Wednesday, March 2, 2016

SISTEM DAKWAH DAN PERJUANGAN NABI MUHAMMAD DI MEKAH DAN MADINAH

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah ajaran yang diwahyukan oleh Tuhan kepada para hamba-Nya agar menjalankan “Amar Ma’ruf wa Nahi Munkar”. Islam yang merupakan ajaran agama semua nabi yang intinya mentauhidkan dan mengesakan-Nya. Demikian pula Islam yang diwahyukan kepada Muhammad Saw. sebagai Nabi yang terakhir telah mengantar manusia untuk sampai kepada tujuan untuk mampu mengabdi kepada-Nya.
Muhammad dilahirkan dalam cabang keluarga Hasyim dari keturunan bangsawan Quraisy (berkuasa awal abad VII) di Mekah. Umumnya sejarawan meyakini Muhammad lahir pada tahun 570 M. Keajaiban pun banyak menandai kehadiran kekasih Allah di persada bumi ini, diantaranya terjadinya penyerangan terhadap Ka’bah oleh Pasukan Bergajah di bawah pimpinan Abraham, namun dengan kekuasaan Allah yang senantiasa melindungi Ka’bah, menurunkan azab dengan perantara Burung Ababil. Dalam waktu yang bersamaan, padam pula api sembahan Kisra Persia yang tak pernah padam selama seribu tahun. Kisah ini diabadikan dalam Q.S.Al-Fiil (105). “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah? 2.  Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? 3. Dan dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, 4. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, 5.  Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”[1]
          Muhammad tumbuh dalam keadaan yatim; ayahnya Abdullah putera Abd al-Mutthalib wafat ketika Ia berusia dua bulan dalam kandungan. Kemudian ibunya wafat setelah Muhammad berusia enam tahun. Muhammad, sebagaimana anak laki-laki Arab lainnya, diamanahkan kepada Halimah sebagai pengasuhnya. Sedangkan perlindungan atas Nabi diserahkan kepada kakeknya Abd al-Mutthalib yang kemudian meninggal pula setelah dua tahun wafat ibunya.[2]
Muhammad bin Abdullah adalah pembawa risalah, pembangun umat, dan pendiri sebuah kedaulatan negara. Dia menyampaikan risalahnya di kota Mekah tahun 610 M. Hingga hari ini, risalahnya telah diikuti oleh sepertujuh penduduk dunia, terdiri atas berbagai ras. Bahkan suatu pemerintahan kecil yang ia dirikan di kota Madinah yang pengaruhnya kemudian menyebar ke seluruh pelosok Jazirah Arabiah sebelum beliau wafat. Satu abad setelah itu menjadilah sebuah kekaisaran besar pada abad pertengahan.[3]
Muhammad tumbuh di tengah-tengah lingkungan yang bobrok dan rusak. Di antara tanda kebejatan itu ialah fanatisme kesukuan, pemisahan antara kelompok kaya dan miskin, penistaan kepada perempuan, kerusakan agama karena menitikberatkan kepada penyembahan berhala, mudahnya seseorang menghilangkan nyawa dan merampas harta  orang lain dan sebagainya.
Selama dua puluh tahun beliau berdakwah, dan berkat ketabahannya beliau mampu menyingkirkan semua bentuk kerusakan itu, menyatukan suku-suku yang terpecah belah menjadi bangsa Arab yang bersatu, dan meletakkan keimanan sebagai pengikat tali persaudaraan antara sesama orang mukmin. Nabi saw. tidak pernah membedakan antara bangsa Arab dan bukan Arab, antara kaya dan yang miskin, antara yang putih dan hitam, antara satu golongan dengan golongan yang lainnya, ataupun antara Timur dan Barat. Nabi saw. tidak pernah terpengaruh dengan ras dan kebangsaan ketika menyampaikan ajarannya, dan juga tidak dipengaruhi oleh aristokratisme (penganut paham bahwa negara harus diperintah di bawah kekuasaan kaum bangsawan / ningrat).
