Friday, March 18, 2016

SEJARAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN TASAWUF

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama yang oleh umatnya diyakini mengandung seperangkat nilai dasar untuk menuntun kehidupan manusia guna mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai ajaran agama yang utuh dan lengkap, Islam tidak sekedar memberi atensi terhadap satu dimensi kehidupan, katakanlah jasmani semata tapi juga menekankan aspek rohani. Keduanya harus berada pada suatu keseimbangan. Islam senantiasa memberi tempat bagi penghayatan keagamaan yang bersifat eksoteris (zhahir, lahiriyah) maupun esoterik (bathini) sekaligus,[1] dengan tetap berpijak pada orbit keseimbangan. Artinya sikap ekstrimitas terhadap salah satu aspek semata bisa menimbulkan kepincangan dan menyalahi prinsip keseimbangan dimaksud.
Kendati demikian, pada kenyataannya prilaku penghayatan keagamaan umat Islam terbagi dua kelompok, yang satu menitikberatkan penghayatan keagamaan pada ketentuan-ketentuan luar (al-Ahkam al-Zhawahir, yakni segi-segi lahiriah) dan satu kelompok lain, lebih menitikberatkan pada ketentuan "dalam" atau segi batiniyah[2], kelompok terakhir inilah yang kemudian dikenal sebagai ahli tareqah atau ahli tasawuf.

Kata “tasawuf” memang tidak ada dalam Alquran, namun substansi dan semangatnya jelas terkandung di dalamnya. Tasawuf adalah ajaran dan keyakinan bahwa manusia senantiasa ingin meraih kesucian diri dan hamba untuk berdekatan dengan Dia Yang Mahasuci. Untuk bisa berdialog dengan Yang Mahasuci, maka manusia lebih dulu harus menyucikan diri, mulai dari penyucian hati, pikiran, tutur kata dan perilaku serta harta. Sufi besar, Sirri al-Siqti mengatakan, seorang sufi adalah orang yang hatinya tidak tercemari oleh selain Yang Mahasuci, dan hidupnya diarahkan demi menggapai ridha dan qudrat Ilahi.[3]
Ajaran sosial tasawuf dapat membimbing setiap individu dalam membentuk perilaku yang berperadaban, baik terhadap diri sendiri, kelompok (masyarakat) maupun bernegara. Sesuai dengan pola hukum kemasyarakatan yakni tidak saling memakan, saling menjegal antara sesama manusia, atau menurut istilah Hobbes sebagaimana yang dikutip Harifuddin Cawidu yakni homo homini lupus,[4] dan krisis global yang paling dirasakan sebagai ancaman terbesar manusia adalah krisis lingkungan yang diakibatkan oleh ulah manusia sendiri. Menyusul kemudian krisis ekonomi, sosial politik, teknologi, moral agama, keluarga, bahkan khusus kemanusiaan secara keseluruhan.[5]
Ajaran Islam mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, karena Islam merupakan ajaran akidah dan syariat. Kalau akidah mengenai keyakinan dan kepercayaan, maka syariat mengenai selainnya. Syariat dalam artian ini mencakup ibadah danan muamalat (kehidupan) dan akhlak.[6] Jadi, agama Islam bukanlah agama ruhani dan aqidah saja, akan tetapi Islam adalah agama yang juga menyangkut masalah berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta ideologi kehidupan dan konstitusi sosial.
Ayatullah Khomeini menyatakan bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah satu berbanding seratus. Untuk satu ayat ibadah seratus ayat muamalah.[7] Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mu’minun (23): 1 – 9.
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, Dan orang-orang yang menunaikan zakat, Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.”[8]
Ayat tersebut menjelaskan kriteria orang beriman ialah orang yang khusyu’ dalam shalatnya (ibadah), menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat (mu’amalah), menjaga amanah dan janjinya (mu’amalah), dan memelihara shalatnya (ibadah). Dari sekian tanda orang yang beriman, hanya dua yang menyangkut ‘ubudiyah, yakni shalat dan zakat, selebihnya menyangkut masalah kehidupan sosial.
Kajian dalam makalah ini akan berupaya mendeskripsikan sejarah perkembangan pemikiran tasawuf, sebagai salah satu khazanah intelektual Islam yang memiliki implikasi besar khususnya dalam pembinaan akhlak, baik akhlak kepada Allah maupun kepada sesama makhluk di era modern saat ini.

