Thursday, May 11, 2017

PENGARUH ETOS KERJA WIDYAISWARA TERHADAP PRESTASI BELAJAR PESERTA DIKLAT PADA DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF PENINGKATAN KOMPETENSI PENELITIAN TINDAKAN KELAS DI BALAI DIKLAT KEAGAMAAN MAKASSAR



Abstrak:
Etos kerja widyaiswara BDK Makassar menunjukkan bahwa dari 60 peserta diklat yang dijadikan responden, 95 persen peserta diklat menyatakan etos kerja widyaiswara berada pada kategori sedang, dan 5 persen yang menyatakan pada kategori tinggi. Dari respon responden tersebut dapat disimpulkan bahwa etos kerja widyaiswara BDK Makassar berada pada klasifikasi Sedang. Nilai rata-rata peserta diklat di BDK Makassar adalah 77,18 yang berada pada kategori Cukup Baik. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh/korelasi yang positif dan signifikan antara etos kerja widyaiswara dengan prestasi belajar peserta diklat pada Diklat Teknis Substantif Peningkatan Kompetensi Penelitian Tindakan Kelas di BDK Makassar.

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam sebagai dienul haq merupakan minhajul hayat yang syamil bagi manusia. Konsepsi yang demikian itu mengandung pengertian bahwa Islam sebagai dien yang sempurna tidak memisahkan atau memilahkan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Keduanya merupakan persoalan yang esensial yang harus dipahami oleh setiap manusia, yang apabila ia memisahkan urusan tersebut, maka yang akan terjadi adalah penyesalan. Untuk itu, Islam adalah ladang untuk memasuki akhirat.(QS. Ali Imran/3: 83) Ini membuktikan bahwa Islam bukan hanya di masjid beribadah melulu yang akhirnya mengabaikan urusan dunia, tetapi juga bukan hanya mengejar dunia hingga akhirat terlupakan begitu saja. Tetapi Islam mengaitkan keduanya dalam ikatan yang kuat. Barangsiapa yang memisahkan, berarti ia telah memutuskan tali hubungan antara hamba dengan Khaliknya.
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa Islam mewajibkan kepada umatnya untuk mengolah sumber daya, bagi sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang telah dikaruniakan Allah kepada manusia untuk diolah demi kesejahteraan umat manusia itu sendiri. Hal itu dapat terwujud dengan kerja keras dan etos kerja yang tinggi dari setiap mukmin untuk menggali potensi, baik potensi diri maupun alam tersebut dan untuk memakmurkannya. Oleh karena itu, Islam menyeru kepada umatnya supaya bekerja keras dan melarang (membenci) kepadanya yang senantiasa bermalas-malasan dan berpangku tangan. (Muslim, 1995: 1224)
Pendidikan selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia. Keberhasilan pendidikan sangat tergantung pada unsur manusianya. Paling menentukan keberhasilan pendidikan adalah pelaksanaannya yaitu para pendidik khususnya widyaiswara. Widyaiswara merupakan ujung tombak pendidikan khususnya pada pendidikan dan pelatihan (training). Sebagai pendidik dan fasilitator, seorang widyaiswara secara langsung berupaya mempengaruhi, membina dan mengembangkan kemampuan peserta diklat agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan bermoral tinggi.
Widyaiswara merupakan tenaga fasilitator yang menjadi salah satu komponen diklat yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan kediklatan. Sebagai seorang pendidik dan fasilitator, seorang widyaiswara harus memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan sebuah diklat. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menjaga kualitas penyelenggaraan kegiatan diklat dan tentunya kualitas widyaiswara itu sendiri adalah dengan dikeluarkannya Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Widyaiswara yang terdiri atas kompetensi pengelolaan pembelajaran, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi substantif.
Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan yang harus dimiliki Widyaiswara mengenai tingkah laku dalam melaksanakan tugas jabatannya yang dapat diamati dan dijadikan teladan bagi peserta Diklat. Sementara itu, kompetensi sosial adalah kemampuan yang harus dimiliki widyaiswara dalam melakukan hubungan dengan lingkungan kerjanya. Sedangkan kompetensi substantif adalah kemampuan yang harus dimiliki widyaiswara di bidang keilmuan dan keterampilan dalam mata diklat yang diajarkan. Adapun kompetensi pengelolaan pembelajaran adalah kemampuan yang harus dimiliki widyaiswara dalam merencanakan, menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran yang terdiri dari:
1. Membuat Garis-garis Besar Program Pembelajaran (GBPP)/ Rancang Bangun Pembelajaran Mata Diklat (RBPMD) dan Satuan Acara Pembelajaran (SAP)/ Rencana Pembelajaran (RP).
2.  Menyusun bahan ajar
3.  Menerapkan pembelajaran orang dewasa
4.  Melakukan komunikasi yang efektif dengan peserta
5.  Memotivasi semangat belajar peserta
6.  Mengevaluasi pembelajaran
Muchtar Buchari mengatakan bahwa upaya-upaya untuk meningkatkan mutu akademik suatu lembaga ilmiah akan selalu terjalin dengan usaha-usaha untuk meningkatkan semangat profesionalisme, sedangkan upaya untuk meningkatkan semangat profesionalisme sangat dipengaruhi upaya peningkatan etos kerja. (Bukhari, 2004: 73)
Prestasi belajar merupakan sasaran dan tujuan yang selalu diharapkan baik peserta diklat maupun widyaiswara. Sebab tolak ukur keberhasilan widyaiswara bukan penyelesaian dari suatu materi akan tetapi kemampuan untuk memahami materi tersebut, di samping hasil akhir dari proses belajar yaitu hasil belajar dengan baik maka suatu pertanda keberhasilan widyaiswara dalam menjalankan tugasnya. Bila hal tersebut dapat disadari semua widyaiswara, maka pencapaian prestasi belajar dapat diperoleh dengan maksimal. Sebab profesionalisme widyaiswara yang didasari oleh etos kerja merupakan salah satu jalan untuk dapat mengembangkan kemampuan peserta diklat untuk dapat berubah dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.
         Pada BDK Makassar, etos kerja widyaiswara dalam pengelolaan proses pembelajaran perlu ditingkatkan. Hal ini diindikasikan karena masih adanya widyaiswara yang tidak mempersiapkan administrasi pembelajaran seperti RPMBD, RPMD, dan bahan ajar serta evaluasi yang terencana. Rendahnya etos kerja widyaiswara dalam pengelolaan proses pembelajaran ini menyebabkan prestasi belajar peserta diklat juga tergolong rendah, hal ini dapat dilihat melalui prestasi peserta diklat pada setiap diklatnya.
         Peneliti menganggap bahwa etos kerja widyaiswara sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pendidik, sebab tanpa etos kerja yang tinggi, mustahil tujuan pendidikan yang telah dikemukakan sebelumnya akan tercapai. Karena itu, dalam kaitannya dengan masalah prestasi belajar peserta diklat maka diperlukan adanya etos kerja widyaiswara agar dapat tercapai output pendidikan yang maksimal. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti meneliti bagaimana etos kerja widyaiswara dan pengaruhnya terhadap prestasi peserta diklat di BDK Makassar.

B. Rumusan Masalah
            Permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1.  Bagaimana etos kerja widyaiswara BDK Makassar ?
2.  Bagaimana prestasi belajar peserta diklat di BDK Makassar ?
3.  Apakah ada pengaruh etos kerja widyaiswara terhadap prestasi belajar peserta diklat di BDK Makassar ?

C. Hipotesis
Sebagai jawaban sementara untuk mengarahkan kepada tujuan pembahasan, maka peneliti mengemukakan hipotesis sebagai berikut:
H1        : Terdapat pengaruh etos kerja widyaiswara terhadap prestasi belajar peserta diklat di BDK Makassar
H0        : Tidak terdapat pengaruh etos kerja widyaiswara terhadap prestasi belajar peserta diklat di BDK Makassar

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
     1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya, maka ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini antara lain, sebagai berikut:
a.  Untuk mengetahui etos kerja widyaiswara di BDK Makassar
b.  Untuk mendapatkan gambaran tentang prestasi belajar peserta diklat di BDK Makassar.
c. Untuk mengkaji tentang pengaruh etos kerja widyaiswara terhadap prestasi belajar peserta diklat di BDK Makassar.
