Wednesday, March 26, 2014

Bahan Ajarku: MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

BAHAN AJAR 
MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

DIKLAT  TEKNIS FUNGSIONAL PENINGKATAN KOMPETENSI GURU PERTAMA 
DI BALAI DIKLAT KEAGAMAAN MAKASSAR

A.  Deskripsi Singkat
Mata pendidikan dan pelatihan (mata diklat) ini menjelaskan konsep pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi serta teknik presentasi dengan menggunakan Microsoft Powerpoint.
B.  Indikator
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan konsep dasar pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi dan mengimplementasikan teknik presentasi dalam pembelajaran dengan menggunakan Microsoft Powerpoint.
C.  Pokok Bahasan
1.  Konsep Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi
2.  Teknik Persentasi dengan Menggunakan Microsoft Powerpoint

D.  Materi
1. Konsep Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi  
a. Konsep Dasar
Pelaksanaan pembelajaran merupakan hasil integrasi dari beberapa komponen yang memiliki fungsi tersendiri dengan maksud agar ketercapaian tujuan pembelajaran dapat terpenuhi. Ciri utama dari kegiatan pembelajaran adalah adanya interaksi. Interaksi yang terjadi antara peserta didik dengan lingkungan belajarnya, baik itu dengan guru, teman-temannya, alat, media pembelajaran dan atau sumber-sumber belajar yang lain. Sedangkan ciri-ciri lain dari pembelajaran ini berkaitan dengan komponen-komponen pembelajaran itu sendiri seperti tujuan, bahan/materi, strategi, media dan evaluasi pembelajaran.
Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang demikian pesat membawa perubahan pada bergesernya peranan guru sebagai penyampai pesan atau materi pelajaran. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran. Peserta didik dapat memperoleh informasi dari berbagai media dan sumber belajar seperti dari majalah, modul, siaran radio pembelajaran, televisi edukasi, dan media komputer atau yang lebih dikenal dengan pembelajaran berbasis komputer (PBK). PBK ini bisa digunakan dengan model drill, tutorial, simulasi maupun games instruction dan internet untuk mencari bahan pelajaran atau menggunakannya sebagai sistem pembelajaran seperti pembelajaran berbasis komputer atau e-learning.
Teknologi Informasi dan Komunikasi terdiri dari dua aspek, yaitu: teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Masing-masing dari aspek tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Pusat kurikulum Diknas, memiliki definisi teknologi informasi sebagai berikut: segala hal yang berkaitan dengan proses penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah: segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu, untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke perangkat lainnya. Penggabungan dari dua aspek di atas menyimpulkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi adalah: suatu padanan yang tidak terpisahkan, yang mengandung pengertian luas, yaitu tentang segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar media.
Penggunaan komputer dalam pembelajaran memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran secara individual (individual learning) dengan menumbuhkan kemandirian dalam proses belajar, sehingga peserta didik akan mengalami proses yang jauh lebih bermakna dibandingkan pembelajaran konvensional. Adapun manfaat komputer untuk tujuan pendidikan adalah:
1. Komputer dapat mengakomodasi peserta didik yang lamban menerima pelajaran karena ia dapat memberikan iklim yang lebih bersifat afektif dengan cara yang lebih individual, tidak pernah lupa, tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi seperti yang diinginkan program yang digunakan.
2. Komputer dapat merangsang peserta didik untuk mengerjakan latihan, melakukan kegiatan laboratorium atau simulasi karena tersedianya animasi grafis, warna, dan musik yang dapat menambah realisme.
3.  Kendali di tangan siswa sehingga tingkat kecepatan belajar siswa dapat disesuaikan dengan tingkat penguasaannya.
4.  Kemampuan merekam aktivitas siswa selama menggunakan program pembelajaran, memberi kesempatan lebih baik untuk pembelajaran secara perorangan dan perkembangan setiap siswa selalu dapat dipantau.
5.  Dapat berhubungan dengan, dan mengendalikan peralatan lain seperti CD interaktif, dan lain-lain dengan program pengendali dan komputer.
