Friday, March 18, 2016

PERSENTUHAN ISLAM DENGAN FILSAFAT YUNANI

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembicaraan masalah filsafat, baik filsafat pendidikan, filsafat Islam maupun lainnya, berarti juga harus berbicara tentang filsafat Yunani. Hal ini karena tidak dapat diingkari bahwa filsafat pendidikan, filsafat Islam dan filsafat lainnya, terpengaruh pada filsafat Yunani. Karena itu K. Bertens mengatakan bahwa mempelajari filsafat Yunani berarti menyaksikan kelahiran filsafat. Dari sebab itu sebenarnya tidak ada pengantar filsafat yang lebih ideal dari pada studi mengenai pertumbuhan pemikiran filsafat di negeri Yunani.[1]
Sebelum Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. bersentuhan dengan kebudayaan luar Islam, sesungguhnya kehidupan bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia berada dalam pengaruh peradabannya masing-masing. Kehidupan sosial dan beragama yang mereka jalankan adalah buah keyakinan terhadap ajaran ketauhidan (Monotheis) yang disampaikan oleh rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad saw. Perkembangan selanjutnya, ajaran ketuhanan yang monotheis itu mengalami bias menuju politheis karena rentang waktu yang cukup panjang antara kehadiran satu rasul dengan rasul berikutnya.. Seperti jarak kehadiran Nabi Isa as yang cukup panjang dengan jarak diutusnya Rasul terakhir, Nabi Muhammad saw. yang berakibat memudarnya konsep tauhid bergeser ke dalam paradigma ketuhanan Trinitas. Di sisi lain, pergeseran paradigma ketuhanan dalam alam pikiran dan keyakinan manusia disebabkan oleh kecerdasan berpikir manusia yang progressif demi menjawab tantangan kebutuhan zamannya. Apalagi, kecerdasan berpikir yang ditandai dengan kebebasan akal tidak mempunyai referensi di luar dirinya, sehingga akal bergerak bebas tanpa kendali yang menggiring keyakinan manusia ke wilayah kebenaran subyektif dan apriori.
Dalam tinjauan sejarah peradaban manusia, peradaban Yunani menjadi pelopor dalam eksplorasi kemampuan akal manusia untuk mencapai kebenaran. Peradaban Yunani dikenal melalui ajaran para filosofnya seperti paham Idealisme yang dikemukakan Plato, paham realisme yang diajarkan Aristoteles dan seterusnya. Pendekatan yang mereka gunakan pun mengalami fluaktuasi seiring dengan dinamika berpikirnya dari paradigma filsafat alam (naturalis) menuju materialis, kemudian kembali lagi ke naturalis, atau dari serba ruh menuju serba materi dan kembali lagi ke serba ruh.[2] Pendayagunaan akal dengan pendekatan berbagai paradigma ajaran filsafat yang berkembang di zaman itu, mendorong masyarakat Yunani untuk mengetahui lebih jauh tentang manusia dan alam di sekitarnya sehingga bermunculanlah berbagai teori-teori hukum alam seperti teori geosentris, heliosentris, ilmu perbintangan, dan ilmu ukur atau geometri. Karena itu, tidaklah heran apabila situs sejarah Yunani ditandai dengan peninggalan bangunan gedung atau rumah yang berarsitektur tinggi, dan mekanisme kehidupan masyarakat yang berjalan sistematis di atas aturan-aturan yang berlaku di zamannya.
Dengan demikian, sebelum Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad saw hadir di tengah-tengah umat manusia, sesungguhnya kehidupan manusia di belahan dunia tertentu memiliki peradaban yang tinggi dan kelak menjadi inspirasi dalam pembumian ajaran Islam yang totalitas oleh rasul terakhir-Nya, Muhammad saw beserta para pengikut beliau. Walaupun di abad ke-21 ini, proses pembumian itu justru lebih banyak dicerminkan oleh peradaban umat non Islam.
Kontak pertama antara Islam dan ilmu pengetahuan ditandai dengan proses transformasi budaya negeri taklukan yang mewarisi peradaban Yunani ke dalam kehidupan umat Islam. Melalui tesa ini, maka penulis menguraikan lebih lanjut ke dalam pembahasan atas permasalahan-permasalahan sebagai berikut: kapan kontak pertama antara Islam dengan filsafat Yunani yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, bagaimana proses persentuhan Islam dengan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani, apa dampak yang signifikan akibat dari persentuhan Islam dengan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani, dan mengapa Filsafat Yunani dapat diterima dengan baik oleh sebagian besar ulama Islam Zaman Klasik.
