Sunday, August 13, 2017

KONSEP HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk paedagogis yang membawa potensi yang dapat dididik dan dapat mendidik. Dengan potensi ini, manusia mampu menjadi khalifah di bumi, pendukung dan pengembang kebudayaan sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk yang mulia. (QS. Al-Isra/17: 70) Untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi tersebut, pendidikan merupakan sarana yang menentukan sampai ke titik optimal kemampuan-kemampuan dapat dicapai. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, anak dan segenap kemampuan dan bakatnya dapat berkembang secara interaktif dan dialektis antara kemampuan dasarnya dan pengaruh pendidikan. (Arifin, 1993: 1)
          Secara kodrati, anak membutuhkan bimbingan dari orang dewasa - sebagai pendidik - untuk mengarahkannya menjadi seorang yang mampu mengenal dirinya dan Tuhannya melalui suatu proses yang bertahap. Bimbingan atau yang secara lebih luas dikenal dengan pendidikan merupakan salah satu usaha yang dilakukan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. (Marimba, 1989: 19) Tetapi, kehidupan manusia mempunyai banyak kecenderungan. Manusia terkadang cenderung untuk melakukan hal yang positif dan mematuhi aturan-aturan yang telah ada atau sebaliknya melakukan penyimpangan-penyimpangan terhadap aturan-aturan tersebut.
Pendidikan Islam, sebagai salah satu bentuk pendidikan yang berpijak pada fitrah manusia mengakui adanya kecenderungan manusia tersebut. Pendidikan Islam telah mengungkapkan berbagai macam metode agar potensi yang baik dapat dikembangkan dan menjauhkan kecenderungan manusia dari penyimpangan-penyimpangan. Salah satu metode yang dicontohkan pendidikan Islam adalah pemberian hukuman atau sanksi bagi anak didik.

B. Rumusan Masalah
Dari paparan latar belakang di atas, permasalahan yang akan dikaji terfokus pada:
1.      Apa yang dimaksud dengan hukuman?
2.      Bagaimana jenis dan fungsi hukuman dalam pendidikan Islam?
3.      Bagaimana penerapan hukuman dalam pendidikan Islam.

II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Hukuman
Pendidikan merupakan suatu proses kegiatan atau aktivitas yang berorientasi kepada tujuan, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dan diharapkan dicapai oleh pendidik dan anak didik. Dalam upaya pencapaian tujuan tersebut, pendidikan tidak bisa dilepaskan dari faktor pendidik, tujuan pendidikan, alat pendidikan, lingkungan pendidikan dan anak didik.
Alat pendidikan sebagai salah satu komponen dalam mencapai tujuan pendidikan menempati posisi yang sangat urgen. Sutari Imam Barnadib dalam Jalaluddin (1994: 56-57) menyatakan bahwa alat pendidikan merupakan suatu tindakan antar situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan di dalam pendidikan. Lebih lanjut dikatakan bahwa alat pendidikan bukan suatu resep yang sewaktu-sewaktu dapat digunakan secara tepat guna dan mantap. Alat pendidikan merupakan sesuatu yang harus dipilih, sesuai dengan tujuan pendidikan.
Hukuman merupakan salah satu alat pendidikan yang sifatnya kongkrit merupakan suatu hal yang sudah sangat populer di kalangan masyarakat. Namun dalam hal ini perlu diberi definisi dan batasan mengenai hukuman yang dimaksudkan dalam dunia pendidikan. Alisuf Sabri (1991: 86) menyatakan bahwa hukuman adalah tindakan pendidikan yang sengaja dan secara sadar di berikan kepada anak didik yang melakukan suatu kesalahan, agar anak didik tersebut menyadari kesalahannya dan berjanji dalam hatinya untuk tidak mengulanginya.
Meskipun eksistensi hukuman terdapat dalam pendidikan Islam, namun dalam hal ini harus ada tahap-tahap yang harus dilalui dan diperhatikan bagi seorang pendidik sebelum hukuman itu diterapkan. Tahapan yang dimaksud adalah pemberian nasehat, bimbingan, larangan, teguran, peringatan dan ancaman. (Hasbullah, 1999: 29-30) Dalam arti bahwa hukuman bukanlah suatu hal yang pertama dibayangkan oleh seorang pendidik. Pemberian Hukuman sebagai alternatif terakhir merupakan cara sederhana untuk mencegah berbagai pelanggaran terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan. Hal ini dapat dilihat dalam hadis Nabi saw.: “Perintahkanlah anakmu melakukan shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun.” (Abu Daud, 179)
Berdasarkan hadis ini, pendidik boleh saja memberikan hukuman sebagai salah satu alat pendidikan dan sifatnya edukatif. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk mencegah terulangnya pelanggaran, tetapi bisa menghasilkan kedisiplinan. Bahkan pada taraf yang lebih tinggi akan menginsyafkan anak untuk tidak membuat kesalahan dan melanggar aturan. Dengan demikian berbuat atau tidak berbuat bukan karena takut pada hukuman, akan tetapi karena keinsyafannya sendiri. (Marimba, 1989: 19) Hal ini menunjukkan sebagai suatu kesadaran bertingkah laku sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama yang berlaku, atau pemberian hukuman memberi sumbangan bagi perkembangan moral anak didik.
Hukuman merupakan suatu tindakan yang digunakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Atau hukuman sebagai alat pendidikan dapat membangkitkan kesadaran dan pengakuan akan kebenaran, bahwa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan aturan yang telah ditetapkan adalah sesuatu yang tidak baik. 

