Saturday, December 19, 2015

POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
          Suatu penelitian, khususnya penelitian yang dimaksudkan untuk menarik generalisasi (menarik kesimpulan umum yang berlaku bagi suatu populasi), sangat berkepentingan dan permasalahan sampel; permasalahan tentang bagaimana mengambil sampel dari suatu populasi, sehingga hasil-hasil penelitian terhadap sampel dapat melahirkan kesimpulan yang berlaku umum bagi seluruh populasi.[1]
        Salah satu bagian dalam penelitian adalah menentukan popolasi dan sampel penelitian. Kegiatan penelitian banyak dilakukan dengan menggunakan penarikan sampel, karena dibandingkan metode sensus penarikan sampel lebih praktis, hemat biaya, dan tidak banyak menyita waktu maupun tenaga. Penentuan sampel dari suatu populasi, disebut sebagai penarikan sampel.[2]
          Munculnya permasalahan sampel, karena dalam penelitian, tidaklah realistis meneliti seluruh populasi, lebih-lebih untuk populasi yang sangat luas. Amatlah sukar seorang peneliti untuk dapat meneliti dan mengobservasi seluruh jumlah total dan subyek yang akan ditelitinya oleh Noeng Muhajir diistilahkan dengan efisiensi. Faktor inilah yang mendasari pemikiran yang berbicara mengenai populasi dan sampel.[3] Sehingga seorang misalnya yang akan meneliti kehidupan gelandangan kota, mungkin tidak mempunyai waktu dan biaya untuk mengobservasi semua gelandangan yang diperkirakan sangat banyak di kota itu, ia hanya dapat meneliti beberapa ratus orang saja, di dalam penelitian seperti itu disebut penelitian sampel.
        Setiap penelitian ilmiah berhadapan dengan masalah sumber data yang disebut populasi dan sampel. Sumber data yang tidak tepat, mengakibatkan data yang terkumpul menjadi tidak relevan yang dapat menimbulkan kekeliruan dalam menarik kesimpulan. Penelitian yang mempergunakan populasi dan sampel yang keliru tidak banyak artinya bagi pemecahan masalah yang dihadapi, bahkan akan menimbulkan masalah-masalah baru dipergunakan melakukan tindakan praktis.[4]
         Dengan demikian, bahwa persoalan populasi dan sampel dalam suatu penelitian, bukanlah suatu persoalan yang remeh bilamana diharapkan memperoleh hasil yang valid. Untuk itu, penting untuk dikaji permasalahan ini sebagai upaya untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang populasi dan sampel penelitian dan tujuannya dalam upaya mendapatkan hasil penelitian yang dapat dipercaya.
           
B. Rumusan Masalah
Dari deskripsi yang dikemukakan pada latar belakang, dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut:
1.  Apakah yang dimaksud dengan populasi penelitian?
2.  Apakah yang dimaksud dengan sampel penelitian?
3.  Apakah alasan pengambilan sampel penelitian?
4.  Bagaimana hubungan antara sampel dengan populasi?
5.  Bagaimana prosedur pengambilan sampel penelitian?

II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Populasi Penelitian

       Kata populasi berasal dari bahasa Inggris yaitu population yang berarti jumlah penduduk.[5] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, populasi berarti: seluruh jumlah orang atau penduduk di suatu daerah; jumlah orang atau pribadi yang mempunyai ciri-ciri yang sama; jumlah penghuni baik manusia maupun makhluk hidup lainnya pada suatu ruang tertentu.[6] Populasi dalam istilah statistik khususnya yang berkenaan dengan penelitian adalah keseluruhan subyek penelitian.[7]
        Populasi dalam setiap penelitian harus disebutkan secara tersurat yang berkenaan dengan besarnya anggota populasi serta penelitian yang dicakup. Tujuan diadakannya populasi ialah agar dapat ditentukan besarnya anggota sampel yang diambil dari anggota populasi dan membatasi berlakunya daerah generalisasi.
          Populasi merupakan suatu “universe”, yakni wilayah generalisasi yang terdiri atas subyek atau obyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu, yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik simpulannya. Populasi tidak hanya berupa orang, tetapi bisa juga berupa benda yang lainnya. Ditinjau dari banyaknya anggota populasi, maka populasi terdiri atas: 1) populasi terbatas, dan 2) populasi tak terbatas. Ditinjau dari sifatnya, maka populasi dapat bersifat 1) homogen, dan 2) heterogen. Populasi yang menggunakan seluruh anggota populasinya disebut sampel total atau sensus. Penggunaan ini berlaku jika anggota populasi relatif kecil. Untuk anggota populasi yang relatif besar, maka diperlukan mengambil sebagian anggota populasi yang dijadikan sampel.[8] Jadi, dari pembahasan tersebut dapat dipahami, bahwa populasi adalah keseluruhan obyek yang akan diteliti,
           