Seperti dimaklumi bersama, bahwa sumber dasar yang pertama di kalangan kaum muslimin adalah Alquran dan hadis saja. Kemudian menyusul ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti bahasa, tauhid, akhlak, fiqh dan lain-lain. Tetapi kegiatan ini lebih memperoleh kemajuan dengan munculnya beberapa ulama yang berhasrat untuk memajukan ilmu kebudayaan, sehingga kaum muslimin muncul sebagai suatu golongan yang telah memberikan sumbangan terhadap lapangan ilmiah seperti astronomi, kimia, tasawuf dan terutama filsafat, sehingga dari kajian ini sangat terpengaruh pula terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan Islam.
Suatu pandangan dunia dan umumnya suatu pandangan teoritis tidak pernah melayang-layang di udara, setiap pemikiran teoritis mempunyai hubungan erat dengan lingkungan di mana pemikiran itu dijalankan. Dalam hal ini lahirnya filsafat Yunani, karena di Yunani adalah tepat persemaian di mana pemikiran ilmiah mulai bertumbuh. Dengan tumbuhnya pemikiran ilmiah ini sehingga filsafat berusaha menganalisa dalam mempertemukan pandangan aliran-aliran yang ada pada pendidikan Islam. Sehingga pendidikan Islam dan filsafat pada dasarnya tidak dapat dipisahkan, karena keduanya mempunyai peran yang sama yaitu membentuk pribadi muslim yang sesuai dengan petunjuk atau ajaran Islam.
Jadi perkembangan filsafat dalam dunia Islam, tampak nyata setelah umat Islam (bangsa Arab muslim) pada masa itu berkomunikasi dengan dunia luar. Perkembangan filsafat tersebut dipercepat oleh kaum muslimin dengan adanya usaha penerjemahan berbagai macam ilmu pengetahuan, terutama filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Selanjutnya dalam Alquran ada beberapa ayat memerintahkan, mendorong serta membimbing umat Islam untuk menggunakan akal, berpikir, menggunakan ra’yu, mengadakan penyelidikan, penelitian dan sebagainya. Kesemuanya itu di samping mendorong untuk berfilsafat sekaligus juga menunjukkan bagaimanan cara atau metode berfilsafat serta bagaimana mengambil pelajaran dari padanya.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian tersebut di atas, maka untuk lebih jelasnya penulis akan mengemukakan batasan permasalahan sebagai berikut :
1.  Bagaimana kontak kaum muslimin dengan filsafat Yunani?
2.  Apakah penyebab filsafat Yunani diterima dalam pemikiran Islam?
3.  Bagaimana pandangan filosof Islam terhadap filsafat Yunani ?

II. PEMBAHASAN

A. Kontak Kaum Muslimin Dengan Filsafat Yunani

Kalau dilihat dari sejarahnya, jelas bahwa filsafat jauh lebih dahulu timbulnya daripada agama Islam. Islam muncul di Gurun Pasir Arabiyah yaitu di Mekah pada abad ke 6 M sedang filsafat terbit di Yunani sekitar abad ke 5 SM atau jauh sebelumnya. Pertemuan Islam (kaum Muslimin) dengan filsafat ini terjadi pada abad ke 8 M atau abad ke 2 Hijriyah, di saat umat Islam mengembangkan sayapnya dan menjangkau daerah-daerah baru. Filsafat adalah salah satu dari kebudayaan asing yang ditemui Islam dalam perjalanan sejarahnya.[3] Oleh karena itu filsafat diambil alih oleh kaum muslimin dengan melalui penerjemahan buku-buku filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab sehingga pada saat itu minat dan gairah mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan begitu tinggi karena pemerintah yang menjadi pelopor serta pioner utamanya.
Kegiatan penterjemahan buku filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab pada mulanya dilakukan pada zaman Khalifah Amawiyah di Mamascus, sedang buku-buku yang diterjemahkan itu adalah buku-buku yang ada kaitan langsung dengan kehidupan praktis, seperti buku-buku kimia dan kedokteran. Olehnya itu setelah pusat kekuasaan berpindah ke tangan khalifah Abasiyah aktivitas penerjemahan menjadi semakin berkembang dengan pesat.