B. Jenis dan Fungsi Hukuman dalam Pendidikan Islam
Pada umumnya, hukuman dalam pendidikan terbagi atas dua jenis yaitu hukuman badan/fisik dan hukuman mental/psikis. Hukuman badan/fisik adalah pemberian hukuman yang mengenai tubuh atau jasmani anak didik, seperti dipukul, dicubit, berdiri bahkan disuruh jongkok di bawah meja dan sebagainya. Sedangkan hukuman mental/psikis adalah pemberian hukuman yang menyentuh perasaan anak didik, seperti dimarahi, ditegur dengan kata kasar, diejek, dimaki, dipermalukan di depan teman-temannya dan sebagainya yang berhubungan dengan perasaan.
Meskipun menyebabkan penderitaan bagi siterhukum (anak didik), namun hukuman itu hendaknya dapat juga menjadi alat motivasi, alat pendorong untuk mempergiat aktivitas belajar maupun perbaikan terhadap sikap dan perilaku anak didik.
Sementara itu, Suwarno (1997: 177) mengemukakan pula bentuk hukuman dalam pendidikan sebagai berikut : 1) Hukuman assosiatif, di mana penderitaan yang ditimbulkan akibat hukuman ada assosiasinya dengan kesalahan anak, 2) Hukuman logis, di mana anak dihukum hingga mengalami penderitaan yang ada hubungan logis dengan kesalahannya, dan 3) Hukuman moril, di mana anak didik bukan hanya sekedar menyadari hubungan logis antara kesalahan dan hukumannya, tetapi tergugah perasaan kesusilaannya atau terbangun kata hatinya, ia merasa harus menerima hukuman sebagai sesuatu yang harus dialaminya.
Ketiga bentuk hukuman tersebut, diharapkan menjadi alat pengontrol tingkah laku anak serta menanamkan pengertian tentang nilai moral pada anak. Bila seorang anak mengetahui bahwa ia pernah dihukum atas suatu perbuatan, setidaknya ia akan berpikir untuk melakukan perbuatan yang sama.
Dalam dunia pendidikan, hukuman merupakan hal yang wajar, bilamana derita yang ditimbulkan oleh hukuman mempunyai nilai positif dan menjadi sumbangan bagi perkembangan moral anak didik. Hukuman sebagai alat pendidikan sesungguhnya tidak mutlak digunakan. Dalam hal ini, al-Gazali berpendapat bahwa hendaknya orang tua atau pendidik tidak cepat menjatuhkan hukuman terhadap anak didik yang membuat kesalahan dan melanggar peraturan. Beliau mengatakan bahwa hukuman adalah jalan yang paling akhir apabila cara lain belum bisa mencegah anak melakukan pelanggaran. Demikian halnya Ibnu Khaldun berpandangan bahwa hendaknya diluruskan perbuatan si anak dengan “approach” dan lemah lembut. Kalau hal tersebut tidak mampu, maka digunakan kekerasan. (Al-Abrasyi, 1993: 156)
Berdasarkan pendapat di atas, maka pada prinsipnya pemberian hukuman kepada anak-anak yang melanggar aturan bisa saja dilakukan. Hal ini didasarkan bahwa hukuman bersumber dari Allah swt. sebagai balasan bagi perbuatan. Alisuf Sabri dalam hal ini menyatakan bahwa hukuman digunakan untuk : 1) Memperbaiki kesalahan/perbuatan anak didik, 2) Mengganti kerugian akibat perbuatan anak didik, 3) Melindungi masyarakat atau orang lain agar tidak meniru perbuatan yang salah, 4) Menjadikan anak didik takut mengulangi perbuatan yang salah. (Suwondo, 1977: 141)
Pemberian hukuman pada anak didik adalah demi kebaikan dan kepentingan dirinya dan orang lain. Tujuan dari hukuman dalam pendidikan adalah menimbulkan keinsyafan pada anak melakukan kesalahan yang tidak diperbuatnya dari menimbulkan kemauan untuk tidak mengulangi kesalahan yang tidak baik. (Nata, 1997: 104-105)

