Thursday, February 4, 2016

WAWASAN ALQURAN TENTANG GENDER



I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Persoalan gender merupakan salah satu topik yang sering diperbincangkan di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Seiring dengan perkembangan peradaban, kebangkitan perempuan dalam bidang pendidikan semakin memperlihatkan kemampuan dan partisipasi perempuan dalam berbagai bidang, menimbulkan kesadaran akan adanya diskriminasi dan penindasan terhadap hak-hak perempuan.
Diskusi tentang gender sering menjadi topik hangat diperbincangkan dan menembus sekat-sekat birokrasi, perguruan tinggi, dan rumah tangga. Gender merupakan satu konsep yang mengacu pada peran dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan dari segi sosial- budaya yang dapat disesuaikan dengan perubahan zaman. Perbedaan perempuan dan laki-laki mempengaruhi relasi keduanya dan sering berjalan tidak setara dan humanis. Jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang merupakan kodrat, sering dipandang sebagai dasar yang mempengaruhi peran, pola pikir dan perilaku keduanya, sehingga peran dan relasi gender tidak selalu didasari pada kondisi humanis dan berkeadilan. Dalam banyak hal perempuan tersubordinasi dan dianggap kurang penting, sehingga perempuan berada dalam posisi yang terdiskriminasi. Sebagai contoh, dalam sejarah panjang kehidupan manusia telah mencatat bahwa,di berbagai belahan dunia garis keturunan diambil dari laki-laki sehingga kelahirannya dianggap sangat penting. Lalu pada gilirannya kelompok laki-laki mendapat keistimewaan (privilege) dari masyarakat dan mendapatkan posisi istimewa baik dalam kehidupan keluarga, dan terutama dalam kehidupan sosial.
Dalam beberapa dasawarsa terakhir marak kegiatan para wanita yang menuntut keadilan, berupa persamaan hak antara wanita dan laki-laki. Aktivitas berdasarkan jenis kelamin (gender) itu umumnya dimotori oleh para feminis- me yang menuntut kemerdekaan wanita (Women Liberation). Gerakan kaum feminisme itu awalnya muncul dari kalangan pekerja wanita di benua Eropa, karena mereka merasa dianggap sebagai warga negara kelas dua. Sebagai contoh, pekerja wanita mendapat upah yang lebih rendah, posisi jabatan kunci selalu diprioritaskan untuk laki-laki, dan sebagainya. Demikian yang diperjuangkan oleh dua penyuluh utama feminisme, Betty Friedan dan Simone de Beauvior, yang masing-masing mewaris-kan dua teks tertulis yang kini menjadi klasik: The Feminine Mystique dan The Second Sex yang terbit pada tahun 1960-an.[1] 

Di Indonesia ada beberapa tokoh pejuang wanita, seperti Dewi Sartika, Maria Maramis, Tjut Njak Dien, Tjut Meutia, dan Christina Marta Tiahahu. Namun yang menulis buah pikirannya hanyalah RA Kartini (wafat 1904). Surat-surat RA Kartini diterbitkan Mr. Abendanon tahun 1911, berjudul Door Duiseternis tot Lich (Habis Gelap Terbitlah Terang). Dan kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia (1938). Dalam suratnya banyak berisi kecaman-kecaman Kartini terhadap praktik kolonialis me Belanda, terutama yang menghalangi kaum wanita untuk mengenyam pendidikan dan pekerjaan. Posisi wanita dipinggirkan dan direndahkan, seolah-olah hidupnya hanya untuk melayani laki-laki saja.[2]
Bagaikan terkena trauma yang begitu dalam, sampai sekarangpun masih banyak wanita yang merasa rendah, sehingga harus berunjuk rasa, berteriak, menuntut keadilan hak yang sama dengan laki-laki. Bahkan di berbagai negara aksi mereka sudah berlebihan, dan mengingkari kodrat mereka sebagai wanita. Misalnya dengan berpakaian, berbicara dan bertingkah laku sebagai laki-laki, tidak mau hamil, bahkan ada yang nekat mengawini wanita. Itulah yang mereka sebut “memperjuangkan” emansipasi wanita.
Termasuk dalam kehidupan masyarakat kita masih banyak terdapat ketimpangan-ketimpangan dalam pemahaman tentang gender baik sebagai konstruksi budaya yang sangat mengakar maupun sebagai akibat pemahaman keagamaan yang keliru dan sempit, misalnya ketika sebagian perempuan telah mengambil peran sosial di luar rumah sementara di sisi lain laki-laki tidak mau peduli dengan urusan dalam rumah dengan alasan tanggung jawab perempuan, sehingga lagi-lagi perempuan yang jadi korban beban yang berganda. Demikian pula sebahagian masyarakat yang memberi pengwasan yang lebih ketat terhadap anak perempuan ketimbang laki-laki, seakan-akan tidak terlalu masalah ketika anak laki-laki merusak perempuan lain. Sehingga, mungkin imbas dari pemahaman seperti inilah sehingga di antara laki-laki tega mendzalimi dan mencampakkan perempuan.