Sejak kegiatan penerjemahan buku-buku filsafat Yunani je dalam Bahasa Arab semakin populerlah sebutan “Falsafah” di kalangan intelektual muslim, dan semenjak itulah mulai kegiatan penganalisaan filsafat di kalangan kaum muslimin. Kegiatan penerjemahan buku-buku ini berjalan melalui tiga periode, yaitu :
Periode pertama, yang terjadi pada masa khalifah al-Mansur sampai penghujung masa khalifah Harun al-Rasyid (sekitar abad ke 8 M). Dalam priode ini termasyhur nama-nama penerjemah Ibnu al-Muqaffa, Jarjis bin Jabril, Yuhanna bin Masweh dan lain-lain. Ibnu al-Muqaffa penerjemah Kalilah Wa Dimna itu dikatakan orang bahwa dialah orang pertama yang menyalin logika Aristoteles ke dalam bahasa Arab
Periode kedua, yang terjadi pada masa khalifah al-Makhmun bin Harun al-Rasyid (abad ke 8 M), dalam priode ini al-Makmun mendirikan sebuah Institut untuk para penerjemah, yang diberi nama “Baitul Hikmah” (The House of Wisdom) di Bagdad yang berusaha untuk menerjemahkan buku-buku Galen (Jalinus Ath-Thabib) ke dalam bahasa Arab baik dalam lapangan filsafat maupun kedokteran
Periode ketiga, yang merupakan priode terakhir zaman terjemahan besar-besaran dalan dunia Islam terjadi sekitar abad ke 10 M. Dalam priode ini muncul penerjemah Abu Bisher Muttu bin Yunus al-Qannai (940 M), Yahya bin Adi al-Mantiq (974 M), Izhak bin Zura (1008 M), al-Hasan bin al-Khammar (942 M), murid Yahya bin Adi mereka ini melanjutkan usaha-usaha di periode ke dua dengan menyalin dan memberi komentar tentang buku-buku logika dan matematika Aristoteles.[4]
Pada masa berikutnya, yaitu masa al-Makmun yang merupakan kejayaan Islam / keemasan bagi kegiatan penerjemahan. Al-Makmun dalam sejarah Islam dikenal sebagai Khalifah Bani Abbas yang besar perhatiannya pada ilmu pengetahuan dan filsafat, dan ia mendirikan Bait al-Hikmah pada tahun 830 M, sedangkan buku-buku filsafat, metafisika, etika dan psikologi, sebab adanya penerjemahan buku-buku ini berkisar pada pribadi al-Makmun dengan kegairahannya kepada ilmu pengetahuan.[5]
Jadi kalau pada masa al-Makmun dikenal dengan masa kejayaan Islam/ keemasan maka tidak dapat dimungkiri bahwa penerjemahan tidak hanya berkisar pada filsafat saja, melainkan buku-buku filsafat lainnya, seperti : psikologi, etika, ketuhanan dan lain-lain sebagainya, dibanding pada masa al-Mansur, buku-buku filsafat yang diterjemahkan hanya buku, logika.
Betapa penting dan pengaruh logika Yunani ke dalam dunia Islam dapat dilihat pada pertumbuhan teologi Islam sampai sekarang. Dalam catatan sejarah orang yang pertama menerjemahkan buku-buku logika karangan Aristoteles adalah Ibnu Muqaffa, beliau menerjemahkan atas perintah al-Mansur, sedang buku ini terdiri tiga buah yakni : Categoriae, De Interpretation, dan Analityca Priora.