     2. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan ilmiah
 Sebagai sebuah karya ilmiah tulisan ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan dan pelatihan khususnya mengenai etos kerja widyaiswara BDK Makassar dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar peserta diklat di BDK Makassar. Referensi ini diharapkan dapat menjadi sumber bacaan bagi para pelaku pendidikan, stakeholder, dan pemerhati pendidikan, baik dari masyarakat maupun pemerintah tentang pentingnya upaya meningkatkan etos kerja widyaiswara dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di diklat.
b. Kegunaan Praktis
Secara praktis, tulisan ini diharapkan dapat memberi manfaat dan kontribusi dalam pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan khususnya di BDK Makassar pada aspek peningkatan etos kerja widyaiswara dalam meningkatkan prestasi belajar peserta diklat pada kegiatan diklat.

II. PEMBAHASAN
A. Tinjauan Teoritis
     1. Pengertian Etos Kerja
            “etos” berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang maknanya “watak atau karakter”. “Etos kerja dapat diartikan sebagai sikap dan semangat yang ada pada individu atau kelompok. Etos kerja menyangkut masalah mentalitas orang, kelompok atau bangsa. (Hasan 2005: 236) Dari kata etos ini, dikenal pula kata etika, etiket yang hampir mendekati pada pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk (moral) sehingga dalam etos tersebut terkandung gairah atau semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal, lebih baik dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin. (Tasmara, 2002: 15) Berarti sifat karakter seorang widyaiswara yang mencakup pandangan, sikap dan penilaian widyaiswara tersebut terhadap makna kerja.
          Istilah “kerja” dalam Kamus Bahasa Indonesia diartikan sebagai kegiatan melakukan sesuatu. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 428) Sedangkan menurut M. Quraish Shihab (2002: 222), kerja adalah sebuah aktivitas yang menggunakan daya yang dianugerahkan Allah swt., Menurutnya; manusia secara garis besar dianugerahi empat daya pokok. Pertama, daya fisik yang menghasilkan kegiatan fisik dan keterampilan. Kedua, daya fikir yang mendorong pemiliknya berfikir dan menghasilkan ilmu pengetahuan. Ketiga, daya kalbu yang menjadikan manusia mampu berkhayal, mengekspresikan keindahan, beriman dan merasa serta berhubungan dengan Allah sang pencipta. Keempat, daya hidup yang menghasilkan semangat juang, kemampuan menghadapi tantangan dan menanggulangi kesulitan. Penggunaan salah satu daya tersebut itulah disebut kerja.
          Berdasarkan uraian tersebut, masalah etos kerja dapat diartikan sebagai cara kerja, sifat atau kebiasaan terhadap kerja, pandangan terhadap kerja yang dimiliki oleh seseorang, suatu kelompok atau suatu bangsa.
    2. Aspek-Aspek Etos Kerja
a. Semangat Kerja
Etos kerja yang diilhami atau didasari pada kekuatan iman, akan tampak dari sikap yang konsisten dan secara terus menerus berjuang tak mengenal lelah untuk mewujudkan segala impiannya menjadi kenyataan. Impian akan terwujud jika disertai dengan kerja keras dan diselimuti rasa cinta terhadap sesama manusia dan dilandasi oleh keyakinan yang tangguh. Ciri yang paling esensial dalam etos kerja seseorang senangtiasa mengupayakan, memupuk dan mengembangkan kekuatan dalam segala aspek, etos kerja yang berorientasi pada usaha yang konsisten mandiri dan selalu mencari jalan agar tujuannya bisa tercapai, tanpa harus mengorbankan keyakinannya merupakan etos kerja pribadi. (Tasmara, 1995: 25)
Etos kerja yang dimaksud adalah etos kerja yang dilandasi oleh visi dan kemudian menjadi satu sikap hidup manusia yang akan tampil sebagai manusia-manusia teladan dalam kehidupan yang diperlukan kerja, kerja diperlukan semangat yang tak pernah mengenal menyerah, pantang patah dan kalah sebelum bertanding, semangat kerja adalah kemauan, gairah untuk bekerja. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 805) Semangat kerja merupakan variabel yang mengembangkan adanya perasaan-perasaan positif atau negatif terhadap seseorang atau terhadap situasi tertentu.