Peranan komputer sebagai media pembelajaran adalah menjadi sumber utama (major resource) dalam mengimplementasikan program pembelajaran di sekolah. Melalui komputer, peserta didik dapat menjalankan aplikasi program yang didukung juga dengan fasilitas penunjang seperti internet.
Internet (interconected computer network) merupakan perpustakaan raksasa dunia yang didalamnya terdapat miliaran informasi atau data yang dapat berupa teks, grafik, audio, animasi dan digital konten lainnya. Dari segi komunikasi, internet merupakan sarana yang sangat efektif dan efisien dalam melakukan pertukaran informasi jarak jauh. Kelebihan internet dalam akses global itulah yang menjadikannya memiliki peranan tersendiri karena dapat menfasilitasi beragam sumber belajar yang dibutuhkan peserta didik.
   b. Integrasi TIK dalam Pembelajaran
Bandingkan dua kalimat berikut! ”Learning to Use ICTs vs Using ICTs to Learn”. Secara sederhana, mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran sama maknanya dengan menggunakan TIK untuk belajar (using ICTs to learn) sebagai lawan dari belajar menggunakan TIK (learning to use ICTs). Belajar menggunakan TIK mengandung makna bahwa TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran.
Sebenarnya, UNESCO mengklasifikasikan tahap penggunaan TIK dalam pembelajaran ke dalam empat tahap sebagai berikut: 1) Tahap emerging, baru menyadari akan pentingnya TIK untuk pembelajaran dan belum berupaya untuk menerapkannya, 2) Tahap applying, satu langkah lebih maju dimana TIK telah dijadikan sebagai obyek untuk dipelajari (mata pelajaran), 3) Tahap integrating, TIK telah diintegrasikan ke dalam kurikulum (pembelajaran), 4) Tahap transforming merupakan tahap yang paling ideal dimana TIK telah menjadi katalis bagi perubahan/evolusi pendidikan. TIK diaplikasikan secara penuh baik untuk proses pembelajaran (instructional purpose) maupun untuk administrasi (administrational purpose).
Apa yang terjadi dalam praktek pembelajaran di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, TIK masih dijadikan sebagai obyek atau mata pelajaran. Sebagian besar, TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran di sekolah-sekolah. Bahkan di tingkat perpendidikan tinggi atau akademi, banyak dibuka program studi yang berkaitan dengan TIK, seperti teknik informatika, manajemen informatika, teknik komputer, dan lain-lain.
Fryer (2001) mengatakan bahwa penggunaan TIK dalam pembelajaran bertujuan untuk melatih keterampilan menggunakan TIK dengan cara mengintegrasikannya ke dalam aktifitas pembelajaran, bukan mengajarkan TIK tersebut sebagai mata pelajaran yang terpisah. Jadi, sudah saatnya TIK diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran dan bukan hanya sekedar menjadi mata pelajaran yang terpisah.
Dengan mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia untuk siap memasuki era masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Tahun 2020 Indonesia akan memasuki era perdagangan bebas (AFTA). Pada masa itu, masyarakat Indonesia harus memiliki ICT literacy yang mumpuni dan kemampuan menggunakannya untuk meningkatkan produktifitas (knowledge-based society). Pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan ICT literacy, membangun karakteristik masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society) pada diri peserta didik, di samping dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran itu sendiri.
UNESCO (2002) menyatakan bahwa pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran memiliki tiga tujuan utama: 1) Untuk membangun ”knowledge-based society habits” seperti kemampuan memecahkan masalah (problem solving), kemampuan berkomunikasi, kemampuan mencari, mengoleh/mengelola informasi, mengubahnya menjadi pengetahuan baru dan mengkomunikasikannya kepada orang lain; 2) Untuk mengembangkan keterampilan menggunakan TIK (ICT literacy); dan 3) Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran.
Dari sisi pendekatan, Fryer (2001) menyarankan dua pendekatan yang dapat dilakukan pendidik ketika merencanakan pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, yaitu: 1) pendekatan topik (theme-centered approach); dan 2) pendekatan software (software-centered approach).