Setelah masa al-Makmun berlaku sebagai masa kegemilangan penerjemahan, maka penerjemahan tidak banyak lagi dilakukan, terutama buku-buku filsafat. Karena penggantinya (Khalifah al-Mutawakkil) menekan kebebasan berpikir dan menindas orang-orang bekerja di lapangan filsafat. Dengan penekanan dan penindasan Khalifah al-Mutawakkil sehingga timbul atau muncul orang-orang yang bekerja dalam lapangan filsafat secara diam-diam. Orang-orang tersebut dikenal dengan nama Ikhwan ash-Shafaa’. Mereka adalah suatu perkumpulan rahasia yang bergerak dalam lapangan ilmu pengetahuan walaupun kadang-kadang seakan-akan organisasi ini bertendensi politik, sehingga ada orang yang beranggapan bahwa ia merupakan salah satu dari ormas kaum Syiah.[6]
Walaupun Ikhwan ash Shafa’ pada umumnya sependapat dengan kaum Mu’tazilah dalam soal agama tapi mereka berbeda pendapat dalam berbagai hal yang penting, yaitu : Mu’tazilah tidak percaya bahwa manusia dapat melihat Allah, akan tetapi Ikhwanush-Shafa’ dengan tegas percaya bahwa dihari kiamat Allah akan menampakkan diri.[7]

B. Sebab-sebab Filsafat Yunani Diterima dalam Pemikiran Islam
Pertemuan Islam dan peradaban Yunani telah melahirkan pemikiran rasional di kalangan ulama Islam zaman klasik. Tapi dijumpai perbedaan yang mendasar antara pemikiran rasional Yunani dan pemikiran rasional Islam zaman klasik. Di Yunani tidak di kenal agama Samawi, maka pemikiran bebas, tanpa terikat pada ajaran-ajaran agama, tumbuh dan berkembang. Sementara pada Islam zaman klasik pemikiran rasional ulama terikat pada ajaran-ajaran agama Islam sebagaimana yang terdapat dalam Alquran dan hadis.[8]
Doktrinal ajaran Islam yang mengikat atau membatasi pemikiran rasional ulama Islam zaman klasik menimbulkan pertanyaan terhadap proses kontak antara Islam dan ilmu pengetahuan serta filsafat Yunani, yang dapat diterima oleh ulama Islam pada saat itu selama kurang lebih satu abad lamanya.[9] Padahal ajaran filsafat Yunani, tumbuh dan berkembang dalam situasi keagamaan nonsamawi, yaitu kehidupan beragama yang berjalan berdasarkan keyakinan dari buah pemikiran semata. Mereka mengenal sejumlah nama dewa yang menjadi Tuhan, tetapi pendewaan terhadap sesuatu diinspirasi dari hirarki maupun pembagian fungsi kekuasaan yang berlaku di kerajaan-kerajaan Yunani. Karena itu, keyakinan mereka tidak membatasi pemikiran rasionalnya.
Ahmad Hanafi menyebutkan faktor-faktor obyektif mengapa sebagian besar ulama seperti yang dipelopori filosof-filosof Islam dan ulama-ulama Mu’tazilah dapat menerima filsafat Yunani, yaitu :
1.  Ketelitian yang dimiliki oleh logika Aristoteles dan ilmu-ilmu matematika yang cukup mengagumkan dunia pikir Islam, sehingga mereka mempercayai kebenaran logika itu dan kejelasan seluruh hasil pemikiran Yunani termasuk di dalam lapangan ketuhanan (metafisika). Kekaguman itu dapat dijumpai dalam buku Al-Munqizu min al-Dalal karya al-Ghazali.
2.  Corak keagamaan pada filsafat Yunani ketika menggambarkan Tuhan dan kebahagiaan manusia. Mereka yang menerima ajaran filsafat Yunani memahami bahwa corak keagamaan yang ditawarkan sejalan dengan corak keagamaan Islam yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa dan zuhud serta tasawuf dan peleburan diri pada Tuhan, sebagai jalan pendekatan manusia kepada-Nya. Meskipun corak keagamaan itu sebenarnya datang dari pikiran-pikiran lain bukan Yunani, yaitu pikiran-pikiran Romawi di Roma, pikiran Mesir di Iskandaria, pikiran Poenisia dan timur serta Semit di timur dekat.
3.  Para penerjemah menyangka bahwa corak keagamaan yang diinformasikan merupakan ajaran filsafat Yunani, padahal bahan terjemahan itu merupakan karya pemikir non Yunani seperti pemikir di kalangan Yahudi dan Masehi yang menggunakan sistematika berpikir filsafat dalam menjelaskan paham keagamaannya.[10]
Dari ketiga faktor tersebut, nampak pengaruh filsafat Yunani yang begitu kuat dalam pemikiran rasional ulama Islam zaman klasik disebabkan oleh kebenaran logika filsafat dan persamaan corak keagamaan yang turut memantapkan perasaan dalam mempertahankan kepercayaan-kepercayaan agama. Meskipun pada pertengahan kedua abad kelima Hijriah, terjadi penolakan terhadap ajaran filsafat, namun penolakan itu sendiri menggunakan logika argumentasi filosofis.
Penolakan itu sendiri tidak bisa dihindarkan karena adanya perbedaan mendasar antara pemikiran rasional Yunani dan pemikiran rasional Ulama Islam Zaman Klasik. Terhadap penolakan ini, filosof-filosof Islam mengusahakan pemaduan, dengan dua jalan yaitu :
1.  Memberikan ulasan terhadap pikiran-pikiran filsafat Yunani, menghilangkan kejanggalan-kejanggalannya dan mempertemukan pikiran filsafat yang berlawanan. Buku al-Farabi yang berjudul al-Jam’u Baina al-Hakimain (Pemaduan antara dua filosof: Plato dan Aristotels) mencerminkan cara tersebut.