C. Penerapan Hukuman dalam Pendidikan Islam
Hukuman sebagai bagian dari alat pendidikan tidaklah mutlak digunakan. Seorang pendidik tidak bebas sedemikian rupa untuk menghukum anak didiknya. Hukuman di dalam pendidikan Islam bersifat relatif dan kondisional, yakni kesalahan atau pelanggaran yang sama belum tentu mendapat hukuman yang sama pula, karena mereka berada dalam kondisi dan situasi yang berbeda pula termasuk orang yang menjatuhkan hukuman juga berbeda.
Abdurrahman mengemukakan prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penggunaan dan pemberian hukuman terhadap anak didik, seperti :
1.      Prinsip psikologis, yakni pemberian hukuman dilihat dari segi psikologis/ psikis siswa, dalam hal ini siswa bertekad untuk tidak mengulangi kesalahannya dan dapat diterima secara sukarela bahkan tidak menyinggung harga diri.
2.      Prinsip sosiologis, memisahkan anak dari kelompok anak akan merasa terkucilkan dan tersisihkan atau merasa diacuhkan.
3.      Prinsip biologis yakni, guru tidak boleh mencederai fisik anak didik, hukuman diberikan karena terpaksa, jangan menghukum pada bagian alat vital anak didik, dan hukuman diberikan dengan penuh kesadaran.
4.      Paedagogis, yakni hukuman yang diberikan hendaklah bersifat mendidik, bukan merupakan penyiksaan atau pembalasan. (Abdurrahman, 1998: 82)
Berdasarkan prinsip tersebut sebelum pendidik memberikan atau menjatuhkan hukuman kepada anak didik yang melakukan kesalahan, hendaklah terlebih dahulu mengetahui kondisi kejiwaan anak tersebut. Jika tidak, hasil dari hukuman akan mendatangkan pengaruh negatif terhadap pribadi anak bahkan akan merugikan anak didik.
Dalam mendidik anak, memang diperlukan larangan-larangan. Kalaupun orang tua/pendidik sekali-kali bertindak keras, hal ini sama sekali tidak merugikan anak didik. Asal saja hubungan orang tua dan anak didik tetap baik serta tetap terdapat ikatan yang erat. Artinya acapkali orang tua perlu secara tegas mengatakan “tidak” sebelum sesuatu itu rusak. Karena, justru tanpa larangan, seorang anak akan kehilangan arah dan keseimbangan jiwa.
Setiap pendidik sangat menginginkan anak didiknya berperilaku yang semestinya dan berakhlak yang mulia serta bertanggungjawab. Hal ini dimaksudkan bukan karena takut akan hukuman dan ganjaran, akan tetapi karena stimuli dari dalam diri anak. Artinya anak akan memutuskan untuk berperilaku dengan cara tertentu, bukan karena tuntutan dari siapa-siapa atau pihak lain (pendidik), tetapi atas kesadaran dan keinsyafan sendiri, dengan keyakinan bahwa perilaku itu salah atau perilaku itu adalah benar.
Jadi, hukuman adalah penderitaan yang sengaja diberikan pada anak didik agar betul-betul dapat dirasakan, sehingga anak tidak mau lagi mengulangi perbuatannya yang dianggap tercela. Oleh karena itu merupakan syarat mutlak untuk meneliti apakah anak betul-betul bersalah sebelum menjatuhkan hukuman kepadanya.
Banyak para pakar mengemukakan bahwa lebih baik anak didekati dengan cara lain, seperti nasehat, peringatan daripada hukuman. Namun disadari pula, bahwa bagaimanapun buruknya hukuman sebagai alat pendidikan masih lebih baik, daripada orang tua atau pendidik membiarkan anak bersikap acuh tak acuh. Sikap acuh tak acuh merupakan sikap yang paling buruk dalam pendidikan.
Selain itu, peranan pendidik sangat penting dalam meningkatkan kedisiplinan seorang anak. Ini sangat tergantung bagaimana cara pendidik menerapkan kedisiplinan. Dengan demikian anak mentaati peraturan (tata tertib) bukan karena ada perasaan terpaksa akan tetapi hal tersebut dilakukan atas kemauan dan kehendak hatinya.
Dalam hal ini, Rasulullah pula menyontohkan cara yang dilakukan dalam mengatasi dan memperbaiki kesalahan anak sebagai berikut:
1.      Memberitahu kesalahan dirinya dengan diiringi dengan bimbingan
2.      Menyalahkan dengan lembut
3.      Menyalahkan dengan isyarat
4.      Menyalahkan dengan taubih (menjelekkan)
5.      Memperbaiki kesalahan dengan meninggalkan pergi (tidak mengajak orang yang berbuat salah.
6.      Memperbaiki kesalahan dengan memukul
7.      Menyadarkan kesalahan dengan sanksi yang keras. (Ulwan, 1992: 163-166)
Di sini dapat dilihat bagaimana sanksi itu diakui Islam, setelah upaya nasehat dan sanksi lainnya dilakukan. Dalam arti bahwa dengan adanya hukuman akan tersebarlah keamanan, keselamatan akan terwujud, makna kesejahteraan dan kedamaian. Dan yang lebih penting membuat mereka yang melakukan kesalahan akan menjadi jera dan insyaf, lalu mereka yang berniat melakukan kesalahan akan segera mengurungkan niatnya. Oleh karena itu, tepatlah ungkapan klasik mengatakan “orang yang berbahagia adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari kasus orang lain”.