Sebenarnya kaum perempuan sepanjang zaman telah memperoleh perhatian yang serius daripada cendekiawan dan para peneliti, sesuai dengan kecenderungan dan spesialisasi bidang ilmu mereka masing-masing. Hanya saja kajian dan penelitian tersebut membentuk kesimpulan yang berbeda-beda mengenai kaum perempuan, sehingga berbeda-beda pula dalam menjabarkan hak dan kewajibannya. Ketika sebagian kajian mengakui hak perempuan dalam kehidupan dan menjadikannya sebagai manusia seutuhnya sebagaimana kaum laki-laki, maka kajian-kajian yang lain menjatuhkan kaum perempuan dengan suatu kesimpulan bahwa, perempuan adalah makhluk yang diciptakan untuk kemaslahatan kaum laki-laki. Ketika sebagain undang-undang memberikan hak kepada kaum perempuan dalam kaitan dengan kaum laki-laki, maka undang-undang yang lainnya menghalangi hak kaum perempuan. Sehingga nasib perempuan seolah-olah tergadaikan pada kekuasaan laki-laki, terpakai dan terabaikan dengan kehendak laki-laki.[3]
Al-Qur’an adalah firman Allah swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. pedoman umat manusia dalam menata kehidupannya, agar memperoleh kebahagiaan lahir dan batin di dunia dan di akhirat kelak. Konsep-konsep yang ditawarkan al-Qur’an selalu relevan dengan problema yang dihadapi manusia, karena al-Qur’an turun untuk berdialog dengan setiap umat dalam segala zaman, sekaligus menawarkan pemecahan masalah terhadap problema yang dihadapi.

B. Permasalahan
Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan pokok, yaitu: “bagaimana wawasan al-Qur’an tentang gender?”. Dari masalah pokok tersebut dapat dideskripsikan ke dalam beberapa sub masalah, yaitu:
1.      Apa hakikat gender dalam al-Qur,an?
2.      Bagaimana prinsip-prinsip gender dalam al-Qur’an?
3.      Bagaimana urgensi gender dalam al-Qur’an?

II. PEMBAHASAN
A.  Hakikat Gender menurut al-Qur’an
1.   Pengertian Gender
Sebelum membahas tentang hakikat gender menurut al-Qur’an, terlebih dahulu akan dijelaskan apa yang dimaksud dengan gender. Kata gender berasal dari bahasa Inggris, gender, yang berarti “jenis kelamin”.[4] Dalam uraian yang dikemukakan oleh Nasaruddin Umar, diperoleh beberapa pengertian tentang gender sebagai berikut:
1.  Perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.
2.  Suatu konsep kultural yang berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku,mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.
3.    Harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan.
4.  Semua ketetapan masyarakat prihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan.
5.   Suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi laki-laki dan perempuan.[5]
Istilah gender sudah lazim digunakan di Indonesia, khususnya di Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dengan ejaan “gender”. Gender diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Gender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan[6]
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa, gender adalah suatu dasar untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial-budaya,yang sifatnya bisa berubah karena perbedaan waktu dan kondisi budaya, bukan dari sudut biologi yang tidak dapat berubah karena bersifat kodrati.
    2. Identitas gender dalam al-Qur’an
Ada beberapa term yang digunakan al-Quran yang dapat ditelusuri untuk memberi pemahaman tentang hakikat gender, sebagaimana telah diuraikan oleh Nasaruddin Umar bahwa:”Identitas gender dalam al-Qur’an dapat dipahami melalui simbol dan bentuk gender yang digunakan di dalamnya, yaitu:
1.      Istilah-istilah yang menunjuk kepada laki-laki dan perempuan
2.      Gelar status yang berhubungan dengan jenis kelamin
3.      Kata ganti yang berhubungan dengan jenis kelamin
4.      Kata sifat disandarkan kepada bentuk muzakkar dan muannas.[7] Dalam makalah ini, penlis hanya akan menelusuri bagian pertama, yakni akan menelusuri istilah-istilah yang menunjuk kepada laki-laki dan perempuan dalam al-Qur’an.
a. Al-Rijal dan al-Nisa
Kata al-Rajul dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 55 kali dalam al-Qur’an[8]  dengan kecenderungan berbagai pengertian sebagai berikut:
1)     Al-Rajul dalam arti gender laki-laki yang dipahami berdasarkan terjemahan Departemen Agama RI, antara lain sebagai berikut:
     a)     Ayat tentang persaksian hutang-piutang seorang lelaki: dua orang perempuan (QS.al-Baqarah/2:282).
    b)     Ayat tentang laki-laki mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya (QS al-Baqarah/2:228).
     c)      Ayat tentang kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita (QS al-Nisa/4:34).
    d)     Ayat tentang pembagian harta warisan, bagi laki-laki dan wanita masing-masing ada bahagian dari apa yang mereka usahakan (QS.al.Nisa/4:32).
    e)     Ayat tentang, Allah tidak menjadikan bagi seseorang (laki-laki) dua buah hati dalam rongganya (QS.al-Ahzab/33:4).
    f)        Anjuran berperang di jalan Allah membela orang-orang yang lemah, laki-laki, wanita dan anak-anak (Qs al-Nisa/4:75)
2)     Selain itu, al-Rajul dalam arti laki-laki dan perempuan, antara lain: (QS.al-A’raf/7:46; al-Ahzab/33:23; al-Taubah/9:108; dan Shad/38:62. Al-Rajul dalam arti Nabi dan Rsul seperti dalam QS al-Anbiya/21:7; Saba’/34:7; al-Isra’/17:47.Al-Rajul dalam arti tokoh masyarakat antara lain: Qs Yasin/36:20, al-A’raf/7:48, al-Rajul juga kadang berarti budak seperti dalam QS al-Zumar/39:29.[9]
b. Pengertian al-Nisa
            Adapun kata al-nisa adalah bentuk jamak dari al-mar’ah berarti perempuan yang sudah matang, berbeda dengan kata al-untsa yang berarti jenis kelamin perempuan secara umum. Kata al-nisa dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 59 kali dalam al-Qur’an[10] pengertian sebagai berikut:
1)     Al-Nisa dalam arti gender perempuan:
         a)     Laki-laki dan perempuan sama-sama memperoleh hak warisan (QS. Al-nisa/4: 7 ).
       b)     Larangan iri hati berkaitan dengan pembagian harta warisan karena laki-laki dan perempuan masing-masing memperoleh dari apa yang mereka usahakan (QS al-Nisa/4: 32).