1. Pendekatan Topik (Theme-Centered Approach); Pada pendekatan ini, topik atau satuan pembelajaran dijadikan sebagai acuan. Secara sederhana langkah yang dilakukan adalah: 1) menentukan topik; 2) menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; dan 3) menentukan aktifitas pembelajaran dan software (seperti modul. LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, dll) yang relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Rencana pembelajaran yang dicontohkan di atas merupakan salah satu contoh penggunaan pendekatan ini.
2. Pendekatan Software (Software-centered Approach); menganut langkah yang sebaliknya. Langkah pertama dimulai dengan mengidentifikasi software (seperti bku, modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, dll) yang ada atau dimiliki terlebih dahulu. Kemudian menyesuaikan dengan topik dan tujuan pembelajaran yang relevan dengan software yang ada tersebut. Sebagai contoh, karena di sekolah hanya ada beberapa VCD atau mungkin CD-ROM tertentu yang relevan untuk suatu topik tertentu, maka pendidik merencanakan pengintegrasian software tersebut untuk mengajar hanya topik tertentu tersebut. Topik yang lainnya terpaksa dilaksanakan dengan cara konvensional. Sedangkan dari sisi strategi pembelajaran, ada beberapa pendekatan yang disarankan untuk membangun keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik, diantaranya adalah: 1) Resource-based learning; 2) Case-based learning; 3) Problem-based learning; 4) Simulation-based learning; dan 5) Collaborative-based learning (http://www. microlessons. com).
a) Resources-based learning memiliki karakteristik dimana peserta didik diberikan/disediakan berbagai ragam dan jenis bahan belajar baik cetak (buku, modul, LKS, dll) maupun non cetak (CD/DVD, CD-ROM, bahan belajar online) atau sumber belajar lain (orang, alat, dll) yang relevan untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Kemudain peserta didik diberikan tugas untuk melakukan aktifitas belajar tertentu dimana semua sumber belajar yang mereka butuhkan telah disediakan. Sebagai contoh, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai adalah peserta didik dapat membandingkan beberapa teori penciptaan alam semesta. Untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran tersebut, pendidik telah mengidentifikasi dan menyiapkan berbagai bentuk dan jenis sumber belajar yang berisi informasi tentang teori penciptaan alam semesta berupa buku, VCD, CD-ROM, alamat situs di internet dan mungkin seorang narasumber ahli astronomi yang diundang khusus ke kelas. Kemudian peserta didik ditugaskan untuk mencari minimal dua teori tentang penciptaan alam semesta secara individu atau kelompok baik dari buku, VCD, maupun internet sesuai dengan seleranya. Peserta didik juga diminta untuk menganalisis perbedaan dari berbagai segi tentang teori-teori tersebut dan membuat laporannya dalam MSWord yang kemudian dikirim ke pendidik dan teman lainnya melalui e-mail.
b)  Case-based learning memiliki karakteristik di mana peserta didik diberikan suatu permasalahan terstruktur untuk dipecahkan. Dengan case-based learning solusi pemecahan masalahnya sudah tertentu karena skenario sudah dibuat dengan jelas.
c)   Problem-based learning memiliki kemungkinan solusi pemecahan masalahnya akan berbeda. Misal, dua orang peserta didik diberikan satu permasalahan dengan pendekatan problem-based learning. Maka solusi yang diberikan oleh peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain mungkin berbeda.
d)  Simulation-based learning memiliki karakteristik dimana peserta didik diminta untuk mengalami suatu peristiwa yang sedang dipelajarinya. Sebagai contoh, peserta didik diharapkan dapat membedakan perubahan percampuran warna-warna dasar. Maka, melalui suatu software tertentu (misal virtual lab) peserta didik dapat melakukan berbagai percampuran warna dan melihat perubahan-perubahannya. Dan ia dapat mencatat laporannya dalam bentuk tabel dengan menggunakan MSExcell atau MSWord. Atau kalau perlu mempresentasikan hasilnya dengan menggunakan MSPowerpoint.
e) Colaborative-based learning memiliki karakteristik dimana peserta didik dibagi kedalam beberapa kelompok, melakukan tugas yang berbeda untuk menghasilkan satu tujuan yang sama. Sebagai contoh, untuk mencapai tujuan pembelajaran dimana peserta didik dapat membedakan beberapa teori penciptaan alam semesta, peserta didik dibagi ke dalam tiga kelompok. Masing-masing kelompok ditugas kan mencari satu teori penciptaan alam semesta. Kemudian ketiga kelompok tersebut berkumpul kembali untuk mendiskusikan perbedaan teori tersebut dari berbagai segi dan membuat laporannya secara kolektif. Salah seorang peserta didik dapat ditunjuk untuk menyajikan hasilnya.
