja (dalam fikih), atau mereka yang hanya tergabung dan memiliki kecenderungan kepada Nahdhlatul Ulama (NU), sedang anggota Muhammadiyah atau yang memiliki kecenderungan kepada pemikiran-pemikiran keagamaan yang berbeda dengan NU tidaklah dinilai sebagai ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Sebenarnya kelompok besar umat Islam Indonesia itu (Muhammadiyah) adalah ahl al-sunnah wa al-jama’ah juga dalam pengertian terminologi.[6]
Kembali pada pertanyaan, siapakah yang dimaksud dengan Syi’ah? Kata Syi’ah secara etimologi (kebahasaan) berarti pengikut, pendukung, pembela, pencinta, yang kesemuanya mengarah kepada makna dukungan kepada ide atau individu dan kelompok tertentu.[7]
Muhammad Jawad Magniyyah, seorang ulama berfirqah Syi’ah, memberikan definisi tentang kelompok Syi’ah, bahwa mereka adalah "kelompok yang meyakini bahwa Nabi Muhammad saw. telah menetapkan dengan nash (pernyataan yang pasti) tentang khalifah (pengganti) beliau dengan menunjuk Imam ‘Ali ra."[8]
Definisi ini sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh ‘Ali Muhammad al-Jurjani (1339-1413 M), seorang sunni penganut firqah al-Asy’`ariyyah, yang menulis dalam bukunya Al-Ta’rifat (definisi-­definisi) bahwa: "Syiah adalah mereka yang mengikuti Ali ra. dan percaya bahwa beliau adalah Imam sesudah Rasul saw. dan percaya bahwa imamah tidak keluar dari beliau dan keturunannya.[9]
Definisi ini kendati hanya mencerminkan sebagaian dari golongan Syiah-bukan seluruhnya namun untuk sementara dapat diterima karena kandungannya telah menunjuk kepada Syi’ah yang terbanyak dewasa ini, yakni Syi’ah Imamiyyah.[10]
2.      Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah
Sunnah secara harfiah berarti tradisi, ahl al-sunnah wa al-jama’ah berarti orang­-orang yang secara konsisten mengikuti tradisi (al-sunnah) Nabi Muhammad saw., dalam hal ini adalah tradisi Nabi dalam tuntunan lisan maupun amalan beliau serta sahabat (al-jama’ah) mulia beliau.[11]
Sulit menjelaskan siapa saja yang dinamai ahl al-sunnah wa al-jama’ah dalam pengertian terminologi, karena banyaknya kelompok-kelompok yang termasuk di dalamnya.[12]
Sementara pakar menyatakan bahwa kelompok ahl al-sunnah wa al-jama’ah muncul sebagai reaksi atas paham Mu’tazilah, yang disebarkan pertama kali oleh Washil Ibn 'Ata' (w. 131H/748 M), dan yang sangat mengandalkan akal dalam memahami dan menjelaskan ajaran-ajaran Islam. Di sampimg aliran Mu’tazilah, ada lagi aliran Maturidiyyah yang terbagi dalam dua kelompok besar, yang satu berpusat di Samarkand dengan pemahaman yang sedikit lebih liberal dan yang satunya lagi muncul di Bukhara yang cenderung bersifat tradisional dan lebih dekat kepada aliran Asy’ariyah. Nah, kedua aliran teologi yang disebut terakhir ini, Maturidiyyah dan Asy’ariyah, dimasukkan juga dalam kelompok ahl al-sunnah wa al-jama’ah.[13]
Pengarang al-Farqu bain al-Firaq, yang beraliran Sunni, menerangkan bahwa ada delapan macam golongan ahl al-sunnah wa al-jama’ah,"[14] dan bahwa ada lima batas prinsip pokok yang hams dipenuhi sehingga seseorang dapat dinamai ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Prinsip-prinsip tersebut masih memiliki rincian-rincian yang mungkin mereka perselisihkan, namun mereka tidak saling menyatakan kesesatan atau kefasikkan pihak lain.[15]
Dalam surat Syaikh al-Azhar, Salim al-Bisyri, kepada seorang tokoh Syi’ah, yaitu ‘Abd al-Husain Syaraf al-Ḍin dipahami bahwa yang dimaksud dengan ahl al-sunnah wa al-jama’ah adalah golongan terbesar kaum Muslim yang mengikuti aliran Asy`ari dalam urusan akidah dan keempat imam mazhab -Malik, al-Syafi’i, Ahmad Ibn Hanbal, dan Abu Hanafi- dalam urusan syariah.[16]
Sedang pengarang al-Farqu bain al-Firaq menyatakan dengan pasti bahwa termasuk pula dalam kategori ahl al-sunnah wa al-jama’ah adalah para pengikut al-Auza’i (88-150 H/707-774 M), al-Ṡauri (w. 161 H), Ibn Abi Laila, dan Ahl al-Ẓahir.[17] Ini dalam bidang fikih/hukum. Sedang dalam bidang akidah, tokoh-tokoh utama paham ini adalah Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (w.324H/936 M), al-Baqillani (403 H/1013 M), walau tidak semua pendapat al-Asy’ari disetujuinya. Tokoh penting lainnya adalah Imam al-Haramain al-Juwaini (w. 478 H/1085 M) dan yang paling berperanan dalam penyebarannya adalah Imam al-Gazali (w. 505 H/1111 M).[18]
Menurut Muhammad Imarah, Guru Besar Universitas al-Azhar, Mesir, Ahl al-sunnah wa al-jama’ah adalah mayoritas" umat Islam yang panutannya menyatakan bahwa perbuatan manusia diciptakan Allah dan bahwa baik dan buruk adalah karena Qadha dan Qadar-Nya (dengan demikian mereka itu adalah penganut Jabariah [paham fatalisme] yang moderat). Mereka enggan untuk membicarakan pergulatan/perselisihan sahabat-sahabat Nabi menyangkut kekuasaan. Mereka juga memperurutkan keutamaan Khulafa' ar-Rasyidin sesuai dengan urutan masa kekuasaan mereka.' Mereka membaiat siapa yang memegang tampuk kekuasaan, baik penguasa yang taat maupun durhaka, dan menolak revolusi dan pembangkangan sebagai cara untuk mengubah ketidakadilan dan penganiayaan. Mereka berpendapat bahwa rezeki bersumber dart Allah yang dianugerahkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, baik rezeki itu halal maupun haram (berbeda dengan Mu'tazilah yang menyatakan bahwa [yang dinamai] rezeki terbatas pada yang halal bukan yang haram).[19]
  Untuk sementara, apa yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh suni tersebut dapat dijadikan dasar dalam mengenal siapa ahl al-sunnah wa al-jama’ah.