2.  Menakwilkan kebenaran-kebenaran (ketentuan-ketentuan) agama dengan takwilan yang sesuai dengan pikiran-pikiran filsafat atau dengan perkataan lain, penundukan ketentuan agama kepada pikiran-pikiran filsafat.[11]
Terhadap manisfestasi penerimaan filsafat Yunani seperti yang terungkap dalam dua jalan tersebut, menimbulkan persoalan tentang kebenaran penundukkan ketentuan agama kepada pikiran-pikiran filsafat yang berarti memposisikan wahyu di bawah akal atau wahyu harus tunduk dengan kemauan akal. Harun Nasution dalam ulasannya tentang ‘Akal dan Akhlak’, mengungkapkan bahwa konsep hukum alam ciptaan Tuhan (sunnatullah) yang terkandung dalam Alquran membawa pada keyakinan tidak adanya pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan. Sumber agama adalah wahyu dan sumber ilmu pengetahuan adalah hukum alam, sedang keduanya berasal dari sumber yang satu, yaitu Tuhan. Maka antara keduanya tidak bisa ada pertentangan.[12]
Penulis memahami penjelasan tersebut sebagai akhlak dalam berakal, yaitu menyadari akan keterbatasan akal dalam memahami wahyu karena Alquran disusun atas redaksi ayat-ayat dengan konstruksi pemahaman ayat sebagai pohon pikiran yang mesti dicari buah pikirannya dalam upaya membumikan wahyu sehingga menimbulkan dampak yang riil dalam kehidupan manusia.

C. Pandangan Filosof Islam Terhadap Filsafat Yunani
Suatu hal yang tidak dapat dilupakan bahwa filosof-filosof Islam pada umumnya hidup dalam suatu lingkungan yang berbeda-beda dari apa yang dialami oleh filosof-filosof lainnya, sehingga pengaruh lingkungan terhadap jalan pikiran mereka tidak bisa dilupakan. Dengan lahirnya filsafat dalam dunia Islam, maka muncullah beberapa tokoh-tokoh pemikir dalam Islam atau filosof-filosof Islam yang dianggap sebagai pelopor utama dalam bidang filsafat. Adapun filosof-filosof Islam cukup banyak, sehingga penulis hanya menyebutkan 4 filosof terkenal yang penulis anggap dapat mewakili para filosof yang lainnya karena pengaruhnya yang begitu besar dalam dinamika intelektual kaum muslimin, yaitu al-Kindi, al-Farabi, al-Ghazali, dan Ibn Rusyd:
   1. al-Kindi
Nama lengkap filosof muslim, peletak dasar pertama filsafat Islam ialah : Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishak ibn Sabbah ibn Imran Ibn Ismail al-Ash’ats bin Qais al-Kindi, (Kindah adalah salah satu suku Arab Besar pada masa pra Islam). Beliau lahir di sekitar satu dasa warsa sebelum Khalifah Harun al-Rasyid meninggal sekitar tahun 801 M, Ayahnya Ishaq al-Sabbah adalah salah seorang Gubernur Kufah pada masa ke-Khalifahan Abbasiyah al-Mahdi dan Rasid, sedang neneknya adalah raja-raja di daerah Kindah (Arabia Selatan) dan sekitarnya.[13]
Al-Kindi di masa kecilnya adalah seorang anak yang mempunyai pembawaan suka membaca dan gemar mempelajari beberapa ilmu pengetahuan, sehingga beliau dikenal bukan hanya sebagai penerjemah kitab filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab tapi juga dikenal ahli dalam ilmu kalam serta ia membahas beberapa macam ilmu pengetahuan untuk disesuaikan dengan pendirian Islam. Sedang pengetahuannya tentang bahasa Yunani begitu dalamnya sehingga dapat menerjemahkan kitab Yunani dengan mudah ke dalam bahasa Arab dan akhirnya ia termasuk pelopornya.[14]
Kemudian al-Kindi selain filosof ia juga ahli dalam ilmu pengetahuan, sehingga al-Kindi membagi pengetahuan ke dalam dua bahagian :