Sementara itu bentuk-bentuk pemanfaatan komputer oleh peserta didik dalam pembelajaran antara lain:
1.  Membuat naskah draft dan akhir laporan percobaan,
2.  Mengarang cerita dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris,
3.  Membuat Powerpoint hasil diskusi,
4.  Memberi ilustrasi pada karangan,
5. Membuat iklan yang disertai dengan gambarnya dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia,
6.  Mencari sumber informasi dari internet, mengevaluasi, mengolah, dan mempublikasikan,
7. Mencari berita (straight news) atau ulasan suatu isu dari berbagai laman dan meneliti perbedaan dan persamaan sudut pandang,
8.  Membuat blog dan menuliskan pendapat pribadi tentang berbagai isu,
9. Memanfaatkan facebook untuk berinteraksi antar teman mempraktikan Penggunaan bahasa indonesia formal dan informal,
10. Berkirim surat secara elektronik (e-mail) pada guru untuk praktik menulis surat resmi,
11. Memanfaatkan facebook untuk berinteraksi dengan kawan pena internasional / nasional menggunakan Bahasa Inggris sederhana,
12. Membuat surat elektronik pada guru atau teman untuk praktik berkirim atau membuat surat atau pengumuman dengan menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia,
13.Membuat teka teki Matematika atau soal bercerita dan diupload untuk mengajak teman-teman mencari jawabannya,
14. Membuat grafik yang menunjukkan macam-macam hobi teman sekelas,
15. Mencari dan mengolah informasi tentang keunggulan suatu daerah di Indonesia dan membuat brosur untuk mempromosikan daerah tersebut,
16. Dan lain-lain.
Sedangkan dalam aspek hubungan antara pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran dengan modus belajar, yang dikembangkan Horton (2000) yaitu:
1. Mendengarkan; Presentasi, video/audio conference.
2. Membaca; Browsing Internet, buku on-line, perpustakaan digital.
3. Memperhatikan; Presentasi, menonton film.
4. Mencari saran; Mailing list, e-mail, chatting, video/audio conference, on-line mentoring.
5. Menyimak; diskusi on-line
6. Menerima kritik; Diskusi on-line, video/audio conference, mailing list, on-line mentoring.
7. Memodelkan; Simulasi, game on-line, kegiatan role-playing on-line.
8. Eksplorasi; Eksperimen virtual, simulasi.
9. Mendiskusikan ide; Mailing list, video/audio conference, chatting, diskusi on-line.
10. Mempraktekkan; Eksperimen virtual, test on-line, game pembelajaran, editing.
11. Meneliti; Tutorial on-line, perpustakaan digital.
Pada akhirnya, komputer menawarkan fleksibilitas, kreativitas, efektivitas, efisiensi, dan interaksi serta perpustakaan yang tak dibatasi dinding. Dalam pelajaran mengarang, misalnya, kegiatan merevisi dan mengedit draft karangan bisa dilakukan dengan mudah karena draft menjadi barang yang mudah diubah. Kemudahan itu akan memberi ruang tanpa batas bagi kreativitas siswa dalam menyusun alur cerita, menata kalimat, memilih kata yang paling tepat seperti yang dia inginkan.
Komputer juga memungkinkan kerja kreatif tersebut dilakukan dengan jauh lebih cepat (efisien) dibandingkan kalau hal tersebut dilakukan tanpa menggunakan komputer. Jika guru juga memanfaatkan internet, maka siswa bisa memanfaatkan komputer sebagai sarana mendapatkan informasi dan berinteraksi dengan orang lain untuk hal-hal yang bermanfaat.
