Friday, May 8, 2015

TEKNIK PELAKSANAAN PENELITIAN KUANTITATIF (Aspek Variabel Penelitian, Definisi Operasional dan Instrumen Penelitian)

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penelitian pada dasarnya adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah yang dilakukan dengan menerapkan metode ilmiah. Tujuan dari semua usaha ilmiah adalah untuk menjelaskan, memprediksikan, dan/atau mengontrol fenomena. Tujuan ini didasarkan pada asumsi bahwa semua perilaku dan kejadian adalah beraturan dan bahwa semua akibat mempunyai penyebab yang dapat diketahui. Kemajuan ke arah tujuan ini berhubungan dengan pemerolehan pengetahuan dan pengembangan serta pengujian teori-teori. Eksistensi dari suatu teori yang dapat hidup sangat mempermudah kemajuan ilmu pengetahuan yang secara simultan menjelaskan banyak fenomena. Dibandingkan dengan sumber pengetahuan yang lain, seperti pengalaman, otoritas, penalaran induktif, dan penalaran deduktif, penerapan metode ilmiah tidak diragukan, paling efisien dan paling terpercaya.
           Banyak masalah diasosiasikan dengan pengalaman dan otoritas sebagai sumber pengetahuan yang secara grafis diilustrasikan oleh sebuah cerita tentang Aristoteles. Menurut cerita, suatu hari Aristoles menangkap seekor lalat dan secara hati-hati menghitung dan menghitung kembali kakinya. Kemudian ia mengumumkan bahwa lalat mempunyai lima kaki. Tidak seorangpun meragukan kata-kata Aristoteles. Untuk beberapa tahun penemuannya diterima secara tidak kritis. Karena lalat yang ditangkap Aristoteles telah mengalami kejadian kakinya hilang satu. Apakah Anda percaya atau tidak cerita tersebut, itu telah memberikan ilustrasi keterbatasan bertumpu pada pengalaman seseorang dan otoritas sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Pada kajian ini akan dideskripsikan tentang teknik pelaksanaan penelitian kuantitatif sebagai suatu pendekatan penelitian yang secara primer menggunakan paradigma-paradigma postpositivist dalam mengembangkan ilmu pengetahuan (seperti, pemikiran tentang sebab akibat, reduksi kepada variabel-variabel, hipotesis-hipotesis, dan pertanyaan-pertanyaan spesifik, menggunakan pengukuran dan observasi, dan pengujian teori), menggunakan strategi-strategi penelitian seperti eksperimen dan survei yang memerlukan data statistik.

B. Rumusan Masalah
Dari deskripsi yang dikemukakan pada latar belakang, dikemukakan beberapa permasalahan pokok sebagai berikut:
1.      Bagaimana deskripsi tentang variabel penelitian?
2.      Bagaimana uraian tentang macam-macam variabel penelitian?
3.      Bagaimana kajian tentang macam-macam paradigma penelitian?
4.      Bagaimana ulasan tentang definisi operasional?
5.      Bagaimana penyusunan instrumen penelitian dan pengembangannya?

II. PEMBAHASAN
A. Variabel
     1. Pengertian Variabel Penelitian
Variabel penelitian sangat penting dalam sebuah penelitian, karena variabel bertujuan sebagai landasan mempersiapkan alat dan metode pengumpulan data, dan sebagai alat menguji hipotesis. Itulah sebabnya, sebuah variabel harus dapat diamati dan dapat diukur. Variabel Penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.
