Wednesday, August 19, 2015

BAHAN AJAR: PENELITIAN TINDAKAN KEPENGAWASAN (PTKp)

NAMA DIKLAT  : DIKLAT TEKNIS FUNGSIONAL PEMBENTUKAN JABATAN CALON PENGAWAS MADRASAH DAN PENGAWAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA SEKOLAH DI BALAI DIKLAT KEAGAMAAN MAKASSAR

A.      Deskripsi Singkat
Mata pendidikan dan pelatihan (mata diklat) ini menjelaskan konsep penelitian tindakan sekolah atau kepengawasan (PTKp), pentingnya PTKp, dan penyusunan laporan PTKp.
B.     Indikator
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan konsep PTKp, pentingnya PTKp, dan penyusunan laporan PTKp.
C.     Pokok Bahasan
1.      Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kepengawasan (PTKp)
2.      Pentingnya PTKp
3.      Penyusunan Laporan PTKp

D.     Materi
1. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas.
     a. Arti Penelitian
Penelitian (riset, research) merupakan penyelidikan suatu masalah secara sistematis, kritis, ilmiah, dan lebih formal. Penelitian bertujuan untuk menemukan, mengembangkan, atau menguji kebenaran suatu pengetahuan yang memiliki kemampuan deskripsi dan/atau prediksi. Kerja penelitian umumnya terdiri dari beberapa langkah utama, yaitu :
1.      Melakukan kajian terhadap permasalahan,
2.   Melakukan kajian teoritik dari permasalahan untuk kemudian secara deduksi dirumuskan menjadi hipotesis dari masalah yang dihadapi,
3.      Mengumpulkan data empirik guna pengujian hipotesis,
4.      Mengadakan uji hipotesis, dan
5.      Menarik kesimpulan.
Apapun jenis penelitiannya, kegiatan penelitian memiliki tahapan kerja sebagai berikut: (a) mendapatkan dan merumuskan masalah, (b) mengkaji teori untuk merumuskan hipotesis atau menetapkan kriteria variabel dalam pengembangan/perancangan/pendeskripsian, mengumpulkan fakta empirik, baik dengan menggunakan berbagai instrumen, melakukan perlakuan, atau dengan membuat produk tertentu, (d) menganalisis temuan fakta atau produk dengan kriteria teoritik untuk pengambilan kesimpulan, dan (e) menyimpulkan hasil dan mempublikasi hasil penelitiannya.
Kegiatan penelitian timbul karena adanya sifat manusia yang selalu ingin tahu. Rasa ingin tahu tersebut membawa permasalahan. Penelitian dilakukan untuk memperoleh jawaban terhadap permasalahan yang membutuhkan jawaban ilmiah. Permasalahan penelitian dapat berupa pencarian teori, pengujian teori ataupun untuk menghasilkan suatu produk guna pemecahan masalah praktis yang berada pada lingkup pengetahuan ilmiah.
     b. Masalah Keilmuan
Dalam kehidupan sangat sering dijumpai masalah-masalah yang memerlukan jawaban dengan kriteria kebenaran tertentu. Hanya bila masalah tersebut membutuhkan kebenaran berkriteria keilmuan, maka masalah ini disebut masalah keilmuan. Masalah seperti itulah yang semestinya memerlukan jawaban dengan kerangka berpikir tertentu, yaitu digunakannya metode keilmuan, atau memerlukan kegiatan penelitian (ilmiah) dalam mencari jawaban dan pemecahannya.
Meskipun diketahui bahwa masalah keilmuan cukup banyak terdapat di lingkungan kita, namun sering dirasakan betapa sulitnya mengidentifikasikan, memilih dan merumuskan masalah. Kesulitan pertama adalah, dari mana kita mendapatkan masalah untuk penelitian kita?.
Terdapat berbagai sumber untuk “mendapatkan” masalah. Masalah-masalah keilmuan sangat banyak dijumpai melalui bacaan. Bacaan yang berupa laporan hasil penelitian, majalah ilmiah, jurnal, umumnya sarat dengan informasi yang mengungkapkan pula berbagai masalah keilmuan yang menarik.