III. PENUTUP
Dari deskripsi yang dikemukakan pada pembahasan sebelumnya, dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:
1.  Hukuman merupakan suatu tindakan yang digunakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan serta sebagai alat pendidikan dapat membangkitkan kesadaran dan pengakuan akan kebenaran, bahwa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan aturan yang telah ditetapkan adalah sesuatu yang tidak baik
2.   Jenis hukuman dalam pendidikan, yaitu: 1) Hukuman assosiatif, 2) Hukuman logis, dan 3) Hukuman moril. Fungsi pemberian hukuman pada anak didik adalah demi kebaikan dan kepentingan dirinya dan orang lain serta menimbulkan keinsyafan pada anak dari melakukan kesalahan.
3.   Eksistensi hukuman terdapat dalam pendidikan Islam, namun dalam hal ini harus ada tahap-tahap yang harus dilalui dan diperhatikan bagi seorang pendidik sebelum hukuman itu diterapkan. Tahapan yang dimaksud adalah pemberian nasehat, bimbingan, larangan, teguran, peringatan dan ancaman



DAFTAR PUSTAKA


Abdurrahman. Ilmu Pendidikan Suatu Pengantar Islam. Cet. I; Jakarta: al-Quswa, 1998.
al-Abrasyi, Athiyah. Dasar-Dasar Pendidikan Islam. Cet. VII; Jakarta: Bulan Bintang, 1993.
Arifin, H. M. Ilmu Pendidikan Islam. Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 1993.
Daud, Abu. Sunan Abu Daud, Juz I. Suria: Dar al-Hadis t,th.
Departemen Agama RI., Alquran al-Karim. Semarang: CV. Toha Putra, 1989.
Hasbullah. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999.
Jalaluddin et.al. Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangan Pemikirannya. Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994.
Marimba, Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan. Cet. VIII; Bandung: al-Ma’arif, 1989.
Nata, Abuddin. Filsafat Pendidikan Islam. Cet. I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
Sabri, Alisuf. Ilmu Pendidikan. Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
Suwarno. Pengantar Umum Pendidikan. Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1992.
Suwondo, Sutimah. Ilmu Pendidikan. Ujungpandang: FIP IKIP, 1977.
Ulwan, Abdullah Nasih. Pendidikan Anak Menurut Islam Kaidah-Kaidah Dasar, Judul asli Tarbiyyatul Aulad fil-Islam, diterjemahkan oleh Ahmad Masyhur Hakim. Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992.
Post a Comment