Arikunto menyebutkan bahwa variabel penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.[1] Ibnu Hajar mengartikan variabel adalah objek pengamatan atau fenomena yang diteliti.[2] Sementara itu, Sutrisno Hadi menyatakan bahwa variabel adalah semua keadaan, faktor, kondisi, perlakuan, atau tindakan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen.[3] M. Nazir menyebutkan bahwa variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai.[4]
 Variabel adalah gejala atau obyek penelitian yang bervariasi, contoh: 1) variabel jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), 2) variabel profesi (guru, petani, pedagang). Variabel penelitian dapat dipahami sebagai atribut yang mencerminkan pengertian atau bangunan pengertian dan memiliki nilai. Contoh, tinggi badan, kenapa dianggap sebagai variabel?, karena memiliki nilai dan antara satu dan yang lain memiliki tinggi badan yang berbeda. Selengkapnya dapat dilihat dari contoh berikut: Masalah banyaknya kosakata dalam buku pelajaran menyulitkan siswa, maka variabel yang bisa diambil adalah ukuran banyaknya kosakata, dan ukuran kemampuan siswa. Jadi konsep yang menjadi perhatian dalam suatu penelitian, itulah yang menjadi variabel penelitian. Sehingga dapat didefinisikan bahwa variabel adalah objek penelitian yang bervariasi. Hal ini mengakibatkan variabel dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok atau lebih.
      2. Macam-macam Variabel Penelitian
Dalam hubungannya antara satu variabel dengan variabel yang lain, variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi variabel idependen, variabel dependen, variabel moderator, dan variabel kontrol. Variabel-variabel tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut:
a.  Variabel Independen; disebut juga dengan variabel bebas yaitu merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat).
b.   Variabel Dependen; disebut dengan variabel terikat yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
c.   Variabel Moderator; Variabel moderator disebut juga dengan variabel independen kedua yaitu variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen.
d.    Variabel Intervering; variabel yang secara teoritis yang mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur.
e.  Variabel Kontrol; variabel yang dapat dikendalikan sehingga pengaruh variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Umumnya variabel kontrol sering digunakan peneliti untuk jenis penelitian perbandingan. [5]
Pendapat tersebut diperkuat oleh pendapat B. Sandjaja dan Albertus yang membedakan variabel sebagai berikut:
a.   Variabel Bebas; disebut dengan variabel independent yaitu variabel yang diduga sebagai penyebab timbulnya variabel lain dan biasanya variabel ini dimanipulasi, diamati dan diukur untuk mengetahui pengaruhnya terhadap variabel lain.
b.   Variabel Tergantung; variabel dependent merupakan variabel yang timbul karena sebagai akibat langsung dari manipulasi dan pengaruh variabel bebas. Dalam sebuah penelitian variabel tergantung diamati dan diukur untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas.
c.     Variabel Moderator; disebut juga dengan variabel bebas kedua yaitu variabel yang dipilih, diukur, diamati dan dimanipulasi oleh peneliti karena diduga ikut mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung.
d.    Variabel Kontrol; Variabel kontrol yaitu variabel yang dikontrol oleh peneliti untuk menetralkan pengaruhnya terhadap variabel tergantung.
e.  Variabel Antara; atau intervening variabel adalah faktor yang secara teoritik mempengaruhi hubungan variabel bebas dan variabel tergantung. Variabel ini juga dapat diukur dan diamati,namun pengaruhnya dapat disimpulkan dari hubungan yang ada antara variabel bebas dan variabel tergantung.[6]
Budiyono berpendapat lain dilihat dari segi proses kuantifikasi variabel dibedakan menjadi variabel nominal, variabel ordinal, variabel interval, dan variabel ratio.
a.   Variabel Nominal; variabel yang di tetapkan berdasar atas proses penggolongan. Misalnya: jenis kelamin (dipilah dalam pria dan wanita), jenis pekerjaan (dipilah dalam PNS dan swasta) dan lain-lain.
b.   Variabel Ordinal; variabel yang disusun berdasarkan atas jenjang dalam atribut tertentu. misalnya ranking mahasiswa dalam suatu mata kuliah (dipilah dalam ranking tinggi, sedang dan rendah).
c.  Variabel Interval; variabel yang dihasilkan dari suatu pengukuran di mana pengukuran itu di asumsikan terdapat satuan pengukuran yang sama. Sifat yang melekat pada variabel ini yaitu adanya penggolongan, urutan atau ranking dan satuan pengukuran. Misalnya prestasi belajar, penghasilan dan sikap yang dinyatakan dalam skor.