   2. Teknik Presentasi dengan Menggunakan Microsoft Powerpoint 2013
       a. Konsep Dasar
Sebenarnya, hampir semua jenis media pada dasarnya dibuat untuk disajikan atau dipresentasikan kepada sasaran. Yang membedakan antara media presentasi dengan media pada umumnya adalah bahwa pada media presentasi pesan/materi yang akan disampaikan dikemas dalam sebuah program komputer dan disajikan melalui perangkat alat saji (proyektor). Pesan/ materi yang dikemas bisa berupa teks, gambar, animasi dan video yang dikombinasi dalam satu kesatuan yang utuh. 
Pada dasarnya media presentasi yang menggunakan program komputer ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari media transparansi yang disajikan melalui OHP. Berbeda dengan transparansi OHP tidak bisa menampilkan unsur audio visual, maka media presentasi dengan program komputer ini, kita bisa menampilkan unsur audio-visual dalam pembelajaran.
Berkat keefektifannya dalam menyajikan pesan, maka saat ini media presentasi banyak diaplikasikan untuk keperluan pendidikan dan pembelajaran. Tentu saja ini bukan berarti bahwa media presentasi merupakan media yang paling cocok untuk semua materi dan topik pembelajaran.
Kelebihan media presentasi:
1. Dapat menyajikan teks, gambar, foto, animasi, audio dan video sehingga lebih menarik
2. Dapat menjangkau kelompok banyak
3. Tempo dan cara penyajian bisa disesuaikan
4. Penyajiannya masih bisa bertatap muka
5. Dapat digunakan secara berulang-ulang
Kelemahan media presentasi:
1. Ketergantungan arus listrik sangat tinggi
2. Media pendukungnya harganya relatif mahal karena harus ada Komputer dan LCD
3. Penggunaan media ini sangat tergantung pada penyaji materi.
4. Masih sangat terbatas guru yang mampu membuat media presentasi
Saat ini pengembangan dan penggunaan program presentasi multimedia telah berkembang pesat. Banyak jenis perangkat lunak (software) yang dapat digunakan untuk membuat media presentasi. Jenis software aplikasi yang sifatnya open source misalnya: Program Impress yang ada pada OpenOffice. Selain itu, banyak pula jenis software aplikasi yang harus membeli (tidak gratis), misalnya: Program Visual Basic, Macromedia Flash, Director, Authorware, Dream Weaver, dan masih banyak lagi.
Di antara sekian banyak jenis software tersebut, salah satunya yang biasa digunakan di kalangan pendidik (khususnya guru) adalah Microsoft Powerpoint yang dikeluarkan oleh perusahan software Microsoft. Mungkin kita juga telah terbiasa menggunakan program Microsoft PowerPoint untuk membuat media presentasi. Program ini cukup populer karena sebagian besar komputer yang ada di sekolah sudah diinstal Microsoft Office (yang salah satunya memuat aplikasi PowerPoint) sehingga kita tinggal menggunakannya.
     b. Prinsip-Prinsip Pengembangkan Presentasi untuk Pembelajaran
Pengembangan media presentasi harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan media pembelajaran. Beberapa prinsip berikut perlu Anda pertimbangkan ketika akan mengembangkan media presentasi.
1.  Harus dikembangkan sesuai dengan prosedur pengembangan instruksional, karena pada dasarnya media presentasi yang kita bahas di bahan ajar ini adalah untuk keperluan pembelajaran. Jika kita tidak menerapkan prinsip ini, maka bahan presentasi yang kita hasilkan akan menjadi tidak efetif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Atau malah mirip seperti bahan presentasi untuk informasi pada umumnya.
2.  Harus diingat bahwa media presentasi berfungsi sebagai alat bantu mengajar, bukan merupakan media pembelajaran yang akan dipelajari secara mandiri oleh sasaran. Media presentasi kurang cocok digunakan sebagai bahan belajar yang bersifat pengayaan. Ini berbeda dengan program multimedia interaktif. Oleh karena itu pesan-pesan yang disajikan dalam media presentasi sebaiknya dibuat secara garis besar dan tidak detail, sebab penjelasan secara detail akan disajikan oleh penyajinya atau guru.