Nabi Muhammad saw. adalah sosok yang paling baik dalam mitos dan realistis. Hal ini dapat dilihat secara meyakinkan, dalam kariernya selama 23 tahun, Nabi Muhammad telah memperlihatkan bukan saja sebagai seorang yang melakukan reformasi moral melalui karier kenabian, tetapi juga reformasi sosial, bahkan politik, melalui pembentukan sistem masyarakat dan politik di Madinah.[4] Beliau berangan-angan mewujudkan suatu masyarakat yang lebih baik dari masyarakat Jahiliyah. Ketika beliau mulai melangkah dan melaksanakan angan-angannya, beliau sangat hati-hati menerapkan anjurannya dengan kenyataan yang ada di lapangan dan tingkat budaya yang telah dicapai oleh kaumnya. Dia melihat ke depan dengan pelajaran yang telah dialami pada masa lampau. Dia sangat yakin bahwa perkembangan bertahap, perlahan, dan penuh kebijakan adalah sangat penting.
Untuk itu, cukup penting untuk dikaji sejarah hidup Muhammad, baik pada periode Mekah maupun Madinah yang meliputi sistem dakwah dan perjuangannya dalam menegakkan syiar Islam.

B. Permasalahan
Dari uraian yang dikemukakan pada latar belakang, dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana sistem dakwah dan perjuangan Nabi Muhammad di Mekah?
2.      Bagaimana sistem dakwah dan perjuangan Nabi Muhammad di Madinah?

II. PEMBAHASAN
A. Sistem Dakwah Dan Perjuangan Nabi Muhammad Di Mekah
            Nabi Muhammad menerima wahyu pertama yang disampaikan oleh Malaikat Jibril di Gua Hira’ tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan, bertepatan dengan tanggal 6 Agustus tahun 610 M.
Setelah beberapa waktu Malaikat Jibril tidak pernah muncul untuk beberapa lama, sedangkan Nabi selalu menunggu-nunggunya. Setelah turunnya surah al-Muddatsir (74) : 1-7, yang berbunyi : “1. Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. Bangunlah, lalu berilah peringatan! 3. Dan Tuhanmu agungkanlah! 4. Dan pakaianmu bersihkanlah, 5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. 7.  Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”[5]
            Setelah turunnya ayat ini Nabi mendapat tugas untuk menyerukan agama Allah ke seluruh umat manusia. Berdasarkan perintah Tuhan itu, mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama beliau melakukannya secara diam-diam di lingkungan sendiri dan di kalangan sahabat-sahabatnya. Karena itulah, orang yang pertama kali menerima dakwahnya adalah keluarga dan sahabat dekatnya. Setelah beberapa lama dakwah tersebut dilaksanakan secara individual, turunlah perintah agar Nabi menjalankan dakwahnya secara terang-terangan.
Mula-mula ia menyeru dan mengundang kerabat karibnya dari Bani Abdul Muthalib dan seterusnya kepada seluruh lapisan masyarakat umum. Setelah tiga sampai empat tahun Nabi berdakwah tercatatlah 40 orang yang beriman kepada risalah yang dibawanya. Pada awalnya masyarakat Quraisy mencemoohkan dakwah Nabi, namun ketika mereka menyadari kemajuan dakwah Nabi, para pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangi dakwah Nabi.[6]
Banyak cara yang ditempuh para pemimpin Quraisy untuk mencegah dakwah Nabi misalnya; mereka membujuk Abu Thalib agar mau menghentikan dakwah Nabi karena mereka mengira bahwa kekuatan Nabi terletak pada perlindungan dan pembelaan pamannya (Abu Thalib) yang amat disegani di kalangan para pemuka Quraisy. Namun ternyata mereka gagal dalam menjalankan politiknya. Merasa gagal dengan cara ini, kemudian mereka mengutus Walid ibn Mughirah dengan membawa Umarah ibn Walid seorang pemuda untuk dipertukarkan dengan Nabi dengan syarat Nabi juga diserahkan kepada mereka.
           Setelah cara-cara diplomatik dan bujuk rayu yang dilakukan oleh kafir Quraisy gagal, tindakan-tindakan fisik yang sebelumnya sudah dilakukan semakin ditingkatkan. Kekejaman yang dilakukan oleh penduduk Mekah terhadap Nabi dan kaum muslim itu, mendorong Nabi untuk mengungsikan para pengikutnya keluar Mekah. Pada tahun kelima kerasulannya Nabi menetapkan Habsyah (Ethiopia) sebagai negeri tempat pengungsian karena Negus (raja negeri itu) adalah orang yang adil dan memberi perlindungan kepada agama-agama lain beserta penganutnya, rombongan ini berjumlah kurang lebih 100 orang.