B. Sekte-Sekte Syi’ah
Kendati Syi’ah telah terbagi-bagi dalam kelompok yang jumlahnya hampir tidak terhitung, tetapi menurut al-Bagdadi (w. 429 H), pengarang kitab al-Farqu baina al-Firaq, secara umum mereka terbagi menjadi empat kelompok dan masing-masing dari keempat kelompok tersebut terbagi pula menjadi beberapa kelompok kecil. Hanya dua kelompok di antara mereka itu yang dapat dimasukkan ke dalam golongan umat Islam, yaitu kelompok al-Zaidiyyah dan al-Imamiyyah.[20]
Muhammad Abu Zahrah, seorang ulama ahl al-sunnah, menulis bahwa "Kelompok Syi’ah yang keluar dari ajaran Islam kini telah punah dan tak ada lagi pengikutnya."[21] Secara umum mereka dinamai Ghulah (kelompok Ekstremis). Yang masih bertahan dari kelompork Syi’ah dewasa ini dan dalam jumlah yang besar hanyalah yang yang dinamai juga al-Itsna ‘Asyariyyah. Mereka tersebar di Iran, Irak, juga sebagian penduduk Afghanistan, Suriah, Pakistan, dan beberapa negara lain; dan al-Zaidiyyah yang sampai sekarang masih banyak bermukim di Yaman. Di samping kedua kelompok yang dinilai tetap berada dalam koridor Islam itu, ada lagi kelompok keempat yang warnanya "abu-abu". Mereka adalah Syi’ah yang juga memiliki banyak cabang. Dari uraian di aras kita dapat menetapkan empat kelompok Syi’ah, sebagaimana pembagian al-Bagdadi di atas, yaitu sebagai berikut:[22]
  1. Ghulah (Ekstremis)
Syi’ah kelompok (ekstremis) ini hampir dapat dikatakan telah punah. Mereka antara lain adalah:
a. Al-Sabaiyyah
Menurut al-Syahrastani, mereka adalah pengikut-pengikut Abdullah Ibn Saba’ yang konon pernah berkata kepada ‘Ali: "Anta Anta," yakni Engkau adalah Tuhan. Dia juga menyatakan dan mempopulerkan keyakinan bahwa ‘Ali ra. memiliki tetesan ketuhanan. Dia menjelma melalui awan. Guntur adalah suaranya, kilat adalah senyumnya. Dia kelak akan turun kembali ke bumi untuk menegakkan keadilan sempurna. Aliran kepercayaan yang serupa dengan ini bermacam-macam dan bercabang-cabang pula.
b. Al-Khattabiyyah
Mereka adalah penganut aliran Abu al-Khattab al-Asadi, yang menyatakan bahwa Imam Ja'far al-Shadiq dan leluhurnya adalah Tuhan. Imam Ja'far sendiri mengingkari bahkan mengutuk kelompok ini. Karena sikap Imam Ja'far yang tegas itu, maka pimpinannya, yakni Abu al-Khattab al-Asadi, rnengangkat dirinya sebagai Imam. Ia mengajarkan bahwa para nabi adalah Tuhan, bahkan Imam Ja'far dan para leluhur beliau pun dijadikannya Tuhan. Al-Khattabiyyah terbagi juga pada sekian kelompok yang berbeda-beda. Sebagian di antara mereka percaya bahwa dunia itu kekal, tidak akan binasa; surga adalah kenikmatan duniawi, mereka tidak mewajibkan salat dan membolehkan minuman keras.
c. Al-Gurabiyyah
Cabang kelompok ini, antara lain, percaya bahwa sebenarnya Allah swt. mengutus malaikat Jibril as. kepada ‘Ali Ibn Abi Thalib ra., tetapi malaikat itu keliru atau bahkan berkhianat sehingga menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad saw." Karena itu, mereka mengutuk malaikat Jibril as. sambil berkata: khana al-amin (yang dipercayai telah berkhianat).
d. Al-Qaramitah
Kelompok ini dinisbahkan kepada seseorang yang bermukim di Kufah, Irak, yang bernama Hamdan Ibn al-Asy'ats, dan dikenal luas dengan gelar Qirmit (si Pendek), karena perawakan dan kakinya sangat menonjol pendeknya. Kelompok ini pada mulanya adalah kelompok yang terpengaruh oleh aliran Syi’ah Isma’iliyyah
Keyakinan mereka sangat sesat dan ekstrem. Mereka, antara lain, menyatakan bahwa ‘Ali Ibn Abi Thalib ra. adalah Tuhan; bahwa setiap teks mernunyai makna lahir dan makna batin, dan yang pcnting adalah makna batinnya. Mereka menganjurkan kebebasan seks dan kepemilikan wanita dan harta secara bersama, dengan dalih mempererat hubungan kasih sayang. Mereka juga membatalkan kewajiban shalat dan puasa. Ini antara lain yang menjadikan kelompok induk mereka, yakni Syi’ah Isma’iliyyah pun mengutuk mereka. Al-Qaramitah pernah berkuasa di Bahrain dan Yaman, bahkan di bawah pimpinan Abu Thahir al-Qurmuti, mereka pernah menyerbu dan menguasai Mekkah pada 930 M. Ketika itu, mereka menganiaya jamaah haji karena mereka beranggapan bahwa ibadah haji adalah sisa-sisa praktek jahiliyyah, berthawaf dan menghormati/mencium hajar al-aswad adalah syirik, dan karena itu mereka merampas hajar al-aswad. Mereka pada akhirnya dikalahkan oleh Mu’izz al-Fatimi ketika mereka menyerbu ke Mesir pada 972 M, lalu dipunahkan sama sekali di Bahrain pada 1027 M.
Masih banyak lagi cabang-cabang dari kelompok ekstrem ini, seperti al-Manshuriyyah, al-Nushaiziyyah, al-Kayyalliyyah, al-Kaisaniyyah, dan masih banyak lainnya yang dapat mencapai puluhan dengan aneka cabang dan pecahan-pecahannya dan yang disimpulkan oleh al-Syahrastani sebagai "kelompok-kelompok yang melampaui batas dalam keyakinan mereka tentang imam-imam mereka sehingga menjadikan imam-imam itu keluar dari batas-batas kemakhlukan/kemanusiaan. Mereka mempersamakan imam-imam itu dengan Tuhan, sebaliknya ada juga di antara mereka yang mempersamakan Tuhan dengan makhluk."
Jika kelompok Syi’ah yang sesat dan menyesatkan ini belum punah sama sekali, maka kemungkinan besar pengikutnya amat sedikit dan tidak lagi memiliki peranan atau pengaruh yang besar.
  1. Isma’iliyyah dan cabang-cabangnya
Kelompok Syi’ah Isma’iliyyah hingga kini masih memiliki pengikut-­pengikut setia, namun sebagian dari kelompok-kelompoknya memiliki pandangan-pandangan yang dapat dinilai menyimpang. Kini, Syi’ah Isma’iliyyah tersebar dalarn kelompok minoritas di sekian banyak negara, antara lain Afghanistan, India, Pakistan, Suriah, dan Yaman, serta beberapa negara Barat, seperti di Inggris dan Amerika Utara.
Kelompok Syi’ah Isma’iliyyah meyakini bahwa Isma’il, putra Imam Ja'far al-Shadiq, adalah imam yang menggantikan ayahnya (Ja'far al-Shadiq) yang merupakan imam keenam dari aliran Syi’ah secara umum. Memang setelah meninggalnya Imam Ja'far al-Shadiq, sekelompok penganut Syi’ah percaya bahwa putra beliau, Musa al-Każim adalah imam ketujuh, sebagaimana kepercayaan Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah. Sedang kelompok lainnya memercayai bahwa Isma’il, kemudian putranya, Muhammad, adalah Imam sesudah ayah mereka, padahal Isma’il wafat lima tahun sebelum wafatnya sang ayah (Imam Ja'far al-SHadiq).
Isma’il Ibn Ja'far al-Shadiq menurut kelompok ini sebenarnya belum wafat, kelak dia akan tampil kembali di pentas bumi ini. Kedatangannnya dinantikan oleh kelompok Syi’ah Isma’iliyyah, sebagaimana kelompok Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah dan sebagian kelornpok ahl al-sunnah menantikan kehadiran Imam Mahdi.