B. Rumusan Masalah
Dari deskripsi yang dikemukakan pada latar belakang di atas, dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut:
1.  Apa yang dimaksud dengan tasawuf?
2.  Bagaimana latar belakang lahirnya tasawuf?
3.  Bagaimana sejarah perkembangan pemikiran tasawuf? 

II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Tasawuf
Tasawuf sebagai salah satu tipe mistisisme[9] yang dalam bahasa Inggris disebut sufisme. Kata tasawuf mulai dipercakapkan sebagai suatu istilah sekitar akhir abad kedua hijriah yang dikaitkan dari pada salah satu jenis pakaian kasar yang disebut shuff atau wool kasar. Kain sejenis itu sampai digemari oleh para zahid, sehingga menjadi simbol kesederhanaan pada masa itu. Menghubungkan sufi atau tasawuf dengan shuff, tampaknya cukup beralasan yakni antara jenis pakaian yang sederhana dengan kebersahajaan hidup para sufi. Kebiasaan memakai wool kasar juga sudah merupakan karakteristik kehidupan orang saleh sebelum datangnya Islam,[10] sehingga mereka dikatakan dengan sufi atau orang-orang yang memakai shuff.
Sementara tasawuf diberikan legitimasi terhadap orang yang hidup pada masa nabi sebagai ahli shuffah, di mana mereka itu selalu berkumpul di serambi masjid nabi (ahli shuffah). Cara hidup saleh dalam kesederhanaan yang dipaparkan oleh kelompok itu, kemudian menjadi pola panutan bagi sebagian umat Islam yang kemudian disebut sufi.dan ajarannya dinamai tasawuf. Ada pula yang berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari bahasa Yunani, yakni sophos yang berarti hikmah dan keutamaan. Menurut pendapat ini, para sufi adalah pencari hikmah atau ilmu hakikat[11] pendapat lain memperkirakan kata sufi berasal dari shafa atau shafwun yang berarti bening karena hati sufi yang selalu bening sementara lainnya mengatakan, kata sufi berasal dari shaff atau barisan karena para sufi selalu berada pada barisan terdepan dalam mencari keridhaan Ilahi.
Dari serangkaian defenisi yang ditawarkan para ahli ada satu asas yang disepakati terkait dengan ajaran tasawuf, yakni tasawuf adalah moralitas yang berasaskan Islam.[12] Dengan kata lain, bahwa pada prinsipnya tasawuf bermakna moral dan semangat Islam, karena seluruh ajaran Islam dari berbagai aspeknya adalah prinsip moral.

B. Latar Belakang Lahirnya Tasawuf
Ada beberapa versi terhadap lahirnya tasawuf. Asumsi tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, yakni pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf itu bersumber dari ajaran di luar Islam yang masuk ke dalam ajaran Islam. Para orientalis berpendapat bahwa tasawuf berasal dari alam pikiran India di antaranya M. Hortan dan R. Hartman, dengan mengemukakan alasannya:
1.  Kebanyakan angkatan pertama para sufi berasal bukan dari Arab. Misalnya, Ibrahim ibn Adham, Syaqiq al-Balakhi, Abu Yazid al-Bustami dan Yahya ibn Maaz al-Razi.
2.  Kemunculan dan penyebaran tasawuf untuk pertama kalinya adalah di khurazhan.
3.  Pada masa sebelum Islam, Turkistan merupakan pusat pertama berbagai agama dan kebudayaan Timur dan Barat. Dan ketika para penduduk itu memeluk agama Islam, mereka mewarnainya dengan corak mistisisme lama
4.  Kaum muslim sendiri mengakui adanya pengaruh India tersebut.
5.  Islam yang pertama adalah corak India baik dalam kecenderungannya maupun metode-metodenya, keluasan batin, pemakaian tasbih, misalnya merupakan gagasan dan praktik yang berasal dari India[13].