1. Pengetahuan Ilahi علم الهى : Drive science, sebagai yang tercantum dalam Qur’an, yaitu pengetahuan langsung yang diperoleh Nabi dari Tuhan. Dasar pengetahuan ini adalah “keyakinan”
2. Pengetahuan manusiawi علم إنسا نى : human Science, atau filsafat. Dasarnya ialah pemikiran (ratio reason).[15]
Kedua macam ilmu pengetahuan tersebut, al-Kindi memandang bahwa pengetahuan Ilahi dan pengetahuan manusiawi keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu masing-masing menerangkan apa yang benar dan apa yang baik. Bedanya pengetahuan Ilahi menempuh jalan syariat, sedang pengetahuan manusiawi menempuh jalan pembuktian, maka dalam hal ini pandangan al-Kindi tentang filsafat adalah tentang hakekat (kebenaran) sesuatu kesanggupan manusia, yang mencakup ilmu ketuhanan, ilmu keesaan (wahdaniah) ilmu keutamaan (fadhilah), ilmu tentang semua yang berguna dan cara memperolehnya serta cara menjauhi perkara-perkara yang merugikan.[16]
Dari definisi tersebut maka filsafat itu bertujuan untuk mengetahui kebenaran yang bersifat amalan dalam arti mewujudkan kebenaran tersebut dalam tindakan. Jadi kesimpulannya semakin dekat kepada kebenaran semakin dekat pula kepada kesempurnaan, sehingga filsafat yang paling tinggi menurut al-Kindi ialah filsafat tentang Tuhan sebagaimana yang dikatakan “'Filsafat yang termulia dan tertinggi derajatnya adalah filsafat utama, yaitu ilmu tentang yang benar pertama, yang menjadi sebab bagi segala'.[17]
    2. al-Farabi
Abu Nazr Muhammad al-Farabi lahir di Wasij suatu desa di Farab (Transoxania di tahun 870 M) menurut keterangan beliau berasal dari Turki dan orang tuanya adalah seorang jenderal. Ia sendiri pernah menjadi hakim. Dari Farab ia belajar di Baghdad, pusat ilmu pengetahuan di waktu itu. Di sana ia belajar pada Abu Bishr Matta Ibn Yunus (Penterjemah) dan tinggal di Baghdad selama 20 tahun kemudian ia pindah ke Aleppo dan tinggal di Istana Saif al-Daulah memusatkan perhatian pada ilmu pengetahuan dan filsafat. Istana Saif al-Daulah adalah tempat pertemuan ahli-ahli ilmu pengetahuan dan filsafat pada waktu itu. Dalam umur 80 tahun al-Farabi wafat di Aleppo pada tahun 950 M.[18]
Sejak kecilnya, al-Farabi suka belajar dan ia mempunyai kecakapan luar biasa dalam lapangan biasa. Bahasa-bahasa yang dikuasainya ialah : Bahasa Iran, Turkistan dan Kurdistan, al-Farabi nampaknya ia tidak mengetahui bahasa Yunani dan Suryani, yaitu bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat pada waktu itu.[19]
Tapi setelah berumur 40 tahun al-Farabi meninggalkan negerinya dan menuju ke kota Baghdad yang pada saat itu merupakan kota ilmu pengetahuan dan pusat pemerintahan. Di Kota itulah ia mulai belajar logika/ilmu mantik pada Abi Bishr Matta Ibn Yunus. Di kota ini ia menghabiskan waktunya selama 20 tahun untuk menuliskan dan membuat ulasan terhadap buku-buku filsafat Yunani dan sekaligus ia mengajar.
Dalam buku terakhirnya (Ihsa‘u al-Ulum), al-Farabi membicarakan macam-macam ilmu dan bagian-bagiannya, yaitu ilmu-ilmu bahasa, ilmu mantik, ilmu matematika, dan ilmu-ilmu lainnya, ini telah dikemukakan oleh orang-orang sebelumnya, tapi namun al-Farabi hanya menambahkan dari sebelumnya itu diantaranya : ilmu fiqhi dan ilmu kalam. Karena kedua ilmu tersebut merupakan ilmu-ilmu ke-Islaman yang mendapat perhatian besar pada masanya itu.