2)   Al-Nisa dalam arti istri atau istri-istri. Sebagaimana halnya kata al-mar’ah sebagai bentuk mufrad kata al-nisa, hampir seluruhnya berarti istri, tidak pernah digunakan untuk perempuan di bawah umur.[11] Dapat dilihat misalnya: QS: al-Baqarah/2: 231-232; al- Nisa/4: 22 dan 24;al Mujadilah/58:2-3; dan lain-lain.
c. Al-Zakar dan al-Untsa
Al-zakar/الذكر , jamak dari: ذ كو ر – وذ كو رة – وذكران yang berarti laki-laki, jantan,[12] oleh karena itu,sebagai lawan dari kata al-untsa juga digunakan untuk jenis selain manusia. Kata الذكر dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 18 kali dalam al-Qur’an,[13] dan lebih berkonotasi kepada persoalan biologis (sex). Di antaranya yang bermakna laki-laki, sebagai beikut:
1)     Ayat tentang anak laki-laki tidak sama dengan anak perempuan (Maryam)
2)     Ayat tentang pembagian harta warisan bagi anak laki-laki dan perempuan= 2:1 (QS.al-Nisa/4:11dan 176)
3)     Ayat tentang persamaan hak laki-laki dan perempuan untuk meraih surga (QS.al-Nisa/4:124.
d. Al-Mar’/al-Imru’ dan al-Mar’ah/al-Imra’ah
Kata al-imru’/al-mar’ berasal dari akar kata mar’ berarti “baik, bermanfaat” . Dari kata ini lahir kata al-mar’ berarti laki-laki dan al-mar’ah berarti perempuan.[14] Penggunaan kata al-mar’ dalam al-Qur’an berarti manusia (termasuk perempuan), seperti dalam QS.’Abasa/80:34-35; al-Thur/52:21. Kata imra’ah menunjuk kepada wanita seperti: istrii Fir’aun (QS.al-Qashash/28:9, istri Imran (QS.Ali Imran/3: 35), dan lain-lain.   
            Berdasarkan uraian tersebut di atas, ada tiga istilah yang digunakan al-Qur’an untuk menunjuk kepada laki-laki yakni: al-rajul, al-zakar dan al-mar’. Walaupun ketiganya menunjuk lak-laki secara umum, nanmun ketiganya mempunyai penekanan yang berbeda.Al-rajul semuanya menunjuk kepada manusia, namun dalam kapasitas yang berbeda-beda, terkadang berarti gender laki-laki, orang (termasuk perempuan), Nabi/Rasul, tokoh masarakat,bahkan terkadang berarti budak. Adapun al-zakar, terkadang bermakna jantan atau species selain manusia. Dan apabila menunjuk kepada species manusia maka ia lebih menekankan pada aspek biologis (sex). Sementara al-mar’yang berarti laki-laki, namunterkadang berarti manusia (Laki-laki dan perempuan),dan penggunaannya untuk orang yang sudah dewasa, yang sudah mempunyai kecakapan bertindak atau yang sudah berumah tangga.
            Adapun istilah yang digunakan al-Qur’an untuk menunjuk kepada perempuan yaitu: al-nisa’ adalah bentuk jamak dari al-mar’ah yang berarti perempuan yang sudah matang atau sudah dewasa, istri, sedangkan al-untsa berarti jenis kelamin perempuan secara umum,dan terkadang berarti jenis (species) lain selain manusia.

C.  Prinsip-Prinsip Kesetaraan Gender dalam al-Qur’an
         1.  Laki-laki dan perempuan sama kedudukannya sebagai hamba Allah
            Salah satu tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah kepada Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam QS al-Zariyat/51:56: (Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku). Ayat tersebut menjelaskan bahwa hakikat tujuan penciptaan manusia, laki-laki dan perempuan adalah untuk beribadah kepada Allah. Laki-laki dan perempuan sama berpeluang untuk meraih derajat sebagai hamba yang ideal yaitu taqwa kepada Allah, sebagaimana QS al-Hujurat/49:13: (Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal).
            Berdasarkan ayat tersebut, dalam kapasitas manusia sebagai hamba, tidak ada perbedaan antara laki-laki perempuan. Keduanya berpeluang untuk menjadi hamba yang ideal, yakni dapat meraih derajat taqwa. Dan untuk meraih derajat taqwa ini tidak dikenal adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa kelompok etnis tertentu.
            Banyak ayat-ayat al-Qur,an yang memberikan petunjuk tentang kesamaan derajat manusia sebagai hamba di hadapan Allah swt. QS al-Nahl/16: 97: (Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan).
Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman. Demikian pula apabila mereka melakukan pelanggaran hukum syariat, laki-laki dan perempuan mendapatkan hukuman yang sama, misalnya hukum perzinaan dalam QS al-Nur/24:2: (Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman).
            Berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas, memberi petunjuk bahwa laki-laki dan perempuan sebagai hamba Allah sama derajatnya. Memang ada hadis Nabi yang seolah-olah menunjukkan laki-laki memiliki kelebihan dalam beberapa hal, seperti hadis yang diriwatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar: Dari Abdullah bin Umar Rasulullah Saw telah bersabda: Wahai kaum perempuan! Bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istigfar. mKarena, aku melihat kalian lebih ramai menjadi penghuni neraka. Seorang perempuan yang cukup pintar dari mereka bertanya: Wahai Rasulullah, kenapa kami kaum perempuan yang lebih ramai menjadi penghuni neraka? Rasulullah Saw beersabda: Kalian banyak mengutuk dan mengingkari suami. Aku tidak melihat yang kekurangan akal dan agama dari pemilik pemahaman yang lebih daripada golongan kalian. Perempuan itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah! Apakah maksud kekurangan akal dan agama itu?Rasulullah Saw bersaba: Maksud kekurangan akal ialah penyaksian dua orang perempuan sama dengan penyaksian seorang laki-laki. Begitu juga perepuan tidak mengerjakan sembahyang pada malam-malam dilaluinya, kemudian berbuka pada bulan Ramadhan karena itulah yang dikatakan kekurangan agama.