Dalam sekian banyak riwayat, dikemukakan bahwa Imam Ja'far al-Shadiq telah berupaya untuk menegaskan tentang kematian putranya itu, antara lain dengan menulis keterangan tentang wafatnya yang disaksikan oleh penguasa setempat. Ini agaknya untuk menutup jalan bagi kelompok Syi’ah Gulah (ekstremis) agar tidak menduga bahwa sang anak akan kembali. Tetapi kendati demikian, ada saja pengikut- pengikut Syiah yang menyimpang dari ajaran beliau dan lahirlah tiga kelompok yang berbeda dari pengikut Imam Ja'far al-Shadiq. Kelompok pertama, adalah Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah yang memercayai bahwa Musa al-Każin adalah Imam ketujuh setelah ayah beliau, Ja'far al-Shadiq, dan ini berlanjur pada anak cucunya hingga mencapai secara kesuluruhan dua belas imam. Kelompok kedua, adalah mereka yang percaya bahwa Isma’il, putra Ja'far, adalah imam yang menghilang guna menghindari kejaran penguasa ‘Abbasiyyah, tapi akan datang pada waktunya. Kelompok ketiga, adalah pengikut yang percaya bahwa Imam Ja'far al-Shadiq memang menetapkan putra beliau Ismail sebagai imam, tetapi itu untuk menunjukkan bahwa putra Isma’il yang bernama Muhammad yang menjadi imam, karena Isma’il wafat sebelum wafatnya Imam Ja'far al-Shadiq. Kelompok ketiga ini dinamai al-Mubarakiyyah.
Syi’ah Isma’iliyyah dinamai juga Syi’ah Sab’iyyah (Syi’ah Tujuh), karena mereka hanya memercayai tujuh orang imam sejak ‘Ali Ibn Abi Thalib ra. dan berakhir pada Muhammad, putra Isma’il (putra Ja'far al-Shadiq). Mereka juga digelari dengan al-Batiniyyah, karena mereka percaya bahwa al-Qur'an dan Sunnah memunyai makna lahir dan makna batin (tersembunyi). Makna lahir adalah kulit, sedang makna batin adalah inti.
Kelompok Syi’ah Isma’iliyyah pernah berkuasa di Mesir dan rnenyebarkan pengaruhnya di wilayah Mediterania, bahkan pada 450 H/1058, mereka menguasai Bagdad, yang ketika itu menjadi ibukota saingan mereka, Dinasti ‘Abbasiyyah. Kekuasaan penganut Syi’ah Isma’iliyyah sangat menonjol pada masa Fatimiyyah.
Penguasa kelompok ini menyatakan diri sebagai keturunan Fatimah al-Zahrah, putri Nabi Muhammad saw. karena itu penamaan sebagai Fatimiyyah, merupakan pertanda bahwa mereka adalah keturunan Fatimah.  Lebih-lebih di bidang ilmiah dan dakwah. Kairo, yang menjadi pusat pemerintahan mereka, juga menjadi pusat kegiatan ilmiah di mana lahir Dar al-Hikmah dan al-Azhar.
Al-Azhar pada mulanya adalah masjid yang didirikan oleh Jawhar al-Shiqilli (Cecilia) atas perintah al-Mu'izz al-Fatimi pada 359 H/970 M. Diresmikan dengan melaksanakan salat Jumat pada tanggal 7 Ramadhan 361 H/972 M, lalu berfungsi juga sebagai tembaga pendidikan pada 365 H/975 M. Yang diajarkan pertama kali di sana adalah fikih menurut mazhab Syi’ah Isma’iliyyah. Kemudian setelah kekalahan Dinasti Fatimiyyin oleh al-Ayyubiyyin (567 H/1171 M) pengajaran di al-Azhar beralih ke mazhab ahl al-sunnah wa al-jama’ah, dengan berbagai alirannya.
Pengaruh Syi’ah Isma’iliyyah yang demikian besar menyebabkan dinasti-dinasti non-Syi’ah berseberangan dengan mereka. Nah, ini memperlemah kedudukan mereka, ditambah lagi dengan perpecahan internal, yang pada akhirnya setelah kematian/pembunuhan al-Hakim pada 411 H/1021 M, sekelompok penganut Syi’ah Isma’iliyyah memisahkan diri sambil temp setia kepada al-Hakim. Kelompok ini dikenal dengan nama kelompok Druz. Dewasa ini kelompok tersebut banyak bermukim di Lebanon.
Akidah pokok kelompok ini adalah memercayai bahwa al-Hakim Ibn Amrillah (985 M-1021 M) adalah Tuhan. Menurut mereka hakikat ketuhanannya tidak dapat dijangkau oleh nalar dan indra. Mereka juga memercayai adanya reinkarnasi. Mereka tidak percaya kepada hal-hal gaib, seperti surga dan neraka, malaikat dan jin. al-Hakim Ibn Amrillah dikenal sangat kejam dan sewenang-wenang sehingga akhirnya terbunuh. Sementara cendekiawan muslim menyatakan bahwa keyakinanan tentang ketuhanan al-Hakim mirip dengan keyakinan penganut agama Kristen tentang ketuhanan Nabi Isa as. Ada juga yang mempersamakan keyakinanan tersebut dengan ucapan-ucapan sementara kaum sufi, seperti Ibn 'Arabi, dan para penganut Wihdah al-­Wujud.
Pada mulanya pusat gerakan Syi’ah Isma’iliyyah Nizariyyah berada di Alamut, pegunungan Alborz, di Iran Utara. Benteng ini direbut pada 483 H/1090 M. Mereka memiliki kekuasaan dan mampu bertahan selama lebih dari 150 tahun. Tetapi konfrontasi dengan kekuasaan Mongol mengakibatkan hancurnya kekuasaan mereka khususnya di Iran dan para penganutnya berpencar, narnun mereka tetap memiliki organisasi yang menjalin hubungan antara mereka.
Pada abad ke-13 H/19 M, kelompok Syi’ah Isma’iliyyah Nizariyyah percaya bahwa imam pada masa itu adalah Hasan ‘Ali Syah, yang dijuluki juga dengan Agha Khan, yang semakna dengan imam. Ia pindah dari Iran ke India. Selanjutnya, pada abad kedua puluh ini Syi’ah Isma’iliyyah memiliki dua imam yang sangat aktif peranannya memimpin kaum Syi’ah Isma’iliyyah Nizariyyah dan juga dalam kegiatan internasional. Yang pertama adalah Sir Sultan Muhammad Syah, yang digelari dengan Agha Khan Kedua (1877-1957 M) dan Syah Karim Husaini (1936 M) dan dingkat menjadi Agha Khan Keempat pada 1958.
Demikian uraian sepintas tentang Syi’ah Isma’iliyyah pendukung Nizar putera al-Muntashir (Syi’ah Isma’iliyyah Nizariyyah). Adapun pendukung al-Musta'liyyah, serta penerusnya yaitu putranya, al-Amir. Setelah kematian al-Amir timbul perpecahan di antara mereka. Sebagian mendukung al-Thayyib (putra al-Amir), yang ketika itu masih bayi sebagai imam dan sebagian lainnya mendukung paman sekaligus wali al-Amir, yang bernama ‘Abd al-Majid. Pengaruh ‘Abd al-Majid sirna dengan dikuasainya Mesir oleh kaum Ayyubiyyah yang berfirqah ahl al-sunnah, sementara pendukung al-Thayyib percaya bahwa al-Thayyib hidup dalam persembunyian dan akan muncul pada masanya nanti (serupa dengan kepercayan Imamiyyah tentang imam kedua belas al-Mahdi). Sebelum munculnya al-Thayyib, urusan keagamaan dan penyebarannya diserahkan kepada seseorang yang dinarnai Dai Mutlaq.