        Orang Quraisy berusaha untuk menghalangi hijrah ke Habsyah ini, termasuk membujuk Negus agar menolak kehadiran mereka, namun usaha mereka pun gagal.[7] Meskipun demikian, semakin kejam mereka memperlakukan para pengikut Muhammad, maka semakin banyak penduduk Mekah yang masuk Islam. Bahkan di tengah meningkatnya kekejaman mereka, dua orang pemuka sekaligus orang kuat kaum kafir Quraisy masuk Islam, yaitu Hamzah dan Umar bin Khattab. Dengan masuk Islamnya kedua tokoh yang sangat berpengaruh ini, maka semakin kuatlah posisi umat Islam. Dengan menguatnya posisi umat Islam ini, semakin memperkeras reaksi kaum Quraisy. Mereka menempuh cara baru dengan melumpuhkan kekuatan Muhammad yang bersandar pada perlindungan Bani Hasyim. Mereka melakukan pemboikotan pada Bani Hasyim dengan memutuskan segala hubungan dengan suku ini. Tiada seorang pun penduduk Mekah diperkenankan untuk melakukan hubungan jual beli dan sebagainya dengan suku ini. Akibat pemboikotan tersebut Bani Hasyim menderita kelaparan, kemiskinan dan kesengsaraan yang tak tertandingi.[8]
           Bani Hasyim akhirnya pindah ke suatu lembah di luar Mekah yang biasanya dinamai Syib Abi Thalib (pertanahan Abu Thalib),[9] mereka mengalami penderitaan selama kurang lebih tiga tahun sampai kemudian atas prakarsa Hisyam Ibnu Amr salah seorang dari kalangan Quraisy yang paling simpati pada kaum muslimin mengusulkan agar pemboikotan tersebut dibatalkan.
           Setelah meninggalnya Abu Thalib (paman Nabi) dalam usia 87 tahun, ditambah lagi dengan wafatnya Khadijah dalam usia 65 tahun yang hanya berselang tiga hari itu membuat Nabi sangat menderita. Peristiwa ini terjadi pada tahun 10 kenabian. Sepeninggal mereka kaum Quraisy tidak segan-segan lagi melampiaskan nafsu amarahnya kepada Nabi Muhammad. Pada masa itu pula Isra’ dan Mi’raj terjadi.[10] Peristiwa isra’ mi'raj yang dialami oleh Rasulullah saw., yang intinya adalah bahwa di antara sekian ibadah mahdah yang diterima dan diperintahkan oleh Allah kepada hambanya seperti ibadah zakat, puasa dan haji, hanya satu ibadah yang diterima langsung oleh Rasulullah saw., yakni ibadah shalat. Bahkan proses penerimaannya pun Allah swt., memanggil langsung Rasul-Nya menghadap kepada sang Ilahi guna menerima ibadah shalat. Dengan ber isra’mi’raj, Allah juga hendak meningkatkan semangat keimanan dan menenangkan perasaan rasul dari beban psikologis yang bisa melemahkan daya spritualnya.
         Setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, suatu perkembangan besar bagi dakwah Nabi muncul. Perkembangan datang dari sejumlah penduduk Yastrib (Madinah) yang menjanjikan keselamatan bagi Nabi dan para pengikutnya. Jaminan keselamatan yang datang dari arah yang sama sekali tidak diharapkan ini membuat Nabi sangat gembira. Penduduk Yastrib bukanlah orang-orang yang aktif ikut ambil bagian dalam perdagangan dan hubungan lain dengan Mekah dan daerah-daerah sekutunya.[11] Selain itu, Yastrib sering menghadapi masalah-masalah dalam daerahnya sendiri. Ajakan tersebut diawali dari adanya pertemuan Nabi dengan enam orang pemuda yang berasal dari Yastrib[12]  pemuda-pemuda tersebut adalah: 1) As’ad bi Zurara dari Bani an-Najjar, 2) ‘Auf bin al-Harits bin Rifa’ah Ibnu ‘Afra’ dari Bani an-Najjar, 3) Rafi’ bin Malik bin al-‘Ajlan dari Bani Zuraiq, 4) Quthbah bin ‘Amir bin Hadidah dari Bani Salamah, 5) ‘Uqbah bin ‘Amir bin Naby dari Bani Haram bin Ka’ab, 6) Jabir bin Abdullah bin Riab dari bani ‘Ubaid bin Ghanam.[13]
            Gelombang terakhir kedatangan orang-orang Yastrib terjadi pada tahun 622 M. yang terdiri dari 73 orang laki-laki dan 2 orang wanita. Mereka kemudian mengadakan perjanjian yang dikenal dengan nama Iqrar Aqabah II.[14] Akhirnya umat Islam Mekah diam-diam hijrah ke Yastrib dalam jumlah yang sedikit. Muhammad menunda keberangkatannya untuk menyelesaikan usahanya sendiri, ditemani oleh sahabat setianya Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau dan Abu Bakar sampai di puncak Gunung Thawr yang tinggi, kira-kira satu jam setengah perjalanan dari Mekah dan mencari perlindungan di sebuah gua dekat puncak agar mereka aman dari kejaran orang-orang kafir Quraisy yang telah mengetahui keberangkatan Nabi Muhammad saw ke Madinah.
          Nabi Muhammad menjalankan shalat Jum’at untuk pertama kalinya di perkampungan suku Bani Salim dan tinggal di sana selama beberapa hari di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi membangun sebuah mesjid yaitu masjid Quba. Inilah mesjid pertama yang dibangun Nabi sebagai pusat peribadatan.[15] Tiba di Yastrib bersama Abu Bakar langsung menuju ke rumah Abu Ayyub al-Anshary, hijrah inilah yang menandakan berakhirnya periode dakwah di Mekah dan dimulainya dakwah Nabi di Madinah.

B. Sistem Dakwah Dan Perjuangan Nabi Muhammad Di Madinah
         Muhammad mendapatkan sambutan yang hangat dari penduduk Yastrib dan orang-orang muslim yang telah hijrah lebih dulu. Beliau segera mendapatkan banyak pengikut dari kalangan Muhajirin dan sebagian penduduknya yang kemudian menjadikan Nabi sebagai pemimpin mereka. Penduduk kota ini terdiri atas tiga golongan.
1. Penduduk asli (Anshar) disebut demikian karena mereka membantu mewujudkan keinginan Nabi.
2.  Para pendatang / imigran (al-Muhajirin) yaitu mereka yang hijrah dari Mekah untuk mencari perlindungan di Yastrib.
3.    Umat Yahudi yang sedikit demi sedikit dipaksa keluar dari tanah Arab.[16]
            Nabi Muhammad mempunyai kedudukan bukan hanya sebagai pemimpin agama, tetapi juga sebagai kepala negara. Dengan kata lain, dalam diri Nabi terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spiritual dan kekuasaan duniawi. Kedudukannya sebagai Rasul sekaligus sebagai kepala negara.[17] Selanjutnya beliau menyusun langkah-langkah guna mengembangkan Islam agar lebih efektif dan cepat menyebar ke seluruh dunia khususnya di tanah Arab itu sendiri.