Kekurangan “akal” dan “agama” dalam hadis tersebut, tidak berarti perempuan secara potensial tidak mampu menyamai atau melampaui prestasi kreatifitas akal dan ibadah laki-laki. Hadis ini menggambarkan keadaan praktis laki-laki dan perempuan di masa Nabi.Ketika itu fungsi dan peran publik berada di pundk laki-laki. Kekurangan agama teerjadi ketika perempuan mengalami menstruasi adalah dispensasi khusus bagi perempuan dari Tuhan dan tidak dikenakan akibat apapun.
Kekurangan “akal” masih perlu dilacak lebih lanjut. Kalau kekurangan akal dihubungkan dengan kualitas persaksian, sementara persaksian itu berhubungan dengan faktor budaya, maka bisa saja dipahami yang dimaksud “kekurangan akal” adalah keterbatasan penggunaan fungsi akal bagi perempuan karena adanya pembatasan-pembatasan budaya di dalam masyarakat. Jadi banyaknya perempua di dalam neraka menurut penglihatan Nabi mungkin saja karena populasi perempuan lebih besan daripada laki-laki, sehingga proporsional kalau perempuan lebih banyak di dalam neraka daripada laki-laki.[15]
Kenyataannya memang hadis tersebut di atas, lebih tepat dipahami secara kontekstual, yakni menunjuk pada kondisi kebanyakan perempuan pada masa Nabi, sebab fakta sudah menunjukkan betapa banyak perempuan tertentu lebih unggul daripada laki-laki dalam banyak hal, baik kualitas agama, kecerdasan, kreatifitas dan sebagainya.
        2.      Laki- laki dan perempuan sama dari segi asal kejadian
            Berbicara mengenai kedudukan perempuan, terkait dengan pemahaman mengenai asal kejadian perempuan. Ayat al-Qur’an yang populer dijadikan rujukan dalam pembicaraan mengenai asal kejadian perempuan yang melahirkan pandangan yang bias gender adalah QS al-Nisa/4:1:  (Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
            Pandangan bahwa, laki-laki adalah superior, sementara perempuan adalah subordinasi berakar dari penafsiran ayat tersebut di atas. Dikalangan ulama salaf seperti al-Zamahsyariy dan al-Asqalaniy, menafsirkan frase من نفس واحدة dengan makna Adam AS dan kata zaujaha (harfiaahnya adalah “pasangan”) ditafsirkan dengan istri Adam yaitu Hawa.[16] Dengan demikian, mereka menafsirkan bahwa, istri Adam (perempuan) diciptakan dari diri Adam. Pandangan ini kemudian melahirkan pandangan yang negatif terhadap perempuana, bahwa perempuan adalah bahagian dari laki-laki, tanpa laki-laki perempuan tidak akan ada.[17]
             Mereka memperkuat penafriran tersebut dengan sebuah hadis riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa: (Dari Abu Hurairah ra. Telah berkata: Telah bersabda Rasulullah Saw: “Saling berwasiatlah tentang perempuan karena sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk dan sesungguhnya yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang paling atas.Apabila engkau berusaha meluruskannya maka ia akan patah, tetapi apabila engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok)
Mengenai hadis tersebut, ulama salaf memahaminya secara harfiah, sehinga mereka berpendapat bahwa istri Adam (Hawa) diciptakan dari Adam sendiri yaitu dari tulang rusuk sebelah kiri yang bengkok, dan karena itu menimbulkan kesan negatif terhadap perempuan, bahwa perempuan adalah bagian dari lelaki.
            Berbeda dengan penafsiran ulama salaf, beberapa pakar tafsir kontenporer, seperti Muhammad Abduh (w.1905 M) dalam tafsir al-Manar dan al-Thabathabai menafsirkan nafs dengan “jenis” , sehingga mereka memahami bahwa irtsi Adam (Hawa) diciptakan dari jenis yang sama dengan Adam. Mengenai hadis bahwa perempuan diciptakan dari “ tulang rusuk yang bengkok” ulama kontenporer memahaminya secara metafora, dengan menyatakan bahwa, hadis tersebut mengingatkan para pria agar menghadapi perempuan dengan bijaksana karena ada sifat dan kodrat bawaan mereka yang berbeda dengan pria sehingga, bila tidak disadari akan mengantar pria bersikap tidak wajar. Tidak ada yang mampu mengubah kodrat bawaan itu. Kalaupun ada yang berusaha, akibatnya akan fatal seperti upaya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.[18]
            Apabila dikaji ayat-ayat al-Qur’an, tidak ada satu ayat pun yang mendukung pendapat yang mengatakan asal kejadian perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Sebaliknya justru al-Qur’an mendukung prinsip-prinsip kesamaan dan kesetaraan di hadapan Tuhan dengan menekankan unsur-unsur persamaan dalam kejadian manusia, seperti dalam QS.Thaha/20:55 (Dari bumi (tanah) Itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain).
Demikian pula ayat yang menjelaskan tentang kemuliaan anak cucu Adam (laki-laki dan perempuan), seperti dalam QS.al_Isra’/17:70: (Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan).