    3. Zaidiyyah
Zaidiyyah adalah kelompok Syi’ah pengikut Zaid Ibn Muhammad Ibn ‘Ali Zain al-‘Abidin Ibn Husain Ibn ‘Ali Ibn Abi Thalib ra. Ia lahir pada 80 H dan terbunuh pada 122 H. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat taat beribadah, berpengetahuan luas sekaligus revolusioner. Imam Zaid lahir dan dibesarkan, bahkan hidup dalam kondisi sosial yang tidak menyenangkan semua orang yang hendak mengarah kepada Allah dan yang mendambakan keadilan.
Kota Madinah tulis Muhammad ‘Imarah, Guru besar Universitas al-Azhar Mesir, "kota Rasul saw., tempat memancar­nya cahaya kebenaran dan keadilan ketika itu tidak lagi memiliki peranan yang berarti. Bahkan kota tersebut diserang oleh pasukan Yazid, putra Mu'awiyah, yang dipimpin oleh Muslim Ibn ‘Uqbah, menghalalkan segala cara untuk menumpas lawan-lawannya termasuk membunuh, mencincang, merampok, membakar, bahkan memperkosa wanita. Tidak dapat disangkal bahwa dinasti Bani Umayyah telah membangun satu negara besar dan mem­perluas wilayah kekuasaan Islam, tetapi keberhasilan dalam bidang politik itu, dibayar dengan mengorbankan keadilan yang oleh Allah swt. ditegaskan bahwa penegakan keadilan adalah tujuan dari diturunkannya kitab-kitab suci dan diutusnya para rasul. Bani Umayyah telah melakukan perombakan terhadap falsafah hukum Islam, yakni menjadikan kekuasaan sebagai hak turun temurun setelah sebelum itu adalah syeira.
Setelah tragedi Karbala (680 M), di mana Imam al-Husain, ‘Ali Ibn Abi Thalib ra., tampil memerangi penguasa yang dinilai berlaku aniaya, yaitu Yazid, putra Mu’awiyah (645-683 M). Tetapi akhirnya terbunuh bersama seluruh keluarganya dengan cara yang sangat mengerikan, sesudah kegagalan gerakan at-Tawwabin di Irak yang dipimpin oleh Sulaiman Ibn Shard (595-684 M), juga setelah kegagalan Mukhtar al-Ṡaqafi (622-687 M), serta kegagagalan gerakan-gerakan pemberontakan lainnya baik dari kalangan Syi’ah maupun selainnya yang semuanya dihadapi dengan tangan besi tanpa kasih, maka di kalangan Syi’ah timbul pertanyaan mendasar, yakni: Apakah mereka tetap akan menempuh cara revolusioner melawan pemerintah yang zalim, walau dengan pengorbanan yang amat besar, ataukah berdiam diri, menyerahkan persoalan kepada Allah semata, walau itu berarti berlanjutnya penganiayaan dan penindasan terhadap masyarakat, khususnya ahl al-bait?
Sementara pengikut Syi’ah memilih untuk tidak terlibat sama sekali dalam pergolakan politik, berdiam diri, melakukan taqiyyah terhadap penguasa yang zalim demi memelihara diri samba berdakwah dengan keteladan yang baik. Sikap inilah yang dianut oleh Imam ‘Ali Zain al-‘Abidin, satu-satunya anak al-Husain, yang selamat dari pembantaian di al-Harrah Karbala. Sikap Imam ‘Ali Zain al-‘Abidin itu serupa dengan sikap pamannya, al-Hasan, putra ‘Ali Ibn Abi Thalib ra., yang mengakui kekuasaan Mu’awiyah demi kedamaian dan memelihara kesatuan umat Islam. Sikap itulah yang dilanjutkan oleh Imam Ja'far al-Shadiq, putra Muhammad al-Baqir, dan berlanjut hingga imam-imam Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah. Selanjutnya. Sedang sikap kedua, yakni tampil melakukan perlawanan dianut oleh Imam Zaid, putra Imam ‘Ali Zain al-‘Abidin sekaligus paman Imam Ja'far al-Shadiq, dan yang kemudian melahirkan Syi’ah Zaidiyyah. Sikap Zaid yang berbeda dengan sikap ayah dan kemenakannya itu diambil setelah melihat dalam kenyataan bahwa walaupun mereka sudah tidak aktif berpolitik, namun penganiayaan dan penghinaan terhadap mereka tetap saja berlanjut.
Demikianlah sehingga perlawanan menghadapi penguasa-penguasa yang berlaku aniaya merupakan dasar utama lahirnya Syi’ah Zaidiyyah. Mereka lebih merujuk kepada ‘Ali Ibn Abi Thalib ra. (Imam pertama) dan al-Husain (Imam ketiga Syi’ah) di mana keduanya tampil memerangi kezaliman walaupun dengan jumlah terbatas dan berakibat pada gugurnya mereka.
Syi’ah Zaidiyyah menetapkan bahwa imamah dapat diemban oleh siapa pun yang memiliki garis keturunan sampai dengan Fatimah, putri Rasul saw., baik dari keturunan putra beliau, al-Hasan Ibn ‘Ali Ibn Abi Thalib ra., maupun al-Husain, dan selama yang bersangkutan memiliki kemampuan keilmuan, adil, dan berani. Keberanian yang mengantarnya mengangkat senjata melawan kezaliman. Karena itulah mereka mengutamakan dan memilih Zaid, putra ‘Ali Zain al-‘Abidin, dari pada Imam Ja'far al-Shadiq yang kendati ilmunya melebihi Zaid bahkan membimbing Zaid, namun karena beliau enggan mengangkat senjata, maka mereka menilainya tidak wajar menjadi imam. Bahkan jangankan kemenakan Imam Zaid, yakni Imam Ja'far al-Shadiq, ayah Zaid pun, yakni Imam ‘Ali Zain al-‘Abidin, tidak diakui sebagai imam oleh Syi’ah Zaidiyyah, karena keengganan beliau mengangkat senjata. Imam dalam `pandangan Zaidiyah setelah gugurnya Zaid, beralih kepada putranya, Yahya, lalu kepada sejumlah orang, baik dari keturunan yang bersangkutan maupun selainnya selama dia memiliki garis ketururan yang bersambung kepada putri Nabi, Fatimah, dan selama dia tampil mengangkat senjata melawan penguasa yang zalim. Bahkan Syi’ah Zaidiyyah membenarkan adanya dua atau tiga imam dalam dua atau tiga kawasan yang berjauhan. Agaknya tujuannya adalah untuk memperlemah kekuatan penguasa yang zalim.
Syi’ah Zaidiyyah dalam konteks menetapkan hukum menggunakan al-Qur'an dan Sunnah, dan nalar. Mereka tidak membatasi penerimaan hadis dari keluarga Nabi semata-mata, tetapi mengandalkan juga riwayat-riwayat dari sahabat-sahabat yang lain.