Plotinus, sebagai tokoh aliran filsafat sebagai aliran filsafat Neo Platonisme, dikenal sebagai pembawa filsafat emanasi yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya tetapi dengan masuknya ke alam materi roh menjadi kotor dan untuk dapat kembali ketempat asalnya roh terlebih dahulu harus dibersihkan.[14] Penyucian roh adalah dengan meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan sedekat mungkin, kalau bisa bersatu dengan Tuhan. Dikatakan pula bahwa filsafat ini mempunyai pengaruh terhadap munculnya kaum zahid dan sufi dalam Islam.[15] al-Taftazani mengatakan'" cukup banyak orientalis yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari tradisi pemikiran Yunani. Para orientalis ini lebih menaruh perhatian terhadap tasawuf yang ditimba dari sumber Yunani yaitu tasawuf falsafi (teosofis), suatu jenis tasawuf yang mulai muncul pada abad ke tiga hijriyah lewat Zu al-Nun al-Misri yang berasal dari Mesir yang dikenal sebagai filosof dan ahli kimia sekaligus pengikut sains Hellenistik. Dari analisa sejarah dapat diketahui, adanya akulturasi kebudayaan Islam dan Yunani terutama dalam gerakan filsafat yang sangat berpengaruh dalam dunia Islam. Pada saat dinasti Umayyah dan puncak perkembangannya, pada masa dinasti Abbasiyah, lewat penerjemahan buku-buku Yunani dalam berbagai disiplin ilmu[16] termasuk filsafat kedalam bahasa Arab. Metode berpikir orang Yunani ini mempengaruhi cara berpikir sebagian orang Islam yang ingin berhubungan dengan Tuhan. Kalau dulu ajaran tasawuf baru bersifat akhlak, amaliyah, maka dengan pengaruh filsafat Yunani ini, uraian-uraiannya berkembang menjadi bersifat falsafah.[17] Hal ini dapat dilihat dari pikiran para filosof seperti al-Farabi, al-Kindi dan Ibnu Sina terutama urusan mereka tentang filsafat jiwa.[18]
Sedangkan R.A. Nicholson berkata bahwa jelas kecenderungan-kecenderungan asketisisme dan kontemplasi bersesuaian dengan ide Kristen banyak yang dapat dijadikan sebagai rujukan yakni, banyak teks Injil dan ungkapan-ungkapan yang diatributkan sebagai ucapan al-Masih yang terukir dalam biografi para sufi angkatan pertama. Bahkan seringkali muncul para biarawan Kristen dalam kedudukannya sebagai guru yang menasehati dan memberi arahan pada asketis muslim.[19] Kita pun dapat melihat bagaimana baju bulu domba ini berasal dari umat Kristen nazar untuk tidak berbicara, zikir dan latihan-latihan rohaniah lainnya mungkin berasal dari sumber yang sama juga.[20]
Pengaruh dari ajaran Kristen tersebut dengan faham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri di dalam biara-biara. Dalam literatur Arab memang terdapat tulisan-tulisan tentang rahib-rahib yang mengasingkan diri di padang pasir Arabia, lampu yang mereka pasang di malam hari menjadi petunjuk jalan bagi kafilah-kafilah yang lewat, kemah mereka yang sederhana menjadi tempat berlindung bagi orang yang kemalaman dan kemurahan hati mereka menjadi tempat memperoleh makan bagi musafir yang kelaparan.[21]
Tetapi dalam perjalanan sejarah, sebagian orientalis berpendapat bahwa tasawuf berasal dari Persia, Thoulk, misalnya seorang orientalis abad ke-19, menganggap bahwa tasawuf bersumber dari Majusi dengan argumen bahwa orang-orang Majusi di Iran Utara setelah penaklukan Islam, tetap memeluk agama mereka dan ada beberapa tokoh sufi yang berasal dari sebelah utara kawasan Khurasan. Di samping sebagian aliran-aliran tasawuf angkatan pertama berasal dari kelompok orang-orang Majusi.
Meskipun terdapat kemiripan di antara bentuk asketisisme atau tasawuf Islam dengan asketisisme atau mistisisme Kristen, akan tetapi hal tersebut tidak cukup untuk dijadikan bukti bahwa tasawuf Islam berasal dari sumber Kristen. Memang, orang Arab sangat akrab dengan cara hidup orang Nasrani karena ini berpengaruh pada cara-cara mereka menjalani latihan (riyadah) dan ibadah. Goldziher menganalisir tentang pakaian wool kasar (suff) bersumber pada ajaran Nasrani yang kebanyakan dipakai oleh para zahid/sufi adalah pakaian agama Nasrani, sehingga tasawuf lebih identik dengan kenasranian pada zaman jahiliah.
Selain itu perlu pula dikemukakan bahwa tasawuf berasal dari Persia karena sebagian tokohnya berasal dari Persia seperti: Ma’ruf al-Karakhi dan Abu Yazid al-Bustami. Di samping tokoh sufi juga mempunyai filosof yang berpengaruh dan pujangga-pujangga Persia lebih kaya daripada pujangga-pujangga Arab dalam hal memahamkan Islam, sebab mereka dapat menguasai dua bahasa, Arab dan Persia.[22]
Seiring dengan munculnya kritik-kritik tajam nampaknya tasawuf yang menimbulkan ketegangan dalam dunia pemikiran Islam tampaknya asal muasal tasawuf merupakan masalah yang sangat kompleks karena banyak argumen yang memberikan tipologi kesamaan terhadap pendapatnya. Sehingga hampir tidak diberikan jawaban yang dapat memuaskan semua pihak.[23]Mereka mengatakan bahwa tasawuf bersumber dari luar Islam yakni, Persia, Hindu, Nasrani, filsafat Yunani atau dari sumber lainnya.