Dalam rangka menunjang strategi dakwah Rasulullah saw. di Madinah ini, maka yang pertama dilakukan adalah membuat perjanjian berupa piagam persaudaraan antara kelompok-kelompok yang ada di Madinah, yang kemudian dikenal dengan Piagam Madinah. Di antara pasal-pasalnya, piagam ini menetapkan kewajiban seluruh warga Madinah untuk bersatu dan saling bahu-membahu dalam membela negara terhadap serangan dari luar.[18]
Perlu pula dicatat di sini, bahwa sebelum adanya piagam persaudaraan tersebut, terlebih dahulu Nabi Muhammad membuat landasan yang kokoh terhadap Islam, yaitu membangun masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat tali persaudaraan, penyusunan strategi dakwah dan penyusunan pedoman negara.[19]
         Ada beberapa langkah yang ditempuh dalam penyebaran agama Islam di kota Madinah sehingga mudah diterima oleh mereka dengan hati yang tulus ikhlas. Adapun langkah-langkah tersebut antara lain :
1.   Memberikan kemerdekaan beragama kepada penduduk Madinah. Langkah pertama ini memberikan angin segar terhadap Islam, karena justru akan menampakkan kebenaran Islam, sebab Islam sendiri mengajarkan kepada pemeluknya agar menghormati kepercayaan kepada Tuhan dan pemeluk agama lainnya. Islam tidak memaksa agar pindah agama, tindakan Rasulullah ini disambut dengan gembira oleh penduduk Madinah yang beragama Yahudi, Nasrani serta pemeluk agama lainnya
2.  Islam mengajarkan bahwa manusia adalah umat yang satu. Oleh karena itu, manusia wajib memelihara persaudaraan dan saling tolong menolong. Sebab itulah Nabi menganjurkan kaum muslimin untuk mengadakan perjanjian perdamaian dengan mereka yang berada di luar agama Islam serta saling tolong menolong antara suku yang satu dengan suku yang lainnya atau antara qabilah yang satu dengan qabilah yang lain.
3.   Islam mengajarkan bahwa setiap muslim bersaudara dengan muslim lainnya. Sehingga persaudaraan antara golongan Muhajirin dan Anshar makin erat.[20]
            Dengan terbentuknya negara Madinah, Islam makin bertambah kuat. Hal ini dapat dilihat dari terbentuknya sebuah persaudaraan Islam antara kaum Muhajirin (Mekkah) dan Anshar (Madinah), membangun pula semangat kebersamaan dan persatuan dan menghilangkan sekat-sekat perbedaan dan akhirnya membentuk satu kesatuan dari bangsa yang pluralistik. Perkembangan Islam yang itu membuat orang-orang Mekah dan musuh-musuh Islam lainnya menjadi risau. Kerisauan itu akan mendorong orang-orang Quraisy berbuat apa saja. Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan gangguan dari musuh, Nabi menyusun siasat dengan membentuk pasukan.  Dari golongan pertama (kaum anshar) dan kedua (kaum Muhajirin) Nabi mulai mengkoordinir dan membentuk sistem pertahanan (pasukan) dalam rangka pembelaan terhadap ancaman-ancaman yang berasal dari kafir Quraisy tersebut.
            Ada beberapa peperangan yang terjadi pada masa Nabi. Perang pertama yang sangat menentukan masa depan negara Islam adalah perang Badar yang terjadi pada tanggal 8 Ramadhan tahun 2 Hijriah. Peperangan ini disebabkan oleh beberapa faktor kecemburuan dan permusuhan terhadap penduduk Madinah yang telah memberi perlindungan dan mendukung perjuangan Muhammad. Peperangan ini dimenangkan oleh kaum muslimin. Perang kedua yaitu perang Uhud yang terjadi pada tahun 3 Hijriah di Bukit Uhud, golongan kafir Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan dan kaum muslimin yang dipimpin langsung oleh Rasulullah sendiri. Peperangan dimenangkan oleh kaum Quraisy. Selanjutnya perang Khandaq terjadi pada tahun 5 Hijriah dan peperangan ini dimenangkan oleh kaum muslimin. Inilah di antara beberapa peperangan yang terjadi dalam sejarah perkembangan agama Islam.
            Dalam berperang, Nabi Muhammad saw. selalu menegaskan kepada para sahabat bahwa pertolongan Allah akan selalu datang kepada orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, serta tiada balasan bagi mereka yang mati syahid kecuali hanya surga Allah. Nabi juga menyatakan bahwa kemenangan perang tidak hanya terletak pada jumlah pasukan yang banyak, tetapi yang terpenting adalah adanya taufiq dan inayah dari Allah yang mana hal itu bisa diraih tatkala faktor-faktor non tekhnis, yaitu ketakwaan yang terimplementasi dalam dzikir, sabar, tawakkal dan tawadhu` selalu melekat dan terjaga dalam diri setiap umat Islam.