Seminar, diskusi dan pertemuan ilmiah juga merupakan ladang masalah penelitian yang subur. Melalui kegiatan tersebut, acapkali terlontar berbagai masalah penelitian yang sudah jadi yang selanjutnya dapat dikembangkan sebagai masalah penelitian. Masalah penelitian dapat tergali melalui hasil pengamatan. Dari pengamatan akan timbul berbagai pertanyaan-pertanyaan yang melalui penelitian dapat dicari jawabannya.
    c. Masalah Penelitian yang Baik
Tentu saja tidak semua masalah keilmuan yang dihadapi dan telah dapat diidentifikasi, akan dijamin sebagai masalah yang layak dan sesuai untuk diteliti. Kelayakan suatu penelitian berkaitan dengan banyak faktor.
a.   Kemanfaatan hasil. Sejauh mana penelitian terhadap masalah tersebut akan memberikan sumbangan kepada khasanah teori ilmu pengetahuan atau kepada pemecahan masalah-masalah praktis.
b.    Kriteria pengetahuan yang dipermasalahkan yaitu: (a) mempunyai khasanah keilmuan yang dapat dipakai untuk pengajuan hipotesis, dan (b) mempunyai kemungkinan mendapatkan sejumlah fakta empirik yang diperlukan guna pengujian hipotesis.
c.    Persyaratan dari segi si peneliti, yang pada prinsipnya sejauhmana  kemampuan si peneliti untuk melakukan penelitian. Hal ini menyangkut setidak-tidaknya lima faktor, yakni: biaya; waktu; alat dan bahan; bekal kemampuan teoritis peneliti; dan penguasaan peneliti terhadap metode penelitian yang akan digunakannya.
    d. Hubungan Penelitian dengan Penelitian Tindakan
Mengingat luasnya cakupan kerja, penelitian dikelompokkan dan diberi “nama yang spesifik”. Misalnya, penelitian deskriptif dan penelitian eksperimental, dan ada pula yang dinamakan penelitian tindakan (action research). Penelitian tindakan ditandai adanya penerapan suatu tindakan pada suatu proses kegiatan tertentu. Tindakan yang diterapkan tersebut, merupakan tindakan yang “baru” yang diyakini lebih baik dalam meningkatkan mutu proses maupun hasil kerja dari tindakan “lama” yang telah biasa dilakukan. Sambil menerapkan (melakukan eksperimen) terhadap tindakan “barunya”, peneliti mengamati proses tindakan itu (yang dilakukan dengan secara teliti dengan mendiskripsikan proses kegiatan yang terjadi). Dengan demikian, ada pula yang menyatakan penelitian tindakan sebagai tindak lanjut dari penelitian eksperimen maupun penelitian deskriptif.
Ada pula yang menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian eksperimen dengan ciri yang khusus. Jika dalam penelitian eksperimen peneliti ingin mengetahui akibat dari suatu perlakuan (treatment, tindakan, atau “sesuatu” yang dilakukan), maka pada penelitian tindakan, peneliti mencermati kajiannya pada proses dan akibat dari tindakan yang dibuatnya. Berdasar hasil pencermatan itulah, kemudian dilakukan tindakan lanjutan yang merupakan perbaikan dari tindakan pertama (disebut sebagai siklus), untuk dapat memperoleh informasi yang mantap tentang dampak tindakan yang dibuatnya.
2. Perlunya Penelitian Tindakan Sekolah
Saat ini, penelitian tindakan banyak dilakukan baik oleh guru maupun pengawas. Bila dilakukan guru umum disebut sebagai Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sedangkan bila dilakukan oleh pengawas sekolah, disebut sebagai Penelitian Tindakan Sekolah atau Kepengawasan (PTKp).
    a. Tujuan Penelitian Tindakan Sekolah
Tujuan utama Penelitian Tindakan Sekolah adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam sekolah-sekolah yang berada dalam binaan pengawas sekolah. Kegiatan penelitian ini tidak saja bertujuan untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan.
Secara lebih rinci, tujuan Penelitian Tindakan Sekolah antara lain :
a. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan, manajemen dan pembelajaran, termasuk mutu guru, kepala sekolah, khususnya yang berkaitan dengan tugas profesional kepengawasan, di sekolah-sekolah yang menjadi binaannya.
b.    Meningkatkan kemampuan dan sikap profesional sebagai pengawas sekolah.
c.  Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan.
Ciri khusus dari Penelitian Tindakan Sekolah adalah adanya tindakan (action) yang nyata. Tindakan itu dilakukan pada situasi alami (pada keadaan yang sebenarnya) dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan praktis dalam peningkatan mutu proses dan hasil kepengawasan.