Pendapat yang demikian nampaknya tidak objektif sebab dasar ajaran tasawuf sudah ada sejak datangnya agama Islam, hal ini dapat diketahui dari kehidupan nabi Muhammad saw cara hidupnya yang kemudian diteladani dan diteruskan oleh para sahabat. Selama periode Makkiyah kesadaran spiritual Rasulullah saw adalah berdasarkan dari pengalaman-pengalaman mistik jelas dan pasti.
Kemudian ayat-ayat yang menyangkut aspek moralitas dan asketisme, sebagai salah satu masalah prinsipil dalam tasawuf, para sufi merujuk kepada Alquran sebagai landasan utama karena manusia-manusia memiliki sifat baik dan sifat jahat. Meskipun nama tasawuf baru dipakai setelah dua atau tiga generasi Islam, dalam kenyataan ia telah ada sejak generasi pertama, dan salah satu akarnya dapat ditemui pada praktek-praktek spiritual di masa sebelum Islam yang dikenal dengan Hunafa tersebar di tanah Arab,[24] dan berkat praktek itu beliau sudah mengemban risalah Islamiah, menjadi wakil dari praktek mistisisme peninggalan leluhurnya, yaitu Nabi Ibrahim dan Ismail. Dalam salah satu penyendiriannya di sebuah gua Hira di pinggir kota Mekah, ketika berusia sekitar empat puluh tahun, Rasulullah menerima wahyu Alquran yang pertama .[25]
Tetapi sekalipun sufisme mendasarkan ajarannya pada Alquran dan as-Sunnah khususnya dalam soal-soal doktrin, namun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam perkembangannya, esoterisme Islam ini menerima atau barangkali lebih tepat memasukkan unsur-unsur asing dari luar. Hal ini terjadi karena adanya kontak antara kaum muslim dengan bangsa-bangsa taklukannya di Syiria dan Persia yang dalam beberapa hal khususnya di bidang filsafat, lebih dulu maju daripada kaum muslim sendiri. Unsur asing yang banyak disebut sangat mempengaruhi dunia sufisme adalah Neoplatonisme, Gnotisisme, Moohisme, faham inkarnasi dan bahkan animisme, Panteisme dan Politeisme.[26] Keberadaan unsur-unsur asing dalam tasawuf ini membuat para orientalis dalam membahas tentang tasawuf sering mengesankan ketidakaslian sufisme berasal dari Islam.

C. Sejarah Perkembangan Pemikiran Tasawuf
Secara historis, term tasawuf dikenal secara luas di kawasan Islam pada abad pertama dan kedua hijriyah.[27] Pada fase pertama perkembangan tasawuf tersebut, terdapat individu-individu yang lebih memusatkan dirinya pada ibadah sebagai perkembangan lanjut dari kesalehan asketis atau para zahid yang mengelompok di serambi masjid Madinah. Aktualisasi prima dari sikap zuhud tersebut ,mengabaikan kenikmatan dunia. Fase ini disebut sebagai asketisme dan merupakan fase pertama perkembangan tasawuf, Mereka lebih banyak beramal untuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan akhirat yang menyebabkan mereka lebih memusatkan diri pada jalur kehidupan dan tingkah laku yang asketis. Diantara mereka ialah Hasan al- Basri (meninggal 110 H.) [28]dan Rabiah al-Adawiyah[29].
Tasawuf pada abad III dan IV hijriyah disebut dengan masa pengembangan disebabkan tasawuf sudah mempunyai corak yang berbeda sama sekali dengan tasawuf pada abad sebelumnya. Pada abad ini tasawuf sudah bercorak kefanaan (ekstase) yang menjurus ke persatuan hamba dengan khaliq, orang sudah ramai membahas tentang lenyap dalam kecintaan (fana fi' al-Mahbub), menyaksikan Tuhan (musyahadah), bertemu denganNya (liqa’) dan menjadi satu dengan-Nya.[30] Menurut sebagian sufi makrifat Allah adalah tujuan akhir dan sekaligus merupakan tingkat kebahagiaan paripurna yang mungkin dicapai oleh manusia di dunia ini. Kondisi yang demikian dapat dicapai hanya sesudah mencintai (al-hub) Allah dengan segenap ekspresinya. Berdasarkan kualitas-kualitas yang demikian maka gerakan ini dapat dikatakan sebagai gerakan gnostisisme (ilmu ladunni al-ma’rifat) atau barangkali dapat disejajarkan dengan manipulationist dalam filsafat.