            Pada tahun 6 Hijriah ibadah haji sudah disyariatkan, Nabi memimpin sekitar 1000 kaum muslimin ke Mekah, bukan lagi untuk berperang melainkan untuk ibadah umrah karena itu mengenakan pakaian ihram tanpa membawa senjata. Sebelum tiba di Mekah mereka berkemah di Hudaibiyah di antara Thaif dan Mekah.[21] dan di tempat inilah diadakan perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah yang isinya antara lain :
1.    Kaum muslimin tidak boleh mengunjungi ka’bah tahun ini sampai tahun depan,
2.    Lama kunjungan dibatasi hanya sampai tiga hari saja.
3. Kaum muslimin wajib mengembalikan orang-orang Mekah yang melarikan diri ke Madinah, sedang sebaliknya pihak Quraisy tidak harus menolak orang-orang Madinah yang kembali ke Mekah.
4.   Selama sepuluh tahun diberlakukan gencatan senjata antara masyarakat Madinah dan Mekah.
5.   Tiap qabilah yang ingin masuk ke dalam persekutuan kaum Quraisy atau kaum muslimin bebas melakukannya tanpa rintangan.
            Perjanjian ini berdampak sangat signifikan terhadap dakwah Rasulullah, di mana karena masa tenggang waktu perjanjian Hudaibiyah, Nabi menggunakan untuk memperluas jangkauan dakwahnya, yakni secara berangsur-angsur ditujukan kepada daerah-daerah sekitar Madinah tanpa ada gangguan dari pihak Quraisy. Dari hasil perjanjian Hudaibiyah ini kemudian menjadi cikal bakal menuju tahap perluasan dakwah Rasulullah saw. berikutnya.
            Pada tahun 8 Hijriah terjadi penaklukan kota Mekah sekaligus menentukan nasib bangsa Arab secara menyeluruh. Nabi memasuki kota Mekah tanpa mendapatkan perlawanan sedikit pun dari penduduk Mekah, ini terjadi pada tanggal 1 januari 630 M.[22] Pada tahun 10 Hijriah atau tepatnya tahun 632 M. Nabi menunaikan ibadah haji ke Mekah dengan orang-orang Islam yang jumlahnya melebihi 100.00 orang, haji ini dikenal dengan haji Wada’.[23]
            Tiga bulan berikutnya Rasulullah menderita sakit keras, para sahabatnya berkumpul di sekeliling mesjid dalam keadaan cemas. Beliau keluar dari rumahnya dengan ikatan di kepalanya, menuju mesjid dan duduk di atas mimbar. Merasa kalau ajalnya sudah dekat, beliau memohon kepada kaum Muhajirin dan Anshar untuk memperlakukan satu sama lain dengan baik. Hari Senin tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awwal bertepatan dengan 8 Juni 632 M. Nabi Muhammad kembali kehadirat Tuhan dalam usia 63 tahun, di rumah Aisyah. Inilah akhir dari kehidupan Nabi Muhammad saw. Beliau sudah membawa misi dan menyebarkannya mulai dari Jazirah Arab sampai ke seluruh pelosok dunia, dan menghasilkan pembaharuan dalam bidang keagamaan dan sosial yang mampu merubah peradaban umat manusia.[24]
           
III. PENUTUP
Dari uraian yang dideskripsikan pada pembahasan, dapat disimpulkan ke dalam beberapa poin penting sebagai berikut:
1.    Dakwah dan perjuangan Nabi Muhammad saw. dilaksanakan dalam dua periode, yakni periode Mekah yang berlangsung kurang lebih 13 tahun dan periode Madinah yang berlangsung selama 10 tahun. Pelaksanaan dakwah pada fase Mekah dapat dibagi menjadi tiga tahapan yaitu tahap dakwah secara rahasia, tahap dakwah secara terang-terangan dan tahap dakwah di luar Mekah yang berlangsung pada akhir tahun kesepuluh dari kenabian sampai hijrah ke Madinah. Pelaksanaan dakwah di Madinah dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap dipenuhi oleh fitnah dan ujian, tahap gencatan senjata dengan para pemimpin suku dan tahap masuknya orang-orang ke dalam Islam, baik di Madinah maupun di Mekah setelah penaklukan Mekah. Masing-masing periode tersebut, dilakukan secara bertahap, yang merupakan bagian dari strategi dalam rangkaian menyukseskan syiar Islam di bumi Arab.