Selain itu, karena penelitian tindakan sekolah berkenaan dengan kegiatan nyata di sekolah-sekolah, maka perlu memperhatikan etika, antara lain:
a.   Tidak boleh mengganggu proses pembelajaran dan tugas mengajar guru, maupun kegiatan pendidikan yang berjalan di sekolah.
b.   Jangan terlalu banyak menyita waktu (dalam pengambilan data, dan lain-lain).
c.  Masalah yang dikaji harus merupakan masalah yang benar-benar ada dan dihadapi oleh pengawas sekolah.
d. Dilaksanakan dengan selalu memegang etika kerja (minta ijin, membuat laporan, dan lain-lain).
     b. Tindakan dalam Penelitian Tindakan Sekolah dan Kepengawasan
PTKp terdiri rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Empat kegiatan utama yang ada pada setiap siklus adalah (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) pengamatan, dan (d) refleksi.
Pelaksanaan Penelitian Tindakan Sekolah, dimulai dengan siklus yang pertama yang terdiri dari empat kegiatan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama tersebut, guru bersama peneliti (dalam kasus ini bersama dengan pengawas sekolah) menentukan rancangan untuk siklus kedua.
Siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan siklus pertama, apabila ditujukan untuk mengulangi kesuksesan, atau untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Namun biasanya pada siklus kedua terdapat berbagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu yang ditujukan untuk memperbaiki berbagai hambatan atau kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama.
Dengan menyusun rancangan untuk siklus kedua, maka dapat dilanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama. Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan belum merasa puas, dapat melanjutkan dengan siklus ketiga, yang cara dan tahapannya sama dengan siklus terdahulu.
     c. Permasalahan yang Dapat Dikaji Melalui PTKp
Tita Lestari (2009) menyatakan, melihat luasnya kajian di bidang pendidikan, maka masalah yang diangkat dalam penelitian untuk pengembangan profesi pengawas sekolah, hendaknya difokuskan pada permasalahan yang dihadapi langsung secara nyata oleh pengawas dalam praktek tugas kepengawasan, yaitu tugas memantau, menilai, membina sekolah dan melaksanakan tindak lanjut.
Berikut, Tita memberikan beberapa contoh permasalahan yang dapat dikaji melalui PTKp
1.     Bagaimana bimbingan terhadap sekolah dalam pengembangan Kurikulum
2.   Bagaimana bimbingan terhadap sekolah dalam menyusun kurikulum muatan lokal yang penyusunannya melibatkan beberapa pihak terkait.
3.   Bagaimana pemantauan terhadap sekolah dalam melaksanakan program pengembangan diri melalui kegiatan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler.
4.  Bagaimana membina guru dalam merancang tugas mandiri tidak terstruktur untuk mencapai kompetensi tertentu
5.   Bagaimana sekolah melalui MGMP dalam mengembangkan silabus secara mandiri atau cara lainnya berdasarkan standar isi, standar kompetensi lulusan, dan panduan penyusunan kurikulum
6.    Bagaimana bentuk binaan terhadap hasil pelaksanaan pemantauan proses pembelajaran yang mencakup tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian hasil pembelajaran.
7. Bagaimana strategi supervisi proses pembelajaran melalui cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi.
8.   Bagaimana model bimbingan terhadap guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran.
9.  Bagaimana bimbingan terhadap peningkatan kemampuan manajerial kepala sekolah yang ditunjukkan dengan keberhasilan mengelola pendidik dan tenaga kependidikan dan siswa.
10. Bagaimana bimbingan terhadap peningkatan kemampuan kewirausahaan kepala sekolah dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sebagai sumber belajar siswa.
11. Bagaimana teknik menilai sekolah dalam merumuskan dan menetapkan visi, misi dan tujuan lembaga.
12. Bagaimana teknik membimbing, menyusun dan melaksanakan rencana kerja jangka menengah (empat tahunan) dan rencana kerja tahunan.
13.  Bagaimana pendekatan yang dilakukan terhadap sekolah dalam melaksanakan kegiatan pengembangan kurikulum dan pembelajaran.
14.Bagaimana bimbingan terhadap sekolah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi diri untuk menyusun profil sekolah.
15. Bagaimana bimbingan terhadap sekolah untuk melaksanakan evaluasi kinerja pendidik dan tenaga kependidikan.
16. Bagaimana arahan terhadap sekolah dalam melaksanakan sistem informasi manajemen untuk mendukung administrasi pendidikan.
17. Bagaimana upaya mendorong sekolah untuk menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam sistem pengelolaan pembelajaran.
18. Bagaimana strategi melakukan evaluasi terhadap pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan pada sekolah-sekolah binaannya.
19. Bagaimana pendekatan atau strategi untuk mendorong guru dan kepala sekolah dalam merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.