B. Pengertian Sampel Penelitian
Kata sampel juga berasal dari bahasa Inggris yaitu sample yang berarti contoh.[9] Sampel dalam penelitian adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.[10] Perlu dibedakan di sini, istilah sampel dan sampling. Sampel merupakan bagian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya dari suatu penelitian. Adapun sampling adalah cara yang digunakan untuk mengambil sampel.
Sampel adalah bagian dari populasi yang sengaja dipilih oleh peneliti untuk diamati, sehingga sampel ukurannya lebih kecil dibandingkan populasi dan berfungsi sebagai wakil dari populasi.[11] Jadi, sampel adalah sebagian dari keseluruhan populasi yang dianggap representatif.

C. Alasan Pengambilan Sampel Penelitian
Setiap penelitian yang dimaksudkan untuk menarik generalisasi, mau tidak mau, akan berhadapan dengan masalah pemilihan dan pengambilan sampel. Dalam hubungan ini, pemilihan sesuatu teknik masalah bisa dinalar kesesuaiannya dengan karakteristik populasi yang hendak diteliti. Pengambilan sampel secara random yang dapat diperhatikan tingkat keakuratan sehingga berlakunya kesimpulan terhadap populasi dari sampel yang diambil. Karenanya, teknik-teknik non random, hanya relevan digunakan untuk yang bersifat eksplorasi atau penjajakan; bukan untuk menarik inferensi terhadap populasi.
Mengenai kememadaian jumlah (adequency) dari suatu sampel, pada prinsipnya, semakin besar jumlah sampel akan semakin kecil kemungkinan kesalahan inferensi yang dikarenakan kesalahan sampel; faktor variabilitas atau tingkat heterogonitas populasi ikut mempengaruhi kemungkinan kesalahan sampel, dan karenanya, semakin heterogen suatu populasi semakin besar pula jumlah sampel yang sebaiknya diambil.
Bila jumlah populasi dipandang terlalu besar, dengan maksud meng-hemat waktu, biaya, dan tenaga, penelitili tidak meneliti seluruh anggota populasi. Bila peneliti bermaksud meneliti sebagian dari populasi saja (sampel), pertanyaan yang selalu muncul adalah berapa jumlah sampel yang memenuhi syarat. Ada hukum statistika dalam menentukan jumlah sampel, yaitu semakin besar jumlah sampel semakin menggambarkan keadaan populasi.[12]
Biarpun demikian, ukuran besarnya sampel bukanlah pertimbangan satu-satunya untuk bisa menjamin ketepatan dan keakuratan inferensi. Representatif tidaknya sampel, berdasarkan sifat atau ciri populasi, tetapi merupakan pertimbangan terpenting dalam memilih sampel. Sampel yang besar, akan tetapi kurang mempertimbangkan representasi sifat-sifat atau ciri-ciri populasi sangat mungkin melahirkan.[13]
Selain berdasarkan ketentuan di atas perlu pula penentuan jumlah sampel dikaji dari karakteristik populasi. Bila populasi bersifat homogen maka tidak dituntut sampel yang jumlahnya besar. Misalnya saja dalam pemeriksaan golongan darah.
Walaupun pemakaian jumlah sampel yang besar sangat dianjurkan, dengan pertimbangan adanya berbagai keterbatasan pada peneliti, sehingga peneliti berusaha mengambil sampel minimal dengan syarat dan aturan statistika tetap terpenuhi sebagaimana dianjurkan oleh Isaac dan Michael. Dengan menggunakan rumus tertentu, Isaac dan Michael memberikan hasil akhir jumlah sampel terhadap jumlah populasi antara 10 – 100.000.[14]
Dari keterangan di atas, karakteristik populasi merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan di samping kememadaian jumlahnya dalam pengambilan sampel.