Sejak munculnya doktrin fana dan ittihad, terjadi suatu pergeseran gerakan ritual sufi yang bertujuan untuk mencintai dan selalu dekat dengan-Nya ke tingkat penyatuan dengan Tuhan. Konsep ini berangkat dari paradigma bahwa manusia secara biologis adalah jenis makhluk yang mampu melakukan transformasi atau transendensi melalui mi’raj spiritual ke alam Ilahiyat. Sebagaimana yang pernah dilakukan Rasul ketika menerima wahyu yang pertama. Berbarengan dengan itu terjadi pula sikap pro dan kontra terhadap konsepsi al-ittihad yang menjadi salah satu sebab terjadinya konflik dalam dunia pemikiran Islam baik intern sufisme maupun dengan teologi dan fiqih. Dua kelompok terakhir menuduh sufisme sebagai gerakan sempalan yang sesat.
Karakteristik dari fase ke II tasawuf ini, tampak dengan adanya akulturasi di luar Islam, ciri lain yang penting pada fase ini adalah timbulnya ketegangan antara kaum ortodoks dengan kelompok sufi berfaham ittihad[31] dipihak lain salah satu di antara sufi pada fase kedua adalah Abu Yazid,[32] Nicholson mengatakan bahwa Abu Yazid mendapat julukan sebagai pendiri tasawuf yang berasal dari Persia yang memasukkan ide wahda al-wujud sebagai pemikiran orisinil dari timur sebagai theosofi merupakan kekhususan pemikiran Yunani.[33] Setelah Abu Yazid al-Bustami, muncul generasi baru dari sufi Persia yakni Abu al-Muqlis al-Husein bin Mansur bin Muhammad al-Badawi atau al-Hallaj.[34]
Menurut al-Hallaj, manusia mempunyai dua sifat, yakni sifat kemanusiaan (nasut) dan sifat ke Tuhanan (lahut) sesuai dengan Q.S. Shaad (38):72. Hal lain dari dampak tasawuf pada abad III hijriyah yakni orang-orang berusaha mempertajam pemikirannya terhadap kesatuan penyaksian (wahdat al- syuhud), kesatuan wujud (wahdat al-wujud) kesatuan agama-agama (wahdat al-adyan), berhubungan dengan Tuhan (ittisal) keindahan dan kesempurnaan Tuhan (jamal dan kamal) manusia sempurna (insan kamil) yang kesemuanya itu tak mungkin dicapai oleh para sufi kecuali dengan latihan.
Bertolak dari uraian di atas dapat dipahami, tasawuf pada abad III dan IV hijriyah sudah sedemikian berkembang sehingga sudah merupakan mazhab bahkan seolah-olah agama yang berdiri sendiri. Lebih jauh Abu al- Wafa menegaskan bahwa tasawuf pada abad III dan IV hijriyah lebih mengarah kepada ciri psikomoral, dan perhatiannya diarahkan kepada moral serta tingkah laku. Sementara kecenderungan metafisis yang muncul tidak secara jelas. Meskipun terdapat ungkapan tentang kefanaan dan penyaksian serta adanya ungkapan “syathahiyat."
Meskipun demikian pada abad III dan IV hijriyah juga diakui adanya dua aliran tasawuf yakni tasawuf sunni yaitu tasawuf yang dibingkai dalil al-Quran dan hadis sebagai rujukan serta mengaitkan aktual (keadaan) dan magamat (tingkatan ruhaniah) mereka kepada kedua sumber tersebut, kedua aliran tasawuf “non sunni” dimana para pengikutnya cenderung pada ungkapan “ganjil“ serta bertolak kepada keadaan fana’ menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan (ittihad atau hulul)[35]
Selanjutnya fase ke IV, secara paradigmatik gerakan tasawuf pada fase ke IV, mendapat hambatan dari tasawuf sunni, maka pada IV Hijriyah tampillah tasawuf falsafi, yaitu tasawuf yang mencari format baru, dengan bercampurnya tasawuf dengan ajaran filsafat, kompromi dalam pemakaian terma filsafat yang maknanya disesuaikan dengan tasawuf. Oleh karena itu, tasawuf yang berbau filsafat ini tidak sepenuhnya bisa dikatakan tasawuf, dan juga tidak bisa dikatakan sebagai filsafat sebuah paradigma baru dari tasawuf tersebut adalah tasawuf falsafi, karena disatu pihak memakai term filsafat, namun secara epistimologis memakai dzauq, intuisi/ wujdan (rasa).
Untuk memahami ajaran tasawuf pada abad IV Hijriyah ini, Ibnu Khaldun menyimpulkan bahwa tasawuf falsafi mempunyai empat obyek:
1.  Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi serta instropeksi yang timbul darinya.