20. Bagaimana membimbing sekolah dalam menyusun pedoman pengelolaan keuangan sebagai dasar dalam penyusunan Rencana Anggaran dan Belanja (RAB).
21. Bagaimana membimbing sekolah dalam menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) setiap mata pelajaran.
22. Bagaimana upaya mendorong sekolah dalam menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, iptek, estetika, serta jasmani, olahraga, dan kesehatan sesuai dengan standar nasional pendidikan.
3. Penyusunan Usulan dan Laporan PTKp
   a. Usulan PTKp
Prinsip dalam menyusun usulan penelitian tindakan sekolah pada prinsipnya adalah untuk meningkatkan mutu proses dan hasil kepengawasan di sekolah-sekolah binaannya. Ada tiga hal penting yang harus dijawab dalam PTKp, yakni :
1.   Siapa yang akan ditingkatkan? Sesuai dengan tugasnya, pengawas sekolah bertanggung jawab membina guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan yang lain yang ada pada sekolah-sekolah binaannya.
2. Apa yang akan ditingkatkan? Sebelum melakukan PTKp, pengawas sekolah harus mengetahui dengan jelas, hal-hal apa yang akan ditingkatkan. Misalnya, kemampuan guru dalam menyusun RPP, kemampuan dan kemauan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas / laboratorium / lapangan, kemampuan guru dalam menerapkan berbagai macam metode pembelajaran, dan lain-lain. Atau kemampuan kepala sekolah dalam pengelolaan administrasi sekolah, dalam mengkoordinasikan pelaksanaan program bimbingan konseling, dan lain-lain.
3. Melalui tindakan apa? Tindakan tersebut umumnya berupa penggunaan “tindakan kepengawasan” yang baru (bukan yang selama ini telah dilaksanakan) . Tindakan tersebut telah diyakini, akan mampu memberikan hasil yang lebih baik, dari apa yang telah biasa dilakukan saat ini. Misalnya melalui berbagai kegiatan pembelajaran / pelatihan/diskusi, dan lain-lain, yang dapat dilakukan bagi para guru atau kepala sekolah, dalam waktu yang relatif terbatas, yang berupa lokakarya, pelatihan, diskusi kelompok kecil, forum diskusi, kerja kelompok, dan lain-lain.
Dengan demikian, JUDUL Penelitian Tindakan Sekolah paling tidak berisi informasi tentang:
1.    Apa yang akan ditingkatkan?
2.    Menggunakan tindakan apa?
3.    Siapa yang akan ditingkatkan?
Sebagai kelengkapan, umumnya dituliskan pula sub judul. Sub judul bertujuan untuk menambahkan keterangan lebih rinci tentang populasi, misalnya di mana penelitian dilakukan, kapan, di sekolah-sekolah mana, dan lain-lain.
Berikut disajikan berbagai contoh judul Penelitian Tindakan Sekolah, yang kesemuanya menuliskan tiga hal yang penting di atas.



   b. Kerangka Isi Usulan PTKp
Kerja penelitian dimulai dengan membuat rencana. Rencana itu umum disebut sebagai usulan penelitian. Usulan penelitian merupakan langkah pertama dari kerja penelitian. Sedangkan Karya Tulis Ilmiah (KTI), yang merupakan laporan hasil penelitian, merupakan langkah terakhir. Pada umumnya usulan penelitian terdiri dari :
1.     Judul Penelitian
2.  Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Pembatasan Masalah, Perumusan Masalah, Cara Pemecahan Masalah, Tujuan, dan Kemanfaatan Hasil Penelitian (terutama potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi, proses, masukan, atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan).
3. Bab Kajian/Tinjauan Pustaka yang menguraikan kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan penelitian tindakan
4.    Bab Metode Penelitian yang menjelaskan tentang Rencana dan Prosedur Penelitian.
     c. Judul Penelitian dan Bab Pendahuluan
Judul penelitian menyatakan secara jelas namun sesingkat mungkin permasalahan yang akan diteliti, upayakan variabel penelitian tercantum pada judul tersebut. Upayakan pula agar dengan membaca judul itu, pembaca akan tertarik untuk membaca lebih jauh isi usulan penelitian. Judul hendaknya ditulis dengan singkat dan spesifik. Hal utama yang seharusnya tertulis di dalam judul adalah : (1) apa yang mau ditingkatkan mutunya, (2) bagaimana tindakan yang akan dilakukan pengawas, dan (3) siapa yang akan ditingkatkan?
Umumnya di bawah judul dituliskan pula sub judul. Sub judul sangat umum ditulis untuk menambahkan keterangan lebih rinci tentang populasi, misalnya di mana penelitian dilakukan, kapan, di kelas berapa, di sekolah-sekolah mana dan lain-lain.