d.  Variabel Ratio; variabel dalam kuantifikasinya terdapat nol mutlak. Sifat variabel ratio yaitu adanya penggolongan, ranking, satuan pengukuran dan nol mutlak.[7]
Lebih lanjut Budiyono menyatakan bahwa menurut fungsinya, variabel dibedakan menjadi variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas sering disebut dengan variabel independen atau variabel penyebab. Variabel terikat dipikirkan sebagai variabel yang keadaannya tergantung (terikat) kepada variabel bebas.[8]
Arikunto membedakan variabel menjadi variabel kuantitatif dan variabel kualitatif. Variabel kuantitatif dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu: menjadi variabel diskrit dan variabel kontinum (discrete and continuous).
a.   Variabel Diskrit; disebut juga variabel nominal atau variabel kategorik karena hanya diategorikan dalam 2 jawaban yang berlawanan yaitu “ya” dan “tidak”.
b.    Variabel Kontinum; dipisahkan dalam 3 variabel kecil yaitu varibel ordinal, interval, dan rasio. [9]
Lebih lanjut Arikunto mengungkapkan bahwa variabel penelitian ditinjau dari sifatnya dibedakan menjadi 2 yaitu:
a.  Variabel Statis; variabel yang tidak dapat dirubah keberadaannya seperti jenis kelamin, tempat tinggal, dan lain-lain.
b.   Variabel Dinamis; variabel yang dapat dirubah keberadaannya, berupa pegubahan, peningkatan, atau penurunan. Misalnya, kedisiplinan, motivasi kepedulian, dan lain-lain.[10]
     3. Macam-macam Paradigma Penelitian
Paradigma mengacu pada model penyelidikan dan alat khusus, instrumen dan prosedur yang diterima secara universal yang digunakan untuk meneliti dalam disiplin keilmuan.[11] Paradigma penelitian memiliki akar filosofis yaitu peneliti secara sadar atau tidak sadar mengikuti paradigma yang membentuk cara berpikirnya kearah pendekatan umum. Artinya sebuah masalah penelitian dapat mengambil berbagai pendekatan sebagaimana ditentukan oleh peneliti. Di dalam paradigma itu sendiri ada pihak-pihak yang berkeberatan terhadap metode tertentu, namun ada juga pihak yang menerima
Denzin dan Lincoln mendefinisikan Paradigm as basic belief systems based on ontological, epistomological, and methodological assumptions. A paradigm may be viewed as a set of basic beliefs (or metaphysics) that deals with ultimates or first principle.[12] (Paradigma merupakan sistem keyakinan dasar berdasarkan asumsi ontologis, epistomologis, dan metodologi. Suatu paradigma dapat dipandang sebagai seperangkat kepercayaan dasar (atau yang berada di balik fisik yaitu metafisik) yang bersifat pokok atau prinsip utama). Sedangkan Guba menyatakan suatu paradigma dapat dicirikan oleh respon terhadap tiga pertanyaan mendasar yaitu pertanyaan ontologi, epistomologi, dan metodologi.[13]
Landasan berpikir pendekatan kuantitatif adalah filsafat positivisme yang pertama kali diperkenalkan oleh Emile Durkhim (1964). Pandangan filsafat positivisme adalah bahwa tindakan-tindakan manusia terwujud dalam gejala-gejala sosial yang disebut fakta-fakta sosial. Fakta-fakta sosial tersebut harus dipelajari secara objektif, yaitu dengan memandangnya sebagai “benda,” seperti benda dalam ilmu pengetahuan alam. Caranya dengan melakukan observasi atau mengamati fakta sosial untuk melihat kecenderungan-kecenderungannya, menghubungkan dengan fakta-fakta sosial lainnya, dengan demikian kecenderungan-kecenderungan suatu fakta sosial tersebut dapat diidentifikasi. Penggunaan data kuantitatif diperlukan dalam analisis yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya demi tercapainya ketepatan data dan ketepatan penggunaan model hubungan variabel bebas dan variabel tergantung.[14]