            Menyikapi perbedaan pendapat tersebut di atas, sangat menarik untuk menyimak uraian yang dikemukakan oleh M.Quraish Shihab bahwa, apabila pasangan Adam (Hawa) diciptakan dari tulang rusuk Adam, maka itu bukan berarti bahwa kedudukan wanita-wanita selain Hawa demikian juga atau lebih rendah dibanding dngan lelaki. Ini karena semua anak cucu Adam pria dan wanita lahir dari gabungan antara pria dan wanita. Karena itu tidak ada perbedaan dari segi kemanusiaan. Kekuatan lelaki dibutuhkan oleh wanita dan kelemahlembutan wanita dibutuhkan oleh pria. Jarum harus lebih kuat daripada kain, dan kain harus lebih lembut daripada jarum. Kalau tidak, jarum tidak akan berfungsi dan kainpun tidak akan terjahit. Dengan berpasangan, akan tercipta pakaian yang indah, serasi, dan nyaman. Demikianlah pasangan suami istri hendaknya menyatu sehingga menjadi diri yang satu, yakni menyatu dalam perasaan dan pikirannya, dalam cita dan harapannya, dalam gerak dan langkahnya, bahkan dalam menarik dan menghembuskan nafasnya. Lalu beliau mengutip sebuah syair: “Diriku dirimu, jiwaku jiwamu, Jika engkau bercakap kata hatiku yang engkau ucapkan, Dan jika engkau berkeinginan, keinginanku yang engkau cetuskan.”[19]
            Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat dipahami bahwa pada hakikatnya manusia secara umum sama derajatnya jika ditinjau dari asal kejadiannya menurut al-Qur’an. Kalaupun maksud QS al-Nisa/4:1 di atas mengandung makna bahwa Hawa diciptakan dari diri Adam, namun tidak dapat dijadikan alasan untuk memandang bahwa semua perempuan sama. Karena bukti empirik menunjukkan bahwa setiap manusia terlahir disebabkan perantaraan seorang Ayah dan seorang Ibu, kecuali Nabi Adam, Hawa dan Nabi Isa AS yang ketiganya mempunyai kekhususan tersendiri.
3.   Laki-Laki dan Perempuan sama-sama dalam hak kepemimpinan publik
            Apabila ditelusuri ayat-ayat al-Qur’an, maka ditemukan banyak ayat yang memberi isyarat bahwa, laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam hal kepemimpinan, antara lain dapat dilihat dalam QS al-Taubah/7: 71: (Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).
            Kata awliya dari segi bahasa berarti antara lain: menguasai, mengurus, memerintah, mencintai, menolong, wali.[20] Adapun menurut Amin al-Khuli, kata awliya dalam pengertiannya, mencakup kerjasama, bantuan dan penguasaan, sedang pengertian yang dikandung oleh “menyuruh mengerjakan yang makruf” mencakup segala segi kebaikan atau peerbaikan kehidupan, termasuk memberi nasihat (kritik) terhadap penguasa. Dengan demikian, stiap lelaki dan perempuan Muslimah hendaknya mampu mengikuti perkembangan masyarakat agar masing-masing mereka mampu melihat dan memberi saran (nasihat) dalam berbagai bidang kehidupan. Kepentingan (urusan) kaum muslimin mencakup banyak sisi yang dapat menyempit atau meluas sesuai dengan latar belakang pendidikan seseorang, tingkat pendidikannya. Dengan demikian, kalimat ini mencakup segala bidang kehidupan termasuk bidang kehidupan politik[21]
            Adapun ayat al-Qur’an yang sering dijadikan dasar untuk menafikan hak-hak perempuan dalam kepemimpinan adalah QS.al-Nisa/4:34: (Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (merek). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
Sebab nuzul ayat ini berdasarkan keterangan Mujahid bahwa, seorang wanita mengadu kepada Nabi saw karena telah ditampar oleh suaminya. Bersabdalah Rasulullah saw:”Dia mesti diqishash (dibalas)”.Maka turunlah ayat tersebut di atas, lalu Rasulullah membacakan, kemudian beliau menjelaskan bahwa:”Aku menghendaki sesuatu, lalu Allah menghendaki yang lebih baik.[22]
Kontroversi tentang hak kepemimpinan perempuan terkait dengan perbedaan penafsiran frase “الرجا ل قوامون على النساء “ . Ayat ini menjadi dalil bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi istrinya, mendidiknya ketika dikhawatirkan akan durhaka, maka laki-laki adalah pemimpin yang sempurna bagi istrinya karena dia pelindung dan pemberi nafkah.Karena itu Allah memuliakan laki-laki dengan menjdikannya penguasa, hakim, pemerintah, tentara, qadhi dan sebagainya dari urusan yang dikhususkan Allah untuk laki-laki.[23]
Golongan ulama seperti pendapat di atas yang tidak memberi kesempatan kepemimpinan bagi perempuan, mengemukakan tiga alasan:
1.    QS.al-Nisa/4: 34 (sebagaimana tersebut di atas)
2. Hadis yang menyatakan bahwa, perempuan kurang cerdas dibandingkan laki-laki, begitu juga sikap keberagamaannya.
3.  Hadis yang menyatakan: “Tidak berbahagia suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.
Ketiga dalil tersebut saling kait mengait dalam memperkuat argumentasi ketidakbolehan perempuan dalam memegang kepemimpinan. Kepemimpinan hanya untuk kaum lelaki, dan mengharuskan perempuan mengakui kepemimpinan ini.[24]
            Mengenai QS.al-Nisa/4:34 sebagaimana tersebut di atas, apabila diperhatikan sebab nuzul ayat ini, dan munasabah ayat ini dengan ayat sesudahnya, maka ayat tersebut khusus menyangkut kepemimpinan dalam rumah tangga, sehingga tidak dapat dijadikan dalil untuk meniadakan hak perempuan dalam kepemimpinan publik.