Bab Pendahuluan menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian dengan uraian sebagai berikut:
1) Isi Subbab Latar Belakang Masalah
Bab pendahuluan paling tidak terdiri dari sub bab yang menjelaskan alasan atau latar belakang PTKp yang menjelaskan tentang:
1.  Masalah yang diteliti adalah benar-benar suatu masalah pembelajaran yang terjadi di kelasnya, di sekolahnya, maka tuliskan dengan jelas kondisi yang menjadikan terjadinya permasalahan tersebut.
2.  Masalah yang akan diteliti merupakan sebuah masalah penting dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu, biaya dan daya dukung lainnya
3.  Jelaskan hal-hal yang diduga menjadi akar penyebab dari masalah tersebut. Berikan alasan (argumentasi) secara cermat dan sistematis bagaimana dapat menarik kesimpulan tentang akar masalah itu.
2) Isi Subbab Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan pertanyaan yang jawabannya akan dicari melalui PTKp. Sebagai contoh, jika judul PTKpnya adalah: “Meningkatkan kemampuan guru-guru dalam menyusun RPP pembelajaran tematik melalui workshop …”. Maka rumusan masalahnya adalah “Apakah melalui workshop, kemampuan guru dalam menyusun RPP pembelajaran tematik akan dapat ditingkatkan?“
Jawaban dari pertanyaan itulah yang akan diuji melalui pelaksanaan PTKp, yang berupa tindakan nyata di kelas dalam menerapkan metode Student Teams Achievement Division (STAD) pada pokok bahasan tertentu, dengan menggunakan kerangka tindakan yang tertentu pula.
3) Isi Subbab Tujuan dan Manfaat PTKp
Tujuan Penelitian: Penulisan tujuan PTKp umumnya dimulai dengan kalimat “ PTKp ini bertujuan untuk menguji manfaat......... (tindakan tertentu, tuliskan dengan jelas nama tindakan tersebut), guna meningkatkan ....(tuliskan dengan rinci apa yang akan ditingkatkan), bagi guru/kepala sekolah di ..... (tuliskan subyek PTKpnya). Sedangkan penulisan manfaat PTKp umumnya dimulai dengan kalimat “PTKp ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa ....... (tuliskan manfaat PTKp bagi guru....manfaatnya bagi siswa, dan lain-lain)
4) Bab Tinjauan Pustaka
Kembali diingatkan bahwa ciri khusus PTKp adalah adanya tindakan. Tindakan tersebut berupa penerapan model/ strategi/cara mengajar yang ”baru” yang benar-benar dilakukan oleh pengawas pada kepala sekolah/guru yang dibinanya, dalam upayanya meningkatkan pengetahuan/keterampilan tertentu.
Tindakan yang akan dilakukan merupakan tindakan yang baru, sebagai pengganti dari tindakan yang selama ini telah dilakukan. Pada bab Kerangka Teori, tuliskan berbagai teori (berdasar pada kajian kepustakaan) yang mendasari usulan rancangan PTKp ini.
Kemukakan juga teori, temuan dan bahan penelitian lain yang mendukung pilihan tindakan untuk mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Sebagai contoh, akan dilakukan PTKp yang menerapkan model workshop, Pada kajian pustaka harus jelas dapat dikemukakan
a.   Bagaimana teori workshop, bagaimana sejarahnya, bagaimana langkah-langkahnya, dan lain-lain.
b.  Bagaimana bentuk tindakan yang dilakukan dalam penerapan teori tersebut dalam peningkatan kompetensi guru/kepala sekolah, skenario pelaksanaan, dan sebagainya,
c.  Bagaimana keterkaitan atau pengaruh penerapan model tersebut dengan perubahan yang diharapkan, atau terhadap masalah yang akan dipecahkan, hal ini hendaknya dapat dijabarkan dari berbagai hasil penelitian yang sesuai, dan
d.   Bagaimana prakiraan hasil (hipotesis tindakan) dengan dilakukannya penerapan model di atas pada kemampuan guru/kepala sekolah terhadap hal yang akan dipecahkan.
Kriteria kepustakaan yang baik. Sedikitnya ada dua syarat utama yang harus dipenuhi oleh sumber bacaan yang akan digunakan dalam kajian teori, yakni:
1.      Adanya keterkaitan antara isi bacaan dengan masalah yang dibahas, dan
2.   Kemutahiran sumber bacaan, artinya sumber bacaan yang sudah kadaluwarsa harus ditinggalkan.
Penelitian dengan daftar kepustakaan yang sangat banyak, namun keterkaitan antara isi kepustakaan dan masalah yang dibahas tidak terlalu jelas, harus dihindari. Kualitas hasil karya ilmiah tidak berkaitan dengan banyaknya buku yang tercantum pada daftar pustaka, tetapi pada kualitas pustaka yang digunakannya.