2.  Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib
3. Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan
4. Penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syathahiyat).[36]
Adapun metode pencapaian tujuan tasawuf sama dengan tasawuf sebelumnya baik mengenai maqamat, ahwal, riyadah, mujahadah, zikir, mematikan kekuatan syahwat maupun yang lainnya.Tokoh-tokohnya ialah Ibnu Araby dengan teori wahdat al-wujud, Suhrawardi al-maqtul( yang terbunuh )dengan teori Isyraqiyah (pancaran), Ibnu Sabi'in dengan teori ittihad, ibnu Faridh dengan teori cinta, fana dan wahdat al-syuhudnya.
A.J. Arberry menyatakan, bahwa masa ibnu Araby, Ibnu Faridh, dan al-Rumy adalah masa keemasan gerakan tasawuf, secara teoritis ataupun praktis. Pengaruh dan praktek-praktek tasawuf semakin tersebar luas melalui thariqah-thariqah dan para sultan serta pangeran tak segan-segan pula mengeluarkan perlindungan dan kesetiaan pribadi mereka, contoh paling menonjol ialah figur terhormat Dharma Syekh, putra kaisar Mogul, Syekh Johan yang menulis sejumlah kitab, diantaranya al-Majma al-Bahrain, didalamnya dia mencoba merujukkan teori tasawuf Vedenta.[37]
Pada masa ini, terlihat tanda-tanda keruntuhan kian jelas, penyelewengan dan skandal melanda. Tak terelak lagi, legenda-legenda tentang keajaiban dikaitkan dengan tokoh-tokoh sufi dikembangkan, dan bahkan terjadi pengkultusan terhadap wali-wali[38] sebagaimana diungkapkan A.J. Arberry tadi, bahwa tasawuf pada waktu itu, ditandai bid’ah, khurafat, mengabaikan syariat dan hukum-hukum moral dan penghinaan terhadap ilmu pengetahuan, dan menghindarkan diri dari rasionalitas dengan menampilkan amalan yang irrasional, azimat dan ramalan serta kekuatan gaib ditonjolkan.
Melihat fenomena ini, muncullah Ibnu Taimiyah dengan keras menyerang penyelewemgan-penyelewengan para sufi tersebut. Dia terkenal kritis, peka terhadap lingkungan sosialnya, polemis dan tandas berusaha meluruskan ajaran Islam yang telah diselewengkan para sufi tersebut, untuk kembali kepada sumber ajaran Islam, Alquran dan al-Sunnah. Kepercayaan yang menyimpang diluruskan, seperti kepercayaan kepada wali, khurafat dan bentuk-bentuk bid’ah pada umumnya. Menurut Ibnu Taimiyah yang disebut wali (kekasih Allah) ialah orang yang berprilaku baik, konsisten dengan Syariah Islamiyah sebutan yang tepat diberikan kepada orang tersebut ialah muttaqin.[39]
Ibnu Taimiyah melancarkan kritik terhadap ajaran ittihad, hulul dan wahdat al-wujud sebagai ajaran yang menuju kekufuran (atheisme), meskipun keluar dari orang-orang yang terkenal arif (orang yang telah mencapai tingkatan ma'rifat), ahli tahqiq (ahli hakikat) dan ahli tauhid (yang mengesakan Tuhan). Pendapat tersebut layak keluar dari mulut orang Yahudi dan Nasrani. Mengikuti pendapat tersebut hukumnya sama dengan menyatakan kufur.
Ibnu Taimiyah lebih cenderung bertasawuf sebagaimana yang pernah diajarkan Rasulullah saw, yakni menghayati ajaran Islam, tanpa mengikuti aliran tariqah tertentu, dan tetap melibatkan diri dalam kegiatan sosial sebagaimana manusia pada umumnya. Tasawuf ini sangat kondisional untuk dikembangkan di masa modern seperti sekarang

III. PENUTUP
 Dari deskripsi yang dipaparkan pada pembahasan, dapat dikemukakan beberapa poin penting sebagai kesimpulan, yaitu:
1. Terdapat satu asas yang disepakati terkait dengan ajaran tasawuf, yakni tasawuf adalah moralitas yang berasaskan Islam. Dengan kata lain, bahwa pada prinsipnya, tasawuf bermakna moral dan semangat Islam karena seluruh ajaran Islam dari berbagai aspeknya adalah prinsip moral.