2.    Nabi Muhammad saw bukan saja sebagai pembawa risalah agama, tapi juga sekaligus sebagai seorang pemimpin pemerintahan yang cakap dalam mengurus pelaksanaan pemerintahannya itu dan menjadikannya sebagai seorang manusia yang memiliki kehebatan karir yang tak tertandingi sepanjang sejarah umat manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, K. (Tarikh Pramodern) Sejarah Islam, Edisi I. Cet. II; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997
Amin, Husain Ahmad. al-Mi’ah al-A’zham fi Tarikh al-Islam  diterjemahkan oleh Baharuddin Fannani dengan judul Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. Cet. III; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999.
Departemen Agama RI, Alqur'an dan Terjemahnya. Jakarta: PT. Bumi Restu, 1980.
Haekal, Muhammad Husain. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Pustaka Jaya, 1980.
Hassan, Hassan Ibrahim. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Cet. I; Yogyakarta: Penerbit Kota Kembang, 1989.
Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I. Cet. V; Jakarta: UI Press, 1985.
Rasyidi, Badri. Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Armico, 1987.
Shaban, M.A. Sejarah Islam (600–750), Edisi I. Cet. I; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993.
Al-Sibaiy, Mushthafa. Al-Sirat al-Nabawiyah Durus wa ‘Ibar. Cairo: Dar el-Tawzi wa Al-Nasyr, 1988.
Team Penyusun Textbook, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, Jilid I. Ujungpandang: Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IAIN Alauddin, 1982.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, Edisi I. Cet. X; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000.
 

[1]Departemen Agama RI., Alquran dan Terjemahnya (Semarang: CV. Toha Putra, 1989), h. 1271.
[2]Mushthafa al-Sibaiy, Al-Sirat al-Nabawiyah Durus wa ‘Ibar. (Cairo: Dar el-Tawzi wa Al-Nasyr, 1988), h.24
[3]Lihat Husain Ahmad Amin al-Mi’ah al-A’zham fi Tarikh al-Islam  diterjemahkan oleh Baharuddin Fannani dengan judul Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam  (Cet. III; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999), h. 5.  
[4]Ulil Abshar Abdallah, Muhammad; Nabi dan Politikus. JIL, Edisi tanggal 4 – 5 – 2004.   
[5]Departemen Agama RI, Alqur'an dan Terjemahnya (Jakarta: PT. Bumi Restu, 1980), h. 992.
[6]K. Ali, (Tarikh Pramodern) Sejarah Islam, Edisi I (Cet. II; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), h. 32
[7]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Edisi I (Cet. X; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h. 22.
[8]Ibid., h. 23.
[9]Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1980), h. 160.
[10]Lihat ibid., h. 169.
[11]M. A. Shaban, Sejarah Islam (600–750), Edisi I (Cet. I; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993), h. 12.
[12]Lihat K. Ali, op. cit., h. 37.
[13]Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, ar-Rahiq al-Makhtum, diterjemahkan oleh Hanif Yahya, Lc., et.al., dengan judul Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad saw. dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir (Cet. I; Jakarta: PT. Megatama Sofwa Pressindo, 2004), h. 189.
[14]Lihat Muhammad Husain Haekal, op. cit., h. 189.
[15]Lihat Badri Yatim, op. cit., h. 25.
[16]Hassan Ibrahim Hassan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Cet. I; Yogyakarta: Penerbit Kota Kembang, 1989), h. 25.
[17]Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I (Cet. V; Jakarta: UI Press, 1985), h. 101.
[18]Lihat Team Penyusun Textbook, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, Jilid I, (Ujungpandang: Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama IAIN Alauddin, 1982), h. 34.
[19]Lihat Badri Yatim, op. cit., h. 303.
[20]Badri Rasyidi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Armico, 1987), h. 21.
[21]Lihat Badri Yatim, op. cit., h. 30.
[22]Lihat K. Ali, op. cit., h. 69.
[23]Lihat Hassan Ibrahim Hassan, op. cit., h. 33.
[24]K. Ali, loc. cit.
Post a Comment