Pada buku yang lain Suparlan menjelaskan bahwa penelitian kuantitatif memusatkan perhatiannya pada gejala-gejala yang mempunyai karakteristik tertentu dalam kehidupan manusia, yang dinamakan variabel. Hakikat hubungan antara variabel-variabel dianalisis dengan menggunakan teori yang objektif. Karena sasaran kajian dari penelitian kuantitatif adalah gejala-gejala, sedangkan gejala-gejala yang ada dalam kehidupan manusia itu tidak terbatas banyaknya dan tidak terbatas pula kemungkinan-kemungkinan variasi dan hierarkinya, maka juga diperlukan pengetahuan statistik. Statistik dalam penelitian kuantitatif berguna untuk menggolong-golongkan dan menyederhanakan variasi dan hierarki yang ada dengan ketepatan yang dapat diukur, termasuk juga dalam penganalisaan dari data yang telah dikumpulkan.[15]
Dari uraian Suparlan tersebut sudah jelas perbedaan yang fundamental antara penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Agar terdapat gambaran yang lebih rinci perbedaan penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif akan dikemukakan pandangan Cresswell (1994), Denzin & Lincoln (1994), Guba & Lincoln (1994), dan Moustyan (1995) dalam Neuman sebagai berikut.[16]
1.  Quantitative Style (Model Kuantitatif)
a.       Measure objective facts (mengukur fakta yang objektif)
b.      Focus on variabels (terfokus pada variabel-variabel)
c.       Reliability is key (reliabilitas merupakan kunci)
d.      Value free (bersifat bebas nilai)
e.       Independent of context (tidak tergantung pada konteks)
f.        Many cases subjects (terdiri atas kasus atau subjek yang banyak)
g.       Statistical analysis (menggunakan analisis statistik)
h.       Researcher is detached (peneliti tidak terlibat)
2. Qualitative Style (Model Kualitatif)
a.       Construct social reality, cultural meaning (mengonstruksi realitas sosial, makna budaya)
b.   Focus on interactive processes, events (berfokus pada proses interpretasi dan peristiwa-peristiwa)
c.       Authenticity is key (keaslian merupakan kunci)
d.      Values are present and explicit (nilai hadir dan nyata / tidak bebas nilai)
e.       Situationally constrained (terikat pada situasi / terikat pada konteks)
f.        Few cases subjects (terdiri atas beberapa kasus atau subjek)
g.       Thematic analysis (bersifat analisis tematik)
h.       Researcher is involved (peneliti terlibat)
      4. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati yang memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena.[17] Mendefinisikan variabel secara operasional adalah menggambarkan atau mendeskripsikan variabel penelitian sedemikian rupa, sehingga variabel tersebut bersifat spesifik (tidak beinterpretasi ganda) dan terukur (observable atau measurable).
Definisi operasional ditentukan berdasarkan parameter yang dijadikan ukuran dalam penelitian. Sedangkan cara pengukuran adalah cara di mana variabel dapat diukur dan ditentukan karakteristiknya sehingga dalam Definisi Operasional mencakup penjelasan tentang :