5) Bab Metode Penelitian
Hal penting yang harus dimengerti: PTKp terdiri rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Empat kegiatan utama yang ada pada setiap siklus adalah: (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) pengamatan, dan (d) refleksi yang dapat digambarkan sebagai berikut:

 Pelaksanaan PTKp dimulai dengan siklus yang pertama yang terdiri dari empat kegiatan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama tersebut, pengawas menentukan rancangan untuk siklus kedua.
Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya bila ditujukan untuk mengulangi kesuksesan, atau untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Tapi umumnya kegiatan yang dilakukan pada siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu yang tentu saja ditujukan untuk memperbaiki berbagai hambatan atau kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama.
Dengan menyusun rancangan untuk siklus kedua, maka guru dapat melanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama. Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan pengawas belum merasa
puas, dapat melanjutkan dengan siklus ketiga, yang cara dan tahapannya sama dengan siklus terdahulu. Tidak ada ketentuan tentang berapa kali siklus harus dilakukan. Banyaknya siklus tergantung dari kepuasan peneliti sendiri, namun ada saran, sebaiknya tidak kurang dari dua siklus.
Dengan demikian pada bab Rencana Pelaksanaan PTKp, uraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan objek, waktu dan lamanya tindakan, serta lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus. Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan indikator keberhasilan yang dicapai dalam setiap siklus sebelum pindah ke siklus lain. Jumlah siklus diusahakan lebih dari satu siklus, meskipun harus diingat juga jadwal kegiatan belajar di sekolah.
   d. Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pelaksanaan PTKp
1. PTKp merupakan penelitian yang mengikutsertakan secara aktif peran guru/kepala sekolah dalam berbagai tindakan
2. Kegiatan refleksi (perenungan, pemikiran dan evaluasi) dilakukan berdasarkan pertimbangan rasional (menggunakan konsep teori) yang mantap dan valid guna melakukan perbaikan tindakan dalam upaya memecahkan masalah yang terjadi.
3.   Tindakan perbaikan terhadap situasi dan kondisi pembelajaran dilakukan dengan segera dan dilakukan secara praktis.
     e. Kegiatan Pengamatan dalam Pelaksanaan PTKp
Tahapan pengamatan dan pencatatan semua aktivitas PTKp dilakukan bersamaan dengan saat pelaksanaan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Pada tahapan ini, si peneliti (pengawas, apabila ia bertindak sebagai peneliti) melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung.
Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian yang telah disusun. Termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan, dari waktu ke waktu dan dampaknya terhadap proses dan hasil supervisi yang dilaksanakan.
Beberapa format yang harus ada dan dilampirkan sebagai bagian dari proses pengumpulan data, antara lain:
1.      Lembar pengamatan supervisi
2.      Lembar hasil kerja guru/kepala sekolah.
3.      Lembar penilaian kinerja kelompok
4.      Lembar informasi balikan peserta
5.      Jurnal
Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, hasil kuis, presensi, nilai tugas, dan lain-lain) tetapi juga data kualitatif yang menggambarkan keaktifan guru/kepala sekolah/tenaga kependidikan, antusias mereka, mutu diskusi yang dilakukan, dan lain-lain. Instrumen yang umum dipakai adalah: (a) soal tes, (b) kuis, (c) rubrik, (d) lembar observasi, dan (e) catatan lapangan yang dipakai untuk memperoleh data secara obyektif yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi, misalnya aktivitas selama pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau petunjuk-petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.
Data yang dikumpulkan hendaknya dicek untuk mengetahui keabsahannya. Berbagai teknik dapat dilakukan untuk tujuan ini, misalnya teknik triangulasi atau cross check, membandingkan data yang diperoleh dengan data lain, atau kriteria tertentu yang telah baku, dan lain sebagainya.
Data yang telah terkumpul memerlukan analisis untuk dapat mempermudah penggunaan maupun dalam penarikan kesimpulan. Untuk itu berbagai teknik analisis statistika dapat digunakan. Bagaimana hubungan indikator keberhasilan dengan kegiatan pengamatan? Kegiatan pengamatan pada hakikatnya dilakukan untuk dapat mengetahui apakah tujuan PTKp tercapai atau belum. Untuk itu sangat penting untuk menjabarkan terlebih dahulu apa indikator utama dari kegiatan PTKp yang dirancangkan.