b. Motivasi (dorongan) Kerja
Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan sesuatu tindakan dengan tujuan tertentu. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 593). Wahyudi (2003: 37) mengemukakan bahwa motivasi adalah proses pembentukan motif atau dorongan, baik yang timbul dari diri seseorang maupun berasal dari luar. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja (dorongan kerja) adalah suatu perubahan energi pada seseorang baik yang bersumber dari dalam atau alamiah maupun dari luar yang mampu mengarahkan, menopang, menggerakkan tingkah laku manusia dalam usaha mencapai tujuan tertentu.
c. Kesadaran Kerja
Kesadaran adalah keinsafan; keadaan mengerti, akan harga diri dan hal yang dirasakan atau dialami seseorang dan kerja adalah kegiatan melakukan sesuatu, kesadaran kerja adalah keinsafan seseorang melakukan sesuatu kegiatan untuk mempertahankan harga diri. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 765)
Etos kerja sangat menyadari bahwa perwujudan pribadi, harga diri dan wibawa sangat terletak pada kualitas sumber daya manusia. Dengan penuh kesadaran, ia menjadikan dirinya penuh arti. Sebagai gambaran atau refleksi dari rencananya akan tampaklah kesungguhannya dalam bekerja dan selalu berontak terhadap kebatilan karena dirinya ingin tampil sebagai bagian dari suatu pekerjaan
d. Moral Kerja
Moral adalah kondisi mental yang membuat orang berani, bersemangat, bergairah berdisiplin. Selanjutnya moral adalah baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 592). Ciri-ciri yang mempunyai dan menghayati etos kerja akan tampak dalam sikap dan tingkah laku yang dilandaskan pada suatu keyakinan yang amat mendalam bahwa bekerja itu merupakan bentuk ibadah, suatu perintah dan panggilan Allah yang akan memuliakan dirinya, memanusiakan dirinya, sebagai bagian dari manusia pilihan.
e. Waktu Kerja
Waktu merupakan 1) Seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung 2) Saat yang tertentu melakukan sesuatu ; waktu kerja adalah kemampuan melakukan sesuatu dalam rangkaian saat tertentu. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 1006). Dalam menjalankan tugas seorang selalu bergerak dengan taktis dan waspada karena mereka sadar bahwa hidup adalah menanggung resiko, salah satu menjadi tolak ukur dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab adalah waktu, karena pribadi seseorang yang memiliki tipikal sangat sadar akan waktu.
f. Keinginan Kerja
Manusia adalah makhluk yang paling mulia di muka bumi ini, status demikian hanya terlihat dalam nalarnya, kemampuan kognitifnya, serta berbagai ciri mental dalam intelektual lainnya yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya, tetapi yang lebih penting manusia mempunyai harkat dan martabat yang diharapkan diakui dan dihargai oleh orang lain salah satu perbedaan yang paling esensial antara manusia dengan binatang adalah tidak adanya cita-cita atau idealisme cita-cita melahirkan suatu keinginan dan kemudian diwujudkan dalam bentuk kerja nyata.
g. Kewajiban Kerja
Kewajiban kerja adalah tugas yang harus dilaksanakan dengan seksama. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI., 1998: 1283). Widyaiswara memiliki tugas dan tanggungjawab yang cukup berat karena harus memiliki kompetensi pengelolaan pembelajaran, kepribadian, sosial dan substantif yang menjadi kewajibannya untuk menyelesaikannya. Tugas dan tanggung jawab ini akan dapat terselesaikan apabila ditunjang oleh etos kerja yang tinggi.