            Kalaupun ayat tersebut juga dikaitkan dengan kepemimpinan publik, maka pemahamannya lebih tepat dipahami secara kontekstual seperti yang dikemukakan oleh Abdillah bin Baz bahwa, keunggulan kaum lelaki atas perempuan, bukan dalam setiap masa karena Allah swt.mengetahui apa yang akan terjadi di akhir zaman. Karena sesungguhnya apabila hal itu merupakan ketentuan yang berlaku hingga hari kiyamat, tentu terjadi kerancuan dari ketentuan syariat karena telah diketahui kejadian yang sebaliknya, terdapat perempuan yang lebih unggul di bidang pendidikan, pekerjaan dan sebagainya di setiap zaman dan tempat.
Adapun pemahaman yang tepat bahwa, keunggulan lelaki atas perempuan yang dimaksudkan adalah orang tertentu, bukan untuk setiap individu lelaki atas perempuan, bahkan telah diketahui terdapat sebahagian perempuan lebih unggul dari sebahagian lelaki dalam banyak hal seperti: Aisyah, Khadijah, Hafshah dan selainnya dari Ummul Mu’minin ra lebih unggul daripada kebanyakan lelaki. Demikian juga di setiap zaman terdapat perempuan yang lebih unggul dari sebahagian lelaki dari segi ilmunya, pemikirannya dan agamanya.[25]
Mengenai alasan yang kedua, tentang hadis yang mengatakan perempuan lemah dari segi kecerdasan akal dan agama telah diuraikan pada bagian terdahulu tentang kedudukan perempuan sebagai hamba Allah. Adapun mengenai hadis tentang kepemimpinan perempuan sebagaimana dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dari Abu Bakar: (Dari Abu Bakar telah berkata sesungguhnya Allah telah memberi manfaat kepada saya karena kalimat yang saya dengar dari Rasulullah Sawpada waktu perang jamal sesungguhnya hampir saya ikut berperang bersama mereka, dia telah berkata, Rasulullah saw. telah menyampaikan bahwa ketika penduduk Persia mengangkat anak perempuan Kisra sebagai Raja mereka, Rasulullah bersabda: “Tidak akan beruntung suatu kaum apabila menyerahkan kepemimpinan kepada perempuan”).
            Mengenai hadis tersebut di atas, tidah digariskan untuk perempuan secara umum, akan tetapi hadis ini berkaitan dengan suatu peristiwa yang dikaitkan dengan masyarakat Persia ketika itu dan bukan berlaku umum dalam segala urusan.[26] Karena itu, pada hakikatnya laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam meraih prestasi sesuai yang dibutuhkan dalam suatu ranah sosial pada zamannya.

C. Urgensi Gender Dalam al-Qur’an
            Memahami urgensi gender dalam al-Qur’an dapat dipahami dri firman Allah dalam QS.al-Rum/30;21: (Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir).
Berdasarkan ayat tersebut di atas, dapat dipahami bahwa, di antara tanda-tanda kekuasaan Allah adalah Dia menciptakan untuk kamu secara khusus pasangan-pasangan hidup suami atau istri dari jenis kamu sendiri supaya kamu tenang dan tenteram serta cenderung kepadanya, yakni kepada masing-masing pasangan itu. Dan dijadikan-Nya di antara kamu mawaddah dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir tentang kuasa dan nikmat Allah.
Kata taskunu berarti diam, tenang setelah sebelumnya guncang dan sibuk. Karena itu Allah mensyariatkan bagi manusia perkawinan agar kekacauan pikiran dan gejolak jiwa itu mereda dan masing-masing memperoleh ketenangan. Sementara mawaddah adalah jika anda menghendaki untuknya kebaikan, serta tidak menghendaki untuknya selain itu, apapun yang terjadi. Siapa yang menciptakan rasa itu pada hati suami istri?. Kesediaan seorang suami untuk membela istrinya, dan kesediaan seorang wanita untuk hidup bersama seorang lelaki yang menjadi suaminya, meninggalkan orang tua dan keluarga yang membesarkannya, serta bersedia membuka rahasianya yang paling dalam. Sungguh merupakan suatu keajaiban, dan tidak mudah akan teraksana tanpa adanya kuasa Allah yang mengatur hati suami istri.[27]
Agar kondisi tersebut di atas dapat langgeng maka perlu adanya saling pengertian dan saling memahami serta perlu ada pembagian tugas dan tanggung jawab, pembagian kerja antara suai istri. Ada dua prinsip yang melandasi hak dan kewajiban suami istri:
1.   Terdapat perbedaan antara pria dan wanita, bukan hanya pada bentuk fisik tetapi juga dalam bidang psikis, bahkan perbedaan kelenjar dan darah masing-masing kelamin. Perbedaan kerja, hak dan kewajiban yang ditetapkan agama terhadap kedua jenis manusia itu didasarkan oleh perbedaan-perbedaan itu.
2.   Pola pembagian kerja yang ditetapkan oleh agama tidak menjadikan salah satu pihak bebs dari tuntutan minimal dari segi moral untuk membantu paangannya.[28]
 Keluarga adalah miniatur masyarakat, oleh karena itu harus ada seorang pemimpin, itulah yang dijelaskan dalam QS al-Nisa ayat 34 sebagaimana telah dikemukakan dalam pembahasan yang lalu.