Demikian sekelurnit dari pandangan Syi’ah Zaidiyyah yang dinilai sebagai kelompok Syi’ah yang paling dekat dengan aa. Muhammad Imarah, cendekiawan Mesir kontemporer, menukil dari buku Talkish Muhassal Afkar al-Mutaqaddimin wa al-Muta’akhkhirin, karya Nashir al-Din al-Thusi, mengatakan bahwa Syi’ah Zaidiyyah menganut paham Mu'tazilah dalam bidang prinsip-prinsip ajaran agama (akidah), bahkan mereka mengagungkan tokoh-tokoh Mu’tazilah melebihi pengagungan mereka terhadap imam-imam Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah. Sedang dalam hukum-hukum yang berkaitan dengan rincian ajaran agama, mereka banyak sejalan dengan pandangan mazhab Abu Hanifah dan sedikit dengan mazhab Syafi’i. Tidak heran jika dalam sekian banyak pesantren di Indonesia, beberapa buku karya ulama-ulama Syi’ah Zaidiyyah dijadikan rujukan, misalnya buku Nail al-Awtar dalam bidang hadis dan interperetasinya, Irsyad al¬Fuhul dalam bidang ushul al-fiqh, karya ulama Yaman kenamaan, Muhammad Ibn ‘Ali al-Syaukani (1760-1834 M).
Sementara pakar menilai bahwa Syi’ah Zaidiyyah memiliki juga beberapa pecahan yang berbeda-beda. Ada yang menyatakan bahwa pecahan tersebut mencapai belasan dan ada juga yang membatasinya pada tiga, yakni al-Jarudiyyah, al-Sulaimaniyyah, dan al-Shalihiyyah.
    4. Itsna ‘Asy’ariyyah
Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah, biasa juga dikenal dengan nama Imamiyyah atau Ja’fariyyah, adalah kelompok Syi’ah yang memercayai adanya dua belas imam yang kesemuanya dari keturunan ‘Ali Ibn Abi Thalib dan Fatimah al-Zahrah, putri Nabi Muhammad saw. Kelompok ini merupakan mayoritas penduduk Iran, Irak, serta ditemukan juga di beberapa daerah di Suriah, Kuwait, Bahrain, India, juga di Saudi Arabia, dan beberapa daerah (bekas) Uni Sovyet.
Karena kelompok ini merupakan mayoritas dari kelompok Syi’ah, maka sewajarnya mereka dan pendapat-pendapat merekalah yang seharusnya diketengahkan ketika berbicara tentang Syi’ah secara umurn, bukannya pendapat ketiga kelompok sebelumnya. Pada bagian berikut penulis akan menguraikan dengan sedikit rinci perbandingan antara kelompok Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah ini dengan kelompok ahl al-sunnah wa al-jama’ah.

C. Perbandingan antara Syi’ah dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah
Banyak perbedaan, bahkan persamaan, antara kelompok ahl al-sunnah wa al-jama’ah dan kelompok Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah. Persamaan dan perbedaan-perbedaan tersebut tidak mungkin dapat dirinci dan dikemukakan, bahkan rincian perbedaan antara kelompok-kelompok yang tergabung dalarn ahl al-sunnah wa al-jama’ah pun sangat sulit untuk dikemukakan semuanya. Namun demikian, berikut ini penulis berusaha mengemukakan perbedaan yang berkaitan dengan rukun iman dan Islam, karena jika dapat ditemukan titik temu, maka paling tidak kita telah berhasil menghindari kafir-mengafirkan, bahkan (mungkin) bunuh-membunuh, yang selama ini terdengar, bahkan kini marak sekali terjadi di Irak.[23]
Menurut Syaikh Muhammad Husain al-Kasyif al-Ghita, seorang ulama besar Syi’ah (1874-1933 H), dalam bukunya.Ashl al--Syi’ah wa Ushuliha, Agama pada dasarnya adalah keyakinan dan amal perbuatan yang berkisar pada:
1.      Pengetahuan/keyakinan tentang Tuhan.
2.      Pengetahuan/keyakinan tentang yang menyampaikan dari Tuhan.
3.      Pengetahuan tentang peribadatan dan tata cara peng¬amalannya.
4.      Melaksanakan kebajikan dan menampik keburukan (Budi Pekerti), dan
5.      Kepercayaan tentang hari kiamat dengan segala rinciannya.[24]
Selanjutnya dikatakannya, bahwa Islam dan Iman adalah sinonim, yang keduanya secara umum bertumpu pada tiga rukun yaitu: Tauhid (Keesaan Tuhan), Kenabian, dan Hari Kemudian. Jika seseorang mengingkari salah satu dari ketiganya, maka dia bukanlah seorang Mukmin, bukan juga seorang Muslim, tetapi apabila ia percaya tentang kcesaan Allah, kenabian penghulu pares nabi, yakni Nabi Muhammad saw., scrta percaya tentang hari pembalasan (kiamat), maka ia adalah seorang Muslim yang benar. Dia memunyai hak sebagaimana hak-hak orang-orang Muslim lainnya, dan kewajib­an sebagaimana kewajiban Muslim-Muslim yang lain. Darah, harta, dan kehormatannya haram diganggu. Kedua kata itu juga (Iman dan Islam) memiliki pengertian khusus, yaitu ketiga rukun tersebut ditambah dengan rukun keempat yang terdiri dari tonggak-tonggak, yang atas dasarnya Islam dibina, yaitu shalat, puasa, zakat, haji, dan jihad."[25]
Keempat rukun inilah yang merupakan prinsip-prinsip Iman dan Islam bagi umat Islam secara umum, dan menurut Syaikh Muhammad Husain, tidak ada perbedaan antara golongan Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah dengan ahl al-sunnah wa al-jama’ah dalam hal itu. Selanjutnya tokoh Syi’ah tersebut berkata: "Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah menarnbahkan rukun kelima, yaitu kepercayaan kepada Imam, yang maknanya adalah percaya bahwa imamah adalah kedudukan yang bersumber dari Tuhan sebagaimana kenabian (yang juga bersumber dari Tuhan)."[26]
Ahl al-sunnah wa al-jama’ah juga berpendapat, sebagaimana kelompok Syiah, bahwa Iman dan Islam sinonim, serta memiliki pengertian umum dan khusus. Namun, mayoritas ahl al-sunnah wa al-jama’ah menyatakan bahwa iman terdiri dari enam rukun, yaitu keimanan kepada:[27] 1) Allah, 2) Para malaikat, 3) Kitab-kitab Suci, 4) Para Rasul 5) Hari kemudian, 6) Percaya tentang Qadha dan Qadar. Enam rukun di atas terambil dari penjelasan Nabi saw. yang diriwayatkan oleh al-Bukhari melalui ‘Umar Ibn al-Khattab ra. yang menggambarkan kedatangan seseorang yang mereka tidak kenal dan bertanya kepada Nabi saw. tentang Iman, Islam, dan Ihsan, serta kiamat dan tanda­tandanya. Dalam menjawab tentang iman Nab saw. menyebut keenam hal di atas, dan dalam menjawab tentang Islam, beliau menyebut lima hal yaitu 1). Syahadat, 2). Shalat, 3). Zakat, 4). Puasa, dan 5). Haji.