2. Terdapat perbedaan pendapat tentang latar belakang lahirnya tasawuf. Ada yang menyatakan bahwa tasawuf bersumber dari luar Islam yakni, Persia, Hindu, Nasrani, filsafat Yunani atau dari sumber lainnya. Meskipun demikian, ada yang menyatakan bahwa dasar ajaran tasawuf sudah ada sejak datangnya agama Islam, hal ini dapat diketahui dari kehidupan nabi Muhammad saw cara hidupnya yang kemudian diteladani dan diteruskan oleh para sahabat. Selama periode Makkiyah kesadaran spiritual Rasulullah saw adalah berdasarkan dari pengalaman-pengalaman mistik jelas dan pasti.
3.  Term tasawuf dikenal secara luas di kawasan Islam pada abad pertama dan kedua hijriyah. Pada fase pertama perkembangan tasawuf, terdapat individu-individu yang lebih memusatkan dirinya pada ibadah sebagai perkembangan lanjut dari kesalehan asketis atau para zahid yang mengelompok di serambi masjid Madinah. Tasawuf pada abad III dan IV hijriyah sudah bercorak kefanaan (ekstase) yang menjurus ke persatuan hamba dengan khaliq, orang sudah ramai membahas tentang lenyap dalam kecintaan (fana fi' al-Mahbub), menyaksikan Tuhan (musyahadah), bertemu denganNya (liqa’) dan menjadi satu dengan-Nya. Sementara itu, Ibnu Taimiyah lebih cenderung bertasawuf sebagaimana yang pernah diajarkan Rasulullah saw, yakni menghayati ajaran Islam, tanpa mengikuti aliran tariqah tertentu, dan tetap melibatkan diri dalam kegiatan sosial sebagaimana manusia pada umumnya sehingga ajarannya selalu selaras dengan perkembangan zaman.

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, Abubakar. Sejarah Filsafat Islam. Cet. IV; Bandung: Ramadani, 1991.    
Al-Alawi, Syaikh Ahmad. Sufi of The Twentieeh Century, diterjemahkan Abdul Hadi, Wali Sufi Abad 20. Cet. IV; Bandung: 1994.
Amin, Ahmad. Islam dari Masa ke Masa. Cet. III; Bandung: Rosdakarya, 1987.
AS, Asmaran. Pengantar Study Tasawuf. Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo, 1994
Cawidu, Harifuddin. Sufisme dan Fenomena Spritualitas Masyarakat Industri : Suatu Telaah Terhadap Trend Religiusitas di Akhir Abad ke 20, dalam Uswah No 7 Tahun IV / 1995.
___________. Urgensi dan Peranan Agama dalam Menghadapi Situasi Krisis: Perspektif Theologis dan Sufistik. Uswah Edisi 12, 1998.    
Departemen Agama RI. Alquran dan Terjemahnya. Semarang: CV. Toha Putra, 1989.
Djaelani, Abdul Kadir. Koreksi Terhadap Ajaran Tasawuf. Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press , 1996.  
Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986.
Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Hasmy, A. Sejarah Kebudayaan Islam. Cet. IV; Jakarta: Bulan Bintang, 1993.
Madjid, Nurcholish. Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah. Cet. IV; Jakarta: Paramadina, 1995.    
Nasution, Harun. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1993.    
Nicholson, R. A. The Mistic of Islam, diterjemahkan dengan judul, Mistisisme Islam. Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1998.    
Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Ensiklopedia Islam di Indonesia. Jakarta: Anda Utami, 1992.
Rahman, Jalaluddin. Islam dalam Perspektif Pemikiran Kontemporer. Cet. I; Ujungpandang: Umi Toha Ukhuwah Grafika, 1997.     
Rahmat, Jalaluddin. Islam Alternatif. Cet. IX; Bandung: Mizan, 1998.    
Siradj, Said Aqil. Tasawuf dan Revitalisasi Masyarakat. Malang, t.p., t.th.
Siregar, H. A. Rivai. Tasawuf: Dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme. Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999.
Subhy, Ahmad Mahmud. al-Falsafah al-Akhlaqiyah fi- Fikr al-Islam. Kairo; Dar' al- Ma'rif 1992.
Syukur, Amin. Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21. Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.
Al-Taftazani, Abu al-Wafa al-Ghanimi. Madkhal Ila al- Tashawuf al-Islam, diterjemahkan oleh Ahmad Rofi Ustmani, Sufi dari Zaman ke Zaman. Cet. IV; Bandung: Pustaka, 1989.    
Al-Wakil, Sayyid. Lamhatun min Tarikhid Da'wati Asbabudh dha'fi fil-Ummatil Islamiyyah diterjemahkan Fadhli Bahri dengan judul, Wajah Dunia Islam: Dari Dinasty Bani Umayyah hingga Imperialisme Modern. Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1989.











[1]Nurcholish Madjid, Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah (Cet. IV; Jakarta: Paramadina, 1995), h. 91.