            Kepemimpinan untuk stiap unit adalah hal yang mutlak, lebih-lebih bagi setiap keluarga, karena mereka selalu bersama, serta merasa memiliki pasangan dan keluarga. Persoalan yang dihadapi suami istri muncul dari sikap jiwa manusia yang tercermin dari keceriaan atau cemberutnya wajah. Sehingga persesuaian dan perselisihan bisa muncul sektika, tetapi boleh jadi akan sirna seketika. Kondisi seperti ini memerlukan seorang pemimpin yang melebihi kebutuhan suatu perusahaan.
            Hak kepemimpinan menurut al-Qur’an dibebankan kepada suami, diebabkan oleh dua hal:
1.      Adanya sifat-sifat fisik dan psikis pad suami yang lebih dapat menunjang suksesnya kepemimpinan rumah tangga jika dibandingkan dengan istri.
2.      Adanya kewajiaban memberi nafkah kepada istri dan anggota keluarganya.
Ibnu Hazm, seorang ahli hukum Islam berpendapat bahwa, wanita pada dasarnya tidak berkewajiban melayani suami dalam hal menyediakan makanan, menjahit dan sebagainya. Jutru sang suamilah yang berkewajiban menyiapkan pakaian jadi, makanan yang siap dimakan untuk istri dan anak-anaknya.[29] Dan karena itulah suami mempunyai derajat yang tinggi di lingkungan keluarganya sebagaimana dalam QS al-Baqarah/2:228: (Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru]. tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).
            Dalam konteks hubungan suami istri, ayat tersebut menunjukkan bahwa stri mempunyai hak dan kewajiban terhadap suami, sebagaimana suamipun mempunyai hak dan kwajiban terhadap istri, keduanya dalam keadaan seimbang, bukan sama. Dengan demikian tuntunan ini menuntut kerja sama dalam pembagian kerja yang adil antar suami istri, walau tidak ketat, sehingga terjalin kerja sama yang harmonis antara keduanya, bahkan seluruh anggota keluarga. Walau bekerja mencari nafkah adalah tugas utama pria, bukan berarti itri tidak diharapkan bekerja juga, khususnya bila penghasilan suami tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga. Di sisi lain, walau istri bertanggung jawab menyangkut rumah tangga, kebersihan, penyiapan makanan dan mengasuh anak, itu bukan berarti suami membiarkannya sendiri tanpa dibantu.[30]
            Pembagian tugas secara adil dan kerjasama yang baik antara laki-laki dan perempuan itulah sesungguhnya yang dikehendaki oleh gender, karena selain yang sifatnya kodrat bagi keduanya, pembagian tugas itu sulit untuk dibatsi mana tugas perempuan dan mana tugas laki-laki karena sebenarnya pembagian tugas itu bisa dilakukan keduanya yang hakikatnya adalah terwujudnya keadilan. Dengan demikian, pebagian tugas yang baik, adalah yang tidak mengabaikan hak-hak laki-laki dan perempuan, tidak menjadikan gender sebgai masalah karena pembagian peran perempuan dan laki-laki akan menguntungkan kedua belah pihak, misalnya:
1.      Perempuan dan laki-laki saling membantu memenuhi nafkah keuarga.
2.      Perempuan dan laki-laki saling membagi pekerjaan rumah tangga
3.      Perempuan dan laki-laki melaksanakan tugas sosial kemasyarakatan.
Terwujudnya hak dan tanggug jawab serta saling pegertian yang melahirkan jiwa tolong menolong antara suami istri, akan melahirkan perasaan saling membutuhkan antara pasangan suami istri dan akan mempersatukannya yakni menyatu dalam perasaan dan pikirannya, dalam cita dan harapannya, dalam gerak dan langkahnya, bahkan dalam menarik dan menghembuskan nafasnya. Dalam kondisi seperti inilah akan terwujud mawaddah wa rahmah

III. PENUTUP
            Berdasarkan pemaparan dalam makalah ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan:
1.  Kajian tentang hakikat gender menurut al-Qur’an ditelusuri melalui penggunaan istilah al-rajul wa al-nisa, al-zakar wa al-untsa dan al-mar’u dan al-mar’ah.Penggunaan istilah tersebut masing-masing mempunyai konteks dan penekanan yang berbeda-beda.
2.   Berdasarkan al-Qur’an dipahami adanya perbedaan antara laki-laki dengan perempuan yang bersifat kodrat, namun dari segi gender terdapat adanya pembagian tugas dan tanggung jawab, namun sifatnya tidak mutlak sehingga dapat berubah sesuai situasi dan kondisi.
3.   Ada tiga prinsip gender yang ditemukan yaitu laki –laki dan perempuan sama dalam kedudukannya sebagai hamba Allah, sama derajatnya dari segi asal kejadian, serta sama dalam hal kesempatan berpartisipasi untuk meraih kepemimpinan publik.
4.  Urgensi gender dalam al-Qur’an adalah mewujudkan keadilan antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Asqalaniy, Muhammad bin Ahmad bin Abd. Rahman, Abu al-Husain al-Malathaiy. Al-Taubih wa al- Ra’d ala Ahl al-Ahwai wa al-Bada’i, Juz I. Mesir: al-Maktabah al-Azhariyah li al-Tarats, t.th.
Al-Baaz, Abd. al-Aziz, bin Abdillah bin. Hukm al-Islam, Juz I. cet.I, tahun VII, Madinah: al-Jamiah al-Islamiyah, 1974 M/1394 H.
Al-Baqi, Muhammad Fuad ‘Abd. A-Mu’jam al-Mufahrasy li Alfadz al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: CV. Toha Putra, 1989.
Echols, John M. dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia. cet. XXIX; Jakarta: Gramedia, 2010.  