h. Kerajinan Kerja
Kompleksitas manusia sebagai makhluk sering menampakkan dari pada kebutuhannya yang multifaset artinya tidak hanya terbatas pada kebutuhan yang bersifat materi, akan tetapi juga bersifat sosial, peningkatan harga diri, psikologis mental, intelektual, dan bahkan juga spiritual. Sekelompok suku atau bangsa adalah pemalas sedangkan yang lain adalah rajin, pada dasarnya adalah mitos. Sebagaimana yang diutarakan bahwa etos kerja bukan suatu fenomena kebudayaan, melainkan suatu sosiologi yang eksistensinya terbentuk oleh produksi yang timbul sebagai akibat dari struktur ekonomi yang ada dalam masyarakat. (Salamun, 1995: 51)  
  3. Tinjauan Umum tentang Prestasi Belajar Peserta Diklat
Istilah prestasi berasal bahasa Belanda, yaitu “pretitie” yang berarti sesuatu yang telah diciptakan atau hasil pekerjaan. Dalam ekonomi perhitungan yang dimaksudkan dengan prestasi adalah produk yang telah dicapai seseorang atau daya kerja seseorang dalam jangka waktu tertentu. (Slameto, 2000: 88) Dengan demikian, prestasi pada prinsipnya identik atau memiliki pengertian yang sama dengan kata hasil, maka prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar. Jadi prestasi belajar adalah perubahan baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik yang dialami seorang peserta diklat setelah mengalami proses belajar.
Ada beberapa ahli memberikan batasan tentang prestasi. Halbeyb (1991: 113) mengemukakan bahwa prestasi adalah hasil yang menyebabkan hati yang telah diperoleh dengan keuletan kerja. Jadi pada dasarnya prestasi itu merupakan hasil yang telah diperbuat. Negoro (2002: 120) mengungkapkan bahwa prestasi adalah segala pekerjaan yang berhasil karena adanya kemampuan, usaha dan kesempatan sehingga prestasi itu menunjukkan kecakapan manusia suatu bangsa.
Hamalik (2002: 23) berpendapat bahwa belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as modification or strengthening of behavior through experiencing), menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan pengubahan kelakuan.
Dengan demikian, prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil usaha belajar yang dicapai oleh seseorang, dalam hal ini peserta didik dalam keseluruhan aktifitas belajarnya. Sepanjang sejarah manusia selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuannya masing-masing. Jika prestasi dikaitkan dengan belajar, maka dapat diartikan sebagai hasil belajar dicapai peserta didik dalam bidang studi tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai alat pengukur keberhasilan belajar seseorang peserta didik. Dengan demikian, prestasi belajar dalam proses pendidikan adalah terjadinya perubahan atau peningkatan dalam belajar peserta didik setelah mengikuti pengajaran yang dilakukan di sebuah lembaga pendidikan. Perubahan dan peningkatan belajar peserta didik diketahui setelah dilakukan tes menurut standar yang diakui, seperti halnya ujian semester.
Prestasi sebagai suatu hasil yang dapat dicapai oleh peserta didik atau peserta diklat dalam proses pembelajaran merupakan aspek yang sangat penting dalam sistem pendidikan. Oleh karena itu, prestasi belajar peserta didik dalam proses pembelajaran harus senantiasa diperhatikan dan ditingkatkan. Hal ini penting karena prestasi belajar peserta didik merupakan slah satu ukuran terhadap terwujudnya tujuan pendidikan, yaitu terjadinya perubahan sikap, tingkah laku, pengetahuan dan keterampilan.

B. Metode Penelitian
   1. Populasi dan Sampel
Dalam penelitian ini, populasinya adalah seluruh peserta diklat pada 2 angkatan Diklat Teknis Substantif Peningkatan Kompetensi Penelitian Tindakan Kelas di BDK Makassar yang berjumlah 60 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh jumlah populasi atau total sampling.
   2. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi, interview, dokumentasi dan angket
   3. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah kuesioner, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan catatan dokumentasi.
   4. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Penelitian ini dianalisis dengan analisis deskriptif dengan perhitungan statistik inferensial dengan menggunakan rumus korelasi product moment.