             Format-format yang akan dipakai dalam pengumpulan data.
Kegiatan Refleksi
         Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasar data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Refleksi dalam PTKp mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi, maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi (Hopkins, 1993).
4. Laporan PTKp
Umumnya laporan PTKp ini mempunyai kerangka isi sebagai berikut:
1. Bagian Awal yang terdiri dari: (a) halaman judul; (b) lembaran persetujuan dan pernyataan dari KORWAS; (c) pernyataan dari perpustakaan yang menyatakan bahwa makalah tersebut telah disimpan diperpustakaannya, (d) pernyataan keaslian tulisan yang dibuat dan ditandatangani oleh penulis, (e) kata pengantar; (f) daftar isi, (bila ada : daftar label, daftar gambar dan daftar lampiran), serta (g) abstrak atau ringkasan.
2.  Bagian Isi umumnya terdiri dari beberapa bab yakni:
Bab I Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian.
Bab II Kajian/Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan penelitian tindakan (khususnya kajian teori yang berkaitan dengan macam tindakan yang akan dilakukan), proses tindakan, ketepatan atau kesesuainan tindakan dan lain-lain.
Bab III Metode Penelitian atau Metodologi Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian (terutama: prosedur diagnosis masalah, penjelasan rinci tentang perencanaan dan pelaksanaan tindakan, prosedur pelaksanaan tindakan, prosedur observasi dan evaluasi, prosedur refleksi, serta hasil penelitian). Yang harus ada dan dikemukakan secara jelas dalam bagian ini adalah langkah-langkah tindakan secara rinci, terutama langkah yang harus dilakukan oleh guru/kepala sekolah sebagai subyek, bukan hanya menjelaskan langkah pengawas (supervisor).
Bab IV Hasil penelitian dan pembahasan serta mengemukakan gambaran tentang pelaksanaan tindakan. Akhir dari bab ini adalah pembahasan, yaitu pendapat peneliti tentang plus minus tindakan serta kemungkinannya untuk diterapkan lagi untuk memperoleh gambaran model tindakan ini sebagai metode/model kepengawasan yang dipandang kreatif dan inovatif, sehingga dapat memberikan hasil pembelajaran yang maksimal
Bab V Simpulan dan Saran-Saran.
3.  Bagian Penunjang yang pada umumnya terdiri dari sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang diperlukan untuk menunjang isi laporan. Lampiran utama yang harus disertakan adalah (a) rancangan pelaksanaan PTKp seperti: skenario pelaksanaan, bahan ajar, hand-out, diktat, dan lain-lain, (b) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan yang digunakan selama penelitian tindakan dilakukan, misalnya lembar observasi, kuisioner, tes, dan lain-lain, (c) contoh-contoh asli (atau foto kopi) hasil kerja dari guru/kepala sekolah dalam pengisian/pengerjaan instrumen, (d) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, surat ijin dari kepala sekolah, dari pengawas sekolah, catatan harian, dan lain-lain.
5. Laporan yang Kurang Memenuhi Syarat
Alasan yang sering dijumpai dalam menolak laporan PTKp adalah:
a.  Adanya KTI yang tidak wajar, misalnya KTI yang diajukan bukan karya sendiri, tetapi menyalin dari karya orang lain (yang umumnya berupa skripsi, tesis orang lain), ada juga KTI yang dibuatkan oleh orang/institusi lain.
b. Tidak sedikit KTI yang mempermasalahkan hal-hal yang tidak perlu dan membahas masalah yang terlalu luas serta tidak berkaitan dengan kegiatan pengembangan profesi yang bersangkutan sebagai guru atau pengawas sekolah.
c.  Meskipun tidak terlalu banyak, beberapa KTI ditolak karena tidak mengikuti kaidah keilmuan, seperti rumusan masalah tidak jelas, kerangka teori sangat menyimpang, metode penelitian yang salah, data yang tidak sesuai, dan kesimpulan yang tidak terkait dengan rumusan masalah.
d.   Ada pula KTI yang ditolak karena kurang konsisten antara tugasnya dengan apa yang ditulisnya.
Sebagaimana dijelaskan di atas, laporan PTKp yang memenuhi syarat, dan dapat diberikan angka kredit adalah bila memenuhi persyaratan APIK (Asli, Perlu, Ilmiah, dan Konsisten).