1.      Nama variabel
2.      Definisi variabel berdasarkan konsep/maksud penelitian.
3.      Hasil Ukur / Kategori
4.      Skala Pengukuran.
Defenisi operasional adalah mendefenisikan suatu variabel yang akan diamati dalam proses dengan mana variabel itu akan diukur.[18] Defenisi operasional adalah mengubah konsep-konsep yang berupa konstruk dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati, dan dapat diuji dan ditentukan kebenarannya oleh orang lain.[19]
Operasionalisasi variabel merupakan proses mengubah definisi nominal menjadi definisi operasional. Misalnya definisi nominal dari disiplin adalah "tingkat kepatuhan seseorang kepada aturan-aturan yang dikeluarkan oleh organisasi". Definisi operasionalnya: Masuk pukul 07.00 dan pulang pukul 14.00, setiap tanggal 17 mengikuti apel, tidak merokok di tempat yang ada larangan merokok, meminta ijin kepada yang berwenang jika meninggalkan kantor pada saat jam kerja, dan lain sebagainya. Definisi operasional tidak boleh mempunyai makna yang berbeda dengan definisi nominal. Oleh karena itu, sebelum menyusun defenisi operasional, peneliti harus membuat definisi nominal terlebih dahulu variabel penelitiannya. Definisi nominal dari variabel penelitian seharusnya secara eksplisit telah dinyatakan dalam kerangka pemikiran. Definisi nominal dapat diangkat dari berbagai pendapat para akhli yang memang banyak membicarakan, menulis tentang variabel yang ditelitinya. Kalau variabelnya adalah "Peran Kepala Desa", maka peneliti harus mempelajari konsep "peran Kepala Desa". Apa itu peran?. Peneliti tidak bisa hanya mengutip satu atau dua pendapat saja. Makin banyak pendapat para akhli yang dikutip, makin besar kemungkinan kebenaran makna definisi nominal variabel penelitiannya. Untuk memudahkan, langkah awal yang bisa diambil guna menyusun definisi nominal variabel penelitian adalah melihat kamus umum. Kalau variabel tersebut berasal dari kata asing, misalnya dari bahasa Inggris, maka kamus bahasa Inggris yang dipakai. Baru setelah itu mencari dari buku-buku khusus yang membahas konsep atau variabel penelitiannya. Jika buku yang dibacanya cukup tebal sehingga sulit menemukan kata yang dicarinya, manfaatkan indeks yang ada di buku tersebut. Melalui indeks, peneliti dapat dengan mudah menemukan nomor halaman di mana kata yang dimaksudkan dibahas.[20]

B. Instrumen Penelitian dan Pengembangannya
Instrumen memegang peranan penting dalam suatu penelitian. Mutu penelitian sangat dipengaruhi oleh instrumen penelitian yang digunakan, karena kevalidan dan kesahihan data yang diperoleh dalam suatu penelitian dsangat ditentukan oleh tepat tidaknya dalam memilih instrumen penelitian. Instrumen atau alat pengumpul data adalah suatu alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Data tersebut dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian.
Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian kita dapat menggunakan instrumen yang telah tersedia dan dapat pula menggunakan instrumen yang dibuat sendiri. Penggunaan instrumen yang telah tersedia adalah instrumen yang sudah ditetapkan atau dibakukan untuk mengumpulkan data variabel penelitian yang telah ditentukan. Akan tetapi jika istrumen baku belum tersedia untuk variabel tertentu dalam penelitian tersebut maka peneliti dapat menyusun sendiri instrumen yang yang akan digunakan oleh peneliti dalam melakukan penelitian.
Suryabrata mendefisikan instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk merekam yang pada umumnya secara kuantitatif.[21] Arikunto mendefinisikan bahwa instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.[22] Sedangkan Ibnu Hajar menyebutkan bahwa instrumen penelitian adalah merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif tentang variabel yang karakteristik dan objektif.[23]
Dari uraian beberapa pakar di atas, dapat penulis mengambil suatu generalisasi bahwa instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalam sebuah research untuk mengumpulkan aneka ragam informasi yang diolah secara kuantitatif dan disusun secara sistematis.
Instrumen yang dipergunakan dalam upaya pengumpulan data suatu penelitian itu harus memperhatikan validitas dan reliabelitas, karena sesungguhnya data yang baik adalah data yang valid dan reliable. Menurut Sukidin, dkk (2010:100) berpendapat bahwa instrumen valid adalah instrumen yang mampu mengukur apa yang seharusnya diukur misalnya bahwa penggaris adalah alat yang valid untuk mengukur panjang, bukan untuk mengukur berat. Sedangkan instrumen reliable adalah instrumen yang konsisten (tepat/akurat) dalam mengukur yang seharusnya diukur.[24]
Sutrisno Hadi menyebutkan bahwa yang menjadi instrumen yang valid itu memenuhi persyaratan sebagai berikut : (1) pengukuran dengan alat pengukur yang lain sebagi prediktor, (2) adanya standisasi group tertentu untuk mengadakan observasi sebagai sebuah kriterium, (3) diselidiki ada atau tidaknya kecocokan antara hasil prediktor dengan hasil kriterium.[25]
Setyosari berpendapat bahwa validitas terbagi menjadi 2 (dua) yaitu : (1) validitas logis, yakni diperoleh dengan usaha yang sangat hati-hati sehingga secara logika instrumen itu dicapai menurut validitas yang dikehendaki, (2) validitas empiris, yaitu validitas yang diperoleh berdasarkan pengalaman.[26]
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat dikatakan bahwa di dalam penyusunan instrumen penelitian suatu penelitian, data yang dihasilkan nanti harus mempunyai kebenaran yang dapat diukur serta mempunyai konsistensi kebenaran terhadap suatu objek. Hal ini dimaksudkan supaya ada relevansi antara hipotesis dan kenyataan yang diperoleh melalui pengalaman secara optimal yang dengannya kesahihan penelitian dapat diterima secara logis oleh akal.