C. Hasil Penelitian dan Pembahasan
     1. Hasil Penelitian 
         a. Etos Kerja Widyaiswara
Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan peneliti tentang etos kerja widyaiswara di BDK Makassar, maka peneliti menggunakan instrumen yang telah dibuat sesuai dengan teori tentang etos kerja widyaiswara. Peneliti memberikan angket kepada 60 orang peserta diklat (responden) yang terdiri dari 25 item. Dari hasil angket tersebut diperoleh hasil yang telah ditabulasikan.
Setelah jumlah skor dibagi oleh jumlah responden (3715 : 60) maka hasil yang diperoleh adalah 61,92. Dengan demikian, jumlah skor rata-rata tingkat etos kerja widyaiswara adalah cukup baik atau sedang. Hasil angket tersebut menunjukkan bahwa jumlah skor jawaban peserta diklat dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Tabel 1
Klasifikasi Jumlah Skor Jawaban Peserta diklat dari Angket Etos Kerja Widyaiswara
No
Keterangan Jumlah Skor
Jawaban
Klasifikasi
Jumlah Peserta diklat
1
25 – 50
Rendah
-
2
51 – 75
Sedang
57
3
76 – 100
Tinggi
3
Dari tabel klasifikasi jumlah skor di atas dapat diketahui bahwa tingkat etos kerja widyaiswara pada di BDK Makassar menurut pendapat peserta diklat dianggap sedang, yakni antara 51-75, sebanyak 57 peserta diklat.
     b. Prestasi Belajar Peserta Diklat
Prestasi belajar peserta diklat diambil dari daftar nilai peserta diklat pada hasil posttest yang dilaksanakan di akhir kegiatan diklat. Jumlah nilai rata-rata keseluruhan hasil posttest peserta diklat pada Diklat Teknis Substantif Peningkatan Kompetensi Penelitian Tindakan Kelas di BDK Makassar adalah 4631. Setelah jumlah nilai 4631 dibagi dengan jumlah responden yang berjumlah 60 orang, maka nilai rata-rata posttest peserta diklat adalah 77,18. Dengan demikian, nilai rata-rata prestasi belajar peserta diklat pada diklat ini berada pada kategori Cukup Baik. Dari hasil nilai posttest kemudian diklasifikasikan dalam tabulasi sebagai berikut:
Tabel 2
Klasifikasi dan Kualifikasi Jumlah Nilai Peserta diklat pada Mata Pelajaran PAI
No
Keterangan Jumlah Skor
Jawaban
Klasifikasi
Jumlah Peserta diklat
1
80 – 91
Tinggi
19
2
70 – 79
Sedang
31
3
60 – 69
Rendah
10
Jadi, tingkat prestasi belajar peserta diklat pada Diklat Teknis Substantif Peningkatan Kompetensi Penelitian Tindakan Kelas di BDK Makassar termasuk dalam kategori Sedang, yakni antara klasifikasi 70-79 sebanyak 31 peserta diklat.
      c. Pengaruh Etos Kerja Widyaiswara terhadap Prestasi Belajar Peserta Diklat
Untuk menguji data antara skor angket etos kerja widyaiswara dengan prestasi belajar peserta diklat, terlebih dahulu dikorelasikan kedua variabel tersebut. Nilai-nilai pada tabulasi selanjutnya dimasukkan ke dalam rumus korelasi product moment dengan menggunakan Aplikasi Microsoft Excel 2013 menunjukkan nilai 0,991. Untuk mengetahui adanya hubungan yang tinggi, sedang atau rendah antara kedua variabel berdasarkan nilai r (koefisien korelasi) digunakan penafsiran atau interpretasi angka sebagai berikut :
Tabel 3
Interpretasi Koefisien Korelasi Product Moment
Interval Koefisien
Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199
Sangat Rendah
0,20 – 0,399
Rendah
0,30 – 0,599
Sedang
0,60 – 0,799
Kuat
0,80 – 1,000
Sangat Kuat
Dari perhitungan di atas ternyata angka korelasi antara Variabel X dan Variabel Y sebesar 0,991 itu berarti korelasi tersebut bertanda positif. Untuk melihat interpretasi terhadap angka indeks korelasi product moment secara kasar atau sederhana terletak pada angka 0,80 – 1,000 yang berarti korelasi antara Variabel X dan Variabel Y itu adalah terdapat korelasi yang Sangat Kuat.