[2]Nurcholish Madjid, Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah, h. 91.
[3]Said Aqil Siradj, Tasawuf dan Revitalisasi Masyarakat (Malang, t.p., t.th.), h. 1.
[4]Harifuddin Cawidu, Sufisme dan Fenomena Spritualitas Masyarakat Industri : Suatu Telaah Terhadap Trend Religiusitas di Akhir Abad ke 20, dalam Uswah No 7 Tahun IV / 1995), h. 8; Harifuddin Cawidu, Urgensi dan Peranan Agama dalam Menghadapi Situasi Krisis: Perspektif Theologis dan Sufistik (Uswah Edisi 12, 1998), h. 11.
[5]Harifuddin Cawidu, Sufisme dan Fenomena Spritualitas Masyarakat Industri : Suatu Telaah Terhadap Trend Religiusitas di Akhir Abad ke 20, h. 8.
[6]Jalaluddin Rahman, Islam dalam Perspektif Pemikiran Kontemporer (Cet. I; Ujungpandang: Umi Toha Ukhuwah Grafika, 1997), h. 2-3.
[7]Jalaluddin Rahmat, Islam Alternatif (Cet. IX; Bandung: Mizan, 1998), h. 48.
[8]Departemen Agama RI., Alquran dan Terjemahnya (Semarang: CV. Toha Putra, 1989), h. 582.
[9]H. A. Rivai Siregar, Tasawuf: Dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme (Cet. I; Jakarta: Raja Grafinndo Persada, 1999), h. 31. Bandingkan dengan R. A. Nicholson, The Mistic of Islam, diterjemahkan dengan judul, Mistisisme Islam (Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1998), h. 4-5.
[10]H. A. Rivai Siregar, Tasawuf: Dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme, h. 32.
[11]H. A. Rivai Siregar, Tasawuf: Dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme, h. 34.
[12]H. A. Rivai Siregar, Tasawuf: Dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme, h. 33.
[13]Abdul Kadir Djaelani, Koreksi Terhadap Ajaran Tasawuf (Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press , 1996), h.10
[14]Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 182
[15]Asmaran AS, Pengantar Study Tasawuf (Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo,1994), h. 182
[16]A. Hasmy, Sejarah Kebudayaan Islam (Cet. IV; Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 236-265.
[17]Asmaran AS, Pengantar Study Tasawuf, h.184
[18]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam (Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 67. Abubakar Aceh, Sejarah Filsafat Islam (Cet. IV; Bandung: Ramadani, 1991), h. 47.
[19]Abdul Kadir Djaelani, Koreksi Terhadap Ajaran Tasawuf, h. 18.
[20]Abdul Kadir Djaelani, Koreksi Terhadap Ajaran Tasawuf, h. 18.
[21]Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, h. 58.
[22]Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, h.192
[23]Ahmad Amin, Islam dari Masa ke Masa (Cet. III; Bandung: Rosdakarya, 1987), h. 142-143.
[24]Sayyid al-Wakil Lamhatun min Tarikhid Da'wati Asbabudh dha'fi fil-Ummatil Islamiyyah diterjemahkan Fadhli Bahri, Wajah Dunia Islam: Dari Dinasty Bani Umayyah hingga Imperialisme Modern (Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1989), h. 45-47.
[25]Syaikh Ahmad al-Alawi, Sufi of The Twentieeh Century, diterjemahkan Abdul Hadi, Wali Sufi Abad 20 (Cet. IV; Bandung: 1994), h. 32.
[26]Ahmad Mahmud Subhy, al-Falsafah al-Akhlaqiyah fi- Fikr al-Islam (Kairo; Dar' al- Ma'rif 1992), h. 80-81, R.A. Nicholson, The Mystics of Islam, h. 11-12.
[27]Abu al-Wafa al-Ghanimi al- Taftazani, Madkhal Ila al- Tashawuf al-Islam, diterjemahkan oleh Ahmad Rofi Ustmani, Sufi dari Zaman ke Zaman (Cet. IV; Bandung: Pustaaka, 1989), h. 16.
[28]Amin Syukur, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21 (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), h. 30.
[29]Amin Syukur, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21, h. 31.
[30]Amin Syukur, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21, h. 31.
[31]Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, h. 82.
[32]Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986), h. 102.
[33]Amin Syukur, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21, h. 33.
[34]Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Ensiklopedia Islam di Indonesia (Jakarta: Anda Utami, 1992), h. 339.
[35]Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Ensiklopedia Islam di Indonesia, h. 339.
[36]Amin Syukur, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21, h. 40.
[37]Amin Syukur, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21, h. 41.
[38]Amin Syukur, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21, h. 41.
[39]Amin Syukur, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21, h. 41.
Post a Comment