Dalam riwayat tersebut dinyatakan bahwa Nabi saw. menjelaskan kepada para sahabat bahwa orang yang mereka tidak kenal itu adalah malaikat Jibril as. yang datang berbentuk manusia guna mengajar kamu tentang agama kamu."[28]
Dengan membandingkan pendapat kedua kelompok di atas, ditemukan berbagai persamaan serta perbedaan. Dalam hal keimanan, Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah tidak menyebut butir-butir kepercayaan kepada Malaikat, Kitab-kitab, dan para Rasul, yang merupakan rukun-rukun dalam keyakinan ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Demikian juga dalam hal Rukun Islam, mereka tidak menyebut rukun pertama, yakni syahadat sebagai Rukun Islam, tetapi menetapkan jihad sebagai rukun, sedang jihad bukan merupakan Rukun Islam dalam pandangan ahl al-sunnah wa al-jama’ah.[29]
Kini timbul pertanyaan: "Apakah itu berarti bahwa Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah tidak mengharuskan memercayai wujud Malaikat, Kitab-­kitab Allah, dan Rasul-rasul-Nya?" Jawabannya: "Jelas tidak demikian! Mereka pun memercayai hal-hal yang dinamai Rukun Iman oleh ahl al-sunnah wa al-jama’ah itu, hanya saja mereka tidak menyebutnya secara eksplisit. Mereka, ketika menyebut salah satu dari Rukun Iman adalah: "Pengetahuan/keyakinan tentang yang menyampaikan dari Tuhan," maka rumusan ini mereka nilai sudah mencakup banyak rincian, termasuk percaya pada Rasul dan Malaikat, karena Malaikatlah yang menyampaikan wahyu/pesan-pesan Allah swt. kepada para Rasul, lalu para Rasul itu menyampaikannya kepada masyarakat, dan tentu saja penyampaian itu, mencakup wahyu­wahyu-Nya yang dicantumkan dalam Kitab-kitab-Nya.[30]
Demikian juga sebaliknya, ketika kelompok ahl al-sunnah wa al-jama’ah tidak menyebut "Peribadatan dan tata cara pengamalannya" dan "Budi pekerti" sebagai bagian dari Rukun, maka itu bukan berarti bahwa mereka mengabaikannya, tetapi itu ditekankan di tempat yang lain.[31]
Adapun keimanan tentang Qadha dan Qadar yang merupakan Rukun Iman dalam pandangan Ahlussunnah, itu juga bukan berm] bahwa Syiah tidak memercayainya. Memang, dalam al-Qur'an ketika menyebut sekian banyak hal yang harus diimani, keimanan menyangkut Qadha dan Qadar tidak dimasukkan dalam rangkaian­nya (Perhatikan firman-Nya pada Q.S. al-Bagarah (2): 285 dan al-­Nisa' (4): 136). Tetapi sekali lagi itu bukan berarti hal tersebut tidak harus dipercayai. Dalam buku-buku akidah yang ditulis oleh ulama­-ulama Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah ditemukan uraian-uraian menyangkut Qadha dan Qadar yang mereka artikan bahwa manusia berada di lingkungan keduanya. Namun demikian, manusia rnemiliki kebebasan bertindak dan kemerdekaan berkehendak. Pendapat mereka ini justru serupa dengan pendapat tokoh ahl al-sunnah wa al-jama’ah, al-Asyari.[32]
Dalam buku Aqaid al-Imamiyyah, karya Muhammad Ridha al-Muzaffar, yang memperkenalkan akidah Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah, dikemukakan di bawah subjudul Aqidatuna fi al-­Qadha' wa al-Qadar  bahwa: "Penganut paham Jabariyah (fatalisme) menegaskan bahwa Allah adalah Fa’il (Pencipta dan Pelaku perbuatan makhluk) dan dengan demikian Dia memaksa manusia untuk melakukan kedurhakaan. Namun demikian, Dia menyiksa mereka atas perbuatan tersebut dan memaksa mereka melakukan ketaatan, dan kendati paksaan, Dia memberi mereka ganjaran. Ini karena penganut paham tersebut berpendapat bahwa perbuatan-perbuatan tersebut adalah perbuatan-Nya, hanya saja dinisbahkan kepada manusia secara metafor, karena manusia "tempat" terjadinya perbuatan itu." Lebih lanjut, Muhammad Ridha al-Muzaffar menyatakan bahwa "Ada juga kelompok yang bertolak belakang dengan kelompok yang disebur di atas yang dinamai al-­Mufawwidhah. Mereka memahami bahwa Allah telah menyerah­kan penciptaan perbuatan kepada makhluk. Allah telah membcbas­kan diri-Nya dan kuasa-Nya, Qadha dan Qadar-Nya dari perbuatan­perbuatan manusia, karena jika dinyatakan bahwa itu perbuatan Allah, maka is mengandung makna bahwa Allah memiliki kekurangan." Setelah mengemukakan kedua pandangan yang bertolak belakang itu Muhammad Ridha al-Muzaffar menjelaskan akidahnya sebagai penganut Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah, yaitu bahwa manusia berada dalam lingkungan keduanya, yakni bukan Jabariyah, bukan juga Muffawwidhah, tapi berada di antara keduanya." Menurutnya: "Kesimpulannya: Dari sisi perbuatan kita, pada hakikatnya kitalah pemiliknya yang sebenarnya. Perbuatan-perbuatan itu berada di bawah kemampuan dan pilihan kita. Dan dari sisi lain, perbuatan­perbuatan itu ditakdirkan oleh Allah dan termasuk dalam kuasa­Nya, karma Dialah Penganugerah wujud dan Pemberinya. Dengan demikian, Dia tidak memaksa kita dalam perbuatan-perbuatan kita, sehingga tidak bisa dikatakan bahwa Dia menganiaya kita dalam sanksi yang dijatuhkan-Nya atas memunyai kemampuan dan pilihan menyangkut apa yang dilakukan dan (dalam saat yang sama) Dia tidak menyerahkan kepda kita penciptaan perbuatan kita sehingga (dikatakan) bahwa Dia telah membebaskan diri-Nya dan kuasa-Nya. (Tidak) Bahkan hanya milik-Nya (kekuasaan) segala macam penciptaan, ketetapan, dan semua urusan. Dia Kuasa atas segala sesuatu dan Dia Maha Meliputi semua Hamba-hamba (Nya)."[33]
Pendapat di atas dapat dinilai sejalan dengan pendapat Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, tokoh "pendiri" aliran al-Asy’ariyyah, yang dianut oleh mayoritas ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Al-Asy’ariyyah menggunakan istilah kasab untuk menunjuk perbuatan manusia, tanpa mengurangi sedikit pun kuasa Allah swt.[34]
Demikian terlihat bahwa perbedaan antara ahl al-sunnah wa al-jama’ah dan Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah menyangkut keyakinan tentang Rukun Iman ­kecuali rukun imamah dalam pandangan Syi’ah -adalah perbedaan sistematika, walaupun tentu terdapat juga perbedaan dalam beberapa perincian masalah-masalah yang sarna itu. Namun, perbedaaan tersebut tidak mengakibatkan cederanya keimanan atau keluarnya si penganut dari koridor Islam.[35]
Adapun menyangkut Rukun Islam menurut istilah ahl al-sunnah wa al-jama’ah, maka perbedaan yang ditemukan adalah bahwa Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah:[36]
1.              Tidak menyebutkan syahadat sebagai Rukun Islam, sedang dalam pandangan ahl al-sunnah wa al-jama’ah is adalah rukun pertama.