Selanjutnya untuk mengetahui apakah hubungan Variabel X dan Variabel Y itu signifikan atau tidak, maka r hasil perhitungan dibandingkan dengan r tabel. Sebelum membandingkannya, maka terlebih dahulu dicari df (degree of freedom) atau db nya dengan rumus df = N – nr. Berdasarkan tabel di atas, peserta diklat yang diteliti atau yang menjadi sampel di sini adalah 60 orang. Dengan demikian N = 60. Variabel yang dicari korelasinya adalah Variabel X dan Variabel Y jadi nr = 2. Maka dengan mengacu kepada rumus di atas dapat diperoleh df-nya yaitu: df = 60 - 2 = 58. Dengan df sebesar 58, dikonsultasikan dengan tabel nilai r baik pada taraf signifikansi 5% maupun pada taraf signifikansi 1%.
Dengan melihat .rt. diperoleh hasil sebagai berikut:
Pada taraf signifikansi 5% = 0,254
Pada taraf signifikansi 1% = 0,330
Ternyata rxy atau ro yaitu 0,991 nilainya lebih besar dari r tabel, baik pada taraf signifikansi 5% maupun 1% Dengan demikian hipotesa nol (Ho) ditolak, sedangkan hipotesa alternatif (Ha) diterima. Ini berarti bahwa “Terdapat pengaruh/korelasi yang positif dan signifikan antara etos kerja widyaiswara dengan prestasi belajar peserta diklat di BDK Makassar.”
    2. Pembahasan
Etos kerja widyaiswara yang tinggi pada hakikatnya merupakan syarat mutlak seorang widyaiswara dalam memberikan pembelajaran pada mata diklat yang diampuhnya, di mana peserta diklat akan menjadikannya sebagai stimulan untuk senantiasa terobsesi untuk berbuat dan berprestasi yang terbaik. Oleh karena itu, widyaiswara harus selalu meningkatkan etos kerjanya melalui belajar serta mengambil pelajaran dari pengalaman mengajarnya, sebab semakin banyak yang diketahui semakin banyak pula yang dapat diberikan kepada peserta diklat.
Jika dalam proses pembelajaran tidak membawa perubahan terhadap peserta diklat, maka seseorang widyaiswara tidak dapat dikategorikan sebagai orang yang memberikan pendidikan dan pelatihan yang baik. Karena pendidikan dan pelatihan (training) tidak hanya menuntut keaktifan dari segi fisik tetapi juga dari segi kejiwaan, yakni pikiran, mental dan sikap yang merasakan adanya perubahan terhadap proses pembelajaran yang diberikan.
Widyaiswara yang memiliki etos kerja yang tinggi tentunya akan mempunyai kemauan yang kuat untuk mendidik, melatih, membimbing, dan mengarahkan peserta diklat dibanding dengan widyaiswara yang memiliki etos kerja yang rendah. Hal ini tentunya akan mendapatkan respon positif dari peserta diklatnya sehingga pada akhirnya akan berimplikasi pada prestasi belajar peserta diklat pada kegiatan pendidikan dan pelatihan yang diikutinya.

III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari temuan dan analisis yang telah dipaparkan, dapat dikemukakan beberapa poin penting sebagai kesimpulan, yaitu:
1.   Etos kerja widyaiswara pada Diklat Teknis Substantif Peningkatan Kompetensi Penelitian Tindakan Kelas di BDK Makassar menunjukkan bahwa 95 persen responden menyatakan etos kerja widyaiswara berada pada kategori Sedang, dan hanya 5 persen yang menyatakan etos kerja widyaiswara berada pada kategori Tinggi. Dari respon responden tersebut dapat disimpulkan bahwa etos kerja widyaiswara BDK Makassar berada pada klasifikasi Sedang.
2.   Nilai rata-rata peserta diklat di BDK Makassar adalah 77,18 yang berada pada kategori Cukup Baik. Sementara itu, dalam klasifikasnya, tingkat prestasi belajar peserta diklat berada pada klasifikasi Sedang.