Sehingga al-Farabi menjadi sangat terkenal pada abad-abad pertengahan, sebagaimana dikatakan Ahmad Hanafi bahwa pada abad-abad pertengahan, al-Farabi menjadi sangat terkenal, sehingga orang-orang Yahudi banyak yang mempelajari karangan-karangannya dan disalin pula ke dalam bahasa Ibrani. Sampai sekarang salinan tersebut masih tersimpan di perpustakaan-perpustakaan Eropa, di samping salinan dalam bahasa latin, baik yang disalin dalam bahasa Arab atau dari bahasa Ibrani tersebut.[20]
    3. Al-Ghazali
Abu Hamid bin Muhammad bin al-Ghazali, mendapat gelar “Hujjatul Islam”, ia lahir pada tahun 450 H/ 1059 M di Ghazaleh suatu kota kecil yang terletak di dekat Tusdi Khurasan (Iran). Al-Ghazali dalam sejarah filsafat Islam dikenal sebagai orang yang pada mulanya syak terhadap segala-galanya. Perasaan syak ini kelihatannya timbul dalam dirinya dari pelajaran ilmu kalam atau teologi yang diperolehnya dari al-Juwaini. Di dalam ilmu kalam tersebut terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan, maka timbullah pertanyaan dalam diri al-Ghazali; aliran manakah yang sebetulnya benar di antara semua aliran tersebut?
Dalam bukunya, al-Munqiz Min al-Dhalal (Penyelamat dari Kesesatan), di sini al-Ghazali ingin mencari kebenaran yang sesungguhnya, yaitu kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran, akhirnya al-Ghazali memperolehnya apa yang dicari itu lewat tasawwuf. Tasawuf yang dapat menghilangkan rasa syak yang lama mengganggu dirinya, dan dalam tasawuflah ia memperoleh keyakinan yang dicarinya, sehingga di dalam pengetahuan mistik cahaya yang diturunkan. Tuhan ke dalam dirinya itulah yang membuat al-Ghazali memperoleh keyakinannya kembali
Sebagai seorang yang digelar Hujjatul Islam, al-Ghazali telah menguasai ilmu flsafat dengan sangat mendalam, sehingga ia berhak di sebut sebagai seorang filosof. Meskipun al-Ghazali telah memerangi filsafat seperti dalam bukunya “Tahafut al-Falasifah” isi pada waktu al-Ghazali bertindak sebagai tokoh Islam bukan sebagai filosof, sebagaimana yang dikatakan Ahmad Hanafi bahwa Tahafut al-Falasifah, di mana ia bertindak bukan sebagai seorang filosof, melainkan sebagai seorang tokoh / Islam yang hendak mengeritik filsafat dan menunjukkan kelemahan-kelemahan serta kejanggalan-kejanggalan, yaitu dalam hal-hal yang berlawanan dengan agama.'[21]
    4. Ibn Rusyd
Nama lengkapnya ialah Abdul Walid Muhammad bin Ahmad Bin Rusyd, lahir di Cordova tahun 520 H/ 1125 M. Ia berasal dari kalangan keluarga besar yang terkenal dengan keutamaan dan mempunyai kedudukan tinggi di Andalusia (Spanyol). Ayahnya adalah seorang hakim terutama dalam hukum Islam dan neneknya dikenal sebagai seorang ulama fikih dalam mazhab Maliki.
Dari keluarga ulama, Ibn Rusyd sejak kecil ia tekun belajar agama Islam, terutama ilmu fikh dari ayahnya. Sehingga dalam usia yang masih muda ia telah mampu menghapal kitab al-Muwaththa’ karangan Imam Malik. Di samping itu juga belajar sastera dan syair Arab, namun Ibn Rusyd menekuni pelajaran agama Islam, tapi ia diberikan perhatian khusus terhadap pengetahuan umum, seperti ilmu kedokteran, matematika dan filsafat.
Adapun tentang filsafat Ibn Rusyd yang sangat menarik perhatian umum antara lain sebagai berikut :
1.  Tentang PengetahuanTuhan terhadap soal juziyat.
2.  Tentang terjadinya alam maujudat dan perbuatannya.
3.  Tentang keazalian dan keabadian alam.
4.  Tentang gerak dan keazaliannya, dan
5.  Tentang akal yang universal dan satu.[22]
Kemudian pada garis besar filsafatnya, ia mengikuti Aristoteles dan berusaha mengeluarkan pikiran-pikirannya yang sebenarnya dari celah-celah kata-kata Aristoteles dan ulasan-ulasannya. Ia juga berusaha menjelaskan pikiran tersebut dan melengkapinya, terutama dalam lapangan ketuhanan, di mana kemampuannya yang tinggi dalam mengkaji berbagai persoalan dan mendalam mempertemukan antara agama dengan filsafat nampak jelas kepada kita.