D. Hubungan antara Sampel dan Populasi
Sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel jika tidak ada populasi. Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan diteliti. Populasi dan sampel pada prinsipnya sama dari beberapa sisi aspek kuantitatifnya berbeda, tetapi secara kualitatif harus sama dengan artian bahwa sampel harus representatif mampu mewakiliki populasi yang ada. Penelitian yang dilakukan atas seluruh elemen dinamakan sensus. Idealnya, agar hasil penelitiannya lebih bisa dipercaya, seorang peneliti harus melakukan sensus. Namun karena sesuatu hal peneliti bisa tidak meneliti keseluruhan elemen tadi, maka yang bisa dilakukannya adalah meneliti sebagian dari keseluruhan elemen atau unsur tadi.
Berbagai alasan yang masuk akal mengapa peneliti tidak melakukan sensus antara lain adalah,(a) populasi demikian banyaknya sehingga dalam prakteknya tidak mungkin seluruh elemen diteliti; (b) keterbatasan waktu penelitian, biaya, dan sumber daya manusia, membuat peneliti harus telah puas jika meneliti sebagian dari elemen penelitian; (c) bahkan kadang, penelitian yang dilakukan terhadap sampel bisa lebih reliabel daripada terhadap populasi – misalnya, karena elemen sedemikian banyaknya maka akan memunculkan kelelahan fisik dan mental para pencacahnya sehingga banyak terjadi kekeliruan.[15]
Demikian pula jika elemen populasi homogen, penelitian terhadap seluruh elemen dalam populasi menjadi tidak masuk akal, misalnya untuk meneliti kualitas jeruk dari satu pohon jeruk Agar hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel masih tetap bisa dipercaya dalam artian masih bisa mewakili karakteristik populasi, maka cara penarikan sampelnya harus dilakukan secara seksama. Cara pemilihan sampel dikenal dengan nama teknik sampling atau teknik pengambilan sampel . Populasi atau universe adalah sekelompok orang, kejadian, atau benda, yang dijadikan obyek penelitian. Jika yang ingin diteliti adalah sikap konsumen terhadap satu produk tertentu, maka populasinya adalah seluruh konsumen produk tersebut. Jika yang diteliti adalah laporan keuangan perusahaan “X”, maka populasinya adalah keseluruhan laporan keuangan perusahaan “X” tersebut, Jika yang diteliti adalah motivasi pegawai di departemen “A” maka populasinya adalah seluruh pegawai di departemen “A”. Jika yang diteliti adalah efektivitas gugus kendali mutu (GKM) organisasi “Y”, maka populasinya adalah seluruh GKM organisasi “Y” Elemen/unsur adalah setiap satuan populasi. Kalau dalam populasi terdapat 30 laporan keuangan, maka setiap laporan keuangan tersebut adalah unsur atau elemen penelitian. Artinya dalam populasi tersebut terdapat 30 elemen penelitian. Jika populasinya adalah pabrik sepatu, dan jumlah pabrik sepatu 500, maka dalam populasi tersebut terdapat 500 elemen penelitian.

E. Prosedur Pengambilan Sampel Penelitian
          Teknik penarikan sampel pada hakikatnya untuk memperkecil kesalahan generalisasi dari sampel ke populasi. Hal ini dapat dicapai apabila diperoleh sampel yang representatif, artinya sampel yang benar-benar mencerminkan populasinya.
          Dalam penentuan sampel ada empat yang harus dipertimbangkan untuk menentukan besarnya sampel yang diambil, sehinga dapat diperoleh gambaran yang representatif dari populasinya. Keempat faktor yang harus dipertimbangkan, yaitu: Pertama, tingkat keseragaman dari populasi. Semakin homogen populasi ini, semakin kecil sampel yang diambil. Kedua, tingkat presisi (ketepatan, ketelitian) yang dihendaki dalam penelitian. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki semakin besar anggota sampel yang harus diambil. Karena semakin besar sampel akan semakin kecil penyimpangan terhadap nilai populasi yang didapat. Ketiga, rencana analisis dikaitkan dengan kebutuhan untuk analisis. Kadang-kadang besarnya sampel masih belum mencukupi kebutuhan analisis, sehingga mungkin diperlukan sampel yang lebih besar. Keempat, teknik penentuan sampel yang digunakan. Penentuan ukuran sampel dipengaruhi oleh teknik penentuan sampel yang digunakan. Jika teknik yang digunakan tepat atau representatif, maka sampel juga terjaga. Teknik ini juga tergantung pada biaya, tenaga, dan waktu yang disediakan.[16]
        Dalam persoalan teknik sampling dapat juga dijumpai beberapa pembagian yang berbeda-beda, walaupun pada dasarnya bertolak dari asumsi yang sama. Asumsi pokoknya adalah bahwa teknik sampling harus secara maksimal memungkinkan diperolehnya sampel yang representatif.
            Mengenai teknik pengambilan sampel, pada dasarnya ada dua, yaitu :
1. Rancangan sampel probabilitas (probability sampling design)
2. Rancangan sampel non probabilitas (non probability sampling design)
            kedua jenis rancangan tersebut akan dipaparkan secara terinci sebagai berikut:

   1. Rancangan Sampel Probabilitas Beserta Teknik-tekniknya

        Rancangan sampel Probabilitas disebut juga dengan rancangan sampel secara random. Dikatakan sampel Probabilitas, karena unit-unit sampelnya dipilih dengan mengikuti hukum Probabilitas. Menurut hukum Probabilitas masing-masing warga populasi mempunyai peluang dan kemungkinan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Dari suatu populasi yang jumlah warganya 1000 setiap warganya mempunyai peluang 1/1000 untuk dipilih sebagai sampel.
         Agar setiap warga populasi mempunyai peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel, maka pengambilannya haruslah dengan teknik random atau acak. Dalam hubungannya dengan teknik random tersebut, jenis-jenisnya ialah :
1. Teknik random sederhana
2. Teknik random atas dasar strata
3. Teknik random bertahap-tahap atas dasar strata
4. Teknik random atas dasar himpunan.[17]
a. Teknik Random Sederhana
         Teknik sampling ini dalam pengambilan sampelnya, peneliti mencampur subyek-subyek di dalam populasi, sehingga semua subyek dianggap sama. Dengan demikian, maka penelitian memberi hak yang sama kepada setiap subyek untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel.[18] Oleh karena itu, peneliti harus melepaskan, diri dari perasaan ingin mengistimewakan satu atau beberapa subyek untuk dijadikan sampel.
         Cara sampel random ini adalah setiap subyek yang terdaftar sebagai populasi diberi nomor urut mulai dari 1 (satu) sampai banyak subyek. Kemudian sampel random dilakukan baik dengan cara undian atau dengan menggunakan tabel bilangan random.
b. Teknik Random atas Dasar Strata
         Populasi distratakan terlebih dahulu; stratanya disesuaikan dengan sifat-sifat atau ciri-ciri sesuatu populasi. Cara mendapatkan warga sampel dilakukan dengan jalan undian, atau menggunakan tabel bilangan random.[19]
c. Teknik Random Bertahap atas Dasar Strata
         Populasinya distratakan lebih dahulu, stratanya disesuaikan dengan sifat-sifat atau ciri-ciri sesuatu populasi, dan pemilihan sampel dilakukan secara bertahap. Cara memilih sampel dalam setiap tahap tadi, bisa dengan jalan undian atau dengan menggunakan tabel bilangan random.[20]
d. Teknik Random atas Dasar Himpunan
         Terlebih dahulu populasi dibagi atas dasar-dasar himpunan di mana populasi tersebut menyebar. Dalam hubungan ini yang dirandom adalah himpunannya. Sesuatu himpunan yang terpilih sebagai sampel, keseluruhan warganya menjadi sampel penelitian. Cara merandom untuk mendapatkan himpunan-himpunan yang menjadi sampel, bisa dengan jalan undian dan bisa juga dengan menggunakan tabel bilangan random.[21]