3.   Hasil perhitungan menunjukkan bahwa rxy atau ro yaitu 0,991 nilainya lebih besar dari r tabel, baik pada taraf signifikansi 5% maupun 1% Dengan demikian hipotesa nol (Ho) ditolak, sedangkan hipotesa alternatif (Ha) diterima. Ini berarti bahwa “Terdapat pengaruh/korelasi yang positif dan signifikan antara etos kerja widyaiswara dengan prestasi belajar peserta diklat di BDK Makassar”.

B. Implikasi Penelitian
Sebagai bagian akhir dari penelitian ini dikemukakan beberapa saran konstruktif sebagai implikasi penelitian terhadap pihak-pihak yang berwenang, yaitu:
1.  Etos kerja merupakan modal awal bagi widyaiswara dalam menjalankan profesinya sebagai widyaiswara yang profesional. Profesionalisme widyaiswara merupakan sebuah kemutlakan dalam proses pembelajaran dalam pencapaian tujuan kediklatan. Untuk itu, diharapkan setiap widyaiswara memiliki etos kerja yang tinggi dalam upaya mencapai kualitas pembelajaran yang optimal.
2.  Kepada kepala balai diklat semestinya perlu meningkatkan wawasannya tentang pengetahuan kepemimpinan yang dapat memperkaya wawasan dan pola berpikirnya sebagai pemimpin dalam menjalankan fungsi manajerial secara efektif dan efisien. Kepala balai diklat juga hendaknya lebih meningkatkan kualitas kepemimpinannya dan lebih memperhatikan etos kerja widyaiswara. Budaya kerja yang konstruktif dan kepemimpinan yang mengayomi sangat diperlukan sebagai bentuk perhatian pimpinan kepada widyaiswara. Ini merupakan bentuk dukungan dan perhatian pimpinan dalam menciptakan etos kerja widyaiswara yang tinggi.

 
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Ambo Enre. 1985. Prinsip-Prinsip Layanan dan Bimbingan Belajar. Cet. I; Ujung Pandang: FIP IKIP.
Ahmadi, Abu dan Widodo Suriyono, 1991. Psikologi Belajar. Cet. I; Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta.
---------------. 2003. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Azra, Azyumardi. 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan Demokratisasi. Cet. I; Jakarta: PT. Buku Kompas.
B., Halbeyb. 1991. Kamus Populer. Jakarta: Centra.
Boggs, W Brady. 2004. TQM and Organizational Culture : A Case Study, dalam The Quality Management Journal. Volume 11, No. 2.
Bukhari, Muchtar. 2004. Spektrum Problematika Pendidikan di Indonesia. Cet. I; Yogyakarta: Tiara Wacana.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. IX; Jakarta: Balai Pustaka.
Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Cet. I; Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hadi, Sutrisno. 1986. Statistik 2. Yogyakarta: YPEP UGM.
Hasan, Muhammad Thalhah. 2005. Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia. Cet. IV; Jakarta: Lantabaro Press.
Nawawi, Hadari. 2001. Kepemimpinan yang Efektif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Widyaiswara
Shihab, M. Quraish. Secercah Cahaya Ilahi. Cet. III; Bandung: Mizan, 2002 .
Sidi, Indra Djati. 2004. Menuju Masyarakat Belajar; Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Cet. I; Jakarta: Paramadina.
Slameto. 2000. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
SP., Malayu Hasibuan. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia. Cet. VII; Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Sudijono, Anas. 1995. Pengantar Statistik Pendidikan,. Cet. VI; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sudjana, Nana. 1996. Cara Belajar Peserta diklat Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Cet. III; Jakarta.
Sugiyono. 2005. Statistik untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.
Tasmara, Toto. 1995. Etos Kerja Pribadi Islam. Jakarta: PT. Dana Wakaf.
---------------. 2002. Membudayakan Etos Kerja Islami. Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press.
Tjiptono, Findy dan Anantasia Dian. 2002. Total Quality Management. Yogyakarta: Andi Offset.
Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Wahyudi. 2003. Teknologi Informasi dan Produksi Citra Bergerak. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.












Post a Comment