Al-Husain, Muslim bin al-Hajjaj Abu. Shahih Muslim, Juz I. Beirut: Daar Ihya al-Taratsi al-Arabiy, t.th.
Al-Khuli, Amin, Al-Mar’at Baina al-Bait wa al-Mujtama’. Bagdad: Al-Mar’at al-Muslimah fi al-Ashr al-Mu’ashir, t.th.  
Mujahid, Abu al-Hajjaj. Tafsir Mujahid, Jilid I. cet.I; Mesir: Daar al-Fikr al-Islamiy al-Hadis, 1989.  
Munawwar, Said Agil Husin. Dimensi-Dimensi Kehidupan Dalam Perspektif Islam. Malang: Pascasarjana UNISMA, 2001.
Al-Munawwir, Ahmad Warson. Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia. Cet. IV; Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.  
An-Nidan, Saad bin Abd.Rahman. Mafhum al-Asma’ wa al-Shifat, dalam Majallah al-Jamiah al-Islamiyah bi al-Madinah al-Munawwarah, vol.68.
Nawawie, K. H. A. Hasyim. Keadilan Gender dalam Perspektif Al-Qur’an. Diakses di http://imtaq.net/keadilan-gender-dalam-perspektif-al-quran/ tanggal 22 Maret 2015.
Restianti, Hetti. Wanita Pahlawan; Kaum Wanita dalam Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Bandung: Dwiraga, 2009.
Shihab, M .Quraish. Wawasan Al-Qur’an, Cet.VI; Bandung: Mizan, 1997.  
-----------------. Tafsir al-Misbah,. Cet. III; Jakarta: Lentera Hati, 2010.
Umar, Nasaruddin. Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an. cet.I; Jakarta: Paramadina, 1999.  
Al-Zamahsyariy, Abu al-Qasim Mahmud bin Amru bin Ahmad. Al-Kasysyaf an Haqaiq Gawamid al-Tauzih, Juz IV. Cet. III; Bairut: Dar al-Kitab al-Arabiy, 1407 H

 


[1]KHA Hasyim Nawawie, Keadilan Gender dalam Perspektif Al-Qur’an. Diakses di http://imtaq.net/keadilan-gender-dalam-perspektif-al-quran/ tanggal 22 Maret 2015.
[2]Hetti Restianti, Wanita Pahlawan; Kaum Wanita dalam Pergerakan Kebangsaan Indonesia (Bandung: Dwiraga, 2009), h. 17.
[3]Said Agil Husin Al-Munawwar, Dimensi-Dimensi Kehidupan Dalam Perspektif Islam (Malang: Pascasarjana UNISMA, 2001), h.138-139.
[4]John M.Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (cet. XXIX; Jakarta: Gramedia, 2010), h. 265.
[5]Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an (cet.I; Jakarta: Paramadina, 1999), h. 33-34.
[6] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an, h. 35
[7] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an, h.143
[8]Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, Al-Mu’jam al-Mufahrasy li Alfadz al-Qur’an (Beirut: Dar al-Fikr, T.Th., h.302-303.
[9]Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: CV. Toha Putra, 1989). Bandingkan dengan, Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an, h. 147-156.
[10]Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, Al-Mu’jam al-Mufahrasy li Alfadz al-Qur’an, h. 699.
[11]Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an, h.163-164.
[12]Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia (Cet. IV; Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), h.448.
[13]Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, Al-Mu’jam al-Mufahrasy li Alfadz al-Qur’an, h. 275.
[14]Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, h.1322.
[15]Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an, h. 251-252
[16]Abu al-Qasim Mahmud bin Amru bin Ahmad al-Zamahsyariy, Al-Kasysyaf an Haqaiq Gawamid al-Tauzih, Juz IV (Cet. III; Bairut: Dar al-Kitab al-Arabiy, 1407 H), h. 461. Muhammad bin Ahmad bin Abd. Rahman, Abu al-Husain al-Malathaiy al-Asqalaniy, Al-Taubih wa al- Ra’d ala Ahl al-Ahwai wa al-Bada’i, Juz I (Mesir: al-Maktabah al-Azhariyah li al-Tarats), h.74
[17]M .Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an,(Cet.VI; Bandung: Mizan, 1997), h. 300
[18]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Jilid 2 (Cet. III; Jakarta: Lentera Hati, 2010), h.399.
[19]M. Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah Jilid 2, h. 400-401
[20]Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, h. 1582
[21]Amin, al-Khuli, Al-Mar’at Baina al-Bait wa al-Mujtama’ (Bagdad: Al-Mar’at al-Muslimah fi al-Ashr al-Mu’ashir, t.th), h. 13.
[22]Abu al-Hajjaj Mujahid, Tafsir Mujahid, Jilid I (cet.I; Mesir: Daar al-Fikr al-Islamiy al-Hadis, 1989), h. 631.
            [23]Saad bin Abd.Rahman Nidan, Mafhum al-Asma’ wa al-Shifat, dalam Majallah al-Jamiah al-Islamiyah bi al-Madinah al-Munawwarah, vol.68, h. 47-48.
[24]Said Agil Husin Al-Munawwar, Dimensi-Dimensi Kehidupan Dalam Perspektif Islam (Malang:Pascasarjana UNISMA, 2001), h. 152-153.
[25]Abd. al-Aziz, bin Abdillah bin Baaz, Hukm al-Islam, Juz I (cet.I, tahun VII, Madinah: al-Jamiah al-Islamiyah, 1974 M/1394 H), h.37.
[26]Said Agil Husin Al-Munawwar, Dimensi-Dimensi Kehidupan Dalam Perspektif Islam, h. 153-154.
[27]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Jilid 10, h. 188.
[28]M .Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, h. 310.
[29]M .Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, h. 310-311
[30]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jilid I, h. 596.
Post a Comment