2.              Memasukan jihadsebagai rukun, sedang Ahlussunah tidak memasukannya.
Menyangkut yang pertama, hal ini juga bukan berarti bahwa Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah tidak menyatakan kewajibar bersyahadat, hanya saja karena pada dasarnya mereka menyatakar adanya persamaan antara Iman dan Islam, maka kepercayaan tentang Rukun Islam pertama itu dalam versi ahl al-sunnah wa al-jama’ah, mereka masukar dalam katagori keyakinan akan Keesaan Tuhan bersama keyakinar tentang kenabian. Sebaliknya, ahl al-sunnah wa al-jama’ah mencantumkan secara eksplisit dan tegas, berdasar hadits yang disebut di atas dar juga karena dalam pandangan ahl al-sunnah wa al-jama’ah, Iman yang dimaksuk adalah iman yang berada di dalam hati dan belum tampak keluar. kecuali dengan melaksanakan Islam, karena itu maka merekz menegaskan perlunya syahadat tersebut, dan inilah yang menyatakan sebagai rukun Islam pertama.[37]
Dengan mengucapkan syahadat sehingga diketahui orang lain maka lahir aneka hak dan kewajiban bagi yang bersangkutan Demikian juga bagi umat Islam yang mendengarnya atau mengetahu. bahwa ia telah mengucapkannya, seperti bolehnya mengawin perempuan muslimah, sating mewarisi antara keluarga, kewajibar mengafankan, mensalati, dan menguburnya bila ia meninggal Ini berbeda dengan seorang yang beriman, tetapi tidak mengucapkar syahadat, karena ketika itu yang bersangkutan tidak diketahu apakah ia Muslim atau bukan. Demikian terlihat betapa bersyahadai menyelesaikan sekian persoalan yang dapat muncul jika syahadai tidak diucapkan.[38]
Adapun jihad, maka kelompok Syi’ah yang dibicarakan in. menekankan pentingnya hal ini. Mereka membaginya menjadi jihad ashgar (kecil) dan jihad akbar (besar). Pembagian semacam ini iuga dikenal dalam ahl al-sunnah wa al-jama’ah, kendati mereka tidak sampai menjadikannya sebagai rukun tersendiri.[39]
Sekali lagi, penulis tekankan bahwa penetapan rukun-rukun Iman dan Islam versi ahl al-sunnah wa al-jama’ah dengan sistematika seperti yang dikemukakan di atas adalah berdasarkan hadis-hadis yang menjadi pegangan mereka, yang oleh Syi’ah hadis-hadis tersebut tidak dijadikan dasar, sebagaimana yang akan penulis kemukakan kemudian.[40]
Telah dikemukakan di atas bahwa agama, menurut kalangan Syi’ah, adalah keyakinan dan amal perbuatan. Yang menyangkut keyakinan adalah: 1). Tauhid (Keesaan Tuhan) , 2). Kenabian, dan 3). Hari Remudian.
a. Tauhid
Tauhid pada prinsipnya adalah keesaan Tuhan dalam sitar, perbuatan, dan zat-Nya, serta kewajiban mengesakan dalam beribadah kepada­-Nya.[41] Dalam butir-butir makna Tauhid di atas, tidak dijumpai perbedaan prinsipil antara ahl al-sunnah wa al-jama’ah dan Syi’ah, walau harus digarisbawahi bahwa kelompok Syi’ah, dalam hal sifat Tuhan, lebih cenderung sependapat dengan Mu’tazilah.[42] Seperti diketahui bahwa Mu’tazilah tidak menyetujui pandangan yang menyatakan bahwa sifat Allah berbilang (banyak), karena menurut mereka keterbilangan sifat mengakibatkan keterbilangan zat. Dalam pandangan Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah, sifat-sifat Allah, seperti ilmu, qudrah, iradat (kehendak), hayat (hidup), dan kesemuanya adalah zat-Nya yang sendiri, bukan sifat di luar zat-Nya, maka qudrat-Nya ­misalnya dari segi wujud-Nya adalah hayat-Nya, dan hayat-Nya adalah qudrat-Nya, demikian seterusnya.[43]
Dalam konteks uraian tentang Tauhid (Keesaan Allah) dapat ditambahkan bahwa salah satu hal yang berkaitan dengannya adalah apa yang diistilahkan dengan al-Adel, Allah Maha Adil tidak sedikit pun menyentuh kezaliman.Keadilan Ilahi mutlak dipercayai oleh setiap Muslim, apa pun kelompok dan alirannya. Namun, dalam pengertiannya terdapat perbedaan antara Ahlussunnah dan Syi’ah. Aliran Mu’tazilah dan Syi’ah menegaskan bahwa keadilan-Nya yang mutlak itu menjadi­kan setiap Muslim harus percaya bahwa Allah wajib melakukan al-Shalah dan al-Ashlah (Yang baik dan yang terbaik) sehingga Dia pasti memberi ganjaran siapa yang taat, dan Dia juga menjatuhkan hukuman kepada yang berdosa. Ini berbeda dengan pandangan Asy`ariyyah dari ahl al-sunnah wa al-jama’ah- yang menyatakan tidak ada halangan, bahkan bisa saja bagi Allah menyiksa yang taat dan memberi ganjaran bagi yang berdosa. Perbedaaan itu agaknya karena satu pihak dalam hal ini Muktaziah dan Syi’ah menekankan sisi keadilan Ilahi, sedang pihak kedua, ahl al-sunnah wa al-jama’ah, menekankan sisi kuasa-Nya yang mutlak.[44]
Dari aspek keyakinan ini juga lahir perbedaan lainnya, yaitu ahl al-sunnah wa al-jama’ah menyatakan bahwa baik dan buruk ditentukan oleh syariat, bukannya akal. Sedangkan Syi’ah cenderung sependapat dengan Mu’tazilah dalam hal bahwa akal yang menetapkan baik dan buruknya sesuatu, atau paling tidak mereka tidak berkata: "Ini baik karena diperintahkan Allah," tetapi "Ini diperintahkan Allah karena baik."[45]
Kendati kelompok Syi’ah cenderung sependapat dengan Mu’tazilah dalam pengertian Tauhid dan ‘Adil, tetapi mereka sependapat dengan ahl al-sunnah wa al-jama’ah dalam hal bahwa yang melakukan dosa besar bukannya dalam suatu kedudukan antara Mukmin dan kafir, sebagaimana pendapat Mu’tazilah, tetapi pelaku dosa besar itu adalah "Muslim yang berdosa". Demikian pula mereka sependapat dengah Mu'tazilah tentang Amar Ma’ruf dan Nahyi Munkar sebagai kewajiban agama atas dasar argumentasi syariat, bukannya kewajiban tersebut atas dasar argumentasi logika. Sedangkan dalam hal janji dan ancaman Tuhan, mereka memiliki pandangan tersediri, berbeda dengan Mu’tazilah maupun ahl al-sunnah wa al-jama’ah, karena Syi’ah berpendapat bahwa Tuhan tidak harus melaksanakan ancaman-ancamannya sehingga dapat saja Dia mengampuni orang-orang yang berdosa.[46]
b. Kenabian
Kelompok Syi’ah berkeyakinan bahwa seluruh nabi yang disebut dalam al-Qur'an adalah utusan-utusan Allah swt. dan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah nabi terakhir, dan penghulu seluruh nabi. Beliau terpelihara dari kesalahan dan dosa. Allah telah memperjalan­kan beliau di waktu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al­Aqsha, kemudian dinaikkan ke sidrah al-Muntaha Kitab al-Qur'an diturukan oleh Allah kepada beliau sebagai mukjizat dan tantangan serta pengajaran hukum yang membedakan antara halal dan haram, yang tiada kekurangan juga penambahan atau perubahan di dalamnya dan barangsiapa yang mengaku mendapat wahyu atau diturunkan kitab kepadanya setelah kenabian Muhammad saw., maka dia itu kafir yang harus dibunuh.[47]
c. Hari Kemudian
Pada dasarnya tidak ada perbedaan prinsipil antara keyakinan Syi’ah dan ahl al-sunnah wa al-jama’ah dalam hal keyakinan tentang Hari Kemudian. Syaikh Husain Kasyif al-Gita menguraikan keyakinan Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah sebagai berikut:
"Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah berkeyakinan sebagaimana diyakini oleh seluruh kaum Muslim bahwa Allah swt. akan mengembalikan hidup/membangkitkan scmua makhluk dan menghidupkan mereka setelah kematian pada hari kiamat untuk melakukan perhitungan dan balasan. Yang dibangkitkan itu adalah sosok yang ber­sangkutan masing-masing dengan jasad dan ruhnya, sehingga bila dilihat oleh orang lain dia akan berkata: "Inilah si Anu." Anda tidak wajib mengetahui bagaimana terjadinya kebangkitan itu, apakah is merupakan pengembalian yang telah tiada atau nampaknya yang maujud atau selain dari itu. Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah juga percaya dengan semua apa yang tercanturn dalam al-Qur'an dan Sunnah yang nilainya qath'iy (pasti) seperti surga, neraka, kenikmatan di barzah dan siksanya, timbangan amal, shirdth (jembatan), kitab amalan manusia, yang tidak membiar­kan yang kecil atau yang besar kecuali dicatatnya, dan bahwa semua manusia akan mendapat ganjaran/balasan. Kalau amalnya baik maka balk danikalau buruk maka buruk"[48]
Demikian sekelumit perbandingan pandangan ahl al-sunnah wa al-jama’ah dan Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah tentang hal-hal yang harus diimani.