Menyusun instrumen penelitian penelitian dilakukan setelah peneliti memahami betul apa yang menjadi variabel penelitian. Pemahaman peneliti terhadap variabel dan hubungan antar variabel akan mempermudah peneliti dalam menentukan dan menyusun intrumen penelitian yang akan digunakan. Setelah memahami variabel peneliti dapat menyusun instrumen untuk dapat menjabarkan kedalam bentuk sub variabel, indikator, deskriptor dan butir-butir pertanyaan dan angket dalam daftar cocok atau pedoman observasi. Dengan demikian maka instrumen penelitan menjadi hal penting untuk menjaga agar penelitian yang dilakukan tersebut bermutu dan berkualitas.

III. PENUTUP
Dari kajian yang dikemukakan, dapat dikemukakan beberapa poin penting sebagai kesimpulan, yaitu:
1.   Variabel Penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.
2.   Variabel dapat dibedakan dari aspek hubungan antara variabel, proses kuantifikasi variabel, fungsi, dan sifat variabel.
3.      Pada penelitian model kuantitatif, dilihat dari: 1) mengukur fakta yang objektif, 2) Terfokus pada variabel-variabel, 3) Reliabilitas merupakan kunci, 4) Bersifat bebas nilai, 5) Tidak tergantung pada konteks, 6) Terdiri atas kasus atau subjek yang banyak, 7) Menggunakan analisis statistik, dan 8) Peneliti tidak terlibat. Sedangkan pada model Kualitatif, dilihat dari: 1) Mengonstruksi realitas sosial, makna budaya, 2) Berfokus pada proses interpretasi dan peristiwa-peristiwa, 3) Keaslian merupakan kunci, 4) Nilai hadir dan nyata / tidak bebas nilai, 5) Terikat pada situasi / terikat pada konteks, 6) Terdiri atas beberapa kasus atau subjek, 7) Bersifat analisis tematik, dan 8) Peneliti terlibat.
4.   Definisi operasional mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati yang memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena, sehingga variabel tersebut bersifat spesifik (tidak beinterpretasi ganda) dan terukur (observable atau measurable).
5. Instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalam sebuah research untuk mengumpulkan aneka ragam informasi yang diolah secara kuantitatif dan disusun secara sistematis.


DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta, 2000.
____________. Metode Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Budiyono. Metode Penelitian Pendidikan. Surakarta: Sebelas Maret University Press, 2003.
Denzin dan Lincoln. ed. Hand Book of Qualitative Research. London: Sage Publication Thousand Oaks, 1994.
Guba, Egon. The Paradigm of Dialog. London: Sage Publication Thousand Oaks, 1990.
Hadi, Sutrisno. Metodologi Research. Yogyakarta : Andi Offset, 1994.
Hajar, Ibnu. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan. Jakarta: Grafindo Persada, 1999.
Hidayat, A. Alimul. Metode Penelitian Kebidanan Dan Tehnik Analisis Data. Surabaya: Salemba, 2007.
Jewel, L.N. dan Siegel Marc, Psikologi Industri/Organisasi Modern, diterjemahkan oleh A. Hadyana Pudjaatmaka dan Maetasari. Jakarta: Archan, 1998.
Koentrjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002.
Mustafa, Hasan. Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta: Ghalia Indonesia. 1997.
Nasir, Moh. Metode Penelitian. Cet. IV; Jakarta: Ghalia Indonesia, 2005.
Neuman, W.L. Social Research Methods; Qualitative and Quantitative Approaches. Boston: Pearson Education Inc, 1997.
Sandjaja, B. dan Albertus. Panduan Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustaka Raya, 2006.
Setyosari, Punaji. Metode Penelitian Pendidikan Dalam Pengembangan. Jakarta : Prenada Media Group, 2012.
Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfa Beta, 2012.
Suhartono, Suparlan. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Ujung Pandang: Unhas, 1997.
____________. Konsep Dasar Filsafat Ilmu Pengetahuan. Ujung Pandang: Program Pascasarjana UNHAS, 1997.
Sukidin. dkk., Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Insan Cendekia, 2010.
Suryabrata, Sumadi. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2008.
Wang, Peiling. “Methodologies and Methods for User Behavioral Research.” pada jurnal Annual Review of Information Science and Technology. ARIST), vol. 34, 1999.



[1]Suharsimi Arikunto, Metode Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 99.
[2]Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan (Jakarta: Grafindo Persada, 1999), h. 156.
[3]Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogyakarta: Andi Offset, 2004), h. 137.
[4]Moh. Nasir, Metode Penelitian (Cet. IV; Jakarta: Ghalia Indonesia, 2005), h. 149.
[5]Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfa Beta, 2012), h. 39.
[6]B. Sandjaja dan Albertus. Panduan Penelitian (Jakarta: Prestasi Pustaka Raya, 2006), h. 84.
[7]Budiyono. Metode Penelitian Pendidikan (Surakarta: Sebelas Maret University Press, 2003), h. 27.
[8]Budiyono. Metode Penelitian Pendidikan, h. 29.
[9]Suharsimi Arikunto, Metode Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik, h. 116.
[10]Suharsimi Arikunto, Metode Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik, h. 123.
[11]Peiling Wang, “Methodologies and Methods for User Behavioral Research.” pada jurnal Annual Review of Information Science and Technology (ARIST), vol. 34, 1999), h. 56.
[12]Denzin dan Lincoln (ed.), Hand Book of Qualitative Research (London: Sage Publication Thousand Oaks, 1994), h. 107.
[13]Egon Guba, The Paradigm of Dialog (London: Sage Publication Thousand Oaks, 1990), h. 18.
[14]Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Ujung Pandang: Unhas, 1997), h. 95.
[15]Suparlan Suhartono, Konsep Dasar Filsafat Ilmu Pengetahuan (Ujung Pandang: Program Pascasarjana UNHAS, 1997), h. 6-7
[16]W.L. Neuman, Social Research Methods; Qualitative and Quantitative Approaches (Boston: Pearson Education Inc, 1997), h. 14.
[17]A. Alimul Hidayat, Metode Penelitian Kebidanan Dan Tehnik Analisis Data (Surabaya: Salemba, 2007), h. 73.
[18]L.N. Jewel dan Siegel Marc, Psikologi Industri/Organisasi Modern, diterjemahkan oleh A. Hadyana Pudjaatmaka dan Maetasari (Jakarta: Archan, 1998), h. 27.
[19]Koentrjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), h. 23.
[20]Hasan Mustafa. Metodologi Penelitian dan Aplikasinya (Jakarta: Ghalia Indonesia. 1997), h. 61.
[21]Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2008), h. 52.
[22]Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta : Rineka Cipta, 2000), h. 134.
[23]Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan, h. 160.
[24]Sukidin, dkk., Manajemen Penelitian Tindakan Kelas (Jakarta : Insan Cendekia, 2010), h. 100.
[25]Sutrisno Hadi, Metodologi Research, h. 123.
[26]Punaji Setyosari, Metode Penelitian Pendidikan Dalam Pengembangan (Jakarta : Prenada Media Group, 2012), h. 205.
Post a Comment