    2. Rancangan Sampel Non Probabilitas Beserta Teknik-tekniknya

          Rancangan sampel non probabilitas disebut juga dengan rancangan non random. Rancangan pengambilan sampel yang tidak menggunakan random. Karena itu, tidak didasarkan atas hukum probabilitas. Teknik pengambilan sampel yang termasuk dalam rancangan ini adalah :[22]
a. Teknik Pengambilan Sampel Purposif
          Sampel purposif dilakukan dengan cara mengambil subyek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah, tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu. Teknik ini dilakukan karena beberapa pertimbangan. Misalnya, karena alasan keterbatasan waktu, tenaga dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh. Peneliti boleh menentukan sampel ini, tetapi peneliti konsisten dengan memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan.[23]
        Sampling yang purposif adalah sampel yang dipilih dengan cermat sehinga relevan dengan desain penelitian. Di samping itu, penelitian berusaha agar dalam sampel terdapat wakil-wakil dari lapisan populasi. Dengan demikian, diusahakan agar sampel itu memiliki yang esinsial dari populasi sehingga dapat dianggap cukup representatif. Oleh karena itu, sampel ini di samping mempunyai keuntungan, tetapi juga mempunyai kelemahan.[24]
b. Teknik Pengambilan Sampel Aksidental
       Sampel aksidental adalah sampel yang diambil dari siapa saja yang kebetulan ada. Misalnya menanyakan siapa saja dijumpainya di jalan untuk meminta pendapat mereka tentang sesuatu. Karena sampel ini sama tidak representatif. Oleh karena tak mungkin diambil satu kesimpulan yang bersifat generalisasi.[25]
c. Teknik Pengambilan Sampel Quota
         Sampling quota adalah metode memilih sampel yang mempunyai ciri-ciri tertentu dalam jumlah atau quota yang diinginkan. Dalam teknik ini jumlah populasi tidak diperhitungkan, akan tetapi diklasifikasi dalam beberapa kelompok. Sampel diambil dengan memberikan jatah atau quotum tertentu pada setiap kelompok yang seolah-olah berkedudukan masing-masing sebagai sub populasi. Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling. Setelah jatahnya untuk setiap kelompok atau sub populasi terpenuhi, pengumpulan data dihentikan.[26] Metode ini mempunyai keuntungan, tetapi juga mempunyai kelemahan.[27]

III. PENUTUP
            Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian dan sampel adalah wakil populasi yang diteliti.
2. Sampel adalah bagian dari populasi yang sengaja dipilih oleh peneliti untuk diamati, sehingga sampel ukurannya lebih kecil dibandingkan populasi dan berfungsi sebagai wakil dari populasi.
3. Karakteristik populasi merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan di samping kememadaian jumlahnya dalam pengambilan sampel.
4. Sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel jika tidak ada populasi. Populasi dan sampel pada prinsipnya sama dari beberapa sisi aspek kuantitatifnya berbeda, tetapi secara kualitatif harus sama dengan artian bahwa sampel harus representatif mampu mewakiliki populasi yang ada..
5. Dalam penentuan sampel ada empat yang harus dipertimbangkan untuk menentukan besarnya sampel yang diambil, sehinga dapat diperoleh gambaran yang representatif dari populasinya, yaitu: 1) Tingkat keseragaman dari populasi. Semakin homogen populasi ini, semakin kecil sampel yang diambil, 2) Tingkat presisi (ketepatan, ketelitian) yang dihendaki dalam penelitian. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki semakin besar anggota sampel yang harus diambil. Karena semakin besar sampel akan semakin kecil penyimpangan terhadap nilai populasi yang didapat, 3) Rencana analisis dikaitkan dengan kebutuhan untuk analisis. Kadang-kadang besarnya sampel masih belum mencukupi kebutuhan analisis, sehingga mungkin diperlukan sampel yang lebih besar, dan 4) Teknik penentuan sampel yang digunakan. Teknik pengambilan sampel, pada dasarnya ada dua, yaitu: 1) Rancangan sampel probabilitas (probability sampling design), dan 2) Rancangan sampel non probabilitas (non probability sampling design)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Bina Aksara, 1983.
Departemen Agama Pendidikan dan Kebudayaan RI., Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 1995.
Echols, M. John dan Hasan Shadily. Kamus Inggris Indonesia. Cet. XXII; Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1996.
Faisal, Sanapiah. Format Penelitian Sosial. Cet. IV; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999.
Hadi, Sutrisno. Metodologi Research. Jilid I. Cet. X; Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 1980.
Muhajir, Noeng. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi III. Cet. VIII; Yogyakarta: Rakesarasin, 1998.
Nasution, S. Metode Research. (Penelitian Ilmiah). Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Nawawi, Hadari. Metode Penelitian Bidang Sosial. Cet. VIII; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1995.
Nurhayati, Siti. Metode Penelitian Praktis. Pekalongan: Usaha Nasional, 2012.
Sekaran, Uma. Metodelogi Penelitian untuk Bisnis, alih bahasa Kwan Men Yon. Jakarta, Salemba Empat, 1992.
Sukardi. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara, 2004.
Sukmadinata, Nana Syaodih. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011
Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar. Metodologi Penelitian Sosial. Cet. II; Jakarta: Bumi Akasara, 1998.
Warsito, Hermawan. Pengantar Metodologi Penelitian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.