6. Rangkuman dan Refleksi
    a. Rangkuman
Kerja penelitian umumnya terdiri dari beberapa langkah utama, yaitu (a) melakukan kajian terhadap permasalahan, (b) melakukan kajian teoritik dari permasalahan untuk kemudian secara deduksi dirumuskan menjadi hipotesis dari masalah yang dihadapi, (c) mengumpulkan data empirik guna pengujian hipotesis, (d) mengadakan uji hipotesis, dan (e) menarik kesimpulan.
Suatu penelitian dikatakan layak apabila (a) bermanfaat, yaitu memberikan sumbangan kepada khasanah teori ilmu pengetahuan atau kepada pemecahan masalah-masalah praktis, (b) memiliki landasan keilmuan, yaitu memungkinkan diajukan hipotesis dan dilakukan pengumpulan data untuk menguji hipotesis, dan (c) terjangkau oleh peneliti, baik dari segi kemampuan, waktu, biaya, dan sebagainya.
Ciri khusus dari PTKp adalah adanya tindakan (action) yang nyata. Tindakan itu dilakukan pada situasi alami (pada keadaan yang sebenarnya) dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan praktis dalam peningkatan mutu proses dan hasil kepengawasan.
PTKp terdiri rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Empat kegiatan utama yang ada pada setiap siklus adalah: (a) perencanaan, (b) tindakan, (c) pengamatan, dan (d) refleksi. Pada umumnya usulan penelitian terdiri dari: (a) Judul Penelitian, (b) Bab Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian, (c) Bab Kajian/Tinjauan Pustaka yang menguraikan kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan penelitian tindakan, dan (d) Bab Metode Penelitian yang menjelaskan tentang Rencana dan Prosedur Penelitian. Kerangka laporan hasil PTKp, umumnya berisi: (1) bagian awal, mencakup: halaman judul, lembar persetujuan, pernyataan dari perpustakaan, pernyataan keaslian tulisan, kata pengantar, daftar isi, (bila ada : daftar label, daftar gambar dan daftar lampiran), dan abstrak atau ringkasan, (2) bagian isi, meliputi: Bab I Pendahuluan, Bab II Kajian/Tinjauan Pustaka, Bab III Metode Penelitian atau Metodologi Penelitian, Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, dan Bab V Simpulan dan Saran-Saran, serta (3) Bagian Penunjang, pada umumnya terdiri dari sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang diperlukan untuk menunjang isi laporan.
    b. Refleksi
1.    Setelah Anda mempelajari materi ini, hal-hal baru apakah yang anda temukan?
2.   Setelah Anda mempelajari materi ini, dalam hal apakah Anda merasakan lebih memahami tentang PTKp?
3. Setelah Anda mencoba melaksanakan PTKp, hal-hal apakah yang Anda temukan berkaitan dengan peningkatan kinerja Anda sebagai pengawas?
4.   Bila Anda merasa masih kurang mampu melakukan PTKp, anda dapat menelaah lebih jauh kepustakaan di bawah ini atau mengundang narasumber.

E. DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka kreditnya
Keputusan bersama Menteri Pendidikan dan kebudayaan dan Kepala BAKN Nomor 0433/P/1993, nomor 25 tahun 1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 025/0/1995
Kemmis and McTaggart.1994. The Action Research Planner, Dekain University
Suhardjono, A. Azis Hoesein, dkk. 1995. Pedoman penyusunan KTI di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Digutentis, Jakarta : Diknas
Suhardjono, 2005, Laporan Penelitian Eksperimen dan Penelitian Tindakan Kelas sebagai KTI, makalah pada Pelatihan Peningkatan Mutu Guru di LPMP Makasar, Maret 2005
Suhardjono, 2009, Tanya jawab tentang PTK dan PTKp, naskah buku. Suharsimi Arikunto, 2002, Penelitian Tindakan Kelas, Makalah pada Pendidikan dan Pelatihan (TOT) Pengembangan Profesi bagi Jabatan Fungsional Guru, 11-20 Juli 2002 di Balai penataran Guru (BPG) Semarang,
Suharsimi, Suhardjono dan Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT Bumi Aksara
Supardi. 2005. Penyusunan Usulan, dan Laporan Penelitian Penelitian Tindakan Kelas, Makalah disampaikan pada “Diklat Pengembangan Profesi Widyaiswara”, Ditektorat Tenaga Pendidik dan Kependidikan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.
Tita Lestari. 2009. Penyusunan Program, Pelaksanaan dan Pelaporan Hasil Pengawasan. Materi ToT Calon Pengawas. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen PMPTK, Departemen Pendidikan Nasional.

Post a Comment