3. Pengembang media presentasi seyogyanya mempertimbangkan atau menggunakan secara maksimal segala potensi dan karakteristik yang dimiliki oleh jenis media presentasi ini. Unsur-unsur yang perlu didayagunakan pada pembuatan media presentasi ini antara lain memiliki kemampuan untuk menampilkan teks, gambar, animasi, dan unsur audio-visual. Sedapat mungkin unsur-unsur tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam pembuatan media presentasi yang akan dibuat.
4.  Prinsip kebenaran materi dan kemenarikan sajian. Materi yang disajikan harus benar substansinya dan disajikan secara menarik pula.
Kegiatan yang kita lakukan pada saat menulis naskah media presentasi adalah menguraikan pokok-pokok materi sesuai tujuan yang telah dirumuskan. Agar materi tersebut dapat dituangkan ke dalam media presentasi dengan baik, maka berikut ini ada beberapa teknik atau rambu-rambu yang perlu kita perhatikan, antara lain:
1.  Tentukan topik sesuai dengan materi yang akan di sampaikan
2.  Siapkan materi yang sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan
3. Identifikasi bahan-bahan materi tersebut untuk diseleksi mana yang sesuai dengan karakteristik media presentasi. Ingat tidak semua materi tersebut cocok untuk dituangkan melalui media presentasi.
4. Tulis materi yang telah dipilih dalam kalimat yang singkat dan hanya memuat poin-poin penting saja. Penulisan penjelasan yang panjang lebar sangat tidak dianjurkan dalam penulisan naskah media presentasi.
5. Tuangkan pesan-pesan yang disajikan dalam berbagai format seperti; teks (kata-kata), gambar, animasi atau audio-visual.  
6.  Pastikan bahwa materi yang ditulis telah cukup lengkap, jelas dan mudah dipahami oleh sasaran.
7. Sajikan isi materi secara urut dan sistematis agar pesan yang disampaikan akan lebih mudah dipahami user.
 c. Beberapa Tips Pembuatan Presentasi
Sebelum membuat media presentasi menggunakan komputer, biasakan untuk membuat naskahnya terlebih dahulu (secara manual). Naskah tersebut merupakan draft atau rancangan, yang selanjutnya dapat Anda gunakan dalam pembuatan media presentasi dengan program PowerPoint. Dengan dibuatnya naskah tersebut, maka ketika kita ingin memproduksi dengan komputer, kita sudah tidak lagi memikirkan sistematika materinya dan akan terhindar dari kesalahan materi.
Ada beberapa tips yang perlu kita perhatikan pada saat membuat/memproduksi naskah menjadi media presentasi dengan menggunakan PowerPoint, yaitu sebagai berikut: 
1.  Pilih jenis huruf (font) yang tingkat keterbacaannya tinggi, misalnya Arial, Verdana, atau Tahoma. Gunakan ukuran huruf (font size) 17- 20 untuk isi teks, sedang untuk sub judul 24 dan untuk judul 26.
2.  Untuk memperjelas dan memperindah tampilan, gunakan variasi warna, gambar, foto, animasi atau video.
3.   Area tampilan frame yang ditulis jangan melebihi ukuran 16x20 cm
4.   Usahakan dalam satu slide/frame tidak memuat lebih dari 18 baris teks.
5.   Dalam satu frame usahakan hanya berisi satu topik atau sub topik pembahasan
6.   Beri judul pada setiap frame atau tampilan
7.  Perhatikan komposisi warna, keseimbangan (tata letak), keharmonisan, dan kekontrasan pada setiap tampilan sangat penting untuk media presentasi.
8.  Variasi warna memang diperlukan, tetapi harus juga diperhatikan prinsip kesederhanaan. Artimya dalam membuat media presentasi jangan membuat tampilan yang terlalu rumit, rame dan penuh warna-warni, karena hal itu justru akan mengganggu pesan utama yang akan disajikan. 
d. Pengenalan Microsoft PowerPoint 2013
PowerPoint merupakan aplikasi yang berjalan pada sistem operasi berbasis Windows dan Macintosh. Ada juga aplikasi yang sejenis yang berjalan di sistem Linux yaitu Openoffice Impress, belakangan telah muncul versi untuk Windows juga. Aplikasi presentasi banyak digunakan oleh kalangan perkantoran seperti pebisnis, para pendidik, peneliti, peserta didik hingga trainer.