III.  PENUTUP
Berdasarkan pembahasan di atas, penulis dapat membuat tiga kesimpulan sebagai berikut:
1.      Syi’ah adalah mereka yang mengikuti Ali ra. dan percaya bahwa beliau adalah Imam sesudah Rasul saw. dan percaya bahwa imamah tidak keluar dari beliau dan keturunannya. Sedangkan ahl al-sunnah wa al-jama’ah berarti orang-­orang yang secara konsisten mengikuti tradisi (al-sunnah) Nabi Muhammad saw., dalam hal ini adalah tradisi Nabi dalam tuntunan lisan maupun amalan beliau serta sahabat (al-jama’ah) mulia beliau.
2.      Sekte-sekte Syi’ah adalah Ghulah (Ekstremis), Isma’iliyyah, Zaidiyyah, dan Itsna ‘Asyariyyah.
3.      Jika Syi’ah dan ahl al-sunnah wa al-jama’ah dibandingkan maka tidak ada perbedaaan yang mendasar dan urgen dari aspek akidah dan ibadah kecuali masalah imamah


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Umar (ed)., Mengapa Kita Menolak Syi’ah. Cet. II; Jakarta: Karunia, 1998.
Hading, Ahl al-Bait dan Keutamaannya menurut Hadis. Cet.I; Makassar: Alauddin Press, 2011.
Hasan, Muhamma Thalhah. Ahlusunnah wal-Jama’ah. Cet. III; Jakarta: Lantarabora Press, 2005.
Al-Jurjani, ‘Ali Muhammad. al-Ta’rifat. Cet.I; Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1403 H.
Al-Saus, ‘Ali. ‘Aqidah al-Imamah ‘inda al-Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyyah, terj. Asmuni, Imamah dan Khilafah. Jakarta: Gema Insani,m1997
Shihab, M Quraish. Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?. Cet. III: Jakarta: Lentera Hati, 2007.
Solihan, Imamah & Khilafah dalam Tinjauan Syar’i. Cet. I; Jakarta: Germa Insani, 1997.
Zahiri, Ihsan Ilahi. al-Syi’ah wa al-Sunnah, terj. Bey Arifin, Syiah dan Sunnah. Cet. I; Jakarta: Bina Ilmu, 1984.










[1]Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah II (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), h. 88.
[2]K.H.M. Thaib Thahir Abd. Muin, Ilmu Kalam (Jakarta: Penerbit Wijaya, 1986), h. 94-95.
[3]Muhammad Abu Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam (Jakarta: Logos, 1996) h. 36-38.
[4]Sudarsono, Filsafat Islam (Cet. I; Jakarta Rineka Cipta, 1947), h. 9-10. Lihat juga Harun Nasution, Teologi Islam (Cet. V; Jakarta: UI Press, 1986), h. 61-68.
[5]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? (Cet. III: Jakarta: Lentera Hati, 2007), h. 60. Bandingkan ‘Umar ‘Abdullah (ed), Mengapa Kita Menolak Syi’ah (Cet. II; Jakarta: Karunia, 1998), 1-22.
[6]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? , h. 60. Bandingkan Ihsan Ilahi Zahiri, al-Syi’ah wa al-Sunnah, terj. Bey Arifin, Syiah dan Sunnah (Cet. I; Jakarta: Bina Ilmu, 1984), h. 29-39.
[7]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? , h. 60.
[8]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 61.
[9]‘Ali Muhammad al-Jurjani, al-Ta’rifat (Cet.I; Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1403 H), h. 129.
[10]M Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 61.
[11]M Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 57.
[12]M Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 57.
[13]M Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 58.
[14]‘Abd al-Qahir al-Bagdadi, al-Farqu Baina al-Firaq (Beirut: Dar al-Āfaq al-Jadidah, 1977), h. 304.
[15]‘Abd al-Qahir al-Bagdadi, al-Farqu Baina al-Firaq, h. 309.
[16]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 58.
[17]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 58.
[18]‘Abd al-Qahir al-Bagdadi, al-Farqu Baina al-Firaq, h. 310-311.
[19]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 59.
[20]‘Abd al-Qahir al-Bagdadi, al-Farqu Baina al-Firaq, h. 15-16
[21]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 70.
[22]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 70-83. Bandingkan ‘Ali al-Saus, ‘Aqidah al-Imamah ‘inda al-Syi’ah Iṡna ‘Asy’ariyyah, terj. Asmuni Solihan, Imamah & Khilafah dalam Tinjauan Syar’i (Cet. I; Jakarta: Germa Insani, 1997), h. 15-36.
[23]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 85
[24]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 86.
[25]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 86.
[26]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 86.
[27]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 86. Bandingkan A. Syarafuddin al-Musawi, Dialog Sunnah Syiah (Cet. VII; Jakarta: Mizan, 1994), h. 15-17.
[28]M. Quraish Shihab, M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 88. Bandingkan Hading, Ahl al-Bait dan Keutamaannya menurut Hadis (Cet.I; Makassar: Alauddin Press, 2011), h.1-7
[29]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 88.
[30]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 88.
[31]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 88.
[32]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 89.
[33]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 89-90.
[34]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 91. Bandingkan Muhamma Thalhah Hasan, Ahlusunnah wal-Jama’ah (Cet. III; Jakarta: Lantarabora Press, 2005), h.13-32.
[35]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 91.
[36]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 91.
[37]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 92.
[38]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 92.
[39]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 92.
[40]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 92-93.
[41]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 93
[42]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 93
[43]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 93
[44]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 93-94.
[45]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 94.
[46]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 94-95.
[47]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 95
[48]M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, h. 95-96.
Post a Comment