 [1]Sanapiah Faisal, Format Penelitian Sosial (Cet. IV; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), h. 57.
[2]Nana Syaodih Sukmadinata. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), h. 251.
[3]Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi III (Cet. VIII; Yogyakarta: Rakesarasin, 1998), h. 27.
[4]Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial (Cet. VIII; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1995), h. 140.
[5]John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Cet. XXII; Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1996), h. 438.
[6]Departemen Agama Pendidikan dan Kebudayaan RI., Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 1995), h. 782.
[7]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: PT. Bina Aksara, 1983), h. 102.
[8]Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial (Cet. II; Jakarta: Bumi Akasara, 1998), h. 43.
[9]John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, h. 499.
[10]Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid I (Cet. X; Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 1980), h. 75.
[11]Siti Nurhayati, Metode Penelitian Praktis (Pekalongan: Usaha Nasional, 2012), h. 36.
[12]Sukardi. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya (Jakarta: Penerbit Bumi Aksara, 2004), h. 55.
[13]Sanapiah Faisal, Format Penelitian Sosial, h. 71.
[14]Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya, h. 55-56.
[15]Uma Sekaran, Metodelogi Penelitian untuk Bisnis, alih bahasa Kwan Men Yon (Jakarta, Salemba Empat, 1992), h. 42.
[16]Hermawan Warsito, Pengantar Metodologi Penelitian (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992), h. 52.
[17]Sanapiah Faisal, Format Penelitian Sosial, h. 58-59.
[18]S. Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah) (Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 88.
[19]Sanapiah Faisal, Format Penelitian Sosial, h. 64.
[20]Sanapiah Faisal, Format Penelitian Sosial, h. 65.
[21]Sanapiah Faisal, Format Penelitian Sosial, h. 66.
[22]Sanapiah Faisal, Format Penelitian Sosial, h. 67.
[23]Syarat-syaratnya antara lain: a) Pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik tertentu, yang merupakan subyek yang paling banyak mengandung ciri-ciri pokok populasi, b) Subyek yang diambil sebagai sampel benar-benar merupakan subyek yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat pada populasi, c) penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan cermat di dalam studi pendahuluan. Lihat Sanapiah Faisal, Format Penelitian Sosial, h. 113.
[24]Keuntungan sampel semacam ini ialah bahwa sampel itu dipilih sedemikian rupa, sehingga relevan dengan desain penelitian. Selain itu, cara ini relatif mudah dan murah untuk dilaksanakan. Sampel yang dipilih adalah individu yang menurut pertimbangan peneliti dapat didekati. Sedangkan kelemahannya ialah tidak ada jaminan sepenuhnya bahwa sampel tersebut representatif. Kriteria yang digunakan atas pertimbangan penelitian harus didasarkan atas pengetahuan yang mendalam tentang populasi agar dapat dipertanggungjawabkan. Sekalipun demikian, pertimbangan itu tidak bebas dari unsur subyektifitas. Lihat S. Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah), h. 99.
[25]Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, h. 156.
[26]Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, h. 157.
[27]Keuntungan metode ini ialah bahwa melaksanakannya mudah, murah dan cepat. Hasilnya berupa kesan-kesan umum yang masih kasar yang tak dapat dianggap sebagai generalisasi umum. Dalam sampel dapat dengan sengaja dimasukkan orang-orang yang mempunyai ciri-ciri yang diinginkan. Sedangkan kelemahannya adalah ada kecenderungan memilih orang yang mudah didekati, bahkan yang dekat pada si peneliti yang mungkin ada biasnya dan memiliki ciri yang tidak dimiliki populasi dalam keseluruhannya. Ciri-ciri yang dipilih dalam penggolongan sampel tidak berdasarkan ciri-ciri yang esensial dari populasi. Lihat S. Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah), h. 97-98.
Post a Comment