Microsoft Office PowerPoint 2013 adalah aplikasi yang memungkinkan kita untuk dapat merancang dan membuat presentasi secara mudah, cepat, serta dengan tampilan yang menarik dan profesional. PowerPoint 2013 memiliki User Interface (UI) yang disempurnakan dari tampilan (UI) PowerPoint pada versi 2007 dan versi 2010. Menu dan toolbar dalam PowerPoint 2013 di sebut dengan Ribbon.
PowerPoint seperti halnya perangkat lunak pengolah presentasi lainnya, objek teks, grafik, video, suara dan objek-objek lainnya diposisikan dalam beberapa halaman individual yang disebut dengan “slide”. Istilah slide dalam PowerPoint ini memiliki analogi yang sama dengan slide dalam proyektor biasa. Setiap slide dapat dicetak atau ditampilkan dalam layar dan dapat dinavigasikan melalui perintah dari presenter. Slide dapat berbentuk dasar webcast (sebuah siaran di World Wide Web). PowerPoint 2013 dapat menyimpan presentasi dalam format berikut :
1.  *.pptx (PowerPoint Presentation), yang merupakan data biner dan tersedia dalam versi PowerPoint 2010 dan 2013.
2.  *.ppt (PowerPoint Presentation), yang merupakan data biner dan tersedia dalam semua versi PowerPoint.
3.  *.pps (PowerPoint Show), yang merupakan data biner dan tersedia dalam semua versi PowerPoint.
4. *.potx (PowerPoint Template) yang merupakan data biner dan tersedia dalam versi PowerPoint 2010 dan 2013.
5. *.pptx (PowerPoint Presentation) yang merupakan data dalam bentuk XML dan hanya tersedia dalam PowerPoint 2013.
Ada banyak cara untuk membuka aplikasi PowerPoint 2013  yang bisa dibuka, baik di Window XP, Windows 7 dan Windows 8. namun pada dasarnya semua sama. Cara yang paling umum untuk memulai Microsoft PowerPoint 2013, antara lain :
1. Klik tombol windows atau start pada keyboard kemudian cari icon Microsot Office PowerPoint 2013.
2. Cara menutup aplikasi ini hampir sama dengan aplikasi yang ada pada versi-versi sebelumnya, yaitu dengan menekan tombol keyboard Alt+F4 secara bersamaan atau mengklik icon close pada window microsoft PowerPoint 2013, selain itu bisa juga melalui title bar dengan mengklik icon PowerPoint kemudian pilih close.
 

DAFTAR PUSTAKA

Dryden, Gordon; dan Voss, Jeanette; (1999), ”the Learning Revolution: to Change the Way the World Learn”, the Learning Web, Torrence, USA, http://www.thelearningweb.net.
Fryer, Wesley A.; (2001), “Strategy for effective Elementary Technology Integration”, http://www.wtvi.com/teks/integrate/tcea2001/ powerpointoutline. pdf
Kadir, A & Triwahyuni, T.Ch., Pengenalan Teknologi Informasi, Andi Offset, Yogyakarta, 2003
Kuswayatno, Lia. Skenario Pembelajara TIK. http://enggar.net. 17 Februari 2008.
NIE, Singapore, “General Typology of Teaching Strategies in Integrated Learning System”, http://www.microlessons.com.
Norton, Priscilla; dan Spargue, Debra; (2001), “Technology for Teaching”, Allyn and Bacon, Boston, USA.
Talib, Haer, Panduan Praktis Belajar Komputer. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Team Laboratorium DPP Infokom, Modul Microsoft PowerPoint 2013. Jakarta, 2013.
UNESCO Institute for Information Technologies in Education (2002), “Toward Policies for Integrating ICTs into Education” Hig-Level Seminar for Decision Makers and Policy-Makers, Moscow 2002.
Wahid, Fathul. Peran Teknologi Informasi Dalam Modernisasi Pendidikan Bangsa, 19 November 2008.
  
 



Post a Comment