III. PENUTUP
Dari uraian dalam pembahasan di atas, maka penulis akan mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.  Kaum muslimin mulai mengadakan kontak dengan filsafat Yunani ketika mereka mulai menyebarkan Islam ke luar jazirah Arab, kemudian dimulainya penerjemahan kitab-kitab filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab.
2. Filsafat Yunani dapat diterima oleh sebagian besar ulama Islam Zaman Klasik disebabkan oleh spirit Alquran yang mendorong optimalisasi penggunaan akal, sedangkan doktrin penggunaan akal adalah bagian dari ajaran filsafat Yunani yang sangat menghargai kemerdekaan pemikiran.
3.  Pada dasarnya Islam tidak mencegah orang mempelajari atau mendalami filsafat, bahkan menganjurkan orang berfilsafat, berpikir menurut logika untuk memperkuat kebenaran yang dibawa oleh Alquran dengan dalil akal dan pembahasan rasional. Dengan demikian Islam sangat menghargai penggunaan akal dan menjamin kemerdekaan berpikir, sehingga banyak ulama yang menganggap sangat penting adanya filsafat, karena dapat membantu dalam menjelaskan isi kandungan Alquran.

 
DAFTAR PUSTAKA
 
Ala, Maryam Ambo. Diktat Filsafat Islam. Ujungpandang: Unismuh, 1993.  
Ali, Yunasril. Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam. Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1991.  
Alisyahbana, Sutan Takdir. Pembimbing ke Filsafat, Jilid I. t.tp. : PT. Pustaka Rakjat, t.th.
Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani. Cet. IV; Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1984.
Dasoki, Thawil Akhyar. Sebuah Kompilasi Filsafat Islam. Cet. I; Semarang: Dina Utama, 1993.  
Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Cet. V; Jakarta: Bulan Bintang, 1991.  
Nasution, Harun. Filsafat Mistisisme Dalam Islam. Cet. VIII; Jakarta: Bulan Bintang, 1992.  
Nasution, Harun. Islam Rasional. Gagasan dan Pemikiran). Bandung: Mizan, 2001.  
Platen, A. V. Sedjarah Filsafat Barat,. Bandung: Balai Pendidikan Guru, t.th.
Poerwantana dan A. Ahmad, Seluk Beluk Filsafat Islam. Cet. III; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1993.  
Qadir, C. A. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam. Edisi II, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991.  
Rasyidi, H.M. dan Harifuddin Cawidu, Islam Untuk Disiplin Ilmu Filsafat. Cet. I; Jakarta: PT Bulan Bintang, 1988.  



[1]K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani (Cet. IV; Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1984), h. 23.
[2]A. V. Platen, Sedjarah Filsafat Barat, (Bandung: Balai Pendidikan Guru, t.th.), h. 47. Lihat Sutan Takdir Alisyahbana, Pembimbing ke Filsafat, Jilid I (t.tp. : PT. Pustaka Rakjat, t.th.), h. 41.
[3]H.M. Rasyidi dan Harifuddin Cawidu, Islam Untuk Disiplin Ilmu Filsafat (Cet.I; Jakarta: PT Bulan Bintang, 1988), h. 87.
[4]Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam (Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 9-10.
[5]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam (Cet. V; Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 43.
[6]Yunazril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, h. 19-20.
[7]C. A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam (Edisi II, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991), h. 59.
[8]Harun Nasution, Islam Rasional (Gagasan dan Pemikiran) (Bandung: Mizan, 2001), h. 7.
[9]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, h. 83.
[10]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, h. 53.
[11]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, h. 55.
[12]Harun Nasution, Islam Rasional (Gagasan dan Pemikiran), h. 56.
[13]Thawil Akhyar Dasoki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam (Cet. I; Semarang: Dina Utama, 1993), h. 1.
[14]Maryam Ambo Ala, Diktat Filsafat Islam (Ujungpandang: Unismuh, 1993), h. 48.
[15]Harun Nasution, Filsafat Mistisisme Dalam Islam (Cet. VIII; Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 15.
[16]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, h. 74.
[17]Harun Nasution, Filsafat Mistisisme Dalam Islam, h. 15-16.
[18]Harun Nasution, Filsafat Mistisisme Dalam Islam, h. 26.
[19]Poerwantana dan A. Ahmad, Seluk Beluk Filsafat Islam (Cet. III; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1993), h. 133.
[20]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, h. 82.
[21]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, h. 143.
[22]Maryam Ambo Ala, Diktat Filsafat Islam, h. 81-82.
Post a Comment